Chapter 4. Begin Again

.

.

.

Hinata sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Bagaimana bisa pria itu ada di depannya saat ini?

Kebetulan?

Tidak.

Hinata sama sekali tidak pernah percaya pada kebetulan.

Baginya segala sesuatu mempunyai tujuan dan maksud tertentu yang terikat oleh keterkaitan sebab-akibat. Ia selalu mempercayai hal itu.

Tapi sekarang, saat pria itu berjalan mendekatinya diiringi lenguhan sakit Takumi, Hinata berharap kebetulan itu benar-benar ada. Berharap bahwa kehadiran lelaki itu disini hanyalah sebuah ketidak-sengajaan.

Dan ia akan segera pergi.

Dalam keterkejutan yang membuatnya tidak mampu bergerak, Hinata hanya mampu menatap lelaki itu dengan tertegun. Bahkan dengan pandangan yang buram oleh air mata, mata biru Naruto Namikaze sangat mudah dikenali.

Laki-laki itu kemudian berlutut disampingnya, memperhatikan. Dan Hinata serta merta merasa dirinya terancam.

Ia berusaha menjauh saat menyadari pria itu terlalu dekat, tapi usahanya itu segera terhenti saat semua ototnya menjerit nyeri.

Ya tuhan, ini sakit.

Ini pertama kalinya ia merasakan tubuhnya sesakit ini. Hinata menggigit bibir bawahnya yang sedikit sobek akibat pukulan Takumi- mencoba menahan lenguhan perih keluar dari bibirnya- saat merasakan sengatan rasa sakit yang lebih nyeri terasa di sekitar pinggang.

Ia mencoba menarik napas panjang. Namun justru hal itu membuatnya makin meringis nyeri.

Sesuatu yang salah sedang terjadi.

Sesuatu yang benar-benar salah terjadi pada bayinya!

"Pe-perutku sakit," rintih Hinata dengan putus asa pada pria yang masih berada di dekatnya.

Naruto tidak mengatakan apapun, wajah datarnya diasumsikan Hinata sebagai wujud ketidak-pedulian. Dan itu membuatnya kembali ingin menjerit.

Tapi kemudian pria itu menyelipkan tangannya ke belakang lutut dan punggung Hinata, lalu dalam satu gerakan ia mengangkatnya dengan mudah dan segera meninggalkan tempat tinggalnya.

Sebenarnya, Naruto melakukan semua itu dengan cepat tapi tetap saja Hinata harus menahan napas.

Perutnya kram dan akan terasa sakit saat ia menarik napas dalam. Tapi yang membuatnya makin panik adalah ia bisa merasakan cairan hangat yang keluar diantara kakinya. Mengalir ke paha dan meninggalkan jejak merah di lantai.

Tuhan..

'Jangan,' mohonnya dalam hati. 'Jangan sampai hal buruk terjadi pada bayinya. Jangan sampai anaknya mati!"

Dan Hinata mulai terisak pelan.

Ia mencengkram bahu Naruto dan membenamkan kepalanya diperpotongan leher lelaki itu. Tidak ingin memikirkan kemungkinan darah yang mengalir dari tubuhnya adalah pertanda bahwa ia baru saja kehilangan. Tidak. Anaknya tidak mati!

Tapi rasa panik dan kesakitan membuat suaranya tercekat oleh tangisannya sendiri. Dan bunyi yang keluar dari kerongkongannya hanyalah berupa rintihan parau yang tidak bisa dimengerti siapapun.

Dari balik bahu Naruto, ia bisa melihat Takumi yang tadi terkapar berusaha keluar dari apartemannya dengan merangkak tertatih sambil memegangi perutnya yang terkena tendangan Naruto. Lelaki itu berhenti saat menatapnya tepat di mata. Dan Hinata hanya bisa balas menatap lelaki itu.

Bohong jika ia bilang dirinya tidak takut.

Serangan Takumi masih jelas terekam dalam ingatannya. Bagaimana tubuh Takumi terlihat begitu menjulang di atasnya, menyeringai dengan kepalan tangan yang terangkat. Siap menghantam wajahnya kapanpun.

Tubuhnya gemetar.

Ia mungkin akan mengalami luka yang lebih parah jika Naruto tidak segera datang. Hinata sangat menyadari hal itu. Tapi ia lebih baik dipukul sampai mati daripada melihat kenyataan bahwa anaknya tidak selamat.

Tidak.

Tangannya mencengkram bahu pria yang membopongnya lebih erat.

Anaknya akan selamat.

Ia harus selamat.

Naruto yang menyadari perubahan sikap Hinata melirik ke belakang, dan melihat tubuh menyedihkan seorang laki-laki yang tengah merintih kesakitan dilantai.

"Aku akan mengurusnya nanti."

Hinata menggeleng pelan, namun tidak membantah. Ia justru mempererat cengkramannya pada kemeja lelaki itu sambil menempelkan dahinya. Tidak lagi berusaha mengangkat kepala. Pipinya terkulai di bahu Naruto dengan mata terpejam. Dengan begitu ia berharap bisa melupakan rasa sakit, meski sedikit. Sama sekali tidak menyadari perbuatannya itu justru membuat lekuk tubuhnya semakin merapat pada tubuh pria itu.

Ketika Naruto berhenti, ia membiarkan matanya tetap terpejam selama beberapa detik sebelum membukanya. Ternyata mereka sudah berada di luar. Langit sudah gelap, jalanan sepi dan hanya di terangi lampu jalan yang remang-remang. Di depan mereka terparkir mobil hitam mengkilat –mirip porsche- yang belum pernah ia lihat ada disekitar lingkungan ini.

Wajah Naruto menunduk ke arahnya dengan sigap membuka pintu dan membukanya lebar-lebar.

Hinata mengangkat kepala, hampir beradu muka dengan lelaki yang selama ini menjadi mimpi buruknya. Tapi tidak mengucapkan apapun, hanya diam dan memperhatikan dengan sikap waspada saat Naruto membungkuk dan meletakkan Hinata di kursi belakang.

Ia sedikit meringis saat permukaan kursi yang berlapis kulit itu menyentuh bokongnya, dan di detik itu juga, ia hampir menjerit histeris saat melihat warna merah membekas di roknya.

"Kita ke rumah sakit."

Hinata cepat-cepat mengangguk. Perutnya terasa kencang dan kram disaat yang bersamaan. Tapi ia tidak mau mengeluh.

Tidak disaat seperti ini.

Naruto lalu menjauh dan membanting pintu, kemudian berlari ke kursi pengemudi.

Beberapa detik kemudian, mereka telah melaju di jalan raya seiring malam yang semakin larut.

.

.

"Bagaimana dia?"

Shizune melontarkan pandangan tak senang saat mendengar pertanyaannya. Perempuan muda berambut pendek itu menaruh kertas yang sedari tadi ia perhatikan di atas meja dan menatap Naruto.

"Kondisinya stabil dan janinnya aman," katanya memulai. "Tapi ia mengalami pendarahan."

"Ya, aku melihat darah saat membawanya kemari," sahut Naruto mengakui. "Tapi darah itu terlalu sedikit untuk sebuah pendarahan."

"Lubang rahimnya kecil," tukas Shizune cepat. "Sehingga saat pendarahan terjadi, darah yang seharusnya keluar justru terjebak dan berputar di dalam rahim."

Shizune melirik kertas-kertas yang bertebaran di mejanya sekilas sebelum kembali melanjutkan.

"Untungnya pendarahan tersebut tidak berasal dari uterus melainkan dari plasenta yang terlepas. Dalam kasusnya saat ini, ia bisa dibilang beruntung karena plasenta yang terlepas tidak terlalu banyak sehingga bisa kita tangani dengan mudah. Tapi jika ia kembali jatuh dengan posisi yang sama, kemungkinan besar plasenta yang terlepas akan jauh lebih banyak. Dan jika itu sampai terjadi, aku tidak punya pilihan lain selain mengakhiri kehamilannya."

Tidak ada reaksi yang diperlihatkan lelaki itu, jadi Shizune memutuskan untuk melanjutkan.

"Selain memar di pipi dan lecet-lecet di lengan dan kakinya, tidak ada luka lain yang perlu dikhawatirkan. Tapi sebagai tindakan pencegahan, kami memintanya untuk menginap malam ini."

Masih tidak ada reaksi dari lelaki yang duduk dihadapannya itu. Wajah Naruto tetap pasif, seolah ia tidak peduli pada semua yang dikatakannya.

Shizune menghela napas dengan terang-terangan.

Inilah salah satu alasan mengapa ia enggan berurusan dengan lelaki bernama Naruto.

Biasanya para kerabat pasien akan memberi respon terhadap apapun yang ia katakan. Entah itu pertanyaan, protes atau hanya bantahan, yang pasti respon mereka akan membuat Shizune merasa dihargai.

Tapi dengan orang seperti Naruto, semua hal terasa canggung. Ia harus terbiasa berbicara satu arah tanpa adanya timbal balik yang memuaskan. Rasanya mengesalkan. Jadi dengan sedikit nekad ia memutuskan untuk menanyakan sesuatu yang sudah sejak tadi mengusiknya.

"Bicara tentang memar, luka-lukanya itu..apa kau yang melakukannya?" tanya Shizune dengan sedikit hati-hati.

"Aku tidak mungkin memukul perempuan," jawab Naruto lembut. "Kau tahu itu."

Shizune mendengus.

Keduanya tahu dengan pasti bahwa kenyataannya justru kebalikannya; Naruto bisa dan mampu memukul perempuan.

Shizune kadang merasa kasihan pada orang-orang yang cari gara-gara dengan seorang Naruto.

Tak sadarkah mereka?

Mengusik Naruto sama saja menggali kubur sendiri.

Tapi di lain pihak, ia juga tidak bisa menyalahkan orang-orang itu. Karena entah bagaimana, sepertinya Naruto punya bakat membuat dirinya sendiri tidak disukai.

Shizune menghela napas lagi.

"Ada satu hal lagi yang harus dipikirkan," katanya. "Dengan luka-luka itu, aku dituntut melaporkannya pada pihak berwajib. Itu salah satu kebijakan rumah sakit ini."

Naruto diam, namun ekspresinya sama sekali tidak terbaca.

Dan raut wajahnya itu mengingatkan Shizune pada saat pertama kali mereka bertemu.

Ia masih menjadi dokter magang dibagian obstetric saat itu dan belum memiliki pengalaman apapun.

Yang selalu ia lakukan hanyalah tugas-tugas kecil seperti mengecek perlengkapan operasi, memastikan kondisi semua ruangan, dan memeriksa ketersediaan obat. Kadang ia harus lembur saat harus mengerjakan laporan rekam medis di bagian administrasi.

Hal terbesar yang ia lakukan hanyalah duduk di bangku memperhatikan garis-garis naik-turun saat operasi berlangsung.

Secara keseluruhan, tidak ada yang istimewa dalam pekerjaannya.

Dan sebagai orang dengan pekerjaan yang tidak seberapa, ia terbilang cukup kompeten, hampir semua orang tahu itu. Shizune bahkan yakin dirinya akan diangkat menjadi dokter tetap tidak lama lagi.

Sampai suatu hari, ia melakukan kelalaian besar saat ia lupa mengecek lemari anestesi sehinga saat pembedahan berlangsung dan otot abdominal pasien terlalu kaku, mereka kekurangan persediaan succinylcholine.

Di tengah kepanikan, Shizune memaksakan diri berlari secepat mungkin ke ruang penyimpanan. Tapi mungkin karena kakinya terlalu pendek atau jarak ruang penyimpaan terlalu jauh, ia tidak dapat kembali tepat waktu.

Saat ia masuk ke ruang operasi, garis lurus tanpa henti di layar osiloskopi menyambutnya.

Karier Shizune hancur saat itu juga.

Ia di pecat. Dan pemecatan lebih buruk dibandingkan diminta mengundurkan diri. Apalagi dengan surat referensi yang tidak begitu bagus dari pihak rumah sakit menjadi pukulan telak yang membuatnya makin terpuruk.

Pemecatan dan surat referensi buruk adalah cap merah dalam riwayat kariernya. Kecacatan. Sudah pasti tidak akan ada rumah sakit yang mau mempekerjakannya lagi.

Dan tentu saja, orang seperti Shizune tidak akan bisa bertahan.

Saat itulah ia bertemu Naruto.

Lelaki itu tengah di rawat di ruangan terbaik oleh dokter senior dengan riwayat karier tanpa cacat hanya kerena lengannya lecet.

Baiklah, lukanya sedikit lebih berat dari lecet.

Tapi tetap saja sobekan yang cukup dalam -mungkin disebabkan karena terjatuh saat ia balapan motor- itu, bukan masalah besar.

Siapapun, bahkan seorang dokter magang yang belum berpengalaman, bisa merawatnya. Tapi pihak rumah sakit justru bertindak seolah pembuluh darah arteri karotis laki-laki itu putus.

Beberapa orang memang sangat beruntung.

Tapi penilaiannya dengan cepat berubah saat lelaki itu menemuinya beberapa hari kemudian dengan sebuah tawaran pekerjaan yang cukup menggiurkan.

Dan tawaran itu datang bersamaan dengan perjanjian yang cukup berat untuk dipenuhi seorang tenaga medis manapun. Tapi untuk orang dengan kecatatan karier, Shizune tidak punya pilihan lain.

Tak sampai satu minggu, ia mendapat posisi sebagai dokter tetap di rumah sakit kecil di wilayah yang cukup jauh dari pusat kota, nyaris pinggiran. Namun semua hal menjadi lebih baik sejak saat itu. Ia menikmati posisi barunya, ia menikmati pekerjaannya dan ia menyukai tempatnya bekerja saat ini.

Sampai pria itu kembali datang dan membawa perempuan hamil yang babak-belur.

"Tidak." Ucapan Naruto sukses membuatnya kembali memusatkan perhatian pada lelaki itu. "Mereka tidak diperlukan." Lalu melanjutkan dengan ringan. "Ini rahasia kita."

Shizune mengangguk pasrah, lagipula apa yang bisa ia lakukan?

"Aku bisa hidup dalam rasa bersalah jika kau juga bisa," gumamnya pelan. Dan lagi-lagi, Naruto bersikap seolah ia tidak mendengar apapun.

"Aku akan melihatnya sekarang."

"Tentu," Sahut Shizune sambil membereskan kertas-kertas data tentang perempuan hamil itu yang berserakan di meja. Lalu menyimpan data hasil pemeriksaan tersebut di lemari pribadinya agar tak tersentuh staff yang lain. "Tapi kurasa sekarang ia sudah tidur," lanjutnya yang dibalas gumaman samar. Dan ketika ia berbalik, lelaki itu sudah pergi.

.

.

Saat Naruto melangkah masuk ke ruang perawatan dimana Hinata berbaring diam di ranjang rumah sakit yang sempit. Sosoknya yang mungil dan pucat itu berada di bawah cahaya lampu yang terang-benderang sementara slang-slang plastik menjulur dari banyak tempat.

Di luar dugaan, mata perempuan itu terbuka sedikit saat Naruto menaruh telapak tangannya yang besar dan hangat di perutnya yang terasa mati rasa dan mengusapnya pelan. Ekspresinya sedikit panik, dan meskipun ia tidak mengucapkan sepatah katapun, Naruto tahu apa yang dicemaskan perempuan itu.

"Dia baik-baik saja," bisiknya tepat di telinga perempuan itu. Naruto mengulangi kata itu lagi dan lagi sampai ia merasakan napas perempuan itu yang mulai tenang dan teratur, lalu tersadar bahwa ia sudah tertidur.

.

.

Dari balik pintu kamar rumah sakit yang tertutup, Hinata dapat mendengar suara-suara kesibukan rumah sakit. Panggilan untuk para dokter, derak listrik statis, derap langkah, bunyi telepon, gemerisik roda, dan gumaman orang-orang.

Dengan pikiran berkabut, ia berusaha mendengarkan dan mengidentifikasi satu persatu darimana suara-suara itu berasal.

Melakukan hal ini mengingatkannya bahwa ia tidak sendirian.

Hinata tidak pernah suka rumah sakit.

Tempat ini selalu berbau obat dan menusuk hidung. Bau aneh itu selalu sukses membuatnya mual.

Setiap sudut ruangan di tempat ini selalu diberi cat putih yang seringkali membuatnya tidak nyaman. Sanak keluarga yang menunggu dengan cemas anggota keluarganya yang dioperasi. Isak tangis yang pecah saat kabar duka disampaikan dokter, dan wajah lelah mereka karena menunggui si sakit adalah pemandangan sehari-hari yang wajar dan selalu terjadi disini.

Dan meskipun orang-orang bilang rumah sakit adalah tempat orang-orang untuk menyembuhkan diri, faktanya, setiap satu menit ada lebih dari satu pasien yang meninggal dunia.

Seperti ibunya yang melahirkan Hanabi.

Seperti ayah Neji-nii, paman Hizashi.

Dan seperti anaknya..

Tidak, belum ada kepastian untuk itu.

Dokter yang merawatnya tidak menceritakan apapun. Ia hanya memeriksa tubuhnya, membersihkan dan mengobati lukanya lalu menyuntikkan sesuatu ke pembuluh darahnya, dan setelah selesai, ia pergi.

Dan hal itu membuat Hinata tidak tenang.

Ia bisa merasakan matanya yang berat, tubuhnya yang kelelahan, dan kesadaran yang mulai tidak fokus.

Tapi kecemasan membuatnya tetap terjaga.

Jadi Hinata kembali mendengarkan. lagi dan lagi.

Dan terus seperti itu sampai akhirnya keletihan merayapi tubuhnya dan ia mulai menutup mata. Membiarkan rasa kantuk menguasainya.

Ia benar-benar tidak mendengar ketukan di pintu ataupun suara yang memanggil namanya.

Suara pintu yang berderit terbuka disertai langkah kaki yang makin jelaslah yang membuatnya tersadar bahwa seseorang telah masuk ke kamar itu.

Dengan pikiran berkabut, samar-samar Hinata menyadari seseorang mendekati tempat tidurnya.

Ia harus mengerahkan segenap tenaganya hanya untuk membuka mata. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya dipenuhi kecemasan. Membuatnya tak henti waspada.

Dengan sangat mengantuk, ia melihat wajah Naruto Namikaze.

Dan tiba-tiba saja, Hinata merasakan kilasan rasa cemas yang tadi dirasakannya berubah menjadi kepanikan saat lelaki itu menyentuh perutnya.

Ia benar-benar tidak mau disentuh olehnya.

Tidak mau!

Tapi anehnya, pria yang pernah melecehkannya itu mengusap perutnya dengan cara yang membuatnya takjub. Caranya membelai seolah menggambarkan ketakjiman seorang umat yang menyentuh batu suci untuk pertama kali.

Lembut dan hati-hati.

Tapi takjim tidak bisa menjelaskan dengan tepat emosi yang memenuhi mata biru itu.

Terlalu lembut, hingga Hinata khawatir ini cara terbaru lelaki itu dalam menyiksanya. Untuk kembali menyakitinya.

"Dia baik-baik saja."

Hinata kembali tertegun, ia sedikit merasa linglung. Yang ia tahu hanyalah Naruto ada disini. Keberadaannya yang mendominasi. Berdiri begitu dekat sehingga ia dapat menghirup aroma aftershave-nya, dan Hinata bisa merasakan kehangatan tubuh lelaki itu disisi tubuhnya.

Tapi anehnya, ia merasa -untuk pertama kalinya- Naruto tidak terlihat berbahaya.

Dan ia harus benar-benar mengingatkan dirinya bahwa pria itu musuh. Kunjungan ini, apapun tujuannya, tidak mengubah apapun di antara mereka. Namun pada saat yang sama, ia merasa terlindungi.

Merasa aman.

Dan saat memejamkan mata, ia tidak mengingat apapun selain suara Naruto yang terus berbisik di telinganya.

Dia baik-baik saja.

Ya, bayinya baik-baik saja. Dan mengetahui hal itu sudah lebih dari cukup.

.

.

Dalam diam Naruto mengamati wajah pucat perempuan itu.

Rambutnya tergerai kusut di bantal, dan memar di wajah wanita itu telah mengubah sebelah pipinya jadi berwarna biru jelek. Naruto merasakan luapan emosi yang sudah lama tidak ia rasakan.

Emosi ini sungguh tidak terduga. Bahkan hampir tidak masuk akal sehingga ia sendiri tidak menyangka hal itu mungkin.

Dibelainya pipi memar itu dengan telunjuknya dan melihat dahi Hinata sedikit mengernyit karena ulahnya itu.

Naruto tersenyum, nyaris geli.

Tapi jarinya tidak berhenti di situ. Disingkirkannya poni yang menghalangi wajah perempuan itu dan disentuhnya kerutan was-was yang tergurat di dahi.

Saat itulah seseorang masuk tanpa repot-repot mengetuk pintu.

Dari balik bahunya Naruto bisa melihat Shikamaru Nara yang berjalan mendekat dengan tampang ogah-ogahan.

"Keluar makan siang dan berakhir sebagai pengunjung rumah sakit. Adakah yang lebih epik dari ini?" Komentarnya.

Dilihatnya seorang perempuan yang berbaring diam di hadapan mereka. Dan meskipun Shikamaru tidak tahu separah apa kondisi perempuan itu sampai temannya mau menungguinya disini.

Wajahnya mungkin sedikit memprihatinkan, tapi tidak akan membuatnya cacat. Ia yakin setelah memar-memarnya hilang, perempuan itu akan cantik lagi.

"Aku tahu fetish-mu pada perempuan di luar kewajaran, tapi sampai menghamilinya.." gumam Shikamaru sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Benar-benar bukan gayamu."

Komentar Shikamaru menarik perhatian Naruto.

"Dan kau sudah tahu gayaku?"

Shikamaru memutar bola matanya. "Jangan menyanjung dirimu sendiri," katanya, lalu dengan sungguh-sungguh bertanya, "apa yang akan kau lakukan padanya?"

"Membawanya ke rumah, apa lagi?" sahut Naruto santai. "Aku bisa lebih mudah mengontrolnya di sana."

Shikamaru menoleh dengan terkejut. "Rumah?"

"Rumah," ulang Naruto pasti.

Shikamaru memejamkan mata dan mulai menghitung satu sampai sepuluh dalam hati.

Tapi upayanya menenangkan diri tidak berhasil.

Ia membuka matanya dan menatap Naruto. Kali ini dengan ekspresi menyerah sepenuhnya. Ia bertekad tidak mau ikut campur lagi. Urusan lelaki itu akan menjadi urusannya sendiri.

Masalah dia!

Biasanya Shikamaru mempunyai dua pilihan terfavorit jika dihadapkan pada situasi tak menyenangkan; tutup mata atau segera pergi dari sana. Ia mengenyahkan option ikut campur karena terlalu merepotkan jika hal itu benar-benar dilakukan.

Tapi Hinata Hyuuga akan menghuni rumah Namikaze Naruto. Dan tidak ada yang biasa lagi.

"Sekretarismu kelimpungan dan mencarimu sejak tadi," katanya mengubah topik pembicaraan. "Dan laki-laki itu sudah ada di tempat yang kau inginkan."

Naruto tersenyum, tapi Shikamaru tidak melihat kegembiraan dalam senyumannya itu.

"Bagus," kata Naruto tenang. Dan ia langsung merasakan firasat buruk.

"Apa yang akan kau lakukan?" tanyanya saat lelaki itu mencapai pintu.

Naruto tersenyum, lagi. Senyuman lembut yang membuat bulu kuduk Shikamaru berdiri seketika.

"Menggergaji lututnya."

Dan dia pergi.

Shikamaru mendesah. Ia harus mulai menulis surat wasiat.

.

.

.

Cahaya yang terlalu terang seperti membakar pelupuk matanya yang terpejam. Seolah selusin matahari bersinar tepat di atas kepalanya!

Hinata mendengar suara-suara, yang samar-samar dikenalinya, memanggil diatasnya. Pelan-pelan, dengan pedih, ia membuka mata.

Yang pertama kali dilihatnya adalah lampu yang terlalu terang, bersinar menyilaukan di atasnya. Lalu sedikit demi sedikit, ia memandang wajah wanita yang tersenyum di samping ranjangnya, seseorang yang sepertinya ia tahu. Namun, dengan kepala baru bangun tidur, ia tidak bisa mengenalinya sama sekali.

Ia memusatkan perhatiannya dengan susah payah pada nametag perawat itu, Eri Takami.

Sekarang ia ingat.

Perempuan itu adalah ibu dari salah satu anak di kelasnya.

"Selamat pagi Hinata-san," sapa Eri ramah yang dibalas Hinata dengan gumaman lemah. "Maaf aku membangunkanmu, tapi jika tidak kulakukan. Kau bisa kelaparan dan itu tidak bagus untuk bayi." Katanya, lalu menambahkan dengan nada cemas, "bagaimana perasaanmu? Apa masih merasa sakit?"

Errr…entahlah, batinnya setelah berpikir sesaat.

Hinata tidak tahu.

Panca indranya kembali berfungsi satu per satu, tetapi tidak seperti kemarin, rasa sakit belum terasa. Mungkin ia perlu waktu beberapa saat untuk menyadari sinyal-sinyal yang diterima otaknya. Atau mungkin ia hanya menderita mati rasa sementara karena ia dapat merasakan embusan angin dingin yang berasal dari AC tapi tidak dengan rasa sakit.

Tidak. Dibandingkan sakit, ia justru merasa..letih.

Lalu komentar Eri tentang bayi mulai merasuk dalam kepalanya.

Hinata mengeluh pelan. Ini hanya berarti satu hal; dengan Eri sebagai pelantara, berita akan cepat menyebar tanpa Hinata perlu turun tangan.

"Malam yang mengerikan sekali, aku tidak menyangka kau akan mendapat serangan semacam itu," komentar si perawat sambil membantu Hinata mengusap wajahnya dengan handuk basah.

Ya, Hinata pun tidak menyangka.

Berapa kalipun ia me-reka ulang semua kejadian yang terjadi kemarin, tetap saja terasa tidak nyata.

Semuanya terasa aneh.

Kemarin ia bangun di tempat tidurnya sendiri, beraktifitas seperti biasa, lalu kemudian ia berada disini karena dipukuli.

Diperhatikannya Eri yang meletakkan meja kecil diatas pangkuannya lalu dengan cekatan mengatur mangkuk-mangkuk berisi menu sarapannya pagi itu. Ia mengambil sendok dan mulai mencicipi sup kental hangat yang beraroma harum saat Eri mengatakan, "para tetangga sibuk bergosip sejak pagi. Mereka khawatir. Apalagi orang-orang yang merampok rumahmu belum tertangkap."

Hinata hampir tersedak.

Perampok?

Sejak kapan?

"Tapi untunglah suamimu datang disaat yang tepat."

Ya, untunglah su..

Tunggu dulu.

"Suami?" celetuk Hinata dengan suara tercekik

"Iya, suamimu," ulang Eri lagi dengan nada jahil menggoda. "Dia benar-benar tampan." Ia mendesah saat mengucapkan kalimat terakhir. "Kalau saja suamiku bisa sedikit.."

"Kau tidak ingin menjadikannya suami," sergah Hinata gemas. "Dia brengsek!" katanya seolah hal itu menjelaskan segalanya. Tapi bukannya tersadarkan, Eri justru menatapnya penasaran.

"Seberapa brengsek?"

"Sangat," ucap Hinata tegas. "Dia meniduriku saat aku mabuk, lalu meniduriku lagi keesokkan harinya, kemudian membuatku dipecat dari pekerjaan yang sudah susah payah kudapatkan, lalu menerorku!"

"Landasan hubungan yang bagus untukku," komentar Eri manis.

Hinata langsung terdiam dengan pandangan menerawang, sekarang benar-benar merasa mati rasa.

Seandainya pikirannya tidak begitu shock, mungkin Hinata akan senang membantah ocehan Eri.

Tapi ini bukan sekedar ocehan.

Ia tidak lagi memiliki minat menanggapi perempuan itu dan lebih memilih menyuap sarapannya banyak-banyak. Ia punya bayangan tentang siapa orang yang dimaksud suami oleh Eri. Tapi untuk alasan yang cukup jelas, ia tidak mau memikirkannya lebih jauh.

Kebohongan kecilnya telah berubah menjadi sesuatu yang mengerikan.

.

.

.

Temari Sabaku tidak pernah menaruh hormat pada makhluk berjenis kelamin jantan. Atau dalam bahasa yang sederhana disebut laki-laki.

Mereka makhluk paling mudah ditebak, egois, sok berkuasa, yang meletakkan otaknya di selangkangan!

Contoh nyata dari semua itu berdiri tepat di depannya; Shikamaru Nara. Lelaki dengan perwujudan dari semua sifat yang tidak disukainya dari semua pria ada dalam satu tubuh.

Itu mengerikan, terlebih fakta bahwa ia menjalin kerjasama dengan peusahaannya yang mengharuskan Temari bertemu dan berinteraksi dengan lelaki ini sesering yang bisa ia hindari.

Temari menghela napas. Diam-diam menguatkan hati menghadapi nasib naasnya ini.

Mereka sekarang berada di sebuah restoran yang sudah sejak setahun lalu melayani pemesanan catering dan tengah melihat-lihat isi menu selama beberapa menit.

Menu yang ditawarkan cukup beragam dan masing-masing memiliki tampilan menarik. Meskipun begitu, Temari sama sekali tidak punya bayangan tentang kualitas makanan di tempat ini sementara lusa ada rapat penting pertama yang ia adakan.

Dan semua orang tahu, di bawah pengawasannya, semua harus sempurna.

Anggapan itu benar-benar sebuah tekanan tersendiri yang kadang membuatnya was-was. Tapi di lain pihak, juga sebuah kebanggaan karena secara tidak langsung, orang-orang telah mengakui dedikasinya.

Hanya saja..ia sama sekali bukan ahli kuliner. Masak saja ia belum pernah. Makan suka-suka. Dan sekarang, ia justru harus memilih makanan dengan cita rasa yang bisa diterima semua orang.

Ini bencana!

Temari harus bagaimana?

Tapi Kankurou sepertinya yakin sekali saat merekomendasikan tempat ini. Jadi untuk lebih meyakinkan diri, ia mengajak lelaki Nara ini sebagai pendapat kedua.

Keputusan yang langsung ia sesali.

Saat tiba, mereka langsung disambut pemilik restorannya sendiri. Seorang perempuan muda langsing dengan senyum lebar yang membuatnya mirip kodok pakai lipstick merah. Dan Shikamaru tidak mau repot-repot menutupi ketertarikannya pada 'aset' perempuan itu.

Memalukan!

Temari benar-benar tidak tahan untuk tidak membuang muka saat partner kerjanya ini tidak henti-hentinya memelototi dada perempuan itu.

Payudaranya -yang jelas-jelas karya implant- seperti dua buah melon yang dijejalkan. Terlihat penuh sesak di balik kemeja yang ia kenakan. Dan parahnya, 3 kancing kemeja itu tidak dikancingkan. Memperlihatkan dengan jelas belahan dada yang provokatif.

Karena sudah tak tahan, akhirnya ia memilih memperhatikan ruangan tempatnya berdiri saat itu. Restoran ini cukup bagus menurut penilaiannya. Pencahayaannya cukup, tidak terlalu gelap seperti beberapa tempat yang pernah ia kunjungi. Mempunyai beberapa ruang terbuka yang diisi aneka buket bebungaan. Salah satunya dipakai sebagai model lukisan yang dipajang di dekat pintu masuk.

Temari paham kenapa rangkaian bunga itu dipilih.

Gabungan bebungaannya indah sekali. Campuran anggrek hijau, lili merah dan mawar kuning menghasilkan perpaduan yang tak biasa tapi bisa terangkai dengan apik.

Sayangnya, sang pemilik tak berbakat menangkap keindahan warna alami rangkaian bunga itu. Bahkan, Temari dengan kejam menambahkan, lukisan Gaara saat duduk di bangku sekolah dasar masih lebih bagus dari ini. Dan itu menjelaskan sesuatu, karena Gaara sangat jarang dapat nilai tinggi di pelajaran kesenian.

Satu-satunya karya yang layak diapresiasi hanya buah dada perempuan itu.

Dan secara tidak mengejutkan, Nara Shikamaru masih terus menatapnya meskipun mereka telah digiring untuk duduk di salah satu meja.

"Kami mendapat saran dari seseorang bahwa anda membuat sesuatu dengan cita rasa yang…mengesankan," ucap Temari sedikit tak ikhlas sambil melirik Shikamaru. Tapi rupanya perempuan itu tak menangkap kegetiran penuh keterpaksaan dari ucapannya dan malah terlihat senang.

"Siapapun orang itu, dia benar."

Temari mencibir diam-diam sambil menerima buku menu yang disodorkan padanya dengan setengah hati. Saat ini yang sangat menggugah minatnya adalah patung tanpa kepala di sudut ruangan. Pasti menyenangkan sekali menghantamkan benda itu ke kepala Shikamaru.

Sekeras yang ia bisa.

Perhatian Shikamaru yang berlebih rupanya mulai membuat perempuan itu risih. Ia kemudian membungkuk untuk mensejajarkan pandangan mereka. Tapi Shikamaru justru malah mengikuti gerak tubuhnya, fokus pada buah dada yang menyembul itu.

"Tuan, apa anda siap memesan?" katanya dengan manis. Berusaha membuat pandangan Shikamaru beralih ke wajahnya.

Seolah tersadar, Shikamaru berdehem dan menganggukkan kepala. "Tentu."

Temari meminum air putih yang disediakan diatas meja dan menyemburkannya sedetik kemudian saat Shikamaru berkata, "Tolong bereskan bajumu."

"Be-bereskan?"

Shikamaru mengangguk lagi dengan kalem.

"Itu tidak normal," katanya sambil menunjuk belahan dada yang rendah itu. "Harus diperbaiki!"

Temari terbatuk tidak terkendali. Sementara wajah perempuan itu berubah menjadi kerutan marah yang terlihat jelek.

"Keluar," desisnya marah. Lalu mulai berteriak histeris saat Shikamaru maupun Temari tidak juga bergerak. "Keluar!"

Shikamaru mengangkat bahu tak acuh lalu beranjak pergi ke pintu dimana ia masuk tadi. Temari mengikuti di belakangnya dengan pikiran linglung. Terpukau dengan kejadian yang baru saja ia saksikan.

Ia merasa pikirannya berputar lalu dengan terkesima ia menatap punggung tegap Shikamaru. Kepalanya seperti mendapat pencerahan. Ia terpesona.

Dalam benaknya, Shikamaru yang dekil muncul dalam sosok baru. Sosok yang sangat..keren!

Dan pencerahan itu sungguh dahsyat sehingga Temari tidak bereaksi saat lelaki itu mengedikkan kepalanya ke arah restoran di belakang mereka dan berkata, "Dasar perempuan," Shikamaru menggeleng-gelengkan kepala. "Sangat tidak rasional."

Oh tuhan..

Apakah Temari baru saja jatuh cinta?

.

.

Faktanya, bukan buah dada perempuan itu yang mengusik Shikamaru, melainkan tiga kancing kemeja yang sengaja dilepas itu. Tiga merupakan angka ganjil. Dan Shikamaru benci angka ganjil. Karena seperti namanya, ganjil adalah ketidak-sesuaian. Keganjilan. Dan ia benar-benar tidak menyukainya.

.

.

.

Hinata duduk sendirian di solarium sambil menatap matahari tenggelam dengan pandangan berbinar terpesona. Ia suka melihat saat langit senja berubah jingga terang lalu berganti lembayung lembut sebelum kemudian gelap sepenuhnya.

Eri baru saja mencuci dan mengeringkan rambut Hinata sebelum kemudian pergi mengerjakan tugas rutinnya yang lain. Tapi meskipun ditinggal sendirian, ia sama sekali tidak merasa kesepian.

Dalam suasana yang damai itu, ia sama sekali tidak mendengar kedatangan Naruto saat pria itu masuk, tapi bisa melihat bayangannya dari pantulan kaca jendela. Hinata menoleh. Penampilan lelaki itu masih sama mengintimidasinya seperti kemarin-kemarin. Bahu tegap itu dibalut dengan kemeja yang terkancing rapi tanpa dasi.

Beberapa tahun lalu, Hinata pasti akan menjerit senang melihat pria itu datang menjenguknya tanpa embel-embel 'menemani Eimi'.

Pastilah sangat menyenangkan menerima rangkaian bunga yang dibelikan khusus untuknya. Perhatian yang hanya ditujukan untuknya.

Semua hanya untuknya.

Tapi sekarang, imbalan perasaan senang semacam itu terasa murah. Sama sekali tidak berarti apa-apa.

"Kurasa aku berhutang terimakasih padamu," kata Hinata dengan lancar saat tak ada seorangpun dari mereka bicara.

"Ya," laki-laki itu menatapnya tanpa berkedip saat berjalan mendekat. Lama mereka bertatapan dengan tegang.

"Imbalan apa yang akan kau berikan?" tanyanya.

Hinata memandangnya kaku. Tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu. "Apa yang kau inginkan?"

"Tubuhmu."

Setiap otot di tubuh Hinata menegang dengan tiba-tiba. Wajahnya memerah. Bahunya terangkat seolah siap bertahan jika diserang. Beberapa saat kemudian bibir Naruto berkedut membentuk senyuman sinis yang Hinata rasa sudah menjadi ciri khasnya. "Aku tidak akan menagihnya malam ini."

Hinata mengangkat wajahnya dengan dagu terangkat, "Aku memang berterimakasih, tapi tidak akan kubiarkan kau menyentuhku." Ia bangkit dari duduknya dengan masih menatap pria kurang ajar itu. "Lagipula, apa yang kau lakukan di rumahku?" lalu dengan curiga ia menambahkan, "kau memata-mataiku?"

Naruto mendengus meremehkan.

"Kau tidak bisa melakukan apa-apa meski aku memang melakukannya."

Hinata berusaha mengontrol reaksinya saat pria itu mendekat. Tubuhnya seketika waspada. Kenyataan bahwa hanya ada mereka berdua disini membuatnya khawatir.

Nyatanya, yang dilakukan Naruto jauh lebih sederhana dibandingkan dugaannya semula; ia menempelkan telapak tangannya ke perut Hinata sementara tangan yang lain menjambak rambut dan menekan kepalanya hingga gadis itu tidak bisa menggerakkannya. lalu ia menunduk hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti, "Kau memiliki sesuatu yang jadi milikku."

"Dia tidak akan pernah menjadi milikmu," desis Hinata, mengabaikkan sedikit rasa sakit saat Naruto memperkuat cengkramannya.

"Dia milikku," ia mengelus perut Hinata sekilas, matanya masih menatap perempuan itu. "Kau juga."

Sebelum Hinata bisa membantah, ia melepas cengkramannya. Naruto melirik jamnya sekilas, "sudah waktunya kita pergi."

Hinata menggigit bagian dalam pipinya, mencoba memahami motivasi pria itu. "Aku tidak akan pergi kemanapun denganmu."

Wajah Naruto mengeras lalu mencengkram lengan atasnya. Dengan segera menyeretnya keluar dari sana. Secara harfiah.

"Lepaskan!"

Sambil tersenyum, lelaki itu mengabaikan jeritannya. Orang-orang sepanjang lorong itu menatap heran pada mereka, tapi tidak ada seorangpun, bahkan security di depan lobi, turun tangan untuk membantunya.

Dimana keadilan?!

"Masuk."

Tubuh Hinata di dorong masuk ke dalam mobil yang hampir sama seperti kemarin. Hanya saja kali ini Naruto ikut duduk di sampingnya. Pria itu bahkan membantunya mengenakan sabuk pengaman yang segera ditepis Hinata kasar.

Hinata tidak mengatakan apapun setelah itu, bahkan ketika kendaraan yang mereka tumpangi memasuki jalanan yang ramai padat. Tapi raut wajahnya mengungkapkan emosinya dengan jelas. Wanita itu marah. Tapi Naruto tidak peduli. Perempuan itu boleh merajuk sepuasnya, dan ia tetap tidak akan bisa lepas.

Tidak lagi.

Hinata memandang pemandangan di luar, jendelanya ia buka lebar-lebar. Tidak peduli perbuatannya itu mendapat tatapan tidak suka dari lelaki yang duduk di sampingnya. Membiarkan angin malam membelai wajahnya yang memerah karena marah membuatnya sedikit lebih tenang. Ia menarik napas pelan. Benar, ia harus tetap tenang.

Berdekatan dengan Naruto terlalu lama memang memunculkan sikap terburuknya, tapi Hinata tidak akan membuat hal itu mempengaruhinya lebih lama.

Setelah beberapa saat, ia merasa lebih baikan.

Kepalanya terkulai di sandaran. Senyum menghiasi bibirnya. Angin yang masuk lewat celah jendela mulai terasa nyaman. Pelupuk matanya terpejam.

Ia hanya perlu meyakinkan diri bahwa saat kembali ke rumah, semuanya akan kembali seperti semula. Dan ia bisa tidur dengan lebih baik.

Sementara itu, Naruto memperhatikan kelakuannya dalam diam.

Kepala perempuan ini kini menghadap ke arahnya, yang membuatnya tersadar perempuan itu sudah tertidur. Payudaranya naik turun seiring dengan napasnya yang teratur. Keduanya terlihat menggiurkan untuk disentuh di balik pakaiannya yang sedikit tipis. Bra berendanya tercetak jelas. Roknya tersingkap saat ia duduk tadi, memperlihatkan paha seputih susu yang menggoda. Kedua lututnya sedikit terbuka.

Kejantanannya tergugah.

Yang perlu ia lakukan hanyalah mengulurkan tangan dan Naruto bisa menjelajahi setiap inci tubuh perempuan itu.

Naruto hanya tidak tahu kenapa ia bisa menahan diri.

Menghela napas, ia mengalihkan tatapannya dan melihat wajah damai perempuan itu.

Pikirannya berkejaran. Menggali ingatan masa lalu yang samar-samar dan buram. Ia ingat perempuan ini. Ia ingat Hinata dalam sosok samar yang tidak menarik perhatian. Seperti bayangan. Ia bergerak, mengikuti, tidak terdeteksi, dan keberadaannya sangat mudah diabaikan. Tapi semua orang tahu ia ada.

Naruto juga dulu seperti itu, dalam taraf yang berbeda tentu saja, tapi tidak mengubah kenyataan bahwa mereka tetap sama.

Ia mungkin memang mudah dikenal, tapi itu hanya karena ia menyukai semua perhatian yang ditujukan padanya.

Kenyataannya, ia terus mengejar sinarnya sendiri; Sasuke. Teman sekaligus rival-nya. Tanpanya, mungkin Naruto tidak akan seaktif itu. Keberadaan Sasuke disyukuri sekaligus disesali karena secara tidak langsung membuatnya seperti bayangan pria itu.

Lalu ia bertemu Sakura, sinarnya yang lain.

Gadis itu adalah gadis pertama yang membuatnya terpikat. Ia suka warna iris matanya, hijau terang yang terlihat cerdas. Ia suka rambutnya yang mencolok dan berbeda dari anak perempuan lain. Helaian rambut lembut berwarna merah muda yang sangat sesuai dengannya.

Tapi yang lebih membuatnya terpesona adalah senyumannya. Ia suka melihat gadis itu tersenyum, walaupun senyuman itu tidak pernah ditujukan untuknya.

Lalu cintanya berakhir.

Berakhir begitu saja sehingga ia tidak sempat merasa terguncang.

Semuanya terjadi di musim semi, saat kelopak bunga sakura bermekaran, ia melihat kedua orang itu saling berpegangan tangan. Tanpa perlu diberitahupun ia tahu kesempatannya telah berakhir.

Mereka berdua tersenyum hangat, terlihat serasi saat bersama. Tanpa cela. Seolah mereka memang diciptakan untuk satu sama lain sebagai pasangan.

Semua orang tahu mereka berpacaran sejak hari itu.

Yang tidak mereka ketahui adalah Sakura mendatanginya.

Dengan ringan dan penuh percaya diri menyatakan perasaan Naruto hanyalah bagian dari ambisinya untuk mengalahkan Sasuke. Dan ia tidak bisa menerima lelaki dengan tujuan rendah seperti itu.

Gadis itu sama sekali tidak punya gagasan betapa salahnya dia. Naruto memang tidak mempunyai prestasi apapun dalam bidang akademis, bahkan bisa dibilang otaknya pas-pasan.

Tapi ia sangat tahu apa yang ia rasakan. Perasaannya pada Sakura, murni datang dari hati. Bukan ambisi ataupun ilusi. Keberadaan Sasuke sama sekali tidak punya peran apapun pada perasaannya.

Lalu ia bertemu Eimi, gadis yang sangat mirip Sakura.

Gadis yang sempurna.

Dan ia mendapatkan cintanya lagi.

Saat itu ia juga bertemu Hinata, si gadis aneh yang lebih banyak diam.

Ia tidak suka membaur, tidak suka berkumpul dalam kelompok, lebih senang jika orang lain menyeretnya dalam pembicaraan dan bukan sebaliknya. Kepalanya selalu menunduk, selalu ragu, dan akan merengut takut ketika seseorang bicara padanya.

Di satu sisi, sikapnya ini terlihat manis seperti kucing liar minta disayang. Tapi di satu sisi yang lain, kebiasaannya yang selalu tergagap benar-benar mengesalkan.

Dua sisi, satu kepribadian.

Tipe yang tidak akan bisa dimengerti Naruto. Gadis itu bahkan nyaris pingsan dipertemuan pertama mereka.

Naruto menggeleng pelan.

Sebenarnya Hinata gadis yang menarik, setidaknya itu yang ia pikirkan, dan ia tidak pernah keliru dalam menilai karakter seseorang. Tapi Naruto lebih suka berurusan dengan gadis agresif yang tidak segan mengungkapkan pendapatnya.

Sementara gadis seperti Hinata hanya membuatnya kelabakan, karena ia sama sekali tidak punya gambaran mengenai apa yang sedang mereka pikirkan.

Lagipula ayahnya pernah bilang semakin cantik seorang perempuan, semakin berbahaya mereka. Dan ia sangat setuju. Ibunya, Kushina, adalah perempuan yang sangat cantik bahkan diusianya yang hampir menginjak tiga puluh tujuh tahun. Tapi ia masih memiliki pukulan yang sangat menyakitkan.

Jadi sebelum bahaya benar-benar menimpanya, Naruto memilih mundur dan bergelut dengan sesuatu yang ia kuasai; pedekate dengan Eimi.

Selama bertahun-tahun perempuan itu menguasai pikirannya, dan bertahun-tahun pula, perasaannya masih sama seperti saat pertama kali ia melihat perempuan itu.

Tidak diragukan lagi, gadis itu sempurna sebagai pengisi hatinya yang masih patah hati saat Sakura lebih memilih sahabatnya, Sasuke.

Dan semuanya terasa sempurna.

Cintanya bersambut. Mereka berpacaran. Ia diterima di universitas unggulan. Mungkin ia akan menghabiskan waktu empat sampai lima tahun untuk kuliah, lalu bekerja di perusahaan ayahnya dan mewarisi perusahaan tersebut suatu hari nanti. Di usianya yang ke 27, ia akan melamar Eimi. Karena pada usia tersebut ia berpikir dirinya pasti telah mendapatkan semuanya; pendidikan, karier dan kemapanan. Dan mereka akan memiliki banyak anak. Akhir bahagia untuknya.

Atau begitulah yang ia pikirkan.

Setidaknya sampai ia tahu bahwa gadis cantik yang ia sukai dengan sepenuh hati ternyata hanya memanfaatkannya. Konsekuensi dari pengkhianatan itu adalah keterpurukan perusahaan yang dipimpin sang ayah. Keluarganya yang jatuh miskin, ayahnya yang kemudian sakit-sakitan dan meninggal saat tidur. Lalu ibunya yang mati bunuh diri beberapa hari setelah ayahnya dikebumikan.

Dan Naruto menyaksikan semua itu dengan perasaan kosong.

Dalam beberapa hal, ia memang sudah mati. Jadi, saat dirinya merasakan gemeretak tempurung kepala ayah Eimi yang retak di telapak tangannya, ia tidak merasakan apapun.

Tidak juga kesenangan karena sakit hatinya terbalas.

Ingatan yang sepele itu, pikirnya miris, datang bersama rasa kehilangan yang tajam. Karena gadis pemalu yang selalu ia ingat sekarang sudah tidak ada. Berganti dengan sosok perempuan keras kepala menggairahkan yang tengah mengandung anaknya. Ia bahkan terkesan pada kerapuhannya yang dengan gagal disembunyikan perempuan itu.

Perempuan ini jelas akan cocok dengan kepribadiannya yang sekarang.

Hinata kuat, ia tidak akan tersakiti dengan sikapnya. Ia yakin dengan hal itu.

Tatapannya beralih pada perut perempuan itu dan tersenyum.

Anaknya..

Seseorang yang akan ia cintai, dan akan mencintainya. Dan baginya itu sudah cukup. Ia tidak peduli tanggapan si ibu. Sudah jelas perempuan itu tidak menginginkannya. Dan itu sama sekali bukan masalah.

Bagi orang serusak Naruto, memang tidak pernah ada siapa-siapa.

.

.

to be continue