One-on-One
Aomine mendongak risih. Remaja berambut merah di hadapannya baru saja mengajaknya bertanding one-on-one.
"Apa kau bilang? Untuk apa one-on-one denganmu?" Aomine menaikkan alisnya, menatap seolah Kagami adalah orang bodoh. Dia baru saja berjalan memasuki lapangan basket ketika menyadari bahwa lapangan itu sudah terpakai latihan oleh teman Satsuki. Aomine menatap Kagami sejenak, sosoknya tampak familiar.
"Aku hanya ingin… memastikan sesuatu…" Kagami meraba tengkuknya, matanya bergulir ke samping.
"Haah? Apaan itu?" Aomine terkekeh, menggeleng kepala dan menggulung lengan baju. Dia tersenyum lebar saat Kagami terpaku pada tingkahnya. "Ayolah… bila kau mau…" Dia mengendikkan kepalanya pada bola basket yang dibawa Kagami.
Mereka berhadapan, Kagami men-dribble bola basket, matanya tidak pernah lepas dari Aomine. Sesaat mereka tampak membeku, memandang satu sama lain penuh konsetrasi. Kagami bergerak lebih dulu, melesat menuju ring sebelum Aomine dengan sigap merebut bolanya. Dia hampir terpeleset ketika Aomine berlari melewatinya, tidak menghiraukan bahwa dia baru saja dengan sengaja menabrak Kagami.
"Tunggu-"
"Lambat." Aomine memasukkan bola basket ke dalam ring, menghela nafas kecewa.
Kagami menatap Aomine tidak percaya, dia memegang bahunya yang berdenyut.
"Setidaknya buatlah aku kagum. Kau mengajakku bermain namun ternyata tidak mampu mempertahankan bolamu. Jangan membuang waktuku."
Mata Kagami membulat ketika memandang tatapan Aomine yang dingin. Remaja yang semula selalu tersenyum ketika berhadapan dengannya bahkan dalam pertandingan sekali pun kini terkesan dingin dan berbeda.
Belum sempat dia berkelit dari serangan Aomine yang hendak merebut bola, Kagami tidak diberi kesempatan melindungi tulang pipinya. Siku Aomine mengenainya, membuatnya jatuh terjerembab.
Kuroko memutar bola basketnya dengan telunjuk jari sebagai poros. Dia berjalan menuju tempat Kagami berlatih. Satsuki memberitahukan bahwa Aomine sedang menuju tempat yang sama. Dari jauh, mata Kuroko menangkap dua orang yang saling berhadapan one-on-one. Dilihatnya dari pintu masuk, mengawasi tindak tanduk Aomine dari jauh, berharap ada perubahan sikap di saat mereka bertanding. Ada sesuatu yang tidak beres, Kuroko bisa melihatnya.
"Tetsu-kun!" Satsuki memeluknya dari belakang, hampir membuat Kuroko terjatuh. "Bagaimana mereka, ada perubahan?" Gadis itu menatap lapangan, mengawasi pergerakan Aomine. Matanya membelalak ketika melihat Aomine terang-terangan menyikut Kagami, melompat tinggi dan melakukan dunk. Kagami terjatuh, batuk dan mengusap darah yang mengalir dari hidung.
Membelalak melihat kekasaran Aomine, Kuroko spontan menjatuhkan bola basketnya. "Kagami-kun!" Kuroko berlari menghampirinya.
Aomine mengawasi Kagami yang sudah memiliki banyak memar pada lengan dan pipinya.
"Dai-chan! Kau tidak boleh main seperti itu! Jika ini pertandingan sesungguhnya kau akan dikeluarkan!" Amarah Satsuki tidak digubrisnya.
"Yah, ini hanya street basket. Lagipula, bukan salahku dia lemah. Maaf, apa aku terlalu cepat?" Aomine terkekeh, senyumnya berubah licik sebelum dia membalikkan badannya. "Cahayamu saat bermain redup sekali. Apa kau benar pemain basket Amerika? NBA? Rasanya sulit dipercaya. Permainanmu seperti tidak serius. Aku tidak tahu kau ini omong besar atau hanya ingin menarik perhatian, tapi selama cahayamu bersinar redup seperti itu, aku tidak bisa menganggapmu serius." Aomine beranjak pergi meninggalkan Kagami dan Kuroko.
Satsuki berlutut di depan Kagami, merogoh sapu tangan dalam kantung jaket Touou dan mengusap darah pada hidung Kagami.
"Terima kasih." Kagami bergumam, mengambil sapu tangan Satsuki dan menengadah. Dia menghela nafas, tidak mempercayai bahwa Aomine bisa bermain sekasar itu. Ini mengingatkannya pada pertandingan dengan Hanamiya.
"Aku minta maaf atas perlakuan Aomine. Aku sendiri tidak begitu pasti, namun sepertinya ingatan Aomine saat ini kembali saat dia masih bermain street ball. Jika lawannya kuat, dia akan semakin bersemangat. Namun, bisa dilihat bahwa dia tidak mencoba untuk mengontrol tenaganya sendiri."
"Satsuki, kenapa kau yang minta maaf untuk si idiot itu?" Kagami meremas sapu tangan Satsuki. Menatap kesal pada gerbang lapangan basket, Kagami berdiri dengan bantuan Kuroko. "Maaf, sapu tanganmu nanti akan kucuci."
"Tidak masalah."
Ketiganya terdiam beberapa saat sebelum Kuroko memecahkan keheningan dengan menghela nafas.
"Tidak biasanya kau menghela nafas begitu, Kuroko." Kagami nyeletuk.
"Aku tidak menyangka ini akan menjadi sulit, namun kekuatan Aomine saat di Teiko bisa dibilang lebih 'jinak' daripada barusan. Mungkin karena dia lebih bisa mengendalikan diri dan lebih menghormati basket dengan melakukan permainan yang bersih. Jika dia terus melakukan kekasaran ini nama baik Aomine yang sudah mulai kembali terangkat akan sulit dibersihkan."
"Aku akan terus mencobanya. Mungkin ada beberapa waktu dimana aku bisa ngobrol sejenak dengannya. Semoga saja itu tidak memacu pertengkaran…" Kagami mengusap perutnya yang memar akibat tendangan lutut Aomine. Dia menatap sepatu basket yang diberikan Aomine padanya.
"Cahayamu terlalu redup."
"Dia tidak sepenuhnya lupa."
Kuroko dan Satsuki memandangnya penuh harap.
"Iya, kurasa dia mulai ingat sedikit demi sedikit walaupun dia tidak tahu apa yang dikatakannya pernah dilontarkan padaku dulu." Kagami tersenyum mengingat pertemuan pertama mereka di lapangan basket yang sama.
Hari berikutnya keadaan tidak menjadi semakin baik. Dengan adanya pergulatan batin yang bergemuruh dalam dada Kagami, Aomine menolak untuk bertanding dengannya untuk yang kedua kalinya.
"Apa kau sebodoh itu untuk tidak melihat perbedaan kekuatan kita? Aku tidak mau membuang waktu." Kata Aomine sambil berjalan melewati Kagami yang memblokir jalan Aomine keluar gerbang sekolah.
Aomine berhenti dan mengerling pandangan pada lawannya. "Apa kau ini stalker? Yang benar saja, datang ke sekolah ini untuk mengajakku bermain one-on-one. Berisik sekali. Jangan bilang kau jatuh hati padaku." Dia terkekeh pada candaannya sendiri.
"Kau ini bicara apa?!" Wajah Kagami memerah, dia tersedak air liurnya sendiri ketika angkat bicara. Kagami mengatupkan mulutnya, mendelik pada Aomine yang mereka-reka reaksinya.
Senyum Aomine pudar. "Maaf, tapi... aku sedang menunggu seseorang yang saat ini belum kunjung pulang." Mengalihkan pandangan ke langit, Aomine menghela nafas panjang. "Entah apa yang dilakukannya sampai saat ini dia tidak balik. Aku bahkan tidak bisa mengingat namanya. Bodoh sekali."
Hati Kagami mencelos. Dia meneguk ludah, memberanikan dirinya bertanya. "Seseorang yang kau tunggu itu..."
Kedua iris biru Aomine kembali tertuju pada Kagami. Remaja dihadapannya tersenyum pahit. Dia memutar badannya, memunggungi Kagami.
"Kau tidak perlu tahu. Rambutnya merah sepertimu, entahlah. Kukira kau orang yang kucari namun nyatanya aku salah. Kau lemah. Dia sangat kuat dan cahayanya bersinar terang. Satu-satunya orang yang bisa mengalahkanku."
Ungkapan Aomine menusuk dada Kagami. Seiring dengan berjalannya Aomine menjauh, Kagami merasakan perasaannya juga pergi mengikuti langkah Aomine. Kagami memejamkan mata, mengepal tangan yang gemetar. Berbagai perasaan berkecamuk menjadi satu. Air matanya membasahi pipi sampai ke dagu, Kagami terisak pelan dan menunduk.
"Aku di hadapanmu, bodoh... Aku harus bagaimana sampai kau mengetahui bahwa orang itu adalah aku."
Kaki Kagami mengejar Aomine. Dia menarik kerah Aomine sebelum merangkulnya dari belakang.
"Tunggu, sebelumnya biarkan aku-" Kagami mengerang ketika Aomine mendorongnya dengan kasar.
Aomine menarik kerah Kagami. "Jangan seenaknya memelukku!" Membelalak melihat wajah Kagami yang basah air mata, Aomine terdiam. Dia melepaskan kerahnya, membuang muka. "Cih! Sebenarnya kau ini kenapa. Apa kau tidak puas kuhajar di pertandingan lalu?"
"Bertandinglah denganku. Sekali lagi saja!"
'Maafkan aku, sudah meninggalkanmu di saat yang tidak tepat. Maafkan aku yang sudah membuatmu menunggu begitu lama. Ini semua salahku.'
"Kau sendiri tahu, bukan? Aku tidak bisa mengontrol kekuatanku. Bahkan tidak akan ada lawan yang sebanding denganku. Sebaiknya kau menjauh, aku tidak ingin berurusan dengan orang lemah. Jauhkan dirimu sebelum terluka lebih dari ini." Aomine melambai dan pergi.
Kagami tidak mengejarnya kali ini. Dia terpaku di tempat sampai seseorang menepuk bahunya.
"Biarkan dia sendiri untuk sementara waktu." Alex tersenyum memandang muridnya. "Ayo pulang, aku baru saja membeli makan malam. Kau tidak usah masak."
Kagami mengangguk tanpa bicara.
'Apa yang harus kulakukan agar membuatmu ingat? Apa yang harus kulakukan agar perasaan bersalah ini meninggalkanku? Beritahu aku, Aomine!'
Kagami menatap lapangan basket dari kejauhan. Dia melihat anak-anak asyik bermain, senyum tersungging di bibirnya melihat beberapa anak cukup jago dalam hal defense dan offense. Basket saat ini berhubungan erat dengan Aomine dan masalahnya.
Menghela nafas panjang, dia mengerang. Kesal dengan ingatannya kemarin membuatnya lelah baik secara fisik maupun mental.
Aomine menunggu Kagami? Bagaimana bisa? Bukankah ingatannya seharusnya kembali di saat dia masih bangku SD? Bagaimana itu berkaitan dengan dirinya yang di tunggu Aomine? Kagami tidak habis pikir. Dia terlalu sibuk sampai tidak menyadari kemana dia berjalan.
Menabrak seseorang yang jangkung berambut cepak, Kagami berbalik untuk meminta maaf.
"Kagami? Kau Kagami 'kan?" Mantan kapten basket satu tahun lalu menyapanya. Di sampingnya Kiyoshi Teppei juga bersamanya.
"Hyuuga Senpai! Kiyoshi Senpai!"
"Sudah lama sekali. Aku memang dengar dari Riko bahwa kau telah kembali! Tidak menyangka bisa bertemu denganmu disini!" Hyuuga menyalaminya.
"Kapten juga, seharusnya sering-sering datang ke klub sekolah. Aku sempat berlatih bersama Kuroko dan yang lainnya." Dia tersenyum menyambut tangan Hyuuga dan Kiyoshi.
"Apa ada sesuatu yang menggangumu?" Hyuuga menekan pertengahan kacamatanya, menatap lekat pada Kagami.
"Ah, bukan apa-apa. Senpai sekarang ikut klub basket kampus?" Kagami buru-buru mengalihkan perhatian.
"Aku dengar soal Aomine, Kagami. Kuharap kau kuat." Kiyoshi menepuk pundak Kagami.
"... terima kasih, Senpai." Kagami tersenyum memaksa.
"Dasar! Apa-apaan senyum itu? Kau tidak berhak menyembunyikan perasaanmu di hadapan kaptenmu ini! Kalau ada yang tidak puas, kau harus membicarakannya!"
Keringat muncul pada kepala Kagami. "Tidak, bukan begitu..."
"Apa kau mau makan siang bersama? Kita hendak makan siang di Maji Burger." Kiyoshi memotong.
"Ah tidak, aku-"
"Kau tidak berhak menolak ajakan senpai-mu!" Hyuuga memotong.
Kagami terkekeh kaku.
"Jadi... dia bilang seperti itu..." Kiyoshi bergumam, mengambil kentangnya dari piring dan mengunyah.
Hyuuga menyilang kaki, menyender pada kursi dan menyilang tangan. "Kemungkinan karena perasaan yang sangat besar untuk menemuimu, makanya terbawa. Dari lubuk hatinya, Aomine sangat ingin bertemu denganmu. Aku dengar dia memang mengincar rekomendasi dan berjuang keras untuk bisa masuk tim Amerika. Perekrutan itu yang menjadi motivasinya. Sayang sekali kejadian itu harus terjadi padanya."
Kagami menunduk, menyembunyikan ekspresinya dari hadapan mereka berdua.
Hyuuga meneruskan setelah beberapa saat tidak ada yang bicara. "Aku memang bukan seorang psikolog handal, namun yang kudengar, hilang ingatan terjadi karena shock atau ada hal yang menekan kondisi psikologis seseorang. Itu terjadi kemungkinan karena kekerasan yang dilakukan Haizaki bodoh itu. Dia kembali pada kondisi semasa SD untuk membela dirinya yang tengah menjadi bulan-bulanan media massa, berusaha untuk masuk pada comfort zone di bawah alam sadarnya dan dalam posisi menunggu seseorang yang tengah ingin ditemuinya. Namun sayangnya orang itu tidak ada di sisinya saat itu terjadi, dan hilangnya orang itu juga merupakan sebuah tekanan baginya. Dia bahkan tidak bisa mengingat siapa yang ditunggunya."
Kiyoshi dan Kagami memandang Hyuuga. Jari-jari Kagami mengatup menjadi satu, mengepal kuat.
"Jadi... ini salahku. Aku tidak seharusnya meninggalkannya dalam kondisi sedemikian rupa." Kagami meninju meja.
"Maaf, aku tidak bermaksud-"
Kiyoshi mengangkat tangan, menginterupsi. "Apa yang sebaiknya kau lakukan, itulah yang harus dipikirkan saat ini, Kagami. Bukan waktunya menyesali sesuatu. Kupikir, kalau pun ada yang patut disalahkan, itu adalah Haizaki. Bukan kau, Kagami." Kiyoshi memegang kepalan tangan Kagami.
Kagami tidak menyahut, dia mengusap wajahnya dengan tangan.
"Pikirkan apa yang kira-kira akan dia ingat. Bila one-on-one sudah tidak bisa dilakukan, kita harus menggunakan cara lain. Pasti ada jalan." Hyuuga menambahkan.
Kagami mengangguk pelan.
Hyuuga mendengus. "Kau ini tidak pernah putus asa dalam hal apa pun. Bahkan dalam pertandingan basket sekalipun, bukannya turun semangat tapi malah berapi-api. Dasar aneh. Masalah seperti ini harusnya dapat kau lalui dengan gagah seperti biasa." Hyuuga memukul pelan kepala Kagami. "Semangatlah! Seperti bukan Kagami saja!"
Pernyataan itu berhasil membuat Kagami terkekeh.
Hari senja berikutnya, Kagami muncul di tempat yang sama. Aomine melempar pandangan kesal padanya. Dia tidak ingin membuat Kagami terluka lebih dari yang seharusnya. Bahkan pertandingan basket mereka kemarin banyak meninggalkan memar pada wajah Kagami. Aomine menghela nafas keras.
"Apa kau ini tidak ada capeknya? Aku bahkan sudah bosan memandangmu."
"Sekali lagi, one-on-one. Kau akan kulepaskan." Kagami bergumam.
Remaja berambut biru itu mengernyitkan alis padanya. Dia menggeleng, akhirnya bersedia melayani Kagami.
Mereka sampai di lapangan basket terdekat ketika langit sudah mulai gelap. Kagami melayangkan pandangannya pada ring basket. Dia menaruh tasnya dan mengeluarkan bola basket. Melemparnya pada Aomine yang menangkap dengan tatapan bosan, Aomine melemparkan bola basket itu asal-asalan ke dalam ring. Mengambil bola basket yang memantul dan men-dribble dua kali sebelum kembali memasukkan bola ke ranjang.
Kagami menonton, tersenyum sejenak sebelum dia berlari, berusaha merebut bola basket itu dari Aomine. Aomine dengan sigap melontarkan bola basketnya ke samping, menangkap bola yang melayang di udara dan melempar masuk tepat ke tengah ring. Kagami melompat, memblokir masuknya bola ke ring. Dia berlari dan men-dribble bola tersebutmenuju ring yang lain. Dengan cepat, Aomine menyusulnya, menepis bola basket itu dari tangan Kagami. Mereka berlarian mencoba merebut bola. Aomine lagi-lagi memasukkan bola ke ranjang dengan gerakan gesit dan cepat. Dia menangkap bola yang memantul dan mendelik ke arah Kagami yang berlari menghampirinya.
"Kau sama sekali tidak ada keinginan untuk merebut bola, ya? Untuk apa sebenarnya kau ingin bermain denganku?" Aomine melempar bola basket ke aspal lapangan basket.
"Ah... bukan... aku-"
"Sudahlah, hentikan saja permainan bodoh ini. Kenapa kau tidak ikut tim sekolah dan maju menghadapiku di pertandingan Inter-High atau Winter Cup tahun ini? Itu pun kalau kau bisa..."
Kagami terperanggah akan ide yang diberikan Aomine. Lagi-lagi kekasihnya memberikan pilihan sulit padanya.
Aomine mengangkat bahu. "Aku tidak sudi membuang waktuku untuk bermain seperti anak kecil." Dia meninggalkan Kagami terpaku pada pikirannya sendiri.
'Aomine... kenapa kau melakukan ini padaku? Memberikan pilihan yang sulit dua kali dalam hidupku.' Kagami menutup matanya, berusaha untuk menahan diri agar tidak berteriak di tengah lapangan yang sepi. Cobaan macam apa ini?
Dia membuka mata saat rintik hujan mulai mengguyurnya. Berjalan tertatih menuju tasnya yang mulai basah, Kagami memungut bola basket yang baru saja menjadi pelampiasan kekesalan Aomine. Berjongkok di samping tasnya yang basah, Kagami menggigit bibir. Air hujan menyamarkan air matanya, pandangannya tertutup oleh air yang menggenangi matanya yang membengkak. Kagami menyeka, sesaat merasakan hujan tidak lagi mengguyurnya. Dia mendongak melihat Kuroko berdiri di hadapannya dengan pandangan sedih.
"Nanti kau masuk angin." Kuroko berkata pendek.
Keduanya bertatapan sesaat. Kagami mengusap air hujan yang membasahi wajahnya.
"Temani aku untuk meneduh di tempat terdekat."
Kuroko menyender pada dinding luar rumah makan, menatap hujan yang semakin deras. Kagami merepet di sebelahnya, menjauhkan diri dari tampias hujan. Mendengarkan apa yang Kagami bicarakan padanya dalam diam, pikiran Kuroko ikut sibuk dengan pilihan yang harus diambilnya.
Hening sejenak dengan keduanya berpikir jalan keluar, Kuroko teringat ketika Aomine baru sadar di rumah sakit. Beberapa hari setelah kecelakaan itu terjadi.
"Saat tersadar di rumah sakit waktu itu, Aomine-kun... mengatakan bahwa aku mengenakan seragam yang berbeda. Dikiranya aku pindah sekolah dari Teiko. Dia berpikir bahwa saat itu dia masih bersekolah di Teiko."
Kagami menunduk, mendengarkan dengan seksama. Dia mengantongi kedua tangan ke saku celana training yang dikenakannya.
"Aku tahu harusnya aku langsung memberitahukanmu. Pikiranku sibuk dengan apa yang harus kulakukan untuk membuatnya ingat padamu sebelum kau kembali. Sebelum kau memarahiku karena tidak menjaganya dengan baik." Kuroko terkekeh pelan. "Aku memilih hal tersebut karena kupikir aku bisa menolongnya mengetahui keberadaanmu melalui foto-foto kalian yang kupunya."
"Apakah ada sedikit ingatan yang diingatnya?"
Kuroko menggeleng. "Hari terakhir sebelum dia keluar dari rumah sakit, kuberikan foto yang kuambil sebelum kalian berpisah. Foto terakhir setelah kalian berbaikan sebelum Kagami-kun pergi ke Amerika. Dia mengatakan bahwa pemuda yang ada di foto itu mirip dengan orang yang dikejarnya di dalam mimpi. Orang yang bersinar terang, yang diingatnya hanyalah sekelebat rambut merah. Saat itu aku menyadari bahwa keputusanku salah. Aku seharusnya memberitahukan Kagami-kun secepatnya. Tidak lama kemudian kau kembali ke Jepang." Kuroko tersenyum pahit.
Saat Kagami tidak menjawab, Kuroko meneruskan. "Kuakui, ini juga merupakan pilihan yang sangat sulit bagiku. Meskipun begitu, aku rasa kau tahu mana yang lebih penting, Kagami-kun. Walaupun harus mengorbankan NBA."
"Aku sudah sekali salah memilih langkah, Kuroko. Kupikir ada baiknya aku mengorbankan timku yang sekarang. Tapi di lain hal aku seperti orang yang kehilangan akal sehatku untuk melepaskan begitu saja hal yang sudah kuraih."
"Kau sudah meraih piala kehormatan, bahkan piala emas dua kali untuk tim di Amerika. Teman-temanmu bangga akan hal itu. Kalau memang pilihan ini yang terbaik untukmu, jika aku salah satu rekan tim di sana, aku akan mendorongmu untuk tinggal dan menyelesaikan persoalan ini di Jepang. Namun semua keputusan ada di tanganmu." Kuroko menepuk pundak Kagami.
Kagami meremas tali tasnya. Kepalanya serasa mau pecah.
"Satu hal, Alex mungkin tidak akan senang mendengarnya." Kuroko menambahkan, seolah tahu pilihan mana yang akan diambil Kagami.
"Kau benar. Kuharap aku tidak memiliki memar baru besok."
Keduanya tertawa.
Aomine melempar tasnya, dia mengusap wajahnya yang basah karena air hujan dengan lengan baju. Sosok gadis berambut pink berlari menghampiri teman masa kecilnya.
"Dai-chan! Dari mana saja kamu!" Satsuki mulai mengoceh.
"Dia mengajakku bertanding one-on-one lagi. Ada apa dengan temanmu itu, Satsuki?!"
"Kagamin?"
"Siapa lagi! Dia bahkan tidak serius menghadapiku! Kukatakan padanya bahwa aku tidak ingin bertanding seperti amatir di tengah lapangan basket umum dan menyuruhnya untuk ikut pertandingan meraih piala Winter Cup." Aomine menyeringai. "Aku ingin menggilas anak itu."
"Kau ini bicara apa? Kagamin sudah punya tim di Amerika, jadi tidak mungkin dia bisa menghadapimu di pertandingan sekolah ini. Yah, kecuali kalau tim bertanding untuk internasional... akan ada kemungkinan..."
"Kalau begitu katakan padanya untuk tidak mengajakku bertanding. Hampir setiap hari dia datang ke sekolah seperti maniak!"
Satsuki menggigit bibirnya menahan tawa. Dia tahu bagaimana getol Kagami apabila menginginkan sesuatu.
"Anehnya aku seperti sudah terbiasa menghadapi sikapnya yang keras kepala itu. Bodoh sekali..." Aomine mendesis.
Mata Satsuki berbinar. Dadanya bergemuruh, menahan diri untuk tidak berteriak kegirangan. Sepertinya kehadiran Kagami kembali ke Jepang membawa dampak baik bagi ingatan Aomine yang hilang.
"Sudahlah, ayo pulang. Untuk apa kau kembali ke sekolah? Pakai saja payung yang kubawa untukmu ini." Satsuki menarik lengan baju Aomine yang basah.
"Hei, jangan menarikku, Satsuki!"
Satsuki tidak mendengarkan protes Aomine.
Alex menggebrak meja makan. "MENINGGALKAN NBA? YANG BENAR SAJA, KAGAMI!"
Kagami melenguh, tahu bahwa managernya sekaligus gurunya akan meledak apabila dia memutuskan secara sepihak.
"Itulah mengapa aku harus memberitahukanmu, Alex. Aku ingin tahu apabila kau ada solusi lain, mungkin. Lagipula... kupikir tim NBA sudah meraih piala emas, jadi... Kurasa mereka akan baik-baik saja tanpa-" Dia berhenti saat Alex mencubit pipinya.
"Coba katakan mereka tidak membutuhkanmu, akan kugoreng kau."
"Sakit! Hahit!" Kagami meringis saat Alex melepaskan cubitannya. Dia mengusap pipinya yang memerah dan masih sedikit memar akibat Aomine.
Alex menatap matanya, bibirnya mengatup saat ekspresi Kagami berubah sedih. Membuang nafas keras, Alex duduk kembali. Dia menatap Kagami sebelum terkekeh.
"Aku sudah tahu kau akan membicarakan ini suatu hari. Saat kau menceritakan masalah Aomine, aku tahu cepat atau lambat kau akan menetap di Jepang."
"Lalu kenapa kau berakting dan mencubitku?!" Kagami memukul meja dengan kepalan tangannya.
"Itu harus dilakukan untuk membuatmu berpikir dua kali." Alex melambaikan tangannya dengan wajah puas.
Alis Kagami berkedut, dia mengalihkan pandangan. "Aku... juga tidak ingin melakukannya. Aku banyak belajar di sana, tapi di sisi lain Aomine mengubah pandanganku terhadap basket. Kau tahu aku sangat mengaguminya saat pertama kali aku berhadapan dengannya di lapangan Winter Cup dua tahun lalu."
"Kau sudah pernah cerita soal itu." Alex mengangguk, duduk di depan Kagami.
"Aku tidak ingin kehilangan dia lagi. Sudah cukup dengan semua kejadian ini, Alex. Aku bersyukur dia masih hidup, meskipun kehilangan ingatan. Itu lebih baik daripada aku benar-benar kehilangan dia. Aku ingin matanya terbuka bahwa sosok yang dicarinya saat ini adalah aku. Bukan siapa pun lagi."
Alex terdiam. "Kau semakin dewasa, Kagami. Saat kau kecil, kau dipenuhi emosi yang bisa meletup kapan saja. Mungkin kejadian ini juga bisa membuatmu memilih dengan penuh kepala dingin."
"Alex..."
Gurunya tersenyum. "Yah, mungkin aku bisa merekomendasikan kakakmu itu sebagai gantinya, Kagami. Dia juga sama hebatnya denganmu."
Kagami membelalak.
"Tatsuya? Kalau begitu..."
"Biar aku yang bicara dengan pelatih. Kau juga harus menjelaskan bahwa ada hal penting. Bagaimana pun juga, dia yang pertama kali mengetahui bahwa kau tidak seperti biasanya setengah tahun terakhir ini."
"Begitu ya, jadi itu sebabnya dia menyuruhku kembali ke Jepang untuk liburan."
"Wah, bangga sekali aku, kedua muridku masuk tim NBA!" Wajah Alex tampak bercahaya.
Kagami terkekeh. "Terima kasih Alex."
Kuroko menatap Aomine dengan pandangan datar, mengatup mulutnya lalu mendenguskan tawa yang tidak dapat lagi dibendung.
"Jangan tertawa kau, bodoh. Aku sedang bercerita serius. Aku tidak tahu apakah dia orang yang selama ini kucari, tapi dia tampak berbeda dari benakku. Bahkan kutolak pun dia berkali-kali datang seperti tidak kenal kata menyerah. Itu sangat menggangguku. Ini sudah yang keberapa kalinya." Entah darimana kepercayaan diri itu muncul, namun Aomine yakin seratus persen bahwa Kagami jatuh hati padanya.
"Maaf, bukan maksudku ingin menertawakan, hanya saja... kukira kau ingin bicara apa padaku, sampai memanggil ke Maji Burger di tengah latihan klubku." Kuroko menyeruput milkshake-nya. "Dia... memang seperti itu, Kagami orang yang pantang menyerah. Hanya saja, kali ini tujuannya berbeda. Mungkin kau tidak ingat, namun dua tahun lalu permainannya sangat terpengaruh olehmu, Aomine-kun." Mata biru Kuroko bertemu dengan padangan kaget Aomine.
"Aku pernah bermain dengannya? Sial, kenapa aku tidak ingat? Yah... mungkin karena dia sangat lemah, makanya aku tidak ingat apa pun."
"Justru sebaliknya, Aomine-kun. Kau pernah kalah melawannya. Sebenarnya melawan tim Seirin. Aku menjadi bayangannya saat itu."
Menerima pandangan terkejut untuk kedua kalinya, Kuroko tersenyum singkat. "Aku tidak bohong."
"Lalu... kenapa sekarang dia lemah sekali padahal dia pernah mengalahkanku? Untuk apa dia main di Amerika jika dia kembali menjadi seorang yang sangat lemah?" Aomine berdecih. "Sayang sekali."
"Benar, maka dari itu, mari kita bertanding sekali lagi. Pada Winter Cup tahun ini, Aomine."
Aomine dan Kuroko mendongak.
Kagami memegang surat masuk sekolah Seirin, dengan sengaja mengumbarnya di depan mereka. Kuroko bangkit dari tempat duduknya.
"Kagami-kun? Kau serius?! Bagaimana dengan NBA?" dia terperanggah menatap surat yang sudah ditandatangani.
"Ini lebih penting dari apapun, Kuroko. Tatsuya akan menggantikanku." Kagami berbisik. Kuroko menatapnya dengan mulut terbuka.
"Bertanding melawanku? Apa kau tidak salah? Kau akan kuhancurkan dengan mudah saat pertandingan pertama." Aomine tertawa. "Apanya yang tim NBA? Aku bisa tertawa hingga menangis. Yang bisa mengalahkanku hanyalah aku seorang." Terkekeh sambil menggeleng kepala, Aomine bangkit berdiri.
Kagami menatap serius. Kilatan matanya tampak tegas.
"Akan kutunggu." Mata biru Aomine berkilat, menyeringai pada lawan yang dengan mudah dikalahkannya. "Aku jadi tidak sabar menunggu melihat semangatmu yang menurun pada pertandingan nanti."
"Kita lihat saja nanti." Kagami membalas seringainya.
TBC
