Hi, everyone!

Anne muncul lagi, nih. Berhubung besok Anne nggak ada latihan teater, Anne bisa lanjut nulis sampai malam. Masih agak panjang, jadi semoga chapter ini bisa menjadi lanjutan rasa penasaran kalian dari chapter sebelumnya. Tidak ada yang bisa banyak Anne jelaskan di sini karena mungkin kalian bisa langsung membaca chapter 9 ini, ya.

Ups, tapi Anne balas review kalian dulu, ya!

Afadh: hahaha ide buat ngomelnya Ginny soal diapers itu muncul tiba-tiba gara ada iklan diapers di TV *lupakan* Oke lanjut! :)

Kiru: Serigala berbulu domba.. emang shaun teh sheep :P hahaha thanks ya :)

ninismsafitri: wohoho sabar, ya, kak! Ayo ke London! :)

aquadewi: surhat perempuan.. hayati lelah, abang Draco! :* wkwkwkw :)

Naomi Hime: yuhuuu kamu mulai menebak-nebak! Gemes gk tuh sama si Scorpie :) Iya juga, sih, bentar lagi puasa.. harus hati-hati ini mah nulisnya :)

Liuruna: walaupun kecewa, tapi nggak semua cast mengecewakan kok. Yang jadi Harry sama Ginny pas banget, Draco juga, maco! hehehe :)

AndienMay: awalnya bingung juga tapi paham kok seblm kamu jelasin. Kamu punya adik baru 17 hari? Wah masih lucu-lucunya tuh.. kecil! Selamat ya! Kalau aku mah nggak punya adek! Waaaaa :( Iri sama kamu, James, Al, dan Scorpius :'(

Baiklah langsung saja, ya!

Happy reading!


"Jadi, dia benar-benar hamil?"

Harry, adalah satu-satunya pihak yang menengok di halaman belakang the Burrow. Minggu ini, seluruh anak, cucu, menantu Weasley berkumpul di sana. Para wanita sibuk menyiapkan makanan, sementara para pria sebagian menyibukkan diri mengurus anak-anak yang bermain dan beberapa yang lain ikut mempersiapkan meja serta segala hal keperluan mengangkat barang. Di karenakan Lily sedang tak enak badan, Harry harus terlepas dari gerombolan para ayah dan anak demi menenangkan Lily.

Bersama Ron, Harry memilih mencari tempat yang sejuk di bawah pohon dekat area bermain anak-anak karena ia masih bisa melihat James dan Albus bermain. Harry menyadari jika Ron mau menemaninya bersama Lily karena ia ingin menanyakan sesuatu tentang isi berita di koran pagi ini. Sambil mengusap pelan punggung Lily, Harry menjawab, "itu yang ditulis Prophet. Jadi—"

"Kau yang sering bertemu dengannya, Harry. Aku bertanya padamu." Suara Ron datar meski terkesan mengintimidasi Harry.

"Aku sering bertemu dengannya bukan berarti aku selalu bertanya ini itu padanya, kan? Hermione juga butuh privasi, Ron."

Ron menurunkan koran yang ia baca dan meletakkannya di atas meja. Menatap tajam ke depan, berpikir beberapa hal yang menganggunya semalaman. Tentang gosip yang menyebar di kementerian tentang kehamilan Hermione. Ron sempat tak percaya mengingat itu semua masih tergolong gosip murahan dari kalangan para pegawai wanita Kementerian. Ia pun tak ingin tahu jika para penyihir itu ikut membicarakan Draco di tengah-tengah gosip itu.

"Si ferret itu memang sedang memulai perang denganku?"

"Perang? Maksudmu apa, Ron?"

Dua orang anak lelaki berambut hitam tebal berlari menghampiri Harry dan Ron sambil tertawa girang. James, lebih dulu sampai langsung memeluk kaki ayahnya. "Ada apa, James?" tanya Harry berusaha mengendalikan kesemimbangan tubuhnya akibat tubrukan badan James pada kakinya.

"Al tadi mengambil makanan sebelum disuruh Mummy! Itu tidak boleh, Al! Kau tak boleh makan sebelum acara makan siang dimulai," teriak James kesal dengan adik lelakinya. Al hanya mengerutkan dahi cemberut sambil menggenggam satu cup berisi puding coklat lengkap dengan sendoknya.

Tiada hari tanpa bertengkar, James dan Albus tak lelah jika harus mengabiskan energi demi saling beradu argumen. Dua anak laki-laki Potter itu hanya bisa diam jika sudah dipisahkan oleh Harry ataupun Ginny. Tapi, mereka akan benar-benar diam jika Ginny yang langsung turun tangan.

"Lalu Mummy di mana? Mummy tak tahu?" tanya Harry. ia lantas menatap tajam Albus mulai kesal.

James menggeleng semangat. "Tidak, Mummy sedang memasak. Itu lihat yang di tangan Al—"

"Tapi ini untuk Lily!" Teriak Al hampir menangis. "Aku kasihan pada Lily. Dia pasti tak mau makan. Kalau makan puding dia pasti mau."

Albus kini benar-benar menangis. Ron ikut panik melihat Albus menangis sehingga memilih menarik James agar adiknya ditenangkan Harry. "Ow, Al.. it's OK. James tak tahu, Daddy juga minta maaf, ya!" dengan tetap tenang, Harry memeluk Albus berusaha menenangkan tangisnya. Agak kesusahan dengan tubuh Lily yang ia gendong, Harry tetap berusaha membuat Albus nyaman. Seperti itulah yang terkadang membuat Ron iri dengan Harry. Ia sama sekali tak bisa menjadi seperti Harry yang memiliki James, Albus, bahkan Lily. Menenangkan anak-anaknya dan membuat mereka tertawa.

Ron memilih memeluk James ikut memberikan penjelasan agar James mau memaafkan Albus akibat ulahnya mengambil makanan. "Uncle mau sekarang kau minta maaf pada Al karena Al juga mau meminta maaf padamu. Ayo, cepat ke Daddy!" Pinta Ron.

Akhinya, James dan Albus mau saling memaafkan. Setelah keduanya memeluk Harry dan pergi kembali bermain, Ron berbisik, "mungkin ini yang mengakibatkan banyak pasangan mau punya anak lagi karena.. seru juga. Tapi, aku masih tak seratus persen yakin jika si ferret itu memiliki alasan yang sama memiliki anak lagi."

Harry tersentak terkejut saat ia menyuapkan puding pada Lily. "Ronald, masing-masing pasangan memiliki rencana tersendiri untuk keluarganya. Sepertiku dengan Ginny, kami benar-benar merencanakan cukup untuk sampai memiliki Lily. Karena kami rasa tiga anak sudah lebih dari cukup. Mungkin itu tidak untuk pasangan lain. Bill, Percy, George, dan mungkin juga Draco—"

"Dia punya motif lain, Harry. Dia mau mengejekku!" Ron memulai kecurigaannya kembali.

"Kau mulai lagi, Ron! Hey, bukankah apa yang selalu kau permasalahkan itu akan membuatmu semakin tertekan? Sudahlah, Ron, kau tak mau membuat hidupmu tersiksa karena mereka, kan? Sudah, lupakan pikiran negatifmu itu. Buka hatimu untuk urusan yang lain. Hidupmu masih panjang, Ron. Kami semua menyayangimu—"

"Melupakan apa yang sudah ferret itu lakukan? Kau tak tahu, Harry! Kalian semua tak tahu!"

Ron berlari menuju sudut lain the Burrow. Sebuah pohon dengan dahan rendah. Ron naik ke atas pohon itu dan menyibak salah satu dahan penuh dengan daun yang lebat. Menyaksikan sebuah sisi lain the Burrow dari atas ketinggian pohon itu. Sebuah kandang kecil terlindung sihir berisi dua buah kelinci putih bersih memberikannya napas yang sesak. Serta sebuah benda berkilau tertancap di sela-sela lubang alami pohonnya. Ron menyembunyikannya jauh di atas pohon demi menyingkirkan jejak bau anyir yang tak sempat ia bersihkan seteah melakukan sesuatu pada makhluk yang sama dengan yang ia pandangi kini.

Ada sesuatu yang ia pendam dengan adanya makhluk cantik tak berdosa di bawah sana. "Maafkan aku, Hermione. Maafkan aku!" ratap Ron. Ia siap kembali turun sebelum semua orang menyadari tentang dirinya yang menghilang tiba-tiba.


"Aku sangat bahagia, Hermione. Sangat amat bahagia. Kau tahu, aku sampai tak bisa tidur semalam. Menghitung berapa banyak penyihir yang mengucapkan selamat padaku."

Pagi ini, Draco tak melepaskan Hermione untuk turun dari ranjang selepas tidur. Ia memeluk tubuh Hermione dan membisikkan semua luapan kebahagiaannya tentang calon Malfoy di dalam tubuh istrinya itu. Tidak ada pagi yang indah sebelum Draco melakukan kebiasaannya itu dengan Hermione. Pelan-pelan, Hermione merasa nyaman dan biasa dengan perlakuan Draco padanya. Ia ingin di manja, sama seperti apa yang dilakukan Draco saat ini.

"Aku juga senang, Draco. Aku tak percaya jika.. aku akhirnya benar-benar hamil," Hermione memutar pelan tubuhnya agar menghadap Draco. "Kali ini—aku akan berusaha menjadi istri yang baik untukmu," ujar Hermione sambil tersenyum haru.

"Loh? Kau kira selama ini kau tak menjadi istri yang baik, hah? Hermione.. kau sempurna! Aku sangat mencintaimu. Bukankah kita telah mengikat janji bahwa—semuanya adalah aku, kau, Scorpius—"

"Dan yang ada di sini," potong Hermione membuat dada Draco semakin tak menentu.

Detik selanjutnya, kecupan hangat Draco mendarat di atas perut Hermione. Belum ada sesuatu yang terasa dari luar. Bentuk pun belum tampak di perut Hermione, hanya saja Draco seolah merasakan sensasi luar biasa mengingat kehidupan baru tengah berkembang di dalam sana.

"Aku akan selalu menjaga kalian. Kau cukup memegang janjiku, Hermione. Dan lakukan apapun yang ingin kau lakukan jika aku tak mampu menepatinya." Mata Draco berkaca-kaca tapi ia tak sampai menangis.

Hermione menyentuh kulit pucat Draco. Hangat, begitu telap tangannya membelai halus pipi kiri Draco dan menyusuri lekuk wajahnya. Draco tersenyum manja. Tanpa mereka sadari, cahaya matahari pagi kini menyusup perlahan ke sela-sela tirai kamar mereka yang belum semuanya terbuka. "Ini sudah pagi, jangan menggodaku, Hermione," bisik Draco tak tahan.

"Itu tandanya kau pria normal," goda Hermione sambil terkekeh.

"Tuh, kan. Ingat yang ada di perutmu. Sudah tahu aku pria normal, pertahananku bisa saja jebol kalau kau teruskan sentuhanmu itu. Meski di pipi. Aku tak mau ambil risiko. Kata Healer kandunganmu masih rawan, love."

Mereka sama-sama geli dengan topik pembicaraan tiba-tiba itu. Terkadang, masalah biasa bisa terlampau jauh dan liar bagi suami istri seperti Draco dan Hermione. Jangan salahkan hormon atau kenormalan Draco sebagai laki-laki jika berakhir lama di atas ranjang. Mereka sama-sama dewasa.

Sebelum benar-benar terjadi, Hermione terlebih dahulu keluar dari kamar dan menyuruh Draco agar mandi dan bersiap-siap untuk langsung sarapan. "Aku akan buatkan roti bakar untukmu. Selainya, aku bebaskan kau memilih nanti. Hari ini spesial. Khusus untukmu." Kata Hermione.

"Thank you, love!" Draco mengecup lagi bibir Hermione lantas bergegas masuk kamar mandi yang masih berada di dalam kamar mereka.

Biasanya, Draco tidak akan masuk kamar mandi jika Hermione langsung meninggalkannya. Draco bisa saja kembali tidur hingga terlambat bekerja. "Bisa saja, katanya kau susah tidur. Masih mengantuk?" tanya Hermione karena Draco tak kunjung masuk kamar mandi.

"Tidak. Hanya saja, aku masih ingin melihat wajah cantikmu itu, love!"

Hermione langsung memberikan tatapan mematikan pada Draco. Sukses tanpa berteriak-teriak, Hermione akhirnya bisa keluar kamar dengan hati tenang. Namun, semua itu tidak berlangsung lama. Sebuah kotak kayu tergeletak tepat di depan pintu kamarnya. Hermione kembali takut, karena kotak itu juga menyertakan secarik surat di atasnya. Ia segera membawa kotak itu menjauh menuruni tangga menuju dapur. Ia tak ingin Draco melihatnya.

Surat itu ternyata masih sama. Di meja dapur, Hermione kembali membaca kalimat yang sama. "Walk away! It's over!" gumam Hermione begitu pelan. Rasa takut kembali mengusai seluruh tubuhnya. Seolah kalimat itu mantera mematikan, Hermione tak kuasa untuk menyebutnya lagi. tidak pernah menyebutnya apalagi di depan Draco. Mantera yang bisa saja membunuhnya.

"Sebenarnya ada apa ini? kenapa harus aku, keluargaku—"

"Hermione."

Kursi makan berderit kencang akibat Hermione tersentak dalam duduknya. Draco datang dengan handuk tergantung di lehernya. "Sayang, sabunku habis—"

Pertanyaan Draco belum selesai karena ia terlebih dahulu melihat Hermione berurai air mata. Belum lagi, ada sebuah kotak cukup besar di hadapannya. Draco tak sempat tahu tentang suratnya. Hermione terlebih dahulu cepat meremas surat itu dan memasukkannya ke dalam saku bajunya.

"Apa itu?" tanya Draco sambil mendekat. Hermione berusaha menyingkirkan kotak itu namun ia jauh lebih cepat dari raihan tangan Draco yang lebih dulu sigap mengambil kotak itu darinya. Hermione belum sempat membuka kotak itu. di dalam kepanya ketakutan akan isi yang sama kembali muncul. Binatang putih itu lagi serta darah segar di sekitar leher nyaris putusnya.

Hermione tidak kuasa menatap Draco. Ia memilih menunduk dan memejamkan matanya. Pelan-pela Draco membuka pengait kotak itu dan melihat isinya. "Sayang—" Draco terhenyak melihat sesuatu mengeliat di dalam kotak tersebut.

"Aku tak tahu, Draco. Aku takut—"

"Dengan makhluk lucu ini kau takut?"

Seekor anak kelinci lemas Draco keluarkan dari dalam kotak kayu itu. "Kelinci putih?" kata Hermione tak percaya. "Hidup?"

"Tentu saja. Seharusnya kau masukkan kandang yang berlubang, atau kandang hewan yang khusus. Kasihan dia sampai lemas, mungkin dia tak bisa bernapas, sayang. Apa ini darimu?"

Hermione tergagap untuk menjawab pertanyaan Draco. Ia bukanlah pemilik kelinci itu. "Ti-tidak, itu—"

"Astaga, kasihan sekali," tiba-tiba suara lain mengalihkan konsentrasi keduanya.

"Astoria?" pekik Draco.

Dengan cekatan Astoria berlari menuju kelinci yang dipegang Draco dan diletakkannya di atas meja. Ia lantas merapalkan sesuatu pada kelinci itu dengan tangan kosong. Cahaya putih keluar tidak begitu terang dari kedua telapak tangannya. Sejenak, kelinci putih itu diam dalam kungkungan cahaya. Kemudian hewan mungil itu mengeliat pelan. Kepalanya naik dan turun sekali.

"Dia kembali sehat?" pekik Hermione ketika kelinci putih itu terlihat gesit berjalan-jalan di atas meja dapur. Tampak senyuman indah mengembang di wajah Draco. Tidak pernah Hermione melihat Draco begitu bahagia dengan hewat seperti kelinci putih itu.

"Kita bisa merawatnya, Hermione. Scorpius juga pasti akan suka. Untuk pembiasaan diri, Scorpius bisa belajar bertanggung jawab merawat makhluk hidup. Sebentar lagi ia kan jadi kakak, jadi.. Scorpius perlu diajarkan tentang rasa peduli dan melindungi sesama. Boleh, ya? Kau tak takut dengan kelinci, kan?" kata Draco. Ia menengok ke arah Astoria yang tampak lega karena berhasil menyembuhkan kelinci putih itu.

Hermione berpikir keras dengan tawaran Draco. ia terdesak dengan keadaan bersama Astoria di rumahnya. "Maaf—" kata Astoria tiba-tiba. "Aku dari tadi memanggil kalian, tapi tak ada sahutan. Jadi aku masuk saja." katanya.

Ketiganya tampak canggung satu sama lain. Kembali ke permasalahan kelinci, Hermione pun sebenarnya suka dengan kelinci, tapi semuanya berbeda ketika motif kelinci itu dikirimkan ke rumahnya. Bahkan jika diingat, pengirim kelinci itu pernah melakukan hal mengerikan sebelumnya. Belum lagi, kedatangan Astoria.. yang membuatnya berpikir tak baik.

"Bagaimana? Kau kalian butuh merawatnya, kasihan. Ia seperti kehausan. Tapi tenang saja, aku sudah beri mantera penguatan untuk kelinci ini." Kata Astoria memberi sentuhan suasana tenang.

"Ah, boleh. Tapi aku tak tahu sebaiknya di rawat di mana—"

"Biar aku bantu, Hermione. dan.. ah ya sebenarnya," ia menoleh Draco dan tersenyum. Mengamati tubuh Draco yang bertelanjang dada. Ya, Draco hanya keluar mengenakan celana pendek dan berkalungkan handuk. Hermione meremas tangannya kesal.

"Ada apa kau sini, Astoria?" tanya Draco merasa diawasi Hermione.

Astoria kembali mengalihkan pandangannya pada Hermione lantas berkata, "aku ingin bertanya di mana rumah Ginny, istri Harry. Aku ada urusan dengan pihak Daily Prophet sebelum melakukan kontrak kerja. Tapi aku tak tahu siapa saja pegawai Prophet. Lalu aku ingat, kalian pasti tahu rumah Ginny. Kalian sangat dekat dengan keluarga Potter, bukan?"

Dengan tanpa berdosanya, tiba-tiba saja Astoria mendekati Draco lantas menjabat tangannya dan memeluk tubuh terbuka Draco. Mata Hermione mendelik sempurna. Tidak hanya dikecup pipinya, Draco kini dipeluk begitu erat oleh Astoria.

"Congratulation," katanya, "selamat untuk kalian berdua. aku membaca Daily Prophet kalau.. kau hamil lagi, Hermione. Selamat, ya! Aku turut—"

"Ah, rumah Harry dan Ginny ada di Godrics Hollow. Kau bisa temui dia di sana, pergilah. Pakai perapian jika kau takut tersesat. Aku bisa merawat kelinci ini sendiri." Kata Hermione berusaha menahan kesal.

"Hermione, jangan memaksa. Ingat kondisimu. Biarkan Astoria membantumu. Kalau ada apa-apa dengan kelincinya juga kasihan. Astoria kan yang menyembuhkan," larang Draco mencegah Hermione bertindak sendirian untuk merawat kelinci itu. Tampak sekali jika Draco sangat menyayangi kelinci putih itu.

Tanpa mempedulikan Draco, Hermione bergegas keluar dapur menuju halaman belakang rumah mereka untuk mencari bekas kandang kucing yang masih ia punya. Di dapur, Draco masih bersama Astoria tanpa tergerak untuk menyusul Hermione.

Tubuh Draco seperti tertahan oleh Astoria.

"Kau masih menyukai kelinci, Draco. Kau masih memegang janjimu ternyata." Ujar Astoria sambil memeluk kembali kelinci putih itu dan mengelus bulu-bulu halusnya.

Draco menunduk. Mengingat dulu ketika ia dan Astoria pernah memiliki kelinci sebagai bukti ikatan cinta mereka. Bukan cincin, melaikan sepasang kelinci yang dilambangkan sebagai bukti komitmen sebuah janji sebelum pernikahan. Tapi, semua itu memang tidak terwujud. Bahkan sampai salah satu kelinci yang di bawa Draco mati.

"Cosmo meninggal dua tahun lalu. Kau ingat dia, kan? Ia meninggal di pangkuanku, Draco. Sakit, aku menyesal tak bisa menyembuhkannya. Cosmo satu-satunya yang membuatku dapat mengingat kebahagiaan. Dan karena dialah, aku mendalami ilmu penyembuhan. Aku bertekat ingin menyelamatkan nyawa siapapun. Seperti kelinci ini." Astoria tampak bersedih ketika ia menyebut nama kelinci jantan yang dulu pernah ia dan Draco miliki, namun dibawa tanggung jawab Astoria yang merawatnya.

"Bianca tak jauh berbeda dengan Cosmo, hanya saja Bianca meninggal jauh lebih tidak terhormat."

Astoria melihat Draco tak mengerti.

"Ada seseorang yang menusuknya sekitar tiga tahun yang lalu. Aku tak tahu dia siapa. Sejak saat itu aku tak pernah merawat kelinci lagi." Tutur Draco tentang Bianca, kelinci pasangan Cosmo yang dirawat oleh Draco.

Ide merawat sepasang kelinci adalah milik Astoria dulu. Astoria memilih kelinci putih karena kedua hewan itu tampak lucu dengan bulu-bulu halusnya. Tanpa banyak bicara, kelinci putih memberikan pesona tersendiri bagi Astoria. Mengambarkan sosok Draco, yang pernah menjadi miliknya.

Sepasang kelinci putih jantan dan betina diberi nama Cosmo dan Bianca mereka miliki tepat di acara pertunangan keduanya. Untuk merawatnya Cosmo akhirnya dibawa oleh Astoria sementara Bianca dirawat oleh Draco di rumahnya. Mereka menganggap, jika kelinci-kelinci itu suatu saat akan bertemu dan dapat hidup bersama seperti majikan mereka. Namun sayang, Draco dan Astoria dihadapkan pada kenyataan bahwa Draco tak lagi mencintai Astoria tanpa sebab yang jelas. Draco beralasan jika ia tak suka dengan pilihan Astoria yang lebih memilih berkarir di Perancis untuk menjadi model dan meninggalkannya bertahun-tahun.

Draco memutuskan hubungannya dengan Astoria di saat Astoria tak ingin melepaskan Draco dan juga karirnya. Saat itulah, tidak ada lagi kata bersama untuk keduanya. Bahkan Cosmo dan Bianca, yang juga tak bisa bersatu.

"Aku turut berdua." kata Astoria.

"Aku juga turut berdua."

Draco cepat-cepat berbalik dan berjalan menuju tangga. Sejenak ia terhenti, lantas berbalik kembali menatap Astoria. "Senang bertemu denganmu lagi, Astoria," kata Draco yang terakhir.

Wanita bersurai hitam kecoklatan itu tersenyum senang. Ia kembali teringat bagaimana Draco dulu sangat memujinya, bahagia ketika mereka saling bertemu.

Hermione muncul dari pintu dapur dengan membawa kandang kucing lama. Ia telah membersihkannya dengan baik. Di dapur, Astoria tampak senang dengan apa yang di bawa oleh Hermione untuknya.

"Ini sudah lebih dari cukup. Sementara biarkan dia di dalam kandang dulu. Kau bisa mengeluarkannya asal ada yang menjaganya. Jangan sampai—"

"Apa sebenarnya niatmu kembali ke hadapanku dan Draco?"

Pertanyaan Hermione langsung tertuju tanpa basa-basi. Sontak, Astoria tertegun dengan pertanyaan tajam Hermione. ia hanya bisa tersenyum sopan. Dengan gayanya yang lemah lembut dan elegan, Astoria tetap berkonsentrasi menyiapkan kandang untuk kelinci putih di pelukannya.

"Tidak ada niatan khusus selain melepas rindu. Aku rasa kau juga tahu, bahwa.. kami berdua pernah bersama. Ada kenangan. Sayang jika tidak kembali diingat, bukan?" Astoria memasukkan perlahan kelinci itu ke dalam kandang dan menutup pintunya. Kelinci putih tanpa nama itu langsung berjalan-jalan pelan dan memahan potongan wortel kecil yang dimasukkan Hermione ke dalam mangkuk makanannya.

Astoria menyerahkan kandang berisi kelinci itu pada Hermione lantas berjalan meninggalkan dapur. "Oh, ya.. agar kau bersemangat merawatnya, beri kelinci itu nama. Dia betina. Tapi jangan kau sekali-kali beri dia nama Bianca. Jika kau tak ingin Draco selalu mengingatku." Ia lantas mengambil segenggam bubuk floo dan masuk ke dalam perapian. Astoria mengucapkan kediaman Harry dan Ginny lantas menghilang. Tanpa mengucapkan salam ataupun terima kasih pada Hermione.

- TBC -


#

Dulu waktu Anne belum lahir, keluarga Anne itu merawat kelinci banyakkkk banget. Sampai Anne usia balita, kelinci di rumah pelan-pelan hilang, entah mati atau apa, jadi udah mulai gede Anne nggak tahu kalau dulu ada kelinci. Hanya dari foto saja Anne tahunya. Dan kebanyakan kelinci-kelinci di rumah itu warnanya putih. Kalau sekarang, di rumah Anne banyak kucingnya. Bukan kelinci lagi. Anne punya 9 kucing. Kalian ada yang suka pelihara hewan?

Nah, bagaimana dengan nasib Draco dan Hermione selanjutnya? Nantikan kelanjutannya, ya!

Maaf kalau masih ada typo, Anne tunggu review kalian! Anne sayang kalian! :)

Thanks,

Anne xoxo