Chapter 3. Tertangkap

.

.

Shikamaru menguap pelan saat pintu lift berdenting terbuka.

Ia mengantuk, tapi tak yakin kantuknya disebabkan kurang tidur, kelebihan tidur, atau hanya merasa bosan. Yang manapun efeknya tetap sama.

Shikamaru menggaruk pelipisnya pelan sambil melangkah keluar lift dan langsung menuju ruangan paling disakralkan di perusahaannya ini.

Mungkin ia hanya perlu tidur, pikirnya saat mengingat tidur tidak berkualitas yang ia alami tadi malam dan kembali mengeluh. Shikamaru benci terbangun, apalagi oleh hal sepele seperti tangisan bayi. Itu menyebalkan.

Tapi kalau dipikir lagi, mungkin tiga kemungkinan itu sama-sama benar.

Pertama, ia kurang tidur. Itu sudah pasti benar karena tadi malam ia hanya terlelap selama dua belas jam. Biasanya ia tidur lebih dari delapan belas jam sehari mengingat otaknya perlu istirahat ekstra, dan perbedaan enam jam cukup menjadi bukti; ia memang kurang tidur.

Tapi di lain pihak, Shikamaru-pun bisa dikategorikan kelebihan tidur. Pasalnya, orang-orang biasa tidur sekitar delapan jam sehari. Dan berhubung ia hidup dengan orang kebanyakan, waktu tidurnya yang mencapai lebih dari delapan belas jam dapat dikatakan berlebihan.

Dan kemungkinan ketiga juga bisa dibenarkan, ia bosan. Setiap hari yang dilakukannya memeriksa deretan angka terus-menerus hampir seharian penuh. Kesalahan satu angka saja bisa berakibat fatal.

Kesimpulannya; dia hanya mengantuk.

Shikamaru menguap lagi.

Ia baru menghentikan langkahnya tepat ketika berpapasan dengan perempuan berkacamata yang sejak awal berjumpa tak pernah bisa ia ingat namanya. Langkahnya terburu-buru, dan mungkin perempuan itu akan langsung melewatinya jika tatapan mereka tak saling bertemu.

Lelaki dengan rambut diikat kencang itu melirik jam tangannya sekilas. Sudah masuk waktu makan siang. Dari penampilannya, kemungkinan perempuan ini baru selesai menyantap makan siangnya di lantai bawah. Hanya itu satu-satunya alasan yang terlintas mengingat biasanya Shikamaru akan menemukannya duduk di belakang meja, berbicara di telepon dengan ucapan terlatih sambil sesekali menulis di notes kecil.

"Nara-san, selamat siang," sapa perempuan itu sambil membungkuk hormat. Dalam hati ia merasa tak enak hati. Perempuan ini jelas tahu siapa dia, tapi meskipun sudah sering bertemu, Shikamaru tetap tidak mampu mengingat namanya. Mungkin ia akan menanyakannya pada Naruto nanti, hanya sekedar untuk menghormati perempuan ini sebagai sesama karyawan.

"Aku ingin bertemu Naruto," kata Shikamaru. "Dia ada di ruangannya, kan?"

Perempuan itu mengangguk ragu, dan Shikamaru mengerutkan keningnya kesal. Ia paling tidak suka pada orang yang tidak yakin seperti ini.

Menyadari tatapan tidak suka Shikamaru, perempuan itu dengan cepat menambahkan, "A-aku akan memastikan ia ingin menerima tamu." Dan bergegas menuju meja kerjanya. Namun ia tiba-tiba berbalik dengan wajah merah setelah menyadari kata-katanya barusan bisa menimbulkan kesalah-pahaman. Dan dengan gugup mencoba menjelaskan, "ma-maksudku bukan berarti ia tidak suka bertemu anda, hanya saja ini saat makan siang, Namikaze-san.."

"Aku tahu," sergah Shikamaru geli. Ia tak tega membiarkan perempuan ini terus tergagap seperti itu, lalu menambahkan dengan baik hati, "Katakan saja aku ingin menemuinya."

"Baik," jawab perempuan itu cepat.

Dan tak sampai lima menit, lelaki dari keluarga Nara itu sudah berada di dalam ruangan yang cukup luas dengan dominasi warna putih yang mengintimidasi.

Shikamaru memijat keningnya pelan.

Dari dulu ia tak suka warna putih. Karena -seperti yang diketahui hampir semua orang- warna putih memantulkan cahaya. Terlalu terang. Dan dengan pantulan maksimal seperti itu, bagaimana ia bisa tidur nyenyak?

Sambil menguatkan penglihatannya, Shikamaru memilih menghenyakkan tubuhnya di sofa berwarna cream, punggungnya bersandar mencari posisi ternyaman sementara tangan kanannya menutupi matanya yang mulai perih akibat menerima pasokan cahaya yang terlalu banyak.

Naruto meliriknya sekilas. Tangannya sibuk menuliskan sesuatu sambil mendengarkan seseorang berbicara di ponselnya. Ini mungkin tidak berarti banyak, tapi jika Naruto menerima telepon, artinya dia sedang sibuk. Shikamaru menyeringai senang. Ia bisa tidur dulu selama menung-

"Ada apa?"

-gu.

Mendesah pasrah, Shikamaru menurunkan tangannya dan memandang pada lelaki yang duduk di belakang meja. Mata biru itu juga balas menatapnya dengan ekspresi datar.

Jika dulu ada orang yang mengatakan Naruto -bocah sinting pembuat onar- akan menjadi pribadi sulit seperti ini, Shikamaru akan menganggap dia gila. Tapi sekarang…

Ia menggelengkan kepalanya.

Keadaan memang bisa sangat berubah.

Tanpa berniat buang waktu lebih lama, Shikamaru merogoh sakunya dan menarik sebuah kertas berwarna biru lembut lalu melemparnya dengan asal ke meja terdekat.

"Undangan reuni SMA sebulan lagi."

Ia bangkit dan berjalan menuju minibar tak jauh dari tempatnya duduk tanpa menunggu respon lelaki di depannya.

Reuni..

Salah satu hal merepotkan yang ingin ia hindari. Dan untuk hal yang ingin dihindari namun tak terhindarkan, Shikamaru perlu sesuatu yang kuat untuk membuat pikirannya teralihkan; alkohol.

Ada beberapa botol yang memenuhi nakas kecil itu, tapi pilihannya jatuh pada botol berbentuk sedikit membulat dibagian bawah berlabel bourbon.

"Sasuke, Gaara, Sai dan teman yang lain juga sudah menerima undangan dan kemungkinan akan datang," katanya sambil membuka tutup botol. Aroma menyengat segera tercium sesaat setelah tutup botol itu terbuka.

Tanpa ragu, Shikamaru menuang cairan di dalam botol itu sedikit ke gelas kecil yang disediakan dan meneguk minuman berbau khas itu dalam satu tegukan besar.

Rasa getir langsung memenuhi mulut dan tenggorokannya diikuti rasa terbakar yang menyesakkan dada. Shikamaru menggeram pelan hanya untuk membuat tenggorokannya merasa lebih baik.

Alkohol memang bukan untuk di minum.

Efek samping akibat sering minum alkohol cukup mengerikan. Mulai dari hanya gangguan kesehatan hingga kematian. Terlebih rasa adiktif yang sulit dihilangkan bisa dengan mudah menjangkit peminumnya tanpa pandang bulu.

Anehnya, ia menyukai kemungkinan itu.

Ia suka merasa adiktif.

Shikamaru mengembalikan botol itu ke tempatnya semula dan berbalik menghampiri teman sejak kecilnya yang ternyata sudah tidak duduk di kursi kebanggaannya lagi, melainkan berdiri di depan kaca tebal berhias baja. Tatapannya tertuju ke bawah dengan penuh minat, dimana orang-orang sibuk berseliweran mengurus urusannya sendiri, tepat di bawah kakinya.

"Apa yang kau lihat?" tanya Shikamaru penasaran. Menurutnya, pemandangan jalanan yang padat sama sekali tidak menarik perhatian.

"Mereka," sahutnya dan menunjuk ke satu titik yang luput dari perhatian Shikamaru dengan dagunya.

Dengan rasa penasaran yang sama, ia memperhatikan tempat yang ditunjuk Naruto, namun semenit kemudian keningnya berkerut makin dalam.

Di tempatnya berdiri saat ini, ia sama sekali tidak bisa melihat semua hal dengan jelas, namun Shikamaru cukup yakin yang sekarang dilihatnya hanyalah sekelompok gelandangan yang berkumpul di tempat sampah. Mungkin sedang mencari makanan untuk mengganjal perut. Tapi sekali lagi, ia gagal melihat apa yang menarik dari gelandangan yang mengorek sampah?

"Kita pernah berada di posisi mereka, kan?" Suara Naruto yang tenang membuat Shikamaru mengalihkan perhatiannya. "Kita juga dulu di bawah sana. merangkak dan mengais. Terbiasa kelaparan dan dihina orang. Tapi aku lebih baik, kan?" Katanya lembut. "Melihat mereka dari atas sini, membuatku selalu ingat. Membuatku tidak bisa mengabaikan mereka."

Shikamaru diam. Perhatiannya masih tertuju pada gerombolan yang masih mengelilingi tempat sampah seolah itu tempat paling keramat di dunia. Lalu kemudian perhatiannya teralih pada dua orang berseragam biru muda -yang ia ketahui sebagai seragam pegawai kebersihan di perusahaan ini- berjalan mendekati gerombolan itu. Mereka menjinjing kantong besar.

Shikamaru memperhatikan semua itu dengan penuh minat. Meskipun pandangannya tak terlalu jelas, ia bisa menebak apa yang terjadi, terlebih saat kedua orang itu pergi dengan tangan kosong. Kesimpulan yang singgah di kepalanya membuat Shikamaru mendengus pelan. Dalam hal ini harus ia akui, Naruto memang cukup murah hati.

"Mereka akan keterusan." Shikamaru melirik lelaki disampingnya. "Mereka akan terus datang, terus meminta dikasihani."

"Tapi mereka tahu diri," sahut Naruto keras kepala. "Orang-orang seperti mereka tidak akan menggigit tangan yang memberi mereka makan."

Shikamaru hanya mengangkat bahu, ia memilih kembali duduk di sofa dibanding menanggapi omongan Naruto yang tak jelas; Apa ucapannya memang seperti apa yang ia maksud atau hanya menceritakan dirinya sendiri dengan orang lain sebagai pembias?

Seringkali, Shikamaru tidak bisa membedakannya.

"Jadi, apa kau akan datang ke reuni itu?" tanyanya. Perubahan topik lebih ia butuhkan saat ini.

"Aku akan datang."

"Sasuke akan mengajak Sakura, dan.." Shikamaru terdiam sesaat sambil menimbang kata-katanya. "Eimi juga akan ada disana."

"Aku akan datang."

Jawaban itu terdengar final dan tak terbantahkan, tapi Shikamaru masih tidak yakin.

"Kau yakin?"

Sebagai jawaban, Naruto mendengus. Secara tidak langsung mengejek sikap penuh perhatian yang tulus dari Shikamaru.

"Aku akan datang," ucap Naruto untuk ketiga kalinya. Ia terdengar yakin, tapi Shikamaru tidak bisa melihat ekspresi apapun di wajahnya.

Mungkin, ia memang tidak terlalu mengenal lelaki ini.

"Apa kau masih mengingat teman-teman SMA kita, Shikamaru?"

Untuk beberapa saat tidak ada jawaban yang terdengar.

.

.

Dan keadaan yang damai ini membuat Naruto bisa merasakan pertanyaannya membuat teman sepermainannya heran.

"Aku bisa mengingat sebagian besar wajah mereka, tapi tidak namanya. Kau?"

"Tidak terlalu ingat," aku Naruto jujur. Bayangan teman-temannya hanyalah gambaran kusam yang makin pudar jika ia berusaha mengingat mereka. Dengan kenyataan itu, jangankan wajah, nama mereka pun tak ada yang ia ingat.

"Tapi ada seseorang yang akhir-akhir ini ingin kutemui," kata Naruto pelan, lebih kepada dirinya sendiri.

"Siapa?"

Naruto tersenyum mendengar pertanyaan itu. Ya, siapa? Karena agak sulit menjelaskan pada orang-orang bahwa ia ingin bertemu lagi dengan perempuan liar yang ia gauli di atas meja. Ia ingin bertemu dan kembali merasakan kaki jenjang itu melingkari pinggangnya. Ia ingin kembali merasakan sambutan penuh antusias ketika Naruto menyentuhnya. Ia ingin kembali mendengar namanya dijeritkan perempuan itu ketika ia mencapai puncak.

Dan sisi liar itu tersembunyi dengan sangat baik pada diri seorang perempuan puritan keras kepala.

"Seorang Hyuuga," sahut Naruto akhirnya sekaligus memutuskan bahwa informasi lain akan ia simpan sendiri.

"Hyuuga.." gumam Shikamaru sambil mengingat-ingat seorang Hyuuga diantara daftar nama teman seangkatan mereka. "Maksudmu Hyuuga Hinata?" tanya Shikamaru seakan meminta kepastian, tapi sesaat kemudian ia terkekeh senang. "Untuk minta maaf?"

Naruto tidak segera menjawab, hanya menatapnya tajam.

"Aku tidak pernah minta maaf," Katanya dengan nada tak terbantahkan.

Shikamaru langsung terdiam.

Jika tadi ia merasa akan tersedak, sekarang Shikamaru tidak tahu apa yang ia rasakan.

Laki-laki ini tidak mungkin serius.

"Jadi kenapa ingin menemuinya?" tanyanya sambil berdiri, berniat kembali mengisi gelasnya. Bicara dengan Naruto, mau tidak mau, otaknya perlu dibanjiri alkohol dulu agar bisa tetap tenang. Tapi kali ini, ia akan memilih minuman yang lebih keras!

"Dia mempunyai sesuatu yang menjadi milikku."

"Apa?" tanya Shikamaru sambil meneguk minumannya.

"Anakku."

Dan akhirnya, Shikamaru benar-benar tersedak.

.

.

.

Hinata memejamkan mata dan bersandar pada tembok kasar di dekatnya. ia lelah. Tapi terlalu was-was untuk bergerak. Jadi Ia membiarkan dirinya berdiri diam disini, di tepi jalan dekat apartemen kecilnya, menghirup udara dengan rakus dan mengistirahatkan kakinya sebentar.

Ini menyebalkan.

Hinata memang tidak suka olahraga, tapi ia terbiasa berjalan kaki. Sejak dulu, sepatunya adalah barang yang paling mudah rusak dibandingkan barangnya yang lain. Tapi sekarang, hanya pergi mengurus tagihan saja napasnya sudah terputus-putus begini.

Dan bicara tentang tagihan, ia kembali merasa marah.

Hinata orang yang teliti, jadi saat ia bilang belum bayar, artinya tidak sama sekali. Jadi bagaimana semua tagihannya lunas saat petugasnya bilang tidak melakukan kesalahan? Dilunasi seseorang? Yah, kalau begitu mereka hanya perlu menyebutkan nama, kan? Dan urusannya selesai. Tapiiii….tidak! Tidak ada nama, tidak ada nomor registrasi, tidak ada alamat, tidak ada apapun.

Mereka sempat bersitegang selama 10 menit penuh sampai dua orang berseragam menyeret Hinata keluar.

Mengingat hal itu benar-benar membuatnya kesal.

Hinata membuka mata. Perasaannya jauh lebih baik setelah beristirahat sebentar, lalu membenahi semua barang bawaannya dan mulai kembali melangkah.

Jarak apartemennya sudah dekat, ia bisa beristirahat dengan lebih baik di dalam rumah sambil minum teh hangat, menonton televisi dan makan kare instan yang baru ia beli.

Selain kare instan ada banyak barang yang ia beli setelah menyadari bahwa dengan tagihan yang terbayar lunas, uang tabungannya tetap aman. Dan ia bebas membeli apa yang ia butuhkan, setidaknya untuk seminggu ini.

Dan saat teringat belanjaan membuat Hinata memacu langkahnya dengan semangat. Ia tak sabar melihat semua barang yang ia beli siang tadi. Sebagian besar memang makanan dan barang diskon, tapi ini pertama kalinya ia belanja banyak sejak menjadi guru taman kanak-kanak.

Terimakasih pada siapapun yang sudah membayar tagihannya.

Tapi semangatnya sedikit turun saat melihat pintu kamar di lantai bawah terbuka dan menampilkan sosok wanita berambut pirang panjang yang kata orang sudah berusia senja. Wanita yang juga pemilik apaprtemen ini.

Hinata menelan ludah dengan gugup. Sekuat tenaga memasang senyum terbaiknya -yang dibalas anggukan singkat- lalu bergegas menuju apartementnya sendiri sebelum wanita itu bisa bertanya macam-macam.

Sikapnya memang sedikit tidak sopan, tapi mau bagaimana lagi? Sejak pertama bertemu, Hinata sudah merasa tidak nyaman. Tak seperti penghuni lain yang suka menanyainya, wanita itu hanya menatapnya lama sekali lalu membuang muka dan pergi. Membuat Hinata merasa canggung sendiri.

Ketika sudah berada di dalam apartementnya, barulah Hinata merasa aman. Ia melepas sepatunya, memungut amplop dan selebaran berserakan yang diselipkan ke celah pintu, setelah itu menyeret tubuhnya ke ruang tengah.

Kantong-kantong belanjaan diletakkan di lantai sementara ia mengistirahatkan tubuhnya di atas sofa sambil memeriksa tumpukan amplop dan selebaran yang ia dapat.

Ada diskon di supermarket dekat apartementnya hari minggu nanti, restoran baru yang mempromosikan menu mereka, surat dari Hanabi, selebaran berlangganan Koran, dan undangan reuni.

Dahi Hinata mengernyit.

Reuni?

Kilasan tak menyenangkan kehidupannya selama bersekolah melintas cepat memenuhi kepalanya.

Dengan kasar ia melempar undangan itu dan beralih membaca surat dari adiknya.

Tak ada yang istimewa dari surat itu, hanya pengalamannya saat berada di acara pertunangan Neji dan Tenten, lalu ayahnya yang kesal karena tidak betah berlama-lama meninggalkan usaha penginapannya, dan bagaimana indahnya tempat yang mereka pilih.

Di surat itu juga Hanabi menyatakan bahwa ayahnya sudah mendapat calon suami yang tepat untuk Hinata dan akan meresmikannya segera setelah urusan pernikahan Neji selesai.

Hinata mendesah pelan.

Ia tidak memiliki masalah apapun tentang kenyataan bahwa dirinya dijodohkan. Perempuan yang terlahir dengan status seperti dirinya, sejak kecil telah ditanamkan pemahaman bahwa sebagai anak perempuan ia berkewajiban untuk menikah dengan pria pilihan orang tuanya.

Dan Hinata tidak keberatan, ia akan senang hati menikah dengan siapapun yang dipilihkan ayahnya, jika saja itu terjadi setahun lalu. Saat ia masih belum memiliki janin yang tumbuh diperutnya.

Saat ia belum bertemu Naruto.

Hinata meneliti kembali amplop di tangannya ketika merasakan sesuatu menyembul disana, dan sedikit terkejut saat menemukan untaian benang di dalamnya.

Hinata tersenyum sedih saat memandang gelang itu.

Jujur saja, ia ingin ke sana. Ke Beijing, yang merupakan tempat kelahiran Tenten. Ia ingin melihat tempat itu, mencicipi makanannya, menikmati pemandangannya, menyaksikan tradisi kebudayaan mereka lalu kemudian hanyut dalam kegembiraan pesta pertunangan sepupu yang sudah ia anggap sebagai kakak sendiri.

Tapi ia tidak bisa.

Bagaimanapun ia harus menyembunyikan kehamilannya, dan jika ia pergi, Hinata tak yakin mampu mengecoh mata semua orang. Terutama ayahnya.

Mungkin terdengar tidak adil, tapi diantara semua orang yang ia kenal, Hinata berharap lelaki itu adalah orang terakhir yang tahu tentang kehamilannya.

Pandangannya melirik kantong-kantong yang tergeletak di lantai, dan senyumnya kembali mengembang. Dengan semangat baru, ia bangun dari sofa dan duduk di lantai lalu mulai mengeluarkan barang-barang dari dalam kantong belanjaan.

Tingkahnya tak jauh berbeda dengan anak umur sepuluh tahun saat membuka kado ulang tahunnya.

Hinata tersenyum memikirkan hal itu, dan dengan hati yang lebih riang, bersiap menyiapkan makan malam.

Hanya kare instan sebenarnya, yang dituang ke atas nasi lalu dipanaskan di microwave selama beberapa menit. Tapi dengan keadaannya yang kelelahan, itu saja sudah cukup. Lagipula ia harus tidur lebih cepat karena besok, ia akan menemui kepala sekolah.

Berharap jika ia jujur dari awal, ia akan tetap diperbolehkan bekerja.

.

.

.

"Katakan kau hanya bercanda," tuntut Shikamaru untuk kesekian kalinya.

Naruto mendengus pelan.

Sejak tadi siang, temannya yang satu ini jadi lebih mirip ibu mertua bawel. Terus menuntut dan bertanya. Tidak peduli meskipun kini mereka tengah berada di sebuah pesta pembukaan hotel milik Uchiha, tidak peduli dirinya menarik perhatian para tamu undangan, tidak peduli dirinya dianggap membuat keributan.

Ia tidak mempedulikan apapun.

Bahkan meskipun Naruto menendangnya sampai ke Negara bagian, Shikamaru pasti akan menemukan cara untuk kembali membuntutinya.

"Sejak kapan kau menikah?"

"Punya anak tidak harus menikah," tukas Naruto tenang sambil menyesap sampanye di tangannya, pandangannya menelusuri setiap sudut ruangan mencari si teman lama, Sasuke. Namun entah karena dia sangat pandai berbaur atau pandangannya terhalang tamu lain, Naruto tidak bisa menemukannya di dalam kerumunan orang-orang ini.

"Seharusnya kau menikah," gumam Shikamaru pelan di sampingnya.

"Kenapa?"

"Karena ayahnya ada disini," kata Shikamaru sambil terus memperhatikan seseorang yang baru memasuki ruangan. Langkahnya masih mantap meski usianya sudah tak lagi muda, dan keangkuhan yang sudah ia kenal itu masih jelas terpampang di wajahnya. Shikamaru menelan sampanye-nya, namun tatapannya masih tetap tertuju kesana.

Sudah bukan rahasia lagi jika Hyuuga adalah keluarga yang menjungjung tradisi. Mereka membentengi diri dari pengaruh luar, dan hanya menerima orang-orang yang mereka anggap layak. Dengan prinsip itu, jelas Nara maupun Namikaze tidak masuk dalam daftar nama teman-teman mereka sesaat setelah perusahaan yang dipimpin Minato dinyatakan pailit.

Shikamaru ingat perasaan rendah yang ia rasakan ketika membungkuk dan memohon hanya untuk mendapatkan sebuah pinjaman dana.

Padahal andai saja si tua itu mau mengulurkan sedikit bantuan, mereka tak akan mengalami keterpurukan sesakit ini.

"Siapa yang ada di sampingnya?"

Suara Naruto seketika membuatnya tersentak. Sial, ia terlalu hanyut dalam pikirannya sampai tidak menyadari lelaki itu berdiri terlalu dekat. Kenangan buruk memang sangat sulit dienyahkan.

"Itu Neji, kau tahu siapa dia,' sahut Shikamaru malas sambil melihat laki-laki berambut panjang itu tanpa minat. Semua orang tahu siapa Neji, si penerus Hiashi.

Benar, beberapa hal memang sudah berubah.

Hyuuga masih sama kolotnya seperti dulu, tapi kepemimpinannya kini lebih dinamis, mengingat Neji termasuk 'orang luar'-yang biasanya lebih sering ditempatkan di posisi rendah- justru diangkat sebagai pemimpin perusahaan.

Orang akan mengira Hinata -yang merupakan anak sulung Hiashi- yang akan memegang posisi itu. Tapi justru si sulung sendiri yang tidak mau mengklaim haknya. Sementara anak kedua Hiashi, Hanabi, masih terlalu muda untuk mengurusi perusahaan besar.

Shikamaru tidak tahu bagaimana cerita lengkapnya, yang ia tahu -dengan tradisi sebagai landasan- Neji merupakan pilihan yang sulit diterima meskipun kemampuannya tak lagi diragukan. Akan ada pergolakan antar anggota keluarga. Akan ada perpecahan yang pastinya berpengaruh besar pada harga saham perusahaan. Tapi tampaknya Hiashi tidak terpengaruh dengan kemungkinan itu dan tetap mengangkat Neji sebagai penggantinya.

Keputusan yang berani, dan meskipun enggan, Shikamaru mengakui bahwa itu langkah yang tepat.

Tapi setelah kehebohan itu, keberadaan si sulung tak lagi jadi konsumsi umum. Orang-orang tak lagi tahu tentang dirinya atau dimana ia sekarang. Dan hilangnya eksistensi si sulung dalam aktivitas Hyuuga membuat orang-orang berasumsi bahwa gadis itu sedang dikucilkan karena membuat ayahnya malu.

Meskipun Shikamaru tidak yakin apa yang memalukan dari menolak sebuah posisi jabatan?

Berita Hiashi yang banting setir dari pengusaha menjadi pemilik penginapan onsen cukup menggemparkan juga. Tapi tetap saja, pengangkatan Neji merupakan langkah paling dramatis yang pernah diambil Hyuuga dan masih diperbincangkan sampai saat ini.

"Aku tahu Neji," suara Naruto kembali menginterupsi. "Maksudku dia."

Shikamaru kembali memperhatikan arah yang ditunjukkan Naruto dengan seksama.

"Yang berambut pendek itu? Aku tidak tahu," sahut Shikamaru jujur. "Tapi jika ia berada dekat sekali dengan Hiashi, kemungkinan besar ia merupakan salah satu orang kepercayaan si tua itu atau.." katanya sedikit curiga. "Lelaki itu akan/sudah dijodohkan dengan putrinya."

"Dijodohkan, ya?" gumam Naruto dengan nada tertarik. "Kalau begitu kita harus memberi salam."

"Kurasa itu bukan ide bagus," kata Shikamaru cepat. Mengkonfrontasi Hyuuga di pesta seorang Uchiha sama sekali tidak terasa bagus. Dan mereka tidak membutuhkan hal merepotkan sekarang.

Tapi seperti biasa, Naruto tidak mau mendengarkan.

Shikamaru menghela napas lelah dan dengan berat hati mengikuti pria itu menghampiri sekelompok orang yang kelihatannya tengah mengobrol dengan antusias.

Inilah yang kau dapat saat berteman dengan orang seperti Naruto; tekanan tiada akhir.

Tapi saat ia berjalan di belakang lelaki itu, Shikamaru menyadari perlakuan yang diberikan orang-orang pada Naruto sedikit berbeda dibandingkan pewaris Hyuuga.

Ia memperhatikan orang-orang akan memperlakukan Neji dengan santun dan hormat karena jabatan yang ia miliki, tapi tidak pernah nyaris memuja seperti yang mereka tunjukkan pada Naruto.

Saat itulah Shikamaru menyadari bahwa bagi mereka, Neji hanyalah orang yang beruntung menjadi penerus, sementara Naruto adalah penerus itu sendiri. Ia terlahir untuk itu.

Mata tua Hiashi menyipit tak suka saat melihat mereka mendekat, dan makin terlihat menakutkan ketika mereka berdiri di depannya. Shikamaru menelan ludah dan sedikit menjauhkan diri.

Saat berdekatan, terlihat Naruto lebih tinggi satu kepala dibanding Hiashi, dan dari sudut matanya, Shikamaru dapat melihat ada kepuasan yang dirasakan temannya ketika pemimpin yang sudah pensiun itu harus mendongakkan kepala untuk menatapnya.

"Selamat malam, Hyuuga-san," sapa Naruto dengan sopan yang sama sekali tidak diindahkan. Tapi meskipun mendapat perlakuan tak seharusnya, sikap Naruto masih sesantai biasa. Tidak terpengaruh.

"Aku tidak tahu kalian diundang," katanya nyaris tidak bisa menyembunyikan rasa tidak suka yang ia rasakan.

Melihat sekilas, Shikamaru bisa melihat kepala-kepala penasaran mulai menaruh perhatian pada interaksi mereka.

Ini benar-benar tidak bagus.

Shikamaru menatap temannya, memohon dalam diam agar mereka segera pergi dari sini. Ia memang tidak suka Hyuuga, tapi ia lebih tidak suka jika melihat hidup seseorang dihancurkan. Meskipun dia seorang Hyuuga sekalipun.

"Aku yakin kau tahu bahkan sebelum memutuskan datang kemari, Hyuuga-san," imbuh Naruto masih dengan ketenangan yang membuat Shikamaru takjub. "Aku hanya tidak menduga kau akan membawa orang asing kemari."

Menyadari tatapan semua orang tertuju padanya, lelaki muda itu tampak canggung dan sedikit serba salah. Hiashi yang pertama menguasai keadaan.

"Dia bukan orang asing, dia calon menantuku."

"Menantu?" tanya Naruto, berusaha tampak tertarik, namun tidak berhasil. "Kurasa putri bungsumu terlalu muda untuk menikah."

"Tapi tidak dengan putri sulungku."

Naruto tersenyum mendengar bantahan itu. Tetapi perhatiannya tak lepas dari orang yang menjadi topik perbincangan mereka.

Lelaki itu mungkin seumuran dengannya, pikir Naruto. Tapi meskipun tidak mengenal lelaki itu secara pribadi, ia tahu, dia merupakan tipe menantu idaman. Baik hati, sopan, berpendidikan… dan lemah. Tipe lelaki yang merasa kuat saat dibandingkan dengan perempuan, namun membutuhkan orang lain untuk mengambil keputusan yang sulit untuknya.

Sama sekali bukan ancaman.

Naruto menatap kembali lelaki tua di depannya dan tak habis pikir kenapa laki-laki renta ini bisa membuatnya merasa tak berdaya beberapa tahun lalu? Apa karena dia hanya bocah ingusan saat itu? Bocah yang tidak mengerti kenapa kenyamanan yang mengelilinginya sejak bayi harus lenyap. Yang tidak tahu apapun.

Dan bocah itu harus berhadapan dengan Hiashi, orang yang lebih dewasa dan berpengalaman.

Ya, mungkin begitu.

Naruto mendengus. Ia tidak mengira dulu ia selemah itu.

"Dia tidak akan bisa memuaskan putri sulungmu," kata Naruto akhirnya. "Aku tahu, karena aku pernah mencicipi tubuh putrimu itu."

Mulut Shikamaru ternganga.

Holly shit!

Suara terkesiap yang terdengar membuatnya melihat sekeliling dengan waspada dan menyadari; lebih banyak mata yang melihat ke arah mereka saat ini. Bahkan ada beberapa yang mendekat agar bisa mendengar lebih jelas.

"Apa maksudmu?"

"Seperti yang kumaksud," sahut Naruto tak acuh. "Putrimu itu sungguh luar biasa," ia melanjutkan dengan penuh kekaguman. "Aku tak pernah bertemu perempuan seliar itu saat bermain di ranjang. Bukan berarti aku keberatan," sergahnya cepat. "Karena memang tidak. Aku hanya kaget dia sangat sulit dipuaskan."

Naruto menyeringai saat melihat efek ucapannya pada lelaki tua itu. "Kau mendidik putrimu dengan sangat baik, Hyuuga-san."

Teriakan marah langsung keluar dari mulut Hiashi, ia menerjang tubuh Naruto dan langsung meninju rahangnya. Tapi usianya yang sudah menua melemahkan tenaganya dan dengan mudah di lawan tubuh muda Naruto.

Lelaki itu mendorong tubuh yang lebih tua darinya hingga terjerebab ke lantai. Pipinya panas akibat pukulan itu, tapi perasaannya jauh dari marah.

Bahkan sebenarnya, ia cukup menikmati keadaan ini.

Bibirnya menyeringai senang.

Melihat seorang Hyuuga Hiashi berusaha bangkit dengan tertatih dan berusaha kembali menyerangnya benar-benar hiburan tersendiri.

Namun ia tidak bisa menikmatinya lebih lama karena sebelum tangan kurus dan keriput itu kembali mendarat di tubuhnya, Neji segera turun tangan menghentikan gerakan brutalnya. Lelaki itu terlihat sedikit kesulitan dan cukup kepayahan saat menggiring pamannya keluar yang secara otomatis menghentikan semua kesenangan.

Naruto mengeluh dalam hati.

"Yang tadi itu sedikit berlebihan, bahkan untukmu," komentar Shikamaru sambil memperhatikan para Hyuuga keluar ruangan sambil melempar sumpah serapah ke arah mereka.

"Memang," sahut Naruto dengan senyum puas menghiasi wajahnya.

"Apa itu perlu?" tanya Shikamaru sedikit merasa bersalah saat melihat penggosip disekitar mereka saling berbisik dengan antusias. "Kau baru saja menghancurkan reputasi seseorang."

Naruto menatap Shikamaru heran.

"Tentu saja," katanya dengan yakin. "Dan kita tidak menghancurkan apapun. Kita hanya terlalu berdedikasi dalam merusak."

Setelah mengatakan itu, ia melenggang pergi tanpa menghiraukan tatapan semua orang yang tertuju padanya. Di tengah kerumunan penggosip yang senang, ia sama sekali tidak memberi pilihan lain pada Shikamaru selain mengikutinya keluar dari ruangan berisik ini.

.

.

.

Hinata menatap dengan cemas wanita yang beberapa tahun lebih tua darinya ini. Tangannya berkeringat menanti dengan penuh ketidak-pastian pada apa yang akan terjadi. Ia sengaja menemui wanita ini setelah sekolah usai untuk bicara mengenai 'kondisi'nya.

Tapi seolah tidak tahu -atau tidak peduli- wanita yang juga merupakan kepala sekolah di tempatnya bekerja ini hanya diam, yang justru makin membuat suasana terasa berat.

"Saya tahu seharusnya saya memberitahu anda lebih cepat, hanya saja..."

Hinata menghentikan ucapannya saat kepala sekolah mengangkat tangan, mengisyaratkannya untuk diam.

"Aku tidak butuh alasan," ujarnya. "Yang kita perlukan adalah solusi."

Suaranya yang tegas terasa menyudutkan, dan Hinata secara tak sadar kembali meremas kedua tangannya.

"Sekolah ini mungkin kecil dan tidak terkenal, tapi bukan berarti kami akan membiarkan guru yang hamil tanpa suami tetap mengajar," lanjutnya masih dengan ketegasan yang sama. "Itu merusak reputasi sekolah."

Dan itulah masalahnya; reputasi.

Hinata berusaha berpikir cepat.

Sejauh ini tak banyak yang ia dapatkan setelah berkata jujur. Kepala sekolah seolah tak mau mendengarkan atau mempertimbangkan apapun, yang berarti ia tidak akan ragu memecat Hinata.

Dan tidak perlu seorang genius untuk menebak kisah selanjutnya; ia akan kembali menjadi pengangguran, terlunta-lunta di jalan, dan mati kelaparan.

Hinata bergidik ngeri membayangkan kemungkinan itu.

Yah, jika kejujuran tidak membuahkan hasil, pikir Hinata sambil memperhatikan kepala sekolah yang terus menatap ke arahnya. Mungkin keadaan akan jadi lebih baik jika ia, katakanlah, merekayasa kebenaran.

"Saya…punya suami," bisik Hinata dengan jantung berdebar. Takut jika bualannya akan langsung ketahuan dan ia akan di lempar dari ruangan ini. Atau yang paling mengerikan, petir menyambarnya hingga tewas.

Dalam diam ia menunggu, tapi tidak ada teriakan ataupun petir, wanita itu justru mengernyit bingung. Dan Hinata -sambil terus berdoa dalam hati- melanjutkan bualannya.

"Sa-saya sudah menikah, tapi sepertinya tidak berjalan baik. Jadi kami memutuskan berpisah dan saya pindah kemari."

"Ayumi-san bilang kau single," tuduh wanita itu dengan mata menyipit penuh selidik.

Hinata meremas tangannya makin keras. Sanggupkah ia terus berbohong?

"Ka-karena saya memang bilang begitu," kata Hinata dengan gugup. "Di lingkungan baru seperti ini, lebih mudah mengatakan saya masih sendiri dibanding mengungkit tentang perpisahan kami."

"Itu cukup menjelaskan beberapa hal, tapi kehamilan.." wanita itu menggeleng pelan dengan gerakan tak berdaya. "Secara pribadi saya tidak yakin bisa mempertahankanmu. Tapi mengganti personil pengajar di tengah semester.."

"Kalau begitu biarkan saya tetap bekerja," imbuh Hinata cepat. "Setidaknya sampai liburan semester tiba atau setelah anda mendapat guru baru," tambahnya lagi. Saat ini ia tidak punya waktu memikirkan konsekuensi apapun, tujuannya jelas; mempertahankan sumber penghasilannya.

"Para orang tua murid mungkin akan bertanya, tapi mereka pasti akan mengerti setelah dijelaskan tentang perpisahan saya. Tidak akan ada masalah. Saya jamin."

Wanita itu tidak berkomentar apa-apa selama beberapa saat sebelum akhirnya mendesah pasrah.

"Baiklah."

Dan Hinata tak bisa menahan diri untuk bersorak senang. Pekerjaannya aman. Satu masalah selesai.

Senyuman masih menghiasi wajahnya bahkan ketika ia keluar dari ruang kepala sekolah. Ia lega. Tak ada lagi yang perlu di cemasnya. Ia masih punya pekerjaan yang bisa menyokongnya dan bisa tetap tenang untuk beberapa hari ke depan.

Dengan lembut tangannya mengusap perutnya.

"Kita akan baik-baik saja," bisiknya lembut dan kembali tersenyum.

.

.

Matahari masih bersinar terik menyorot ubun-ubunnya saat Hinata sampai di supermarket terdekat.

Ia tidak suka panas, dan berada di dalam supermarket yang mempunyai pendingin seperti menemukan oasis setelah terjebak seharian di gurun pasir.

Hinata mendesah senang saat tubuhnya terkena udara dingin dari AC yang di pasang di setiap sudut. Setelah mengambil keranjang belanjaan, ia mulai berjalan menyurusi setiap rak satu per satu.

Ia sudah belanja cukup banyak kemarin, jadi selain susu untuk ibu hamil dan cemilan, ia memutuskan hanya akan melihat-lihat sampai udara di luar tidak terlalu panas untuk pulang dengan berjalan kaki.

Tapi di supermarket kecil ini tidak banyak yang bisa dilihat. Rata-rata barang yang dipajang adalah barang standar dan tidak lagi menarik.

Sambil mendesah kecewa, Hinata membawa barang belanjaannya ke kasir.

Langit masih tampak sangat cerah dari balik kaca pintu masuk.

Jadi sudah bisa dipastikan ia akan berpanas-panasan sebelum sampai ke apartementnya. Memikirkannya saja sudah membuatnya malas.

Setelah membayar belanjaannya, dan memastikan topinya terpasang dengan benar, ia siap untuk pulang.

Tapi baru beberapa menit menelusuri jalanan beraspal, langkahnya terhenti saat melihat sebuah mobil berhenti tak jauh darinya.

Ia hanya merasa heran, kenapa mobil mewah seperti itu bisa berada dikawasan ini?

Kenalan seseorang?

Dan jantungnya seakan berhenti berdetak saat pintu mobil terbuka dan orang yang sangat ia kenal keluar dari sana.

Ia ingin lari, pergi menjauh, tapi kakinya tidak mau menuruti perintah dari kepalanya dan terus berdiri diam disana.

Ketika dilihatnya lelaki itu berjalan makin dekat -melihat raut wajahnya- jantungnya berdebar makin kencang. Ia tidak bisa lagi menghindar. Tubuhnya berubah kaku saat menunggu kemarahan yang ia tahu akan diberikan kepadanya.

.

.

Tanpa mengetuk pintu, Hanabi menerobos masuk. Tak peduli si empunya ruangan merasa terganggu atau tidak. Toh, ia merasa punya alasan untuk itu.

"Apa yang terjadi?" tuntutnya begitu ia membanting pintu dan bertatapan dengan pria berambut coklat panjang yang sudah dianggapnya sebagai kakaknya sendiri. "Aku dengar ayah berkelahi. Tapi dengan siapa? Kenapa?"

Neji yang sedang memeriksa laporan di ruang kerjanya terdiam sebelum kemudian menutup map yang sejak setengah jam lalu ia periksa dan menatap adik sepupunya.

"Dia tidak berkelahi," ujarnya tenang. "Tapi di provokasi."

"Oleh siapa?"

"Namikaze Naruto."

Wajah Hanabi makin berkerut saat mendengar nama itu di sebut. Sejak dulu ia tahu lelaki itu sumber masalah. Yang tidak ia pahami adalah kenapa harus keluarganya yang selalu ketiban sial. Pertama kakaknya. Sekarang ayahnya juga?

Mengerikan.

"Apa yang ia katakan?" tanyanya dengan nada menuntut yang Neji tahu jika ia tidak memberi jawaban yang memuaskan, gadis itu akan membanting sesuatu ke arahnya.

Biasanya Neji tahu apa yang harus ia katakan agar sepupunya ini bisa tenang, Tapi untuk masalah ini, lebih baik ia dilempari pot bunga daripada menceritakan semuanya pada Hanabi.

"Lebih baik kau tidak tahu," kata Neji akhirnya dan kembali membuka map yang tadi sempat ia abaikan.

"Tentu saja aku perlu tahu!" seru Hanabi tak terima. "Ayah babak beluk dan kau cuma duduk tenang disini?!"

"Hanabi!" tegur Neji yang membuat gadis itu segera menutup mulutnya, tapi dari tatapan matanya, Ia tahu sikap keras kepalanya akan sulit diatasi.

"Saat ini bukan ayahmu yang harus kau khawatirkan, tapi kakakmu," kata Neji dengan berat hati. "Kurasa ayahmu akan membunuhnya siang ini."

"Jangan bodoh," sergah Hanabi kesal. "Ayah terlalu menyayangi nee-chan untuk bisa membunuhnya." Bibirnya melengkung ke bawah saat teringat sang ayah yang membiarkan kakaknya pergi dari rumah, membiarkannya hidup sendirian hanya karena Hinata memintanya. Dan dengan emosi yang sulit dikendalikan, ia kembali menatap kakak sepupunya.

"Jangan menganggapku anak kecil Neji-nii. Katakan saja apa yang sebenarnya terjadi."

Neji menghela napas lelah.

"Hanabi," katanya datar. "Itulah yang sebenarnya akan terjadi."

.

.

"Otousan," bisik Hinata pelan saat lelaki itu berdiri tepat di depannya.

Sudah terlalu lama ia tak bertemu dengan ayahnya, dan saat melihatnya lagi, Hinata merasa jantungnya berdetak keras karena cemas ketika melihat sekitar mata lelaki itu cekung dan gelap. Dengan ketakutan, Hinata mengulurkan tangan hendak meraih wajah yang sangat ia rindukan.

Namun gerakannya itu membuatnya tersadar bahwa ia masih menggenggam kantong belanjaan, yang membuatnya langsung gugup dan segera menurunkan tangannya hingga tersembunyi di belakang punggung.

Usaha yang sia-sia mengingat mata jeli ayahnya sudah pasti dapat melihat barang yang ia beli di balik kantong plastik yang hampir transparan.

"Katakan itu bukan milikmu." Suara ayahnya terdengar parau, nyaris tak bisa ia kenali.

Dan Hinata bergeming disana, tidak yakin apa yang harus ia lakukan atau katakan. Ia ingin berbohong, hanya karena ia tahu hal itu akan membuatnya terhindar dari kemarahan.

Tapi ia juga tahu, sekali ia berbohong, ia akan terus berbohong untuk menutupi kebohongan sebelumnya. Dan kemudian, akan sulit baginya untuk menceritakan kebenaran.

Karena itu, di bawah tatapan menuntut ayahnya, Hinata mengangguk dengan napas tercekat.

Hiashi merasa jantungnya diremas seketika. Ia mulai kesulitan bernapas.

"Apakah Naruto?"

Ekspresi terkejut di wajah Hinata membuatnya merasa baru saja kehilangan harapan terakhirnya. Tak ada makna lain dari keterkejutan itu selain pembenaran pada dugaannya.

Mata sang Hyuuga terpejam erat, ada gurat kesedihan yang amat sangat terlukis di wajahnya. Hinata melepas genggaman pada kantong belanjaannya dan meraih tangan ayahnya yang terasa dingin. Dirangkumkannya tangan itu ke pipinya. Merasakan kekasaran dari tangan kurus itu yang justru terasa lembut di wajahnya. Tindakan kecil yang biasa dilakukan saat ia bermanja-manja pada sang ayah.

"Maafkan aku," bisik Hinata penuh sesal.

Hiashi membuka matanya dan menatap putri sulungnya dengan perasaan terluka. Suara Naruto menggema di kepalanya. Menyiksanya.

'Putrimu sungguh mengagumkan..'

'Belum pernah aku bertemu wanita seliar dia..'

'Aku tahu karena aku telah mencicipi tubuhnya..'

Hiashi menggelengkan kepalanya pelan, berharap tindakan itu bisa mengenyahkan suara Naruto di kepalanya.

Tapi tetap tidak bisa.

Suara itu, dan ucapannya yang mencemooh terus berulang menyakitkan.

Ia tidak bisa percaya putrinya -putri yang lebih ia cintai dibanding yang lain- membiarkan tubuhnya sendiri dinikmati lelaki itu. Dan ia tak bisa menahan diri untuk bertanya-tanya dalam hati berapa kali Naruto membawa putrinya ke tempat tidur dan menceritakan pengalaman itu pada rekan kerjanya.

Ia hanya tidak mau percaya.

Hatinya masih terasa sakit jika mengingat bagaimana lelaki itu dengan enteng membeberkan tentang putrinya di depan orang banyak. Di depannya.

Hiashi menarik napas panjang hingga dadanya terasa sesak. Sebuah keputusan telah dibuat.

"Lenyapkan dia."

"Otousan," bisiknya dengan suara bergetar lirih, sorot matanya memohon pengampunannya.

"Lenyapkan dia, Hinata," ulang Hiashi lagi.

Ketika tidak ada reaksi sama sekali, keputus-asaannya meningkat. Hiashi meraih pundak kurus Hinata dan mengguncangnya keras.

"Kau dengar aku? Lenyapkan dia. Bunuh dia!"

"Tidak!" Jerit Hinata dan melepaskan diri dari jangkauan ayahnya. Matanya yang bundar menatap ayahnya dengan ketakutan. "Tidak," bisiknya dan kembali memundurkan langkah.

"Tidak ada anak haram dalam keluarga Hyuuga," kata Hiashi tegas. "Gugurkan kandunganmu Hinata, dan aku akan memaafkanmu," bujuknya. Bisa ia lihat putrinya mendengarkan dengan baik setiap perkataannya. "Kita anggap semua ini tidak pernah terjadi."

Hinata menggeleng pelan mendengar bujukannya.

"Tapi ini terjadi," tukasnya pelan. Tangannya mengusap perutnya dengan sayang. Hiashi tahu makna dibalik tindakan itu; Sikap protektif seorang ibu yang tidak akan membiarkan siapapun mengusik anaknya. Dan saat ia kembali menatap Hiashi, sinar di matanya memancarkan kesungguhan dan penuh tekad. "Aku tidak akan membunuhnya."

"Kalau begitu," kata Hiashi dengan nada datar. "Jangan pernah lagi menginjakkan kaki di rumahku. Kau bukan lagi anakku. Bukan lagi bagian dari Hyuuga."

Setelah mengatakan itu, Hiashi berbalik pergi dan Hinata hanya berdiri diam ketika lelaki itu masuk ke dalam mobil. Deru mesin terdengar lembut sebelum melaju kembali di jalanan. Meninggalkan debu yang menerpa tubuh diamnya.

Ketika mobil yang ditumpangi ayahnya sudah tak terlihat lagi, barulah Hinata membiarkan dirinya menangis, menumpahkan semua rasa yang membuat dadanya sesak.

Ia baru saja membiarkan salah satu orang yang paling berharga baginya pergi.

.

.

.

Matahari sudah terbenam saat Hinata sampai di apartemennya.

Langkahnya gontai, tak bersemangat dan kepalanya pusing sehabis menangis. Ia ingin segera berbaring di ranjangnya yang hangat dan melupakan semua yang baru saja terjadi. Tapi perutnya tidak mau memahami itu. Terus melilit perih minta diisi.

Hinata mengusap pelan matanya yang masih terasa lengket. Bekas-bekas air mata rupanya masih menempel di sana. Dan merasakan terjangan nostalgia yang membuat matanya kembali memanas.

Dulu ia juga sering menangis, bahkan untuk hal-hal kecil. Setiap kali ia merasa sedih, Hinata akan lari ke taman belakang, dan berjongkok di bawah naungan pohon besar. Ia menangis di sana sepuasnya. Jauh dari mata orang-orang.

Kecuali ayahnya.

Lelaki itu seakan selalu tahu kapan ia ke sana, kenapa ia selalu ke sana. Dan kemudian tanpa banyak bertanya, ayahnya akan duduk disampingnya, membawa tubuh kecil Hinata ke pangkuannya, dan memeluknya erat.

Hinata tersenyum ketika ia mengenang masa-masa itu. Ia suka ketika ia duduk di pangkuan Hiashi, karena duduk di pangkuan ayahnya dan dipeluk dengan erat membuatnya merasa nyaman. Dan disaat-saat seperti itulah, ia tahu dirinya dicintai.

Tidak nyaman dengan rasa lengket yang membuat matanya berat, ia memutuskan membasuh mukanya di tempat cuci piring. Dinginnya air yang membasahi wajahnya terasa nyaman. Dan ia terus membasuh wajahnya selama beberapa saat.

Setelah merasa sedikit lebih baik, Hinata membuka setiap lemari di dapurnya.

Akal sehatnya menyuruhnya tidak mengkonsumsi karbohidrat dan hanya minum jus buah, berat badannya naik beberapa kilo secara drastis hanya dalam waktu tiga hari dan

Tapi untuk malam ini, ia masa bodoh dengan semua itu. Jadi tanpa berpikir dua kali, ia menutup lemari tempat menyimpan rempah-rempah dan meraih ponselnya.

Ia ingin makan sushi.

.

.

Suara ketukan terdengar saat Hinata baru saja menghabiskan potongan cheesecake-nya yang terakhir.

Setelah memastikan tak ada sisa cream yang tertinggal di sudut bibirnya, ia bergegas membuka pintu dan melihat siapa yang datang.

Ternyata pesanan sushi-nya, Hinata menghela napas senang. Ia sudah sangat kelaparan dan mungkin akan meloncat kegirangan kalau saja bukan Takumi yang mengantarkan pesanannya itu.

Hinata mundur dengan sedikit gusar.

Takumi adalah pekerja di toko sushi langganannya. Ia laki-laki menarik berusia pertengahan tiga puluhan dan cukup handal saat membuat sushi. Tapi sikapnya yang bisa dibilang kurang ajar dan tak tahu malu membuat Hinata jengah dan tidak mau berdekatan dengannya terlalu lama.

Sialnya, lelaki itu sama sekali tidak menangkap pesannya dan terus melancarkan pendekatan dengan gencar.

"Kau kelihatan cantik malam ini, Hinata-chan," pujinya yang jelas kurang pantas. Tapi ia terlalu lelah dan lapar untuk ini. Jadi Hinata hanya tersenyum sopan dan meraih kotak sushi pesanannya.

Tapi Takumi mengelak, tidak membiarkan Hinata memegang kotak itu.

"Aku bilang pada Minami-san kau pelanggan yang baik," katanya lagi tak peduli perempuan di depannya kesal karena tingkahnya. "Tapi kau terlalu lama sendirian. Lalu dia bilang…"

"Bahwa mungkin aku memang ingin sendirian," sela Hinata cepat. Dengan gestur sederhana, ia meminta diberikan pesanannya. Tapi kembali harus menahan emosi saat laki-laki itu justru menjauhkan kotak itu, lagi.

"Tidak," sergahnya. "Katanya kau tidak bertemu pria karena terlalu banyak bekerja."

"Aku bertemu pria," bantah Hinata mencoba bersabar yang sama sekali tidak dianggap.

"Kau cantik, Hinata."

"Terimakasih."

"Rambutmu indah, kulitmu juga bagus, dan warna matamu sangat tidak biasa."

Hinata memutar matanya sebal dan tiba-tiba memiliki keinginan tak terbatas untuk membanting pintu di depan lelaki itu. Untungnya ia bisa menahan diri di detik terakhir.

"Warna mata yang sangat biasa sebenarnya," sahutnya dengan kesabaran yang semakin menipis. "Kau tahu, kau bisa memiliki sushi itu. Aku sudah tidak mau, selamat malam."

Tepat saat ia hendak membanting pintu, tangan lelaki itu menahannya.

"Aku sudah lama menyukaimu Hinata-chan, sudah terlalu lama."

Tanpa bisa dicegah, Takumi merangsek masuk. Kotak Sushi yang menjadi alasan kedatangannya dilempar sembarangan membentur lantai di bawahnya. Isinya langsung berserakan. Tubuh Hinata ditarik hingga membentur tembok.

"Apa kau tidak mendengarku? Kubilang aku menyukaimu."

Kedua tangannya diletakkan di samping kepala Hinata, secara efektif memenjarakan wanita itu.

Dalam kepanikan tangannya mencari sesuatu -apapun- yang bisa digunakan untuk mempertahankan diri. Tapi sialnya tak ada apa-apa di sana.

Dalam keputus-asaan itu, ia menjulurkan kakinya dan meraih high heels yang tergeletak tak jauh darinya. Tatapannya terpaku pada Takumi yang masih terus mengocehkan sesuatu. Hinata sama sekali tidak menaruh perhatian sedikitpun pada apapun yang dikatakan lelaki itu padanya. Konsentrasinya sekarang hanya tertuju pada benda lancip yang berhasil terjepit diantara jari kakinya.

Dengan perlahan -berharap Takumi tidak menyadari apa yang ia lakukan- Hinata menekuk lutut dan membawa high heels itu ke dalam genggamannya.

Saat benda itu berada di tangannya, Hinata merasa aman. Jika laki-laki ini macam-macam, ia hanya perlu memukulkan sepatunya sekeras mungkin ke tempurung lelaki itu.

Hinata hanya berharap tidak perlu melakukannya.

"Orang bilang kau gendut, tapi menurutku kau langsing," katanya lagi. "Meski agak besar di atas sini." Matanya bergerak ke arah payudaranya yang tertutup kemeja pink. Bentuk branya terlihat membayang di kain yang tidak terlalu tebal itu. Biasanya ia tidak terlalu peduli. Selama pakaiannya tidak tipis dan transparan, bentuk bra yang membayang masih bisa dikatakan sopan. Tapi jika ada orang yang memandangi dadanya terus-terusan, itu membuat Hinata risih.

Dan Hinata tahu dari pengalaman, bahwa jika ia terus membiarkan, lelaki itu akan mulai mengevaluasi seluruh bagian tubuhnya.

"Terimakasih," gumam Hinata pelan meskipun tidak mau mengatakan itu. Walaupun tahu Takumi sedang memujinya, tapi ia tidak merasa senang sedikitpun. Ia hanya merasa harus mengatakan sesuatu sambil mencari celah untuk menjauh darinya.

Dan Hinata tidak siap saat laki-laki itu tiba-tiba mengangkat tangan dan meremas payudara kirinya. Dengan marah ia memukul sisi kepala lelaki itu dengan sepatu yang dipegangnya.

"Bangsat!" teriak Takumi. Tubuhnya sedikit membungkuk saat memegangi kepalanya yang luka, dan kesempatan itu digunakan Hinata untuk mendorong tubuhnya menjauh yang membuat Takumi terantuk ke lantai.

Tanpa membuang waktu, Hinata melompati tubuh laki-laki itu dan hendak berlari keluar saat tangan Takumi menangkap pergelangan kakinya, membuatnya jatuh terjerebab. Tubuhnya ditarik masuk kembali ke dalam apartemen dengan kasar. Tidak peduli kulit Hinata jadi lecet karena diseret paksa seperti itu.

Semuanya terjadi begitu cepat.

Ia baru mencoba berdiri saat Takumi tiba-tiba mendorongnya hingga terlentang di lantai. Dan Hinata menjerit keras saat laki-laki itu menduduki perutnya lalu meninju pipinya keras.

Telinganya berdenging, dan di tengah air mata yang mengaburkan pandangannya, ia bisa melihat tangan Takumi yang kembali terangkat, bersiap memukulnya lagi.

"Kau jalang sialan!"

Hinata memejamkan matanya erat dan bersiap menghadapi rasa sakit.

Tapi saat itu tidak pernah datang.

Karena tiba-tiba beban di perutnya lenyap disusul bunyi hantaman dan geraman kesakitan. Hinata membuka matanya dan melihat dengan tercengang saat tubuh Takumi meringkuk kesakitan di lantai, jauh dari tempatnya saat ini.

Sosok asing bertubuh tinggi tegap yang berpakaian serba hitam berada dekat dengan Takumi, berdiri diam dan memperhatikan, sebelum kemudian menendang perut lelaki itu dengan keras.

Hinata mencoba bangun dengan susah payah, tapi kemudian merasa dirinya akan pingsan saat itu juga ketika pria asing itu berbalik dan menatapnya.

Ternyata dia sang iblis sendiri.

.

.

.

to be continue