Chapter 5. Falling
.
.
Shikamaru melirik wanita yang berjalan di sampingnya dengan waspada.
Temari Sabaku.
Wanita terganas, terbrutal dan perempuan paling merepotkan yang pernah ia kenal, tersenyum manis sepanjang perjalanan mereka keluar lobi. Sikapnya yang tidak biasa itu sudah berlangsung sejak mereka meninggalkan restoran.
Benar, restoran, batinnya setengah merenung.
Setelah insiden diteriaki di restoran pertama, mereka memutuskan untuk mencari tempat lain yang lebih aman.
Dan dari sanalah Shikamaru mulai menyadari sikap aneh Temari.
Bukan, Shikamaru bukan ingin mengatakan Temari merencanakan sesuatu, ataupun menghakimi seperti halnya pria lain yang mengatakan bahwa 'wanita selalu melakukan sesuatu dengan niat tersembunyi di balik setiap perilakunya'. Tidak, Shikamaru tidak akan mengatakan bahwa Temari seperti itu.
Dia lebih buruk!
Pertama, karena dia perempuan. Perempuan berarti merepotkan.
Kedua, dia merepotkan.
Ketiga, dia merepotkan.
Seseorang dengan kategori triple merepotkan tidak akan bersikap ramah pada sesama, karena mereka terlalu sibuk berbuat sesuatu yang merepotkan untuk peduli.
Dan seketika, tanpa peringatan, Shikamaru tahu; ada yang tidak beres. Ia yakin sesuatu yang salah sedang terjadi pada diri perempuan ini.
Sekarang dia curiga.
Shikamaru melirik Temari dengan seksama dan kembali merasa was-was. Bulu kuduknya meremang.
Refleks, ia sedikit menjauhkan diri. Dalam hati menolak berpikir ia takut.
"Perlu kutemani check-in?" tawar Shikamaru saat perempuan itu membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya. Bagaimana pun, basa-basi itu perlu.
Temari mendongakkan kepala, menatapnya, lalu tersenyum hangat. "Aku sudah check-in kemarin. Tapi terimakasih."
Dan setelah mengatakan itu, ia segera duduk dengan manis di belakang stir pengemudi.
Baiklah. Sekarang ia benar-benar takut.
Dari dulu ia telah menyadari bahwa wanita memang spesies yang berbeda. Makhluk asing. Itulah satu-satunya penjelasan kenapa mereka begitu sulit dimengerti.
Tapi tidak begini juga!
Perubahan drastis seperti ini hanya membuatnya cemas. Shikamaru menggaruk belakang kepalanya dengan canggung. Ia sama sekali tidak mengerti perempuan. Dan rasanya, tidak akan mungkin bisa mengerti.
"Kalau begitu sampai nanti," ujar Shikamaru akhirnya.
"Sampai nanti," balas Temari manis. Kemudian menutup pintu dan menstarter kendaraannya, melambai sekilas pada Shikamaru, lalu melajukan mobilnya di jalan. Bergabung dengan hiruk-pikuk yang tercipta dari arus kendaraan lain.
Shikamaru terdiam di tempatnya selama beberapa saat -menatap sampai kendaraan yang dikemudikan Temari semakin mengecil dan menghilang di ujung jalan -lalu dengan malas-malasan berbalik masuk kembali ke dalam gedung besar tempatnya mencari nafkah.
Dalam hati ia memutuskan, sikap antik Temari ini adalah bagian dari misteri Ilahi dan tidak akan memikirkannya lebih jauh.
Memikirkan hal sepele seperti itu tidak pernah baik untuk kesehatan.
Lobi masih tidak terlalu ramai seperti beberapa saat lalu. Namun saat menunggu lift, ia menyadari kedatangan sekelompok perempuan muda berjalan ke arahnya dan berhenti tepat di belakang Shikamaru.
Kelihatannya mereka sedang terlibat perdebatan seru, jadi saat pintu lift terbuka, Shikamaru segera masuk dan menempatkan dirinya sendiri di belakang, dengan baik hati memberi ruang pada para perempuan itu agar mereka bisa dengan leluasa kembali melanjutkan apapun yang ingin mereka lanjutkan.
Anehnya, dengan ruang yang sudah tersedia itu, mereka malah diam. Hanya sesekali saling berbisik antara satu dengan yang lain.
Hhhh, perempuan.
Shikamaru menyerah.
Perempuan memang makhluk yang tidak akan mungkin bisa dimengerti!
Di lantai sepuluh, ia keluar dan langsung menuju ke ruang kerjanya yang nyaman dan tenang. Meskipun batinnya sedikit merutuk saat melihat laporan keuangan yang menumpuk bulan ini. Menunggu untuk diperiksa sebelum akhirnya diserahkan pada Naruto untuk di setujui dan di tanda tangani.
Ia mengambil berkas ke lima, melihat sekilas, lalu melemparkannya kembali ke atas tumpukan map di atas meja kerjanya.
Ini tidak bagus.
Suasana hatinya masih buruk setelah diteriaki perempuan gila di restoran untuk bisa kembali bekerja dengan normal.
Ia butuh suasana baru, putusnya sambil keluar dari ruangannya.
Waktu makan siang tinggal sebentar lagi, tapi hal itu tidak menghentikannya memikirkan tempat mana yang akan ia singgahi. Ia menginginkan tempat dengan 'pemandangan tenang'.
Tapi kemana ia akan mampir?
Choji biasanya tahu semua tempat makan yang bagus. Entah itu makanannya, bahan bakunya, pelayanannya, chef-nya, tempatnya, semua tentang restoran dan makanan ia pasti tahu. Sayangnya, mereka tidak bekerja di tempat yang sama dan terakhir kali Shikamaru bertemu dengannya adalah dua tahun lalu saat membantu Choji pindahan.
Ini menyebalkan.
Lalu kemudian ia teringat kebiasaan karyawan perusahaan ini yang suka sekali minum kopi di kafetaria kantor untuk melepas penat. Ia bisa mencoba cara itu. Lagipula pemandangan jalan raya dari atas tidak terlalu buruk.
Jadi disinilah dia, berjalan melewati lorong dengan pikiran seadanya.
Dan hanya butuh beberapa menit untuk mencapai kafetaria dan yah..saat memasuki ruang makan karyawan ini, Shikamaru tidak berharap banyak. Ruangannya memang bersih. Dilengkapi dengan berbagai mesin otomatis biasa, meja-meja, kursi-kursi logam, dan microwave.
Yang tidak ia sangka adalah ada beberapa wanita yang mengelilingi satu meja ketika ia masuk mengingat ini saat-saat terakhir jam makan siang.
Mereka saling berbisik-bisik seru bahkan hampir terlalu antusias. Mirip dengan ibu rumah tangga yang baru saja memergoki suami tetangganya selingkuh.
Shikamaru kemudian melihat sekeliling dengan tidak minat.
Di tempat ini, selain makanan kecil yang tertata rapi dalam mesin, ada beberapa variasi makanan yang tersedia di rak tinggi dan Shikamaru memutuskan akan mencicipi sedikit.
Ia mengambil sebungkus biskuit dan secangkir kopi. Lalu duduk dengan santai tak jauh dari kerumunan yang semakin ramai dengan beberapa orang baru yang ikut bergabung.
Tidak mau terlibat dengan urusan yang bukan urusannya, ia memilih mulai menyantap camilannya yang sederhana sambil menghirup kopinya sesekali. Lalu mengeluarkan ponsel dan mulai memeriksa email yang masuk.
Tapi sikap santainya segera berubah waspada saat ia menangkap suara salah seorang perempuan dari kerumunan itu. "Kau tidak sedang bercanda, kan?!"
Diliriknya perempuan itu sekilas. Mencoba mengingat-ingat wajah seorang perempuan di antara mereka, raut wajahnya menunjukkan rasa tidak percaya sekaligus tertarik. Ketika tidak merasa mengenali perempuan tersebut, Shikamaru kembali menatap ponselnya.
"Mana mungkin ada Hyuuga yang berkelakuan sebinal itu?" kata salah satu di antara mereka diiringi gumaman setuju yang lain.
Dan mendengar kata Hyuuga membuat Shikamaru langsung mendapat firasat buruk.
"Aku serius," tukas perempuan yang -Shikamaru rasa pernah dilihatnya di bagian personalia- entah kenapa terdengar semangat. "Malah kudengar, sekarang dia menjadi peliharaan Namikaze-san! Itu bukti bahwa Hyuuga akan melakukan pekerjaan menjijikan sementara orang biasa tidak akan."
Shikamaru hampir saja mengerang saat mendengar kalimat terakhir. 'Bagus. Sudah menyebar.' pikirnya murung.
Ia bisa membayangkan percakapan ini akan beredar ke seluruh gedung tak lama lagi.
Tak berminat mendengar kejatuhan Hyuuga lebih jauh, Shikamaru memaksakan diri meneguk kopi banyak-banyak, lalu segera pergi.
Ia tidak memperhatikan beberapa orang dari kerumunan itu menyadari kepergiannya dan terkesiap sebelum akhirnya saling berbisik panik.
Sepanjang jalan, Shikamaru tak bisa berhenti merutuk kesal saat mengingat bahwa semua rumor yang beredar, ironisnya, justru karena si topik utama sendiri yang memberi umpan.
Ia menggaruk ujung hidungnya saat kembali mengingat kejadian kemarin dengan batin lelah.
Jelas sekali ucapan Naruto telah merebut perhatian para tamu undangan di pesta Uchiha kemarin ketika ia menyeret nama Hinata ke comberan. Tapi Shikamaru tidak terkecoh. Di balik sikapnya yang acuh tak acuh, Naruto jelas menaruh perhatian pada perempuan Hyuuga itu.
Ia hanya belum tahu terhadap apa perhatian itu ditujukan.
Apa hanya karena perempuan itu mengandung anaknya?
Atau karena dia anak si tua Hiashi?
Tapi tetap saja, apapun motifnya, ucapan frontal Naruto kemarin masih tidak seberapa jika dibandingkan ucapan para penggosip. Dan itulah hal yang paling dikhawatirkan Shikamaru.
Para penggosip itu, pikirnya dengan gemas, mereka hebat sekali dalam bercerita. Memancing rasa penasaran pendengarnya yang haus akan berita panas dengan kebenaran yang setengah-setengah. Sedikit demi sedikit.
Tampaknya mereka tahu dengan pasti bahwa kebenaran yang setengah-setengah itu lebih berbahaya dibandingkan kebohongan seutuhnya.
Satu-satunya hal yang bisa membuat mereka bungkam adalah kehancuran. Dan Shikamaru tahu lebih dari cukup untuk membuat 'teman-temannya' merasa tidak nyaman. Ia belajar langsung dari ahlinya; Naruto, sehingga sampai detik ini tidak ada seorangpun yang berani mengusik kehidupan pribadinya.
Ya, pepatah lama yang mengatakan 'siapa yang kau kenallah yang penting' sama sekali tidak tepat. Tapi 'apa yang kau tahu tentang orang yang kaukenallah yang membuat perbedaan' adalah kalimat yang benar.
Dan mungkin itu juga yang membuat Shikamaru betah menjalin pertemanan dengan Naruto hingga saat ini meskipun ia tahu lelaki itu lebih banyak mendatangkan mudarat dibandingkan manfaat.
Merepotkan.
Karena masih malas bekerja, tapi tidak berselera kembali ke kafetaria, ia memutuskan berkunjung ke tempat makanan cepat saji di seberang gedung. Shikamaru pernah melewati tempat itu sekilas beberapa hari lalu dan ia yakin tempatnya cukup nyaman untuk sembunyi.
Meskipun sebenarnya ia malas berjalan kaki lebih dari lima puluh langkah hanya untuk duduk diam dan memesan sepiring makanan kurang gizi.
Ada satu pesan masuk saat ia baru mencapai lobi untuk kesekian kalinya hari ini. Pesan yang ternyata berasal dari si sumber kekacauan itu sendiri.
Shikamaru meringis.
Dari awal ia tidak suka cara Naruto yang senang main seruduk. Terlalu sembrono untuk Shikamaru yang selalu terorganisir.
Tapi ia tidak akan memungkiri dirinya cukup terhibur dengan pertunjukan yang dihasilkan.
Dengan cepat ia mengetik balasan dan menekan tombol send.
Tujuannya kini turun ke pelataran parkir di mana mustang-nya yang baru dicuci dua bulan lalu terparkir manis dipojokan. Terhalang dengan apik oleh mobil lain yang berderet rapi.
Yah, Shikamaru memang terbiasa menempatkan mustang-nya di sudut belakang tempat parkir, di mana nyaris semua orang tidak mau melakukannya dengan alasan kepraktisan.
Memang-Ia terpaksa mengakui- tidak menyenangkan berjalan cukup jauh hanya untuk mengendarai mobilnya sendiri. Tapi di lain pihak, ia lebih memilih capek sedikit dibandingkan melihat mustang-nya lecet akibat kelakuan pengendara yang tidak handal.
Jaga-jaga itu penting.
Tanpa memanaskan mesin lebih dulu seperti kebanyakan orang, ia langsung menstarter mobilnya dan keluar dari pelataran parkir. Bergabung dengan kendaraan lain yang memadati jalan raya.
.
.
.
Hinata terbangun dengan kepala berdenyut saat tidak lagi merasakan deru mesin yang bergetar halus. Ia merenggangkan tengkuknya, lalu menggerakkan lengannya pelan untuk mengurangi rasa pegal. Dengan lelah ia mengusap matanya yang merah kemudian memperhatikan sekeliling.
Well…ini agak membingungkan.
Hinata menegakkan tubuhnya pelan.
Langit yang gelap dan pencahayaan yang kurang mengaburkan pandangannya. Dan dengan pikiran berkabut itu memberinya kesempatan melihat sekitar dari balik kaca jendela yang gelap. Tapi setelah beberapa saat memperhatikan, akhirnya ia menyadari apa yang membuatnya linglung; ia bukannya tidak mengenali tempat ini, Hinata memang tidak tahu tempat ini.
"Ini bukan rumahku!"
Naruto melirik sekilas, tapi tidak mengacuhkannya. Ia mendorong pintu lalu keluar. Hinata bisa melihat laki-laki itu berbicara pada seseorang di kursi pengemudi, namun tidak bisa menangkap apa yang sedang mereka bicarakan.
Merasa diabaikan secara terang-terangan, Hinata memilih tetap duduk diam bahkan ketika Naruto menghampirinya dan membuka pintu lebar-lebar.
"Keluar."
Hinata menggeleng tegas, "Tidak." Lalu kembali duduk diam dengan tangan terlipat di depan dada.
Ini bisa menjadi peringatan untuk lelaki itu bahwa ia tidak akan pernah mau menuruti perintahnya.
Naruto berdecak pelan sebelum kemudian tiba-tiba membungkuk ke arah Hinata dan melepas seatbeltnya. Tanpa mempedulikan desisan marah perempuan itu, ia menyeretnya keluar.
"Aku ingin pulang ke rumahku sendiri," seru Hinata saat Naruto masih terus menyeretnya. "Kumohon."
Naruto berhenti dan menatap perempuan itu.
"Sampai anak ini lahir," ujarnya datar. "Kau akan tinggal disini."
Hinata membalas tatapan pria itu dengan sebal. "Aku tidak mau," katanya lagi dengan keras kepala.
"Kalau kau masih mempunyai sedikit akal sehat," ujar Naruto pelan. "Kau akan menghapus ekspresi merana itu dari wajahmu dan menuruti perintahku."
Komentar itu, yang diucapkan dengan arogan, membuat Hinata sangat ingin mencakar pria itu. Tapi ia berhasil menahan diri di detik terakhir.
"Tidak."
Kemudian berusaha menunjukkan sikap tak acuh, Hinata kembali menatap pria itu dan berkata, "Aku punya kehidupan sendiri. Sekarang, lepaskan tanganku. Aku ingin pulang."
Tidak seperti yang ia duga, Naruto bukannya segera melepas tangannya, pria itu justru mendengus dengan sikap menghina.
"Ah, ya, tentang itu," katanya dengan tenang. "Apa kau tahu tunggakanmu sudah melampaui gajimu?"
Hinata membuka mulutnya, lalu menutupnya lagi dengan cepat. Pikirannya berpacu.
"Yang membayar tagihanku…?"
Naruto mengangguk sekilas.
Oh, sial.
"Penghasilanmu tidak sebanding dengan pengeluaranmu."
Hinata bergeming, dan Naruto semakin mendekat. "Tapi aku bisa membantumu," bisiknya lembut.
"Aku bisa membeli keperluanmu. Bisa membeli apapun yang kau mau," lanjutnya lagi. "Pikirkan itu," katanya sambil mengecup sisi kepala Hinata lembut. "Saat ini, hanya akulah tempatmu bergantung."
Itu benar, pikir Hinata putus asa. Ia membutuhkan pria ini. Membutuhkannya.
Hinata menghela napas panjang.
"Sampai anak ini lahir," putusnya pasrah. Naruto mengangguk.
"Dalam waktu dekat, aku akan menikahimu," kata laki-laki itu lagi. "Anakku tidak akan terlahir tanpa nama ayahnya."
Sebelum ia berhasil mempertimbangkan gagasan itu, Naruto mengulurkan tangan ke sisi kepala Hinata. Dengan lembut mengelus lebam di pipinya. Telapak tangan pria itu sedikit kasar dan ia bisa merasakan kapalan pada jari-jari yang menyentuh permukaan kulitnya.
Dengan terang-terangan dan penuh perhatian, Naruto menunggu reaksi perempuan itu. Menunggu protesnya.
Bahu Hinata turun sedikit. Ia sudah tidak punya pilihan lain.
Akhirnya ia mengangguk. Dengan patuh dan pikiran kosong, Hinata membiarkan dirinya digiring masuk ke dalam.
Ia tidak mengatakan apapun saat Naruto mengenalkannya pada seorang wanita yang telah menunggu mereka.
Ia juga tidak melawan saat perempuan itu membawanya ke lantai atas.
Dan saat perempuan itu akhirnya meninggalkannya sendiri, Hinata membaringkan tubuhnya di tempat tidur dengan perasaan lelah.
.
.
.
Hinata tidur larut tadi malam.
Ketika alarm-nya berbunyi, ia dengan susah payah memaksa tubuhnya untuk berguling dan mematikan benda itu lalu berguling lagi, membenamkan kepalanya di tumpukkan bantal empuk, dan kembali tidur.
Saat terbangun untuk kedua kalinya, ia melirik jam dan dengan terkejut menyadari bahwa sudah lewat berjam-jam sejak ia mematikan alarmnya.
Perutnya melilit perih minta diisi, hal yang wajar mengingat hari sudah lebih mendekati waktu makan siang daripada sarapan. Ini memalukan dan Hinata merasa agak tidak enak. Ia belum pernah bangun sesiang ini.
Tapi setelah melewati hari yang melelahkan kemarin, ia menganggap dirinya berhak beristirahat.
Setelah merenggangkan tubuhnya sebentar dan tidak lagi merasa pusing, Hinata turun dari tempat tidur dan membuka kerai jendela. Sinar matahari yang terlalu terik membuatnya mengerang. Ia benar-benar terlalu lama tidur dan matanya perih karena belum terbiasa.
Selama beberapa saat ia berdiri diam di sana sampai perutnya kembali bergemuruh.
Baiklah, dahulukan yang utama.
Dengan bergegas ia ke kamar mandi, sikat gigi dan cuci muka, lalu menyambar pakaian yang tergantung rapi di dalam lemari dan segera ke dapur.
Yang pertama disadarinya saat keluar kamar adalah rumah ini benar-benar sepi. Awalnya ia mengira -karena ini rumah dan cukup besar- akan ada satu atau dua orang yang berpapasan dengannya. Sekarang setelah yakin bahwa ia benar-benar sendirian, Hinata merasa tidak enak.
Rasanya tidak sopan berkeliaran seperti ini.
Tapi ia lapar.
Sedikit ragu, ia melewati setiap ruangan yang ada, memperhatikan dengan penasaran setiap benda yang terdapat dalam ruangan yang ia lewati.
Ternyata tidak sulit menemukan letak dapur, karena tidak adanya dinding pemisah di antara ruang tamu dan ruang makan sehingga menjadikan ruang makan lebih merupakan bagian ruang tamu, bukan ruang terpisah.
Dengan lengkungan yang dihiasi batu-batuan alam rumah ini tampak asri dan unik. Ia juga menyadari jendela-jendela sekarang dibuka lebar-lebar untuk memungkinkan udara luar masuk ke dalam.
Ketika Hinata mendudukkan diri di salah satu kursi dan hendak mengambil apel dalam keranjang di atas meja, seseorang masuk dari pintu depan. Dan Hinata melihat perempuan yang dikenalkan padanya tadi malam -kalau tidak salah ingat namanya Ino- tengah melepas sepatu dengan kepayahan sambil tetap memeluk kantong belanjaannya.
Ia terlihat lelah, tapi senang. Keringat bergulir dari keningnya yang segera diseka dengan punggung tangan.
Dan seketika Hinata merasa sedikit malu. Ia segera meletakkan tangannya dipangkuan. Berharap wanita itu tidak memergoki kelakuannya.
"Hei," sapa perempuan itu ramah yang membuat wajah Hinata kembali memanas. "Lapar? Aku baru belanja," lanjutnya sambil sedikit mengangkat kantong dipelukannya.
"Kubuatkan makan siang ya. Aku lumayan jago masak." katanya lagi sambil meletakkan belanjaan yang ia bawa lalu membuka pintu lemari es dan langsung mengambil sepoci teh dingin, menuangkannya ke gelas dan meneguk minuman itu dengan suara keras. Ia mendesah lega sesaat setelahnya.
"Panas sekali di luar," keluhnya lalu raut wajahnya tiba-tiba berubah was-was saat bertanya, "Apa kau lebih ingin makanan dingin? Soumen?"
"Errr.."
"Oh, sial. Aku tidak mahir masak makanan Jepang. Akan kutanya Choji dimana restoran soumen yang enak."
"Tidak," kata Hinata cepat. "Maksudku, tidak usah repot-repot."
"Pfftt, tidak repot," tukas perempuan itu. "Aku hanya perlu menelpon si tukang makan Choji, lalu memesan makanan. Sama sekali bukan masalah."
"Aah..ta-tapi.."
Dan tanpa bisa dicegah, perutnya kembali bergemuruh. Suasana langsung sunyi selama beberapa saat.
"Umm, aku jago masakan barat." ucap Ino dengan canggung.
Hinata -yang merasa wajahnya tidak bisa lebih merah lagi- meringis dan mengangguk pelan.
"Aku tidak keberatan makanan barat."
"Oh, syukurlah. Naruto tidak suka masakanku," aku perempuan itu dengan santai. Dan hanya dengan kalimat itu suasana yang berat langsung terasa lebih rileks.
"Dan itu menyebalkan," lanjutnya lagi. "Karena saat dia ingin makan ramen, aku hanya bisa masak pasta. Bukan kerusakan yang parah sebenarnya- maksudku, penampakkan mereka mirip, kan- tapi dia langsung memotong gajiku karena itu. Dan aku sempat khawatir kau juga seperti dia."
"Umm.." Hinata jujur tidak tahu harus merespon bagaimana. Atau yang mana? Perempuan ini bicaranya cepat sekali!
"Cari pekerjaan baru?" tanya Hinata akhirnya. Dan ia langsung ingin membenturkan kepalanya ke meja.
Stupid question.
"Sudah," jawab Ino cepat. Sama sekali tidak memperhatikan sikapnya yang tiba-tiba makin gugup. "Tapi aku tidak suka gajinya."
"Oh, okay. Kurasa," bisik Hinata tidak yakin.
Ino tersenyum kecut tapi kembali berubah antusias, "Ah, akan kubuatkan cemilan. Apa kau suka salad buah?"
Ia segera memilah buah yang dibelinya tanpa menunggu jawaban Hinata, dengan hati-hati memotong buah-buahan tersebut setelah dicuci, memasukkannya ke dalam mangkuk kemudian menambahkan yogurt tawar dan parutan keju yang cukup banyak.
"Humm, kelihatannya aku akan lebih sering belanja," gumam Ino pelan saat menatap perempuan di depannya makan dengan lahap.
Hinata yang salah mengartikan ucapannya merasa wajahnya kembali memanas dengan cepat. "A-aku.."
"Nah, bukan kau," potong Ino cepat. "Tapi karena rumah ini jarang di tempati, belanja makanan jadi terasa sia-sia," kata Ino membuka rahasia. "Naruto lebih sering menghabiskan waktunya di aparteman, dan aku hanya datang setiap tiga hari sekali."
"Jadi…rumah ini kosong?"
"Yah, sepanjang yang ku ingat."
"Oh, umm..Apa kau tahu kenapa ia memaksaku tinggal disini?" Tanya Hinata pelan. Ia tidak dapat menahan diri untuk bertanya karena rasanya semua hal terasa salah. Ia punya rumah sendiri, pekerjaan sendiri. Jadi kenapa ia harus berada di sini?
Ino mengangkat bahu, sementara tangannya masih sibuk mengupas kentang.
"Entahlah, mungkin karena kau sedang hamil anaknya."
Hati Hinata sedikit mencelos, yah tentu saja itu alasannya. Ia mengangguk pasrah dan dengan canggung kembali menekuni saladnya.
Tidak ada lagi yang bicara setelah itu.
Dan Hinata menemukan bahwa kediaman ini menenangkan.
Saat mangkuknya sudah kosong, Hinata diam-diam memperhatikan keadaan sekeliling.
Kemarin ia tidak sempat melihat-lihat dan saat bisa memperhatikan dengan lebih jelas, ia merasa rumah ini benar-benar memancarkan aura maskulin. Perabotan yang ada hanyalah benda-benda sederhana dan praktis. Lantainya yang berlapis kayu tidak dihiasi apapun. Dan jendela-jendela yang sangat besar itupun hanya dibingkai tirai putih.
Satu-satunya sentuhan pribadi di rumah ini hanyalah sederet foto yang dibingkai rapi di meja kecil dekat perapian. Hinata sempat mengamati foto-foto itu sekilas.
Jam di atas rak berdetak nyaring, mengingatkan akan kesunyian panjang di antara mereka.
"Di sini sangat sepi," gumam Hinata pelan.
"Memang. Itu sebabnya aku selalu pulang sebelum gelap," sahut Ino. "Rumah ini sedikit mengerikan saat malam. Apalagi saat ingat di sini pernah ada yang mati bunuh diri. Dan aku selalu merasa ada seseorang yang mengintip di balik jendela setiap aku kerja. Seram, kan."
Hinata menganguk pelan dan Ino kembali melanjutkan dengan semangat.
"Tapi kurasa sekarang tidak akan terlalu menyeramkan lagi. Maksudku, Naruto akan tinggal di sini jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
Hinata tersenyum kecut. Justru kehadiran lelaki itulah yang mengkhawatirkan. Tapi demi kesopanan ia mengangguk juga.
"Dan bicara tentang Naruto, dia memberiku tambahan uang transport, mau pergi ke suatu tempat? Kita bisa pergi belanja kalau kau bosan di rumah seharian," tawar Ino dengan penuh semangat.
"Umm, aku lebih suka berada di rumah."
"Ah, benar juga, kau baru keluar dari rumah sakit, kan," ujarnya pelan. "Naruto ataupun Shikamaru tidak mengatakan apapun tentang itu, tapi karena kau ada di sini berarti semuanya baik-baik saja, kan?"
"Ya," sahut Hinata sambil tersenyum dan kemudian menanyakan sesuatu yang membuatnya penasaran. "Apa yang biasa kau lakukan saat ini?"
"Jaga toko." jawab Ino tanpa beban. "Keluargaku punya toko bunga kecil di pusat perbelanjaan dan aku biasa menggantikan ayah di sana sementara ia pergi mengambil pasokan. Tapi tak jarang aku akan sibuk mengitari kompleks untuk mengantarkan bunga pesanan."
"Pasti sibuk sekali."
"Tidak juga," ujarnya, "Bunga bukan kebutuhan primer, jadi tidak banyak yang datang ke toko kami. Bisa dibilang jaga toko adalah pekerjaan paling santai yang pernah kulakukan."
Ino kemudian kembali mendekati kompor. Saat tutup panci dibuka, Hinata bisa mencium aroma sedap yang membuat perutnya kembali bergemuruh. Ia bisa melihat perempuan itu mengaduk isi panci beberapa kali dan menutupnya lagi. Ia lalu beralih ke panci yang lain, kemudian mengangkat sesuatu dari dalam panci -yang ternyata kentang- dan mulai menumbuknya dalam mangkuk besar.
"Ah, aku hampir lupa," gumam Ino sambil menoleh pada Hinata. "Naruto memintaku mengantarmu memeriksa kandungan. Apa minggu ini tidak apa-apa?"
Hinata berpikir sejenak.
"Ya, minggu ini tidak apa-apa."
"Bagus, aku akan membuat janji temu malam ini," katanya antusias, kemudian kembali memusatkan perhatian pada kentang yang tengah ia tumbuk.
Tak lama kemudian, Ino menyodorkan semangkuk sup kentang yang sangat wangi di depan Hinata. Sup kentang itu juga terlihat kental dan berlemak dibandingkan sup kentang yang pernah ia makan.
"Terima kasih," ucap Hinata, lalu menyendok sedikit supnya. Sup kentang atau yang lebih suka Ino sebut vichyssoise ini rasanya cukup enak.
"Kau suka?" tanyanya penuh harap yang langsung dibalas anggukan mantap Hinata. "Ini lezat."
"Syukurlah, tadinya aku khawatir sudah terlalu banyak menambahkan lada.' gumamnya lalu kembali mengecek masakannya yang lain.
Ayam rempah yang kaya rasa disajikan beberapa menit setelah sup kentang yang kental dan berlemak. Seperti makanan sebelumnya, Hinata juga menyukai makanan ini. Daging ayamnya lembut. Tidak butuh usaha lebih untuk mengunyahnya sampai lumat.
Ketika Ino mengambil piringnya lalu menggantinya dengan sepotong besar pie yang tampak menjanjikan, Hinata merasa tidak bisa lebih senang lagi.
Ino yang sejak tadi memperhatikannya tersenyum senang dan terlihat berbangga diri saat Hinata menjilati sendoknya sampai bersih.
Ini benar-benar makan siang yang menakjubkan.
.
.
Tapi seperti yang semua orang tahu, hal yang bagus selalu berakhir dengan cepat.
Ia baru selesai mengeringkan piring terakhir -karena Ino sudah memasak, jadi Hinata merasa wajar jika ia membantu mencuci piring- saat Naruto datang dan menyuruhnya bersiap.
"Kemana?" tanyanya saat itu.
"Ke pernikahanmu."
Dan Hinata tidak bertanya lagi.
Apapun yang sedang terjadi, laki-laki itu sedang dalam mood yang tidak bagus. Hinata tidak mau ambil resiko dengan mengganggunya lebih lama.
Dan apa yang terjadi selanjutnya sudah pasti mimpi.
Pasti mimpi.
Atau semua ini hanya terjadi di dalam kepalanya.
Oh, sial.
Naruto tidak bercanda saat mengatakan ini pernikahannya!
Dan seharusnya saat ini menjadi hari yang penuh kebahagiaan. Semua orang biasanya akan beranggapan begitu.
Tapi sekarang, ia berubah pikiran. Karena pernikahannya benar-benar menyedihkan. Berlangsung di catatan sipil dengan Ino serta teman Naruto yang tidak ia kenal datang menjadi saksi dan disahkan oleh hakim tua bermuka masam.
Dan jangan tanya gaun pengantinnya.
Karena ia tidak menganggap Naruto serius saat bilang ini adalah pernikahan dirinya, jadi Hinata pikir pakaian kasual lebih baik.
Rambutnya yang lurus panjang, diikat sembarangan dan ia memakai pakaian musim panasnya yang sudah sering ia pakai. Warnanya kuning.
Saat Naruto melihatnya, pria itu tidak terlihat mengernyit, tapi dalam hati mungkin begitu.
Oh apa yang ia pikirkan. Hinata benar-benar ingin menangis.
Padahal memilih pakaian ini adalah hal tersulit yang ia lakukan.
Sulit rasanya.
Di satu sisi, ia tidak ingin tampil berantakan, tapi di sisi lain, ia juga tidak ingin tampil sebaik mungkin. Itu bisa memberi kesan yang salah.
Dan..yah, ia benar-benar tidak menyangka bahwa hari ini adalah pernikahannya sendiri, dammit!
Ino, yang duduk di sampingnya saat perjalanan pulang, menepuk tangannya pelan sebagai bentuk simpati. Dan Hinata hanya bisa tersenyum kecut, lagipula apa yang bisa ia lakukan.
Lalu perhatiannya teralih pada cincin yang melingkar di jari manisnya.
Hinata ingat, tangannya seperti terbakar di tempat Naruto menyentuhnya saat ia memakaikan cincin pernikahan mereka. Saat itu ia harus menguatkan diri untuk mengatasi getaran, yang merupakan respon dari dalam dirinya, saat Naruto meraih tangan kirinya dan merenggangkannya hingga pria itu bisa menyelipkan cincin pada jari manisnya.
Hinata menatap tangannya lagi.
Bahagia itu adalah kata dengan arti yang sangat rapuh, ya.
Sambil menghela napas panjang, Hinata membiarkan dirinya bersandar di bahu Ino.
Ya, ia baru saja menikah.
.
.
.
Setelah itu, hari-hari berlalu tidak terlalu buruk. Bahkan, Hinata bisa menyatakan cukup normal.
Ia masih tidur sendirian di kamarnya, sejak awal Naruto tidak pernah mengatakan apapun tentang pengaturan tidur mereka, jadi wajar jika Hinata memilih mempertahankan kondisi mereka sebelumnya.
Hubungan mereka pun masih sama.
Dan ada saat-saat ia diajak Ino jalan-jalan keluar, atau tertawa bersama ketika menonton acara komedi. Pada saat tersebut, Hinata dapat meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya akan berlangsung baik. Sampai kemudian, ia pergi memeriksa kandungannya.
Tidak, ini bukan tragedi lain atau sesuatu yang perlu di dramatisir. Ia hanya tidak menyangka akan bertemu seseorang yang tidak ia harapkan. Hanya itu.
Mereka pergi segera setelah sarapan menggunakan taksi yang tagihannya langsung masuk ke rekening Naruto. Dan Hinata agak tergoda untuk menyuruh sopir taksi yang ramah itu mengelilingi kota, hanya agar tagihannya membengkak.
Tidak seperti dugaan, ruang pemeriksaan sudah cukup ramai saat mereka datang.
Jadi sementara Ino mengurus administrasi, Hinata duduk di samping seorang perempuan muda dengan perut menggelembung -seolah ia bisa melahirkan kapan saja. Ia mengawasi dalam diam saat seorang lelaki yang Hinata duga sebagai suaminya, duduk begitu dekat sambil menggenggam tangan perempuan itu dan terus membisikkan kata-kata menenangkan.
Lalu tiba-tiba rasa iri menghantamnya.
Ia juga menginginkan moment kebersamaan seperti itu, moment dimana seseorang akan duduk di sampingnya, memegang tangannya, berbagi kecemasan dengannya.
Bukan seperti ini.
"Giliran kita sebentar lagi," kata Ino sambil mendudukkan diri di samping Hinata tanpa menyadari ucapannya barusan sedikit mengagetkan gadis itu. "Mau sesuatu sambil menunggu?"
Hinata menggeleng, menolak tawaran baik hati itu dengan tegas. Lagipula, pikirnya, Ino sudah sibuk sejak pagi mengurus segala sesuatu sebelum mereka kemari. Ia tidak mau membuat Ino semakin kewalahan.
"Aku kenal dengan orang yang akan memeriksamu," ujarnya, salah mengartikan sikap diam Hinata sebagai bentuk kecemasan. "Jadi tenang saja, kujamin kau berada di tangan yang tepat."
Hinata hanya tersenyum dan mengangguk tidak yakin. Sejauh ini ia merasa baik-baik saja meski tidak berada 'di tangan yang tepat'.
Beberapa saat kemudian, saat namanya dipanggil, Ino dengan semangat menggaet tangan Hinata. Kentara sekali ia sudah tidak sabar untuk menemui siapapun dokter periksa itu.
Saat mereka memasuki ruangan, yang pertama dilihatnya adalah sosok perempuan berjas putih yang sedang duduk di belakang meja. Ia tersenyum hangat saat menyadari kehadiran mereka dan segera bangkit berdiri.
"Ino," sapanya antusias sambil memeluk perempuan yang masih menggandeng tangannya. "Senang melihatmu mampir."
"Aku hanya mengantar," tukas Ino, lalu beralih pada Hinata. "Nah, kenalkan, ini Hinata. Hinata, Sakura."
Sakura…
Tentu saja. Seharusnya ia tahu, jika Ino bisa dekat dengan Naruto, besar kemungkinan ia juga sahabat Sakura.
Dan Hinata akhirnya harus mengakui, berdiri diam dan saling menatap seperti ini, ia bisa menebak dengan mudah mengapa Naruto sangat tergila-gila pada perempuan ini.
Dia cantik.
Tapi kemudian Hinata merasa canggung sendiri. Perempuan itu menatapnya dengan sikap yang…entahlah, tidak bersahabat? Wajahnya yang cantik mengekspresikan kesinisan, dan ia tidak bisa menemukan sikap hangat yang ditunjukkannya beberapa saat lalu.
"Hinata?" ia melirik Ino dengan sorot meminta penjelasan. "Si Hyuuga itu?"
Baiklah, sekarang apa yang terjadi? Dahi Hinata mengernyit bingung. Ya, dia Hyuuga, lalu? Kemudian ikut menatap Ino.
Sementara Ino yang tidak siap menjadi pusat perhatian menatap Sakura dengan pandangan menegur.
"Hinata ingin memeriksa kandungannya," kata Ino dengan luwes mengubah topik pembicaraan.
Sakura memutar matanya sambil mendengus. Jelas sekali ia tahu apa yang coba Ino lakukan, tapi cukup pintar untuk tidak berkomentar. Ia kemudian menggiring Hinata ke balik tirai dan menyuruhnya berbaring di meja periksa yang terbuat dari vinyl.
Meskipun agak terganggu dengan perubahan sikap Sakura yang drastis, Hinata harus mengakui perempuan ini bekerja dengan standar dokter professional,
Ia memeriksa denyut nadi Hinata dengan seksama, mengukur tekanan darahnya, dan menanyakan beberapa pertanyaan rutin seputar kehamilannya.
Seperti kata Ino, ia berada di 'tangan yang tepat'.
Kemudian, perempuan itu mengoleskan gel bening yang terasa dingin ke permukaan perutnya lalu menyentuhkan alat berbentuk stick. Ia menggerakkan benda itu perlahan sementara perhatiannya tertuju pada monitor di dekat mereka.
"Menurut perkiraanku," ucap perempuan itu memulai, sementara perhatiannya masih tertuju ke monitor. "Usia kandunganmu sudah masuk minggu ke tujuh belas. Lihat," tunjuknya pada layar yang menampilkan gambar abstrak.
"Bentuk kepalanya sudah lebih proporsional. Wajahnya juga mulai kelihatan."
Sakura menggerakkan stick di tangannya lagi dengan hati-hati -seolah mencari tahu sesuatu- dan saat tidak menemukan apapun, ia mengangguk puas, kemudian menegakkan tubuh dan membantu Hinata membenahi pakaiannya.
"Secara keseluruhan, tidak ada masalah dengan janin. Tidak ada potensi kecacatan, atau potensi sindrom down, dan dalam beberapa hari lagi kita bisa tahu jenis kelaminnya. Apa kau punya keluhan selama masa kehamilanmu?"
"Tidak," jawab Hinata cepat dan turun dari meja periksa dengan bantuan Ino.
"Itu bagus," sahut Sakura acuh. "Well, aku merasa tidak ada yang perlu kita bahas lagi…bagaimana kalau makan siang bersama? Ini sudah masuk jam istirahatku, kita bisa makan di kantin rumah sakit."
"Ide bagus," jawab Ino cepat. Sepertinya lupa jika Hinata berada diantara mereka. Lupa jika Hinata tidak pernah nyaman berinteraksi dengan orang lain.
Bahkan sebenarnya Hinata sangat ingin menolak- ia ingin pulang!- tapi segera bungkam ketika Ino mengiyakan.
Jadi, mengabaikan rasa segan yang dirasakannya pada perempuan itu, Hinata menurut saat Ino kembali menggandeng tangannya.
Mereka berjalan beriringan menuju kantin yang terletak di lantai bawah. Hinata memperhatikan sekitarnya dengan tertarik saat ia berjalan di samping Ino yang sibuk ngobrol dengan Sakura.
Kantin yang dimaksud Sakura ternyata sudah cukup ramai, tapi meskipun begitu, mereka masih mendapat tempat duduk.
Hinata memesan nasi kacang merah, sementara Ino memilih tempura dan Sakura spaghetti jamur.
"Bagaimana makananmu?" tanya Sakura sopan ketika mereka hanya ditinggal berdua ketika Ino pergi ke toilet.
"Enak," sahut Hinata, mencoba menyalurkan kehangatan dalam suaranya. "Aku suka makanannya."
Jika Hinata katolik, ia harus mengaku dosa setelah ini.
Ini kebohongan yang bahkan lebih besar daripada mengatakan bahwa dia sudah menikah pada ibu kepala sekolah. Makanan ini sedikit menjijikkan karena kacang merahnya terasa hambar dan terlalu lunak. Tapi sosisnya lumayan.
Sakura mengangguk sekilas dan kembali menekuni makanannya. Ia memutar garpunya dengan terampil sehingga membuat Hinata terpana.
Cara makan Sakura anggun sekali.
Ia menggulung helaian spaghetti dalam gulungan apik, lalu menyuap dan mengunyahnya dengan manis. Dan semua itu dilakukan tanpa mencondongkan tubuhnya ke arah meja seperti yang biasa Hinata lakukan karena takut tetesan saus mengotori pakaiannya.
Jujur saja, Hinata terkesima.
Ia membayangkan orang-orang eropa di zaman dulu, yang hidup di kastil-kastil besar, pasti makan dengan tata cara yang sama.
Hinata mendesah, merasa benci dan iri.
Orang-orang seperti Sakura, pikirnya, di taruh di bumi untuk membuat orang lain kelihatan tidak efisien.
Cara makan Hinata sebenarnya cukup baik, tapi Sakura dengan mudah membuatnya merasa seperti orang bar-bar.
"Kurasa aku bersikap kurang bijaksana beberapa saat lalu," kata Sakura sambil menyeka sudut bibirnya.
Hinata tersenyum canggung, tidak tahu harus merespon bagaimana. Ia sangat ingin mengangguk, tapi ditahannya keinginan itu.
Langkah yang salah tidak dibutuhkan saat ini.
"Tapi aku tidak bisa menahan diri," lanjut Sakura lembut. "Maksudku, dengan semua hal yang ku dengar tentangmu, itu bisa membuat orang sanggup bersikap kasar tanpa sadar. Kuharap kau bisa mengerti."
Errr…tidak. Hinata tidak mengerti.
Apa hubungannya omongan orang dengan bersikap kasar tanpa alasan? Itu sama saja memberi pemakluman pada pembantaian massal!
"Ah, ya, itu membuatku penasaran sebenarnya," ucap Hinata tenang sambil menyingkirkan piringnya. "Apa yang sudah kau dengar, Haruno-san?"
"Cukup banyak," ujar Sakura dengan nada tenang yang sama. "Terutama tentang perempuan…kau tahu, sepertimu."
"Sepertiku?" ulang Hinata, pura-pura tertarik.
Dan Hinata seharusnya tahu sebaiknya ia diam saja dan tidak berkomentar apapun. Seperti biasa. Tapi entah setan apa yang merasukinya sehingga ia tidak bisa mencegah dirinya bertanya, "Dan perempuan macam apa aku ini?"
Sakura tidak membutuhkan waktu lama untuk mempertimbangkan jawabannya.
"Jalang."
Baiklah, itu sudah agak terlalu jauh.
"Tolong jangan marah," ucapnya lembut. "Aku hanya mengatakan kesimpulan dari apa yang kudengar, Hyuuga-san."
That bitch!
Hinata bersyukur ia meletakkan tangannya di atas pangkuan, karena saat ini, ia benar-benar sangat ingin menampar mulut kurang ajar perempuan itu.
Benar, memang Hinata sendiri yang cari perkara. Tapi ia tidak menyangka akan mendapat jawaban merendahkan yang mampu membuat hatinya bergejolak.
"Tentu," ujarnya akhirnya menyetujui dengan tegang. "Lagipula, aku tidak mungkin bisa dibandingkan denganmu, Haruno-san?"
"Aku?" tanya Sakura terkejut, sepertinya ia tidak mengira Hinata akan mengatakan hal ini. "Dan perempuan seperti apa aku?"
Hinata tersenyum, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Sakura dengan penuh percaya diri.
"Tolol."
"Excuse me?"
"Ah, tolong jangan marah, Haruno-san," ujar Hinata dengan suara lembut, meniru apa yang dilakukan Sakura beberapa saat lalu. "Aku hanya mengatakan kesimpulan dari apa yang kulihat."
"..."
"Kau bekerja sebagai dokter, tapi otakmu bekerja berdasarkan omongan orang. Sebutan apa yang lebih pantas untuk orang seperti itu, Haruno-san?"
Ia bisa melihat efek dari kalimatnya dengan cepat. Wajah Sakura yang semula tampak tenang segera berubah pucat lalu sedetik kemudian berubah merah mengerikan.
"Perempuan sialan!" desisnya dengan marah, Hinata bisa melihat tangan perempuan itu menggenggam garpunya kuat-kuat sehingga buku-buku jarinya memutih. Oops. Ia berharap Sakura tidak akan menusuknya dengan garpu itu.
Tapi sebelum di antara mereka bisa melakukan sesuatu, Ino telah berjalan kearah mereka.
"Ada apa?' tanya Ino begitu duduk dan menyambar tempuranya yang masih tersisa beberapa. Ia menyadari ketegangan yang terjadi di antara Sakura dan Hinata, tapi tak ada seorangpun dari mereka yang menjawab. Jadi Ino bertanya lagi, kali ini dengan nada mendesak. "Kalian kenapa?"
"Tidak kenapa-napa," sahut Hinata sumringah sebelum Sakura bisa membuka mulut untuk menjawab.
Berdebat dengan Sakura memang akan menghasilkan pertengkaran, tapi melibatkan Ino hanya akan membuat pertengkaran kecil mereka menjadi peperangan. Sakura tampaknya juga menyadari hal itu karena ia kembali berkonsentrasi pada makanannya.
Ino sepertinya tidak puas dengan jawaban itu dan kembali mengajukan pertanyaan serupa yang diabaikan keduanya.
Setelah beberapa saat, ia menyerah.
Mereka kembali makan dengan ketenangan tajam yang tidak menyenangkan.
Untungnya, Hinata tidak perlu berlama-lama merasakan hal itu karena ponsel Sakura tiba-tiba berbunyi dan ia segera meninggalkan mereka setelah mengucapkan selamat tinggal yang dingin pada Hinata.
"Apa kau tidak suka makananmu?" tanya Ino sambil menunjuk gundukan kacang merah yang disisihkan Hinata.
"Ya," aku Hinata jujur. Lidahnya mulai terasa kesemutan.
"Mau kupesankan yang lain?" tawar Ino dengan baik hati. Tapi Hinata menggeleng, ia mulai penat berada disini.
"Bisa kita pulang saja?" tanyanya memelas.
"Tentu."
Dalam perjalanan pulang, Hinata duduk diam dalam taksi dengan kepala penuh. Diabaikannya Ino yang terus berusaha mengajaknya ngobrol. Emosinya tersulut. Menanggapi Ino mungkin akan membuatnya sedikit lebih tenang, tapi ia takut kelepasan dan menumpahkan emosinya pada gadis itu. Tidak, Ino tidak pantas dijadikan pelampiasan.
Jadi dengan perasan dongkol, Hinata mengunci mulutnya rapat-rapat sampai mereka tiba di rumah.
"Mau teh?" tanya Ino setelah meletakkan tas yang mereka bawa ke dekat rak buku. "Tadi pagi aku membuat sepoci teh manis, kurasa sudah dingin sekarang. Atau kau mau cemilan? Makanmu sedikit sekali tadi," Keluhnya sambil membuka lemari dapur dan mengambil stoples berisi buah kesemek yang dikeringkan.
"Ini oleh-oleh dari Shika," terangnya saat melihat raut keheranan di wajah Hinata. "Katanya ia menjelajahi seluruh kota bersama perempuan paling merepotkan dan membeli ini sebagai cemilan, tapi karena kebanyakan, jadi sebagian diberikan padaku."
"Shika?"
"Mhmm, Shikamaru. Kau tahu, yang mukanya tidak menarik, mengikat rambutnya, lazy ass.." Ino berhenti saat melihat Hinata yang justru makin kebingungan, lalu mengibaskan tangannya. "Lupakan, tidak ada gunanya mengingat dia."
Ino kemudian membuka lemari es dan mengeluarkan sepoci teh hijau dingin lalu menuangkannya ke dalam gelas. Salah satunya diberikan pada Hinata. Kemudian memasukkan kembali poci itu ke dalam lemari es. Tapi ia tidak segera menutup pintunya melainkan melihat-lihat isinya dengan seksama.
"Mari kita lihat," gumamnya pelan. "Kita masih punya dada ayam...apa kau mau kubuatkan chicken salad, atau soup cream, atau.."
"Ramen," potong Hinata cepat. Pipinya sedikit merona saat sadar ia baru saja mengagetkan gadis itu. "Tapi yang dingin," tambahnya lirih dengan rona di pipi yang makin pekat.
"Maksudmu soumen?" tanya Ino, menganggap yang diinginkan Hinata adalah mie dingin khas musim panas. Tapi Hinata menggelengkan kepalanya dengan tegas.
"Ramen," ulangnya keras kepala. "Yang dingin."
Ino menggaruk pipinya asal. "Ramen, ya?" gumamnya tanpa sadar yang langsung dibalas anggukan antusias dari Hinata.
Err…apa memang selera ibu hamil seaneh itu?
.
.
"Kenapa kau?" tanya Naruto saat ia melihat Hinata duduk di sofa dengan kondisi memprihatinkan.
"Kekenyangan," keluh Hinata sambil mengelus perutnya.
Ino yang baru selesai membersihkan dapur menghampiri Naruto dengan segelas air di tangan.
"Hinata ingin makan ramen tadi siang dan menghabiskan tiga mangkuk sekaligus. Lalu makan dua mangkuk lagi saat makan malam tadi," adu Ino sedikit merasa bersalah.
"Kau bisa masak ramen? Sejak kapan?"
"Pesan antar."
Naruto memijat dahinya lalu melirik Hinata lagi dan mengeluh pelan.
"Jika terus mempertahankan pola makan seperti itu, bentuk tubuhmu akan sebagus babi," komentar Naruto yang langsung dihadiahi lemparan bantal.
"Err..perlu kuambilkan sesuatu?' tanya Ino sedikit tidak yakin. "Makan malam?"
"Tidak perlu," sergah Naruto. "Aku sudah makan tadi, dan nyonya rumah ini tidak perlu digemukkan lagi."
Dan ia mendapat lemparan bantal kedua.
Ino menggelengkan kepalanya pasrah. Naruto terkadang bisa sangat tidak sensitif. Ia melirik Hinata yang melempar pandangan sengit pada Naruto, sementara lelaki itu duduk dengan santai sambil meminum air yang diberikannya. Ia lalu melirik jam di dinding dan menyadari dirinya terlambat.
"Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu," katanya, lalu menyambar tasnya dari atas nakas. Memeriksa barang-barang di dalamnya sekilas. Lalu kembali melihat pasangan yang saling diam itu dengan curiga. "Kalian tidak akan saling membunuh, kan?"
"Pertanyaan macam apa itu?" keluh Naruto sambil bangkit berdiri. "Aku tidak berminat menikam wanita hamil jika itu yang kau khawatirkan." Lalu pergi ke lantai atas.
Ino tentu saja tidak percaya, tapi membiarkannya dan mengalihkan perhatiannya pada Hinata.
"Aku meninggalkan nomorku di dapur, ku tempel di pintu lemari es. Jika perlu apa-apa, hubungi aku," ucap Ino sungguh-sungguh.
"Baik."
"Dan aku membuat cemilan kalau kau lapar saat malam, masukkan saja ke microwave selama lima belas menit sebelum kau memakannya. Makanan dingin tidak bagus untuk lambungmu."
Hinata mengangguk lagi dengan patuh.
"Dan aku membeli roti tadi pagi, jadi jika aku terlambat datang pagi ini, kau bisa sarapan dengan itu. Lalu…"
"You still here?" tanya Naruto tidak suka yang dibalas Ino dengan dengusan pelan.
"Ya, ya, aku tahu saat kehadiranku tidak diinginkan," balasnya."Baiklah, kurasa aku sudah mengatakan semuanya. Aku pergi dulu," pamitnya cepat.
Hinata bisa mendengar pintu depan yang di buka lalu ditutup dengan cepat sedetik kemudian.
Dan perutnya masih tidak nyaman.
Ia mencoba membaringkan tubuhnya di sofa dengan posisi terlentang, tapi justru merasa isi perutnya malah menekan paru-parunya, membuatnya sesak. Ia mencoba memiringkan tubuhnya, tapi tetap tidak bisa membuat perutnya merasa lebih baik. Dan saat ia ingin kembali duduk, badannya terasa dua kali lebih berat!
Ugh, ia merasa gemuk.
Naruto yang memperhatikan kelakuannya sejak tadi menghela napas pasrah sambil diam-diam menguatkan diri dalam hati.
"Kemari."
Dan Hinata tidak siap saat merasakan dua tangan yang membantunya duduk itu lalu merangkulnya. Membenturkan punggung Hinata ke dadanya yang bidang.
"Apa yang kau lakukan?" desisnya marah sambil berusaha melepaskan tangan Naruto yang memeluk pinggangnya.
"Diamlah."
Hinata akan kembali memprotes saat ia merasa Naruto menggerakkan tangannya, menyentuh perutnya. Mengusapnya pelan.
Oh.
Ia tidak ingin mengakuinya, tapi Hinata merasa sedikit baikan dan tanpa sadar menyandarkan kepalanya di bahu lelaki itu.
Hanya sebentar, janjinya dalam hati. Ia hanya akan menikmati ini sebentar saja lalu pergi ke kamarnya untuk beristirahat.
Tak berapa lama, Hinata langsung tertidur pulas.
.
.
Pesanan milkshake strawberry yang ia pesan baru saja diletakkan di atas meja ketika ia melihat orang yang ditunggunya masuk -melihat sekeliling dengan seksama- lalu saat pandangan mereka bertemu, ia tidak perlu waktu lama untuk segera berjalan menghampirinya.
Ino menoleh pada si pelayan yang ternyata masih berdiri di sampingnya -menanyakan menu lain yang mungkin ia inginkan- yang segera dijawab dengan gelengan pelan. Namun Ino tetap menaruh buku menu di atas meja, temannya pasti akan senang memesan sesuatu yang lebih berat dari sekedar milkshake, dan ia tidak ingin si pelayan yang ramah itu harus bolak-balik ke mejanya hanya untuk mengantarkan buku menu.
"Tempat ini sulit ditemukan," keluh Sakura saat tiba di meja tempat Ino menunggu dan langsung duduk. Tangannya yang panjang dan terawat bergerak mengipasi wajahnya.
"Sengaja," kata Ino tanpa merasa bersalah. Lagipula ia tahu, walaupun Sakura bertingkah seperti orang kepayahan, tapi Ino cukup mengenalnya untuk tahu bahwa ia hanya melebih-lebihkan.
Kafe pilihannya ini memang kecil dan terhimpit bangunan besar, tapi papan nama yang terpasang di luar cukup besar dan menarik perhatian karena sorot lampunya yang menyilaukan mata. Tidak perlu petunjuk lebih untuk menemukan tempat ini.
"Jadi apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Sakura sambil menerima buku menu yang disodorkan Ino padanya. Satu shift penuh hari ini dan ia tidak sabar untuk mengisi perutnya yang keroncongan. "Baru beberapa hari aku dipindahkan kemari, tapi aku sudah merasa pekerjaan ini akan menjadi alasan kematianku, shift-nya terlalu panjang dan mereka tidak pernah mau mengizinkan karyawannya pulang cepat," keluh Sakura dengan cemberut.
Ino melirik dari balik bulu matanya, sedikit ragu dengan apa yang ingin ia katakan. Kepala Sakura menunduk diatas buku menu dengan ekspresi tertarik setiap ia membuka halamannya. Dari tempatnya duduk, Ino bisa melihat perempuan itu terlihat menimbang-nimbang dengan serius diantara kroket daging dan macaroni panggang keju. Dan Ino langsung mengernyit. Kedua makanan itu memang menggugah, namun sama sekali bukan makanan yang akan dipilihnya mengingat ia sedang menjalani diet ketat. Sama sekali tidak membutuhkan tambahan lemak saat ini.
Tapi Sakura kelihatannya tidak punya masalah dengan itu karena beberapa saat kemudian ia mengangkat tangan -sebuah isyarat untuk memanggil pelayan- lalu menyebutkan makanan yang ia inginkan pada pelayan yang menghampirinya.
"Jadi?" tanya Sakura yang kini seluruh perhatiannya tertuju pada Ino setelah pelayan yang mencatat pesanannya pergi.
Ino tidak segera menjawab tapi meminum milkshakenya sedikit, masih tidak yakin dengan pikirannya sendiri. Lalu sambil memutar-mutar sedotan dalam gelas dengan asal-asalan, ia bertanya, "Tadi siang..?"
Sakura mengangkat sebelah alisnya, sikap yang ditunjukan saat ia tidak menyukai sesuatu, dan dibalik sikapnya yang tenang, ia tidak berhasil menyembunyikan nada sinis dalam suaranya, "Dia mengadu apa padamu?"
"Itulah masalahnya," sahut Ino lelah. "Dia tidak mengatakan apapun," lanjutnya dan melihat jawabannya hanya membuat ia merasa kalah.
"Jadi… dia tidak mengatakan apapun dan aku yang jadi sasaran?"
Ino masih memainkan sedotannya, tapi mendengar pertanyaan itu, ia meletakkannya kembali. Punggungnya bersandar pada kursi sementara tangannya berada dipangkuan. "Ya."
"Apa kau menuduhku?"
Sekarang giliran Ino yang menaikkan alis heran, ia belum pernah melihat Sakura sedefensif ini sebelumnya. Tapi kalau dipikir lagi, mungkin langsung mengatakan apa yang ia pikirkan memang sedikit kurang bijaksana. Bagaimanapun, mereka sudah lama tidak bertemu. Dan seharusnya Ino lebih mengerti, apapun kondisinya, basa-basi tetap diperlukan.
"Tidak, aku tidak menuduhmu," ucapnya dengan nada mengajak berdamai. "Hanya saja, aku penasaran. Dan berhubung kau orang terakhir yang ia temui -selain aku dan Naruto, tentu saja- jadi.. katakan apa yang terjadi siang ini Sakura. Aku perlu tahu."
Sakura membuka mulutnya, bersiap membalas komentar Ino, namun dengan cepat mengatupkannya kembali saat pelayan mengantarkan pesanannya. Sementara Ino menunggu sampai piring-piring diletakkan di depan mereka, lengkap dengan hiasan-hiasannya sambil memainkan sedotannya lagi dengan tidak sabar.
Sakura menghela napas bosan dan menatap Ino, tapi kata-kata yang selanjutnya terucap tidak sesuai dugaan.
"Aku tidak tahu sikap aneh macam apa yang ditunjukkan perempuan itu padamu," ucap Sakura memulai. "Tapi kupastikan satu hal, aku hanya mengatakan apa yang ku tahu tentang dia. Mungkin kelakuannya jadi aneh karena malu belangnya ketahuan."
"Apa maksudmu?" ada perasaan aneh dirongga perut Ino. "Apa yang kau katakan padanya?"
Sakura menatap tepat ke mata Ino dengan penuh kepastian saat berkata, "Kubilang padanya dia perempuan murahan."
Ino memejamkan matanya erat, menghirup napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Seharusnya ia sudah menduganya -terlebih Shikamaru sempat mengatakan sesuatu tentang ini- tapi ternyata ia masih saja merasa terkejut.
Dengan perlahan, ia membuka matanya dan langsung bertatapan dengan mata hijau menawan sakura yang menyiratkan kepercayaan diri. Otaknya berpacu dan memunculkan pemahaman baru.
"Kau tidak mengenalnya."
"Aku mendengar banyak, Ino," tandas Sakura tak terbantahkan. "Terlalu banyak sebenarnya. Dan itu memberi gambaran yang sangat jelas tentang siapa dia," katanya keras. "Aku heran bagaimana bisa Naruto terpikat pada perempuan jalang seperti itu?"
"Umm..yah, perempuan jalang itu istrinya," tukas Ino sambil meringis ngeri melihat bagaimana Sakura menusuk potongan daging di piringnya dengan sepenuh hati.
"Terus?" tanya Sakura tidak peduli.
"Apa kau sudah bertemu dengan Naruto akhir-akhir ini?"
Sakura mengangkat kepalanya. Pertanyaan Ino seketika menghentikan perbuatan dzalimnya pada si menu makan malam. Dengan pengendalian diri yang menakjubkan, ia meletakkan garpunya anggun.
"Tentu saja," jawabnya tenang. "Dia dan Sasuke menjemputku di bandara, membantuku berbenah di apartemen baru dan baru kemarin lusa kami makan malam bersama," lalu menambahkan dengan bosan. "Kenapa kau bertanya?"
"Karena jika kau memang bertemu dengannya, maka kau akan tahu dia tidak akan membiarkan seorangpun menghina perempuan yang berbagi nama dengannya," ucap Ino mengutip kalimat Shikamaru.
"Hanya karena terpaksa," tukas Sakura geram. "Dia hamil. Tentu saja Naruto merasa perlu bertanggungjawab. He's just idiot like that."
"Sakura.."
"Apa? Kita berdua sama-sama tahu Naruto seperti apa. Perempuan itu juga pasti tahu. Lalu merencanakan semua tipu muslihat ini, trik murahan untuk menjebak Naruto agar mau menikahinya."
"Sakura, hentikan."
"Itu kenyataannya, kan? Perempuan itu murahan, oportunis licik. Naruto benar-benar bodoh bisa.."
"Hinata tidak seperti itu," potong Ino dengan sedikit keras. Tapi segera menyadari sikapnya, dan melihat sekeliling dengan panik.
Saat menyadari tidak ada yang menaruh perhatian pada mereka, Ino dengan tenang melanjutkan. "Dia tidak seperti itu. Bahkan sebenarnya, aku meragukan orang-orang yang menyebarkan berita tentang Hinata itu tahu apa yang mereka katakan."
"Tidak ada asap kalau tidak ada api," tukas Sakura tajam, matanya berkilau menyiratkan tantangan.
"Bukan apinya yang harus diperhatikan, Sakura, tapi asapnya. Asap yang pekat hanya akan mengaburkan penilaianmu."
"Jangan berfilsafat denganku, Ino," tegur Sakura tegang. "Dan jangan coba-coba membelanya di depanku! Aku mungkin baru kembali beberapa minggu, tapi aku cukup tahu apa yang terjadi di sini. Perempuan itu perusak. Naruto jadi seperti sekarang pasti karena pengaruh perempuan itu!"
Naruto, gumam ino dalam hati. Itulah inti semua pertengkaran ini, ia menyadari dengan sedikit terlambat.
Sakura mungkin bisa bersikap kasar, tapi ia juga bisa begitu peduli. Dan tentu saja ia akan sangat peduli pada Naruto yang merupakan sahabatnya sejak SD.
Ino tidak pernah merasa bingung dan bersimpati pada saat bersamaan seperti ini.
Ya, Sakura jelas peduli pada Naruto. Tapi kata peduli itu sendiri mempunyai tanggung jawab yang besar. Dan Ino merasa Sakura tidak cukup memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Atau bagaimana hal ini bisa terjadi.
Ino benar-benar tidak tahu apa ia harus merasa kesal atau justru prihatin.
Sakura pindah sekolah di semester genap saat mereka masih kelas satu. Ayahnya dipindah-tugaskan ke Kyoto dan Sakura tidak punya pilihan lain selain ikut dengan kedua orang tuanya. Padahal ketika itu ia baru menjalani hubungan dengan Sasuke dan sedang hangat-hangatnya.
Sakura kemudian masuk ke asrama putri lalu melanjutkan pendidikan dibidang kedokteran.
Mereka masih saling berkomunikasi sesekali lewat telepon dan email. Tapi tentu saja, ada beberapa hal yang tidak bisa Ino ceritakan dengan gamblang. Ia tidak bisa menceritakan tentang sikap Naruto yang perlahan menjauh, atau bagaimana ia kemudian berpacaran dengan Eimi, lalu selanjutnya, dan selanjutnya lagi.
Seberapa inginpun Ino menceritakan semua itu pada Sakura, ia tidak bisa.
Tidak, Ino tidak bisa menceritakan semua itu. Tidak juga teman lain yang cukup mengetahui keadaan.
Meskipun berbagai dugaan dan prasangka sempat merebak, tapi tak satupun mendekati hal yang sebenarnya.
Dan mungkin itulah masalahnya.
Dengan semua berita yang saling tumpang tindih, Sakura dipastikan tidak akan mengetahui apapun. Ia terlindungi dalam benteng tinggi yang dibangun orangtuanya. Menjalani hari-hari dengan senang hati dan berpikir bahwa semua baik-baik saja. Terlebih seluruh komunikasi diawasi Sasuke yang secara terang-terangan membatasi kabar yang beredar. Memastikan kekasihnya hanya mendengar kabar yang ingin ia dengar.
Sementara Ino berada di sini, menyaksikan semua perubahan yang terjadi dengan mata kepalanya sendiri.
"Seperti katamu, Sakura," ujar Ino dengan nada menyerah. "Kau belum lama pulang."
"Dan apa maksudnya itu?"
"Maksudnya, kau tidak bisa menganggap semua yang kau dengar sebagai kebenaran," ucap Ino dengan sabar. "Aku bisa membayangkan kabar apa saja yang sudah kau dengar, tapi..apa kau masih mau mendengar sebuah rahasia dariku?'
Sakura menyipitkan matanya curiga, tapi tidak menutupi rasa penasarannya saat Ino mencondongkan tubuh ke arahnya dan berbisik, "Aku berbohong saat bilang bekerja pada Naruto. Maaf," ucap ino sedikit merasa bersalah.
"Naruto memang memintaku menjaga Hinata dan membayarku untuk itu. Tapi disaat yang sama, aku mendapat tawaran pekerjaan di sebuah perusahaan besar. Dan setelah mengenalku selama bertahun-tahun, kau pasti tahu mana yang akan kupilih,kan?"
"Aku, tentu saja, akan memilih bekerja di perusahaan karena suka dengan pakaiannya yang berkelas tapi tetap kelihatan seksi. Dan lagi, kesempatanku bertemu orang-orang baru dan memilih calon suami idaman sangat besar."
"Jadi kenapa.."
"Shikamaru," sahut Ino pelan. "Dia menceritakan beberapa hal. Sebagian tidak bisa kumengerti, tapi Shika tidak pernah sekalipun berbohong padaku. Lalu dia minta tolong. Dan akhirnya aku setuju bekerja pada Naruto."
Ino menatap Sakura lagi.
"Apa kau mau tahu beberapa hal yang diceritakan Shika padaku?" tanyanya pelan. "Dia bilang Hinata tidak pernah sekalipun mencoba merayu Naruto," ujar ino pelan. "Sebaliknya, justru Naruto yang mendekatinya."
"Ta-tapi.."
"Sakura," potong Ino lembut. "Naruto memaksa Hinata berhubungan badan dengannya."
.
.
.
Masih gelap saat Hinata terbangun dan dengan terkejut menemukan dirinya sedang berbaring dengan sebuah lengan di bawah tubuhnya. Sebuah lengan pria yang besar sedang memeluknya hingga tubuhnya melekat pada tubuh kekar pria di belakangnya.
Naruto.
Ia tidak mengenali kamar ini, namun samar-samar Hinata bisa mencium aroma yang tidak asing; rempah. Aroma yang sama dengan yang biasa tercium di rahang dan dagu pria itu saat ia memeluk Hinata beberapa saat lalu.
Mengerjap-ngerjapkan matanya dengan mengantuk Hinata berusaha bangun. Dengan sehalus mungkin memindahkan tubuhnya tanpa membuat pria di sampingnya terbangun, dan secara efektif menjauh dari kehangatan tubuh Naruto.
Butuh beberapa saat hingga akhirnya ia bisa mendudukkan dirinya di atas tempat tidur. Berhati-hati mengangkat tangan Naruto yang memeluk pinggangnya, Hinata lalu beringsut keluar dari bawah selimut. perutnya sudah membesar sekarang dan ia belum terbiasa dengan perubahan yang dialaminya.
Hinata tidak bisa lagi berlindung dibalik pakaian kebesaran yang biasa ia pakai untuk mengelabui orang-orang. Tidak lagi bisa menyembunyikan kehamilan dan siapa yang menghamilinya.
Tapi, pikir Hinata sambil tersenyum ketika mengelus perutnya, semua kesulitan itu sebanding. Bayinya sehat, dan ia bisa merasakan gerakan pelan di dalamnya yang kerap membuatnya geli. Ia tak sabar menanti bayinya semakin besar untuk bisa merasakan tendangan pertamanya.
Hinata lalu menapakkan kakinya yang telanjang di lantai yang dingin kemudian tanpa suara berjalan menjauhi ranjang menuju pintu yang tertutup. Saat ia hendak keluar, dengan ragu-ragu Hinata kembali memandangi lelaki yang masih terlelap di balik selimut itu.
Tidur dengan sangat efektif telah melembutkan garis-garis keras pada wajah kecoklatan itu, pikir Hinata. Kalau dilihat dalam keadaan seperti ini, pria itu tampak tidak begitu menakutkan.
Selimut telah turun hingga ke pinggang, memperlihatkan dada dan lengan yang bidang dan berotot, lalu pada benda kecil yang berkilau di jari manis pria itu. Benda kecil yang juga melingkari jarinya. Benda yang menjadi simbol bahwa mereka terikat dalam jalinan perkawinan sebagai suami istri.
Dan itu rasanya aneh.
Satu-satunya pernikahan yang pernah ia saksikan langsung adalah pernikahan ayah dan ibunya. Ayahnya yang tegas bersanding dengan ibunya yang lembut dan menawan.
Hinata ingat, ibunya akan akan memasak, membersihkan rumah dan menjahit pakaian ayahnya. Lalu saat ayahya pulang kerja, ia akan mencium kening istriya yang menyambutnya dengan senyuman.
Hinata hidup dalam rumah tangga yang seperti itu, jadi tidak mengherankan jika ia menginginkan hal itu sebagai hidupnya juga. Ia ingin memasak untuk keluarganya, mengurus segala kebutuhan mereka sebagaimana ibunya mengurus ayahnya dulu.
Tidak.
Hinata menggelengkan kepala dengan tegas mengalihkan pikirannya tentang keluarga kecil bahagia.
Ia memang sudah menikah, tapi segenap perasaannya mengatakan bahwa suaminya tidak menginginkan terikat pada hal rumit seperti rumah tangga. Lelaki itu bahkan dengan tegas menyataan pernikahan mereka hanya untuk memberi status pada si jabang bayi. Dengan pikiran itu, Hinata tidak akan heran jika suaminya sudah berencana untuk menendangnya keluar segera setelah anak ini lahir.
Suaminya, renung Hinata dengan murung. Pria tinggi besar yang menjadi objek kutukannya saat remaja dulu, sekarang adalah suaminya.
Takdir ternyata bisa begitu lucu.
Tatapan Hinata kembali menelusuri tubuh Naruto, mempergunakan kebebasan untuk memperhatikan pria itu sepuasnya. Sudah bertahun-tahun berlalu, dan pria ini masih terlihat luar biasa, Hinata menyimpulkan dengan perasaan kecut.
Ia hanya berharap apapun yang akan terjadi nanti, ia tidak akan bertindak bodoh seperti dirinya saat remaja dulu. Gadis kecil lugu yang jatuh cinta setengah mati hanya karena diberi sedikit perhatian.
Tidak, ia tidak akan melakukannya.
Sekarang ia sudah dewasa, sudah lebih hati-hati, lebih bijaksana. Ia tidak akan kembali terjatuh di lubang yang sama.
Dan dengan keputusan itu, perlahan-lahan Hinata menutup pintu di belakangnya.
.
.
Udara musim panas di pagi hari tidak sesejuk saat musim gugur, karena itulah ia merasa aman berkeliaran di luar rumah saat langit masih berwarna kelabu muda dengan semburat pink pucat.
Lagipula ia penasaran.
Rumah ini punya akses jalan yang memadai, tapi Hinata hanya sesekali mendengar kendaraan yang melintas. Ino sempat bilang bahwa, rumah ini berada di komples perumahan elit yang sangat privat.
Well, sekarang Hinata bisa melihat itu. Rumah besar. Pagar tinggi. Kendaraan yang jarang. Tidak heran Ino paranoid dengan penguntit.
"And where do you think you're going?"
Hinata baru menyentuh pintu pagar saat suara yang dikenalnya itu membuatnya tersentak.
"Keluar," katanya saat ia menatap pemilik suara itu, "Aku ingin melihat-lihat."
"Kau tidak akan keluar dari rumah ini tanpa memberitahu siapapun ke mana tepatnya kau akan pergi," hardik pria itu sambil mencengkram lengan Hinata lalu menggiringnya menuju pintu depan. "Terlebih lagi, kau tidak boleh pergi sendiri."
"Aku bisa kemanapun tanpa harus melapor padamu!" balas Hinata dan menghentakan tangannya agar terlepas dari cengkraman pria itu.
"Yes, darling," sambar Naruto, tampak lebih marah daripada sebelumnya. "You must."
"Kau gila," tukas Hinata kesal dan bergegas melewati lelaki itu kembali ke dalam rumah.
"Dan jangan pernah merangkak keluar dari ranjangku di tengah malam saat aku masih tidur seperti pelacur pulang ke red light district."
Amarah membuat Hinata membalikkan tubuhnya dengan cepat, tangannya mengepal di samping tubuhnya. Ia menatap lurus-lurus mata pria itu dengan sikap permusuhan, lalu memutar badannya dan kembali meneruskan langkahnya.
Dan Naruto membiarkannya pergi.
Alisnya berkerut sambil memandangi punggung Hinata dan pintu yang kemudian dibanting perempuan itu.
Naruto menghela napas panjang. Memaki istrimu sendiri di pagi buta kelihatannya bukan ide bagus.
Kesimpulan itu menjadi kenyataan beberapa saat kemudian, ketika Naruto membuka pintu dan berhenti tepat waktu sesaat sebelum sesuatu pecah berkeping-keping ketika menghantam dinding di samping kepalanya.
Naruto menengadah, dan langsung bertatapan dengan Hinata yang sedang berdiri di antara anak tangga, tampak seperti dewi yang murka.
"Call me slut again," desisnya penuh benci. "And I'll castrate you!"
Lalu berderap masuk kamar, meninggalkan Naruto yang berdiri diam beberapa saat sebelum kemudian lelaki itu menggelengkan kepala dengan tidak percaya. Seulas senyum geli muncul disudut bibirnya.
"Yes, ma'am."
.
.
.
Waktu menunjukkan hampir tengah malam saat Ino tiba di gedung apartemennya yang elegan sekaligus apartement yang harga per unitnya sanggup membuat orang menelan ludah dengan susah payah. Setidaknya untuk orang-orang seperti Ino yang memperoleh pendapatan pas-pasan.
Jujur saja, bekerja di toko bunga tidak banyak menghasilkan uang.
Benar, selalu ada pembeli yang datang ke toko mereka, tapi tetap saja pendapatan per hari mereka tidak menentu, lebih sering mengalami besar pasak daripada tiang. Penyebabnya tak lain adalah harga bunga yang semakin tinggi sementara para pelanggan mulai memilih membeli bunga imitasi sebagai penghias rumahnya.
Tapi sekarang, memiliki salah satu ruangan di gedung ini sebagai apartemen sendiri menjadi sebuah pencapaian tertinggi. Rasa puas dan senang yang ia rasakan kadang membuat Ino takut bahwa semua ini hanya mimpi
Yah, ia harus berterimakasih pada Naruto kapan-kapan..
Beberapa orang keluar dari lift, yang membuat Ino tersadar dari lamunannya.
Saat pintu kembali tertutup, Ino mengamati sosok dirinya sendiri di dinding berlapis kaca itu.
Di dinding lift yang mencerminkan refleksi dirinya, Ino melihat perempuan cantik dipertengahan usia dua puluhan yang kesepian. Tubuhnya bagus, langsing dan berlekuk di tempat yang tepat. Wajahnya sedikit berminyak tapi masih oke.
Ia sedikit merengut pada bayangannya.
Ia punya semua yang para lelaki inginkan, itu sudah pasti. Kecantikan, tubuh seksi, jago masak, dan otaknya juga lumayan.
Jadi kenapa ia masih sendiri?
Kenapa tidak ada laki-laki yang mengajaknya kencan? Melamarnya?
Ino terlalu terpaku pada pikirannya sendiri sehingga terlambat menyadari bahwa lift yang ia naiki telah nyaris kosong. Hanya meninggalkan dirinya dan seorang lelaki…keparat.
Hatinya langsung mencelos saat menyadari dirinya terkurung di kotak besi ini bersama spesies yang paling tidak ia inginkan.
Ino melirik lelaki itu sekilas, lalu pandangannya kembali lurus ke depan.
Kalau saja Ino tahu tentang tetangga urakan ini sebelumnya, ia tidak akan membeli apartemen ini. Lebih baik ia tetap tinggal di rumah kedua orang tuanya dan membantu jaga toko.
Baru beberapa hari ia tinggal di sini, semua kebahagiaan yang dirasakannya karena bisa membeli rumah pertama langsung rusak hanya gara-gara kehadiran lelaki ini.
Benar-benar hebat.
Laki-laki ini preman. Berandalan, pikir Ino sebal.
Dia pasti berandalan selevel yakuza yang kasar dan kejam yang tidak pandang bulu saat menghajar seseorang yang dianggap lawan atau pengganggu.
Ino takut keluar rumah kalau lelaki itu ada. Setidaknya ia tidak berani keluar tanpa membawa semprotan lada yang ia buat sendiri dari campuran satu ons cabai keriting, satu sendok wasabi, satu sendok lada hitam dan air. Resepnya selalu diperbaharui setiap tiga hari sekali. Preman galakpun tidak akan berani macam-macam dengan ini.
Ah..benar. Senjatanya.
Ino melirik lelaki itu dengan waspada sambil merogoh ke dalam tas tangannya mencari botol spey kecil berisi cairan sari cabai. Dan saat ia berhasil menemukan botol yang dimaksud, ia menggenggam benda itu kuat-kuat.
Bagaimanapun tetangganya sudah punya niat jahat pada Ino yang malang hanya karena ia mengetuk pintu lelaki itu untuk memberi salam sebagai penghuni baru.
Dari caranya bereaksi, orang akan mengira bahwa Ino baru saja menyalakan petasan di pantatnya!
Tidak ada gunanya berdiplomasi dengan orang bar-bar.
Ino mendesah lagi. Kali ini merasa putus asa.
Kalau dipikir-pikir lagi, dari keseluruhan, yang paling mengganggu dari lelaki itu adalah wajahnya.
Tampang nyari ribut itu selalu sukses membuat Ino emosi. Membuatnya ingin menggosok wajah minim ekspresi itu dengan setrikaan.
Hal itu menunjukkan betapa baik hatinya Ino dan ia tak pernah segan dalam berbuat baik.
Hanya saja ada satu masalah kecil; Ino punya sekelumit rasa takut pada lelaki itu. Dan itu menyebalkan. Ia tidak terbiasa mengalah pada orang lain, tapi lelaki ini bisa membuat nyalinya ciut dengan mudah.
Dan kelihatannya ia juga tidak punya pekerjaan tetap karena selalu keluar dan pulang di jam yang mencurigakan. Dan itu mengingatkan Ino pada potensi lain yang dimiliki lelaki ini.
Selain dia punya masalah serius dalam pergaulan, ia juga menjadi masalah masyarakat yang paling merepotkan. Paling bagus ia berandalan. Yang berarti dia jahat dan suka merusak. Paling buruk, ia bergelut dalam bisnis ilegal, yang menambah kategori bahaya pada diri lelaki itu. Sesuatu yang membuatnya patut dijauhi.
Ino benar-benar tidak habis pikir, apartemen ini kelihatannya aman, ia bahkan menyeret Shikamaru untuk memeriksa riwayat kasus di apartement ini dan tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Tapi keberadaan lelaki itu sebagai tetangga membuatnya cemas. Ia tidak akan tenang pergi kemanapun, bahkan ke kamar mandinya sendiri, tanpa berkali-kali memeriksa pintu depan.
Saat akhirnya pintu lift kembali terbuka dengan bunyi denting halus, Ino segera menghambur keluar. Langkahnya makin cepat seiring dengan kewaspadaan yang meningkat. Ia berusaha mempercepat langkahnya lagi agar bisa sampai di dalam apartemennya yang aman.
Ia tegang.
Adrenalinnya terpacu.
Sekarang sudah larut, bahkan hampir menjelang tengah malam dan Ino membiarkan lelaki itu berada di belakangnya!
Sekedar prasangka buruk saja, lelaki itu bisa melempar kepalanya dengan sepatu! Atau merebut tasnya atau bahkan lebih buruk lagi, memperkosanya!
Tampang kriminal begitu apapun mungkin,kan.
Ino segera meraih kunci di dalam tasnya dan membuka pintu dengan ribut lalu menguncinya lagi dengan cepat. Saat merasa yakin dirinya sudah aman, ia baru berani menghembuskan napas yang sejak tadi ditahannya.
Ino lalu melepas sepatunya dan melemparnya asal-asalan. Tasnya ia taruh di sofa sementara dirinya beranjak ke kamar mandi. Ini hari yang melelahkan tapi
sudah terlalu malam untuk berendam, jadi dengan terpaksa ia memilih mandi cepat dengan shower.
Ia lelah.
Tapi sisa adrenalin membuatnya tidak bisa segera tidur meskipun telah selesai mandi dan memakai piyama favoritnya.
Bayangan tetangganya yang menyeramkan itu selalu sukses membuat bulu kuduknya berdiri.
Matanya yang tajam, wajah garang, sikap kasar, aura yang membuat orang-orang langsung merasa terancam dan batita menangis seketika ketika menatap matanya…
Bagaimana Ino bisa menjalani hidup dengan bahagia di apartemen ini?!
Tapi, mungkin Ino sudah berlaku tidak adil dengan terus berpikir yang terburuk dari tetangganya tersebut.
Dia memang menakutkan, Ino tidak akan berubah pikiran tentang hal ini, tapi mungkin karena ia belum terlalu mengenalnya. Bisa jadi, kan.
Dan ya, laki-laki itu memang pernah melabraknya hanya karena Ino berkunjung ketika dia sedang 'mencoba' tidur di jam dua siang, tapi selain itu, tidak pernah ada masalah lain di antara mereka.
Dan jika Ino mempertahankan siklus pergaulan mereka saat ini, dan jika saja lelaki itu lebih jarang berpapasan dengannya, barangkali Ino bisa lebih sedikit bertenggang rasa. Ia cukup paham dengan kenyataan dimana beberapa orang memang terlahir temperamental. Dan yah…ia akan berusaha bersikap baik selama lelaki itu juga menjaga sikap. Adil, kan. Bagaimanapun, bisa saja mereka akan bertetangga selama bertahun-tahun.
Ya tuhan..
Pikiran itu membuat Ino tertekan.
Dengan kesal ia membaringkan tubuhnya yang letih di ranjang dan mencoba tidur. Mengusir semua pikiran tentang lelaki menyeramkan yang menjadi tetangganya.
Keesokan harinya, ia merasa jauh lebih baik setelah tiba di kediaman Namikaze dan melihat pasangan tak biasa -Naruto dan Hinata- duduk di meja makan dengan akur.
Tidak terlalu akur sebenarnya, tapi lumayanlah.
Naruto tengah membaca surat kabar paginya ditemani secangkir kopi, sementara Hinata terlihat sedang sibuk menambahkan madu banyak-banyak ke atas roti bakarnya.
Ino mengeluh dalam hati.
Tampaknya kesukaan Hinata pada makanan manis makin meningkat seiring dengan perutnya yang semakin membesar.
Perempuan itu tersenyum hangat saat menyadari kehadirannya dan menawarinya sarapan bersama yang ditolak Ino dengan halus. Tapi ia tidak menolak secangkir teh hangat yang disodorkan padanya. Naruto selalu punya daun teh berkualitas yang tidak mungkin akan ia lewatkan begitu saja.
"Apa kalian memperhatikan pecahan kaca di pintu depan?" tanyanya teringat pada gundukan beling yang berserakan sebelum ia masuk tadi. Seingatnya, tidak ada benda pecah belah yang diletakkan disana. Lalu menyipit curiga. "Baiklah, siapa yang mati?"
"Seriously?" sergah Naruto, lalu menggeleng pelan dan membalik halaman surat kabarnya. "Ada kucing kecil yang marah pagi ini."
"Dan dia yang meletakkan pecahan kaca di situ?" tanya Ino, sedikitpun tidak percaya.
"Tidak," sahutnya santai. "Dia melempar kepalaku dengan vas yang kau beli minggu lalu."
Hinata bergerak tak nyaman di tempatnya. "Ino yang beli vas itu?" tanyanya dengan ekspresi penuh sesal.
"Ya," jawab Ino. "Aku beli sebagai hadiah selamat datang untukmu. Dan warnanya merah. Merah berarti nasib bagus. Cocok untuk peruntungan ibu hamil," jelasnya dengan menggebu-gebu. "Dan harganya mahal."
"O-oh, maafkan aku. Aku pikir…" ucap Hinata dengan panik sementara Naruto terkekeh pelan dibalik surat kabarnya.
"Hanya karena bentuknya tidak sesuai seleramu," kata Ino sambil menatap Naruto sebal. "Kau tidak perlu sesenang itu saat vasku hancur. Harganya separuh gajiku!" hardiknya lagi yang justru membuat Hinata makin tak enak hati.
"Just leave it, Ino."
Ino mencibir pelan. Laki-laki itu benar-benar tidak sensitif! Tapi setelah beberapa saat.. "Yah, terserahlah," sahut Ino akhirnya dan meminum tehnya lagi.
Pagi ini, duduk semeja dengan pasangan Namikaze, Ino tak bisa menghentikan dirinya untuk berpikir; apakah pendapat Sakura tentang Hinata akan mempengaruhi hubungan mereka yang lucu ini?
Sambil menghirup tehnya dengan tenang, Ino memperhatikan Hinata yang sedang menjilati jari-jarinya yang berlumuran madu.
Perempuan itu memakai kemeja sutra berwarna kuning pagi ini. Sedikit kebesaran, tapi anehnya terlihat bagus di tubuhnya. Dalam balutan pakaian kuning cerah itu, ia tampak mempesona,
Lalu perhatiannya beralih ke perut Hinata yang sudah membuncit, tak ada yang menyangkal kedatangannya ke rumah ini memberi spekulasi tersendiri. Ino hanya berharap perubahan ini bergerak ke arah yang lebih baik.
Untuk mereka semua.
.
.
.
Ia menarik napas dalam. Pelan-pelan. Lalu menghembuskannya.
Apa keputusannya datang kemari sudah benar? Apa Naruto punya waktu untuk menemuinya? Bagaimana kalau saat ini Naruto sedang sibuk? Ia tidak mau mengganggu.
Tidak, tentu saja dia tidak akan mengganggu. Mungkin.
Atau ia mengganggu?
Pebisnis biasanya sibuk dan Naruto pun kemungkinan besar sedang sibuk, dia selalu sibuk. Sakura juga sibuk, tapi ia bisa menyempatkan diri datang kemari jadi seharusnya Naruto bisa melakukan hal yang sama.
Jadi, tidak. Dia tidak mengganggu.
Lagipula ini waktu makan siang. Orang sibukpun perlu makan, kan.
Okay. Tarik napas lagi. Baiklah, Sakura bisa melakukannya. Apa yang tidak bisa ia lakukan? Dia Sakura. Lagipula ini bukan perkara susah. Dia hanya perlu menekan tombol hijau. Hanya itu. Mudah.
Ya, ini gampang sekali, gumamnya dalam hati sambil menekan tombol hijau di ponselnya lalu mendengarkan nada statis tanda menyambung dengan hati berdebar.
"Ya?" jawab suara di seberang sana. Sakura menarik napas lagi.
"Hei, aku di depan kantormu, mau makan siang bareng?"
Ada jeda sesaat yang kembali membuatnya gugup.
"Sasuke akan berpikir macam-macam," sahut Naruto akhirnya.
"Tidak, dia tidak akan begitu," balas Sakura dengan penuh percaya diri. Sasuke bukan tipe yang gampang cemburuan. Apalagi cemburu pada Naruto. Tidak akan mungkin.
"Aku pria yang sudah menikah, Sakura."
"Dan apa maksudnya itu?" tukas Sakura galak. Ia hanya mau mengajaknya makan siang bersama, bukan kawin lari.
Terdengar kekehan pelan disana. That man. Sakura memutar bola matanya kesal.
"Jadi, mau makan atau tidak?"
"Ah, aku sedang sibuk saat ini," ujar Naruto terdengar bersalah.
Sakura mendengus. "Orang sibukpun harus makan, Naruto."
Ada jeda lagi sebelum akhirnya lelaki itu menyetujui tawarannya. "Baiklah, temui aku di dalam, kita makan di ruanganku."
"Naruto," ujar Sakura tak percaya. "Apa kau tahu restaurant?"
"Banyak pekerjaan yang harus kulakukan hari ini," jawab Naruto, tidak terpengaruh nada sinis Sakura barusan. "Aku orang yang sangat sibuk, Sakura," imbuhnya, bermaksud menjelaskan.
Tapi bagi Sakura, lelaki itu terdengar hanya sedang mencari-cari alasan. Sama seperti saat Sasuke membatalkan kencan mereka.
"Baiklah, terserah," sahut Sakura akhirnya. "Aku masuk sekarang."
Ini sama sekali bukan seperti yang direncanakannya, batin Sakura sedikit kecewa saat memasukkan kembali ponselnya dalam tas. Tapi ya sudahlah.
Saat memasuki bangunan itu, ia disambut petugas resepsionis yang tersenyum ramah yang dibalasnya dengan anggukan singkat, terlalu malas untuk bertegur sapa, lalu segera menaiki lift. Dan saat berada di dalamnya, ia kembali berpikir.
Setelah makan malam dengan Ino kemarin, ia segera menghubungi kekasihnya. Karena hanya dia yang terpikir saat itu. Dan lagi, lelaki itu adalah sahabat Naruto, sudah pasti dia tahu segala seluk beluk kehidupannya. Tidak seperti Ino. Dia hanya pengurus rumah sementaranya, bukan temannya.
Benar, perempuan itu pasti hanya membual!
Tapi lagi-lagi, Sasuke sedang 'rapat penting' dan tidak bisa diganggu.
Menyebalkan.
Sasuke dan rapat pentingnya lama-lama bisa membuatnya gila!
Tidak ada orang lain lagi yang terpikir olehnya. Dan itu mengesalkan. Lalu kemudian ia berpikir, kenapa ia harus bertanya pada orang lain tentang temannya sendiri? Kalau dia ingin tahu tentang Naruto, ia akan bertanya sendiri padanya. Simple.
Dan itulah kenapa ia datang kemari.
"Jadi…dimana makanannya?" tanya Sakura saat memasuki ruangan Naruto. Laki-laki itu meliriknya sekilas sebelum kembali menekuni pekerjaannya.
"Pesan?"
Sakura memutar matanya lagi. Seriously? batinnya sambil mendudukkan diri di kursi terdekat. Naruto beruntung bisa menikah.
Oh, Sakura lupa, dia memang sudah menikah. Dan itu mengingatkannya pada tujuannya kemari.
"Aku memeriksa perempuan yang katanya istrimu kemarin," katanya. Naruto hanya mengangguk tapi tidak berkomentar apapun.
Well..Sekarang apa?
"Dan...," ujarnya sambil berpikir keras.
"Dan?"
"Dan Ino mengatakan sesuatu yang…menarik."
Naruto mengangkat kepalanya dan menatap Sakura. "Menarik?"
Ia mengangguk, sedikit ragu, tapi tetap menguatkan hati. Hanya ini satu-satunya kesempatan. "Ya, dia bilang kau memperkosa si Hyuuga itu," adunya tanpa pikir panjang. Lalu terdiam.
Shit.
Sakura menelan ludahnya gugup. Oh sial, apa ia kelepasan? Apa ia sudah keterlaluan?
"Ma-maksudku, tentu saja aku tidak percaya. Sungguh. Kau melakukan perbuatan amoral? pfft, Ino pasti sedang mabuk. Maksudku, tidak mungkin kau seburuk itu. Pasti hanya salah paham, atau, atau…"
Naruto menunggu sampai Sakura berhenti sebentar untuk mengambil napas, lalu menyela dengan tegas,
"Sakura."
"Ya?"
"Akan kupesankan makanan."
"Tidak," sergah Sakura cepat. "Tidak perlu." Lalu memejamkan mata dengan frustasi. "Kau pasti sudah menyadari aku tidak datang kemari untuk makan, kan."
"Tidak?"
"Tidak," sahutnya tegas. "Aku datang karena…karena aku ingin mengenalmu lagi."
Sakura kembali menelan ludahnya gugup saat menyadari kata-katanya dan mulai gelagapan.
"Maksudku, banyak sekali yang sudah ku dengar, dan aku kebingungan, aku tidak tahu mana yang benar dan mana yang bualan orang-orang. Dan kita sudah lama tidak bertemu dan, dan.." Sakura menekan tangan ke dahinya dengan putus asa. "Kau berubah. Dan aku merasa tidak mengenalimu lagi."
"…"
"Kalau ada masalah, atau apapun, kau bisa menceritakannya padaku," kata Sakura lembut. Dan ia sungguh-sungguh dengan kata-katanya. Apapun, bahkan hal bodoh sekalipun, ia akan mendengarkan. Asal temannya kembali seperti dulu. Kembali menjadi orang yang ia kenal.
Naruto menatapnya lama.
"Aku sudah punya istri."
"Damn it, Naruto!" jerit Sakura kesal. "Aku tahu statusmu tanpa harus mendengarnya berulang-ulang!"
Naruto menggeleng pelan, lalu menjelaskan dengan serius.
"Jika aku punya masalah," katanya. "Bukankah lebih masuk akal jika aku menceritakannya pada istriku lebih dulu sebelum teman wanitaku."
Oh.
Sakura merasa wajahnya memanas seketika.
"Ya, ya benar. Tapi kau masih bisa menceritakannya padaku." tukasnya lemah. "Lagipula, itu gunakannya teman, kan."
"Tentu saja," kata Naruto dengan wajah datar.
Ini tidak berhasil, batin Sakura putus asa.
"Okay, kurasa aku harus…pergi. Ma-maksudku, sebentar lagi shift-ku. Dan..ya, benar. Sampai nanti."
Di luar, Sakura menyandarkan tubuhnya ke dinding dan menghantamkan kepalanya beberapa kali.
Yang tadi itu benar-benar kacau!
Tapi mau bagaimana lagi, ia gugup sekali karena yang di dalam sana itu bukan Naruto yang ia kenal. Sama sekali bukan Naruto yang tumbuh bersamanya.
Ia tidak tahu harus berkata apa atau bertingkah bagaimana karena ia merasa sedang berhadapan dengan seseorang yang asing.
Naruto yang dikenalnya tidak bisa duduk diam. Ia supel dan suka bicara. dan naif. Sangat-sangat naif. Si hiperaktif idiot Naruto.
Tapi yang di dalam sana itu..
Sakura tidak tahu. Ia benar-benar tidak tahu.
Apa ia sudah melewatkan banyak hal?
Saat Naruto dan Sasuke menjemputnya di bandara beberapa hari lalu, ia memang merasa ada yang berbeda dengan temannya yang satu itu. Naruto tersenyum saat menyambutnya, benar, tapi senyumnya tidak mencapai garis matanya.
Naruto tidak seharusnya tersenyum seperti itu.
Dia juga lebih pendiam. Lebih dewasa. Dan lebih hati-hati saat bicara.
Sama sekali bukan dirinya yang dulu.
Tapi saat itu Sakura pikir, ia bertingkah lebih kalem karena ingin membuatnya terkesan. Naruto memang seperti itu, kan. Dan lagi ekspresi wajahnya..Naruto tidak pernah bersikap seperti itu. Tidak cocok.
Tapi sekarang…
Tidak, Sakura tidak mau memikirkannya lagi.
Tanpa banyak berpikir ia merogoh tasnya. Bertanya langsung pada orang yang bersangkutan gagal, sekarang pilihan yang ia punya hanyalah bertanya pada Sasuke. Dia pasti tahu apa yang sedang terjadi. Dan dia juga orang yang tidak akan mungkin berbohong padanya.
Sakura hanya berharap lelaki itu punya waktu untuk bertemu.
.
.
Hinata terbangun karena mendengar langkah kaki berjalan tergesa-gesa lalu-lalang tak jauh dari tempatnya berbaring, serta sayup-sayup suara perempuan bicara dengan cepat dalam bisikan tajam.
Dengan mengantuk, ia membuka matanya lalu memandangi Naruto yang berjalan ke arahnya.
"Apa aku membangunkanmu?'
Hinata bergumam pelan sambil berusaha bangun. "Apa Ino sudah pulang?" tanyanya saat tidak menemukan perempuan berambut pirang itu. Naruto mengiyakan sambil lalu.
Well, itu agak aneh. Ino selalu Meyakinkan Hinata tahu kapan ia akan datang ataupun pulang.
Pasti tidurnya nyenyak sekali.
Naruto mengulurkan tangan dan membantunya berdiri. Dan kesadaran akan kedekatan mereka membuat tubuh Hinata menegang. Ia buru-buru melepaskan diri, tapi tangan lelaki itu memeluk erat pinggangnya.
Terlalu dekat.
Antisipasi membuat jantungnya berdetak dua kali lebih cepat.
Saat mereka memasuki kamarnya, Hinata membalikkan badan dan mendongak menatap lelaki itu.
Dan terpaku.
Darahnya terasa berdesir hanya karena memandang kedua matanya. Ia mengenali kilatan di mata itu. Namun terlalu lambat untuk bereaksi.
Sepasang tangan gelap mengungkung kedua sisi tubuhnya, memeluknya, dan mempertemukan bibir mereka.
Hinata mengerang dan memejamkan matanya. Rasanya begitu mudah untuk menyerah dan membiarkan pria itu berbuat semaunya. Tangannya mencengkram lengan pria itu dan mengerang lebih keras saat lidah mereka bertemu. Saling menyentuh. Saling merasakan. Menariknya lebih dekat. Memaksanya membenamkan bibirnya lebih dalam.
Tangan lelaki itu bergerilya seperti tubuhnya yang menggeliat di dalam pelukannya
Naruto mengangkat kepalanya dan menatap Hinata dengan matanya yang berkilat. Jarinya bergerak, dan berhenti di bibir bawah perempuan itu, mengelus permukaannya yang bengkak setelah ciuman panjang mereka.
Sementara Hinata menelan ludah dan mencoba meredam deru napasnya yang berkejaran. Ia merasa sedikit pusing. Jantungnya berdebar sangat keras hingga terasa sakit. Panas menjalar ke seluruh tubuhnya.
Ini tidak seperti saat pertama mereka, dan Hinata merasa takut. Apa lagi saat merasakan pria itu kembali mendekat, mengecupi lehernya dan membuka kancing piyamanya.
Refleks tangannya bergerak menahan pergelangan tangan pria itu dan menggeleng tegas.
"A-aku tidak mau," ucap Hinata dengan suara bergetar, dan dengan panik memalingkan wajahnya saat lelaki itu menunduk hendak mempertemukan bibir mereka lagi. Dengan begitu ia tidak bisa kembali melumat bibirnya. Tapi sebagai gantinya, Naruto menyerang leher Hinata.
"You want this."
"Ti-tidak."
"Ya." Naruto menjilati telinga Hinata pelan. "Aku rindu bersetubuh denganmu."
Pakaiannya disentakkan keras dan ia bisa merasakan kain yang halus itu membelai kulitnya saat berusaha lolos dari tubuhnya.
Tangan lelaki itu kemudian mencengkeram rahang Hinata, menggerakkannya agar menghadapnya lagi. Jari-jarinya yang kuat menekan, lalu memaksa bibir perempuan itu menyambut ciumannya, lidahnya menerobos jauh ke dalam ciuman yang panas.
Hinata mengerang pelan. Suaranya hilang dalam mulut Naruto.
Di tengah deru napas yang cepat, ia merasakan jari lelaki itu mengait di celana piyamanya dan menariknya turun.
Dan seketika, ia merasa seluruh darah di dalam tubuhnya membeku.
Ia kini setengah telanjang. Dan merasa luar biasa malu berdiri di depan lelaki itu hanya mengenakan bra dan celana dalam.
Sebagian dari dirinya merasa takut. Sebagian yang lain penuh antisipasi.
Jadi ia menunggu. Dan wajahnya terasa memanas di bawah tatapan matanya yang lapar.
Pria itu kembali memeluknya. Memagut bibirnya. Tangannya membelai punggungnya dan dengan cekatan melepas pengait bra yang ia pakai.
Dan ketika kain itupun terlepas dari tubuhnya, ia tidak bisa menggambarkan sensasi yang timbul ketika dada mereka saling bersentuhan, menempel erat dalam panas tubuh yang melebur.
Aku menginginkannya…
Aku menginginkan lelaki ini…
Rentetan kata-kata itu terus terulang di kepalanya. Hinata menginginkan lelaki itu, lebih menginginkannya dibanding dulu. Dan pikiran itu membuatnya seketika tersadar.
Dengan tegas ia mendorong tubuh lelaki itu menjauh. Tidak, ia tidak menginginkan ini. Tapi tangan Naruto yang melilit tubuhnya lebih kokoh sehingga meskipun bisa melepaskan diri dari ciuman yang dengan sukses membuat lututnya lemas, tubuh mereka saling melekat satu dengan yang lain.
Hinata bisa merasakan gerakan otot Naruto dibalik pakaian yang dikenakannya. Ia sangat khawatir lelaki itu bisa mendengar detak jantungnya yang berdegup kencang. Memukul-mukul dalam dentaman yang menyesakkan. Dan aroma parfum lelaki itu yang samar tercium membuat kepalanya makin pusing.
Ia tidak lagi bisa berpikir jernih. Terlalu terhanyut dalam pusaran sensasi yang membuat perutnya melilit.
Hinata menelan ludah, mencoba meredam deru napasnya yang terengah sekaligus mendapatkan kembali kendali dirinya. Jantungnya berdebar sangat kencang.
Hinata menggigit bibirnya saat Naruto mengecup puncak kepalanya. di keadaan biasa, ia bisa dengan mudah mengabaikan sentuhan ringan itu. Tapi sekarang, di pelukan pria itu, dalam keadaan setengah telanjang, Hinata nyaris merintih ketika kecupan pria itu menjelajah sisi kepalanya, pipi, rahang, kemudian berlama-lama diperpotongan lehernya.
Tangannya dengan sia-sia mendorong pria itu. Tidak. Ia kembali mencoba memberontak di bawah impitan lelaki itu. Mendorong sekuatnya. Hinata tidak ingin kembali terjatuh ke lubang yang sama.
Sama sekali Tidak menyadari bahwa tubuhnya yang menggeliat malah makin membangkitkan birahi pria itu.
Hinata meletakkan tangannya di bahu Naruto. Berniat mendorongnya menjauh. Tapi Naruto dengan mudah mengangkat tubuhnya dan membaringkannya di atas tempat tidur. Bibirnya kembali dilumat pria itu.
Jari Naruto bergerak ke bawah, meraih bahan tipis celana dalamnya. pelan…dengan sangat pelan dan lambat pria itu mulai menurunkannya.
Hinata mencakar bahu lelaki itu dengan putus asa.
"Ti-tidak.." erangnya pelan saat Naruto kembali mengangkat kepalanya, mengakhiri ciuman mereka.
"Kenapa?
"A-aku..ngh!"
Celana dalam itu ditarik melewati paha, betis dan mengait di ibu jari kakinya sesaat sebelum terlepas.
Kepala Hinata terbenam dibantal, matanya terpejam. Telapak tangannya membekap mulutnya. Merasa benar-benar malu dan tak berdaya.
Saat ia membuka matanya lagi, jantung Hinata berpacu liar ketika ia menatap mata Naruto.
Dari tempatnya berbaring, bahu Naruto tampak lebih lebar. Lebih menakutkan. Napasnya tercekat saat pria itu menggeser letak lutut mereka sehingga lutut Hinata berada di luar, mengapit pria itu. Lalu bibirnya membentuk senyum samar.
Hinata tidak berkedip. Tidak berani berkedip.
Ia menatap pria diatasnya dan mengerang pelan saat lelaki itu menelusuri jari-jarinya diatas perutnya yang membesar. Mengelus permukaannya lembut. Napas tertahan dikerongkongannya saat ia merasakan belaian disepanjang bibir kewanitaannya.
Dua jari bergerak masuk, lalu bergerak. makin lama, makin cepat.
Hinata merintih. Tubuhnya menggelenyar penuh kenikmatan. Ia mencengkeram bantal yang menyangga kepalanya lebih erat lagi. Kenikmatan memenuhi sekujur tubuhnya dan ia mengerang tajam. Napasnya tersengal.
Hinata memejamkan mata, ia melengkungkan lehernya ke belakang. pahanya mengunci tubuh lelaki itu erat. Naruto menatapnya lekat-lekat
Inilah yang ia rindukan.
Kemudian kedua tangannya bergerak ke depan menangkup payudara Hinata, meremas kasar. "ngggghhhh.."
Jari perempuan itu mencengkram kedua tangannya, tapi tidak bisa menghentikan Naruto yang terus memijat payudaranya.
Dan saat kepalanya menunduk, ujung-ujung rambutnya terasa menggelitik wajah Hinata saat pria itu menjilat puting payudaranya beberapa kali sebelum memasukkan ke dalam mulutnya. Menghisapnya keras.
"A-ahhh..na-Naruto…nghhh."
"Enak?" tanya Naruto sambil menyeringai, dan kemudian melakukan hal yang sama pada payudara yang satu lagi.
Tidak bisa lagi menahan, ia meraih resleting celananya.
Hinata menggerakkan tubuhnya menghindar. Tiba-tiba waspada. Namun pria itu lebih cepat. Tangannya mencengkram pinggulnya sehingga ia kesulitan bergerak.
Perut Hinata terasa mengejang saat merasakan tonjolan keras dan besar menyentuhnya. Mencoba masuk.
"Ja-jangan.."
"Ssshhh.." Menahan pinggul Hinata dengan kedua tangannya. "Stay still."
.
"Just let me fuck you."
.
.
To be continue
