Falling for you?

DISCLAIMER : Naruto milik MASASHI KISHIMOTO

WARNING: AU, OOC, typos, belum di edit.

dan terimakasih banyak untuk yang sudah membaca dan mereview.

love you!

.

.

Chapter 7. Attack!

.

.

Naruto Namikaze adalah seorang yang workaholic, bahkan ketika ia tidak seharusnya bekerja.

Dan lelaki itu seperti tidak membutuhkan banyak tidur.

Mungkin itu sebabnya meskipun ia tidak berangkat ke kantor, Naruto bisa tahan mendekam di ruang kerjanya seharian.

Saat seperti itu, Hinata lebih sering menonton film-film lama, atau melihat berita di televisi. Ia membaca empat atau lima buku dalam seminggu. Bahkan sekarang ia mulai suka menyulam.

Hinata kadang menertawakan dirinya sendiri ketika melihat hasil sulamannya yang lebih sering tidak jelas bentuknya apa. Tapi ia masih belajar, dan sedikit-sedikit, mulai makin mahir.

Hari ini tidak jauh berbeda dengan kemarin, Naruto masih mengurung diri di ruangannya, Hinata melanjutkan mencoba merajut sepatu bayi dan Ino sibuk melihat-lihat brosur tentang senam untuk ibu hamil, yoga, meditasi dan menghipnotis diri sendiri yang ia pikir akan berguna untuk Hinata.

Yah, itu perhatian yang cukup berlebihan sebenarnya.

Untuk apa ibu hamil perlu menghipnotis diri sendiri?

Tepat saat jam makan siang, bel pintu berdering. Ino meletakkan pembatas buku di halaman yang sedang dibacanya dan bangkit dari sofa.

Ia mengintip melalui lubang pintu, lalu setelah tahu siapa yang membunyikan bel, ia melangkah mundur untuk membukanya.

"Hey, Naruto ada?"

"Ya, masih mengerjakan entah apa di ruang kerjanya," sahut Ino sambil mempersilakan Shikamaru masuk. "Sebenarnya kami sedang menunggu sushi, apa kau melihat pengantarnya dalam perjalanan kemari?"

Shikamaru berdecak, dengan nada menegur ia berkata, "Kau dibayar sebagai pengurus rumah, dan yang kau kerjakan adalah memesan makanan?"

"Bukan salahku aku tidak bisa buat sushi," tukas Ino membela diri. "Lagipula, orang yang memperkerjakanku sama sekali tidak keberatan. Jadi sana, aku sibuk. Banyak kerjaan."

Shikamaru mengerutkan dahi bingung saat dilihatnya Ino duduk di tengah majalah dan buku yang berserakan lalu mulai membaca.

Yang begitu sibuk? Ia jadi ingin tahu lemburnya kayak gimana?

Tidak mau ambil pusing, ia segera menuju lantai atas setelah mengangguk sopan pada Hinata.

Naruto sedang memeriksa sesuatu di layar komputernya ketika Shikamaru masuk.

"Sibuk?" sapanya sambil duduk di salah satu kursi.

"Ya." Naruto meliriknya sekilas dari balik monitor. "Ada apa?"

"Aku sudah dapat alamatnya."

""Rumahnya sudah digeledah?"

"Secara resmi, belum," ujar Shikamaru. "Kita tidak punya surat ijin atau alasan kuat untuk mengajukan surat itu."

"Dan secara tidak resmi?"

"Aku akan memeriksanya besok."

"Kau yang pergi?"

"Wajahku pasaran. Ada setidaknya satu atau dua orang di kepolisian yang memiliki bentuk rahang dan rambut gelap, aku bisa menggunakan itu," jelas Shikamaru yakin. "Tapi kurasa kau harus hati-hati. Aku sudah mengecek ponsel perempuan itu. Di kontak masuk hanya ada beberapa nomor, kebanyakan malah sudah tidak aktif."

"Dan yang terakhir menghubunginya?"

"Mayat hidup."

Naruto mengernyitkan dahinya tapi tidak berkomentar apapun, jadi Shikamaru melanjutkan. "Nomor yang digunakan adalah nomor lama dengan kode wilayah di luar Tokyo. Setelah diselidiki, pemilik nomor itu sudah lama mati karena kecelakaan dan ponselnya dikabarkan rusak akibat peristiwa itu."

"Jadi jika pemiliknya sudah mati.."

Shikamaru mengangguk membenarkan. "Ada yang menggunakannya, karena meskipun pemiliknya sudah meninggal, tagihan ponsel itu masih di bayar sampai sekarang. Aku masih menyelidiki tagihan-tagihan itu, tapi…"

Mereka terdiam beberapa saat, sibuk dengan pikiran masing-masing.

"Ini tidak akan mudah," komentarnya. "Ku harap Eimi punya sesuatu untuk kita."

Terdengar ketukan pelan di pintu, dan kepala Ino melongok dari celahnya.

"Sushi-nya sudah datang," katanya lalu buru-buru menutup pintu. Shikamaru menatap kepergiannya dengan salah satu alis terangkat.

"Kurasa, aku akan merestuimu untuk memecatnya."

Naruto mendengus.

"Yah, salah satu agenda favoritku, memecat Ino." Naruto men-shut down komputernya, lalu berdiri. Dengan gesture sederhana, ia mengajak Shikamaru keluar dari ruang kerjanya. "Sayangnya, Hinata sudah terlanjur menyukainya."

Ya, tentu saja, batin Shikamaru. Saat kau terikat dengan seseorang, hal-hal yang biasanya tidak normal akan terasa masuk akal, terutama saat kau ingin menyenangkan hatinya.

Naruto sama sekali tidak punya harapan.

.

.

Hinata sedang membuka wadah wasabi ketika Naruto dan Shikamaru bergabung dengan mereka.

Ia agak sedikit kaget saat Shikamaru duduk di salah satu kursi mengingat ini pertama kalinya lelaki itu ikut makan siang. Biasanya, ia akan berusaha pergi secepat mungkin seperti saat pernikahan dan reuni dulu.

Aneh.

Ino datang dengan empat cangkir teh hijau yang masih mengepul dan membaginya ke masing-masing orang.

Hinata baru akan mencampurkan wasabi dan kecap asin ke mangkuk kecil di sampingnya saat Naruto merebut mangkuk itu.

"Kebanyakan."

"Aku suka pedas," tukas Hinata galak sambil berusaha mengambil mangkuk itu lagi.

"Anakku tidak."

"Dia juga suka," sahut Hinata keras kepala. "Kalau tidak, ia akan keluar dari perutku. Sekarang kembalikan!"

"Coba katakan," komentar Shikamaru penasaran pada pasangan di seberangnya. "Pernahkah sehari saja kalian tidak bertengkar?"

"Hari-hari saat tidak ada dia," balas Hinata. "Dan dia yang mulai!"

Naruto berdecak. "Jika aku tidak tahu dengan baik, aku akan menyangka kau sedang PMS."

"Kau tidak mungkin tahu soal PMS," kata Hinata ketus dengan bibir mengerucut lucu. Mangkuk wasabinya tidak berhasil ia dapat.

"Sayang, satu-satunya ahli PMS di dunia ini adalah laki-laki, itu sebabnya laki-laki sangat bagus dalam berperang. Mereka sudah mempelajari cara kabur dan bersembunyi di rumah."

Shikamaru terbatuk-batuk, ada tuna yang menyangkut tenggorokannya. Naruto vs ibu hamil sama dengan ide buruk.

Buruk!

Ino yang rupanya berpikiran sama, keadaannya tak lebih baik karena ia tersedak teh panas.

Naruto menyeringai melihat ekspresi Hinata.

"Kenapa PMS disebut PMS?"

"Jangan berani-berani," ancam Hinata. "Hanya perempuan yang boleh bercanda soal PMS."

"Karena.."

Shikamaru memundurkan kursinya sedikit, siap kabur dan sembunyi.

Ino yang sekarang sudah lebih tenang berdehem keras. "Hentikan. Hinata benar, jangan bercanda soal itu."

Naruto mengeluh pelan. "Padahal itu bagian terbaiknya."

"Kalau kau teruskan, aku akan mengebirimu," gumam Hinata yang disalah-artikan oleh Shikamaru.

"Kupikir itu untuk benda."

Hinata yang masih emosi mengernyit bingung. Perlu beberapa detik untuk membuatnya mengerti ucapan lelaki itu. "Itu menebari, bukan mengebiri."

"Oh." Kelegaan tampak jelas di wajah Shikamaru. "Tadi aku sempat bingung bagaimana caranya kau melakukan itu pada Naruto."

"Perlu dua orang," sahut Hinata. "Masing-masing pegang satu kaki."

Shikamaru tersedak dan terbatuk-batuk. Ino cekikikan di balik tangan yang menutup mulutnya. Dan Naruto, yang paling kejam diantara mereka, tertawa lepas.

"Masing-masing satu kaki," ulangnya dengan suara tercekik, lalu terbahak-bahak lagi.

"Kenapa sih?" tanya Hinata bingung. Ia sama sekali tidak menemukan apa yang lucu dari kalimatnya barusan.

Naruto menarik napas panjang beberapa kali, mencoba mengendalikan diri sebelum menjawab, matanya masih berair.

"Itu," katanya dengan bijaksana. "Perlu perenungan untuk menjelaskannya."

Kali ini giliran Shikamaru yang tertawa terbahak-bahak.

.

.

.

Masih pagi saat ia akhirnya sampai disini.

Shikamaru menatap bangunan di depannya dengan terkesan.

Ternyata selama ini Eimi tinggal di bangunan yang belum direnovasi. Jadi wajar jika kecil, kusam dan muram adalah tiga kata yang benar-benar menggambarkan tempat ini.

Saat Shikamaru sampai, ia disambut langsung oleh 'manajer' yang sudah ia hubungi sebelumnya. Memperkenalkan diri sebagai petugas kepolisian dengan surat penggeledahan, ia mendapat perlakuan yang cukup cooperatif.

Tapi Shikamaru punya kecurigaan perempuan tua kurus bertampang tikus itu tidak menyukainya.

Itu jelas sekali. Dia terus-terusan mendelik padanya!

Saat Shikamaru masuk ke dalam, ia lebih terkesan lagi.

Cat dinding di koridor sudah mengelupas disana-sini, dinding atapnya berjamur dan karpet yang melapisi lantai sudah usang dan aus. Restorasi bangunan ini pun tidak termasuk lift, jadi mereka harus naik tangga untuk sampai di apartemen di lantai tiga.

"Dan Eimi memakai sutra," gumamnya takjub.

"Kau bilang sesuatu?"

Shikamaru menoleh dan melihat wanita tua itu menatapnya curiga.

"Umm, tidak," sahutnya sambil menggaruk pipi asal-asalan. "Hanya sedang bicara sendiri."

Perempuan tua itu menaikkan sebelah alisnya dengan sikap mencemooh, tapi setelah beberapa detik ia membiarkannya dan kembali menyeret lututnya yang lemah berjalan.

Sebenarnya, mereka hanya naik tangga satu atau dua lantai. Tapi untuk orang yang sudah udzur, tampaknya hal itu merupakan cobaan tersendiri.

Kasihan…

Dari posisinya saat ini, Shikamaru bisa mendengar napas perempuan manula itu terengah-engah. Setiap tarikan napas terdengar seperti itu adalah napas terakhirnya. Semakin lama, badannya semakin merunduk. Jelas sekali tampak kelelahan.

Dan kelihatannya ia bisa mati saat itu juga.

Barulah ketika mereka sampai di kamar bernomor 29, wanita itu berhenti. Tangannya yang gemetar menarik kumpulan kunci dari saku sweater tuanya dan mulai mencoba kunci-kunci kecil itu satu per satu.

Shikamaru menggosok dahinya jengkel. Sudah pasti ini akan memakan waktu.

Lima menit..menjadi sepuluh menit. Lalu dua puluh..

"Nah ini dia," katanya, lalu mendorong pintu hingga terbuka lebar.

Untuk sejenak Shikamaru berdiri diambang pintu dan memperhatikan wanita tua itu menduluinya melintasi ruangan dan menyibakkan tirai tipis. Cahaya matahari menerobos melewati jendela kotor itu. Sinarnya yang sedikit terhalang masih cukup untuk bisa membuatnya melihat keadaan kamar dengan lebih jelas.

Tak ada yang mencolok.

Kamar ini sepertinya hanyalah ruangan persegi yang cukup luas, tanpa ada penghalang antara tempat tidur, ruang tamu dan dapur. Singkatnya, ini seperti kamar tidur yang diisi kulkas dan kursi.

"Apa Eimi punya teman atau kenalan yang sering berkunjung?" tanyanya, dalam hati berusaha keras untuk tidak mengeluh saat ia menyusul masuk ke dalam.

Wanita tua itu mendelik. "Mana kutahu?!" serunya sewot. Dengan susah payah, ia mendudukkan tubuhnya yang ringkih di tepi tempat tidur. "Aku manajer bukan pengasuh," jelasnya. "Sekarang bereskan urusanmu, tapi jangan ambil apa-apa. Aku tidak mau dapat masalah gara-gara kau!"

Shikamaru mendengus. Dengan standar itu ia bisa menjadi manajer, tempat ini beruntung masih bisa berdiri.

Dan ia kembali memusatkan perhatiannya ke sekeliling kamar.

Untuk ukuran seorang perempuan, Eimi ternyata tidak terlalu…apik. Tempat tidur berantakan, sampah berserakan di lantai, dan saat pintu terbuka tadi, ia yakin melihat sesuatu yang kecil dan hitam melintas cepat ke bawah tempat tidur.

Dengan memakai sarung tangan dari karet, ia mulai memeriksa. Dimulai dari rak-rak, lemari pakaian dan akhirnya meja rias.

Dahinya berkerut saat melihat botol kecil dari kaca di samping tempat tidur berisi pil-pil yang tinggal setengah.

Haldol, diresepkan oleh dokter Kurenai Yuuhi dari rumah sakit pemerintah.

Ia mencari lagi, tapi setelah lima belas menit, pemeriksaannya hanya menghasilkan sekeranjang pakaian yang belum di cuci, berkaleng-kaleng sup jagung yang tersusun rapi di lemari, dan tumpukan Koran-koran bekas di pojokan. Benda-benda yang tidak terlalu mengungkapkan kepribadian pemiliknya.

Ia kembali ke tempat dimana manajer tua itu masih duduk dengan santai. Tapi langsung berhenti saat melihat foto yang dibingkai dari ukiran perak di dekat jendela.

Ia mengambil foto itu lalu mengamatinya.

Shikamaru tahu, jepretan foto ini hanyalah satu saat dalam hidup yang diabadikan dalam selembar kertas, menampilkan perempuan muda yang tersenyum ke arah kamera dengan sorot mata yang berseri-seri dan penuh tawa. Dan dengan ekspresi itulah orang-orang akan mengingatnya. Ia sedang merangkul ayahnya yang juga tengah tersenyum. Di belakang mereka, langit cerah bertemu dengan laut yang berwarna biru turkuois.

Benar.

Ada masa dimana ia benar-benar lupa bahwa Eimi adalah Eimi. Seorang gadis muda yang bahagia.

Shikamaru mengeluarkan foto itu dari bingkainya. Tepian foto itu sudah usang dan tak ada satupun kalimat yang ditulis di belakangnya.

Merasa tak ada lagi yang bisa dilihat, ia segera mengembalikan foto itu ke bingkainya dan meletakkannya kembali di tepi jendela, lalu menoleh pada perempuan tua yang masih memperhatikannya.

"Kurasa sudah cukup. Terimakasih atas kerja samanya."

Wanita tua itu tidak menanggapi ucapannya yang sopan, tapi raut wajahnya menunjukkan kelegaan. Mereka pergi dari kamar itu segera setelah ia menutup tirai lagi dan yakin kamar telah dikunci, lalu mengantar Shikamaru sampai ke depan.

Sepanjang koridor, mereka tidak bicara apapun. Hanya berjalan berdampingan. Perempuan itu masih sibuk mengatur napas yang membuatnya cepat uring-uringan, sementara Shikamaru memang tidak mau berbasa-basi. Terlalu merepotkan.

Saat ia sudah berada di pintu depan, Shikamaru bermaksud akan mengatakan salam perpisahan lagi ketika ia berbalik dan pintu terbanting di depan hidungnya.

Yah, Shikamaru salah. Manajer manula itu bukan tidak menyukainya, ia membencinya.

.

.

Dengan matanya yang mulai rabun, perempuan tua itu mengamati dari balik jendela ketika Shikamaru berjalan menyusuri trotoar dan masuk ke mobil yang terparkir di tepi jalan. Ia menunggu sampai lelaki itu melaju pergi sebelum cepat-cepat pergi ke ruang tengah.

Suaminya yang tak berguna dan pengangguran itu masih sibuk menonton pertandingan bola di televisi dengan volume yang memekakkan telinga. Hanya itu kerjaannya setiap hari; makan, nonton, tidur, nonton, ke toilet, lalu nonton lagi.

Benar-benar tidak berguna.

Kalau saja ia tiga puluh tahun lebih muda, sudah dari dulu ia akan mengganti suaminya itu. Sayang nasibnya tidak bagus. Ia sudah tua, keriput dan rabun. Tak akan ada lagi yang mau dengannya.

Tapi meskipun sudah tua, bukan berarti ia tidak butuh makan.

"Kecilkan suaranya! Aku mau menelepon!" teriaknya diantara keriuhan suara televisi. Perlu beberapa teriakan lagi -dan satu atau dua ancaman- sebelum akhirnya suasana menjadi lebih tenang.

Baiklah.

Sekarang, setelah yakin tidak akan ada gangguan lagi, perempuan itu merogoh sakunya. Mencari kertas lusuh yang ia sumpalkan dengan terburu-buru minggu lalu karena tak ingin suaminya tahu tentang ini. Saat ia menemukannya, dirapikannya kertas itu dan mulai menekan angka yang tertulis di sana.

Teleponnya di angkat setelah dering ketiga.

"Ya?"

"Anda menyuruh saya menelepon kalau ada yang datang mencari Eimi. Yah, ada yang datang, polisi. Dan dia memeriksa kamar selama beberapa menit. Tapi dia baru saja pergi."

"Apa dia mengambil sesuatu?"

"Tidak," jawabnya yakin, meskipun dalam hati ia meragukannya. Polisi suka mengambil barang-barang. Dan jika menolak, mereka akan bilang; 'untuk keperluan penyelidikan' dan kita bisa kena masalah kalau tidak mau menurut. Ia curiga polisi tadi pun mengambil sesuatu tanpa sepengetahuannya, tapi ia terlalu bersemangat menghubungi lelaki ini untuk peduli.

Lagipula, satu dua barang yang hilang apa masalahnya?

Laki-laki itu bicara lagi, dan ia mengulangi semua yang terjadi barusan, kemudian menjawab semua pertanyaan dengan ketepatan pegawai yang baru direkrut.

"Ia tidak banyak bertanya, hanya melihat-lihat. Tidak lama. Beberapa menit. Lalu pergi."

Setelah keheningan yang menyesakkan, ia merasa dadanya membusung senang ketika orang itu mengucapkan terimakasih dan berjanji akan mengiriminya 'bingkisan kecil'.

Yah bukan sesuatu yang akan ia tolak mengingat apa yang terjadi beberapa hari yang lalu.

Eimi ternyata gila. Dalam arti yang sebenarnya. Dan dianggap sebagai orang yang berbahaya.

Meskipun tidak disebutkan alasannya dengan jelas tapi rupanya polisi sedang mengawasinya. Masih belum diketahui sampai sejauh mana mereka akan bertindak, namun kelakuan polisi memang mudah ditebak. Mereka akan mengambil sikap waspada pada orang gila meskipun si gila tidak melakukan apapun.

Itulah sebabnya mengapa lelaki ini -yang mengaku sebagai kerabat Eimi- minta diberitahu secepatnya jika ada yang mengendus-endus tempat dimana Eimi tinggal. Untuk mencegah timbulnya lebih banyak kerusakan, katanya. Keluarga besarnya sudah mendapat rasa malu saat penyakit Eimi ketahuan, mereka tidak akan tahan jika ada yang kembali ikut campur dan menyebar-luaskan penyakit Eimi itu ke semua orang.

Lelaki baik, pikirnya dengan penuh kekaguman. Terlebih saat ia teringat akan ada tambahan uang di saldo rekeningnya.

Orang gila pun ternyata bermanfaat.

.

.

Shikamaru mengelap keringat di pelipis dengan punggung tangannya.

Ia sampai di rumah sakit pusat setelah lewat tengah hari dan baru diberitahu Kurenai Yuuhi sudah dipindah-tugaskan ke Lembaga Pemasyarakatan Pusat.

Butuh beberapa waktu bagi Shikamaru untuk akhirnya bertemu dengan dokter itu.

Dokter Kurenai ternyata seorang perempuan berusia akhir dua puluhan berambut hitam, matanya merah dengan wajah pucat. Kemejanya sedikit kusut dibalik jas putih yang kedodoran. Dan ia psikiater Eimi sebelum akhirnya perempuan itu dibebaskan dan menjalani pengobatan dibawah pengawasan psikiater lain.

"Aku ingat Eimi," kata Kurenai sambil tersenyum sayang. Mereka sekarang sedang berjalan santai di halaman belakang. "Dia salah satu pasien yang tidak terlalu merepotkan. Sedikit pendiam, tapi tidak merepotkan."

"Apa alasan ia dirawat disini?"

"Keputusan pengadilan," sahutnya. "Ia menyerang dan memotong kemaluan atasannya dengan gunting. Karena perbuatannya itu ia dihukum kurungan penjara selama dua puluh tahun, namun baru dua hari tinggal ditahanan, banyak keluhan yang muncul mengenai perilakunya."

Di sekeliling mereka, para pasien berbaju abu-abu muda berkeliaran kesana-kemari dengan ekspresi ganjil. Sesekali Kurenai akan menyapa seorang pasien, bercakap-cakap dengan salah satu diantara mereka sebentar atau bertegur sapa dengan rekan kerjanya.

Lalu kemudian ia berhenti di depan taman bunga kecil yang terawat baik, tatapannya dengan sedih menyapu kumpulan orang-orang yang berlalu-lalang di depan mereka. Orang-orang yang mengalami gangguan jiwa.

"Eimi Yoshikawa tidak pernah masuk golongan ini," komentarnya. "Ia hanya mengalami depresi, tapi logikanya masih berfungsi dengan baik. Tapi pengadilan punya ahli jiwa yang langsung didatangkan dari pusat, dan mereka memutuskan Eimi harus dirawat disini." Ia menggeleng sedih. "Itulah yang kita dapat dari pengadilan."

"Mereka punya bukti."

"Ya, tentu saja mereka punya," tukasnya jengkel. "Tapi aku, aku melihat orangnya langsung, berbicara dengannya. Saat mereka melihat Eimi, mereka melihatnya sebagai orang gila yang berbahaya. Tapi aku tidak. Aku melihat pribadi yang rapuh dan butuh pertolongan."

"Benar," ujar Shikamaru tak yakin. "Jadi dia tidak berbahaya?"

"Dia bisa berbahaya," jawab Kurenai dengan hati-hati. "Saat tinggal disini, Eimi sudah dua kali histeris karena belum mampu beradaptasi. Kadang ia juga mengalami delusi. Tapi selama tidak ada perilaku yang mengganggu zona amannya, seperti pendekatan agresif, aku bisa mengatakan Eimi hanyalah gadis biasa seperti orang kebanyakan. Penyerangan yang ia lakukan pada atasannya hanyalah bentuk perlindungan diri. Seperti tameng."

"Dia berdelusi.?"

"Ya, tapi tidak sering. Dalam kasus Eimi, delusinya seperti… angan-angan, dan ia tahu hal itu. Itulah yang terjadi. Delusinya adalah tameng. Dan tamenglah yang membuatnya bisa bertahan hidup. Membuatnya 'normal'. Itu sebabnya aku tidak pernah berusaha menyingkirkan tameng itu."

"Kapan ia dibolehkan keluar dari sini?"

Wanita itu mendesah lelah. "Beberapa bulan lalu," katanya. "Dia dibebaskan bertentangan dengan pertimbanganku," aku Kurenai dengan berat hati. "Meskipun aku merasa ia bisa berfungsi dengan baik dalam masyarakat, tapi emosi Eimi masih belum stabil. Ia belum siap."

"Dan jika ada, katakanlah, pengaruh dari luar. Seseorang yang menjadi panutannya, yang memberinya saran.."

"Ia akan dengan mudah terpengaruh," ujarnya pasti. "Eimi bisa membedakan benar dan salah. Tapi tak jarang ia benci kepalanya."

"Dan jika itu terjadi?"

"Maka seperti yang kubilang tadi, ia bisa menjadi berbahaya."

Shikamaru mengangguk. Pertanyaannya memang sudah terjawab, tapi jawaban-jawaban itu malah memicu lebih banyak pertanyaan lain.

Kelihatannya ia akan mulai lembur lagi.

"Aku mengerti, terimakasih sudah menjawab pertanyaanku, dokter."

"Terimakasih kembali," balas kurenai dengan hangat.

Saat ia mengantar Shikamaru ke pintu gerbang di mana mustang-nya di parkir tak jauh dari sana, ia berbalik dan bertanya, "Tadi kau bilang apa jabatanmu di kepolisian?"

"Aku tidak bilang," sahut Shikamaru santai. "Tapi jika ini penting, aku petugas uji coba dari wilayah Kyoto."

"Di kepolisian ada petugas uji coba?"

"Ya, kebijakan ini bertujuan untuk meningkatkan mutu pelayanan kami pada masyarakat, dan sudah direncanakan lima tahun lalu tapi baru dilaksanakan pada tahun ini," jelas Shikamaru dengan lancar. "Sayangnya hanya beberapa wilayah yang baru mencoba. Salah satunya Kyoto. Tapi karena satu dan lain hal, saya dipindah-tugaskan untuk membantu di wilayah Tokyo."

"Ah, aku mengerti," katanya. "Dan di satuan mana kau bergabung?"

Errr…

.

.

.

Petugas uji coba..

Darimana ide konyol itu muncul? Kalau yang dihadapinya polisi asli dan bukannya Kurenai, Shikamaru sudah pasti dihukum pancung.

Jantungnya masih berdebar saat mengingat kebohongan kecilnya itu.

Ia berharap tidak mendapat masalah karena ini.

Lalu Shikamaru ingat ekspresi tidak puas Kurenai tadi, dan mulai membenturkan kepalanya pada kemudi lagi.

Ini tidak bagus, kebohongan perlu dilatih.

Tak mau lama-lama merasa tertekan, ia menyandarkan punggungnya di jok dan mencoba rileks.

Saat ini sudah hampir jam tujuh, tapi meskipun panas matahari tak lagi menyengat kepalanya, langit musim panas masih seterang pagi tadi. Dan ia masih harus mampir ke penitipan hewan peliharaan untuk mengambil kucingnya tercinta, Kyuubi.

Kucing berbulu oranye itu hadiah dari Naruto saat Shikamaru membeli rumah pertamanya. Meskipun ia mencoba membuat perbuatannya terlihat tulus, Shikamaru tahu Naruto hanya tidak mau memelihara kucing galak itu lagi. Yang memang wajar. Karena ia pun sebenarnya keberatan. Tak terhitung berapa kali kucing itu berhasil menancapkan cakarnya ke wajah, lengan bahkan kaki Shikamaru.

Dan ia sangat suka menghancurkan sofa.

Sudah empat kali Shikamaru menemukan sofanya tercabik-cabik dengan mengenaskan.

Ia mempertimbangkan untuk menitipkan kucing sialan itu lebih lama di tempat penitipan namun memutuskan ia butuh teman. Lagipula, biaya perawatan di penitipan lumayan mahal.

Saat baru mencapai jalan tol, ia melirik kaca spionnya sekilas dan mengernyit. Di belakangnya, ada satu BMW yang sempat ia lihat sebelum pergi ke tempat Eimi. Mobil itu juga dilihatnya parkir tak jauh dari LPP.

Mungkinkah?

Tapi sejak kapan Shikamaru punya penggemar?

Pelan-pelan ia menggerakkan kemudi dan pindah jalur kiri. Kemudian segera mengangkat kakinya dari pedal gas, memperlambat laju mustang-nya sampai kecepatan delapan puluh, lalu tujuh puluh hingga akhirnya enam puluh lima kilometer per jam.

Di bawah batas kecepatan yang diijinkan, beberapa kendaraan membunyikan klakson keras-keras sebelum akhirnya menyalipnya -beberapa bahkan sempat memaki Shikamaru-, namun mobil mencurigakan itu memilih tetap menjaga jarak. Kemungkinan besar si pengemudi tidak mau plat kendaraannya terlihat.

Tidak mau buang waktu lebih lama, Shikamaru menginjak pedal gas kuat-kuat, tubuhnya terlonjak membentur jok akibat gerakan yang mendadak itu. Lalu ia melesat cepat dan hampir menabrak bumper kendaraan di depannya. Beruntung refleksnya cukup bisa diandalkan.

Tak kurang dari lima menit kemudian, ia sudah kembali ke jalur awal dan menyalip beberapa kendaraan.

Namun ia belum aman.

Bangunan-bangunan, deretan siluet pepohonan dan semak penghias jalan melintas dengan cepat. Tapi tak sedetikpun Shikamaru mencoba memperlambat lajunya, mustang itu meliuk-liuk menyalip kendaraan lain di depannya dengan cekatan. Ia hanya berharap tidak ada polisi lalu lintas yang mencegatnya malam ini.

Saat akhirnya ia keluar dari jalan tol, Shikamaru menikung tajam di belokan dengan gerakan yang akan membuat Ino ngeri. Dan kemudian ia berdoa; semoga ingatannya benar.

Dari kaca spionnya, ia masih bisa melihat penguntitnya menyelip diantara kendaraan yang berlalu lalang. Mempertahankan jarak aman diantara mereka.

Ya. Ia bisa memanfaatkan itu.

Dari tempatnya, bunyi sirene datang dari arah belakang. Bergerak melewati kendaraan-kendaraan yang menepi. Lampu merah itu berkedip-kedip tak jauh dari posisinya saat ini. Oh sial. Polisi lalu lintas. Shikamaru tahu, berhenti atau terus jalan, ia tetap akan menghadapi masalah.

Jadi, ia tidak peduli.

Di tekannya pedal gas kuat-kuat dan mengemudikan mobilnya seperti orang kesetanan. Tujuannya sudah dekat.

Hanya dalam jarak beberapa kilometer, ia bisa mendengar lonceng kedatangan kereta yang akan melintas dan palang merah itu sudah mulai di turunkan.

Hanya butuh beberapa detik lagi.

Ia menyalip dua mobil yang mulai melambat dan mendengar klakson bercampur sirene menjerit-jerit dibelakangnya.

Dan Shikamaru menerjang.

Atap mustangnya terbentur palang. Kereta berada disisi kepalanya. Dan sebelum ia dapat bereaksi, jalanan beraspal menghantamnya. Benturannya yang keras nyaris membuat lidahnya tergigit.

Yeah!

Ia menoleh ke belakang, lorong-lorong kereta masih melintas-lintas. Tidak ada polisi. Tidak ada BMW. Dan ia tahu, butuh waktu beberapa saat bagi si penguntit dan polisi untuk bisa mengejarnya lagi.

Dengan hati yang lebih ringan, Shikamaru kembali menginjak pedal gas dan mulai kebut-kebutan lagi.

.

.

Karena ada yang menempati tempat parkir di depan rumahnya, ia terpaksa memarkir mobilnya setengah blok dari situ.

Langit sudah gelap, dan ia lapar.

Shikamaru harus mengganti plat mustang-nya dulu, lalu berhenti di beberapa tempat sampai ia yakin tidak ada yang membuntutinya sebelum kemudian mampir ke tempat penitipan hewan.

Ia meringis saat mengingat sambutan yang ia terima. Kyuubi sepertinya terkena sindrom pramenstruasi, ia menggeram saat melihat Shikamaru dan dengan bengis mencoba menampar wajah lelaki itu dengan cakarnya.

Tapi… Kyuubi jantan, kan?

Mungkin sebaiknya ia periksa.

Shikamaru lalu membuka kandang tempat kyuubi 'beristirahat', membiarkannya keluar. Ia sedikit meringis ngeri saat cakar kucing itu menancap sangat dalam di jok yang dilapisi kulit berkualitas tinggi. Dan dengan panik menyambar binatang itu.

Hatinya mencelos, pelapis kulit itu sudah berlubang.

Ini juga salah satu alasan kenapa Shikamaru sangat sulit jadi orang kaya; hewan peliharaan.

Kucing kecil itu, tahu sudah dekat dari rumah, menggeliat mencoba membebaskan diri.

Shikamaru mendesah pasrah. Tapi sebelum ia menurunkan kucing itu, ia mengangkatnya sedikit.

Jantan.

Mungkin sikap gampang ngamuk Kyuubi karena dia sudah akil balig dan sedang dalam masa siap kawin. Tahu, kan. Kucing jantan punya kecenderungan bunuh diri jika tidak kawin dengan betina di musim kawin.

Kasian Kyuubi. Shikamaru berjanji akan mengurungnya mulai saat ini.

Kucing itu mulai mencoba mencakarnya lagi.

"Baiklah, baiklah."

Tanpa beban, Shikamaru melempar kucing itu ke jalan. Begitu bebas, kyuubi dengan tangkas mendarat dengan ke empat kakinya. Mendesis galak pada Shikamaru, lalu dengan angkuh menapakan telapak-telapaknya yang mungil dan berbulu di trotoar.

Shikamaru mendengus, ia berbalik ke jok belakang untuk mengambil tas dan jasnya sebelum kemudian mengikuti jejak Kyuubi.

Malam ini tidak sehangat malam-malam sebelumnya, udara terasa lebih sejuk. Mungkin karena saat ini sudah awal musim gugur.

Shikamaru tersenyum. Ia suka musim gugur.

Saat ini pepohonan masih rimbun dan hijau. Tapi tak lama lagi, daun-daun pepohonan itu akan mulai berganti warna menjadi kemerahan atau kuning emas. Lalu berguguran seperti kumpulan kelopak bunga saat pernikahan. Ia suka saat daun-daun yang gugur itu berderak dibawah kakinya ketika di injak. Suka saat dedaunan jatuh diatas kepalanya ketika ia berbaring di tanah.

Ia suka suasananya.

Dan musim gugur juga waktu ternyaman untuk tidur.

Pikirannya masih berkutat di dedaunan saat entakan ledakan itu menghantamnya bagai tangan raksasa dan mendorongnya hingga terpental ke jalan beraspal. Ia bisa merasakan panasnya api yang menjilat tubuhnya. Perih dari lecet di kulit. Dan keributan yang terjadi setelahnya.

Dibalik rahang yang terkatup rapat, Shikamaru menggertakkan gigi.

Seseorang akan mendapat balasan.

.

.

Naruto terbangun saat hari masih gelap. Ponselnya -ponsel sialannya- berdering nyaring terus-menerus di meja samping tempat tidur.

Dengan mata masih mengantuk, ia meraba-raba mencari benda sialan itu. Setelah ponsel itu ada digenggamannya, Naruto kembali meringkuk ke bawah bantal. Sambil mengayunkan ponsel ke telinga ia bergumam, "hm?"

"Ini aku," sapa seseorang di seberang sana. Suara yang sangat ia kenal itu membuatnya benar-benar terjaga. "Shikamaru menginap di rumah sakit. Seseorang meledakkan rumahnya."

Naruto duduk tegak , rasa dingin merayapi tubuhnya. "Dia baik-baik saja?"

"Gegar otak ringan dan memar-memar. Ia bisa diperbolehkan pulang satu atau dua hari lagi," jawabnya.

"Aku mengerti," kata Naruto, lalu menutup telepon tanpa mengucapkan salam. Diliriknya jam, dan menggerutu pelan. Jam lima pagi, mustahil untuk kembali tidur.

Menyeret langkahnya ke kamar mandi, Naruto tidak bisa menghentikan dirinya untuk berpikir; Apapun yang sudah dilakukan atau ditemukan Shikamaru, itu membuat seseorang cemas.

Beberapa menit kemudian, setelah mandi dan gosok gigi, ia bergegas pergi ke dapur.

Hinata ternyata sudah ada di sana. Poci teh sudah diletakkan diatas api yang menyala, roti sedang dipanggang, dan ia sedang sibuk melakukan…sesuatu.

Sambil memasukkan tangannya ke dalam saku, Naruto menyandarkan punggungnya ke tembok dan memperhatikan perempuan itu bekerja.

Hinata ternyata sedang memarut keju ke dalam mangkuk kecil sampai wadah tersebut terisi setengahnya. Tapi kemudian ia berubah pikiran dan mulai memenuhi mangkuk itu sampai penuh.

"Waspada obesitas," komentar Naruto. Suaranya yang tidak disangka membuat perempuan itu nyaris meloncat kaget. Sambil memekik ia membalikkan badan. Gerakan yang salah. Mangkuk di dekatnya terjatuh karena tersenggol siku Hinata.

"Sialan!" teriaknya kesal. "Jangan mengendap-endap di belakangku!"

Naruto berdecak pelan. "Aku sudah berdiri disini selama lima menit penuh," katanya dengan wajah tanpa ekspresi.

"Buat suara," perintah Hinata. "Mana kutahu kau ada disana kalau diam begitu."

Naruto menahan diri untuk tidak memutar matanya.

Bagaimana seseorang yang berdiri diam membuat suara saat bicara saja ia membuatnya kaget?

"Lagipula," kata Hinata melanjutkan. "Kau tidak biasanya bangun pagi."

Naruto mengangkat bahu. "Seseorang meneleponku pagi-pagi sekali," katanya dengan nada datar. "Shikamaru masuk rumah sakit."

Hinata merasa napasnya tercekat. Ya, Tuhan, batinnya ngeri. Shikamaru? Padahal baru kemarin siang mereka makan siang bersama dan sekarang..

Ia menatap Naruto cemas.

Hinata memang tidak terlalu mengenal Shikamaru, tapi ia tahu lelaki itu adalah salah satu orang terdekat Naruto. Dan mengingat dimana Shikamaru sekarang, wajar jika ia merasa cemas.

Naruto membuka lemari dapur, mengambil gelas, lalu menuang air langsung dari keran. Ia meneguk habis airnya dengan cepat.

Hinata menghampiri lelaki itu dan dengan ragu-ragu mengulurkan tangan untuk menyentuh lengannya. "Ia akan baik-baik saja," katanya lembut.

"Hm?" Naruto mengernyitkan dahi bingung. "Oh. Tentu Shikamaru akan baik-baik saja. Ia hanya mengalami luka ringan dan sedikit lecet," jelasnya. "Yang kukahawatirkan adalah biaya perbaikannya."

Biaya…perbaikan?

Baiklah, sekarang Hinata yang bingung. Bukannya seharusnya perawatan?

"Dulu, Shikamaru pernah mencoba meloncat dari lantai empat rumah sakit karena tidak mau di tangani oleh dokter yang memakai sarung tangan berwarna putih saat harus operasi usus buntu," kata Naruto santai. "Dia berhasil memecahkan kaca tapi keburu ketahuan sebelum bisa loncat. Dan biaya ganti ruginya mahal sekali," keluhnya. "Lalu sekarang Shikamaru harus menginap dua hari. Di lantai empat."

Ya, itu memang ironi diatas ironi, batin Hinata. Lalu bertanya dengan penasaran, "Kenapa dia takut sarung tangan putih?"

"Bukan takut," bantah Naruto dengan sabar. "Saat operasi, para dokter tidak boleh memakai warna putih atau merah. Shikamaru tahu. Jadi saat melihat sarung tangan putih itu, dia jadi…"

"Aku mengerti," ujar Hinata. Itu detail yang tidak ingin dipikirkannya. Naruto menyeringai.

"Yah, itu sebenarnya tidak akan terjadi kalau saja ia tahu dokter itu hanya petugas jaga yang disuruh memeriksa denyut nadinya."

Hinata ikut tersenyum.

Aneh. Ini bukan sesuatu yang seharusnya dibuat candaan. Tapi melihat Naruto berdiri disana. Terlihat santai dan tanpa beban, ia merasa..nyaman.

Lucu juga ia bisa merasa begitu setelah apa yang terjadi diantara mereka.

Mengabaikan pikiran itu, Hinata lalu mengambil wajan dan menuang sedikit minyak. Ia berencana memasak sedikit cemilan sebelum Ino datang dan mulai meributkan tentang kalori.

.

.

"Kita harus membeli sesuatu yang kuning," usul Ino saat mereka masuk ke toko bunga keluarganya. Saat diberitahu mengenai Shikamaru, Ino segera mengusulkan untuk menjenguk lelaki itu dan menyeret mereka membeli sesuatu sebagai hantaran; bunga.

Ini pertama kalinya Hinata berkunjung. Dan sejauh ini, ia tak bisa berhenti merasa kagum.

Ino selalu bilang tempat mereka kecil dan sederhana, tapi yang Hinata lihat justru sebaliknya. Tempat ini penuh! Ada banyak jenis bunga yang di pajang. Berbagai kriteria dan macam-macam bunga yang telah dirangkai memenuhi seisi toko. Tak diragukan lagi, Hinata menyukai tempat ini.

"Kuning warna pemakaman," kata Naruto. "Beli mawar merah saja."

"Mawar merah melambangkan cinta dan hasrat," tukas Ino gemas. "Lagipula ini untuk Shikamaru, kita tidak ingin mengiriminya pesan ambigu."

"Aku cinta Shikamaru," kata Naruto keras kepala. "Jadi bawakan dia mawar merah."

Ino menggeleng dengan tegas. "Tidak. Kita hanya mau menjenguknya, bukan mengikrarkan cinta sejati padanya! Jadi pilih sesuatu yang kuning!"

Sementara itu, Hinata masih anteng melihat-lihat bunga yang memenuhi rak, sama sekali tidak terpengaruh oleh perdebatan yang terjadi didekatnya. Beberapa diantara bunga-bunga itu ia kenali dengan baik, tapi beberapa lagi baru pertama kali ia lihat. Kalau saja ada papan namanya…

"Hinata," panggil Ino. "Menurutmu kuning bagus, kan?"

Naruto dengan terang-terangan memutar matanya. "Pertanyaan macam apa itu?"

"Pertanyaan langsung," balas Ino.

Hinata berpikir ia sama sekali tidak mengerti kuning seperti apa yang dimaksud, tapi memilih untuk tidak membahasnya. "Kupikir salah satu buket bunga ini cukup bagus."

Ino mengangguk tak sabar. "Ya, memang bagus, tapi itu untuk dekorasi rumah." Ia menghela napas. "Biar aku yang urus bunganya, kalian pergi saja duluan," katanya dengan nada yang tidak bisa dibantah. "Dan jika Shikamaru mati, cepat hubungi aku. Kurasa masih sempat kalau membeli aster sekarang."

Hinata mengernyit, tapi Naruto sudah menariknya keluar dari situ sebelum ia bisa bertanya lebih jauh.

.

.

Sekitar dua puluh menit kemudian, mereka memasuki lobi rumah sakit tempat Shikamaru dirawat dan segera memasuki lift.

Rumah sakit, sepanjang pengetahuan Hinata, selalu ramai hampir setiap menit terutama di jam besuk. Dan ia lupa ini hari senin. Hari senin selalu merupakan hari tersibuk. Di dalam kotak besi itupun keadaan tidak lebih baik. Orang-orang masuk dan keluar di setiap lantai. Kadang perorangan, dan kadang bergerombol. Dan orang-orang itu biasanya merangsek masuk ke dalam dengan paksa. Hinata mungkin sudah terdorong ke belakang jika saja Naruto tidak memeganginya.

Di lantai empat, Naruto meletakkan tangannya di bawah siku Hinata lalu membimbing wanita itu keluar. Di sini tak seramai lobi, tapi beberapa orang kelihatan sibuk kesana-kemari. Sambil berusaha tampak tidak terpengaruh dengan keberadaan lelaki di sampingnya, Hinata berjalan dalam diam, melewati orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar mereka.

Dan untuk beberapa saat, ia merasa dirinya luar biasa karena bisa bersikap setenang itu.

Tapi rupanya ia sedang sial.

Kendali diri Hinata sedikit goyah ketika ia mendapati dirinya berhadap-hadapan dengan Haruno Sakura.

Rasa terkejut karena bertemu dengan perempuan yang kemarin sempat menghinanya membuatnya nyaris tak berkutik. Makin lama, keterkejutan itu berubah menjadi perasaan was-was. Jika mereka sendirian seperti kemarin, ia merasa tidak perlu khawatir. Tapi jika Kiba benar tentang Naruto, maka ini akan menjadi lebih rumit dari yang bisa ia hadapi.

Dan kelihatannya Sakura juga merasakan hal yang sama. Ia tertegun selama beberapa detik sebelum akhirnya bisa menguasai diri dan mengalihkan pandangan pada laki-laki di sampingnya.

"Naruto," sapanya. "Menjenguk Shikamaru?"

"Ya, Aku dapat kabar tadi pagi." jawab Naruto dengan tersenyum. Tangannya masih memegang siku Hinata sehingga ia tidak punya pilihan lain selain berdiri dengan enggan di samping lelaki itu.

"Aku juga," sahut Sakura. Lalu cepat-cepat mengoreksi. "Maksudku, aku tak sengaja melihat rekam medisnya saat akan menemui direktur rumah sakit ini. Baru saja aku menengoknya. Dia tidur sepanjang hari."

"Khas Shikamaru."

"Yah, itu memang ciri khas-nya." Lalu ekspresinya berubah serius. "Apa kau tahu rumahnya hancur lebur?"

Naruto menggeleng.

"Katanya beberapa polisi datang tadi pagi," kata Sakura dengan cemas. "Mereka menanyai Shikamaru selama hampir dua jam."

"Pekerjaan rutin" sahut Naruto. "Kuharap pihak asuransi mengganti kerugiannya."

"Ya, aku juga berharap begitu," katanya sambil tersenyum geli. "Bisa gawat kalau mereka tidak mau membantu. Ingat saat kelas lima dulu? Sampai sekarang aku masih merasa kasihan pada Tanaka-sensei."

Dan dari sana percakapan bergulir makin jauh.

Sementara itu, Hinata masih memperhatikan interaksi mereka berdua dengan seksama. Dan merasa sedikit kecewa. Tadinya, setelah mendengar tentang Naruto dan Sakura dari Kiba, ia berharap menyaksikan sesuatu saat keduanya bertemu. Tapi sampai sejauh ini, sikap mereka berdua biasa-biasa saja.

Kelihatannya Hinata saja yang terlalu banyak nonton dorama.

Dengan tidak sabar ia menunggu sampai percakapan ini selesai.

Saat itulah Ino datang dengan buket bunga besar. Berjalan terseok-seok dengan pandangan terhalang bunga. Ketika melihatnya, Hinata tahu Naruto mengernyit melihat bunga yang didominasi warna kuning itu.

"Aku datang secepat mungkin," katanya begitu sampai di tempat mereka. "Shikamaru belum mati, kan?"

"Dia tidur." Sakura yang menjawabnya, dan seolah tersadar, Ino menurunkan buket bunga di pelukannya sedikit.

"Hai, Sakura," sapanya kaku.

Mereka bercakap-cakap sebentar, tapi suasananya tak seakrab saat mereka bertemu dulu. Dan Hinata memperhatikan bahwa Ino sangat sering tidak menatap temannya.

Ada masalah disana, pikir Hinata. Ia penasaran apa yang terjadi. Namun memutuskan untuk tetap diam. Ino memang baik, tapi ia ragu perempuan itu akan senang melihatnya ikut campur dalam pertengkaran dua sahabat itu. Mereka sudah punya cukup masalah tanpa perlu tambahan darinya.

Sakura pamit tak lama kemudian. Dan Hinata punya kecurigaan kuat perempuan itu berusaha keras menghindarinya.

Biasanya hal seperti ini tidak akan mengganggunya.

Hanya saja, hari ini bukan biasanya.

Tapi Sakura benar mengenai satu hal; Shikamaru sedang tidur. Dan kelihatannya nyenyak sekali.

"Shika!" panggil Ino dengan nyaring. "Berani-beraninya kamu tidur saat aku datang menjenguk!"

Shikamaru merespon dengan membalikkan badan. Masih dalam kondisi terlelap.

Merasa diabaikan secara terang-terangan, Ino menendang lelaki itu.

.

.

"Jadi, kalian datang menjenguk?" tanya Shikamaru tidak ikhlas. Ada luka baru di dahinya.

"Kami segera datang begitu dapat kabar," sahut Ino ceria. "Dan lihat! kami juga membawa bunga untukmu. Aku yang pilih," lanjutnya bangga.

"Terimakasih," kata lelaki itu pelan. "Bunga yang bagus, cocok untuk pemakaman Kyuubi."

Naruto menyeringai, ia melirik Ino dengan penuh kemenangan. Ekspresinya dengan jelas mengatakan, "Apa kubilang?"

Ino bersidekap dan memberengut. Jelas merasa tersinggung.

"Kyuubi?" tanya Hinata

"Kucing peliharaan Shikamaru," jelas Naruto. "Ia terpanggang di rumah yang meledak itu.

Oh. Itu mengerikan. Membayangkan tubuh kecil itu hangus saja sudah membuat perut melilit.

Mau tak mau Hinata merasa kasihan pada Shikamaru. Lelaki itu kelihatannya sayang pada peliharaannya. Itupun jika bunga untuk pemakaman bisa dijadikan petunjuk.

"Dia pasti kucing yang sangat manis," komentar Hinata dengan sepenuh hati.

Shikamaru mendengus. Manis tidak pernah bersanding dengan Kyuubi. Tidak akan pernah. Tapi di relung hatinya yang terdalam, ia tahu Kyuubi tidak seburuk itu.

"Dia kucing perusak," gumamnya dengan nada sedih. Bayangan kucing itu tampak jelas, berputar di kepalanya seperti kaset rusak.

Shikamaru tidak pernah menyangka akan tiba hari dimana ia merasa kehilangan kucing itu. Lalu ingatannya beralih ke sofa-sofa yang sering kali menjadi pelampiasan amukan Kyuubi.

Baiklah, tidak terlalu merasa kehilangan.

"Apa kalian akan disini seharian?" tanya Shikamaru. "Pasien ini perlu istirahat."

Bibir Ino mencibir. "Kau sudah tidur seharian, tidur tambahan hanya akan membuatmu lebih dekat ke hibernasi!"

"Itu bagus."

Ino mendengus jengkel. Tapi ia tak berkomentar lagi. Sementara, Naruto yang duduk tak jauh dari mereka mengangguk.

"Kurasa Shikamaru memang butuh istirahat." Ia memeriksa jam tangannya. "Lagipula, ini sudah waktunya makan siang."

"Benarkah?" Ino merogoh ponsel di celananya dan mengernyit. Benar. Sudah hampir tengah hari. Ia lalu menatap Shikamaru.

"Mau kami bawakan sesuatu besok?" tanyanya. Ia tahu dari pengalaman makanan rumah sakit bisa sangat tidak enak.

"Sup ikan pedas dan bubur jamur," kata Shikamaru. Ino mengangguk dan keluar, Hinata menyusul perempuan itu setelah mengucapkan semoga cepat sembuh pada Shikamaru. Naruto memilih tinggal.

"Seseorang tahu," katanya beberapa saat kemudian.

Shikamaru mengangguk. "Ada yang tahu."

"Apa kau mendapat sesuatu dari Eimi?"

"Aku justru tidak menemukan sesuatu yang seharuskan kutemukan," kata Shikamaru sambil membaringkan tubuhnya di ranjang.

"Saat aku ke tempat Eimi," lanjutnya. "Pakaian dan segala macam sampah berada di tempat yang tepat. Anehnya, tak ada satupun kuitansi, catatan atau surat tagihan yang kutemukan. Dan aku punya penguntit."

Naruto mendengus. "Baik untukmu."

"Yeah, dia pengendara andal," kata Shikamaru singkat. "Kurasa aku akan mulai latihan tembak lagi."

"Ya, itu juga bagus," sahut lelaki di sampingnya. "Jadi, apa yang polisi katakan tentang rumahmu?"

"Kebocoran gas," jawabnya. "Aku lupa mematikan kompor."

"Bullshit."

"Benar."

Mereka terdiam cukup lama. Shikamaru membenarkan letak selimutnya dan setelah beberapa detik merenung ia berkata, "Ada sesuatu yang kutahu yang membuat orang-orang ini cemas."

"Ya," sahut Naruto. Ia pun sempat terpikir begitu. "Atau, mereka tahu aku sangat bergantung padamu."

"Dan aku yang bergantung padamu," gumam Shikamaru. "Jika ini yang mereka sebut mengancam, kehidupan kita akan menjadi sangat suram."

Mata mereka bertemu, berpandangan, dan Shikamaru melihat bahwa pikiran yang mendadak timbul di kepala mereka berdua sama.

Oh sial.

"Kurasa aku mau tidur sekarang."

.

.

.

.

To be continued