Hi, everyone!

Anne muncul lagi. Dan ini adalah chapter pentutup. Sebelum tarawih, Anne langsung usahain post, nih. Untuk menjawab semua rasa penasaran para readers siapa pelaku berjubah itu, ini adalah jawaban dari segala jawaban. Tapi sebelumnya, Anne balas review dulu.

Arisu Nine: Hayo siapa yang ngirim kelinci? Cari tahu di sini, ya :)

kiru: Oh no! :O

AMAZING: langsung deh, ditunggu aja HINNYnya ya :)

gerita: lihat di chapter ini ya! kalau nexgen belum begitu punya niatan buat, karena belum nemuin sesuatu di masing-masing tokoh nexgen gitu. Masih sebatas anak-anak sama orang tuanya kayak Draco, Harry-Ginny, Ron-Hermione, dll. bisa baca fic-fic Anne yang dulu.. Thanks :)

Liuruna: Oh, yang jadi Draco sama Harry pas banget, cucok markucok. Bikin deg-degan! Hahaha.. :D

rin willow moon: wahh kamu bacanya nggak konsen.. *sodorin aqua* :D

Afadh: namanya juga Astoria. Dia kan sifatnya (aku buat) emang gitu... hehehe :P

Uchiha Cullen738: ayoo bener nggak tuh tebakan kamu.. hehehe lihat apa yang terjadi di chapter ini :)

aquadewi: wahaha.. salah Astoria sendiri. betuh tuh.. *author ngomporin* :)

AndienMay: istigfar, mbak! Sabar! Inget, bulan puasa! hahaha :D

ujichan: di chapter ini mungkin kamu meledak, nggak dag dig dug der lagi. Thanks ya udah baca :P

Arsyd: waduhh serem, ya! Hehehe.. :)

irpanhilman: makasihh.. yuk langsung di baca! :)

Ayo, langsung baca kalau udah nggak ada aktifitas lagi...

Happy reading!


"Selamat malam Mr. Malfoy dan tentu saja.. Mrs. Malfoy. Kau tampak kacau malam ini. Jangan stress, itu tidak baik untuk janinmu. Aku tahu, kan? Meski aku tak pernah punya anak, aku tetap mau peduli padamu."

"Tapi perbuatanmulah yang membuatku seperti ini.. Ronald."

Hermione meremas kuat tangan Draco sekuat ia membalas ucapan Ron. Tubuh ringkihnya tertutup di balik jubah hitam panjangnya. Masih dengan tongkat teracung, Draco bersiap menjaga Hermione karena Ron bisa saja menyerang mereka tiba-tiba. Ron tak terlihat membawa tongkat. Ia hanya membawa pisau lipat kecil di tangan kanannya sementara tangan kirinya penuh dengan noda darah sebagai indikasi jika ia adalah pelaku pembunuh kelinci putih Draco dan Hermione.

Pandangan Ron terus tertuju pada mata Hermione. Kilatan iris biru matanya memancar karena pantulan cahaya sinar tongkat Draco. Terus bergerak maju, Ron menggiring Draco dan Hermione tepat berdiri ke tengah taman. Lampu-lampu taman tidak sempat menyala sehingga ketiganya hanya mengandalkan cahaya bulan dan sorotan dari tongkat Draco.

Cahaya bulan jatuh tepat di wajah Ron yang tersenyum. Sesuatu yang begitu indah namun tergambar menyeramkan jika hati tak ikut tersenyum. Itulah Ron. "Pikirkan saja masa depan dirimu. Tak perlu kau mengurusi keluargaku lagi!" Bentak Draco.

Telunjuk Ron langsung teracung mulai tersulut perkataan Draco. "Aku tak mengurusi keluargamu! Aku juga tak mau ikut campur urusanmu! Aku di sini hanya sebagai bayangan masa lalu kalian. Bayangan yang kalian tinggalkan begitu saja. Tapi lupakah kalian bahwa bayangan akan selalu mengikuti?"

"Jangan bermain pengandaian, Weasley—"

"Daripada aku katakan yang sebenarnya langsung, bahwa kau merebut istri orang lain dengan mengotori rahimnya secara TIDAK MANUSIAWI!" Ron membentak hebat, wajahnya semakin memerah. Ia tak talgi malu untuk meluapkan segala kekesalannya selama bertahun-tahun ditinggalkan Hermione.

Hermione memandang Ron sebagai akibat dari sebuah dendam. Ya, semuanya berlandaskan dendam, baik Draco maupun Ron memilih untuk saling berhadapan. Mereka sama-sama dewasa, apa yang mereka lakukan perlu dipertanggungjawabkan meski dengan cara yang salah sekalipun. Ron adalah pihak pertama menuntut segalanya dibuka. Draco dengan tangan terbuka siap memberikannya. Sementara Hermione, ia terpaksa harus merelakan dirinya tersiksa karena pilihannya.

Tangan kanan Ron terulur keluar dari jubah. Menunjukkan ujung pisau lipatnya ke hadapan Draco dan Hermione. Satu tetes darah berwarna merah jatuh lantas pecah ketika sampai di atas rumput basah. "Setiap hari, aku merelakan satu bagian diriku mati untu memikirkan satu orang yang tak bisa pergi dari kepalaku," kali ini wajah Ron tertunduk. Aliran darahnya tak sebaik hari-hari biasanya. Badannya pucat. Badannya kurus kering dengan perut sedikit membuncit. Ujung-ujung kakinya sedikit membiru dan bengkak. Badan Hermione meremang mengingat jika Ron mengalami perubahan drastis pada tubuhnya. Ia mengenal tubuh itu jauh lebih dulu sebelum ia mengenal tubuh Draco.

Hermione tidak mau memungkiri ada rasa bersalah dengan yang telah ia lihat saat ini.

"Mana yang kau sebut dengan cinta, Hermione? Yang mana?"

Untuk kesekian kalianya, Draco berdiri di depan Hermione memberikan proteksi terbaiknya. Dengan cepat, pandangan Ron terputus oleh Draco. "Rasakan dan terima, Weasley. Kau menjadikan dirimu hanya untuk menunggu. Menerima apa yang kau terima bukan memperjuangkannya—"

"Aku berjuang sekuat tenaga untuk dia, Malfoy! Perlu bukti apa lagi? Berbulan-bulan aku seperti orang mati karena mobil sialan itu. Aku tak akan pernah lupa dengan yang terjadi hampir empat tahun yang lalu sebelum kau benar-benar mengambilnya dari hidupku. Untuk apa semua itu," bahu Draco ditarik kasar oleh Ron ketika ia semakin dekat dengan tubuh suami istri Malfoy, "untukmu!" pekik Ron.

Suara hembusan tak wajar tiba-tiba terdengar tepat di atas kepala Ron, Draco, dan Hermione.. Hebusan angin itu biasa terdengar jika ada objek yang terbang, Hermione lantas teringat tentang efek sapu terbang jika dikendarai di udara. Suara desiran angin terus mengumpul tepat di atas kepala ketiganya. "Suara apa itu?" tanya Hermione pada Draco. Ada yang sedang berada di atas mereka.

"Scorpius!" Teriak Draco.

Di atas sapu terbang mainan terbaru dengan dua sadelnya, Scorpius tanpa sadar terduduk dengan kedua mata terpejam rapat. Posisinya tegak duduk di sadel pertama. Kakinya menginjak besi footstep dengan kuat. Tidak lupa kedua tangannya memegang erat gagang sapu. Tampak wajar selayaknya penyihir sedang terbang, hanya saja Scorpius dalam keadaan terpejam tak sadarkan diri dan tentu saja.. ketinggian yang membawa tubuh Scorpius terbang. Sapu terbang mainan itu hanya mampu membawa tubuh yang menaikinya paling tinggi tidak lebih dari lima puluh sentimeter dari daya jangkau kaki pengendaranya.

Namun dengan sapu itu, Scorpius mampu terbang hingga mencapai ketinggian sembilan kaki.

"Bangun, Scorp! Kau dengar suara Dad?"

Draco terus berteriak membangunkan Scorpius namun tak mendapatkan respon dari bocah itu. Sapu mainan Scorpius hanya diam, melayang di posisi yang sama dengan kesadaran yang belum sempurna. Ya, sedikit dibelai oleh udara malam, badan Scorpius yang tidak terlalu kuat dengan angin malam perlahan terbangun.

Kepala Scorpius bergerak pelan ke kanan memulai peregangan kecil. Tubuh Scorpius mulai terusik dengan gerakan-gerakan aneh yang ditimbulkan oleh sapu terbangnya. Mata kecilnya perlahan terbuka, Scorpius melihat sesuatu yang tidak biasa ia lihat setiap bangun tidur. Dua buah lampu taman yang mati serta sebuah pohon cemara. "Da-daddy!" teriak Scorpius sesadarnya ia sedang berada di atas ketinggian.

"Mummy!" pegangan tangan Scorpius semakin erat pada gagang sapu. Ia berteriak sekencang-kencangnya memanggil ayah dan ibunya. Sapu mainan itu ikut oleng ketika tak sengaja Scorpius melepas satu tangannya untuk mengusap wajahnya yang dingin. Hermione berteriak ketakutan di dada Draco.

Demi sang putra tercinta, Draco segera mengarahkan tongkatnya untuk menurunkan Scorpius namun tanpa ia duga, Ron pun turut serta mengarahkan tongkatnya pada tubuh Scorpius.

"Kau mau apa pada putraku? Turunkan tongkatmu!" tegur Draco tak suka.

"Tentu saja untuk menghalangimu menyelamatkannya. Aku sudah lama tak suka dengan anak harammu itu. Karena dia—" Ron menoleh pada Hermione, "harga diriku dijatuhkan! Dan sekarang kau yang harus menurunkan tongkatmu karena akan aku bunuh dia sekarang juga—"

"Bagus! Rupanya aku punya sekutu. Weasley, kerja bagus."

Suara perempuan menyapa mereka semua dari balik semak-semak tanaman bunga milik Hermione. busanan panjangnya menjuntai indah menutupi hingga mata kaki. Tubuh jenjangnya sangat indah, sangat menunjang bentuk tubuh yang ramping dengan lekuk indahnya. "Astoria, kenapa kau di si—"

"Karena aku ingin melihat momen indah ini, Draco. Melihat kerja pria yang selama ini aku pantau dari Perancis. Mengirimi semua informasi tentang seorang Draco Malfoy. Tentang kisah Astoria Greengrass, tentang Cosmo dan Bianca, tentang.. cinta dan penghianatan."

Ron terhenyak kaget dengan pernyataan Astoria. Dari jarak mereka berdiri, Ron dapat melihat dengan jelas siapa yang selama bertahun-tahun ini mengiriminya surat rutin setiap minggu berisikan kisah-kisah Draco di masa lalunya. Astoria, adalah orang yang bertanggung jawab tentang ide kelinci putih itu, tentang lahirnya sebuah teror yang dilakukan oleh Ronald Weasley.

"Jadi.. kau yang selama ini membuatku terbuka tentang siapa Malfoy sebenarnya?" tanya Ron memperjelas tebakannya.

"Cukup, Astoria!" pekik Draco menghentikan Astoria menjawab pertanyaan dari Ron. "Apa urusanmu kembali lagi di kehidupanku? Bukankah kau yang menginginkan untuk kita berpisah? Dengarkan aku, kita sudah sama sekali tidak ada hubungan lagi. Semuanya sudah berakhir dan itu semua karena pilihanmu, Greengrass!"

Astoria terbahak mendengar penuturan Draco. Matanya mengalihkan perhatiannya pada sosok kecil yang menangis di atas sapu terbang. Scorpius masih menangis meminta tolong di atas angin. "Ow, sudah bangun rupanya. Auntie Astoria hanya ingin membantumu terbang, sayang. Kau pasti senang, kan?"

Hermione tak kuasa menahan rasa marahnya hingga berusaha mendekati Astoria tanpa berpikir tentang perlawanan yang bisa ia lakukan tanpa tongkat. Apalagi ia dalam kondisi hamil. Sihirnya tak akan stabil. "Cepat turunkan putraku, Greengrass, atau aku—"

"Atau apa? Membunuhku? Kau tak punya tongkat, kau juga tak mungkin menggunakan sihir, kan. bisa saja kalau kau mau mencelakai dirimu sendiri. Amarah akan membuat sihirmu semakin parah, wanita hamil tak tahu diri—"

"Kau yang tak tahu diri, wanita jalang!"

Mendengar perlawanan Hermione, Astoria lantas tak segan-segan mengacungkan tongkatnya ke hadapan Hermione. Dahinya mengerut mengubah raut wajah yang semula tenang menantang menjadi garang siap melawan. Astoria melangkahkan kakinya mundur satu langkah memberikan ruang untuk ancang-ancang.

"Rupanya kau yang mau mati, hah?" tantang Astoria pada Hermione. ia kini tak mempedulikan teriakan Draco yang mulai mengancamnya.

"Kau gila, Astoria. Turunkan tongkatmu! Jangan pernah kau lukai istriku. Kau tak berhak merenggut nyawanya di depan wajahku, Astoria!"

Tanpa di sadari Draco, kini ia mengarahkan tongkatnya kepada Astoria dan melupakan bahwa Ron pun sedang memberikan ancaman akan membunuh Scorpius. Hermione memekik keras melarang Draco melepas tongkatnya dari tubuh Scorpius. "Jangan, Draco. Selamatkan Scorpius."

"Tapi.. kau—"

"Lihatlah, sungguh pemandangan yang luar biasa manis bukan? Siapa yang akan dipilih oleh pria tampan seperti Draco Lucius Malfoy, putranya atau istri ditambah calon bayinya."

Astoria kembali terbahak menertawakan Draco. Pria pirang kebanggaan keluarga Malfoy sedang dihadapkan pada pilihan yang berat. Dua bahkan tiga nyawa hidupnya tentang dipertaruhkan. Astoria bisa saja membunuh Hermione dangan mantra kematian dalam sekali ucap, sedangkan Ron tidak perlu susah-susah mengucapkan mantera kematian untuk mencelakai Scorpius yang masih kecil.

"Aku mohon Ron, jangan kau bunuh putraku," Hermione mulai memohon, "aku mengenal siapa dirimu. Kita berteman sejak kecil. kau adalah pria pertama yang membuatku tahu bahwa aku tak sendiri. Aku melihatmu sebagaimana Ron yang aku kenal. Bersahabat, berani, ceria, pekerja keras, dan mau melakukan apapun demi kebaikan orang lain. Aku tak percaya itu kau jika Scorpius akan mati ditanganmu. Karena itu bukan kau, Ron."

"Tapi anak itu bersalah padaku. Dia yang membawamu pergi untuk bersama Malfoy. Karena dia kau meninggalkanku untuk selamanya. Kau tak pernah bisa aku dapatkan—"

"Ow—" Astoria kembali bersuara. Ia tak tertawa, "kau terlalu lama, Weasley. Seperti ini.. confringo—"

"Sectumsempra!"

Ron lebih dulu mengucapkan manteranya. Namun bukan untuk Scorpius, tapi untuk Astoria. Badan Astoria langsung terpelanting jauh dan jatuh menghantam rerumputan begitu keras. Seiring jatuhnya Astoria, mantera yang menguasai tubuh dan sapu Scorpius akhirnya melemah. Tubuh Scorpius seolah dihempaskan angin dengan sekali lempar.

Beruntung, dengan cepat Draco menyadarinya hingga tubuh kecil itu tak sampai terluka. Draco menangkap Scorpius dan memeluknya erat. Draco sangat bersyukur jika Scorpius tak terluka meski seluruh tubuhnya menggigil kedinginan. "Daddy—" erang Scorpius di pelukan ayahnya.

"Oh, Scorpius. Kau tak apa-apa, nak!" bisik Draco mengungkapkan rasa syukurnya mendapati putranya bai-baik saja.

Ron berdiri terpaku menyadari kelakuannya sendiri. Ia menyelamatkan anak yang seharusnya ia bunuh dengan tangannya sendiri. Namun entah mengapa ia tergerak untuk menyelamatkannya dari serangan Astoria. Tubuhnya menuntut untuk membunuh, tapi hatinya mengatakan jangan.

"Thank you, Ron. Thank you—" bisik Hermione pada Ron.

"A-aku—" isak Ron masih tak memahami.

Tanpa diketahui oleh semuanya, dengan sisa tenaga yang ia punya, Astoria bangkit dengan tongkat masih tergenggam di tangannya. Ia memiliki celah untuk menyerang Hermione yang sedang dalam kondisi seorang diri. "Selamat tinggal, Granger! Avad—"

"Avada kedavra!"

Kilau cahaya hijau terpancar terang dari ujung tongkat siap menyerang. Ron, mengucapkan mantera itu lebih hebat pada Astoria tepat saat wanita itu turun melempar mantera yang sama untuk melukai Hermione. Tidak memakan waktu lama, tubuh Astoria terkapar tanpa nyawa sedangkan Hermione sama sekali tak tersentuh oleh mantera itu.

"Ron—" ucap Hermione tak percaya.

Ron membunuh Astoria demi Hermione. Ron melakukannya sendiri.

Sesaat kemudian, Harry dan Ginny tampak berapparate di halaman belakang rumah Malfoy. Wajah keduanya tampak panik ketika mendapati ketakutan Ginny tentang teror Hermione yang telah sampai ke telinga Harry benar-benar terjadi di depan mata mereka. namun sungguh mengejutkan jika apa yang mereka lihat jauh lebih mengerikan, tentang Ron.. yang berdiri tak jauh dari jasad Astoria dengan tongkat masih mengarah lurus ke tubuh itu.

"Harry—" panggil Ron menyadari kedatangan Harry, "bawa aku. Aku siap menanggung semuanya."

Berat hati, Harry mendekati Ron yang menyerahkan dirinya pada sang kepala Auror. Harry memegang pergelangan tangan Ron dan merapalkan mantra begitu pelan. Sekejap kemudian, tangan Ron telah terikat dengan cahaya sihir berbentuk tali. Tongkatnya pun telah dilucuti oleh Harry. Sejak saat itu, Ron tak bisa berkutik selain dibantu oleh tangan Harry untuk bergerak.

"Tunggu—"

"Maafkan aku, Hermione," ucap Ron. "Maafkan aku, aku memang tak bisa untuk menjagamu. Aku terlalu lemah, Hermione. kau memang harus bersama Draco. Keluargamu.. dengan Scorpius."

Ron bergerak mendekati Draco dan Scorpius sebelum Harry mengajaknya berapparate menuju kantor Auror. Ia tersenyum melihat wajah kecil Scorpius lantas berkata, "kau anak yang baik, Scorpius. Maafkan uncle, ya. Jangan nakal. Jadilah anak yang baik, dan juga kakak yang baik."

Scorpius hanya bisa mengangguk dan tersenyum senang. Akhirnya ia diajak berbicara oleh Ron. Selanjutnya, giliran Draco yang memanggil, "Ron—"

"Draco. Jaga Hermione. kau pria yang tepat untuk Hermione. kau ditakdirkan bersamanya. Jadi aku harap, kau benar-benar bisa menjaganya dan juga anak-anak kalian. Maafkan aku, sekali lagi aku minta maaf."

"Me too. Thank you, Ronald."

Dan malam itu Ron ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan sekaligus teror berantai yang ia lakukan kepada keluarga Malfoy. Dengan berat hati, Harry mengiring Ron masuk dalam Azkaban dan meninggalkannya sendiri.. bertemankan dengan kenangan bahwa ia melakukan hal terbaik untuk kebahagiaan seseorang yang sangat ia cintai.


"Dia akan tampan setampan kakak dan ayahnya."

"Tentu. Tapi ia akan terlihat sebagai versi laki-laki dari seorang Hermione Jean Malfoy."

Sosok kecil di gendongan Hermione tidak berkutik ketika dua orang tuanya membicarakan tentang dirinya. Electra Malfoy, lahir sehat dengan rambut pirang mirip dengan ayah dan kakaknya, namun matanya kecil dan coklat mirip dengan sang ibu. Hermione melahirkan Electra dengan normal tepat pada malam hari.

"Tapi tidak untuk rambutnya. Dia benar-benar Malfoy."

Scorpius sangat senang melihat adiknya telah lahir dengan selamat. Kebahagian mereka pun turun dirasakan oleh seluruh keluarga besar Malfoy dan juga Granger. Tidak sedikit pula ucapan selamat dan kado dari para sahabat atas kelahiran Electra meski itu semua sempat membuat Scorpius cemburu karena perhatian untuk adiknya yang berlebih.

"Tapi kata Uncle Ron aku harus menjadi kakak yang baik." Kata Scorpius.

"Jadi—" tanya Draco.

"Aku akan menjaga Electra dari semua orang yang mau menjahatinya. Karena aku kakak yang baik."

Beruntung. Draco dan Hermione memiliki Scorpius yang baik dan peduli dengan adik laki-lakinya. Saat malam kembali datang, tinggallah Draco dan Hermione menjaga si bungsu Malfoy. Hermione baru saja selesai menyusui Electra sebelum Draco tiba-tiba mengingat akan sesuatu.

Draco mengeluarkan satu boks besar dengan banyak lubang di atas. "Ini dari Ron, Harry dan Ginny yang mengantarnya. Dan.. aku rasa isinya.. hidup, sayang."

Penasaran, Hermione segera membuka kertas pembungkus dan melihat kandang besi berisikan kelinci putih di dalamnya. Hermione terkejut bukan main. Di dalamnya, terselip pula sebuah surat dengan tulisan tangan Ron.

"Bacalah, ayo!" pesan Draco sembari mengambil alih Electra.

Untuk Hermione,

Aku malu padamu. Sungguh, aku tak punya rupa untuk menghadapmu, mengatakan bahwa aku sangat mencintaimu. Aku sadar, jika aku memang bukan yang terpilih. Draco, mempunyai semua. Dia yang seharusnya memang kau pilih. Maafkan aku, Hermione. Jika mulutku pernah berkata jika putramu kotor, akulah yang jauh lebih kotor. Aku menginginkan kembali apa yang sudah tidak menjadi milikku. Aku menginginkan sesuatu yang tak mungkin aku miliki. Aku menginginkan kamu yang bukan jodohku.

Maafkan aku. Sampaikan permintaan maafku ini pada Draco. Karena Astoria, aku tahu semuanya. Tentang kelinci itu. Aku yang melakukannya, Hermione. Aku termakan hasutannya. Aku yang membunuh Bianca dari Draco. Aku marah, ia tak seharus memiliki Bianca jika ia sudah memilikimu. Sedangkan aku.. saat itu sama sekali tak memiliki siapapun untuk aku cintai.

Aku gila, Hermione.

Dan tak lupa, tolong sampaikan maafku pada Scorpius. Ia anak yang baik. Aku yakin ia akan menjadi pria yang luar biasa ketika ia dewasa kelak. Putra kalian sempurna. Begitu pula dengan si bungsu, Electra. Begitu, kan, namanya? Indah dan kuat sekali, Hermione. Sampaikan pula ucapan selamatku untuknya. Semoga ia menjadi anak yang luar biasa bagi kau dan Draco. Kalian sungguh beruntung memiliki Scorpius dan Electra.

Terima kasih atas semua yang telah kau berikan padaku, Hermione. tentang arti cinta itu apa. Tentang takdir dan jodoh yang harus diperjuangkan. Aku titipkan kelinci ini untuk hadiah kelahiran putra kalian. Jagalah, ajak ia bahagia bersama dalam keluarga kecil kalian.

Pria yang akan selalu bahagia untuk kalian,

Ronald Weasley.

Draco mengekor ekspresi wajah Hermione yang berubah. Ada air mata yang keluar ketika surat itu dibacanya. "Dia baik-baik saja?" tanya Draco.

"Ya, karena ia akan selalu baik-baik saja." Hermione tersenyum yakin.[]

- FIN -


#

Selesai! Semoga terhibur, ya, readers. Bagaimana pendapat kalian? Anne sempat baca tuh, ada yang sempat nulis review tanya soal sequelnya. Hem.. bagaimana? Ending ini cukup atau mau lebih? Hayo! Ditantangin nih sama Anne *Electra dada-dada ke readers* Semoga keputusan Anne untuk menulis cerita bisa berkenan bagi para readers khususnya para pecinta Dramione. Ini adalah fic pertama Anne di pair DraMione, menurut para DraMione lovers *bener nggak sih?* sudah kece ceritanya? Hahaha.. semoga bisa dibuat hiburan ya di awal bulan Ramadhan ini.

Anne ucapkan banyak-banyak terima kasih untuk yang setia menungggu Anne hadir di tiap chapternya, tulis review, favorite, follow, bahkan yang cuma baca doang. Anne juga mohon maaf jika sekiranya fic ini tidak berkenan di hati para readers. So, jika masih menemui typo bertebaran, Anne kembali minta maaf. Anne tunggu review kalian. Dan bagi para pecinta pair HINNY, setelah fic ini bungkus, kisah Harry dan Ginny kembali hadir untuk menemani hari-hari di bulan puasa ini.

Sekali lagi Anne minta maaf dan terima kasih sebanyak-banyaknya. Anne sayang kalian semua!

Thanks,

Anne xoxo