Hi, everyone!
Lama, ya, Anne nggak muncul. Maaf, ya. Gara-gara Anne sempat nggak masuk kuliah gara-gara lomba, Anne nyusul UTS banyak banget! Belum lagi persiapan buat tugas praktek teater Anne. Jadi nggak sempat buat lanjut nulis. Tapi, semoga mulai ini Anne bisa update sering. Bentar lagi, kan, libur puasa, jadi mungkin Anne akan pergunakan untuk update lebih rutin. Oke, sekali lagi Anne minta maaf.
Anne balas review dulu, ya!
aquadewi: aduhh jangan kabur deh Mione :)
Arisu Nine: baru muncul udah disuruh enyah.. kasihan amat si Astor :P
Liuruna: Hahaha kejam banget kamu sama suami, hehehe :)
JheineChyeon: Yeeee.. tapi kok jauh dari UHO. HeheheSemoga aja bisa ketemu. Sipp! :)
Friann: weee.. Hermione langsung menghilangkan jejak Astoria di Draco. Harus itu! Yee.. semoga waktu di UHO bisa ketemu, ya.. :)
AndienMay: kamu.. sadis! Astoria, lari! hehehe :)
Naomi Hime: Jiwa kesingaan! Ihh garang! hehehe aku kalu nggak september ya oktober ke kendari :)
Kiru: Ehemm Astoria, nasibmu! Sejak kamu review, aku udah doain kamu. Bagaimana hasil sbmptn kamu? :)
Uchiha Cullen738: Waduhhh Astoria hatersnya banyak :)
Mrs. X: lanjut!
Afadh: Huuuu biar ikut ngerasain sakit hatinya Ron :3
AMAZING: hidup HINNY! :D
DmHgLovers: Sekiranya memang begitu intinya. Mungkin akan aku buat nanti, deh, biar lebih jelas. Di tunggu saja! :)
Oh ya, teman-teman semua apa sudah lihat foto-foto pemain HP versi teaternya? Tiga hari ini Anne girang pantengin wajah Albus sama Scorpius, hehehe ganteng banget. Bagaimana menurut kalian dengan para castnya? Apakah seperti bayangan kalian?
Oke, mungkin langsung saja!
Happy reading!
Ginny Potter membuka jendela kamarnya pelan-pelan. Satu tangannya menggendong Lily sementara satu tangannya yang lain digunakan mendorong jendela agar terbuka. Harry masih tidur dengan napas yang tenang di atas ranjang. Ginny tersenyum simpul. "Daddymu tampan kalau sudah tidur." Ujar Ginny sembari melihat Lily di gendongannya.
Si kecil Lily Luna menolah pada sang ibu sejenak sebelum kembali mengamati ayahnya. Senyum Lily tercetak di wajahnya. Pelan-pelan, Lily menyadari jika penjelasan ibunya memang benar. Ayahnya tampak tenang dan damai dalam tidurnya. Dari jauh, Lily mulai terusik. Ia bergerak-gerak mendorong ke arah ranjang membuat Ginny paham, Lily ingin bersama Harry.
Ginny mengecup belakang kepala Lily sambil berbisik, "baiklah, sayang, bangunkan Daddymu!"
Tubuh Lily diturunkan Ginny tepat di tengah-tengah ranjang. Sigap, Lily meraih bagian tengah guling yang sedang dipeluk Harry agar membawa tubuhnya mendekat. Lily tertawa girang karena berhasil mendekati ayahnya yang masih tidur. "Da da! Da da!" ditepuknya pipi Harry berulang kali oleh Lily. Dari sentunhan pelan, tepukan standart, hingga berubah menjadi tamparan kencang saking tak sabar melihat ayahnya bangun. Tepat pada tepukan ke tujuh, tidur Harry terusik. Ia mengerang pelan sambil menyingkirkan pergelangan tangan kecil Lily.
"Ah, aku mau tidur dulu, Love—"
Harry masih mengira jika itu adalah perbuatan istrinya. Ginny seperti biasa membangunkannya setiap pagi. Tapi nyatanya, itu adalah tangan Lily. Meski masih bayi, usia yang baru menginjak satu tahun, kekuatan Lily hampir menyamai anak usia taman kanak-kanak. Apalagi pukulannya. Dengan sigap, pergelangan Lily tertangkap oleh Harry. Menyadari ada yang berbeda dengan apa yang ia pegang, Harry perlahan membuka kelopak matanya demi mencari tahu siapa yang berani-berani menepuk-nepuk kasar pipi seorang kepala Auror seperti dirinya. "Hah?" Harry terkejut.
"Morning, Daddy!" sapa Ginny membahasakan dirinya sebagai Lily.
Harry mengerjapkan mata beberapa kali memfokuskan pandangan. Sesekali ia menyipitkan bentu matanya agar melihat lebih jelas tanpa bantuan kacamata. Ginny memandangnya dengan tampang geli. "Wajahmu lucu sekali, sayang. Bangun, sudah hampir siang. Kau tak ke Kementerian? Lily saja sudah mandi!" kata Ginny di depan jendela untuk membersihkan meja samping.
Mendengar penjelasan itu, Harry belum sepenuhnya sadar. Tangannya masih menggenggam pergelangan Lily sambil terdiam berikir. "Kalau kau di sana, lalu ini siapa—"
"Daa ii!" suara Lily terdengar lagi.
"Merlin!"
Bukan main terkejutnya Harry saat dengan kasar Lily menaiki perut hingga dadanya dan berteriak memanggil Daddy dengan sebutan tidak jelas. "Ouch!" erang Harry. Gadis cilik Potter itu berlonjak-lonjak kegirangan di atas tubuh berbaring ayahnya.
Setelah lama bergerak-gerak, Lily langsung tidur tengkurap memeluk dada Harry penuh manja. Kelakuannya membuat Harry gemas mengingat ia memiliki seorang putri yang begitu manja kepadanya melebihi pada Ginny. Selanjutnya, Lily sukses membuat Harry tak lagi mengantuk.
"Surat?" bisik Ginny dari dekat jendela. Harry tak mendengarnya karena sedang asik menciumi bibir mungil Lily hingga gadis kecil itu berteriak kegelian. Seekor burung hantu dikenal sebagai Hyde adalah milik Hermione terbang ke jendela kamarnya dan Harry yang baru saja terbuka. Burung berwarna abu-abu itu membawa surat kecil tergigit di paruhnya.
"Surat dari siapa?" tanya Harry. Ia baru melihat ketika Lily ia turunkan dari atas perutnya.
"Hermione," kata Ginny, "dia mau kemari setelah sarapan. Apa dia tak kerja? Kau tahu ada apa dengan dia, Harry? Apa dia bertengkar dengan Draco?"
Bukannya menjawab, Harry dan Lily kembali bergurau bersama sambil berguling-guling di atas kasur. Teriakan kencang membahana ke seantero kamar tuan dan nyonya Potter itu. Lily merangkak gesit masuk ke balik selimut diikuti Harry. Tak jelas apa yang mereka lakukan, hanya saja teriakan dan tawa keduanya terdengar begitu seru.
"Sudah! Eh.. Harry, Lily itu sudah mandi! Nanti bau!"
Selimut langsung tersibak dan muncullah Harry dengan Lily di pelukannya. "Biar bau lagi, nanti minta Mummy mandi lagi, ya!" kata Harry pada Lily yang terkekeh kegirangan digelitik Harry pada perutnya. "Tak perlu dipikirkan, semoga Hermione baik-baik saja. Buat sarapan yang enak, ya, Mummy!" kata Harry manja.
"Astaga. Ayah sama anak sama saja."
Daripada meributkan suami dan putrinya, Ginny memilih keluar kamar dan menyiapkan sarapan untuk keluarganya. Di dapur, Ginny kembali mengingat pesan yang terlihat sengaja dikirimkan Hermione begitu mendadak dari cara menulisnya. Tidak pernah Hermione mengirim pesan begitu pagi apalagi di hari kerja seperti sekarang. Jika tidak ada yang penting.
"Tapi, dia tak menyebutkan akan membicarakan tentang apa. Ada apa, ya, sebenarnya? Apa masih ada hubungannya dengan Ron?"
Dan pagi itu kepala Ginny dipenuhi dengan berbagai pertanyaan tentang Hermione dan masalahnya.
Isyarat perapian akan mengeluarkan penyihir terasa di rumah keluarga Potter. Ginny menengok sebentar ke arah perapian dan menurunkan kacamata bacanya. Beberapa lembar perkamen ia gulung kembali dan dimasukkan ke dalam sebuah map bertuliskan draft Daily Prophet, Ginevra Potter. Ginny baru saja menyelesaikan tulisan terbarunya untuk dimuat sebagai artikel mingguan tentang ulasan pertandingan Quidditch dan segala masalah-masalahnya.
Duss!
Asap hijau menjilat penuh isi ruang perapian dan mengeluarkan dua orang di sana. Cepat-cepat Lily yang berada di sisi Ginny menoleh untuk mencari tahu siapa yang datang dari sana. Senyuman Lily mengembang ketika makhluk kecil berambut pirang keluar lebih dahulu dan menatap wajahnya. "Sco pi!" teriak Lily tak jelas.
"Lily!" teriak suara lain membalasnya.
"Scorpius, jangan berteriak!"
Ginny segera bangkit dan mengendong Lily menemui tamunya pagi ini, Hermione dan Scorpius Malfoy. "Aku rasa sarapan berakhir sudah satu setengah jam yang lalu, Mrs. Malfoy." Goda Ginny atas keterlambatan Hermione datang.
"Maaf, Ginny. Aku harus mengurus ijinku ke Kementerian sebelum kemari. Aku sempat bertemu Harry di sana."
Hermione menghela napas berat. Ia mengamati dua bocah yang kini bermain di atas karpet. Penuh dengan boneka milik Lily, lego, mobil-mobilan, dan miniatur segala macam hewan-hewan sihir milik James dan Al. Namun sayangnya, dua Potter kecil lainnya tidak sedang berada di rumah. Mereka ikut bersama George untuk mengunjungi pabrik salah satu pembuat mainan di tokonya.
"Jadi kau sendirian, Lily?" tanya Scorpius.
Seolah mengerti dan ingin bercerita panjang lebar, Lily mengerang-erang dan bergumam tidak jelas seperti bercerita dengan Scorpius. Air liurnya sampai keluar dan membasahi dagu kecilnya. Dengan sabar dan lembut, Scorpius mengambil selembar tisu dan mengelap dagu Lily hingga kering. Ginny tertawa melihat ulah lugu Lily dan Scopius begitu tenang. Ia teringat jika Hermione pasti ada maksud menemuinya pagi ini.
"So, apa yang membawamu datang pagi-pagi kemari sampai kau harus ijin pada Kementerian?"
Mulut Hermione terlebih dulu menyesap secangkir teh hangat suguhan Ginny sebelum siap bercerita. "Aku merasa ada yang aneh, Ginny." katanya.
"Aneh? Kau hamil?"
"Em—no! Bukan itu yang mau aku bicarakan denganmu, aku—mulai ragu dengan Draco."
Ginny tak tahu harus menjawab apa jika hermione membicarakan tentang masalah rumah tangganya. "Bukan apa-apa, Mione. Tapi, kau sedang ada masalah dengan suamimu.. apa itu mengenai Ro—maksudku kakakku?" Ginny mengatakannya tak enak hati.
"Sayangnya, itu bukan, Ginny."
"Lalu, ada apa? Maafkan kata-kataku jika aku tak sopan, Hermione."
Hermione menggeleng, "tak masalah. Seharusnya aku yang memohon maaf kalau aku menggangu pekerjaanmu," ia melihat tinta yang baru saja digunakan menulis dan beberapa lembar perkamen dengan tulisan tangan Ginny.
"Jadi, kita sama-sama harus meminta maaf," keduanya lantas tertawa, "baiklah, ceritakan ada apa sebenarnya dengan kalian jika itu membuatmu lega, Hermione."
Ginny segera mengayunkan tongkatnya pada area bermain Lily dan Scorpius untuk memberi perlindungan sihir sementara ia dan Hermione sibuk berbicara. Untuk mengawalinya, Hermione mengeluarkan secarik kertas lusuh ke hadapan Ginny. Dua kali lipatan tidak rapi, surat itu benar-benar menarik perhatian Ginny untuk membukanya.
Tunjuk Ginny pada surat Hermione untuk bertanya bolehkan ia membukanya. "Bukalah," jawab Hermione. "Mungkin kau bisa membantuku."
Mata coklat Ginny mengamati bentuk tulisan dan isi pesan yang tertulis di sana. Ginny mengerutkan dahinya berusaha berpikir keras. Kalimat yang tertulis di sana tak panjang, tapi baginya itu bermakna sangat dalam.
"Bisakah aku menyebut ini teror, Hermione?"
Ginny tersenyum mencairkan suasana tegang. "Memang seperti itu nyatanya. Karena jika aku tak salah ingat, aku sudah menguburkan bangkai kelinci putih yang menyertai surat ini di belakang rumahku." Jawab Hermione sambil menundukkan kepalanya.
"Bangkai?"
"Apa pendapatmu sebagai seorang penulis, Ginny? Tentang pesan ini?"
"Aku penulis artikel, berita Daily Prophet. Itu pun khusus Quidditch, sedangkan ini sudah masuk ranah kriminal. Kau mungkin harus mengatakannya pada Harry agar ia dan teman-teman Aurornya memburu siapa pelakunya!"
"Tak perlu! Ini memang terlalu rumit untukku tapi, ini sebuah lelucon jika sampai Auror turun tangan hanya untuk masalah rumah tangga. Aku bisa mati konyol, Ginny."
Kata-kata Hermione tertahan karena ia telah sibuk dengan sesuatu yang ia rogoh dari saku jaketnya. Sebuah kertas yang lain dengan wujud hampir sama dengan surat pertama yang kini di tangan Ginny. "Ginny—" panggil Hermione belum siap menunjukkan kertas terakhir yang harus ia tunjukkan pada sahabatnya.
"Apa itu?"
Ginny merampasnya dengan kasar dari tangan Hermione karena terlalu lama terdiam. Pasrah, Hermione membiarkan Ginny membaca surat yang ia temukan di dalam saku celana Draco.
"Astoria?" pekik Ginny tak percaya. "Jadi kau merasa bahwa Astoria yang melakukan semua ini—"
"Aku tak tahu, Ginny. Ini semua—ini, oh God! Aku bingung!"
"Kenapa harus bingung?" Ginny meraih tangan Hermione ikut membantu mengendalikan emosi, "belum tentu Astoria dan Draco menjalin hubungan di belakangmu—maksudku.. Draco sangat mencintaimu, Mione. Aku melihat ketulusannya. Dan.. aku rasa, Astoria wanita yang baik."
Hermione mendongakkan kepalanya. Menatap Ginny penuh pertanyaan besar. "Kau mengatakan itu atas dasar apa, Ginny? Kau tak pernah mengenal Astoria, bukan?"
Ginny tersenyum. "Iya, dulu." Badannya sedikit didorong ke belakang hingga kursi beroda tempat Ginny duduk bergerak pelan. Ia mengambil sesuatu di laci bawah mejanya untuk mengambil kacamata dan bersiap mengamati tumpukan di atas mejanya. "Tapi kemarin tidak lagi." lanjut Ginny.
Tumpukan dokumen Daily Prophet di hadapan Ginny kembali dibongkar. Ginny mengambil satu map berwarna coklat kehitaman dari tumpukan kedua di depannya. "Ini dia, dokumen Astoria sebagai model untuk kolom fashion di Daily Prophet edisi spesial minggu depan, Mione. Aku bertemu dengannya kemarin. Ini daftar riwayat hidupnya. Aku tak sengaja membawa dokumennya pulang karena aku yang menerimanya kemarin di kantor. Bisa kau baca."
Satu persatu data diri Astoria tertera dalam map besar itu. Dari sana Hermione tahu nama lengkap Astoria, tempat tanggal lahirnya, pendidikan, beserta daftar pengalaman berkariernya. Selain sebagai model, Astoria cukup aktif di berbagai kegiatan amal. Ia sempat mendirikan sebuah toko kecantikan sihir di Prancis. Ia juga pernah menjadi relawan penyembuh di rumah sakit sihir di Prancis. Bahkan Astoria adalah donatur tetap di St. Mungo Inggris.
"Cara bicaranya baik, Mione. Kau hanya terlalu sensitif."
"Tapi, Ginny. Astoria sudah mencium pipi Draco—"
Hermione menangis. Ia tak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika Draco benar-benar menghianatinya dengan kedatangan Astoria. Di hadapannya, Draco memang menunjukkan jika pria itu akan setia padanya dan mempertahankan rumah tangga yang mereka bangun penuh perjuangan itu. Tapi siapa yang bisa menjamin tentang hati seorang pria. Malfoy tidak memiliki sejarah yang baik di setiap generasinya terdahulu. Dengan wanita seperti Astoria, Hermione hanya memendam ketakutan. Draco pria normal. Seperti ciuman itu.
"Astoria terlalu lama tinggal di Prancis. Budaya mereka lebih bebas untuk masalah.. mencium," Ginny sebenarnya juga tak yakin dengan kata-katanya, "Fleur saja dulu gampang sekali mencium orang. Harry dan Ron pernah diciumnya. Oh, astaga Harry." Ginny memanas mengingat seorang Fleur pernah mencium pipi suaminya dulu.
"No, Ginny! No!"
"Kau cemburu, Hermione! Itu biasanya dirasakan pada pasangan yang saling mencintai. Kau hanya butuh percaya pada Draco."
Terus menangis, Hermione menutupi wajahnya dengan telapak tangan demi menghindari kecurigaan Scorpius jika melihat ada air mata di wajahnya. Tiba-tiba, perhatian Hermione dan Ginny sempat teralihkan ketika Scorpius memanggil. "Auntie Ginny, Lily bau!"
"Ow, pasti Lily buang air besar. Sebentar, ya, Mione."
Sigap, Ginny mengangkat tubuh Lily dan mengecek bagian pantatnya. Ginny tersenyum. Lily ternyata benar buang air besar. "Aku ke atas dulu, Mione. Kalau kau mau minum lagi, bisa ambil sendiri, ya. Aku harap kau bisa tenangkan dirimu. Kasihan Scorpius." Pesan Ginny lantas ia naik ke lantai dua untuk mengambil diapers baru untuk Lily.
Teh di gelas Hermione masih tersisa sepertiga. Di tempat bermainnya, Scorpius berteriak ingin minum. Biasanya jika masih pagi, ia memberikan Scorpius jus untuk minum. Masalahnya, mereka tidak sedang ada di rumah. "Apa Ginny punya jus, ya?" batin Hermione.
"Ginny, kau punya jus? Maaf Scorpius ingin sesuatu—"
"Oh, ada, Mione. Seingatku Harry masih punya jus jambu di lemari pendingin. Ambil saja, Lily ternyata sakit perut. Ini pasti gara-gara Harry mengajak Lily bercanda sampai seperti ini—"
Ginny terus mengoceh di dalam kamar mandi lantai bawah setelah kembali dari kamar Lily. Hermione tak jelas mendengar apa saja yang dikeluhkan Ginny hanya gara-gara Lily buang air besar. Semakin dewasa, Ginny benar-benar mirip seperti Molly. Ia mewarisi kecerewetan ibunya jika menyangkut tentang mengurus keluarganya. Ginny terus berteriak-teriak menyesal telah memberikan bubur terlalu banyak untuk Lily, menyalahkan Harry yang menggelitik Lily berlebihan sampai tak suka dengan merek diapers yang dibelikan Harry di supermarket Muggle.
"Oh, Ginny. Kasihan Lily kau ceramahi begitu!" lama-lama ia kesal juga mendengar ocehan Ginny.
Dari dalam kamar mandi, Ginny langsung diam. Ia menengok sebentar ke balik pintu kamar mandi dan melihat Hermione yang telah berdiri di depan lemari pendingin. Ia terkekeh tak habis pikir, "Lily saja senyum-senyum mendengar aku bicara. Kau saja yang sensitif, Mione. Datang bulan, ya?" selanjutnya Ginny kembali menghilang masuk ke kamar mandi dan tersisa tawanya yang terbahak diikuti celotehan Lily.
Dada Hermione menghangat. Apa yang dikatakan Ginny baru saja membuatnya teringat akan sesuatu. "Datang bulan?" cepat-cepat Hermione melihat kalender yang terpasang di sisi tembok dapur Ginny. Ada sekitar dua bulan—yang Hermione ingat, terlewat oleh siklus menstruasinya.
"Mummy! Mana jus untukku?" Scorpius muncul dari pintu dapur sambil mengerang sebal.
"Scorp—" Hermione merundukkan tubuhnya mensejajarkan dengan tinggi Scorpius agar lebih dekat, "kita bisa minum jus di luar, ya. Mummy ada urusan di salah satu tempat Muggle. Kau mau ikut?" tawar Hermione. Suaranya pelan hampir seperti berbisik. Ia ingin Ginny tak mendengar pembicaraanya dengan Scorpius.
Scorpius memutar bola matanya tampak berpikir. Sejenak ia mencerna tawaran kedua sang ibu yang mengatakan, "Mummy akan ajak ke toko jus terenak di London. Asal jangan kau ceritakan pada siapapun kemana kita akan pergi. Begitu juga pada Daddy. Mau?"
"Em. Aku mau, Mummy."
Hermione meminta ijin pada Ginny untuk bergegas pulang karena suatu alasan ia ingin membeli bahan-bahan masakan untuk makan malamnya nanti. Ginny pun tak bisa menahan Hermione mengingat dirinya juga harus memasak dan menyelesaikan pekerjaan kantornya. Hermione dan Scorpius memasuki perapian dan kembali menghilang.
"Akhir-akhir ini, Hermione aneh sekali. Bukan begitu, Lily?"
Lily hanya tersenyum menunjukkan gigi susunya.
Hermione berjalan tegap ke salah satu ruangan setelah namanya dipanggil oleh wanita berseragam putih garis biru di lengannya. Tempat serba putih dengan hiasan penuh organ-organ manusia dan sosok wanita berperut buncit terpampang jelas di beberapa sudut ruangan Hermione dan Scorpius berada kini. Pria berambut coklat menyapanya ramah dan mempersilakan duduk tepat di depan meja kerjanya.
"Saya tidak tahu, dokter. Hanya saja, beberapa perubahan kebiasaan dan siklus menstruasi saya yang terhenti membuat saya merasa—butuh dilakukan pemeriksaan untuk memastikannya."
Hermione terus berdialog sementara Scorpius di sisinya kebingungan dengan topik apa yang di bahas oleh ibunya dan pria yang dipanggil dokter itu. Beberapa saat kemudian, Scorpius sempat dilarang mendekat ketika Hermione diminta untuk berbaring dan membuka pakaian bagian perutnya. Cepat-cepat Scorpius menutup matanya dan menggeleng-menggeleng takut.
"Jadi, Mummy melarang aku cerita ke siapapun karena Mummy mau.. Ahhh, Mummy jahat! Mummy tak sayang lagi dengan Daddy!"
Teriakan Scorpius sontak mengejutkan Hermione dan dokter Ryan, dokter kandungan Muggle yang ditemui Hermione tepat ketika Scorpius berusaha turun dari bangkunya dan berlari keluar dari ruang periksa. Scorpius pergi sambil menangis.
Setelah semuanya selesai, Hermione bergegas keluar dan mencari tahu keberadaan Scorpius. Beberapa orang yang Hermione tanya mengaku melihat Scorpius masuk ke toilet laki-laki. "Tidak mungkin aku masuk ke sana," katanya tepat di depan toilet.
Seorang pemuda keluar, tanpa menyianyiakan kesempatan Hermione bertanya tentang Scorpius dengan menyebutkan ciri-ciri putranya.
"Tadi memang ada anak berambut pirang yang masuk di salah satu toilet, tapi.. aku kira tadi hanya halusinasiku saja, Mam." Kata si pemuda.
"Me-memangnya kenapa?" Hermione mulai panik.
"Aku mendengar dia menangis lalu ada suara seperti meledak. BUM! Saat aku mencari tahu apa itu, ternyata di dalam tak ada siapa-siapa. Hii.. apa anak itu hantu? Dan anda pemburu hantu? Benar begitu? Astaga, rumah sakit ini ternyata berhantu!"
Si pemuda akhirnya lari terbirit-birit dan menghilang di sebuah lift. Tidak ada lagi yang bisa Hermione tanya karena tak ada satupun lagi laki-laki yang keluar dari toilet itu. "Scorpius pasti salah sangka saat aku di USG!" batinnya kalut.
Tanpa disadari, Scorpius baru saja melakukan kecelakaan sihir. Ia berapparate dengan sendirinya tepat di ruangan kerja Draco di perusahaannya. Suara berdebum terdengar keras di dekat pintu ruangan Draco sedang mengoreksi segala macam dokumen kerjanya. Tiba-tiba saja asap muncul dan membawa Scorpius tersungkur di atas lantai. Anak itu menangis sambil berteriak memanggil ayahnya.
"Scorp? Astaga, kau kenapa, nak? Kamu dari mana? Kenapa kau bisa muncul—berapparate?"
"Aku—aku tadi di toilet. Aku takut, Daddy! Mummy, baju Mummy dibuka seorang paman—"
"Apa?"
Brakk! Pintu ruangan kerja Draco terbuka kasar oleh Hermione. Ya, dengan tongkat teracung di tangan ia memasuki ruangan Draco dengan wajah super panik. Cahaya di ujung tongkatnya perlahan meredup dan padam. "Kau di sini, Scorp! Mummy mencarimu di rumah sakit—"
"Rumah sakit? Kau sakit? Tapi tadi kata Scorp kau sedang.. ada pria yang membuka bajumu?"
Draco mengangkat si kecil Scorpius dan mendudukannya di atas kursi kerjanya. Cepat-cepat ia menghadap Hermione dan menanyakan apa yang sedang terjadi.
"Sejak pagi aku melihat kau sudah sangat aneh. Beberapa jam lalu aku mendapat pesan perapian dari Harry yang menanyakan kabarmu. Dia bilang kau tadi ijin kerja. Benar itu? Lalu baru saja, Scorpius melakukan Apparate dengan ketakutan. Katanya ia berada di toilet sebelum sampai di sini. Mione, apa yang terjadi? Siapa pria yang mau membuka bajumu—"
Cupp! Hermione mengecup bibir Draco membungkam semua pertanyaannya. Hermione melumatnya beberapaka kali. Di atas kursi Scorpius kembali menutup matanya. Ia diajarkan oleh Hermione agar menutup mata ketika ada laki-laki dan perempuan sedang berciuman. Tidak sopan, katanya.
"Scorpius, sayang," panggil Hermione, "tak apa, buka matamu. Kau salah sangka sayang. Mummy hanya mendatangi dokter untuk memeriksakan diri Mummy." Kata Hermione sembari memperhatikan Scorpius di atas kursi.
Di samping itu, Draco masih tak paham dengan apa yang sedang ia alami sekarang. Semuaya terlalu rumit. "Sayang, tolong jelaskan pelan-pelan ada apa dengan semua ini." pinta Draco dengan napas putus-putus karena ciuman Hermione.
"Aku mengunjungi Ginny pagi ini. Aku hanya ingin berbagi cerita karena.. aku butuh teman. Saat di sana, Ginny tiba-tiba menyadarkan aku tentang sesuatu yang membuatku akhirnya pergi ke rumah sakit Muggle. Karena aku tak mau jika ada wartawan yang tahu keberadaanku dan membuat berita aneh-aneh—" penjelasan Hermione terputus. Ia mengeluarkan secarik surat dan menyerahkannya pada Draco, "sebelum semuanya jelas seperti surat ini."
Amplop putih berlogokan rumah sakit besar dan nama bagian medisnya tertera di muka. Draco membaca dengan jelas istilah medis Muggle yang tidak banyak ia pahami. Masih menyimpan banyak pertanyaan di kepalanya, Draco mengambil isi amplop dan membaca isi surat di dalamnya.
Pelan-pelan, dahi Draco mengerut. Ia menurunkan surat di tangannya lantas mengamati ekspresi wajah Hermione. "Really?" tanyanya dengan senyuman mengembang.
"Yeah, mungkin aku harus segera mengatur janji lagi dengan Madam Matilda seperti ketika mengandung Scorpius dulu. Kau mau menemaniku, kan?"
"Tentu saja! Oh.. oh, Merlin! Thank you, Hermione. Thank you—"
Draco memeluk erat tubuh Hermione. Mengangkatnya dan mengajaknya berputar-putar. Sesuatu yang sangat diharapkan Draco akhirnya terwujud. "Mummy, Daddy, apa kalian mau berciuman lagi? Aku ingin minum jus," dengan lugunya, Scorpius bersiap mengangkat telapak tangannya ke depan muka siap mengantisipasi jika kedua orang tuanya akan kembali berciuman.
"Oh, Scorpie. Tidak, sayang. Mungkin, sekarang kita bisa keluar untuk membeli jus. Atau apapun yang ingin kau makan. Sekaligus kita merayakannya, bukan begitu, Mummy?" tanya Draco sambil menoleh pada Hermione.
"Merayakan apa? Aku belum ulang tahun, Daddy?" jawab Scorpius tak tahu apa-apa.
Draco dan Hermione tersenyum melihat ekspresi tak-tahu-apa-apa dari Scorpius. Mereka tidak menyangka jika ini semua akan terjadi. Scorpius adalah yang paling menginginkan hadirnya anggota keluarga Malfoy yang baru. Ia sangat ingin seperti James dan Albus yang memiliki Lily. Dan beberapa bulan lagi, ada jaminan jika Scorpius segera akan memilikinya.
"Merayakan calon Malfoy yang akan segera hadir, Scopie. Kau menginginkannya, bukan?" Draco membisikknya tepat di telinga kanan Scorpius.
Namun rupanya, penjelasan Draco terlalu tinggi bagi anak usia tiga tahun. Scorpius berusaha meminta penjelasan dari ibunya dengan memasang pandangan memohon. "Kau akan punya adik, Scorpius!" teriak Hermione tak bisa menahan emosinya. Hermione sadar, jika semua kekhawatirannya muncul karena ada sesuatu yang baru di tubuhnya. Ginny benar, ia terlalu sensitif akhir-akhir ini dan itu tidak seperti biasanya. Hermione tengah dikuasai oleh hormon yang siap mengganggunya hingga sembilan bulan mendatang. Tentang Ron, tentang Astoria, baginya kini hanya cobaan melawan perasaan.
Draco mencintainya. Pria itu sangat mencintainya. Begitu juga dirinya, Scorpius, dan calon Malfoy yang berada di dalam rahimnya.
- TBC -
#
Yeahhh chapter kali ini panjang, teman-teman. Semoga bagi penggemar pair HINNY bisa bahagia dengan chapter ini. Hehehe.. Nah, menurut kalian, apakah kecemburuan Hermione itu benar-benar mutlak dari hormonnya? Apakah kalau tidak hamil Hermione tidak akan cemburu? Apakah setelah ini Hermione akan menyadari ketakutannya hanya sekadar ketakutan biasa dan tak mempermasalahkan Astoria lagi?
Tunggu chapter selanjutnya. Maaf kalau masih ada typo dan tetap tinggalkan review kalian. Anne sayang kalian!
Thanks,
Anne xoxo
