Untuk Fanart dalam chapter ini silahkan menuju AO3/menuju link pada profile :)
Kronologis
Kagami menggebrak meja, amarah yang ditahannya meluap keluar. Beberapa pengunjung menatap ke meja di pojok restoran Maji Burger dengan cemas dan kaget.
"Kagami-kun, harap duduk. Tenangkan dirimu." Kuroko memerintahkan. Pandangannya datar ketika Kagami melempar pandangan dingin padanya. "Aku tidak akan menjelaskan kronologisnya dengan lengkap jika kau tidak duduk." Kuroko mengambil milkshake-nya, menyeruput pelan seperti tidak memperdulikan amukan Kagami. Remaja bongsor di hadapannya menurut.
"Kenapa… kenapa tidak ada yang bilang padaku mengenai hal ini?! Apa… kalian tidak bisa mengontakku melalui e-mail atau apa pun itu?! Selama ini informasi yang diberikan padaku adalah baik, hampir tidak ada kejadian yang buruk sekali pun."
Kuroko menatap kepalan tangan Kagami yang menekan meja.
"Kita berusaha untuk tidak mengganggu pertandinganmu meraih piala emas kejuaraan musim gugur di sana." Satsuki menyahut pelan.
"Tetap saja aku perlu tahu! Bukankah lebih cepat lebih baik?!"
"Tidak ada yang tahu bahwa itu akan terjadi setelah pertandingan melawan SMU Fukuda Sōgō tahun ini, Kagami-kun."
Kagami menggertakkan gigi, menatap Kuroko yang baru mengesampingkan milkshake-nya. "Haizaki Shogo?"
Mata biru terang Kuroko menatap mata merah Kagami. Dia mengangguk membenarkan.
Kagami sontak berdiri.
"Sebelum kau bertindak, biar kujelaskan satu hal…" Kuroko menahan Kagami yang lagi-lagi berdiri, menahan niat temannya untuk menghajar Haizaki yang tidak juga berhenti berulah. "Haizaki sudah keluar dari basket. Dia… tidak akan mendapatkan kemasyuran lagi di dunia basket. Aku yakin Akashi menghancurkannya di pertandingan terakhir."
Mulut Kagami spontan terbuka. Dia duduk kembali untuk mendengarkan.
Kuroko memulai cerita.
"Pertandingan melawan sekolah Fukuda Sōgō membuat nama baik Aomine terangkat bersih. Kecelakaan yang disengaja oleh Haizaki Shogo membuatnya pingsan akibat dunk yang dilakukan Shogo dengan brutal. Kepala Aomine berdarah. Media massa menangkap beberapa foto kecelakaan itu dan memampang besar-besar pada halaman pertama surat kabar. Sepertinya pandangan semua orang terbuka, jelas bahwa Haizaki bersalah karena memprovokasi Aomine. Beberapa rekan tim sekolah Fukuda mengatakan bahwa Shogo yang disangka hendak keluar dari basket kembali menghajar tim-tim lain dengan kekasaran yang selama ini diabaikan wasit. Beberapa wasit bahkan tidak menyadarinya." Kuroko menatap nampan penuh terisi burger yang belum disentuh Kagami. Dia mengambil satu dan membukanya sebelum meneruskan.
"Bila kau mengatakan bahwa sekolah Kirisaki Daichi, dengan pemain Makoto Hanamiya dan rekannya disebut brutal, maka tim Fukuda Sōgō lebih brutal lagi dengan adanya junior dan angkatan geng Shogo yang baru. Seperti dendam yang hendak dibalaskan, sepertinya Haizaki memang menunggu saat-saat dia melawan Aomine. Kise bahkan terpuruk. Hingga akhirnya Akashi menghentikannya dengan pertandingan 155-5 Winter Cup enam bulan yang lalu." Jemari Kuroko menekan gelas karton Milkshake-nya, mengingat bagaimana Akashi menghancurkan Ogiwara dengan skor 111-11. Bukan skor yang menjadi masalah, namun caranya bermain sungguh sangat meremehkan. Kuroko yakin tim Rakuzan mempermainkan Shogo seperti anak kecil melawan orang dewasa. Sebuah permainan yang sangat memuakkan dan tidak seimbang. Hanya saja kejadian ini menjadi berbeda dengan adanya Aomine yang terluka dan menjadi korban balas dendam Shogo. Mau dilihat seperti apapun, Aomine tidak layak mendapatkan musibah seperti ini.
"Aku bahkan tidak perlu melihat pertandingannya untuk tahu bagaimana tim Akashi mengalahkan, bukan, mempermainkan mereka." Mendadak Kuroko merasa mual.
Kagami mengatupkan rahang, dia tidak percaya. Angka 5 tersebut tentu ditujukan untuk Aomine.
"Lalu… setelah itu?"
"Aomine sempat koma beberapa minggu." Satsuki melanjutkan ketika Kuroko diam. Dia menaruh tangannya di atas tangan Kuroko yang dingin. "Kau sedang ada pertandingan penting, kita tidak mungkin menghancurkanmu di tengah pertandingan itu."
Pandangan Kagami berbayang, dia menekan telapak tangannya pada dahinya yang berdenyut pusing. Banyaknya informasi yang diberikan membuatnya tidak tahu harus melakukan apa. Terlebih denyut perih yang menekan dadanya. Ingatan saat mereka bertengkar sebelum dia menuju Amerika menghantui pikirannya.
"Ini salahku… aku tidak seharusnya meninggalkannya begitu saja untuk pergi ke Amerika. Dengan begitu banyaknya kejadian yang terjadi, seharusnya tidak kubiarkan dia sendirian…" Kagami berbisik lebih kepada dirinya sendiri.
Kuroko menatapnya sejenak sebelum tersenyum pahit.
"Kalau kau merasa bersalah, mungkin lebih tepatnya aku yang harus disalahkan karenanya. Aku berusaha untuk tidak memberitahukan mengenai hal ini agar kau bisa tenang bertanding tanpa adanya gangguan. Aku mencoba membuat Aomine ingat tentang dirimu bahkan sekecil apa pun dari hubungan kalian yang kutahu. Dia tidak ingat. Yang diingatnya hanyalah…" Kuroko menelan ludah. "Hanyalah bahwa dia menunggu seorang lawan yang lebih kuat darinya untuk kembali berhadapan dengannya. Orang yang pernah mengalahkannya pada awal pertandingan Winter Cup dua tahun lalu. Bahkan namamu pun dia tidak ingat." Suara Kuroko bergetar.
Kagami menggigit bibir sambil berusaha menahan tangis. Dia mengatupkan mulutnya, tidak mencoba menghapus air mata yang telah mengalir membasahi pipinya. Satsuki sudah menangis menatap keduanya, menggeleng mencoba menghentikan mereka yang saling menyalahi diri sendiri.
"Dai-chan berusaha keras mengejarmu untuk mendapatkan rekomendasi dan menyusulmu ke Amerika. Siapa sangka hal ini terjadi." Satsuki mengusap air matanya, terisak pelan.
'Aku tidak seharusnya meninggalkannya…' Belum pernah Kagami menyesal telah memilih sebuah keputusan. Kehilangan seseorang yang sangat berarti baginya hanya karena keegoisannya sendiri. Kukunya hampir membuat telapak tangannya berdarah apabila Kuroko tidak menggenggam kepalan tangan Kagami. Remaja itu mendongak menatap partnernya.
"Aku yakin apabila itu kau, dia akan ingat." Kuroko mengangguk, matanya memancarkan keseriusan.
"Kuharap juga begitu…" Kagami menunduk, menatap tumpukan burger. Nafsu makannya sudah hilang. "Makanlah, aku tidak lagi lapar." Kagami mendorong nampan ke arah Satsuki dan Kuroko. "Mungkin kau bisa membawa beberapa untuk Aomine." Tambahnya.
Satsuki tersenyum menatap tumpukan burger. Mereka mengambil beberapa untuk dibawa pulang.
Malam tiba perlahan, sinar bulan memasuki ruangan gelap dengan lembut melalui tirai yang ditutup setengah jendela seakan malu-malu. Kagami menatap fotonya yang memegang piala NBA. Dia meremas foto itu dan melemparnya ke ujung ruangan. Mengacak rambutnya dengan erangan pelan, Kagami merebahkan tubuhnya ke ranjang. Dia berguling ke samping, menutup kepalanya dengan selimut.
Seraya menahan diri untuk tidak berteriak di tengah kegelapan malam, Kagami menutupi wajahnya dengan bantal. Dia membungkam erangannya, berusaha untuk tidak membuat Alex terbangun. Bantal yang diremasnya harus menjadi pelampiasan amarah dan air mata, Kagami tertidur di tengah keletihan akan kalutnya pikiran. Tidak pernah dia merasakan hatinya sehancur ini, bahkan kekalahan dalam pertandingan basket tidak sebanding dengan apa yang menimpanya sekarang. Pikirannya penuh dengan perkataan 'jika dia tidak memilih NBA', 'seharusnya dia tidak meninggalkan Aomine', 'kekasih macam apa aku ini' dan kata-kata penyesalan lainnya.
Dia hanya berharap ini semua mimpi buruk yang akan segera berakhir.
Kagami menatap telur mata sapi yang tengah digorengnya. Alex mengawasi dari balik kacamatanya yang berkilau menutupi ekspresi mata.
"Kau tidak apa-apa?"
Kagami tersentak ketika Alex angkat bicara.
"Aah, aku tidak apa-apa. Kenapa?" Tangannya memutar knob kompor, mematikan kobaran api panas yang hampir membuat telur mata sapinya gosong.
"Kemarin… jadi bertemu dengan Aomine?"
Kagami tidak menyahut, dia menarik piring di sebelahnya sebelum tangannya menyenggol wajan panas. Alex bangkit berdiri ketika mendengar suara piring terjatuh, tidak percaya bahwa Kagami bisa teledor di dapur.
"Apa yang terjadi kemarin?" Gurunya sudah berdiri di depan Kagami, menatap muridnya yang sekarang membungkuk mengambil pecahan piring.
Kagami mendesah pelan dan menatap darah yang mengalir dari jarinya yang terkoyak beling. "Tidak ada yang terjadi." Jawabnya singkat.
"Kau pikir aku percaya? Katakan yang sebenarnya."
"Alex."
Alex menutup mulutnya. Kagami tidak mendongak dari posisinya, tapi jelas bahwa muridnya belum ingin membahas masalahnya saat ini.
"Maaf, aku sendiri masih mencoba untuk menghadapi kenyataan. Jika kau perlu tahu, Aomine baik-baik saja. Dia sehat."
Alex mengepal tangannya. "Dia berani mencampakkanmu? Akan kuhajar dia!"
"Dia hilang ingatan!" Kagami berteriak geram. Melihat mata Alex membulat, Kagami kembali menunduk. Dia tidak menghiraukan luka di tangannya, bahkan tangannya seperti mati rasa.
Kedua tidak berbicara apa pun selagi membereskan pecahan piring.
Latihan di klub Seirin hari itu ribut dengan kedatangan Kagami. Semuanya bersorak dan memeluk dia, menyalami dan membuat lawakan garing. Anggota tim cukup puas ketika bisa membuat Kagami tertawa. Mereka dengan sengaja tidak mengarahkan pembicaraan menuju pertandingan Winter Cup di Jepang enam bulan lalu. Kagami yang merupakan mantan Ace dari tim sekolah Seirin disambut hangat.
"Kau ini adalah Ace kami. Tentu saja kami akan selalu mengundangmu kembali jika kau menginginkannya." Riko, yang sekarang merupakan alumni Seirin dan sekarang menjadi pelatih, menepuk pundaknya.
Kagami membalas dengan senyum dan anggukan.
"Terima kasih."
Memandang latihan klub, gemuruh hati Kagami untuk ikut berlatih tidak bisa dibiarkan. Hari itu juga mereka berlatih bersama, dengan senang Kagami mengenang masa mereka bertanding bersama. Bagaimana pun tim Seirin adalah yang paling baik baginya.
Tertawa ketika para rekan berlarian diamuk Riko, Kagami menghela nafas.
"Kagami-kun, tidak baik menghela nafas terus menerus. Ini sudah yang keberapa kalinya." Kuroko tiba-tiba berdiri di belakangnya.
"Uwaaah! Kau- sejak kapan-" Kagami menekan dadanya. "Uugh… sudah lama aku tidak merasakannya." Dia terkekeh geli. "Kau tidak banyak berubah, Kuroko."
"Aku bertambah tinggi sedikit." Kuroko membalas dengan datar.
"Benarkah?" Partner cahayanya tertawa sambil menekan puncak kepala Kuroko.
Keduanya bertatapan sebelum Kuroko menunduk.
"Maaf, aku seharusnya memberitahu lebih-" Ucapannya terhenti ketika Kagami menaruh tangan di depan wajahnya.
"Aku… mungkin akan menetap disini untuk sementara waktu." Kagami menatap tim Seirin.
"Bagaimana dengan NBA?" Kuroko tampak kaget meskipun matanya terlihat datar.
"Yah… aku memang diijinkan berlibur…" Kagami mengusap surai rambutnya yang merah.
Diam sejenak, senyum di bibir Kuroko merekah.
TBC
