A/N: Disarankan mendengar lagu Opening 1 KNB – Can Do – GRANRODEO pada scene "Kau bersinar terang, Kagami…".
Untuk Fanart dalam chapter ini silahkan menuju AO3/menuju link pada profile :)
Judul Sequel: His Love
Can Do
Kagami terbangun akibat panggilan dari cellphone-nya. Dia mengerjap, mengambil teleponnya dari meja malam. Mengangkat tanpa mengecek siapa yang menelponnya pagi-pagi, Kagami menyahut sambil mengusap mata.
"Halo?" Suara Kuroko terdengar dari jalur sebelah.
"Kagami-kun, kita akan ada rapat hari ini. Sebaiknya kau bersiap-siap."
"Rapat? Seirin?" Dia bangun dan mengulet.
"Bukan, rapat dengan anak-anak Generation of Miracles."
Jawaban Kuroko langsung membuat kantuknya menghilang.
"APA?!"
Kagami meneguk ludah ketika membuka pintu ruang ganti lapangan basket umum. Kuroko memberitahukan bahwa mereka akan berkumpul di jam yang sama di lapangan basket tempatnya berkumpul saat hari ulang tahun Kuroko tiap tahun. Tampaknya dia yang terakhir tiba, hampir semuanya sudah tiba di tempat lebih dulu dari jam yang ditentukan. Kecuali Akashi.
"Aku... tidak terlambat 'kan? Kenapa rapatnya di sini?"
Kise mendorong Kagami masuk dengan senyum lebar. "Lapangan ini tempat kita berkumpul sejak ulang tahun Kurokocchi dua tahun lalu! Kita berkumpul bersama di sini untuk bermain basket sebelum ke rumahmu waktu itu, ingat? Duduklah!" Kise terlalu antusias, bersikap seolah lapangan dan ruang ganti itu adalah miliknya.
"Kita memang tiba di sini lebih dulu dari waktu yang dijanjikan. Sebab biasanya Akashi-kun akan tiba paling belakang." Kuroko menjelaskan.
"Aku sangat mengantuk, kenapa aku harus naik kereta pagi-pagi ke Tokyo ini. Kuharap hari ini memakan waktu seharian penuh dan tidak sia-sia." Murasakibara mengeluh sambil mengulum cemilannya.
"Jangan membuat tempat ini berantakan, Murasakibara."
"Seperti biasa, kau berisik, Midochin." Murasakibara menggerutu sambil mengulum cemilannya.
Midorima hendak menyentak Murasakibara apabila pintu ruang ganti tidak terbuka. Semua mendongak, Akashi menutup pintu dan berjalan masuk dengan senyum tipis.
"Bagus, kita sudah lengkap." Pemuda bermata heterochromia tersebut mengangguk puas setelah mengecek jumlah mantan tim Teiko. Terkecuali Kagami yang tentu saja diikutsertakan pada rapat rahasia ini.
"Umm Aomine-kun belum-" Kuroko maju selangkah.
"Dia tidak perlu datang. Rapat ini khusus membahas tentangnya. Itulah sebabnya aku mengontak kalian satu per satu, bukan di grup." Akashi memotong, menaruh jacket Rakuzannya pada bangku kosong di sebelah tempatnya berdiri.
Kagami tidak bersuara.
Melihat papan putih kecil yang tergeletak di sudut ruangan, Akashi mengambil papan itu. Dia menarik spidol hitam dan mulai menulis. Setelah yakin dia membaca apa yang sudah disusunnya, Akashi mengangkat papan itu, menunjukkan pada anggota tim. Mereka melihat gambar bagan seperti susunan pertandingan dengan nama sekolah, Seirin, Rakuzan, Touou, Shutoku, Kaijo, Yosen yang masing-masing saling berhadapan satu sama lain.
"Kurasa sudah tidak perlu dijelaskan lagi, kita di sini untuk membicarakan ingatan Daiki yang belum juga pulih." Mata merah Akashi tertuju pada Kagami.
"Aominecchi bahkan tidak terlalu banyak berbicara dengan kita belakangan ini." Kise menjawab murung.
"Lalu, strategi apa yang kau ingin jabarkan, Akashi?" Midorima menyilang tangannya, kacamatanya berkilau menyembunyikan ekspresi.
"Anggap bagan ini adalah susunan pertandingan Inter-High. Aku tahu bahwa masing-masing dari kita akan bertarung kembali meraih piala Inter-High dan Winter Cup tahun ini. Ada strategi yang kupikir bisa diajukan untuk membantu kembalinya ingatan Daiki." Akashi mengangkat jari telunjuknya, seperti tidak memberikan opsi pilihan.
Semuanya mendengarkan dengan seksama.
"Kita akan berhadapan satu sama lain dengan urutan yang sama tepat seperti yang terjadi dua tahun lalu." Akashi meneruskan saat tidak ada yang bersuara. "Seperti mengulang déjà vu yang disengaja, hal ini harusnya dapat memicu kembalinya ingatan yang hilang."
"Urutan yang sama? Bagaimana bisa-" perkataan Kagami terhenti ketika Akashi menyeringai. Kagami tertegun, kilatan mata Akashi sekilas seperti siap memangsa.
"Kau pikir untuk apa aku menyusun strategi ini? Tidak sulit untuk mengatur susunan pertandingan bila kau terbiasa memimpin. Aku akan menyusun pertandingan antar sekolah agar sama seperti dua tahun lalu, dengan satu syarat." Matanya menatap semua Generation of Miracles dan Kagami satu per satu. Mereka bergidik di bawah tatapan mata Akashi. "Sesuai dengan urutan pertandingan dua tahun lalu, yang waktu itu kalah tentu saja harus mengalah."
Kagami terperanggah. "Akashi! Itu terlalu-"
"Kau mau kekasihmu itu ingat atau tidak?" Akashi mendelik.
Kagami mengepal tangannya.
"Aku yakin kau akan bersikeras untuk menghadapi kami, Kagami. Tidak akan ada yang mau mengalah, tentu saja." Midorima menekan pertengahan kacamatanya. "Selisih satu angka saja tidak masalah, bukan? Itu jika kalian bisa menghadapiku dan tim kami tahun ini tanpa kesulitan."
"Midorimacchi!" Senyum Kise merekah.
Akashi menjawab Midorima dengan anggukan. "Aku akan mengatur agar Seirin dan Touou berhadapan di pertandingan awal Winter Cup. Kalian tidak akan berhadapan di Inter-High seperti dua tahun lalu, karena Seirin jelas kalah dari Touou saat itu." Akashi melanjutkan.
"Bagaimana jika kita berhadapan di Inter-high saja?" Kagami memotong sambil mengangkat tangan untuk bicara.
"Tidak. Aomine yang menang tidak akan mengingat apa pun. Kalaupun adanya kemungkinan kau memenangkan pertandingan Inter-high tahun ini, hasilnya tidak sama. Sayangnya, ingatan yang hilang akan kembali bila terjadi hal yang sama dalam ingatannya. Winter Cup adalah saat dimana dia kalah, kuharap itu bisa memicu ingatannya kembali. Winter Cup juga saat di mana Kagami memasuki Zone. Itu salah satu point untuk mengembalikan ingatan Daiki seperti semula. Bila tidak dicoba, kita tidak akan tahu."
Semuanya tidak ada yang bicara dengan satu opsi tanpa pilihan yang diberikan mantan kapten mereka. Sungguh berat menyuruh mereka mengalah satu dengan yang lain. Akashi tahu hal tersebut adalah sulit dilakukan kepada grup pelangi di hadapannya. Tiga tahun di SMP Teiko mengharuskan pikiran mereka terpatri pada kemenangan yang gemilang. Kurokolah yang membuat mereka semua mempunyai pandangan baru akan basket dan kerja tim. Untuk sengaja mengalah itu adalah... suatu keadaan yang sangat merendahkan.
"Tenang saja, jika ingatannya sudah kembali, kalian semua bisa bermain sesuka hati kalian, tentu saja dengan meraih kemenangan."
Semuanya terdiam, memikirkan dalam-dalam strategi Akashi. Kagami tahu bahwa keluarga Akashi adalah keluarga yang berpengaruh, di Jepang. Dia yakin persoalan mengatur jalannya pertandingan semudah membalikkan telapak tangannya.
Kise mengangkat tangan seperti berada di kelas. "Akashicchi, bagaimana jika kita berhadapan dengan sekolah lain?"
Akashi mengangguk. "Satu hal yang ingin kuingatkan, siapa pun lawan kalian, masing-masing Generation of Miracles harus menjadi yang akan terakhir memegang bola dan mengalahkan Buzzer Beater. Kecuali kondisi kalian yang di ruangan ini saling berhadapan nantinya, itu akan menuruti urutan pertandingan yang sudah kususun. Mengikuti dua tahun lalu. Sebagai contoh, Tim Shutoku kalah menghadapi Seirin dua tahun lalu, ikutilah urutannya." Akashi melingkari nama Seirin dan mencoret Shutoku, menebalkan garis tanda kemenangan dengan spidol merah.
Kise mengangguk paham. Akashi menunggu adanya pertanyaan lain. Tidak ada yang protes.
"Kurasa semua sudah menyetujui strategi ini. Aku akan bicara pada pihak sekolah setelah ini, memohon ijin untuk bertemu dan mengeskalasi dengan penyelenggara terkait. Akan kuberitahukan susunan pertandingannya beberapa minggu ke depan."
Rapat bubar. Akashi menjadi yang terakhir berjalan keluar, dia memanggil Tetsu ketika teringat sesuatu.
"Tetsuya, boleh kutahu siapa kapten Seirin tahun ini? Hyuuga-san sudah lulus, bukan?"
Kuroko menatap ke belakang. "Furihata-kun."
"Furihata?" Akashi mengangkat alis.
Kagami angkat bicara. "Ah, mungkin kau tidak ingat, tapi Winter Cup dua tahun lalu dia yang berhadapan denganmu di pertandingan final. Walaupun hanya sebentar."
Kuroko mengangguk dengan senyum. "Furihata Kouki, dia Point Guard yang lebih berhati-hati dalam bertindak. Dia juga bagus dalam menyokong kerja tim. Dia yang dipilih Hyuuga untuk menjadi kapten berikutnya."
"Aah, aku ingat sekarang. Remaja berambut coklat yang gemetar dan demam panggung itu." Akashi menekan telunjuknya pada bibir, membayangkan sosok Furihata.
"Dia sudah jauh lebih baik dua tahun ini, Akashi-kun." Kuroko terkekeh mendengar deskripsi Akashi.
"Begitu? Baiklah, aku akan ingat untuk berhadapan dengannya pada pertandingan nanti." Senyum Akashi merekah.
Kuroko berdiri kaku ketika Akashi berjalan melewatinya. Sesaat mata Akashi seperti mendapatkan mangsa.
'Furihata-kun, kuharap kau berhati-hati pada pertandingan tahun ini...' Kuroko membatin.
"Akashi." Kagami memanggilnya setelah dia menapak lapangan basket.
Akashi berhenti melangkah, melihat Kagami yang menunduk.
"Terima kasih." Kagami bergumam, bingung bagaimana harus bersikap atas bantuan kapten Rakuzan.
Bibir Akashi tertarik sedikit. "Tidak masalah. Daiki memang sulit dikontrol saat ini, tapi bukan berarti aku akan diam saja melihat dari samping."
Kagami terkekeh mendengarnya.
"Aku sudah jauh-jauh kemari, apa aku harus pulang sekarang?" Murasakibara yang sedari tadi tidak banyak bicara, cemberut.
"Tunggu!" Kise menatap lapangan basket antusias. Dia kemudian mengajak mereka bermain street ball selagi berkumpul, kesempatan yang jarang ada untuk bermain dengan Kagami. Tidak ada yang menolak.
Halaman sekolah Seirin dipenuhi Sakura, seperti mengundang para junior baru dan menyambut mereka. Kapten Seirin yang baru, Furihata Kouki berdiri di belakang meja didampingi Riko. Beberapa anak-anak kelas dua membagikan selebaran ke anak kelas satu, merekrut mereka. Banyak yang tertarik untuk bergabung tahun ini.
Kagami tersenyum ketika melihat anak kelas satu diperintahkan Riko untuk mengutarakan tujuannya bergabung dengan klub basket di atap sekolah. Dia sudah melakukannya dua tahun lalu, membuatnya bertemu dengan Aomine dan Generation of Miracles yang lain. Senyumnya tertahan ketika ingatan mengenai Aomine kembali padanya. Apa pun yang terjadi, dia harus membuat Aomine mengingat tentang pertemuan mereka dari awal sampai akhir. Tahun ini tujuannya bukan hanya untuk melawan tim Generation of Miracles, namun juga untuk mengembalikan ingatan Aomine.
Riko membaca nama yang terdaftar pada tim Seirin. Wajahnya berseri melihat nama Kagami kembali terpampang. Namanya dengan cepat menjadi gosip di tengah para junior yang pernah berlatih dengannya.
Kagami masuk klub sekolah bersama Kuroko. Keduanya disambut meriah terutama oleh rekan mereka yang pernah bertarung bersama meraih kejuaraan Winter Cup dua tahun lalu. Kagami tertawa, merasa bahwa dia kembali kepada lingkungan yang dirindukannya setelah sekian lama. Basketball SMU memang berbeda. Dia sudah terbiasa bertanding dengan tim Amerika selama dua tahun ini, tentu saja Riko tidak segan meminta anjuran dan beberapa trik serta masukan untuk para junior. Kuroko tersenyum, senang mendapatkan cahayanya kembali.
Kuroko melemparkan bola basket kembali pada Kagami yang menangkapnya. Dia men-dribble beberapa kali lalu melompat dan melakukan dunk. Bunyi ring yang turun membuat para junior terkesima akan lompatan yang dilakukan Kagami.
"Dasar... dia unjuk gigi sendirian." Furihata terkekeh.
Kuroko tersenyum.
Latihan hari itu membawa mereka pada rapat mengenai pertandingan yang akan mereka ikuti tahun ini.
"Seperti yang kalian tahu, banyak sekali yang sudah berkembang, para pemain yang kalian hadapi tahun lalu sudah cukup tangguh. Untuk tahun ini pun kita tidak boleh santai. Tentu saja kalian akan ada ekstra latihan yang harus dijalani sesuai program. Seperti biasa." Riko membagikan jadwal latihan kepada masing-masing rekan.
Kagami tersenyum. Riko yang sudah menjadi alumni Seirin masih menyempatkan diri untuk melatih mereka. Tentu saja dia senang masih bisa dilatih oleh seorang gadis hebat dan sparta seperti Riko. Tim Seirin menjadi tim yang hebat di bawah tangannya.
"Sepertinya tahun ini akan menjadi sesuatu yang luar biasa." Kagami bergumam, menyungging ketika Riko menangkapnya bicara.
"Kagami, kau akan kembali menjadi Ace Seirin. Tahun ini akan menjadi yang terakhir bagimu bermain untuk sekolah ini. Kita berharap banyak padamu yang sudah dua tahun bertanding di Amerika. Kuharap ini bukan suatu beban." Riko mengangkat tangannya.
Kagami menjabat pelatihnya. "Aku akan memberikan yang terbaik."
Keduanya mengangguk.
"Berjuanglah Kagami, bukan hanya untuk Seirin." Kagami terdiam ketika Riko mengetahui alasannya untuk kembali bergabung dengan mereka. "Dia akan mengingatmu apabila kau bermain tanpa putus asa." Riko menepuk lengan Kagami.
"Terima kasih." Kagami membungkuk hormat.
Latihan berjalan sesuai program yang diberikan Riko. Ayah Riko, Kagetora turut serta melatih mereka. Kagami diberikan training khusus olehnya bersama Kuroko yang mengembangkan drive-nya selama dua tahun terakhir tanpa Kagami.
Pertandingan demi pertandingan mereka lalui dan meraih kemenangan satu demi satu. Tentu saja nama Kagami yang bermain untuk NBA menarik banyak orang. Media massa tidak henti-hentinya menyorot sosok Kagami, pertanyaan mengapa dia kembali bermain untuk basketball SMU terus menerus dilontarkan padanya. Kagami hanya menjawab singkat "Ini tahun terakhirku di SMU Seirin, aku akan berusaha semaksimal mungkin."
"Sepertinya kau sudah terbiasa menjawab mereka." Kuroko nyeletuk setelah sesi interview mereka berlalu. Kagami hanya tersenyum padanya.
"Kagami-kun sepertinya sudah semakin berbeda. Mungkin aku harus berhenti menjadi bayanganmu."
"Apa? Kenapa?!" jerit cahaya-nya di tengah koridor.
"Jalan terus, kalian berdua!" Riko membentak dari rombongan terdepan.
Kagami menatap ponselnya. Alex memberikan dukungan kepadanya melalui voice mail. Dia harus kembali ke Amerika untuk mengurus persoalan Tatsuya dan Kagami. Tatsuya baru saja mengirimkan pesan selamat bertanding untuknya. Dia juga mengirimkan foto anggota NBA, menggantikan posisinya. Kagami tersenyum melihat wajah konyol teman-teman satu tim. Mereka tetap menganggapnya bagian dalam tim dan itu membuatnya lega. Walaupun singkat, satu tahun adalah waktu yang cukup untuknya menjadi lebih dekat dengan mereka. Membalas pesan dengan janji bahwa setelah semuanya selesai, dia akan mampir ke Amerika, Kagami menutup ponselnya.
Matanya mengarah pada foto pigura yang berdiri di meja malam. Kagami mengangkat foto itu, menatap Aomine dan dirinya yang berdiri dengan bola basket di tengah mereka. Kuroko yang mengambil fotonya waktu itu. Dia tersenyum.
"Akan kupukul kau, Aomine, apabila kau tidak juga mengingatkan sedikit pun tentangku di pertandingan hari ini." Dia menaruh kembali foto itu dan beranjak keluar kamar.
Pertandingan berjalan sesuai dengan keinginan Akashi. Mereka bertanding mengikuti rencana, beberapa menaklukan buzzer beater sesuai yang diperintahkan mantan kapten mereka. Kagami meneguk ludah ketika pertandingan final Inter-High mereka melawan Rakuzan, bukan Touou. Pertandingan berhasil dimenangkan Rakuzan dengan perbedaan skor dua digit. Yang terlihat kecewa hanyalah anak kelas satu tim Seirin, para senior yang mengetahui rencana selanjutnya bersiap untuk memasuki babak pertama Winter Cup. Sesuai dengan arahan Akashi, Kagami takjub melihat susunan pertandingan pertama mereka melawan sekolah Touou.
"Tidak ada yang bisa menolak Akashi-kun dalam hal sepele seperti ini." Kuroko tersenyum melihat susunan pertandingan. "Bukan, tidak ada yang bisa menolak keluarga Akashi."
"Jadi... bahkan dalam hal seperti ini pun merupakan hal yang mudah baginya. Benar-benar orang yang sudah memenangkan pertarungan hidup." Kagami bergumam, melihat bagaimana dia bertindak gesit dalam setiap pilihannya. Bagaimana orang itu bisa menghafal susunan pertandingan yang sudah dua tahun berlalu?
"Dia... lebih tepatnya seperti tidak ada yang mampu menghentikan langkahnya meskipun ingin." Furihata nyeletuk, bergidik mengingat pandangan yang diberikan Akashi pada saat dia bertugas untuk menjaganya dalam final pertandingan Inter-High lalu. Kuroko dan Kagami melirik kapten mereka.
"Jangan trauma, Furihata-kun." Kuroko mencoba untuk menghiburnya.
"Uggh... bisa tidak aku tidak berhadapan dengannya di pertandingan lain nanti? Aku berharap kita tidak akan berhadapan lagi dengan Rakuzan."
"Kita akan berhadapan lagi... kurasa..." Kuroko menunduk melihat catatan pertandingan.
"Dan kau yang bisa menjaganya, sesama Point Guard dan kapten..." Kagami menambahkan.
Furihata tidak menahan erangan putus asa.
"Berusahalah, Furihata-kun." Dorongan Kuroko tidak membantu.
Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Hari dimana mereka akan bertanding melawan sekolah Touou untuk mencapai posisi semi final Winter Cup.
Aomine menatap langit senja kemerahan. Satsuki menarik lengannya seperti takut dia lari. Entah kenapa Aomine merasakan adanya persamaan kejadian di beberapa waktu lalu.
"Satsuki, berhentilah menarikku! Aku sedang berpikir!" Aomine protes ketika Satsuki menariknya masuk gedung pertandingan.
"Berpikir? Kau bisa berpikir?"
"Sialan kau. Aku hanya merasa seperti melalui hari ini sebelumnya." Aomine bergumam, menggaruk kepalanya dan menghela nafas panjang.
Mata Satsuki membulat. Menahan diri untuk tidak memekik kegirangan karena Aomine mulai mengingat, dia tersenyum. "Coba dipikir lebih dalam, mungkin kau pernah kemari sebelumnya."
Aomine menatapnya, mengernyitkan alis dan mengangkat bahu. "Entahlah, kuharap ini bukan pertanda buruk." Remaja berambut biru itu melangkah menuju ruang ganti. Perasaan aneh yang mengusik batinnya sejak dia memasuki gedung pertandingan tidak juga hilang. Hal itu semakin bertambah kuat bahwa dia seperti melangkah dalam suatu déjà vu. Aomine berdecih kesal.
Satsuki mengawasinya dari belakang. "Dai-chan, kau ingat bahwa kau pernah terlambat di pertandingan pertama Inter High melawan Seirin dua tahun lalu?"
"Hah?" Aomine hanya mendengus, tidak menanggapi pertanyaan Satsuki.
"Tunggu, setidaknya jawab aku!" teman masa kecilnya cemberut.
Mereka berjalan melewati Kuroko yang memegangi pelindung tangannya. Dia mengangkat wajah saat keduanya melintas di depannya.
"Aomine-kun."
Aomine manatap Kuroko yang tengah memakai pelindung pergelangan tangannya. Remaja berambut biru terang itu tengah mengepal tangan, dalam hati membulatkan tekad untuk melakukan berbagai drive yang serupa untuk membuat ingatan Aomine pulih.
"Kau tampak berapi-api, Tetsu." Aomine mengendik pada kedua pelindung tangan tersebut.
"Tentu saja, aku tidak akan kalah." Mata biru Kuroko mendelik pada seringai jahil Aomine.
"Begitu pula denganku!" Suara berisik yang dikenal telinganya membuat Aomine berdecih.
"Aku berbicara dengan Kuroko, bukan denganmu, bodoh." Aomine menghela nafas, menggeleng kepalanya dan berjalan menjauh.
"Tunggu, Dai-chan!" Satsuki membungkuk tidak enak pada Kagami sebelum berlari mengejar teman masa kecilnya itu.
Kuroko melirik Kagami, wajah remaja bongsor itu tengah menahan berbagai emosi. Tidak mungkin Kagami tidak merasakan tusukan dalam dadanya akibat perkataan Aomine.
Mata Kuroko menggelap. "Kagami-kun, saat dia kembali mengingatmu, akan kuberi tinju dengan drive kepalan tanganku. Kau fokus saja pada pertandingan nanti."
"Eeh?!" Kagami terkejut.
Kuroko pergi tanpa mengatakan apapun lagi. Aura Kuroko terkadang nyaris menyamai Akashi saat sedang marah.
"Kuharap hari ini menjadi yang terbaik. Lakukan saja seperti biasa kalian berlatih. Untuk anak kelas satu, kuharap kalian bersiap kapan pun itu." Riko menatap anggota tim satu per satu.
Penonton menyambut meriah masuknya tim sekolah Touou. Kagami melihat Aomine yang tengah menyeringai menatap tim lawan. Dia berjalan mendekati Kagami, bertolak pinggang dengan tampang puas.
"Boleh juga kau bisa sampai sini. Kita lihat apakah kau mampu mempertahankan angka dalam sesi pertama." Aomine membunyikan lehernya, memberikan Kagami pandangan remeh.
"Kita lihat saja, Aomine." Kagami berdiri, mengangkat bola basket dan melemparnya tinggi di udara.
Aomine memperhatikan bola yang dengan mulus masuk ke ring. Bibirnya tertekuk ke atas. "Bagus sekali, Kagami."
Kagami memperhatikan Aomine balik badan, berjalan meninggalkan tim Seirin.
"Dia akan ingat, kuharap begitu." Kuroko menepuk bahu Kagami. Partnernya mengangguk.
Pertandingan dimulai dengan keranjang basket menjadi milik Touou. Berhasilnya tim lawan mencetak angka beberapa kali di awal pertandingan tidak membuat Seirin goyah. Sesi pertama cukup menyudutkan Seirin. Serangan Kuroko yang menggunakan drive-nya terhadap Aomine beberapa kali diblokir. Tentu saja tim Touou jauh lebih kuat dari tahun-tahun sebelumnya, meskipun begitu, Seirin mampu bertahan agar tidak digempur habis-habisan pada sesi sepuluh menit pertama. Kuroko tidak diijinkan mengikuti sesi kedua.
Pengejaran bola, kegesitan merebut dan memasukkan ke dalam ranjang, pertahanan untuk melindungi ring. Kagami menahan nafas ketika Aomine melakukan dunk. Bibirnya mengatup, menelan air liur ketika melihat Aomine menyeringai padanya.
'Aomine... kau lebih pantas mendapatkan rekomendasi NBA daripada aku. Kau hebat seperti biasanya. Tidak... bahkan jauh lebih hebat dari sejak aku berpisah denganmu.'
"Apa yang kau lihat? Apa kau segitu terkesimanya padaku?"
Kagami mengerjap, perlu beberapa detik sebelum dia berteriak menyangkal perkataan lawannya. Wajahnya yang memerah tidak menyembunyikan fakta. Mempergunakan kesempatan itu, Aomine menepis bola dari Kagami.
"Ah! Sial!" Kagami buru-buru mengejarnya sebelum dia kembali mencetak angka. Dia melompat tinggi, mengangkat tangan untuk menghalangi masuknya bola ke ranjang. Aomine melempar bola ke samping, berputar lalu melempar lurus ke atas tepat di saat Kagami mendarat. Tim Seirin kembali tersusul 10 angka. Pertandingan sesi kedua berakhir.
"Dia masih seperti dulu." Kuroko memberikan minuman dingin pada Kagami.
"Tidak, jauh berubah..." Kagami menimpali.
Kuroko memandang Aomine dari kejauhan. Remaja itu tampaknya tidak menunjukkan sesuatu yang canggung. Beberapa saat dia mengawasi tidak tanduk Aomine, tampaknya lawannya menyadari. Aomine mengangkat tangan, memberikan ibu jari terbalik ke arahnya.
"Apa-apaan dia?" Kagami melotot pada kelakuan Aomine.
"Sepertinya baginya pertandingan ini seperti mainan, mungkin. Bagaimana pun ingatannya belum pulih sepenuhnya." Kuroko bergumam sambil mengusap keringat dengan ujung seragam Seirin.
Mengawasi Aomine yang kini adu mulut dengan kaptennya, dia berdetak. Tidak ada yang berubah dari sikapnya. Mengembalikan ingatan kekasihnya seperti suatu hal yang mustahil. Tanpa sadar jantung Kagami berdetak cepat. "Hei Kuroko... apa yang harus kulakukan bila dia tidak juga ingat."
"Jika benar begitu kita harus mencari cara lain." Kuroko mengangkat kepalan tangannnya, menunggu Kagami yang tidak juga membalas.
"Kagami, kau baik-baik saja?"
Kuroko dan Kagami mengerling pada Furihata.
"Aku... seperti biasanya."
Furihata menatapnya dalam diam. Kuroko melempar pandangan tidak percaya. Furihata tidak akan bertanya apabila dia bersikap seperti biasa. Tidak ada yang luput dari penglihatan kapten mereka. Kagami menunduk. Dia menghirup nafas dalam-dalam.
"Baiklah, biarkan aku lebih berkonsentrasi pada sesi selanjutnya. Berikan bolanya padaku." Dia menampar kedua pipinya, berusaha untuk bangun dari kenyataan pahit. Tidak ada yang bisa dilakukan apabila dia berandai-andai. Dia mempertemukan kepalan tangannya dengan Kuroko yang mengangguk puas.
Furihata tersenyum dan mengangguk. "Lakukan seperti biasa dengan tenang. Semuanya akan baik-baik saja."
Semangat tim kembali tersulut. Kuroko bersiap untuk turun kembali ke lapangan untuk membalas ketinggalan angka. Kagami memasuki zone pada sesi ketiga. Hal tersebut cukup membuat Aomine terkejut dengan kecepatan Kagami dalam menangani bola. Kagami melakukan Meteor Jam pertama kalinya di tengah sesi ketiga. Mata biru Aomine membesar menatap bola orange tersebut memantul kasar dan menabrak perbatasan lapangan.
'Pemandangan ini sepeti pernah kulihat dari jauh... Apa aku sudah gila?' Dia tersenyum pada dirinya sendiri, menggeleng kepala. Terlalu gembira bahwa lawannya dapat mengimbangi bahkan melebihi dirinya, seringai lebar Aomine menghiasi bibirnya.
"Bagus sekali, Kagami. Kau membuatku jadi lebih bersemangat."
"Sudah seharusnya." Kagami melebarkan lengan, berkonsentrasi penuh pada sedikit pun pergerakan Aomine.
Mata biru Aomine bersinar, dia menangkap operan bola yang dilakukan Sakurai, men-dribble dua kali sebelum menembus pertahanan Kagami. Lawannya mengejar, dengan mudah menyeimbangi pergerakan Aomine, berputar, berkelit dan menepis bola dari posesinya. Aomine berdecih, ini sudah lebih dari tiga kali Kagami merebut bolanya. Remaja bernomor punggung sepuluh itu berancang untuk menembakkan bola tepat pada ring.
"Kagami-kun!" Kuroko berteriak melihat Aomine melompat dengan tangan kanan terangkat tinggi, jelas terlihat bahwa dia akan dengan mudah menangkis masuknya bola ke ranjang. Kagami mengoper bola pada Furihata. Furihata buru-buru menyelamatkan mereka dari hilangnya kesempatan untuk mencetak angka. Melemparkan bola ke arah Kuroko, Seirin kembali mengejar ketinggalan angka menggunakan Phantom Shoot sang bayangan. Para penonton pun bersorak.
Aomine menatap telapak tangannya. Jelas bahwa dia baru saja mencoba untuk menangkis bola. Di saat dia yakin bola itu mencapai telapak tangannya, sesaat bola tersebut tampak melewati tangannya. Sekelebat ingatan muncul dalam benaknya. Aomine memegangi kepalanya yang berdenyut.
Tim Touou mengambil time out.
"Apa dia baik-baik saja?" Kagami bergumam cemas.
Kise Ryouta, berpegangan pada pembatas balkon, memperhatikan gerak-gerik Aomine. Dia mengeluarkan suara desahan, alisnya tertekuk mengawasi jalannya pertandingan.
"Aominecchi, apa kau tidak juga mengingat sesuatu? Phantom Shoot itu juga salah satu trik yang Kuroko dapatkan di tengah tutormu."
"Duduklah, Kise. Kau membuat pandangan beberapa orang terhalang." Midorima memerintahkan sambil menekan pertengahan kacamatanya pada pangkal hidung.
"Tapi... Apa kau tidak khawatir, Midorimacchi?"
"Yang bisa mereka lakukan hanyalah menggiring berbagai macam trik yang dapat memancing munculnya kembali ingatan Aomine."
Kise kembali mengamati Aomine lekat-lekat. "Lakukanlah sesuatu, Kagamicchi, Kurokocchi."
"Sepertinya perlu dorongan sedikit lagi untuknya." Akashi menyeringai puas.
"Akashicchi! Benarkah begitu?" Kise tidak berusaha untuk menahan antusiasnya.
"Kita hanya perlu menunggu hasil, Ryota." Mata merahnya menatap tajam sosok Aomine.
"Dai-chan? Apa yang kau rasakan?" Satsuki mengulurkan botol minumnya dengan cemas.
"Hei, Satsuki... apa benar aku pernah bertanding dengan mereka dulu?" Aomine menatap ke arah Kagami dan Kuroko. Matanya tajam mengawasi. "Rasanya aneh sekali, Phantom Shoot itu seperti pernah kutembus sebelumnya."
Mata Satsuki membulat, botol minum dan handuk yang dipegangnya terjatuh ke lantai. Dia mengatupkan mulutnya.
"Dai-chan. Coba kau ingat lagi! Apalagi yang kau ingat?"
Aomine berpikir sejenak. Raut kekecewaan Satsuki tidak disembunyikan ketika Aomine menggeleng.
"Bermainlah seperti biasa. Kurasa kau akan ingat apabila kau bermain lebih lama lagi dengan mereka!" Sakurai menyemangati.
Ace Touou itu tidak menanggapi. Dia berjalan menuju lapangan sebelum berhenti, melihat ke samping pada Satsuki. "Sebenarnya seberapa penting Kagami bagiku sebelum aku melupakannya?"
Satsuki tidak diijinkan menjawab, waktu time out sudah berakhir.
Skor Touou unggul enam angka saat Aomine kembali ke lapangan. Waktu Seirin tidak banyak. Kedua Ace saling bertarung sengit, kecepatan dan kegesitan yang sulit diikuti oleh masing-masing rekan kedua belah pihak.
Aomine menahan nafas ketika Kagami berlari kencang, merentangkan tangan untuk menghadangnya mencetak angka. Mata biru Aomine menangkap pandangan tajam Kagami yang familiar.
"Hah? Berbincang dengan Kagami? Untuk apa aku harus berbincang dengan Kagami?" Aomine mengernyit pada Kuroko.
Kuroko menunduk, tangannya menggenggam erat gelas karton milkshake y ang hampir habis. "Aku ingin kalian bisa lebih leluasa berbicara. Kudengar dari Kagami kau bahkan menolak untuk bertanding one-one-one dengannya."
Aomine menggaruk kepalanya, mulutnya mengerucut sementara otaknya berpikir kemungkinan untuk menolak halus permintaan Kuroko.
"Aku tahu Kagami-kun mungkin membuatmu repot belakangan ini. Dia hanya ingin agar Aomine-kun bisa mengingat sedikit hal yang terlupakan. Kau ingat bukan, apa yang kukatakan padamu sehari sebelum kau keluar dari rumah sakit?" Kuroko tersenyum, mendongak untuk menatap langsung Aomine.
"Iya... kau bilang bahwa orang yang hilang dari ingatanku itu ada sangkut pautnya dengan kau dan Kagami."
Kuroko mengangguk. "Sampai sekarang, dia sudah seperti saudara. Bagiku rasanya tidak mungkin membiarkannya terlupakan begitu saja." Kuroko terkekeh. Tidak ada nada menyalahkan dalam perkataanya, Aomine tahu dia berusaha untuk membuat ingatannya pulih.
"Sebenarnya siapa Kagami itu? Apa yang kulupakan darinya, kau dan Satsuki seperti ingin membuatku ingat tentangnya. Aku punya perasaan bahwa orang yang selama ini kutunggu adalah dia, karena ciri rambut merahnya. Tapi setelah bertemu dengannya, seperti dia sangat berbeda dari bayanganku. Dia tidak sekuat yang kutahu, setidaknya itulah yang kuingat."
Hening sejenak, Aomine angkat bicara.
"Aku... tidak peduli bagaimana keras aku berusaha mengingatnya, namun aku bahkan tidak punya secercah ingatan pun mengenai pria berambut merah itu. Foto yang kau perlihatkan padaku rasanya ada yang salah."
Aomine melempar pandangan ke depan, menatap air mancur yang kini menyala, berdansa sambil mengeluarkan music sesuai dengan jam yang ditentukan. Anak-anak yang sedang bermain di taman itu berlarian menghampiri air mancur itu, tersenyum dan tertawa, beberapa menari mengikuti aliran musik.
"Mungkin tidak ada salahnya bila kau mencoba untuk mendekatkan diri padanya." Kuroko akhirnya menjawab.
"Kau ini bicara apa? Apa kau tidak tahu bahwa dia sering sekali ke sekolahku semenjak dia mengajakku bertanding one-on-one? Rasanya sulit dipercaya bahwa dia adalah orang yang kau maksud, Tetsuya!"
Kuroko menatap Aomine dengan pandang datar, mengatup mulutnya lalu mendengus tawa yang tidak dapat lagi dibendung.
Pembicaraan hari itu berlanjut dengan datangnya Kagami ke taman, menunjukkan surat masuk sekolah Seirin.
Aomine melihat ke belakang saat Kagami berlari menghampiri ring. Kakinya bergerak cepat sesaat setelah dia berhasil menggiring bola yang telah direbutnya dari Aomine.
Aomine melompat bersamaan saat Kagami melompat. Keduanya berteriak meraih ring basket. Melihat Kagami yang lama mengudara, mata Aomine membesar. Dia pernah melihat ini sebelumnya. Kagami yang semakin tinggi seperti memiliki sayap pada punggungnya. Kagami yang memasukkan bola ke ring.
'Siapa kau, Kagami? Apa yang kau minta dariku sebenarnya? Kenapa kau bisa begitu tinggi meraih ring basket sementara aku di sini puas melihat lehermu yang jenjang? Perasaan puas yang tampaknya pernah kurasakan bahwa aku selalu ingin bertemu lawan yang kuat. Benarkah kau pernah mengalahkanku dulu?'
Sekelebat memori menyeruak masuk ke dalam ingatannya. Aomine mendarat ke lantai, kehilangan keseimbangan dan jatuh. Penonton takjub akan kekuatan tim Seirin yang tidak goyah dari tahun-tahun sebelumnya. Aomine mengerjap, memegang kepalanya yang pusing. Kagami mendarat dan mengulurkan tangannya, meraih lengan Aomine.
"Aomine! Kau baik-baik saja?"
Aomine membuka matanya. Mata merah Kagami yang diselimuti cemas tertuju padanya. 'Aah... wajah itu lagi... Terlalu terang.' Aomine mendorong Kagami, menarik nafas tertahan dan berkata. "Kau bersinar terang, Bakagami…"
Kagami yang mendengar perkataannya membelalak. Dia hampir terpeleset saat melangkah mundur. Sebutan yang menyebalkan itu…
Aomine menatapnya tersenyum, diingatnya bahwa lawan yang selama ini dicari sudah muncul di hadapannya sejak berbulan-bulan lalu. Dia ingat akan wajah bodoh yang terperanggah memandangnya penuh harap. Seperti anjing yang kehilangan majikan, Kagami sudah mengejarnya untuk kembali mengingat setiap detik kebersamaan mereka baik dalam hal lawan atau pun kawan. Memang Kagami yang bertarung di tengah lapangan itu berbeda dari yang selama ini dilihatnya. Dalam ingatannya yang terang benderang adalah Kagami yang tengah bertanding. Sosoknya yang terpukul akibat kondisi Aomine itulah yang membuat cahayanya redup. Akhirnya yang menyebabkan terangnya cahaya itu adalah dirinya yang melupakan Kagami.
Aomine terkekeh melihat wajah Kagami yang menahan girang dan tangis.
"A-" Kagami tidak dapat meneruskan perkataannya saat Aomine menekan wajahnya dengan tangan. Terkesiap, Kagami mundur beberapa langkah.
"Selesaikan pertandingan dulu, Bakagami." Aomine mengambil bola dan men-dribblenya dengan cepat, melesat melewati beberapa tim Seirin. Kagami mengejarnya dengan senyum lebar.
Kuroko yang menyadari kebahagiaan yang terpancar pada wajah Kagami ikut tersenyum terkembang di wajahnya. Beberapa rekan yang menyadari senyum ketiganya mendelik keheranan. 'Kedua cahayaku ini, benar-benar...'
Kagami menahan air mata bahagia, menangkap bola yang berhasil direbut oleh Kuroko.
'Aomine, memenangkan hatimu sungguh sulit baik dari awal sampai akhir… Jauh lebih sulit dibanding meraih piala Winter Cup.'
Cengiran lebar Satsuki terkembang di wajahnya, dia mengusap airmatanya, terisak senang. Di balkon, Generation of Miracles tersenyum mengawasi. Akashi menyeringai puas, membalikkan badan.
"Kalian bisa bermain sepuas kalian sekarang." Dia meremas susunan pertandingan, tinggal menunggu hasil. Siapa pun yang maju, dia tidak akan kalah.
Sekali lagi, perebutan piala Winter Cup tahun ini dilaksanakan dengan meriah dan penuh pertarungan sengit. Diwarnai dengan kekelaman, keputusasaan, kesulitan memilih untuk dan menapak ke depan. Usaha yang harus diraih dengan penuh kesulitan pun berubah menjadi kemenangan yang gemilang.
Basketball SMU memang penuh dengan berbagai warna.
End
