Title: Your Happiness Is My Priority
Disclaimer: Kuroko No Basuke milik Fujimaki Tadatoshi. Tapi cerita ini milik saya yang entah dapet ide dari petir mana. Jangan lupa para OC juga punya saya.
Summary: jika aku di tanya apa yang paling berharga bagiku. Mungkin aku akan menjawab 'kebahagiaan orang yang ku sayangi'. Naïve bukan? –chapter 2– "Luka ini harus di beri betadine dan ditutup dengan hansaplast." / Maaf aku sedikit terlambat."/"Tumben ada yang mengganggu pikiranmu Sei."
Warning: Akashi x OC/ BL (di chapter mendatang)/ Typo berterbangan/ GAJE/ EYDhampir nihil/ merusak mata, otak, jiwa dan lain sebagainya/ OC/ OOC/ keluarga yang di ubah-ubah oleh Author alur suka-suka Author/ Author yang baru keluar dari RSJ/ dan masih segedung lagi yang perlu di ingatkan tapi sekarang Author bingung mau nulis warning apa lagi. *plaaaak* Mungkin di chapter mendatang akan ada warning baru.
A/N: Kembali lagi dengan saya, Author Gak Guna. Terima kasih sudah mesuk ke dalam ff ini. Mudah-mudahan cerita ini memuaskan para Reader. dan maaf Updatenya lama. minggu ini banyak halangan untuk membuat FF abal ini, sekali lagi maaf. dan maaf tadi ada kesalahan teknis
Don't like it don't read it. If you still want to read. Have a nice reading.
Chapter 2: I trust you. But I don't trust people around you.
Pelajaran Mat, pelajaran yang biasanya tidak di sukai oleh murd-murid. Tapi bagiku ini pelajaran yang menyangkan. Alasannya adalah karena hukum matematika itu pasti.
Hei, itu kenyataan. Dari pada biologi? Apa-apaan tuh di satu buku 'pada usus halus ada enzim tripsin berguna untuk mengubah protein menjadi asam amino' tapi di buku lain 'protein menjadi pepton baru menjadi asam amino.' Dan tergantung gurunya yang bener yang mana. Dasar tidak pasti! Ngapain coba ada pelajaran yang tidak pasti!? Lagi pula kenapa kita harus peduliin enzim-enzim itu?
Oke, kenapa tiba-tiba aku OOC dan curhat ya?
"Baiklah, untuk 2 jam pelajaran ini kalian belajar berkelompok. Kalian akan mengambil undian di kotak ini. Kecuali Akashi, Tomoko, Midorima, Momoe dan Yasuhiro. " Kata Haru-sensei, guru matematika sekaligus guru termuda satu sekolah.
Satu persatu murid mengambil undian, kecuali yang tadi di panggil oleh Haru-sensei. Anak-anak yang namanya si panggil berdiri di samping Haru-sensei. Setelah semua mendapatkan undian mereka berkumpul di kelompoknya dan menarik meja membuat segi-6. Kelompok yang ada di kelas itu sebanyak 5 kelompok dan masing-masing mempunyai 5 anggota.
"Nah, sekarang saya akan memasukan 5 orang ini ke dalam kelompok."
"Ano sensei. Memangnya kenapa mereka ber-5 tidak boleh mengambil undian? Dan kenapa ini segi 6 padahal Cuma ada 5 orang satu kelompok?" tanya Hiko, anak popular di sekolah karena kecakepannya. Dengan rambut yang sedikit gondrong bewarna coklat, postur tubuh yang idealis, dan ramah. Dari data yang kudapatkan nilai pelajaran standard, nilai olahraga tinggi, tapi ceroboh.
"Karena mereka akan mengajari kalian untuk 2 jam ini. Aku mempercayai mereka karena nilai mereka di atas rata-rata. Aku berharap mereka bisa membantu anak-anak bermasalah." Haru-sensei tiba-tiba melempar kapur kearah Aomine yang tertidur di mejanya. "AKU BICARA TENTANGMU AOMINE."
Aomine hanya bangun dan celingak celinguk, "hah? Ada apa?" ingatkan aku untuk berpura-pura tak mengenal Aomine. Satu kelas akhirnya menertawai Aomine, aku terbawa arus dan ikut tertawa.
"Cukup! Nah sekarang Tomoko kau ke kelompok 1, Akashi kau ke kelompok 2, Yasuhiro kau di kelompok 3, Momoe di kelompok 4, dan Midorima di kelompok 5." Kata Haru-sensei memerintah kami untuk menuju kelompok masing-masing.
Kelompok pertama terdiri dari Aika, Misaki, Akemi, Etsuko, dan Yuriko. Hahhh… kenapa aku harus sekelompok dengan cewek-cewek centil ini? Hanya info mereka juga salah satu anak popular.
Sunguh aku bingung, kenapa di sebuah sekolah pasti ada sekelompok atau lebihorang yang selalu ingin diperhatikan? Selalu merendahkan orang lain padahal mereka tidak lebih baik dari orang yang mereka rendahkan. Nilai yang standard ke bawah. Lalu untuk apa mereka sekolah? Emangnya sekolah itu tempat nyari jodoh atau nongkrong-nongkrong? Oke aku sering lebih memilih teman dari pada pelajaran. Tapi aku masih mengimbanginya sedangkan mereka?
Dan lebih bodohnya kelompok seperti itu akan di namakan 'kelompok popular'. Hanya karena kecantikan, ketampanan, kecentilan, kedudukan, dan uang. Sungguh aku bingung. Jika mereka mempunyai kedudukan atau uang maka seharusnya mereka tidak akan meremehkanku dan Onii-chan. Atau mungkin mereka memang bodoh, entahlah.
"Sensei! Kami tidak mau yang mengajari kami Tomoko." Kata Akemi. Baguslah, aku juga tidak mau ngajarin yang tidak mau belajar kok.
"Jadi kalian mau di ajari siapa?" tanyanya pada kelompok yang tak berguna itu.
"Sei~juu~rou~" aku bergidik saat mereka memanggil nama Sei seperti itu. Oke aku mengerti, mereka mau PDKT sama Sei. Heh, berani juga~
"Baiklah." Kata Sei pasrah. PASRAH? Di OOC sekali- "Tapi jangan salahkan aku jika kalian menangis." Atau tidak.
"Tomo-chan, kau mengajar di kelompok 2 ya." Kata Haru-Sensei. Aku sudah terbiasa seperti itu oleh Haru-sensei. Bukan karena dia Pedophile dan melakukan tidakkan asusila di toilet. Oke aku kebanyakan baca berita dari Negara kepulauan yang bernama Indonesia. Aku sudah terbiasa karena Haru-sensei adalah anak salah satu butler di rumah utama.
Dulu aku dan Onii-chan sering bermain dengan dia. Dan karena dia juga aku sekolah di Teiko. Tapi tak ada yang tau rahasia ini selain aku dan Onii-chan. Dan iya, Sei tidak tau tentang ini.
Kelompok dua ya? Kalau tak salah anggotanya Onii-chan, Aomine, Hiko, Murasakibara, dan Kise.
"Yo Tomo, nanti aku contek kerjaanmu ya." Aku langsung memukul kepala Aomine.
"Aku beruntung di ajar Tom-chin~"
"Aku jadi bersemangat di ajar Tomoko-cchi. Habis aku takut sama Akashi-cchi"
"Mohon kerjasamanya Tomoko-chan."
"Mohon bimbingannya Ko-chan~" oke, sejak kapan aku di panggil seperti itu?
"Ya, mohon kerjasamanya semua." Aku hanya duduk di antara Onii-chan dan Hiko.
Haru-sensei memberi kami soal-soal seperti triple Pythagoras, aritmatika, geometri, bagun ruang, peluang, dan lain sebagainya. Aku mengajari mereka jika mereka membutuhkannya serta mengecek cara, jalan dan hasilnya per-nomer. Tapi beda urusan dengan Aomine karena aku harus lebih memperhatikannya dari yang lain.
Sebenarnya tidak ada kesulitan untuk mengajari mereka. Ya, kecuali Aomine yang otaknya agak lambat, setidaknya dia berusaha. Aku terus menyuruhnya mengulang soal-soal yang dia tidak bisa. Tapi lihat dia sekarang. Dia sudah bisa mengerjakan 55% soal, kemajuan yang sangat besar.
Semuanya sibuk dengan tugas yang diberikan, sedangkan aku sudah selesai dari tadi. Karena bosan aku membuka buku SMA yang berisi Logaritma, Sine, Cosine, Tangent, dan lain sebagainya. Dan aku mencuri-curi pandang ke arah kelompok satu.
Bukan karena aku tidak percaya Sei atau apa, aku hanya tak suka dengan cewek-cewek centil itu yang menggoda Sei dari tadi. Urrrrggghhh, rasanya aku ingin melempar Cutter atau Jangka, penggaris besi juga boleh. Dan aku melihat Etsuko merapatkan kursinya dengan Sei yang menjelaskan salah satu soal.
Aku langsung berbalik kearah buku dan menggengam erat pensil cetek di tanganku. Fokus Tomoko! Kau tahu Sei tidak akan terbawa godaan, Fokus! Saat aku menengok lagi aku melihat Yuriko memeluk lengan Sei dan bersandar di bahu tegapnya.
*prrraaakkk*
"Uwaaaa Tomoko-cchi! Tanganmu berdarah! Kenapa kau mematahkan pensil cetekmu?" tanya Kise yang sangat panik melihat darah terus bercucuran.
"Ah, maaf. Aku tak sadar meremasnya terlalu keras." Kataku kepada Kise.
"Luka ini harus di beri betadine dan ditutup dengan hansaplast." Tiba-tiba Hiko memutar kursiku ke samping, berjongkok, dan mengenggam tanganku serta mengobati dengan betadine dan hansaplast dari kotak P3K kecil entah kapan kotak itu keluar dari tasnya. "Selesai."
"Terima kasih. Lagi pula itu hanya luka kecil, harusnya aku saja yang menanganinya." Kataku sedikit membungkuk walaupun masih duduk.
"Sama-sama Ko-chan. Tapi sekecil apapun luka itu harus di urus, soalnya kau perempuan." katanya dengan senyum. "Ngomong-ngomong bisakah kau mengajari aku aritmatika dan geometri? Aku tidak begitu mengerti." Katanya sambil menunjuk beberapa soal. Dan duduk merapat ke arahku.
"Baiklah jadi rumus untuk aritmatika adalah un = a + (n - 1)*b." kataku menjelaskan.
"Un adalah angka pada suku ke-. N adalah suku ke-. A adalah angka pertama dan b adalah beda kedua angka?" aku hanya mengangguk. Ternyata dia lumayan pintar.
"Sedangkan rumus Geometri adalah un = a * rn-1." Aku menulis kedua rumus di kertasnya.
"Sama seperti aritmatika bukan? Tapi b menjadi r."
"Ternyata kau cukup mengerti aritmatika dan geometri. Lalu kenapa kau bertanya?"
"Habis aku sering tak teliti, aku suka ketukar antara aritmatika dan geometri."
Akupun memberitahu cara mudah untuk membedakannya. Dan kami lumayan lama berbincang-bincang walaupun sering terpotong karena yang lain bertanya beberapa soal kepadaku. Aku merasa nyaman berbicara dengan Hiko, ternyata ada 1 atau 2 orang dari kelompok popular yang sebenarnya baik, dan menarik.
*kriiing*
Inilah bel yang paling disukai semua anak, bel istirahat. Begitu pula aku, akukan masih lumayan normal, lumanyan.
Setelah memberi salam kepada Haru-sensei semua murid berhamburan keluar kelas. Karena malas desak-desakan untuk keluar kelas, aku memilih untuk keluar terakhir. Setelah antrian keluar kelas berkurang aku mengambil bekal dan menyusul teman-temanku di atap.
Aku biasa makan bersama anggota klub basketku. Sebenarnya aku punya beberapa teman yang bukan anggota klub. Tetapi aku tidak pernah makan bersama mereka, alasannya karena tidak ada Onii-chan. Aku harus selalu mengawasinya takutnya penyakitnya kambuh dan tidak ada yang bisa menolongnya. Ya, aku Brother complex.
Aku membuka pintu atap. "Maaf aku sedikit terlambat." Dan aku menemukan 4 mahluk warna-warni
"Tidak apa-apa Tomo-chan. Ki-chan, Dai-chan, dan Mu-kun juga masih di kantin kok." Kata Momoi-chan yang sedang membuka bekalnya.
Aku duduk di antara Sei dan Onii-chan. "Oiya Midorima-kun." Aku memberikan
boneka putih kepadanya. "Itu untukmu, tadi lucky itemmu pecah dan aku baru ingat jika aku dapat hadiah boneka kelinci saat main ke game center."
"Te-terima kasih nandayo. Aku bukan senang atau apa karena mendapat lucky item ini." Midorima hanya membuang mukanya yang memerah.
Dan setelah itu terjadi keheningan panjang di situ. Hanya ada bunyi kunyahan sampai pintu atap terbuka, tepatnya di banting oleh Aomine. "YO!"
"Mine-chin, *Kraus* berhentilah membuat *Kraus* keberisikan!"
"Murasakibara-cchi, jangan makan sambil berbicara. Serpihannya muncrat dan mengenaiku."
Sekarang atap menjadi sangat berisik karena mereka. Setidaknya ini lebih baik dari pada sunyi senyap. "Murasakibara-kun, ini hadiahmu karena latihan serius tadi pagi. Kau akan mendapatkan lebih jika berlatih serius nanti." Kataku memberikan 5 maibu kearah Titan ungu itu. Jika perbandingan tinggiku dan tingginya dia adalah Titan.
"Oi Tomo."
"Ada apa Aomine-kun?" Tanyaku berbalik ke sumber suara.
"Catch!" aku menangkap sesuatu dari pemuda berkulit Tan itu. Dan itu adalah sekotak susu Vanilla. Aku hanya memasang wajah bingung ke arahnya. "Itu hadiah karena telah mengajariku tadi. Arigato." Katanya sambil mengaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Arigato ne Aomine-kun. Tapi kenapa susu? Setahuku susu di kantin itu lumayan mahal dan cepat habis. Seharusnya kau tak harus sesusah payah itu memberikanku ucapan terima kasih." Kataku sambil memakan bekal yang ku buat.
"Supaya kau cepat tinggi. Katanya minum susu yang banyak itu meninggikan badan. Dan juga untuk perempuan membesarkan buah dad- UWWWAAAAA!" di saat itu juga 3 guning melesat. Satu tertancap di tembok belakang Aomine, satu memangkas sedikit rambutnya, dan satu lagi tertancap di depannya.
"Aomine-kun hentai!" kataku menutup bukit kembarku dengan kedua lengan.
"Jika kau masih menyinggung itu lagi, masa depanmu(baca: kemaluan laki-laki) akan hilang." Kata Akashi mengenggam 8 gunting.
"Menjauh dari adikku AhoMinEro." Onii-chan memberikan tatapan sedingin kutub selatan.
"Kau bodoh dan mesum, Nadoyao." Midorima menaikan kacamatanya.
"Mine-chin~ jika kau menggoda Tomo-chin aku akan menghancurkanmu." Murasakibara hanya menatap malas aomine.
"Dai-chan menjijikan." Momoi menatap jijik Aomine.
"Dasar Aominero-cchi. Kau tak pernah belajar dari kesalahanmu-ssu. Dan jangan dekati Tomoko-cchi." Kise hanya metatap Aomine jijik sepeti Momoi.
"Hei, coba bayangkan saja Tomo punya dada yang lebih besar. Aku jaminkalian semua akan menjadi mesum dan jatuh hati!" katanya membela diri.
Tiba-tiba keheningan menyelimuti mereka beberapa saat. Mungkin mereka membayangkannya. Dan semua mukanya memerah kecuali Kuroko, Momoi, Akashi, dan tentunya aku. Sebenarnya Sei hanya menendukan kepalanya dan…
*Ctak* *Ctak* *Ctak*
"UWAAAAAAAA!" Aomine berlari menghindari gunting-gunting Sei.
"Latihanmu kugandakan 20 kali lipat." Kata Sei kepada Aomine yang ketakutan.
"Dan Tomoko. Setelah kau selesai makan ikut aku ke GYM." Katanya sampai berdiri dan berjalan kearah pintu.
Aku membuka pintu GYM dan aku mendapatkan Sei sedang memasukan bola ke dalam ring.
"Sepertinya kau banyak pikiran Sei. Lihat, shootmu tidak masuk dengan sempurna." Kataku mengomentari shootnya.
"Seperti yang kau lihat. Aku banyak pikiran Tomoko."
"Tumben ada yang mengganggu pikiranmu Sei."
"Kau mau tau apa yang mengganggu pikiranku?" Tanyanya dan berbalik ke arahku.
"Yang mengganggu pikiranku adalah kedekatanmu dengan anak laki-laki. Rasanya aku ingin membunuh satu-satu orang yang menyentuhmu, terutama Daiki." Sei memelukku dan membendamkan kepalanya du pundakku. "Ku itu milikku dan hanya untukku. Tidak ada yang boleh menyentuhmu."
"Aku memang milikmu Sei. Dan Sei lucu waktu cemburu." Aku memeluk balik Sei.
"Hei! Aku sedang serius." Katanya cemberut. Sei, semakin kau seperti itu semakin pula kau lucu. Rasanya aku ingin memelukmu bagaikan teddy bear. "Ngomong-ngomong hari sabtu ini kau ada acara?"
Sabtu ya? Em… "Tidak ada Sei."
"Kalau begitu jam 7.30 pagi aku akan menjemputmu." Katanya santai
"Emangnya kita mau ke mana Sei?"
"Kencan. Dan aku tidak menerima tolakkan." Katanya sambil tersenyum.
"Kau belum menjawabnya. Akan ku ulang pertanyaannya. Kemana Sei?" tanyaku penasaran.
"Seuatu tempat yang kau akan suka Tomoko."
"Aku suka teka-teki. Tapi sekarang aku jadi sedikit membencinya." Aku hanya mendumal.
"Apa yang kau dumalkan Tomoko?"
"Seperti katamu. Rahasia." Kataku cemberut.
"Dan seperti katamu. Saat kau cemberut kau imut. Rasanya aku ingin menciummu." Tiba-tiba Sei melepaskan pelukannya dan memegang daguku dan mendekatiku.
Ugyaaa! Ini sangat memalukan! Aku menutup kedua mataku saat aku merasakan nafasnya di wajahku. Uwaaaaaaa! Mukaku pasti merah.
*cup*
"Hei, aku ingin mencium bibirmu. Bukan tanganmu." Kata Sei setelah melepaskan ciumannya. Ya, aku menutup bibirku sebelum Sei dapat menciumnya.
"Habis, aku pikir ini terlalu cepat. Lagi pula ini memalukan." Kataku dengan muka yang sangat merah.
"Baiklah aku akan menunggu saat kau sudah siap untuk kucium bibirnya." Sei, kau sungguh gentel. Taoi bukan artinya aku makin mencintaimu atau bagaimana. Tapi aku memang semakin mencintainya. Ugyaaa aku bingung sama diriku sendiri!
Intinya, aku tak sabar menunggu hari Sabtu. Aku akan menunggu kejutan apa yang menantiku.
To Be Continue
A/N: huwaaa ini sangat memalukan. Ini pasti aneh! Pasti! Dan satu lagi, kenapa mereka selalu bermesraan di GYM ya? (kok lu malah nanya sih thor?)
Terima kasih sudah membaca FF super Abal ini. Terutama kepada: Kinto Kin, rachmanir, Kitami Misaki, Silvia-KI chan, Juvia Hanaka, Aoi Yukari, Kumada Cihyu, Rin, Jo, dan semua silent Reader. Sungguh Terima kasih!
Akhir kata silahkan berkomentar, atau memaki-maki saya, atau juga boleh memflame saya di kotak review. Kritik dan saran sangat di perlukan. Terima kasih.
Sign,
ChizuGawa
