Falling for you?

DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO

WARNING: AU, OOC, typos

.

Cause you say to stay.

.

Chapter 6. Lock Heart

.

.

Apa yang harus dilakukan?

Hinata memejamkan mata erat-erat. Tidak sanggup bernapas. Tidak sanggup berpikir.

Ia membiarkan dirinya kembali jatuh.

Tangan Naruto bergerak antara tulang belikatnya, mencegah Hinata agar tak bergerak.

"Jangan bergerak," Naruto menggeram. "Atau aku akan berbuat lebih kasar dari ini."

Dan ia merasa napasnya berubah, menjadi lebih pendek, lebih terengah, saat lelaki itu menghujam memasukinya.

"Aahhh!"

Hinata merintih. Tiba-tiba ia merasa begitu penuh.

Naruto diam, menatap ke arahnya, matanya berkilat penuh kemenangan.
Meskipun begitu, ia membiarkan Hinata menyesuaikan diri beberapa saat sebelum bergerak perlahan, dengan sangat hati-hati.

Hinata mengerang.

Dan Naruto tidak lagi berhenti.

Dia bergerak perlahan pada awalnya, menggerakkan dirinya sendiri keluar dan masuk tubuh perempuan itu. Dan saat ia merasa Hinata mulai terbiasa, ia mempercepat geraknya. Dan dia bergerak terus, menambah kecepatan, tanpa ampun, irama yang tanpa henti.

Dan Hinata bisa merasakan sesuatu terbangun dalam dirinya, seperti sebelumnya. Ia mulai menjadi tegang saat Naruto mendorong terus menerus. Tubuhnya tersentak, dibanjiri keringat. Pikirannya terpecah ... hanya ada sensasi ... hanya ada rasa nikmat. Napasnya terengah-engah, dan Hinata mengerang keras saat merasakan klimaks.

Dengan napas terengah-engah, ia mencoba untuk memperlambat pernapasannya, jantung berdebar, pikirannya kacau, dan Naruto masih bergerak di dalamnya. Mencari pelepasan.

Hinata menggigit bibirnya, alam bawah sadarnya terasa lumpuh, rusak, hanya berkonsentrasi pada apa yang lelaki itu lakukan padanya. Bagaimana dia membuatnya merasakan, menghentak, mempercepat... dan tubuhnya kembali diterjang orgasme kuat.

Naruto menggeram keras saat ia menemukan pembebasannya, mencengkram Hinata agar tetap di tempat saat ia memenuhi rahim perempuan itu dengan benihnya. Lalu ambruk, terengah-engah di samping Hinata, dan ia menariknya ke tubuhnya sendiri. Memeluknya erat.

Mereka berbaring di sana, sama-sama terengah-engah, menunggu pernapasan melambat. Naruto mengendus rambutnya, menghirup dalam-dalam.

"Never deny me," bisiknya pelan lalu mencium puncak kepalanya sekilas.

Hinata berkedip padanya sesaat. Ya, ia melakukannya. Ia menolak Naruto. Setidaknya mencoba menolak pria itu.

"You're not the boy who I'm falling in love with," bisiknya pelan. Dan ia berkata jujur. Dulu, ia memang jatuh cinta padanya. Naruto yang masih muda, yang tidak menyadari perasaannya, yang memanfaatkannya. Ia jatuh cinta padanya saat itu. Sekarang, ia tidak tahu perasaannya sendiri. Naruto yang telah dewasa membuatnya takut.

Ia ingin menerima semua yang dilakukan pria itu apa adanya. Tanpa perlu cemas ada maksud lain dibaliknya. Tapi, tapi bahkan setelah apa yang terjadi, saat kini ia harus bergantung sepenuhnya pada pria itu, Hinata tidak bisa melupakan apa yang terjadi dulu.

Separuh kata-kata Naruto adalah kebohongan, dan separuhnya lagi juga bukan kebenaran.

"It's okay," sahut Naruto dan menciumnya lagi. "You're not the girl who I'm falling in love either."

.

.

Ino frustasi.

Dan ia sangat marah.

Sepanjang perjalanan menuju apartemennya, ia terus berpikir, lalu mengingat, kemudian menenggak sakenya dengan perasaan geram.

Sialan, apa yang Sakura pikirkan saat mendatangi Naruto dengan membawa-bawa namanya?!

That bitch!

Apa dia tidak berpikir efeknya pada kehidupan Ino? Lupa kalau Ino bekerja pada pria itu? Lupa kalau hidup Ino bergantung darinya? Lupa kalau Ino gak kaya-kaya amat?

Dan sekarang Naruto tidak lagi percaya padanya. Damn it.

Ia beruntung lelaki itu tidak serta merta memecatnya. Tapi tetap saja…Oh, apa yang sudah ia lakukan?

Dan semua ini berawal dari sebuah niatan baik?

Well, fuck off!

Begitu keluar dari rumah Naruto, Ino segera menelepon Sakura. Dengan tangan gemetar penuh emosi ia menghubungi wanita itu.

"Tebak apa yang terjadi padaku 15 menit lalu," geramnya.

"Ino, aku sedang tugas ja-"

"Naruto hampir memecatku," sambar Ino. "Sialan, Sakura. Bisa-basanya kau?!"

"Apa yang…" Sakura terdiam, lalu terkesiap seolah tersadar. "Oh, ya tuhan. Dia marah? Maafkan aku Ino, aku tidak berpikir-"

"Itu masalahmu. Kau tidak pernah mikir sebelum membuka mulut besarmu!"

"Well," sahut Sakura dengan nada tersinggung. "Percaya atau tidak, kau yang memulai. Kalau kau tidak mulai membual tentang si Hyuuga itu, aku tidak akan bingung begini."

"Dan kau langsung mengkonfirmasi itu pada Naruto?" tanya Ino tidak percaya. "Dan bilang bahwa akulah yang mengatakannya? Mengadukanku?!"

"Lebih baik mendengar dari yang bersangkutan daripada orang lain, kan?"

Ino menggosok mukanya gemas, tiba-tiba ia merasa muak sekali.

"Peduli setan!" Dan membanting ponselnya sepenuh hati. Bukan reaksi yang dewasa tentu saja, tapi itu memuaskan.

"Itu usaha terbaikku dalam berbuat baik pada sesama," gumamnya sepenuh hati sambil melempar kaleng sake ke tong sampah. "Dan yang terakhir. Tak sudi aku mengulanginya lagi."

Saat mencapai gedung apartementnya, Ino masih dalam suasana hati yang buruk. Dan makin buruk ketika tersadar ia kembali satu lift dengan tetangga berandalannya.

Tidak mau terlibat apapun, ia mengunci mulutnya rapat-rapat dan segera keluar ketika pintu terbuka. Bergerak cepat seperti biasa.

Lagipula, Ino yakin ia tidak akan mendapat penghiburan dari pria itu.

Sialnya, meskipun sudah memasukkan kunci berkali-kali, pintunya tidak juga terbuka! Dan ia mulai panik. Dari sudut matanya, lelaki itu sudah makin mendekat. Dirogohnya tasnya, mencari sprey lada. Dan saat benda itu ada digenggamannya..

"Hei."

"Sialan!" Tanpa pikir panjang ia memutar badannya, dan menyemprot pria itu.

Sayangnya, laki-laki itu dengan tangkas melompat mundur, setengah terhuyung-huyung ke tepi, sebelum wajahnya bisa terkena semprotan.

Sial, refleksnya bagus.

"Kau semprot aku?" tuduhnya garang. Dan kalau boleh jujur, ia tampak mengerikan.

Ino menelan ludah dengan gugup.

Oh, ya tuhan. Ia takut.

"A-aku minta maaf, yang tadi itu tidak sengaja, sungguh. Dan tadi aku sedang berpikir jadi aku.." ia menghentikan kalimatnya. Tidak, perempuan dewasa tidak pernah mencari-cari alasan untuk membenarkan kelakuannya. "Aku minta maaf," kata Ino akhirnya.

Lelaki itu memandangnya tajam lalu mengangguk. "Lain kali, gunakan otakmu sebelum tindakanmu melukai orang lain."

Perempuan dewasa, my ass!

Ino mengangguk dan menyetujui dengan kaku, "Tentu." Lalu disemprotnya muka pria itu lagi.

"Aku pakai otak, bangsat!" jerit Ino. "Aku selalu pakai otak, dan aku sudah muak denganmu, muak dengan Sakura, Kau dengar?! Aku muak dengan kalian! Dan sekarang tambang uang membenciku!"

Si tetangga memandangnya seolah ia sudah gila. Tapi Ino tidak peduli. Ia marah. Dan marah mengalahkan logika hari ini.

"Tambang uang?"

"Ya!" bentak Ino galak. "Karena tambang uang aku bisa tinggal disini, dan sekarang dia membenciku!" lanjutnya lagi. "Hanya karena aku memberitahu sebuah rahasia pada seorang teman dekat karena seperti yang kau tahu dia teman dekat. Dan teman dekat berbagi rahasia. Untuk hal yang baik tentu saja. Maksudku aku ingin berbuat baik dengan berbagi rahasia. Tapi dia malah mengadukanku. Aku! Kau dengar?! Dia mengadukanku! Dan tambang uang membenciku karena itu!"

Laki-laki itu hanya mengangkat alisnya mencemooh.

"Kau tidak mengerti, kan? Kau tidak mengerti bagaimana rasanya ditikam dari belakang karena teman dekatmu tidak berpikir! Dia tidak berpikir, sialan! Kenapa dia tidak berpikir?! BITCH." jerit Ino sambil terisak marah. "Dan sekarang aku memaki di depanmu padahal aku mencoba menghindarinya." Lalu ditatapnya lelaki itu lagi. "Kau benar-benar tidak mengerti, ya? Makanya jadi perempuan biar ngerti!"

Pria itu berdecak terang-terangan. "Apa rahasia ini menyangkut si tambang uang?"

Ino berpikir aib adalah kata yang tepat, tapi… "Ya."

"Then I prefer be a man, thank you."

"Aku tidak benar-benar menyarankanmu operasi kelamin! Aku hanya ingin kau lebih bersimpati."

Pria itu memandang ke atas, saat tersadar ia tidak akan keluar dari tempat ini dalam tiga menit ke depan, ia mendesah dengan suara keras. "Kau ingin aku bagaimana?"

"Yah, sebagai permulaan, kau bisa bilang; 'Aku turut berduka cita kau kehilangan gajimu bulan ini dan harus mengganti tempat tinggal minggu depan.'"

"Baiklah," katanya lelah. "Aku turut-"

"How dare you repeat my word, dammit?!"

"Kupikir kau sedang berhenti mengumpat," ejek pria itu.

"Santo pun akan mengumpat gara-gara kau!"

Laki-laki itu memandangnya dengan tatapan menghina lagi.

Ino lalu menghela napas dalam-dalam, berusaha mengekang amarahnya. Memaki si tetangga tidak akan membawanya kemanapun. "Oke, terserah. Sialan kau membuatku mengumpat lagi. Padahal aku benar-benar sedang mencoba menghindarinya."

Laki-laki itu memandangnya aneh. "Ya, memang kau harus menjaga mulutmu itu.

Ino menyibakkan rambut yang menutupi wajahnya kesal. "Aku minum tadi," katanya. "Dan aku perlu tidur. Kepalaku pusing. Lebih baik aku pergi sebelum menyakitimu."

Pria itu mengangguk. "Ide bagus. Aku tidak suka terpaksa menangkapmu."

Ino mengernyit. "Ha?"

"Aku polisi," sahut laki-laki itu, "Dan ini apartemenku" lalu mendorong Ino ke pinggir, membuka pintu dan membantingnya.

Dan Ino terdiam. Merasa shock yang luar biasa.

"Yah, persetan."

.

.

.

Hinata menoleh dari bak cuci piring dan menatap ruang depan dengan curiga. Ia tadi merasa mendengar suara pintu yang dibuka dan ditutup pelan, tapi tidak muncul seorangpun. mematikan kran air, ia berjalan ke arah ruang tamu sambil mengelap tangannya.

Dan dilihatnya ino bersembunyi di belakang salah satu sofa. Jarinya tersilang di depan saat ia melihat Hinata.

"Apa Naruto sudah pergi?" bisik perempuan itu takut-takut.

"Belum," jawab Hinata ikut merendahkan suaranya. "Dia sedang mandi. Kenapa?"

"Aku tidak mau dilihat olehnya."

"Umm, okay," sahut Hinata canggung. "Apa kau akan di sana seharian?"

"Hanya sampai Naruto pergi," bisik Ino lagi. "Apa kau sudah sarapan? Perlu kubelikan sesuatu?"

Hinata menggeleng. "Aku membuat sup miso dan makarel panggang."

"Makarel untuk sarapan?"

"Aku lapar," sahut Hinata santai. Hamil membuatnya memiliki alasan yang tepat untuk makan sepuasnya.

Poci berisi air yang dijerang menjerit nyaring tanda air sudah mendidih dan Hinata kembali ke arah bak cuci, sementara Ino kembali bersembunyi dengan tekun.

Untuk enam puluh detik.

"Aku benar-benar akan memecatmu."

Ino meringis, suara yang sudah dikenalnya itu nyaris membuat jantungnya berhenti berdetak. Menarik napas dalam-dalam, ia bersiap menghadapi mimpi buruknya. Saat Ino mendongakkan kepala, laki-laki itu sudah berdiri di sana, dengan pakaiannya yang rapi seperti biasa.

"Hai," sapanya lemah yang dibalas anggukan singkat.

Sama sekali bukan jawaban yang paling ramah.

Ino berusaha menelan air liur dan susah melakukannya ketika kau sangat gugup.

"Memecatnya? Kenapa?" tanya Hinata saat kembali ke ruang depan. "Aku suka Ino."

Naruto menatapnya dengan pandangan meremehkan. "Kau suka semua orang," katanya dengan nada seolah itu adalah kenyataan yang sudah sangat jelas.

"Aku tidak suka kau," balas Hinata cepat, jelas terlihat tersinggung. Dan Naruto menyeringai karenanya.

"O ya? Aku tidak merasa begitu semalam."

Ino terkesiap, ia mengamati keduanya dengan penuh spekulasi. Sementara wajah Hinata memerah dengan cepat.

"Apa yang terjadi semalam?" tanya Ino dengan antusias.

"Tidak ada," jawab Hinata keras, dan mendelik pada Naruto dengan galak.

Roman wajah Ino berubah jadi meragukan, sekarang dengan terang-terangan menatap mereka dengan pandangan curiga yang membuat Hinata gelagapan.

"Tidak terjadi apa-apa!"

"Uh-uh."

Hinata beralih pada Naruto dengan tampang memelas. Berharap lelaki itu mau membantunya. Ino yang antusias sangat sulit dihadapi.

"Tidak terjadi apa-apa," kata Naruto, mengulang ucapan Hinata dengan tegas, tapi raut wajahnya tidak meyakinkan. Sesaat Ino terlihat tidak percaya, sebelum akhirnya menghela napas pasrah dengan wajah yang terlihat agak kecewa.

"Yah, baiklah," gumamnya pelan lalu menurut saat Hinata mengajaknya ke dapur di mana meja sudah di tata rapi, dan Ino merasa sedikit bersalah.

"Aku tidak akan terlambat lagi," janjinya pada Hinata lalu menyantap makanannya. Naruto mendengus, jelas sekali ia tidak mengenal motivasi. Bibir Ino mencibir, "Aku sungguh-sungguh! Jadi kau tidak punya alasan memotong gajiku lagi," katanya sedikit kesal, tapi dalam hati ia merasa senang.

Pagi ini tidak seburuk yang ia kira. Dan Ino berharap, sikap ramah Naruto ini menandakan pria itu telah benar-benar memaafkannya.

Mereka makan dengan tenang selama beberapa saat sebelum akhirnya Ino teringat, "Apa kalian akan datang ke reuni?" tanyanya. Naruto bergumam tak acuh sementara Hinata menatapnya bingung.

"Reuni sekolah," kata Ino lagi. "Kupikir semua orang mendapat undangannya."

"Kau tidak dapat undangan?" tanya Naruto pada Hinata dengan heran.

"Umm, aku dapat," jawabnya dengan tidak yakin. Ya, undangan. Rasanya memang ada yang begitu. "Aku hanya tidak menyangka kita satu sekolah."

Ino menatapnya aneh, "Tentu saja kita satu sekolah," lalu menambahkan dengan hati-hati. "Tapi kita jarang ngobrol."

"Kehidupan sosialnya memang menyedihkan," komentar Naruto yang kembali dihadiahi tatapan sengit Hinata. "Atau dibatasi. Hyuuga thing."

Ino mengangguk. Ia tidak paham sebenarnya, tapi menerimanya saja. Karena ia ingat gadis itu memang selalu dikelilingi keluarga Hyuuga-nya. Dan itu menjadi lelucon tersendiri untuk mereka saat itu, ditambah lagi rumor yang mengatakan Hinata menyukai Naruto. Bukan hal yang penting sebenarnya, tapi hal-hal tidak penting seperti itulah yang selalu lumayan untuk ditertawakan. Remaja dan rasa humor mereka. Sekarang Ino benar-benar merasa bersalah.

"Kita satu sekolah," kata Ino, merasa penting untuk mengatakannya dengan tegas. "Dan jika kau tidak mendapat undangan-"

"Aku dapat," tukas Hinata cepat. "Tapi aku tidak mau pergi." Dari raut wajah Ino, Hinata dapat melihat bahwa itu bukan jawaban yang ingin didengar perempuan itu. Lalu ia menatap Naruto dan mengulanginya lagi. "Aku tidak mau pergi."

"Tapi kenapa?" tanya Ino heran. Ini reuni. Selalu menyenangkan bertemu dengan teman lama, kan? "Kurasa ada banyak yang ingin bertemu lagi denganmu."

Hinata menggeleng dengan tegas. "Aku tidak mau pergi."

Ino melirik Naruto yang sekarang menghirup tehnya dengan tenang, sama sekali tidak peduli pentingnya Hinata pergi ke reuni. Tidak bisa diandalkan.

"Reuni tidak seburuk itu," bujuk Ino. "Umm, mungkin bisa, tapi ini reuni. Kapan lagi kau bisa bertemu teman-teman lama?"

Tapi ia tidak punya teman, batin Hinata murung. Jadi tidak akan ada yang kehilangan jika ia tidak datang. Satu-satunya yang bisa ia sebut teman hanyalah Eimi, tapi ia juga meninggalkan Hinata sendiri setelah berpacaran dengan Naruto. Sementara yang lain lebih senang menertawainya di belakang. Hinata sama sekali tidak mau bertemu dengan mereka lagi.

"Dia tidak akan pergi," kata Naruto tenang. "Udara malam tidak bagus untuknya."

Ino akan memprotes lagi tapi berhasil menggigit lidahnya disaat terakhir. Bukan urusannya, batinnya dalam hati. Ia sama sekali tidak punya urusan dengan ini. "Aku mengerti. Jadi hanya Naruto dan Shika yang pergi," keluhnya, mengabaikan Naruto yang memberinya tatapan meremehkan sebelum beranjak dari duduknya.

Hinata mencondongkan badan ke seberang meja untuk menepuk-nepuk tangan Ino, memberinya penghiburan. Ia tahu Ino lebih suka menghabiskan waktunya dengan para perempuan dibanding kedua lelaki itu, tapi cukup bertoleransi.

"Jadi, apa yang akan kita lakukan hari ini?" tanyanya setelah Naruto pergi meninggalkan mereka.

Hinata berpikir ia ingin tetap di rumah dan menonton televisi, udara di luar akan menjadi sangat menyengat saat siang hari. Tapi sepertinya stasiun televisi punya pertimbangan aneh dengan siarannya. Mereka lebih sering memutar film horror saat musim panas ini.

Akhirnya ia mengangkat bahu dan Ino kelihatan senang dengan mata berbinar-binar.

"Kita bisa belanja!"

Hinata meringis. Oh sial. Ia tidak akan suka ini.

.

.

Karena ini hari kamis dan reuni diadakan pada sabtu malam, Ino memutuskan mereka tidak akan menjelajahi seluruh toko untuk mencari pakaian terbaik, tapi langsung membeli di butik kenalannya.

"Dress code-nya kasual, tapi bukan berarti kita dilarang berpenampilan glamor," imbuhnya saat ia mencoba beberapa gaun yang menurut Hinata lebih cocok untuk pesta cocktail.

Mereka kemudian mampir ke kafe untuk makan siang dan berlama-lama di sana sebelum akhirnya berbelanja bahan makanan sebelum pulang.

Hinata bukan orang yang suka berlama-lama belanja. Ia tidak suka melakukannya. Jadi saat Ino masih bingung memilih ayam atau sapi, Hinata melemparkan kubis, selada dan apapun yang ia rasa suka ke dalam keranjang, lalu menyeret Ino bergegas menyusuri lorong-lorong lainnya.

"Err…apa kita tidak terlalu buru-buru?"

"Aku suka belanja cepat," sahut Hinata dan melempar gurita yang telah dibersihkan ke dalam keranjang belanjaannya.

"Benar," balas Ino tak yakin, tapi kemudian ikut memasukkan apapun yang berada dalam jangkauannya.

Saat keranjang mereka penuh, mereka segera membawanya ke kasir dan membeli ice cream diperjalanan pulang.

"Yang tadi menyenangkan," kata Ino saat mereka berdua berselonjoran di sofa setelah belanja seharian. "Kita harus melakukannya lagi kapan-kapan."

Hinata mengangguk, sama puasnya dengan perempuan itu. Mereka tadi sudah belanja habis-habisan, dan sofa memang tempat yang nyaman untuk bersantai.

Kelihatannya belanja tak seburuk yang ia kira, atau mungkin tidak terasa buruk karena ia memiliki teman untuk melakukannya.

Dan saat Naruto pulang dari tempat kerja, mereka tidak merasa bersalah karena terlambat memasak makan malam.

.

.

.

Sakura menatap pantulan dirinya di cermin dengan muram.

Matanya bengkak, bukti bahwa ia telah menangis selama beberapa jam. Tidak, ia tidak sedang bersedih. Ia hanya kecewa. Delapan kali ia menelepon dan tiga kali ia mengirim pesan suara…semuanya dibalas dengan jawaban yang sama; "Aku sibuk, ada rapat beberapa menit lagi."

Shit!

Sakura tidak meminta banyak, sungguh, ia hanya ingin mereka lebih sering bertemu. Lebih sering menghabiskan waktu bersama seperti pasangan lain. Ia tidak keberatan jika waktu yang mereka habiskan hanya satu atau dua jam. Beberapa menit pun ia tidak akan mengeluh.

Tapi Sasuke sepertinya tidak mengerti.

Ya, dia pengusaha dan ya, dia akan mewarisi perusahaan keluarga. Sakura sangat paham jika lelaki itu sibuk. Tapi tidak bisakah ia meluangkan waktu sejenak? Untuknya? Untuk mereka?

Sakura lelah dengan hubungan ini.

Sejak awal, hubungan mereka hanya berisi argument, panggilan darurat, dan kencan-kencan batal. Dulu Sakura tidak keberatan. Ia sudah memikirkannya dan tidak akan memedulikannya. Ia kuat, dan yakin ia bisa mengatasinya.

Tapi sekarang Sakura merasa selama ini mereka berpegangan pada tali tipis. Tidak ada landasan kuat. Ia merasa menjalani hubungan ini sendiri. Dan ia sudah tidak tahan.

Ia hanya berharap Sasuke lebih peduli.

Sakura menarik napas panjang. Jika Sasuke tidak mau peduli, ia juga akan bersikap sama. Sudah cukup ia bersabar selama ini. Sudah cukup ia bertahan.

Sekarang saatnya untuk menjalani lembaran baru, dengan atau tanpa Sasuke.

.

.

.

Shikamaru sedikit mengernyit saat memperhatikan Ino dari seberang ruangan.

Perempuan itu memakai gaun simple berwarna ungu muda yang menonjolkan lekuk tubuhnya dengan sangat baik. Riasan wajahnya agak sedikit tebal menurut Shikamaru, tapi tentu saja Ino tidak akan terima. 'Tidak ada yang terlalu tebal untuk makeup,' katanya. Shikamaru mendengus. Perempuan, batinnya tidak paham. Mereka hanya tidak mau menerima kritikan.

Dan perempuan itu sekarang sedang mendikte seorang Hyuuga.

"Aku membuat sedikit cemilan, ku taruh dalam lemari kedua. Dan jangan membuka pintu sebelum memastikan siapa orangnya, jika kau tidak mengenalinya, segera telepon aku, nomorku masih tertempel di pintu lemari es."

Hinata mengangguk seperti murid sekolah yang patuh dan tidak membantah sama sekali. Dan Shikamaru menatapnya dengan tidak percaya. Apa dia benar-benar Hyuuga? Lalu ditatapnya Naruto yang berdiri tak jauh darinya. Ekspresinya biasa saja, sepertinya kejadian ini memang sudah sangat biasa di rumah ini.

"Kita akan terlambat," kata Shikamaru akhirnya dan keluar menuju mustang-nya yang terparkir manis. Ino mengangguk dengan tidak sabar sementara mengatakan beberapa wejangan terakhir pada Hinata. Dan saat merasa ia telah mengatakan semuanya, barulah ia mengikuti Shikamaru keluar. Masih menatap ke arah rumah dengan tidak yakin.

"Ingat, jangan buka pintu sebelum memastikan siapa orangnya," kata Ino sambil menjulurkan kepalanya keluar jendela mustang Shikamaru yang berharga.

Shikamaru memutar matanya, Ino bisa sangat berlebihan. Lalu dilihatnya Naruto mengatakan sesuatu pada perempuan itu, sepertinya ia menyuruhnya masuk, dan tetap berdiri di sana sampai yakin pintu telah di kunci rapat sebelum kemudian bergabung bersama mereka.

"Aku khawatir," ujar Ino saat mereka baru setengah jalan. "Hinata tidak pernah ditinggal sendiri, bagaimana kalau dia jatuh, terpeleset, lalu keguguran?" tambahnya mulai panik. "Sebaiknya kita kembali."

"Dan memastikan lantai tidak licin?" tanya Shikamaru tidak tertarik. Ino memukul lengannya keras.

"Dia bisa menjaga dirinya sendiri," kata Naruto tenang dan Ino tidak membantah. Ia juga tahu Hinata bisa mengurus dirinya sendiri, tapi tetap saja ia khawatir. Ini pertama kalinya perempuan itu ditinggal sendiri di sana.

Dan Shikamaru tidak bisa menahan diri untuk tidak memutar matanya saat mendengar ucapan Naruto. Itu, batinnya tak percaya, dikatakan oleh lelaki yang baru saja memastikan perempuan itu mengunci pintu dengan benar.

Sepanjang perjalanan, Ino masih cemas, Naruto tidak peduli, sementara Shikamaru hanya ingin malam ini cepat berakhir.

.

.

.

Ia merasa gugup.

"Hentikan," kata gadis itu pada dirinya sendiri. "Jangan bersikap konyol."

Sayangnya, menyadari rasa gugupnya itu konyol tidak membantu membuat rasa gugup itu hilang. Dan ketika seseorang mulai berbicara pada dirinya sendiri, kelihatannya cukup menyedihkan.

Tangannya yang berkeringat gemetar ketika menutup pintu taksi di belakangnya sambil mengepit sebuah tas yang terbuat dari kulit ular. Dengan tangannya yang basah dan gemetar itu, ia merapikan rambutnya sekilas.

Sambil menghela napas dalam-dalam, ia menyusuri pinggiran jalan menuju sekolah lamanya. Alunan lagu yang terkenal beberapa tahun lalu membahana dari arah aula. Dengan sedikit tidak yakin, ia masuk melalui pintu yang terbuka lebar itu dan menatap sekeliling.

Perkusi bas dari musik yang terdengar menimbulkan entakan lembut di dadanya. Ada sebuah panggung yang sengaja didirikan. Meja panjang yang menyediakan minuman dan makanan kecil. Lalu suara orang tertawa dan bercakap-cakap berdesir di sekelilingnya. Panca-indranya dipenuhi getaran dari pesta ini, tetapi ia hanya bisa berdiri bingung tepat di depan pintu.

"Eimi."

Wanita yang sedang duduk di belakang meja langsung bangkit berdiri dan mengitari meja sambil merentangkan kedua lengannya lebar-lebar. Ia memeluk Eimi erat-erat. "Kau datang. Senang sekali bisa bertemu denganmu lagi."

Eimi tersenyum. "Aku juga senang bertemu denganmu, Ayumi-chan." Lalu dengan gugup menambahkan, "Apa dia ada disini?"

Ayumi merendahkan suaranya dan mencondongkan tubuhnya lebih dekat. "Dia baru datang bersama Shikamaru, aku menyapanya tadi, tapi…"

Eimi membasahi bibirnya.

Inilah saatnya. Dan Eimi tidak perlu merasa takut lagi.

Selama beberapa hari, sejak menerima undangan tentang reuni kelas setelah delapan tahun kelulusan, Eimi takut mendengar nama Naruto untuk pertama kalinya. Well, kini ia sudah berada di sini. Dan tidak ada yang perlu ditakutkan lagi. Memang organ-organ vitalnya sempat terguncang sejenak, tetapi ia masih berdiri, masih bernapas. Semua akan baik-baik saja.

Tangan Eimi yang gemetar mencengkram tasnya makin erat. "Bagaimana dia?"

"Dia..sopan," katanya setelah beberapa saat, kemudian menambahkan dengan yakin. "Tapi kurasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Ayumi meraih lengan Eimi dan mengajaknya bergabung dengan keramaian pesta. "Ayo sana, ambil minum, sapa yang lain. Banyak yang ingin bertemu denganmu. Kita bisa ngobrol nanti."

Eimi mengangguk dan dengan sedikit takut mencoba menyapa orang-orang yang berada di dekatnya.

Meskipun pada awalnya merasa malu, ketika sudah bertemu dengan banyak mantan teman sekelas yang dikenalnya, Eimi mulai menikmati pesta ini dengan antusias.

Ia menjalin kembali hubungan dengan teman lama, bertemu dengan pasangan-pasangan, dan mendengar versi singkat dari cerita mereka. Tidak semua, beberapa masih memandanginya dengan tajam seperti dulu, tapi itu sudah cukup.

Sambil tersenyum sendiri, Eimi menunduk dan menatap tangannya. Nanti, ketika semua ini selesai, ia bisa sendiri lagi. Dan menikmati waktu sepuasnya.

Saat Eimi kembali menengadahkan kepalanya, ia bertatapan dengan pria itu.

Segala sesuatu di dalam dirinya membeku.

Pria itu lebih tampan, lebih memikat, dibanding yang ada dalam ingatannya.

Rambutnya yang berwarna kuning terang dipotong pendek, alisnya yang tebal hanya sedikit lebih gelap dibanding bulu mata yang melindungi bola matanya yang biru Kristal, sebening langit musim panas.

Perut Eimi terasa hangat, indra-indra dalam dirinya bergolak seolah ia baru saja meneguk segelas sake yang sangat kuat.

Ia mengangguk singkat padanya, lalu kembali berbicara pada teman yang berada disampingnya.

Eimi masih mengenali mereka sebagai teman-teman Naruto, teman-teman yang juga dulu dekat dengannya. Yang dulu sering bercanda dengannya. Teman-teman yang sama yang kini tidak ingin ia dekati lagi.

Eimi kembali menghirup napas panjang. Inilah saatnya, gumamnya pelan. Kemudian bergerak mendekati pria itu. Degup jantungnya menghentak dadanya keras dan terasa menyesakkan. Tangannya berkeringat dingin. Tapi ia mengabaikan semua itu dan mencoba mengalirkan sikap optimis ke dalam kepalanya. Inilah saatnya.

"Lama tidak bertemu," sapanya hangat saat jarak mereka hanya beberapa inci. "Naruto-kun."

Naruto menatapnya, begitu juga yang lain. Ia bisa merasakan tatapan tak suka dan sikap permusuhan tapi mengabaikannya. Perhatiannya hanya terpusat pada Naruto. Bukan yang lain.

Pria itu tidak tersenyum, hanya bergumam pelan sebagai jawaban. Matanya terlihat sedang sibuk mengamati setiap bagian di wajah Eimi.

"Eimi."

Eimi menatap orang yang menyapanya dan tersenyum, ia cukup mengingat orang ini. Si netral. Ia tidak mendukungnya tapi juga tidak membencinya. Hanya selalu ada disana. "Shikamaru-kun," sapanya. "Lama tidak bertemu."

Shikamaru mengangguk dan membalas sapaannya singkat. Kemudian saat tidak ada yang bicara lagi setelah itu, ia kembali menatap Naruto yang masih memperhatikannya.

"Aku," Eimi memulai dengan tidak yakin. "Ada yang ingin kubicarakan. Berdua." Lalu menambahkan dengan cepat saat pria itu terlihat akan menolak. "Ini penting."

"Kenapa tidak bicara di sini?" tanya Shikamaru menyela. Sama sekali tidak paham arti privasi. Eimi menatapnya dengan pandangan tak senang. "Karena ini penting," balasnya sedikit kesal, lalu seolah kembali ingat tujuannya, ia menatap Naruto dengan ekspresi memohon. "Hanya sebentar, please. Ini tidak akan lama."

Naruto menghela napas sebelum mengiyakan. Dan Eimi tersenyum.

Hanya sebentar, batinnya sepenuh hati. Hanya sebentar lagi saja. Dan semua ini akan berakhir.

.

.

Shikamaru menatap kepergian keduanya dengan ekspresi datar. Sekarang, karena Naruto pergi, dan Ino juga tidak kelihatan, bisakah dia pulang?

"Menurutku dia tak tahu malu," komentar Sakura yang juga melihat arah Naruto pergi. "Setelah apa yang ia lakukan.."

"Mungkin," sahutnya tak tertarik. "Dimana Sasuke?" tanyanya mengubah topik pembicaraan dan seketika merasa menyesal.

Sakura menggigit bibirnya, dan kemuraman menyelimuti wajahnya. "Sibuk, ada rapat yang harus ia hadiri segera." Lalu menambahkan dengan nada yang lebih murung. "Dia selalu sibuk."

"Yah, Uchiha. Bukan seseorang yang bisa diremehkan," ucapnya dengan hati-hati. Matanya mencari pertolongan, tapi terlambat menyadari bahwa hanya ada mereka berdua yang berdiri disini.

Ino yang pada awalnya mencemaskan Hinata, segera berubah antusias ketika melihat kemeriahan pesta. Dan tak butuh waktu lama untuknya berbaur dengan yang lain.

Sensei yang mengajar mereka juga ada disana, mencoba melebur. Mereka tidak benar-benar berhasil, tapi setidaknya mereka berusaha. Atau dalam kasus Kakashi, mencoba berpura-pura berusaha.

Yah, dia menyebalkan.

Beberapa orang memang menyebalkan secara alami. Beberapa yang lainnya berusaha keras untuk jadi menyebalkan. Hatake Kakashi termasuk keduanya.

Dan Shikamaru menghormati pria itu.

Temannya yang lain, Sai, Choji, Lee dan beberapa orang lain sedang mengerumuni meja tempat minum dan sedang berdebat seru.

Meninggalkan Shikamaru terjebak di sini sendiri dalam masalah yang paling ia hindari; perempuan.

Sakura mengangkat bahu, berusaha terlihat tak acuh, dan gagal. Ia mungkin akan berhasil menipu beberapa orang jika saja ia tidak terlihat hampir menangis.

"Aku tahu Uchiha hebat, tapi tidak bisakah mereka sedikit lebih perhatian," keluhnya, tidak peduli Shikamaru mau mendengarkan atau tidak. "Maksudku, aku tidak melarangnya pergi rapat, tapi dia yang mengajakku ke sini, ke reuni sekolahnya sendiri, lalu pergi dan meninggalkanku! Dia pikir aku apa?"

Shikamaru merasa makin tak enak hati. Ia tidak mau dengar. Tidak mau terlibat. Ia hanya ingin pulang. Tapi ia tetap di sini. Dan diam mendengarkan.

"Aku pikir sudah saatnya kami berdua menjalani kehidupan masing-masing tanpa terikat satu dengan yang lain," ujar Sakura akhirnya. "Terus seperti ini tidak akan membawa kami kemanapun."

"Begitu?" gumam Shikamaru lebih pada dirinya sendiri. "Jadi ini akhirnya?"

"Sepertinya," ucap Sakura mengakui, memandangi orang-orang yang bercakap-cakap dengan semangat. Lalu menggelengkan kepala pelan, dan menatap Shikamaru. "Sudah cukup tentang Sasuke, aku ingin tahu tentang Naruto."

Lelaki itu mengangkat sebelah alisnya. "Naruto? Ada apa dengannya?"

Dan itu pertanyaannya.

Sakura berpikir sebentar lalu menanyakan hal yang pertama terlintas dibenaknya. "Dia berubah, aku ingin tahu kenapa?"

Shikamaru tidak langsung menjawab, atau mengelak. Ia hanya menatap Sakura lama, sampai ia pikir lelaki itu tidak akan menjawab pertanyaannya.

"Aku juga ingin tahu," katanya dan itu membuat Sakura kembali merasa kesal.

"Shikamaru," ujar Sakura dengan kemarahan tertahan. "Aku sudah bicara dengan Ino dan mendengar beberapa hal darinya, jadi tolong."

Yang artinya; tolong jangan menganggapnya bodoh. Sakura terlambat, Shikamaru sudah menganggapnya demikian.

"Di mana Gaara?" tanyanya sambil memandang berkeliling mencari teman pindahan mereka. Jika Sakura pindah saat sekolah tingkat menengah pertama, Gaara pindah ke sekolahnya saat kelas satu dan pindah lagi semester berikutnya. Tapi meskipun singkat, keberadaannya cukup memberi…kesan tersendiri.

"Apa?" tanya Sakura, tidak siap dengan perubahan arah pembicaraan mereka. "Oh. Sasuke bilang dia dalam satuan tugas. Dan jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan," lanjutnya galak.

Shikamaru menghela napas lelah. "Merepotkan." Ia menatap Sakura yang masih menunggu dengan tidak sabar. "Kau tidak akan mendapat apapun dariku."

"Apa maksudmu?"

Ia menggosok ujung hidungnya pelan. "Sakura, aku tidak mau namaku tersebar kemana-mana."

Sakura makin mengernyit bingung. Dan Shikamaru kembali menghela napas. Darimana ia harus memulai?

"Ino memberitahumu sesuatu," katanya setengah hati. "Dan kau langsung memberitahunya pada Naruto, kemudian padaku. Mungkin juga kau akan memberitahunya pada Sasuke jika dia punya waktu untuk mendengarkan. Dalam sekejap, semua orang akan tahu apa yang Ino katakan padamu. Dan aku tidak mau mengalami itu."

Sakura membuka mulutnya, lalu mengatupkannya lagi dengan cepat. Wajahnya memerah. "Aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi," kata Sakura akhirnya. "Dan kupikir kita teman."

"Kita teman," sahut Shikamaru meyakinkan. "Dan karena itu, aku tidak akan menceritakan tentangmu dan Sasuke pada 'teman-teman' kita."

Sakura terdiam, dan Shikamaru tidak mendesaknya lebih jauh. Ia memandang berkeliling dan memutuskan sudah cukup lama ia berada di sini.

"Apa yang harus kulakukan?" tanya Sakura sebelum lelaki itu bisa beranjak. "Aku baru kembali ke kota ini lagi, dan kalian berubah. Aku merasa tidak tahu apapun. Dan semua yang kudengar saling bertentangan. Aku merasa ditinggalkan sendiri."

Shikamaru terdiam, sedikit merasa simpati pada perempuan itu. "Mengetahui semuanya..apa itu akan membuat perbedaan?"

"Tentu saja," katanya tegas, lalu sedetik kemudian berubah ragu. "Mungkin."

Lelaki itu berdecak pelan, "Aku harus pergi, jam malamku sudah lama lewat."

"Kau punya jam malam?" tanya Sakura yang sangat jelas tidak mempercayainya. "Sejak kapan?"

"Sejak malam ini," sahut Shikamaru. Ia datang hanya untuk menghormati yang mengundang, bukan untuk bersosialisasi. Dan sekarang, setelah ia merasa cukup, ia ingin tidur.

"Oh, baiklah," kata Sakura. "Kurasa aku juga akan pulang."

"Kau tidak perlu-"

"Tidak, aku benar-benar ingin pulang. Lagipula tidak ada yang bisa kukerjakan lagi disini."

"Ino bisa menemanimu," usul Shikamaru. Teringat bagaimana perempuan sangat suka berada di dekat spesiesnya sendiri. Tapi Sakura cepat-cepat menolak gagasan itu.

"Dia sedang marah padaku," keluhnya muram.

Oh ya, benar. Ia lupa perempuan juga pemarah.

"Aku bisa mengantarmu," kata Shikamaru akhirnya. Berharap dalam hati ia tidak akan menyesali perbuatannya ini. Sakura tersenyum samar.

"Terimakasih.

.

.

Shikamaru baru saja masuk ke area parkir gedung apartemennya ketika ponselnya bergetar dibalik sakunya.

"Dimana kau?" Adalah pertanyaan yang terdengar saat ia menempelkan benda itu ke telinganya. "Apa Naruto bersamamu?"

"Tidak," sahut Shikamaru menjawab pertanyaan kedua. Terdengar gumaman panik disana.

"Aku masih di aula, dan aku ingin pulang," kata Ino cepat. "Kurasa aku meninggalkan microwave tetap menyala, tapi Naruto tidak kelihatan. Ponselnya tidak bisa dihubungi. Kau juga tidak ada. Aku pikir dia bersamamu."

"Aku mengantar Sakura pulang," jelas Shikamaru, masih belum sanggup berbicara dengan volume tinggi. Intuisi membuatnya siaga. "Apa Eimi ada disana? Naruto mungkin masih bersamanya."

Terdengar gemerisik pelan.

"Tidak, dia tidak ada disini."

"Mungkin mereka masih bicara, atau mungkin mereka juga sudah pulang," katanya, sebisa mungkin tidak membuat perempuan itu makin panik. "Aku akan kembali ke sana. Jadi jangan beranjak dari tempatmu sebelum aku datang."

Dengan cepat ia kembali menghidupkan mustang-nya dan keluar dari pelataran parkir.

Jantungnya berdentam tak karuan. Sesuatu sedang atau sudah terjadi. Dan itu membuat Shikamaru sedikit takut. Ia benar-benar berharap malam ini cepat berakhir.

.

.

Tempat ini kosong, dan mereka tidak bertemu siapapun di koridor, yang tentu saja tidak mengherankan mengingat orang-orang masih berkumpul di aula.

Perempuan itu tidak bicara, hanya berjalan dengan tenang di sampingnya.

Mereka berjalan sepanjang lorong yang sempit itu, dan Eimi membuka pintu -yang ia curigai sebagai gudang- melangkah ke samping untuk memberi jalan agar Naruto masuk lebih dulu.

Naruto mengerutkan hidung mencium bau lembab dan kecut, seolah-olah sudah lama tidak ada orang yang masuk ke situ. Tempat itu juga gelap.

Lalu sesuatu yang keras menghantam punggungnya, ia terdorong maju ke ruang yang gelap dan bau itu, terjerebab ke lantainya yang keras dan kasar. Tiba-tiba ia tersadar, berusaha berguling ke samping dan berjuang bangkit berdiri ketika ada pipa logam panjang berdesing melewatinya.

Naruto menggeram saat benda itu mengenai bahunya. Ia berusaha merebut pipa itu, namun Eimi lebih cepat. Pipa itu berdesing lagi, lampu-lampu meledak dalam kepalanya, dan ia tidak merasakan apa-apa lagi.

.

.

"Masuklah, tapi jangan katakan apapun pada Hinata. Kita belum tahu apa yang terjadi. Mengatakan hal yang belum jelas hanya akan membuatnya cemas."

Ino mengangguk kuat-kuat.

"Dan istirahatlah, kau keliahatan kacau."

"Aku merasa kacau," gumam Ino pelan.

"Semakin memperkuat alasan kau harus segera tidur. Sekarang keluar. Jangan lupa kunci pintu."

Ino mengangguk lagi dan keluar dengan patuh. Saat ia membuka pintu, Shikamaru masih mengawasinya, jadi ia melambai sekilas lalu masuk ke dalam rumah. Tak lupa mengunci pintu dan mengeceknya dua kali.

Setelah yakin Ino sudah berada aman dalam rumah, Shikamaru kembali melajukan mustang-nya sambil mengingat tempat-tempat yang mungkin didatangi Naruto dan kemana ia akan memulai.

Saat menjemput Ino tadi, mereka telah menjelajahi seluruh aula dan menanyai beberapa orang. Tapi tak satupun yang tahu dimana Naruto ataupun Eimi. Satu-satunya yang terpikir olehnya adalah mereka berdua sudah pulang. Jadi mereka menghubungi Hinata, yang justru mengkonfirmasi kecurigaannya. Naruto belum pulang.

Ia baru memasuki kawasan pantai saat ponselnya kembali berbunyi. Ada satu pesan yang masuk dan Shikamaru mendengus pelan. Ia sama sekali tidak memikirkan tempat ini sebelumnya.

Yah, benar-benar malam yang panjang. Dan Shikamaru benci reuni.

.

.

.

Ada suara yang terdengar. Naruto diam, mendengarkan langkah-langkah berat yang melintas-lintas di dekatnya, terdengar gumaman pelan yang makin jelas.

"Dia disini, milikku. Aku!" Itu suara Eimi, ia menyadari.

Naruto berusaha membuka matanya yang terasa berat, dan saat ia bisa melihat, kepalanya terasa berputar sehingga ia menutupnya lagi. Ia menarik napas dalam-dalam beberapa kali dan mencoba membuaka matanya lagi.

Sekarang lebih baik.

Dan Eimi masih bicara.

Naruto mencoba bergerak dan menyadari ia tangannya terikat di belakang kursi. Dinginnya logam bisa ia rasakan membelenggu pergelangan tangannya.

"Aku bukan bawahanmu, tidak lagi, sekarang kita bermain dengan aturanku!" bentak Eimi pada seseorang di telpon. "Dan saat kubilang mati, dia akan mati!" Lalu mematikan ponselnya dengan seringai lebar yang belum pernah ia lihat. Perempuan itu tertawa pelan, sepertinya benar-benar senang, dan saat ia melihat kearah Naruto, ia terlihat tak mungkin bisa lebih senang lagi.

"Ah, sudah bangun?" tanyanya ramah. Ponsel ditangannya dijatuhkan, tapi Eimi kelihatannya sudah tidak mempedulikan benda itu.

"Kita seharusnya bicara, kan?" tanyanya dengan ekspresi ganjil. "Jadi ayo bicara."

Jari-jarinya menyentuh sisi wajah Naruto lembut. Lalu kemudian tangan itu menjauh, dan sedetik kemudian menghantamnya keras.

Eimi memukul wajahnya sekuat tenaga, suara pukulannya menggema ke seluruh ruangan.

"Aku benar-benar menantikan saat ini," katanya. Seolah apa yang ia lakukan barusan senormal menepuk nyamuk. "Benar-benar ingin bertemu lagi denganmu."

Dan ia tertawa. Suaranya lembut mengerikan. Dan saat tawanya reda, ia mengeluarkan sebilah pisau kecil dari dalam tasnya.

Memainkan ujung pisau yang tajam itu di wajah Naruto.

Dan Naruto salah, perempuan itu bisa lebih senang lagi.

Gerakan Eimi secepat ular, lengannya mengayun ke belakang dan kemudian menghentak pisau dalam genggamannya kuat-kuat ke bahu Naruto.

Ujung pisau Eimi menancap disana, tempat yang sama dengan luka pertama yang membuat bahunya memar. Naruto berusaha menahan rintihan dari bibirnya. Napasnya meledak-ledak, keringat banjir di dahi. Matanya merah dan berair. Sakit yang maha hebat.

"Sakit?" kata itu keluar dari bibir Eimi dengan nada lembut mengejek. "Aku punya yang lebig sakit!"

Eimi lalu memelintir pisaunya. Praktis luka di bahu Naruto semakin menjadi.

Semakin tak tertahankan.

Naruto nyaris berteriak saking sakitnya luka yang dikoyak pisau itu. Namun ia tetap berusaha menahan suaranya. Harga dirinya tidak akan tahan jika ia menjerit seperti bayi.

Eimi menarik pisaunya cepat. Kontan darah segar muncrat dari bahu Naruto. Laki-laki itu limbung. Dan kemudian terdengar tawa Eimi lagi.

Lebih senang.

Lebih nyaring.

Naruto menatap wanita itu dengan napas tersengal, ia melihat sorot ganjil di mata eimi dan ekspresi sinting di wajahnya.

"Kau bajingan," katanya dengan suara parau, ujung pisaunya menyentuh sisi kepala Naruto. "Aku, setiap detik, menyesali bertemu denganmu." Dan ujung pisau itu di tekan. Menusuk kulit wajahnya. Senyuman Eimi makin lebar saat darah mulai mengalir keluar. Dengan sangat perlahan ia menggerakkan pisaunya turun. Mengiris dan mengoyak kulit dibawahnya.

"Ayahku mati gara-gara kau. Kazuya tidak menyukaiku gara-gara kau. Aku sengsara gara-gara kau. Semuanya gara-gara kau!" Teriaknya kasar, dan ekspresi wajahnya tiba-tiba terlihat sedih. "Kenapa kau merebut semuanya? Merebut kesenanganku!" Lalu ia terisak dengan sangat menyedihkan. "Dan kau, setelah semuanya, justru lebih kaya?"

Naruto menggeram pelan, tangannya berusaha memberontak saat wajahnya terasa basah dan mati rasa.

"Aku benar-benar membencimu, membenci setiap detik yang kuhabiskan bersamamu." Eimi menjauhkan pisaunya, memegangnya dengan lebih mantap, bersiap menusukannya ke jantung lelaki itu. "Selamat tinggal, Naruto-kun."

Eimi mengayunkan pisaunya. Untuk sesaat ia bisa merasakan desiran kebahagiaan. Ia menang.

Tapi sebelum benda itu mengenai Naruto, lengan pria itu menahannya dan menelikungnya sehingga pisau itu terlepas dari genggamannya.

Eimi terbelalak tidak menyangka. Tapi rasa terkejutnya tak sebanding rasa sakit yang ia rasakan saat pria itu membantingnya ke lantai.

Dan Naruto mencengkram lehernya dengan sebelah tangan.

Ia berkelit meronta, berusaha melepaskan diri. Tapi pria itu lebih kuat.

Eimi tersedak dan terbatuk-batuk. Tenggorokannya tercekik. Pandangannya mulai tidak fokus. Dalam beberapa detik ia semakin tercekik. Paru-parunya terasa terbakar, dadanya sesak. Ia berusaha memukuli pria itu, namun Naruto tidak bergeming sedikitpun.

Dan Eimi semakin melemah.

"If you feel life is so hard," ucap Naruto lembut. Semakin menambah tekanan cengkramannya pada leher Eimi. "Then just die already."

Perempuan itu masih meronta dibawahnya. Bibirnya membuka berusaha dan gagal meraup udara dengan rakus. Dengan satu tekanan kuat, ia mencekik perempuan itu. Lengannya tercakar dalam usaha terakhir perempuan itu untuk melawan. Setelah beberapa detik, ia merasakan napas terakhir perempuan itu. Berhembus samar-samar dan cepat. matanya terbelalak, lalu perlahan-lahan meredup. Kosong. Tubuhnya yang masih hangat berhenti bergerak. Nadinya tak lagi berdenyut.

Ia mati.

Dan Naruto mengawasi wajah cantik itu kehilangan warnanya. Pucat dan kaku. Ia masih diam memerhatikan sebelum akhirnya berbisik pelan, "Selamat tinggal, Eimi-chan."

.

.

"Aku segera kemari begitu dapat pesanmu," kata Shikamaru tegang. "You okay?"

"Better," tatapannya masih memperhatikan tubuh Eimi yang mendingin di lantai yang kotor, lalu mengalihkan perhatiannya pada Shikamaru. "Pastikan terlihat seperti kecelakaan"

Shikamaru mengangguk. Dengan dahi berkerut ia mengamati jari Naruto yang tertekuk aneh. "Jarimu patah."

Naruto menunduk dan melihat tangan kirinya. Tidak ada darah yang menetes disana, tapi bukan berarti membuat keadaannya lebih baik. "Tanganku di borgol," katanya kemudian.

"Tentu saja," ujar Shikamaru pasrah. "Kurasa sebaiknya kau pergi ke rumah sakit," katanya lagi saat Naruto masih berdiri diam. Mengamati dengan ekspresi datar tubuh perempuan yang dulu pernah ia sukai sepenuh hati terbujur kaku. Tergeletak menyedihkan di bawah kakinya. "Akan kuurus semuanya," ucapnya lagi dengan nada membujuk.

Naruto akhirnya menatap padanya, lalu mengangguk.

Shikamaru menunggu sampai Naruto pergi dan tak terlihat lagi sebelum ia mendekati tubuh Eimi dan memperhatikannya dengan seksama.

Ia merasa ada yang salah, tapi sampai kapanpun, ia tidak akan bertanya apa yang terjadi pada Naruto. Tidak lagi. Lagipula, ia akan tahu semuanya cepat atau lambat. Hanya masalah waktu.

Selalu seperti itu.

.

.

"Aku ingin kau memeriksa Eimi," kata Naruto begitu Shikamaru datang mengunjunginya. Lelaki itu berbaring di ranjang sambil menatap keluar. Lukanya telah dirawat dengan baik.

"Terlambat," sahut Shikamaru santai. "Aku sudah melemparnya dari atas jembatan layang. Dia akan sulit ditemukan."

Naruto berdecak pelan. "Bukan," katanya. "Aku ingin kau memeriksa semua hal tentang Eimi. Tempat tinggal, pekerjaan, dan siapa saja yang berada di jangkauan kontaknya.

Shikamaru mengernyitkan dahi bingung, lalu sebuah pemahaman muncul. "Pakaian," bisiknya seolah tersadar. Itulah alasannya mengapa ia merasa seperti bernostalgia saat bertemu Eimi. Perempuan itu tidak berubah dari yang dulu ia ingat. Masih cantik, masih memiliki style pakaian yang bagus yang seharusnya tidak lagi dimiliki perempuan itu.

"Dia memakai sutra," lanjutnya, merasa kecolongan. Saat Naruto menyerang ayah Eimi, Shikamaru ingat betul mendengar mereka mengalami kesulitan keuangan tak lama sesudahnya. Dan perempuan itu juga belum menikah.

Jadi bagaimana ia bisa memenuhi kebutuhannya selama ini? Bagaimana ia bisa membeli barang-barang mewah itu?

Naruto mengangguk setuju.

"Punya dugaan?" tanya Shikamaru akhirnya. Kepalanya mendadak pusing.

"Tidak, kau?"

"Ck, ini merepotkan," ujar Shikamaru tak suka. "Kita punya banyak pesaing dan juga teman yang akan senang menusuk dari belakang. Siapapun bisa jadi tersangka."

"We have a lot?"

"We makes a lot."

"Really?" tanya Naruto, nyaris terdengar sangat senang. "How lovely."

Hanya Naruto, batin Shikamaru pasrah. Hanya Naruto yang bisa begini.

"Katakan pada Ino bereskan kamar di lantai bawah, Hinata akan tidur disana mulai saat ini."

"Kau yakin?" tanya Shikamaru ragu. Kamar itu tidak pernah digunakan lagi sejak ayahnya menghembuskan napas terakhir disana, terlebih, disana pula ibunya ditemukan bunuh diri.

Naruto mengangguk. "Hinata akan semakin kesulitan naik turun tangga."

"Aku mengerti," Shikamaru memeriksa arlojinya. Jam berkunjung sudah lama berakhir. "Sebaiknya aku pergi sekarang," katanya. Tapi kemudian dilihatnya Naruto yang menatap pantulan dirinya sendiri di kaca jendela dengan senyum dibibirnya.

"Apa?"

"Hinata akan senang sekali melihatku begini," sahutnya pelan. "Ia sudah berencana mengebiriku kemarin. Bayangkan perasaannya saat menyaksikan suaminya terbaring tak berdaya."

"Yah, bisa kubayangkan kebahagiaannya," sahut Shikamaru setengah hati. Ia tak sedikitpun bersimpati pada kalimat Naruto yang terlalu didramatisir itu. "Kenapa dia ingin mengebirimu?" tanyanya kemudian dengan dahi berkerut. Ia sama sekali tidak bisa membayangkan Hyuuga sulung itu bisa bertindak kejam.

"I call her slut."

Baiklah. Lupakan Shikamaru pernah bertanya.

"Yah, terserah," katanya. "Just carefull not falling to her, She Hyuuga anyway." Dan melangkah pergi.

Naruto tersenyum lagi, kali ini tanpa humor.

Yah benar, jatuh hati pada Hinata. Jika itu terjadi, semuanya akan menjadi lebih mudah.

Seandainya ia masih punya hati untuk diberikan.

.

.

Hinata mengawasi Ino yang sedang sibuk menyiapkan pancake untuk sarapan mereka, sambil bertanya-tanya apa ia sudah menjadi terlalu paranoid.

Semalam, perempuan itu pulang cepat, atau yang dikiranya pulang terlalu cepat. Ia memang tidak tahu kapan biasanya orang-orang pulang dari acara reuni, jadi saat Ino datang kemari tadi malam, ia berpikir mungkin perempuan itu bosan.

Tapi Ino terlihat tegang.

Ia membersihkan makeup-nya, memakai piyama Hinata dan mengajaknya menonton. Dan selama itu, pembicaraan mereka selalu random. Seperti ia ingin bicara tapi tidak bisa bicara. Atau semacam itu.

Dan ia menyadari, Naruto belum pulang. Lelaki itu tidak pernah tidak pulang.

Pasti telah terjadi sesuatu.

Tapi pagi ini perempuan itu kelihatannya normal. Jadi Hinata memutuskan membuang kecemasan yang tak beralasan itu jauh-jauh.

Ketika Hinata menambahkan saus coklat banyak-banyak ke tumpukan pancake-nya Ino teringat apa yang di suruh Shikamaru kemarin malam. "Naruto menyuruhku membereskan kamar utama di lantai bawah, dia ingin kau tidur disana mulai sekarang," katanya. "Kupikir dia khawatir kau akan jatuh dari tangga."

Hinata mengangguk sekilas dan mulai menggigit pancake-nya. Ia tidak peduli tentang kamar. Karena mau seperti apapun, ini bukan rumahnya, ia hanya menumpang disini.

Ino menahan diri untuk tidak mengatakan dugaannya bahwa Naruto kemungkinan akan berbagi kamar dengan Hinata mulai saat ini. Bukan urusannya. Sama sekali bukan urusannya. Meskipun sebenarnya lucu juga memikirkan bahwa ia lebih mengkhawatirkan lelaki itu tidur dengan istrinya sendiri.

Ino butuh kehidupan, batinnya putus asa.

Pintu depan berderit terbuka dan Ino segera melihat siapa yang datang. Setelah kejadian kemarin, ia mulai takut ada pencuri yang masuk. Hinata menyusul dibelakangnya.

Naruto baru melepas sepatunya saat mereka menghampiri pria itu. Ino jelas tampak lega melihat pria itu, sementara Hinata menatapnya dengan dahi mengernyit curiga.

"Apa yang terjadi?" tanya Hinata saat memerhatikan luka di wajah dan perban yang melilit dada dan bahu pria itu. Membayang dibalik kemeja yang di pakainya. Saat Naruto tidak menjawab, ia membuntuti pria itu memasuki kamarnya. Sementara Ino memutuskan akan membuat lebih banyak pancake. "Apa yang terjadi?" ulangnya keras kepala.

Naruto menghela napas, lalu mengangkat bahu dengan sikap tak acuh. "Bukan apa-apa, hanya seorang perempuan yang menganggap akan menyenangkan jika menusuk jantungku. Sama sekali tidak berakhir baik."

Hinata tidak berkomentar lagi, tapi kemudian mendekati Naruto dan membantu lelaki itu melepas kemejanya.

"Jangan berangkat kerja," ucapnya saat melihat perban di tubuh pria itu. Dari yang bisa dilihatnya, lukanya pasti cukup parah. Ia sedikit terkejut saat menyadari Naruto masih bisa bersikap biasa dengan luka itu.

"Aku memang tidak berniat bekerja hari ini," gumamnya dan mengernyit saat merasakan nyeri ketika bahunya bergerak.

Hinata meletakkan kemeja itu di keranjang lalu bergerak membuka lemari dan mengambil piyama.

"Ini masih pagi," keluhnya tapi tidak melawan saat Hinata membantunya memakai kemeja piyama itu.

"Tapi kau harus tidur," balas perempuan itu. "Lagipula, piyama lebih mudah dipakai dan dilepaskan."

"Lebih mudah.." gumam Naruto lalu mengangguk setuju. "Lepaskan celanaku."

Dengan patuh Hinata mulai membuka sabuk pinggang lelaki itu. Sedikit bingung kenapa pria itu masih membutuhkan bantuan sementara tangan kanannya tampak tidak apa-apa. Saat sabuk itu terbuka, seolah tersadar, Hinata menegakkan tubuhnya dan menatap laki-laki itu galak. "Sialan."

Lalu berderap keluar kamar dengan wajah merah padam diiringi kekehan pelan Naruto.

.

.

Keesokan paginya, Ino sedang berpikir ia harus mulai merencanakan kegiatan untuk Hinata. Apa kelas senam ibu hamil terlalu dini untuk usia janin Hinata sekarang? Mungkin ia harus berkonsultasi dulu dengan Sakura (atau siapapun dokter periksanya) waktu check-up sekitar dua minggu lagi.

Ino memasuki lift dan memandang keluar tepat ketika tetangganya menutup pintu apartemennya dan berjalan ke arahnya, err.. lift. Dia berjalan ke arah lift.

Pria itu memakai pantalon dan kemeja putih, dengan dasi terpasang rapi dan jas disampirkan dipundaknya. Dan Ino bisa melihat pistol hitam yang besar itu tersarung di ikat pinggangnya.

Inilah pertama kalinya Ino melihat pria itu tidak mengenakan pakaian kotor dan lusuh seperti biasanya, dan Ino merasa bingung.

Mengetahui pria itu polisi, dan melihatnya sebagai polisi adalah dua hal yang berbeda. Kenyataan bahwa ia mengenakan pakaian biasa dan bukannya seragam berarti ia bukan petugas patroli, tetapi paling tidak setingkat detektif.

Sesaat Ino memandangi tetangganya itu dengan pikiran kosong, lalu ingatannya mulai kembali.

Hal yang terjadi selanjutnya, Ino tidak berpikir, ia hanya melakukan apa yang muncul secara alami. Dengan cepat ia bergerak ke sisi pintu dan menekan tombol tutup sekuat tenaga.

"Umm..kurasa laki-laki itu ingin naik lift ini juga," kata pria setengah baya disampingnya.

Ino mengerjap-ngerjapkan matanya dan memandang pria itu dengan raut wajah tak berdosa.

"Exactly."

.

.

to be continue.

.

.

author's note:

last time, I'm being bitchy, and I am sorry for that. please forgive me.

dan terimakasih sudah membaca dan mereview.

* 'kemiripannya cuma karakter Naruto yang dark aja kok, tapi itupun udah banyak author yang pakai.' setuju. saya juga udah bilang ide fanfic saya mainstream. dan tidak keberatan fanfic ini disebut pasaran atau apa. yang membuat saya kesal, kenapa tiap update selalu dibilang; 'mirip marry the night ya,' 'mirip marry the night ya,' selalu, tiap chapter gitu. kekanakan atau ambekan, saya capek. that's it.*

** 'Hinata kan lagi hamil, emang boleh begituan?' sex untuk ibu hamil memang rawan menyebabkan keguguran, setidaknya saat janin usia 1-3 bulan. dan karena disini usia kehamilan Hinata 17-18 minggu atau sekitar empat bulan jalan, rasanya aman-aman aja. asal bukan BDSM.**