Chapter 2. Bad gone worst

.

.

Sudah terlalu lama Naruto tidak pernah merasa sepuas ini.

Ia menatap gadis yang berbaring di tempat tidurnya dengan sayang. Matanya terpejam, wajahnya di penuhi keringat, namun hembusan napasnya tenang dan teratur. Menandakan gadis itu tengah terlelap.

Rambut gelapnya tersebar ke seluruh bantal, tampak seperti helaian sutra yang lembut. Sementara setiap inci tubuhnya terpampang bebas di hadapan Naruto yang tanpa sungkan menikmati pemandangan itu.

Sedikit ragu, takut membangunkan gadis itu, tangan Naruto naik dan menyingkirkan rambut gelap yang menutupi wajahnya.

Tidur rupanya telah membuat wajah perempuan ini terlihat lebih polos, membuatnya tampak lebih memesona.

Dan hatinya terselimuti perasaan hangat yang sangat jarang ia rasakan.

Ia memang tidak mengenal perempuan ini dengan baik, pengetahuannya hanya terbatas pada ingatan saat mereka duduk di bangku sekolah menengah. Itupun sedikit sekali. Dan tak satupun dari ingatan itu berkesan, hanya kenangan sepele yang berpusat pada gadis pemalu yang selalu ada kemanapun ia pergi.

Tapi dengan pengetahuan yang sedikit itulah Naruto tahu ia menginginkan perempuan ini.

Perempuan penurut, yang tidak akan membantahnya. Yang bisa ia kendalikan. Yang tidak akan menentangnya. Tidak akan memanfaatkannya.

Yang bisa ia miliki sepenuhnya.

Puas dengan pemikiran itu, Naruto turun dari tempat tidur, kemudian dengan hati-hati menarik selimut hingga menutupi bahu gadis itu. Sedikit merasa aneh sendiri saat teringat ia tak pernah melakukan hal ini pada perempuan manapun yang pernah menjadi teman tidurnya.

Setelah merasa cukup, ia bergegas beranjak pergi, dan menutup pintu di belakangnya dengan perlahan agar tidak membangunkan gadis yang masih terlelap itu.

.

.

Matahari sudah meninggi saat Hinata terbangun untuk kedua kalinya.

Kepalanya pusing dan ia sedikit bingung saat mendapati dirinya berada di kamar yang tidak ia kenal. Tubuhnya terasa kaku dan letih ketika ia bergerak terlentang sambil mengumpulkan kembali ingatannya.

Hinata mungkin akan tetap berbaring seperti itu selama beberapa menit jika saja ingatan beberapa jam lalu tidak melintas di kepalanya, dan ia langsung bangkit terduduk.

Sial.

Antara menggerutu dan setengah histeris, mengabaikan rasa tak nyaman yang mendera tubuhnya, Hinata segera memungut pakaiannya. Mengenakan kain itu secepat yang ia bisa lalu meninggalkan kamar ini.

Ia sedikit was-was saat membuka pintu, tapi setelah menyadari tak ada tanda-tanda keberadaan Naruto, ia segera berlari keluar tanpa ragu. Tasnya masih berada di atas karpet, tergeletak dengan menyedihkan. Sementara sepatunya terlempar hingga ke bawah meja.

Ia merasa cukup beruntung bisa keluar dari tempat ini dan sampai di apartement-nya sendiri dengan selamat. Tapi setelah itu, setelah ia merasa terbebas dari jangkauan lelaki itu, tak ada hal lain yang ingin dilakukannya selain berendam seharian. Menggosok tubuhnya hingga perih dan memerah.

Berharap hal itu mampu menghapus ingatan tentang sentuhan Naruto ditubuhnya.

Tapi sekeras apapun ia berusaha, bayangan tentang bagaimana pria itu menyentuhnya tak bisa ia lupakan. Dan Hinata merasa malu saat menyadari bahwa dirinya terangsang, sebelum akhirnya menyerah dalam pelukan pria itu.

Ini mengerikan.

Dan dengan gemas ia kembali menggosok tubuhnya lebih keras.

Setelah mandi berjam-jam yang mengakibatkan kulitnya pedih, Hinata mencoba membuat dirinya sendiri nyaman dengan duduk bergelung di sofa, menyalakan televisi dan mengganti salurannya setiap lima detik sekali sambil melahap mochi beku yang ia temukan di dalam lemari es.

Hinata bersyukur ini hari minggu sehingga ia tak merasa bersalah bersantai seperti ini.

Di hari biasa, alih-alih duduk selonjoran di sofa, ia justru akan menghabiskan setiap detik malamnya memeriksa ejaan yang terasa tak pernah selesai. Biasanya ia harus menyelesaikan beberapa buku sekaligus sehingga tidak punya waktu ekstra untuk memanjakan diri. Dan ia tak bisa mengeluh karena dari sanalah penghasilannya berasal.

Hinata tidak tahu sudah berapa lama ia seperti ini, yang pasti saat melihat keluar jendela, langit sudah gelap dan bersantai seperti ini membuatnya mengantuk. Sebentar lagi ia mungkin akan tertidur.

Tiba-tiba terdengar gedoran keras di pintu apartement yang menghancurkan ketenangan yang mulai dinikmati Hinata.

Ia terlonjak kaget dari sofanya, dan merapikan sweater kebesaran yang ia pakai sambil berjalan menuju pintu. Dalam hati merasa heran siapa tamu tidak sopan yang bertamu di jam seperti ini.

Dan saat pintu menjeblak terbuka, disanalah sang iblis berdiri dengan tenang, memandang Hinata dengan sorot mata tak bersahabat.

Selama beberapa saat yang terasa berabad-abad, mereka saling berpandangan, seolah menunggu siapa yang pertama membuat keributan. Hinata bisa melihat pria itu akan mengeluarkan komentar tidak menyenangkan, ia bisa melihat dari ekspresinya. Tapi sebelum ia berhasil mengatakan sesuatu, Hinata sudah lebih dulu bertanya; "Apa yang kau lakukan disini?"

Dan ia tidak suka melihat pertanyaannya membuat lelaki itu tersenyum.

"Mencari tahu kabar perempuan yang ku setubuhi tadi pagi," jawab Naruto dengan tenang.

Pria itu sama sekali tidak terlihat terpengaruh oleh sikap ketus Hinata, tapi mata birunya melihat sekeliling dengan penasaran. "Kau tahu, aku bisa membelikanmu rumah yang lebih layak dari ini," ucapnya kemudian saat melihat betapa sederhananya ruangan yang dijadikan tempat tinggal oleh Hinata. Ia tidak mempunyai maksud apapun saat mengucapkan tawaran itu, murni hanya ungkapan kedermawanan -yang tidak pada tempatnya.

Dan kedermawanan yang salah tempat itu kembali memunculkan amarah di dalam diri perempuan mungil dihadapannya.

Berusaha menunjukkan sikap tenang yang sama sekali tidak dirasakannya, Hinata mengangkat dagu dan berkata dengan tegas.

"Pergi dari rumahku!"

Naruto, yang masih terlihat tenang, bergerak mendekat. Tangannya mencekal lengan Hinata sebelum perempuan itu sempat menghindar. Ia menyeringai senang melihat Hinata menggeliat panik.

"Katakan, apa kau memang selalu seperti ini?"

"Apa maksudmu?" tanya Hinata galak. Lengannya sakit, dan makin sakit saat ia mencoba melepaskan diri.

"Dulu kau lebih…tenang." Ada nada heran yang terdengar saat pria itu mengucapkannya, tapi kemudian ekspresinya berubah menjadi ketertarikan yang menyebalkan. "Terlalu tenang."

"Kau bahkan tidak mengenalku."

"Tentu saja aku mengenalmu," bantahnya cepat. "Gadis yang tergila-gila padaku sangat sulit dilupakan."

Itu nyaris tepat mendekati kenyataan sehingga Hinata merasa sangat malu sekaligus marah. Tubuhnya menegang mendengar penghinaan yang sangat jelas dalam perkataan lelaki itu. Tampaknya Naruto sangat ingin mengingatkan kembali sosok dirinya yang menyedihkan dan mudah dipermainkan, yang bersedia melakukan apapun hanya untuk melihat sosok sang pujaan, saat kembali melanjutkan; "Kau pasti sangat menyukaiku, kan."

Dan semua itu tak tertahankan.

Sambil mengendalikan amarahnya dengan sekuat tenaga, Hinata berusaha mengulas senyum palsu saat membalas perkataan lelaki itu, "Pasti kau melewatkan bagian dimana aku tidak lagi menyukaimu saat kau menjadikan sahabatku sebagai kekasihmu."

"Sungguh? Jadi kau tidak menyukaiku lagi sejak itu?"

Hinata mencoba tetap tenang, namun keberaniannya semakin memudar saat menyadari pria itu kian dekat dengannya.

"Tidak," jawab Hinata dengan yakin, namun suaranya yang gemetar terdengar cukup jelas sehingga siapapun yang mendengar akan tahu ia tak setegar itu.

"Buktikan." Tangannya mendorong tubuh gadis itu hingga punggungnya menabrak dinding di belakangnya. "Buktikan kau tidak lagi menyukaiku."

Dan pria itu menciumnya. Melumat bibirnya dengan posesif.

Jantung Hinata berdentam keras, hal yang selalu terjadi ketika pria itu menciumnya. Bibir Naruto bergerak di atas bibirnya sementara tubuh kokoh lelaki itu menekan tubuhnya. Mengunci setiap gerakan Hinata.

Ini salah. Tapi sensasi yang diciptakan dari ciuman itu membuainya. Ia tidak ingin menanggapi, tidak berani menanggapi. Tapi tubuhnya yang berkhianat merespon setiap pagutan pria itu.

Lalu Naruto mengangkat tubuhnya dan tidak memberi Hinata pilihan lain selain melingkarkan kakinya dipinggang lelaki itu sementara tangannya mencengkram bahunya itu erat. Tanpa sadar melekatkan tubuh mereka.

Rasa nikmat dengan cepat terpompa dalam diri Hinata, membuat seluruh sel dalam tubuhnya menegang penuh antisipasi.

Tenggelam dalam gairah yang membingungkan, Hinata tidak mencegah saat lidah Naruto menerobos masuk. Menguasai mulutnya. Ia merasakan tangan pria itu bergerak ke belakang lehernya, memaksanya semakin mendekat. Memperdalam ciuman mereka.

Dan Tiba-tiba pria itu menjauh.

Untuk sesaat, Hinata merasa kehilangan. Ia ingin kembali merasakan bibir itu, ingin kembali takluk dalam gairah yang sama sekali tidak ia kenal. Tapi saat melihat senyum puas lelaki itu, ia tersadar akan kesalahannya.

"Masih bersikeras tidak menyukaiku?"

Hinata kembali merasakan wajahnya memanas, dengan harga diri yang tersisa ia berujar samar. "Tidak."

"Begitu," gumam Naruto pelan. "Sayang sekali, padahal aku berniat memperlakukanmu dengan baik," lanjutnya. "Aku bisa membelikanmu apapun yang kau mau; rumah, perhiasan. Apapun yang kau mau."

"Apapun?" tanyanya pelan, tanpa sadar memejamkan mata saat pria itu mengecup sisi wajahnya.

"Apapun."

"Dan apa yang harus kuberikan?" tanyanya lagi. " 'Apapun' terlalu banyak untuk sikap dermawan. Jadi apa maumu?"

Naruto berdecak, tapi Hinata bisa merasakan senyumannya saat pria itu mengecup lehernya. "Tubuhmu."

Laki-laki itu menciumnya lagi, dan kali ini Hinata benar-benar lupa diri dan mendorong tubuh kekar itu sekuat tenaga. Tapi dengan perbedaan berat yang signifikan, tenaga Hinata hanya sanggup membuat pria itu mundur selangkah. Ia menghela napas dalam-dalam dan menatap tajam lelaki itu. "Keluar dari rumahku."

Naruto memiringkan sedikit kepalanya. Dan apapun yang tersirat dari ekspresi wajah lelaki itu membuat Hinata mundur hingga punggungnya membentur tembok.

"Behave," bisik pria itu sambil meletakkan kedua lengannya di sisi kepala Hinata. Membuatnya tak berkutik. Ia menahan napas saat bibir pria itu menelusuri daun telinganya. Gerakannya pelan mendirikan bulu roma. "Aku menyukaimu."

"Aku tidak," tukas Hinata cepat.

"Kau tidak," sahut Naruto setuju. "Dan aku tetap menyukaimu." Lalu ia kembali menjauh.

"Ku beri kau waktu tiga hari," katanya. "Untuk berpikir."

Ia kemudian berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Hinata yang tak berdaya terduduk di lantai.

.

.

Dalam hidupnya, Hinata tak pernah merasa sehina ini.

Ia menatap kepergian Naruto dengan perasaan sesak yang tak tertahan di dadanya.

Kemarin pagi, ia bangun dan menjalani hari yang bisa diduga. Semua tampak mudah, hanya melakukan aktifitas rutin yang sudah terhapal di luar kepala. Lalu beberapa jam kemudian, tanpa terduga, hidupnya berubah.

Pertama ia dipaksa mabuk, lalu ditiduri lebih dari sekali, dan sekarang ia ditawari menjadi pemuas seks?

Menyedihkan.

Berusaha untuk melawan air matanya, ia bangkit, membanting pintu dan berjalan sempoyongan ke ruang tamu dan merebahkan dirinya di sofa terdekat. Kedua tangannya yang masih gemetar dipaksa memeluk tubuhnya sendiri. Berharap tindakan itu mampu menghalau rasa frustasi akibat kedatangan pria itu.

Ia mengutuki dirinya yang lemah, lalu mengutuki pria itu dan kembali mengutuki dirinya sendiri. Air mata yang panas menetes membasahi pipinya, namun dengan marah, Hinata segera menyekanya. Ia tak ingin lagi menangis karena lelaki itu.

Naruto mungkin tidak benar-benar menyakitinya secara fisik, tapi pria itu berhasil membuatnya sakit hati tanpa perlu bersusah payah.

Ia tidak mengerti apa kesalahan yang telah ia perbuat sehingga ia pantas mendapatkan semua ini?

Semua kesakitan ini.

Dan mungkin karena terlalu lelah, Hinata tertidur tanpa sadar.

.

.

.

Beberapa jam kemudian, Hinata menatap pantulan dirinya di cermin dengan wajah cemberut.

Tampaknya tadi ia sempat tertidur, atau pingsan, entahlah. Ia tidak bisa memastikan. Yang jelas, saat terbangun dan melihat rupa-nya di cermin, Hinata malah ketakutan sendiri.

Rambutnya kusut, pakaiannya berantakan, dan matanya merah. Penampilannya yang abstrak ini mengingatkannya pada masa sekolah dulu. Saat Naruto menjadi kekasih sahabatnya.

Hinata masih mengingat hari itu seperti baru terjadi kemarin.

Setiap detail-nya terekam jelas.

Ia pergi ke sekolah seperti biasa, belajar seperti biasa. Saat waktu makan siang, tanpa merasa firasat apapun, ia menanyakan tentang keabsenan sahabatnya, Eimi, yang mendadak hilang begitu bel berbunyi.

Raut wajah bingung teman-temannya membuat ia paham bahwa mereka juga tidak tahu apapun. Saat Hinata akan pergi mencarinya di toilet -tempat yang pertama terlintas dipikirannya- Eimi masuk ke dalam kelas dengan wajah bersemu.

Hinata makin heran saat sahabatnya itu bergumam akan makan di sisi lain kelas dan langsung mengambil kotak makan siangnya tanpa menunggu respon yang lain.

Harusnya ia tahu.

Harusnya ia segera memalingkan wajah dan makan makanannya dengan tenang seperti biasa. Tapi Hinata justru terus menatap temannya itu, tidak melepas tatapannya sedetikpun dari gadis yang tengah menghampiri kelompok anak lelaki yang tengah seru berdebat tentang sesuatu. Tempat dimana orang yang disukainya biasa duduk.

Dan perasaan Hinata makin tidak enak saat melihat caranya berjalan, bagaimana ia -secara mengejutkan- duduk di samping Naruto, melihat bagaimana anak lelaki itu tampak senang dengan kehadiranmya, bagaimana ia tampak sangat santai menanggapi candaan orang-orang yang mengelilingi mereka.

Seakan disanalah tempatnya.

Menarik napas pelan, Hinata memutuskan mengacuhkan semua itu dan mulai menyantap bento-nya. Ia memang menyukai Naruto, tapi bukan berarti Hinata terobsesi padanya. Jika Eimi memang orang yang ia pilih, Hinata bisa apa?

Dipikirannya, saat ada dua gadis yang menyukai anak lelaki yang sama, hanya anak lelaki itu yang bisa memutuskan. Bukan salah satu dari dua gadis itu. Dan saat ia sudah memilih, maka kasus selesai.

Itu cara cepat dan efektif.

Dua gadis itu akan kembali akur seperti biasa. Tidak akan langsung rukun memang, tapi setidaknya mereka akan kembali bersahabat seperti sedia kala.

Otaknya tahu hal itu, dan hatinya bisa menerima. Tidak ada yang perlu dipermasalahkan.

Tapi meskipun sudah memahaminya, ia tetap merasa napasnya kian sesak saat suara tawa Naruto dan Eimi terdengar makin nyaring. Dan tanpa disadari, ia kembali menatap mereka.

Hinata sudah tahu apa yang akan ia lihat, tapi hatinya menolak untuk ditenangkan saat melihat mereka saling berangkulan, cara mereka tertawa pada satu sama lain, bagaimana Eimi menepuk pelan pundak Naruto saat mereka bercanda, semua yang mereka lakukan semakin membuat Hinata terganggu.

Nafsu makannya hilang, perasaannya kacau.

Dengan sedikit usaha ia beranjak dari tempat duduknya dan bergegas pergi ke toilet.

Ia butuh ketenangan.

Di dalam ruangan toilet perempuan khusus siswa ada setidaknya enam pintu, dan ia segera masuk ke salah satu toilet yang kosong. Ruang sempit dan tenang membuatnya sedikit lebih nyaman.

Dengan putus asa, Hinata menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan melalui mulut. Berharap cara itu mampu menenangkan detak jantungnya yang kian menggila. Tapi dadanya justru kian sesak saat mengingat bagaimana Naruto merangkul pundak kecil Eimi, memeluk gadis itu.

Itu menyakitkan.

Kenapa harus Eimi?

Kenapa harus sahabatnya?

Cairan hangat yang membasahi pipinya membuat Hinata tersadar bahwa ia menangis. Lagi. Dengan kesal ia mengusap air matanya.

Tidak, ia tidak akan menangis.

Hinata mungkin tidak mendapatkan apa yang ia inginkan, tapi setidaknya ia tahu Naruto akan bahagia.

Eimi gadis yang baik. Sepanjang ingatannya, Hinata tahu ia tidak pernah berbuat macam-macam; pulang tepat waktu, tidak pernah melanggar peraturan, tidak pernah keluar malam. Gadis itu juga ceria, sifat periang itu akan sangat cocok dengan Naruto. Mereka tidak akan kehabisan bahan obrolan dan tidak akan terjebak dalam keadaan kikuk yang mengganggu.

Benar, tidak apa-apa. Ia akan baik-baik saja.

Setelah merasa sedikit lebih tenang, Hinata berniat segera kembali ke kelas. Menyantap makan siangnya dan berusaha mengobrol dengan yang lain seperti biasa. Saat pulang nanti, ia akan punya banyak waktu dan ruang untuk menangis.

Tapi niatnya terhenti saat seseorang, atau beberapa orang, memasuki toilet. Tawa mereka membuat Hinata sedikit panik. Cepat-cepat ia mengusap wajahnya, memastikan tidak ada air mata yang menempel di pipi lalu merapikan rambutnya. Ia memang belum siap ditanyai macam-macam, seperti; kenapa matanya merah? kenapa wajahnya sembab?, tapi ia juga tidak mau terus terkurung di bilik toilet sempit ini. Lagipula waktu istirahat akan segera habis, ia punya alasan untuk bergegas.

Ayahnya akan bangga jika tahu.

"Yah, kelihatannya usaha Naruto berhasil."

Hinata seketika urung untuk keluar, tangannya yang terulur meraih knop pintu terhenti seketika.

"Si baka itu, apa kau lihat sikapnya di kelas? Benar-benar norak."

Terdengar suara tawa lagi. Sekilas, Hinata merasa mengenali suara mereka, tapi ia tidak begitu yakin. Jadi ia menempelkan punggungnya ke pintu, antara ingin menguping dan tidak.

Hinata tidak terlalu suka bergosip, terutama jika itu menyangkut Naruto dan Eimi. Ia memang sudah menerima kenyataan, tapi bukan berarti Hinata siap kembali pada kenyataan.

Hanya saja, rasa penasaran membuatnya merasa ingin mendengar lebih banyak. Ingin tahu lebih banyak.

"Yup. Tapi aku kasihan pada Hinata. Dia terlihat terpukul sekali."

Tubuhnya sedikit menegang saat namanya disebut. Kenapa mereka menyebut namanya? Apa yang sudah ia lakukan? Hinata benar-benar bingung, detak jantungnya makin tak terkendali saat kembali mendengarkan. Kali ini lebih seksama.

"Sebenarnya aku agak bingung kenapa Naruto bisa kenal Hinata. Kalau Eimi aku bisa mengerti, tapi Hinata?" tanya seseorang yang bersuara sedikit lebih cempreng. Hinata menduga itu suara Ayumi, tapi sekali lagi, ia tidak terlalu yakin.

"Kamu belum denger gosipnya?" sahut seseorang yang bersuara sedikit lebih berat. Dan Hinata makin menempelkan telinganya ke pintu ketika suara yang nyaring itu berubah pelan. Dari nadanya, tampaknya mereka akan berbagi sebuah rahasia yang melibatkan…dirinya?

"Gosip apa?"

"Katanya, Naruto mendekati Hinata hanya agar bisa dekat dengan Eimi."

Sesaat setelah mendengar itu, tubuh Hinata seakan kaku. Pikirannya kosong.

Apa yang baru saja didengarnya berhasil menghancurkan semua rasa percaya diri-nya. Beberapa detik lalu, ia merasa semua akan baik-baik saja jika ia bersikap sedikit optimis. Sekarang ia tidak meyakini apapun.

"Serius?"

"Iya, aku dengar dari Choji. Sepertinya Naruto benar-benar suka Eimi sampai mau susah payah mendekati Hinata. Maksudku, Hinata memang manis, tapi gadis seperti itu sih…" Suara tawa tertahan kembali terdengar.

Hinata memejamkan mata.

Rasa sakit menghantam dadanya, membuatnya susah bernapas. Ia tidak begitu bisa menangkap percakapan selanjutnya.

Tangannya membekap mulutnya untuk mencegah isak tangisnya tidak terdengar keluar.

Matanya terpejam erat, berusaha menghalau bayangan tentang kebersamaannya dengan Naruto selama ini. Tapi tidak berhasil.

Semua ingatan itu berkelebat di benaknya. Menampilkan gambaran yang begitu jelas tentang gadis polos bodoh yang tergila-gila pada pemuda berambut pirang. Tentang pertemuan pertama mereka, tentang pembicaraan mereka. Dan semakin diingat, ia semakin sadar bahwa obrolan mereka hanya seputar Eimi. Hanya tentang gadis itu. Bagaimana dia? Apa kesukaannya? Apa yang ia benci?

Selalu tentangnya.

Dan itu menyiksanya.

Hinata begitu bodoh tidak mengerti hal sekecil itu dan berakhir dengan mengira Naruto juga merasakan apa yang ia rasakan padanya.

Benar-benar bodoh.

Dari awal harusnya ia menyadari bahwa tidak ada dua gadis yang menyukai lelaki yang sama. Yang terjadi adalah dua orang yang saling suka dan seorang gadis menyedihkan yang terlalu bodoh dengan berharap lelaki itu akan menaruh perhatian padanya.

Dan menerima kenyataan memang sesulit yang orang-orang bilang.

Ia kecewa, menangis semalaman sampai tertidur dan tidak mau pergi ke sekolah. Tiga hari dihabiskannya dengan mengurung diri di kamar. Hinata tidak ingat apa yang ia lakukan hingga bisa bertahan terus mendekam di kamarnya sampai tiga hari. Yang ia ingat, di hari ke empat saat ia melihat bayangannya di cermin, ia melihat sosok gadis muda yang sangat mengerikan. Rambut panjangnya kusut, mukanya pucat, matanya bengkak dan pakaiannya belum diganti sejak tiga hari lalu.

Hinata sebenarnya akan kembali menghabiskan harinya di kamar jika adik dan sepupunya tidak mendobrak masuk dan memaksanya pergi sekolah.

Di hari biasa, ia mungkin akan pingsan saking malunya saat Hanabi menyeretnya ke kamar mandi dan mulai menyabuninya. Tapi mungkin karena sudah puas menangis, ia sama sekali tidak peduli.

Saat ia sampai di sekolah, Hinata bisa melihat banyak pandangan prihatin yang ditujukan padanya. Tapi ia segera sadar bahwa mereka tidak sebaik itu. Hinata sering memergoki orang-orang yang membuat lelucon tidak lucu mengenai dirinya, tertawa saat mengira Hinata tidak ada, dan bergosip tentang keadaannya yang menyedihkan.

Yah, saat perasaanmu terkuak dan tersebar ke muka umum bersamaan dengan lelaki yang kau sukai menjalin hubungan dengan sahabatmu sendiri, keadaan memang tidak akan bisa lebih baik lagi.

Dan hari berikutnya berlangsung seperti kaset rusak yang diputar terus menerus. Ia hanya melakukan kegiatan yang hampir sama setiap hari. Bangun tidur, mandi, sarapan, pergi sekolah, dan mengurung diri di kamar setelah pulang, mengerjakan tugas sekolah hingga tiba waktunya makan malam, lalu tidur. Saat bangun keesokan harinya, ia akan kembali mengulang kegiatan yang sama. Selalu seperti itu hingga hari kelulusan.

Benar-benar kenangan yang…menyenangkan.

Sambil menggerutu sendiri, Hinata melangkah sedikit tertatih ke kamar mandi dan membasuh wajahnya dengan kesal.

Ia kesal karena setelah bertahun-tahun, ia masih bisa mengingat semua itu dengan jelas. Seolah memory-nya hanya mampu menampung tentang kenangan itu. Dan itu menyedihkan. Karena secara tidak langsung ia menyatakan bahwa dirinya tidak bisa melupakan lelaki itu sedetikpun, yang tentu saja tidak benar.

Faktanya, Hinata senang mereka tidak lagi berteman setelah lelaki itu berhasil mendapatkan sahabatnya. Dan meskipun ia sangat sakit hati saat Naruto ikut menertawakan dirinya, Hinata tidak pernah terpikir untuk balas dendam. Itu hanya membuang-buang tenaganya yang berharga. Dan ia sangat bahagia saat tahu lelaki itu pergi.

See?

Hidup Hinata tidak terpusat pada pria itu.

Tapi kenapa otaknya tidak mau bekerjasama? Tidak bisakah kepalanya yang cantik melupakan semua hal tentang lelaki itu? Tidak bisakah ia hidup tenang?

Semua ini membuatnya depresi!

Dan Hinata makin kesal saat melihat bercak kemerahan jelek di lehernya. Ia jadi terlihat mengenaskan. Badannya pegal, kakinya terasa lemas bahkan hanya untuk dipakai menyangga tubuhnya. Tidak pernah ia merasa sekacau ini sejak mencoba bermain ski pertama kali dulu.

Lelaki itu…keparat!

Sialan.

Selama ini nasibnya memang tidak terlalu buruk. Ia lulus sekolah dengan nilai bagus, kuliah lalu kerja. Menyewa aparteman sendiri, punya penghasilan sendiri, dan hidup sendiri meski pendapatannya tak seberapa. Ia menikmati hidupnya. Lagipula Hinata tidak pernah menginginkan macam-macam, asal bisa makan cukup, bisa beli baju, punya pekerjaan dan punya tempat untuk tidur, ia sudah puas.

Tapi ia benar-benar merasa terpuruk dengan mudah saat Naruto datang. Lelaki itu tampaknya sangat tahu bagaimana menghancurkan kehidupannya.

Benar, tidak pernah ada hal bagus jika itu sudah menyangkut Naruto, karena itu, sebelum semua bertambah buruk, Hinata akan mengubah semuanya menjadi apa yang ia mau.

.

.

.

Tapi tampaknya ia memang dikutuk.

Keesokan paginya, saat Hinata tiba di tempat kerja, ia disuguhi perhatian yang tak biasa. Ini aneh sekali. Hinata yakin ia datang tepat waktu, tidak terlambat semenitpun. Tapi entah kenapa ia merasa tatapan seluruh orang terpusat padanya. Sepanjang koridor menuju mejanya, Hinata harus menguatkan diri membalas tatapan orang-orang yang segera menengokkan kepala begitu ia lewat.

Masih dengan kebingungan, ia menghempaskan dirinya di kursi yang baru di tempatinya beberapa minggu ini dan langsung mengecek email sebelum akhirnya kembali pada kesibukan mengedit buku siap cetak yang menumpuk di mejanya.

Ia baru menutup emailnya ketika seseorang mengetuk dinding kubikelnya dengan sedikit keras. Merasa kesal dan terganggu, ia menoleh dan melihat Himura, senior yang juga pembimbingnya selama bekerja disini, berdiri diam dengan raut wajah tak senang. Dan Hinata dengan tiba-tiba tahu ada sesuatu yang tidak beres.

"Kepala editor ingin menemuimu," ucapnya singkat. Dan sebelum Hinata bisa menanyainya lebih jauh, lelaki setengah baya itu telah pergi meninggalkannya.

Ini memang pagi yang sangat aneh.

Himura-san tak pernah bersikap sedingin itu padanya meski ia sering berbuat kesalahan di minggu pertama kerja. Dia lelaki yang sabar dan pengertian. Tidak pernah membentak ataupun mengguruinya dengan keras. Karena itulah Hinata merasa sesuatu yang salah sedang terjadi. Sesuatu yang benar-benar salah sehingga orang seperti Himura-san menjadi kesal.

Tapi ia tidak punya waktu untuk menebak, kepala editor ingin menemuinya, jadi meskipun Hinata tidak yakin apa yang telah ia lakukan, ia tetap bergegas menuju ruangan elegan yang tak sembarang orang bisa masuk.

Dan ia melihat lelaki bertubuh subur yang diketahuinya sebagai kepala editor itu sama tidak senangnya dengan Himura saat Hinata memasuki ruangan. Raut wajahnya datar saat ia mempersilahkan Hinata duduk dan tanpa mengucapkan apapun, tangan gempalnya menyodorkan amplop coklat kepada Hinata.

Penasaran dan sedikit bingung, Hinata membuka amplop itu dan mengeluarkan beberapa lembar kertas yang terlipat rapi dan mulai membaca isinya. Di lembar pertama, hanya ada satu kalimat yang bertuliskan; 'untuk membantumu berpikir'.

Kening Hinata berkerut tidak mengerti. Jadi ia mengabaikan kertas pertama dan mulai beralih pada kertas kedua.

Tidak seperti kertas pertama, kertas kedua penuh dengan tulisan yang Hinata yakin akan lebih mudah untuk di pahami.

Namun baru beberapa baris, ia langsung merasa perasaannya makin tak karuan. Hinata tidak tahu apa yang harus dikatakan ataupun dilakukan ketika kata-kata yang terketik rapi di kertas itu tercerna sepenuhnya.

"Aku tidak punya pilihan lain, maafkan aku," kata kepala editor dengan ekspresi penyesalan yang meragukan.

Jelas sekali lelaki tua itu tidak merasa menyesal ataupun tidak enak hati karena telah memecatnya. Bahkan Hinata berani bersumpah lelaki itu tampak lega.

Dan kenyataan bahwa lelaki itu tak sedikitpun berusaha menutupi sikap acuhnya, membuat Hinata geram. Ia harus berusaha keras menahan keinginannya untuk menyerbu ke seberang meja dan menerkam tenggorokannya. Menusuk leher pendek berlemak pria itu dengan pena berlapis emas yang terpajang di meja.

"Tapi… kenapa?" tanya Hinata tidak mengerti. Ia memang bukan pegawai teladan, tapi ia yakin dirinya bekerja dengan baik. "Apa saya melakukan kesalahan? Apa saya tak cukup baik dalam bekerja?"

"Tidak, tidak ada masalah dalam pekerjaanmu," bantah lelaki itu sambil dengan kikuk mengusap kepalanya. "Bisa dibilang ini merupakan langkah praktis yang harus dilakukan."

"Langkah praktis?"

"Ya, perusahaan ini telah di akuisisi beberapa hari yang lalu, dan tampaknya pemilik yang baru, Namikaze-san, boleh dibilang tidak terlalu menyukaimu."

"Apa?"

"Dan aku benar-benar minta maaf, tapi dia dengan jelas menginstruksikan kami untuk tidak lagi memakai jasamu atau ia akan menutup perusahaan ini dan membuat puluhan pegawai menjadi pengangguran," jelasnya. Tapi Hinata sudah terlalu marah untuk bisa mendengarkan. Jadi dengan kesal ia mengangguk.

"Aku mengerti."

Dan ia memang sungguh-sungguh mengerti. Apapun yang ia lakukan, ia tetap dipecat.

Jadi ia bergegas keluar dari ruangan itu dan membereskan barang-barangnya. Mengabaikan tatapan ingin tahu dari kepala-kepala yang terjulur, mengintip dari dinding tipis.

Jika pria itu ingin bermain, maka ia akan bermain.

.

.

.

Matahari sudah mencapai puncak kepalanya ketika Hinata menginjakan kaki di gedung kepolisian terdekat.

Setelah membereskan barang-barangnya dikantor, ia memang segera kemari tanpa pikir panjang.

Tapi walaupun sudah bertekad, ia tetap khawatir tentang tanggapan yang akan ia dapat mengingat Hinata bukan seseorang yang vocal, kehidupan sosialnya pun payah sekali. Jadi meminta pertolongan polisi benar-benar di luar zona aman-nya. Dan ini pertama kalinya ia masuk ke kantor polisi.

Apa yang harus ia katakan?

Ke bagian mana ia harus melapor?

Bagaimana jika tidak ada yang menganggap laporannya serius?

Apa mereka akan menertawakannya? Apa mereka akan mempersulitnya?

Semua pertanyaan itu membuatnya makin cemas.

Dan yang paling membuatnya gugup adalah bagaimana ia mengawali laporannya.

Maksudnya, melaporkan seseorang ke pihak yang berwenang tak sama dengan melaporkan hasil kerjanya pada atasan. Ia tidak bisa langsung berkata: 'Aku diperkosa dan sekarang jadi pengangguran karena pemerkosaku yang ternyata pemilik tempatku bekerja sekarang tidak ingin aku bekerja lagi disana'.

Lagipula memang tidak semudah itu. Bagaimanapun ia korban. Dan sebagai korban, ia punya ketakutan tersendiri.

Hinata pernah membaca hal itu di novel detective dimana para polisi ataupun pengacara lebih suka memojokkan para korban dibanding membantu mereka karena semakin banyak laporan, semakin berat beban yang harus ia tanggung. Dan banyak beban berarti kerja lembur.

Itu mengerikan tapi masuk akal, Hinata akui itu.

Tapi itu hanya di novel, kan? Hanya karya fiksi. Hinata berharap ia cukup beruntung menemukan polisi nganggur yang mau membantunya.

Tapi di lain pihak, fakta di lapangan membuat posisinya terjepit.

Ia mabuk. Benar, ia tidak akan menyangkal atau berkelit karena memang ia mabuk dan -sialnya- atas kemauan sendiri. Setidaknya sebagian besar.

Ia bisa saja bermain sebagai korban tak berdaya, yang menangis tersedu hingga orang-orang mengasihani dirinya. Dan Hinata tidak akan sungkan langsung menyalahkan Hiroshi karena membuatnya mabuk, lalu membawanya ke tempat sepi dimana akhirnya mereka bertemu Naruto.

Tapi ia tidak bisa melakukan itu, dan itulah masalahnya.

Memang benar semua berawal dari dirinya yang mabuk. Tapi saat pria itu kembali menyentuhnya, meskipun menolak diawal, ia cukup sadar saat akhirnya ikut menanggapi.

Dan fakta itu benar-benar tidak membantu sama sekali. Pertama, orang-orang selalu menganggap mabuk sama dengan keadaan tidak terkendali. Yang berarti si pemabuk tidak bisa mengendalikan akal pikirannya saat berbuat sesuatu yang memungkinkan dirinya bertindak di luar kebiasaannya. Bahkan kemungkinan besar; korban pemerkosaan yang mabuk tidak akan dianggap korban sama sekali dan justru dirinyalah yang akan dijerat hukuman.

Kedua, karena ia telah membiarkan pria itu menyentuhnya. Kesadaran inilah yang membuatnya tidak segera meminta pertolongan polisi lebih cepat.

Benar-benar bukan keadaan yang menguntungkan.

Sialan, ini memang sangat tidak bagus. Tapi ia sudah disini. Tidak ada alasan untuk mundur. Lagipula keinginannya untuk membalas Naruto lebih besar dibandingkan kebimbangannya.

Hinata hanya tidak tahu harus memulai dari mana?

Saat itulah seorang wanita menghampirinya. Ia memakai seragam yang membuat Hinata yakin wanita itu merupakan salah satu anggota polisi di gedung ini. Wajahnya yang ramah membuat Hinata merasa sedikit lebih nyaman.

"Ada yang bisa ku bantu?"

Hinata tersenyum, dugaannya benar, wanita ini memang ramah.

"Ya," Hinata sedikit menimbang-nimbang, namun suaranya terdengar penuh keyakinan saat berkata, "Aku ingin melaporkan seseorang."

"Melaporkan seseorang? Atas tuduhan apa?"

"Pemerkosaan," sahut Hinata cepat. Ia tidak ingin merasa ragu lagi. "Pemerkosaanku."

Wajah ramah wanita itu langsung tergantikan dengan ekspresi terkejut. Tangannya mengusap bahu Hinata lalu menggiringnya masuk lebih dalam ke gedung itu. Dan saat kembali bicara, nada bicara wanita itu menjadi lebih formal. "Kita bicara di kantorku."

Dan Hinata tidak membantah.

Mereka berjalan dalam diam sehingga Hinata punya kesempatan memperhatikan keadaan dengan leluasa. Ini memang pertama kalinya ia ke kantor polisi, tapi ia sama sekali tidak merasa asing. Setiap ruangan, setiap sudut, dan kesibukan yang terlihat, hampir mirip dengan yang ada di dorama-dorama yang sering ia lihat. Keren. Ternyata dorama-dorama yang selalu tayang di televisi tidak semuanya memuat kebohongan.

Mereka akan memasuki sebuah ruangan kecil saat Hinata melihat seseorang yang terlihat familiar.

"Kiba-kun?" laki-laki itu mengangguk sekilas seakan membenarkan, namun tatapannya segera beralih pada wanita disamping Hinata.

"Izumi-san," sapanya. "Yamato-san memanggilmu."

"Benarkah? Tapi…" ia melirik Hinata sekilas dan menatap Kiba dengan bingung. Seakan mengerti dilema wanita itu, Kiba tersenyum maklum.

"Pekerjaanku sudah selesai, aku bisa mengurus perempuan ini jika kau mau."

Wanita itu tampak ragu sejenak, ia memandang Hinata seakan menimbang-nimbang, sebelum akhirnya mengangguk dengan ekspresi bersalah.

Hinata yang sama sekali tidak tahu apa yang terjadi, hanya bisa menurut saat Kiba menariknya pergi. Awalnya ia mengira teman lamanya itu akan membawanya ke kantor kecil sempit seperti yang tadi dilakukan wanita itu, tapi Kiba justru membawanya keluar dari gedung.

"Kau tidak seharusnya datang ke sini," katanya pelan saat mereka telah keluar dari gedung kepolisian.

"Aku tidak tahu aku melakukan hal yang salah." sahut Hinata tak terima. Kiba menghentikan taksi dan mempersilahkan Hinata masuk lebih dahulu.

"Harusnya kau tidak datang kemari Hinata." Lagi, Kiba berkata dengan frustasi seolah Hinata telah melakukan sebuah kejahatan besar. Tapi apa yang salah dari datang ke kantor polisi?

Seperti mengerti pikiran Hinata, Kiba kembali buka suara.

"Kami sudah diperingatkan akan kedatanganmu."

"Apa?"

"Sederhananya, kau berurusan dengan orang yang salah."

Dan ucapan dari teman masa kecilnya makin membuat Hinata kebingungan.

"Salah? Apa maksudmu? Aku tak pernah cari masalah dengan..."

"Naruto," Kiba memotong ucapan Hinata dengan tegas. "Telah meminta kami untuk mengabaikan semua pernyataanmu. Kami semua mendapatkan instruksi itu."

Mendengar itu, Hinata menggeram penuh benci.

"Dia bisa melakukan itu?" tanyanya tidak percaya. Ia sama sekali tidak mengira bahwa pria itu mampu berbuat sejauh ini. Siapa sebenarnya Naruto hingga bisa dengan mudah menguasai kepolisian?

"Ya, dia bisa." Ada nada ketidak-sukaan yang sangat jelas dalam ucapannya. "well, boleh dibilang kami berhutang budi padanya mengingat bantuan yang telah ia berikan beberapa tahun lalu. Bantuan yang sangat besar. Jadi saat ia meminta tolong, kami tidak punya pilihan lain."

Hinata mendesah pelan. Lelaki itu bisa menguasai polisi? Pikirnya kecut. Tampaknya Kiba benar, Ia salah memilih lawan.

Sambil menyandarkan kepala ke sandaran kursi, Hinata menarik napas dalam, mencoba mengendalikan amarahnya.

"Aku tidak tahu kau terlibat dalam masalah apa." Ucapan Kiba membuatnya menatap pria yang duduk disampingnya itu. Dibalik raut serius yang menghiasi wajahnya, ada setitik rasa cemas yang Hinata lihat. Dan ia merasa bersalah karena menyadari dialah penyebab kecemasan itu.

"Dan aku tahu aku tidak berhak mencampuri urusanmu, tapi demi kebaikanmu sendiri, jauhi Naruto. Pria itu hanya masalah untukmu."

Andai saja dia tahu!

Bukan Hinata yang mendekati pria itu, tapi dialah yang mendekatinya. Hinata sama sekali tidak mau berurusan ataupun mencari masalah dengan Naruto. Ia bahkan tidak pernah bermimpi bisa bertemu lagi dengannya.

Dan ketidak-adilan dari situasi ini membuatnya kesal.

Tapi sebelum ia bisa mengeluarkan semua keluhannya, Kiba telah lebih dulu meminta taksi yang mereka tumpangi berhenti, sehingga Hinata terpaksa menelan kekesalannya dalam hati. Setidaknya untuk saat ini.

Mereka berhenti di depan sebuah kafe yang cukup menarik. Bangunannya sederhana dengan dekorasi simple namun penataan yang enak dilihat. Setiap sudut dan dinding ruangan di tutupi tanaman hias yang cantik. Dan Hinata menyadari, ia menyukai tempat ini bahkan sebelum menikmati menunya.

Mereka duduk di salah satu kursi yang kosong dekat jendela saat tak lama kemudian seorang pelayan menghampiri mereka dengan membawa daftar menu.

Kiba langsung memesan secangkir kopi pekat dengan sedikit gula dan ekstra cream, sementara Hinata yang tak sempat sarapan tadi pagi memilih memesan jus cherry, spaghetti bolognaise, dan kue coklat.

Saat pelayan pergi, Hinata kembali menatap Kiba yang tengah sibuk memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang di luar jendela. Dalam keadaan diam seperti ini, tiba-tiba ia merasa kembali ke masa lalu. Saat mereka masih duduk di bangku sekolah dasar dan tak sabar ingin cepat-cepat dewasa. Saat itu menjadi orang dewasa memang terlihat menyenangkan. Mereka seperti boleh melakukan apapun sesukanya.

Dan karena tak sabaran, akhirnya Kiba mengajaknya dan Shino ke sebuah kafe yang cukup jauh dari rumah Hinata. 'Orang dewasa selalu pergi ke kafe' adalah alasan Kiba saat itu. Tapi karena uang saku mereka terbatas, jadi makanan yang bisa mereka pesan hanyalah satu rollcake mini yang bahkan tidak mengenyangkan.

Hinata tersenyum mengingat itu.

"Hinata." Panggilan Kiba langsung menyadarkannya dari lamunan. "Saat aku bilang untuk menjauhi Naruto, aku sama sekali tidak bermaksud mencampuri kehidupanmu."

Hinata kembali tersenyum mendengar itu.

"Aku tahu."

Tapi tampaknya Kiba tidak puas dengan ucapannya, jadi dengan wajah serius yang sama seperti beberapa saat lalu ia kembali melanjutkan. "Tapi aku sangat berharap kau menuruti perkataanku, jauhi Naruto. Sejak putus dengan Eimi dia jadi.."

Kiba membekap wajahnya dengan satu tangan seolah ia baru saja kelepasan memberitahu informasi tentang rahasia Negara.

"Eimi?"

"Lupakan, anggap aku tidak berkata apapun," Sahut Kiba cepat dan tampak bersyukur saat pelayan membawa pesanan mereka. Namun Hinata yang terlanjur penasaran tidak bisa melepas topik ini begitu saja. Jadi setelah pelayan pergi, ia kembali menatap Kiba yang meminum kopinya dengan canggung.

"Kiba, katakan padaku apa yang terjadi."

"Tidak ada yang terjadi," gumam lelaki itu keras kepala. Tapi Hinata tidak mau menyerah.

"Kita tahu sesuatu telah terjadi, katakan padaku, kumohon."

Tapi Kiba tampak tak tergoyahkan. Alih-alih menatap Hinata, Kiba justru memaku tatapannya keluar jendela kaca.

"Aku dipecat dari pekerjaanku hari ini," ucap Hinata mengganti strategi. "Perusahaan tempatku bekerja di akuisisi beberapa hari lalu, dan pemilik barunya, yaitu Naruto, meminta bos ku untuk memecatku karena dia tidak menyukaiku. Kau percaya itu? Aku di pecat hanya karena seseorang dengan pangkat yang lebih tinggi tidak menyukaiku."

Kiba tidak merespon sama sekali, tapi Hinata tahu lelaki ini mendengarkan.

"Kau tahu kenapa dia tidak menyukaiku?" Hinata kembali mencoba menarik perhatian lelaki itu. "Karena aku menolak tidur dengannya."

Kiba yang sedang menghirup Kopinya langsung tersedak. Bukan respon yang ia inginkan memang, tapi setidaknya ia berhasil mendapat perhatian lelaki itu.

"Aku tidak meminta banyak, Kiba, aku hanya ingin kau menceritakan apa yang terjadi pada…pria itu. Maksudku, aku perlu tahu siapa yang sedang ku hadapi," pinta Hinata sedikit putus asa.

Awalnya Kiba tampak tidak akan mengatakan apapun, tapi setelah beberapa saat, akhirnya pria itu mau membuka suara.

"Pernahkah kau merasa aneh kenapa Naruto mendekati Eimi, padahal mereka tidak pernah bicara sebelumnya?"

"Karena… dia cantik?" Sahut Hinata mencoba berpikir logis. Wajah biasanya yang pertama diperhatikan,kan?

"Ya, itu juga. Tapi yang kumaksud adalah kepribadiannya. Eimi…apa kau tak pernah merasa ia mirip seseorang?" tanya Kiba lagi dengan sabar, dan pria itu menghela napas kecewa saat Hinata menggelengkan kepala dengan mantap.

"Dia mirip dengan Sakura," kata Kiba akhirnya.

Hinata menelengkan kepalanya sedikit. Ia tahu siapa Sakura. Gadis yang disebut-sebut sebagai cinta pertama Naruto sejak kecil. Lelaki itu selalu mengejarnya tak peduli ia selalu ditolak dan baru berhenti ketika Sakura akhirnya menjalin hubungan dengan Sasuke, sahabat Naruto sendiri.

Lalu apa hubungannya dengan Eimi?

"Awalnya aku juga tidak menyadarinya," Kata Kiba yang membuat perhatian Hinata kembali pada lelaki itu. "Tapi semakin lama bergaul dengannya, aku semakin menyadari bahwa Eimi sangat mirip dengan Sakura. Atau setidaknya mencoba mirip."

"Apa maksud.."

"Ingat saat aku bilang mereka putus setelah bertengkar hebat?" tanyanya pelan, kembali memotong pertanyaan Hinata.

Gadis itu mengangguk mengiyakan, ingatannya cukup bagus untuk mengingat hal sesepele itu.

"Yah, sebenarnya pertengkaran itu tak sehebat yang dibicarakan orang. Maksudku, kita semua tahu itu akan terjadi. Tapi alasan pertengkaran itulah yang mencengangkan."

"Rupanya ayah Eimi menjadikan Naruto sebagai kuda tunggangan. Dengan menjadikan putrinya sebagai kekasih Naruto, yang notabene merupakan putra tunggal atasannya, ayah Eimi dengan mudah mendapat kepercayaan untuk mengurus banyak proyek yang bernilai jutaan yen."

Kiba menghirup kembali kopinya seakan cairan pahit itu mampu membuatnya lebih mudah bercerita.

"Dalam waktu singkat, ayah Eimi berhasil mendapat 50% dari saham perusahaan, dan ia ingin lebih. Tapi Eimi tidak bisa menjadi batu pijakannya lagi. Ia menyukai pemuda lain, dan bosan terus berpura-pura hanya agar Naruto tetap menyukainya. Jadi entah bagaimana, ia kelepasan bicara lalu menguak semua rencana ayahnya di depan Naruto."

"Keadaan sempat memanas. Kita baru selesai ujian. Naruto, secara mengejutkan, diterima di perguruan tinggi Tokyo. Dan perusahaan ayahnya sedang kacau akibat merger yang gagal, harga saham turun dan ayah Eimi yang saat itu menjadi orang kepercayaan tiba-tiba bekerja sama dengan perusahaan lain untuk menggulingkan Minato. Aku tidak yakin apa yang terjadi. Yang jelas semuanya kacau. Dan Naruto yang kalap karena merasa dikhianati melakukan sesuatu yang…mengerikan."

"Apa yang ia lakukan?" tanya Hinata penasaran.

"Dia mendatangi ayah Eimi dan mendorong kepalanya ke tembok. Dorongannya cukup keras sehingga tengkorak pria itu sedikit retak dan harus dirawat di rumah sakit." Kiba menghela napas sebelum kembali melanjutkan.

"Naruto di tuntut dengan pasal berlapis yang mengharuskannya mendekam di penjara selama beberapa bulan. Tapi karena dianggap masih di bawah umur, hakim memperingan hukumannya. Dan setelah itu, aku tidak tahu apa yang terjadi, yang jelas, aku tidak menyukai perubahannya."

"Aku juga." gumam Hinata pelan. Ia menghirup tehnya yang mulai dingin. Sementara makanan yang ia pesan beberapa saat lalu kini terlupakan. Kemudian ia teringat hal yang mengganggu pikirannya sejak lama.

"Naruto di penjara, kan?" tanyanya sedikit ragu. "Tapi kenapa aku tidak mendengar kabar itu?"

"Karena ada yang menutupi kasusnya." jawab Kiba cepat.

"Dengar," ucap Kiba lagi setelah mereka terdiam selama beberapa saat. "Hanya..apapun itu, jauhi Naruto. Aku tidak ingin lagi melihatmu seperti dulu. Tidak dengan Naruto yang-"

"Aku mengerti." Hinata memasukkan sepotong kecil kue coklat dan mengunyahnya dengan kelambatan yang tak biasa.

"Apa yang kau pikirkan sekarang?" tanya Kiba penasaran. Cangkir kopinya sudah setengah kosong dan sedikit dingin sehingga ia tak lagi berminat menghabiskannya.

"Away," sahut Hinata jujur dan kembali menekuni makanannya.

"Apa?"

"Pergi," gumamnya. "Aku ingin pergi."

"Kemana?" tanya Kiba dan Hinata tersenyum saat mengingat sesuatu yang mirip dengan apa yang dialaminya saat ini.

"Ke tempat dimana ada hati," katanya yang dibalas senyuman Kiba. "Kau ingat?"

"Ya."

"Tapi itu bukan sesuatu yang mudah, kan?"

"Bukan," balas Kiba setuju. "Tapi aku bisa membantumu." Hinata menegakkan kepalanya dan memandang lelaki itu dengan sorot tertarik. "Bahkan sebenarnya," lanjutnya penuh percaya diri. "Aku tahu sebuah tempat yang cocok."

"O ya?"

Kiba mengangguk pasti.

"Ya. Dan Naruto akan kesulitan mencarimu di sana."

.

.

.

Hinata terbangun saat rasa mual menerjangnya, membuatnya segera turun dari ranjang dan bergegas ke toilet. Hari masih gelap saat akhirnya ia terduduk di lantai toilet, lemas dan pusing setelah mengeluarkan apa yang tersisa dari makan malamnya.

Ini bukan pertama kali ia mual dan muntah-muntah tanpa sebab seperti ini.

Awalnya Hinata mengira ia hanya keracunan makanan karena mengkonsumsi junkfood hampir setiap hari. Dan biasanya setelah istirahat dan minum segelas jus lemon, ia bisa beraktivitas seperti biasa.

Namun seringnya hal ini terjadi membuat teorinya tentang keracunan makanan runtuh seketika.

Ia benar-benar tidak tahu apa yang terjadi padanya.

Hinata yakin ia tidak sakit apapun, tapi kenapa ia masih terus muntah-muntah seperti ini?

Dengan frustasi, Hinata berdiri dan kembali ke kamarnya. Duduk di lantai membuatnya kedinginan, tapi saat melihat jam yang menunjukan pukul 5.30, ia tahu dirinya tidak bisa kembali tidur. Akhirnya Hinata memutuskan pergi ke dapur dan membuat secangkir teh. Teh hangat biasanya mampu membuat perutnya lebih nyaman.

Sambil menunggu air yang ia rebus mendidih, ia duduk di kursi dekat jendela. Memandangi langit yang mulai terlihat sedikit terang.

Sudah hampir dua bulan lebih ia tinggal di sini. Sejak pertemuannya dengan Kiba, jauh dari jangkauan pria itu merupakan pikiran spontan yang ia rasa akan menjadi solusi terbaik.

Ia memandang sekelilingnya dengan perasaan puas.

Tempat ini memiliki dua tempat tidur -salah satunya telah ia jadikan gudang, satu kamar mandi, ruang tamu yang tidak begitu luas dan dapur yang luasnya tak seberapa. Memang tak jauh beda dengan tempatnya dulu, tapi Hinata cukup puas dengan tempat tinggal barunya ini.

Dan hal pertama yang dilakukannya setelah urusan sewa menyewa selesai adalah mengecat semua ruangan dengan warna violet lembut yang sangat ia sukai. Ia sengaja tidak melakukan dekorasi besar-besaran. Uangnya tidak cukup untuk membeli pernak-pernik bahkan lukisan untuk menghiasi apartement barunya. Jadi yang bisa ia lakukan adalah membeli beberapa rak lalu memenuhinya dengan buku dan hiasan-hiasan kecil tak seberapa, hanya agar rumah barunya tidak terlalu terlihat kosong.

Nanti, jika uangnya sudah cukup, ia akan pergi berbelanja dan memenuhi rumahnya dengan barang-barang cantik.

Itupun jika ia sukses menghemat keperluan yang lain.

Dan setelah masalah rumah teratasi, hal selanjutnya yang ia lakukan adalah mencari pekerjaan.

Perlu waktu hingga dua minggu sebelum akhirnya ia melamar kerja di sebuah taman kanak-kanak atas rekomendasi seorang tetangga.

Sebenarnya ia merasa pesimis, bidang pendidikannya tak ada sangkut paut sedikitpun dengan dunia mengajar anak-anak. Jadi ia cukup tercengang saat mendapati lamarannya di terima.

Pekerjaan barunya sebagai tenaga pengajar di taman kanak-kanak memang tidak menghasilkan uang banyak. Kalau bukan karena kebutuhan yang mendesak dan rasa putus asa yang mencekik, ia tidak akan menerima pekerjaan itu dan lebih memilih mencari pekerjaan yang lebih menjanjikan.

Tapi sekali lagi, keadaannya tidak memungkinkan.

Sejak itu hari-hari terasa berlalu begitu cepat. Terlalu cepat.

Tak seperti dugaan awal, Hinata mulai kerasan hidup seperti ini. Pergi bekerja pagi-pagi dan pulang sebelum jam satu siang.

Gajinya masih terlalu kecil untuk dibelanjakan perabotan penghias rumah, tapi setidaknya menu makanannya terjamin. Ia tidak perlu khawatir kelaparan.

Bunyi melengking dari cerek yang menandakan air yang ia jerang sudah mendidih, membuatnya sedikit tersentak. Sedikit menggerutu karena kembali melamun, Hinata mematikan kompor. Dengan hati-hati ia menuangkan air yang masih mendidih itu ke dalam cangkir berisi daun teh.

Sambil menikmati aroma dari teh yang panas mengepul, Hinata berpikir ia akan pergi memeriksakan dirinya. Ada sebuah klinik kecil tak jauh dari tempat ia bekerja, jadi mungkin saat pulang nanti, ia akan mampir kesana.

Mual dan muntah-muntah yang dideritanya mulai seperti kebiasaan. Dan itu mengganggu. Ia mudah lemas, tak berselera makan di satu waktu, lalu menjadi sangat kelaparan di waktu yang lain, dan hal itu mengganggu konsentrasinya dalam mengajar.

Hinata hanya berharap ia tidak menderita penyakit mematikan.

.

.

"Kau hamil."

Hinata menatap perempuan yang berpakaian serba putih itu dengan sangsi.

"Kau bercanda ya?"

Setelah menjalani berbagai tes, mulai dari denyut nadi hingga tes urine, dan rasa was-was tentang penyakit apa yang dideritanya, kehamilan jelas tak pernah terlintas dalam benak Hinata.

Perempuan yang memeriksanya itu tersenyum dengan sorot mata penuh pengertian. "Apa kau tidak senang mengetahuinya, Hyuuga-san?"

Hinata berpikir sejenak. Dan…ya, dia tidak senang.

Hinata baru saja mendapat kehidupannya kembali, dan mengetahui dirinya hamil membuatnya merasa…tertekan.

Ia tidak siap menghadapi sesuatu seperti ini. Lagipula, ia belum menikah, bagaimana ia menghadapi tanggapan orang-orang disekitarnya? Bagaimana ia menjawab pertanyaan mengenai bayi yang bahkan tidak ia inginkan. Bayi ini kesalahan. Ia hasil kesalahan. Dan Hinata tidak mau menanggung kesalahan itu seumur hidup.

Masalah lain yang timbul adalah uang.

Uangnya tidak akan cukup untuk menghidupi dua orang. Bagaimana bayi ini akan hidup jika kebutuhannya saja tidak sanggup ia penuhi? Lalu pekerjaannya. Bagaimana ia bekerja jika dirinya hamil? Apa yang harus ia katakan pada kepala sekolah? Dan yang paling penting; Ia tidak siap menjadi seorang ibu!

"Aku belum menikah," gumam Hinata sedikit kalut.

"Ayah bayi ini..?"

"Hanya seseorang yang pernah kutemui," sahut Hinata cepat. Ia masih tidak mau mengingat, apalagi membahas tentang lelaki itu.

"Kau tidak menginginkan bayi ini?" tanyanya lagi. Dan pertanyaan itu membuat Hinata kembali terdiam. Bohong jika ia menginginkan apapun yang kini tumbuh dalam perutnya, tapi mengucapkannya dengan keras membuat Hinata merasa sangat bersalah.

"Aku tidak tahu," gumam Hinata pelan. "Aku hanya tidak siap menjadi seorang ibu. Da-dan aku tidak siap menghadapi konsekuensi menjadi ibu saat aku belum menikah."

Ia masih bisa melihat sorot pengertian itu, dan hal itu membuatnya sedikit lebih nyaman. Setidaknya perempuan ini tidak menghakiminya.

Perempuan yang memeriksanya berdehem pelan, sedikit canggung saat menepuk punggung tangan Hinata pelan.

"Kau tidak ingin mempertahankan kandunganmu?"

"Tidak ingin…Maksudmu aborsi?" seru Hinata sedikit tercekat. Ide itu membuatnya ngeri. Ia memang tidak siap menjadi ibu, tapi mengetahui bahwa ia akan membunuh bayi ini membuatnya bergidik.

"Ya. Tapi tidak harus saat ini," sahut perempuan itu cepat. "Kita harus melakukan beberapa tes dulu, baru menentukan hari operasinya." Perempuan itu kembali menepuk tangan Hinata saat ia melihat wajah gadis di depannya menjadi pucat pasi.

"Kau bukan gadis pertama yang datang kemari dan tidak menginginkan bayinya," jelasnya. "Ada puluhan, bahkan ratusan gadis yang mengalami hal yang sama sepertimu. Kebanyakan mereka memilih aborsi karena tidak siap menjadi seorang ibu sepertimu, juga tidak sanggup hidup dengan bayi yang menjadi beban tanggungan terutama jika mereka masih pelajar. Tentu saja, menjalani hidup setelahnya tidak lagi sama. Tapi selalu ada masanya untuk terus maju."

Hinata yang seakan tersadar setelah mendengar ucapan perempuan itu menepis tangannya.

"Tidak," ucapnya sedikit kalut. "A-aku tidak bisa." Tangannya yang gemetar menyambar tasnya dan bergegas pergi meninggalkan perempuan itu. Langkahnya tergesa saat menelusuri koridor menuju pintu keluar.

Ia tidak sanggup berpikir lagi. Yang diinginkannya saat ini adalah berada dirumah. Tempat ia bisa berbaring santai tanpa harus dipusingkan masalah kehamilan dan aborsi.

Ia hanya ingin bisa menenangkan diri.

.

.

.

Saat sampai di tempat yang kini sudah tak asing baginya, Hinata tidak dapat menahan diri untuk menarik napas lega.

Suasana di dalam apartemen masih sama sepinya seperti ketika ia pergi tadi.

Hinata melepas sepatunya dengan malas, tas yang ia genggam hampir sepanjang perjalanan, dilempar sembarangan ke sudut ruangan. Tubuhnya yang lelah segera direbahkan di sofa tua yang nyaman.

Tuhan, apa yang sudah ia lakukan?

Kepalanya terasa sakit. Rasa mual yang selalu menyerangnya di pagi maupun malam kini terasa lagi. Tapi untungnya tidak membuatnya ingin memuntahkan apa yang baru ia makan.

Dan bicara soal makan, ia tersadar dirinya belum makan siang, dan sekarang perutnya mulai keroncongan.

Dengan malas Hinata bangun dan mencari sesuatu di dapur yang bisa ia gunakan untuk mengganjal perut. Beruntung, ia menemukan roti sisa kemarin yang segera dilahapnya kemudian menyalakan kompor dan mulai menjerang air. Perutnya masih terasa tidak nyaman, dan ia pikir meminum rebusan jahe bisa sedikit membantu mengurangi rasa begah yang ia rasakan.

Sambil menunggu air mendidih, ia mencuci beras yang tak tersisa banyak. Tampaknya bubur akan menjadi makan malamnya hari ini.

Hinata menghela napas, gajinya baru akan ia dapatkan akhir bulan ini, tapi persediaan berasnya sudah habis, dan ia tak memiliki bahan makanan lain untuk dijadikan cadangan.

Dan itu membuatnya sedikit terpuruk.

Lagi-lagi, ia terpaksa menunda keinginannya untuk membeli perabotan dan membelanjakan uang yang tersisa untuk memenuhi kebutuhan dapur.

Pikiran itu menyadarkannya.

Jika sekarang saja ia kesulitan menjalani hidupnya, bagaimana setelah bayi ini lahir?

Hinata mungkin tidak berpengalaman mengurus bayi, tapi ia tahu, kebutuhan bayi tidak terbatas pada popok dan susu. Meskipun belum bisa berjalan dan bicara, bayi memerlukan tempat yang layak untuk tidur. Ia membutuhkan pakaian, mainan yang tidak akan melukainya dan perhatian penuh selama 24 jam setiap hari.

Dan itu membuatnya berkeringat dingin.

Penyakit menular masih bisa ia tangani, ia hanya perlu ke dokter, minum obat dan selesai.

Sementara bayi, apa yang ia tahu? Ia tidak tahu apapun tentang bayi. Dan jika ia tidak tahu apapun tentang makhluk kecil itu -yang kini tumbuh di dalam perutnya- bagaimana ia akan sanggup merawatnya?

Tapi sekeras apapun ia berpikir, logikanya tidak mampu membayangkan aborsi sebagai solusi.

Menghirup napas dalam-dalam, Hinata kembali memusatkan perhatiannya pada beras yang tengah ia cuci.

Setelah bersih, ia menaruh butiran beras yang tak seberapa itu ke panci dan memenuhinya dengan air lalu meletakkannya di atas api.

Tidak apa-apa, pikirnya mencoba optimis. Besok ia akan mencari tahu semua hal tentang kehamilan hingga detail terkecil. Tak ada penyesalan. Ini dosanya. Apapun yang terjadi, ia akan menghadapinya.

.

.

.

Hari masih gelap saat Hinata terbangun karena pusing dan rasa tak nyaman di perutnya.

Dengan kepala berat karena mengantuk, ia turun dari tempat tidur. Menyelipkan rambut yang menutupi wajah ke telinga dan segera membungkuk di wastafel. Mengeluarkan makan malam yang baru ia makan beberapa jam sebelumnya. Tangannya sedikit gemetar saat membasuh mulutnya.

Rasa mual yang menyerangnya sekarang memang tak sesering dulu. Ia cukup mensyukuri hal itu. Setidaknya ia bisa tidur cukup tanpa harus sering terbangun karena mual lagi.

Hinata menarik napas panjang untuk menenangkan jantungnya yang berdebar tak karuan.

Setelah semua makanan termuntahkan, kini yang ia rasakan hanya rasa lemas.

Tapi rasa lemasnya tak ada apa-apanya dibandingkan rasa takut yang ia rasakan saat ini. Perutnya sudah mulai mengembung. Tanda bahwa tak lama lagi, aibnya akan segera terkuak ke muka umum. Ia belum mengatakan tentang kehamilannya ini pada siapapun yang membuat kecemasannya bertambah.

Bagaimana reaksi mereka jika tahu? Ia masih tak sanggup memikirkan apa yang harus ia katakan saat itu terjadi.

Setelah memeriksakan dirinya hari itu, Hinata tak pernah lagi mengunjungi klinik dekat tempatnya mengajar sehingga ia tidak tahu secara pasti usia kandungannya. Tapi menurut perhitungannya, usia kehamilannya akan memasuki bulan ke empat beberapa hari lagi. Itu artinya, perubahan bentuk tubuhnya sedikit demi sedikit akan mulai terlihat. Dan ia tak bisa lagi mengelak atau memungkiri kenyataan bahwa dirinya hamil tanpa suami.

Menghela napas lelah, Hinata membasuh wajahnya. Rasa dingin dari air yang membasahi wajahnya cukup mampu mengusir rasa pusing dan penat yang ia rasakan.

Setelah membasuh mukanya beberapa kali, Hinata memutuskan menonton siaran ulang drama tengah malam yang diributkan ibu-ibu kompleks sejak seminggu yang lalu. Tentang seorang suami yang berselingkuh dengan wanita muda yang tak lain adalah keponakannya sendiri hanya untuk membalas istrinya yang juga berselingkuh.

Tapi meskipun begitu, fokus Hinata tak lagi ke drama yang ia tonton, melainkan surat-surat yang berserakan di atas mejanya.

Ada yang salah.

Semua tagihannya terbayar lunas hingga lima bulan ke depan padahal Hinata yakin ia belum membayar satupun dari tagihan-tagihan tersebut.

Pasti ada kesalahan.

Tak mau ambil pusing, Hinata memilih memusatkan perhatiannya pada layar televisi.

Besok, ia akan pergi mengurus semua kesalahan itu.

.

.

to be continue ^^