Title: Your Happiness Is My Priority

Disclaimer: Kuroko No Basuke milik Fujimaki Tadatoshi. Dufan milik PT Jaya Ancol. Tapi cerita ini milik saya yang entah dapet ide dari petir mana. Jangan lupa para OC juga punya saya.

Summary: jika aku di tanya apa yang paling berharga bagiku. Mungkin aku akan menjawab 'kebahagiaan orang yang ku sayangi'. Naïve bukan? –chapter 3– ""Aku pinjam Adikmu Tetsuya." / "Sei, apakah ini normal?"./ "Lalu kenapa kau mau jadi pacar orang pendek?"

Warning: Akashi x OC/ BL (di chapter mendatang)/ Typo berterbangan/ GAJE/ EYDhampir nihil/ merusak mata, otak, jiwa dan lain sebagainya/ OC/ OOC(terutama Akashi)/ keluarga yang di ubah-ubah oleh Author alur suka-suka Author/ Author yang baru keluar dari RSJ/ Dufan tiba-tiba ada di Jepang/ dan masih segedung lagi yang perlu di ingatkan tapi sekarang Author bingung mau nulis warning apa lagi. *plaaaak* Mungkin di chapter mendatang akan ada warning baru.

Rated: T+ (maaf naik karena otak bejad saya)

A/N: Kembali lagi dengan saya, Author Gak Guna. Terima kasih sudah masuk ke dalam ff ini. Dan maaf kali ini telat update karena tiap kali nulis ini saya mau ngelempar laprop saya jauh-jauh. Alasannya karena cerita ini sebenarnya 40% RL saya. Oke saya banyak bacot lagi.

Don't like it don't read it. If you still want to read. Have a nice reading.


Chapter 3: Happiness before Sadness


Hari yang ku tunggu-tunggu akhirnya datang. Ya walaupun setiap hari aku bersama Sei tapi kami jarang kencan. Entah karena Sei sibuk untuk ambil bagian dari perusahaan Akashi, aku harus mengecek kesehatan Onii-chan, tugas OSIS, dan lain sebagainya. Maka dari itu hari ini aku sangat senang. Dan juga Sei berjanji kencan ini akan normal tidak seperti yang lalu-lalu.

Hanya informasi saja ini adalah kencan ke 5 ku setelah berpacaran. Dan 4 sebelumnya sangatlah abnormal.

Kencan pertamaku adalah pergi ke Buckingham palace dan menginap di sana. Saat balik ke Jepang aku memarahi Sei karena itu terlalu berlebihan. Coba bayangkan, tiba-tiba kau masuk ke dalam mobil dan tertidur. Saat bangun kau sudah di pesawat pribadi milik Sei. Dan di sana kau di layani bagaikan keluarga kerajaan dan bertemu Ratu Elizabeth. Dan Sei masih berkata itu normal. Sungguh aku tak mengerti jalan pikiran OOCnya.

Kencan ke duanya adalah menonton film. Mungkin ini sepintas terlihat normal. Tetapi sebenarnya tidak. Kenapa? Alasanya adalah. Kami menonton langsung pembuatan film di Hollywood. Ku ulangi, SAAT PEMBUATAN FILM. Aku hanya bisa pasrah saat itu.

Kencan yang ke tiga tidak kalah absurd. Sei membawaku untuk menonton NBA di Amerika. Walaupun itu absurd Sei sangat senang saat menonton pertandingan. Mungkin perjalan yang sangat lama di pesawat terbayar dengan ekspresi Sei. Dan aku tidak menyangka dia mengidolakan Micheal Jordan. Saking mengidolakannya dia mendatangi rumah Micheal Jordan dan meminta tanda tangan. Awalnya dia ingin Micheal Jordan menjadi Coach Teiko, untung aku menolak idenya mentah-mentah.

Dan kencan yang empat adalah melihat bintang jatuh. Sunguh aku senang melihatnya, Tetapi Sei meminjam laboratorium NASA. Sungguh Absurd dan OOC bukan?

Karena pernah berpengalaman seperti itu aku meminta Sei untuk membuat kencan yang normal.

"Tomoko-chan, Akashi-kun sudah menunggumu." Onii-chan berteriak dari bawah tangga.

"Sebentar Onii-chan." Aku masih siap-siap di kamarku dan mengecek perlengkapan yang sudah tertulis di kertas. Baju? Oke. Rambut? Oke. Sepatu? Oke. Tas dan isinya? Oke. Make-up? Ok- tunggu, aku tidak suka memakai make-up. Siapa sih yang nulis catatan ini? Aku membalik catatan yang berada di meja riasku dan menemukan nama yang tidak asing bagiku. Tulisan itu berbunyi 'Kuroko Tetsuya.' Dan 'PS: aku hanya merekomendasikan.' Dan aku hanya bisa tersenyum kecil. Baik, semua oke.

Aku turun dan menuju ruang tamu. Di sana aku bertemu Onii-chan dan Sei sedang ngobrol. "Aku sudah siap Sei, ngomong-ngomong perlukah aku membawa bekal?"

Sei berbalik untuk menghadapku dan terdiam. "Terserah." Kaatanya sambil berbalik menghadap Onii-chan. Akhirnya aku memutuskan untuk membawa bekal (yang sebenarnya dari tadi sudah ku siapkan sih…). "Ayo Sei, aku sudah siap." Kataku kepadanya yang masih berbincang-bincang dengan Onii-chan.

Diapun berdiri dan menggenggam tanganku. "Aku pinjam Adikmu Tetsuya."

"Silahkan tetapi jangan lupa di kembalikan dengan keadaan selamat. Dan jangan menghilangkan keperawa-"

"ONII-CHAN! JANGAN MELANJUTKANNYA!" aku mengancam Onii-chan dengan Cutter. Sungguh ini memalukan, dan kenapa Onii-chan tiba-tiba berpikir seperti itu!? Siapa yang mengotori otak polosnya!? Ah, pasti dia yang mengotorinya. Tunggu saja Aomine, saat aku bertemu denganmu aku akan membunuhmu.

-Di tempat Aomine-

*HUACCHII*

"Idih! Dai-chan jorok!" Momoi yang sedang berkunjung ke rumah Aomine, tepatnya sedang bermain PS2 menghindari Aomine secara spontan.

"Pasti ada yang membicarakanku. Gini-gini ternyata aku punya fans." Katanya pede. Iya Ahomine, fansmu itu cutter melayang.

-Balik ke Tomoko-

"Akan ku pastikan dia masih perawa-" kata Sei dengan muka datar itu kupotong.

"SEI! YAMETE!" teriakku dengan muka memerah. Sei tertawa kecil dan berpamitan dengan Onii-chan serta berjalan ke gerbang depan.

Aku berjalan di samping Sei dan masuk ke dalam mobilnya yang bermerk X5 itu. Setelah sampai di mobil yang parkir persis di depan gerbang rumahku. Aku duduk di samping Sei.

"Jalan." Katanya memerintah supirnya dan mobilpun berjalan.

"Kita mau ke mana Sei?" tanyaku kepada pemuda berambut scarlet itu. Dia memakai kaos putih dengan jaket hitam. Dipadukan dengan celana ¾ serta sepatu kets.

"Rahasia Tomoko." Kata Sei dengan senyum khasnya. "dan kau hari ini berbeda ya. Jarang-jarang aku melihat kau memakai rok, selain rok sekolah tentunya." Memang kata-katanya benar. Aku selalu memakai celana saat berpergian. Tapi kali ini aku memakai gaun terusan selutut berwana putih.

Gaun itu simple, hanya ada satu pita di pinggang. Ku padukan dengan sepatu flat berwarna hitam. Rambutku ku kuncir setengah. Dan aku membawa tas selempang. Sebenarnya aku tidak akan seperti ini jika Onii-chan tidak iseng. Onii-chan menyembunyikan semua baju, sepatu dan tas, sehingga aku hanya bisa memakai yang ia pilihkan.

"Terima kasih Sei. Dan Sei juga terlihat lebih tampan hari ini." Kataku sambil tersenyum polos kearahnya.

"Aku jadi ragu untuk menepati janjiku kepada Tetsuya." Dumalnya.

"Apa Sei berkata sesuatu?"

"Iie, Nandamonai." Katanya bertompang dagu sambil memperhatikanku.

"Ne Sei, ini benar-benar kencan normalkan?" tanyaku memastikan.

"iya, ini kencan normal." Katanya sedikit sebal. "Mungkin."

"Apanya yang mungkin Seijuurou?" Aku mulai merasa ragu.

"Lihat saja nanti Tomoko. Aku ingin membuatmu penasaran." Katanya sambil menyeringai.


Kencan di taman hiburan itu normal. Tapi tidak bisa di katakana normal lagi jika pacarmu menyewa satu taman hiburan berserta petugasnya selama satu hari hanya untuk berdua bukan? Dan itu yang di lakukan Sei di kencannya ke-5 bersamaku.

"Sei, apakah ini normal?" tanyaku menahan amarah.

"Bukannya kencan di taman hiburan itu normal? Aku tidak menyewa artis, atau pergi ke luar negri maupun menyewa laboratorium." Katanya polos.

Sungguh OOC sekali. "Ini belum bisa di katakana normal Sei. Di kencan selanjutnnya tolong lebih normal." Aku sunguh tak bisa marah kepada laki-laki depanku dan aku merasa sangat HINA.

"Hah… Karena kau menyewa satu tempat ini mari kita bersenang-senang Sei." Aku menarik Sei ke wahana yang berbentuk perahu. Cara kerja wahana itu adalah di ayun-ayunkan hingga sangat tinggi. Wahana ini di sebut Kora-kora. Sebenarnya ini menyenangkan juga karena kami tidak perlu mengantri. Padahal di hari libur tempat ini akan sangat ramai dan mengantri berjam-jam. Mungkin Sei sudah memikirkan ini sebelumnya.

Aku duduk paling belakang bersama Sei. Permainan ini tak begitu horror, oke aku ralat tidak horror di awal. Saat di pertengahan ayunan makin cepat dan tinggi dan itu membuatku merasa jatuh dari ketinggian. Setelah wahan berhenti aku mengajak Sei untuk bermain ayunan yang di putar-putar. Bisa di sebut nama permainan ini adalah Ontang-Anting.

Permainan ini sungguh menyenangkan apa lagi di hari yang panas seperti sekarang. Aku menikmati wahana ini karena sangat sejuk. Mungkin bagi orang-orang yang sering pusing atau takut ketinggian ini permainan yang menyeramkan tapi bagiku ini permainan yang paling kusukai.

Tiba-tiba kesenanganku diganggu oleh suara Baritone milik Sei yang berasal dari ayunan di depanku. "Tomoko, jika kau memakai gaun seperti itu tidak usah memakai celana legging pendek lagi." Eh? Kok dia tahu? Aku melihat kearah rokku. Ternyata rokku berkibar dengan indahnya hingga memperlihatkan celana leggingku.

"Andai kau melepasnya. Aku bisa melihat paha mulusmu itu." Sei berkata dengan nada kecewa.

"SEI WA HENTAI!" aku refleks menutup rokku dengan wajah semerah darah. Sungguh, kenapa semua orang hari ini mesum?

Setelah permainan selesai aku sedikit menjauh dari Sei. Aku berjalan ke wahana Roller Coaster. Aku duduk di bangku depan bersama Sei, ya walaupun aku menjauh mau bagaimana lagi inikan kencan dan pengunjungnya hanya kami berdua.

Wahanapun berjalan menaiki rel dan turun dengan kecepatan tinggi. Aku sedikit berteriak sedangkan Sei hanya bertampang datar. Sungguh aku ingin menghancurkan ekspresi itu dengan cutter.

Saat permainan hampir selesai Sei berbicara sesuatu yang membuatku bingung. "Tomoko, bolehkah kau melepaskannya?"

"Apa yang di lepaskan Sei?" tanyaku kepadanya.

"Leganku Tomoko. Kau memeluknya sangat erat." Dan benar saja aku memeluk lengan Sei.

"Ah! Maaf." Kataku sambil melepaskan lengannya dan beranjak dari kereta yang berhenti.

[15.00pm]

"Tomoko, lebih baik kita istirahat sejenak." Sei sudah seperti mayat hidup. Ya salahku juga sih. Aku bermain hampir semua permainan dan lupa untuk makan siang. Ya permainannya memang extreme seperti Tornado, Nia Gara-Gara (kami memakai jas hujan sehingga tidak basah), Hysteria, dll.

Aku duduk di salah satu bangku taman dan membuka bekal yang ku buat. Bekalnya lumayan sederhana isinya adalah sandwich kecil, hamburger, sosis berbentuk gurita, telur gulung, salad dan nasi. Tak lupa aku membawa sup tofu. Sei terlihat senang saat aku mengeluarkan sup tofu dari termos, dia imut seperti anak kecil.

"Itadakimasu." Katanya sambil melahap makanan yang ku buat. Kami makan dengan keheningan. Setelah selesai makan kami sepakat menaiki wahana yang santai. Kamipun pergi ke rumah boneka. Di sana aku lebih bisa di katakana ngadem(?) dari pada bermain. Kerena hening aku membuka topik tentang perkembangan kemampuan para anggota. Memang sih tidak romantic tapi jika aku tidak membuka topik maka kami akan semakin canggung.

Wahana santai lainnya adalah rumah miring, rumah kaca dan poci-poci. Saat bermain di rumah kaca kami sama sekali tidak kesasar. Sungguh permainan itu mudah sekali untuk di tebak. Ikuti saja alurnya dan pilih jalan yang aneh atau kecil maka kalian akan menemukan pintu keluar.

"Ne Sei, main Komedi putar yuuk!" kataku menarik tanggan Sei menuju Komedi putar.

"Baiklah. Tapi kenapa kau ingin menaikinya? Bukannya kau sering menungani Kuda? Apakah Yukimura dan Umeko tidak cukup?" sungguh Sei, kau ingin membeli kuda lagi?

"Sei aku hanya ingin tahu rasanya menaiki komedi putar." Kami sampai di wahana tersebut. Aku menunggangi kuda berwarna Coklat seperti Umeko sedangkan Sei menunggangi kuda berwarna putih seperti Yukimura. "Dulu aku ingin bermain sepuasnya di taman hiburan. Mengingat Onii-chan tidak di ijinkan untuk bermain yang extreme aku tak pernah pergi ke taman hiburan." Aku berkata lirih mengingat masa lalu.

*flash back*

"Otou-sama, Okaa-sama. Bolehkah kita ke Taman hiburan? Aku belum pernah ke sana." Saat itu aku berumur 10 tahun di saat musim panas.

"Tidak, Tetsuya tidak boleh bermain permainan seperti itu." Okaa-sama sedikit membentakku. "Lagi pula kau harus belajar tata karma, ikebana, minum teh dan piano." Okaa-sama berbalik kearah Onii-chan. "Sayang, kau mau liburan ke mana?"

"Aku ingin ke kebun binatang." Onii-chan menatap Okaa-sama dengan mata bulatnya itu. "Tetapi Tomoko-chan harus ikut juga." Katanya.

Okaa-sama dan Otou-sama memang tidak pernah mempedulikanku. Mereka hanya melihatku sebagai benda yang dapat di gunakan untuk memperkaya diri, mengharumkan nama keluarga, pelampiasan masa kecil mereka, dan lain-lain. Aku sunguh seperti benda. Tetapi karena Onii-chan aku mendapatkan kasih dan perhatian. Dia sunguh cahayaku, tujuan aku masih hidup.

*end of flash back*

Aku hanya tersenyum mengingat masa lalu yang pahit dan manis itu. Sampai Sei menyadarkanku. "Hei, kau senyum-senyum sendiri sunguh menakutkan."

"Hak-hakku untuk tersenyum Sei." Kataku dengan cemberut.

"Aku baru sadar. Saat aku menunggangi kuda aku seperti pangeran dan kau putri yang akan ku selamatkan." Sei berkata seperti anak TK yang baru pertama kali bermain komedi putar

"Sunguh aku tak ingin menjadi putri. Dan peran itu sama sekali tidak cocok untukku. Aku ingin menjadi kesatria sehingga aku bisa melindungi orang yang kusayangi, terutama pangeranku. Dan seorang pangeran juga akan melindungi kesatrianya, ya walaupun sedikit sih." Kataku tersenyum kearah Sei. "Menjadi pangeran boleh juga sih~"

"Tidak ada pangeran sependek kamu."

"Kata seseorang yang pendek."

"Lalu kenapa kau mau jadi pacar orang pendek?"

"k-ka-kar-karena aku me-me-mencintainya bodoh." Kataku membuang muka. Dia hanya tertawa melihat kelakuanku. Setelah wahana berhenti Sei mengajakku untuk bermain arum jeram.

"Jangan lupa memasang sabuk pengaman dan selamat menikmati wahana." Kata petugas tersebut. Permainanpun di mulai. aku memasang sabuk pengaman dan menikmati permainan sampai.

"Tomoko, aku tidak bisa memasang sabuk pengaman ini." Sungguh Sei? Kau bodoh atau apa sampai tidak bisa memasang sabuk? OOC SEKALI KAU! EH THOR! LU BIKIN PACAR GW HINA! (author: m-ma-ma-maaf! #lari sambil nangis)

Dengan terburu-burupun aku memasangkan sabuk pengaman Sei. Ternyata benar, sabuk pengaman ini susah sekali untuk di pasang. Dengan susah payah aku memasangkannya. Aku terlalu serius untuk memasangkan sabuk tersebut sampai Sei menyadarkanku, LAGI.

"Tomoko, aku tahu kau sangat fokus pada sabuknya. Tapi, jangan mengenai 'juniorku' berkali-kali. Apa kau mau menggodaku?" Eh? Apa maksudnya? Dan aku baru sadar bahwa dari tadi aku mengenai 'junior' Sei berkali-kali(faktor ketidak sengajaan). Dan aku menjerit keras. Sunguh pengalaman yang memalukan…


"Tomoko, jika kau seperti itu terus misi 'main semua permainan' tidak akan terlaksana loh." Aku sedang mendiam diri di kamar ganti perempuan walaupun aku sama sekali tidak mengganti baju sih… Aku di sana mendinginkan kepala dari kejadian di arum jeram. Mungkin aku sudah di sana 1 jam lebih.

Aku bertekatd bulat untuk keluar. Dengan nada lirih dan malu aku berkata, "Tolong lupakan kejadian tadi Sei."

"Ya, aku akan lupakan." Kata Sei mengandengku. "Mari kita main permainan terakhir lalu pulang. Mengingat sekarang sudah jam 7.00, karena lama menunggu seseorang mengurung diri dalam kamar ganti."

"Berhenti menyindirku Sei." Kami tiba di wahana terakhir, lebih tepatnya Bianglala. Kami masuk ke dalam kabin dan permainan di mulai.

Sunguh atmosphere di situ sangat canggung. Dan kabin berhenti persisi di tempat teratas.

"Ini kenapa berhenti? Mati lampukah?" Tanyaku pada Sei yang masih duduk santai.

"Bukan, aku menyuruhnya untuk di berhentikan 20 menit." Jadi ini semua kerjaanmu Sei!?

"Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu. Maka dari itu aku memberhentikan ini."

"Apa yang ingin kau bicarakan?" Bagus diriku. Karena kata-katamu ini membuat tambah hening.

"Mungkin ini terlalu cepat, tapi. Maukah kamu menikah denganku?" Sei berbicara dengan berbinar-binar. Dan kami menikah, mempunyai anak dan hidup bahagia.

Tidak mungkinkan seorang Akashi Seijuurou tiba-tiba berkata seperti itu. Itu hanya Khayalanku, sungguh itu hanya khayalanku.

"Jadi, apa yang kau ingin katakana Sei?" tanyaku lagi seblum aku berkhayal yang aneh-aneh.

"Tomoko, bolehkah aku menciummu?" sungguh ini aneh. Otakku serasa tak bisa berpikir sama sekali. Aku sebenarnya ingin tapi juga tidak. Aku hanya mengangguk dengan muka yang memerah.

Aku menutup mataku dan berharap waktu bergulir lebih cepat. Dan sebuah kecupan mendarat. Di dahiku. "Eh? Kenapa di dahi?"

"Kau ingin lebih?" tanya Sei dengan sedukatif.

Huwaaa memalukan… Tapi sebenarnya aku ingin lebih sih. "S-" Sei meletakan jari di bibirku.

"Aku tau kau menginginkannya Tomoko." Dan kali ini dia benar-benar mendekati bibirku. Huwaaaa apa yang harus ku lakukan? Sei mengacungkan jempol ke samping dan-

*Duaaaaaaarrr* *cup*

Kecupan singkat mendarat di bibirku tepat saat kembang api di luncurkan. Aku tak pernah membayang bahwa ciuman pertamaku akan seperti ini. Aku pikir itu akan lebih sederhana atau apalah. Tapi sunguh ini sangat romantis.

"Tomoko aku tahu ini terlalu cepat dan ini bukan lamaran tapi. Maukah kau selalu di sisiku hingga aku bisa membahagiakanmu, tepatnya menikahimu?" Sei bertumpu satu kaki. Aku hanya speechless karena gembira.

"Iya Sei, Aku bersedia. Tapi sebelum itu aku ingin mencapai cita-citaku dulu."

"Apapun yang kau mau sayang." Sei memelukku. Aku sungguh gembira walaupun sebenarnya ini bukan lamaran atau pertunangan maupun pernikahan. Wahanapun kembali bergerak dan kami turun dari kabin.

"OMEDATO!" kami di sambut oleh Kisedai+Onii-cahan dan Momoi. Ternyata Sei sudah merencanakan ini semua dari awal.

Aomine dan Momoi hanya tersenyum lebar. Midorima memberikanku Boneka Rilakuma. Onii-chan tersenyum Tulus. Kise memelukku dan langsung melepaskannya saat Sei mengeluarkan aura 'mati kau'. Sedangkan Murasakibara memberikanku kue dengan boneka kue berbentuk aku dan Sei bergandengan tangan di atas kue itu.

"Ne Tomo-chin aku lapar. Makan yuuk!"

"Aku juga lapar Tomo, ayo keluarkan Pajak tunanganmu!"

"AKU BELUM TUNANGAN AHOMINE!" Aku berteriak kepada pemuda Tan itu.

"Akashi-kun? Bagaimana rasa ciuman dengan Tomo-chan?" goda Momoi.

"Manis."

"Semanis maibukah?"

"Lebih manis dari itu Atsushi."

"Aku ingin mencobanya~" Murasakibara mendekatiku dan hampir menyiumku sebelum-

"tidak Ada Maibu jika kau melakukan aksimu Atsushi. Tomoko itu milikku." Akashi mengintimidasinya.

"Ternyata Akashi-cchi yandere tingkat tinggi-ssu." Dan kise dihadiahi gunting melayang. Poor you.

"Kau menepati janjimukan Akashi-kun?" Onii-chan mengeluarkan aura menyeramkan dari sekitar tubuhnya. Sei hanya menyeriangi

Kami keluar dari taman bermain dan menuju Maji Burger. Sungguh hari ini sangat indah. Sebelum semua kesenangan berakhir…

"Kau akan menjadi milikku suatu hari nanti." Sosok misterius itu berbisik-bisik.

"Ada yang kau katakan?" tanyaku pada orang itu.

"Tidak ada apa-apa."

To Be Countinue.


A/N: saya makin bingung sama cerita ini. Maaf jika ceritanya makin aneh dan jelek. Yak, watak Otou-sama dan Okaa-sama mulai terungkap dan sosok yang menginginkan Tomoko juga makin terlihat. Dan terlebih cerita ini makin Gaje.

Dan sesuai kata Tomoko di chapter selanjutnya terjadilah banyak konflik dan mungkin gendrenya akan ditambah menjadi hurt. Maaf jika baru memberi tahu sekarang. Maaf kalo saya banyak bacot dan ceritanya juga banyak bacot. Oiya di bawah ada Omake loh~

Terima kasih untuk: Kinto Kin, AyumuIshikawa, Kitami Misaki, Silvia-KI chan, Juvia Hanaka, Aoi Yukari, Kumada Cihyu, Rin, Jo, , sakazuki123, kuroiyazoi dan semua silent Reader. Sungguh Terima kasih! Maaf jika ceritanya tambah ancur dan Author tambah stress. Terutama Update yang selalu telat.


Omake:

Saat perjalanan ke Maji burger kami menaiki mobil Akashi. Mobil di bagi menjadi dua sehingga muat. Aku satu mobil dengan Onii-chan, Momoi dan tentunya Sei.

"Hari ini menyenangkan ya Sei." Aku memecahkan keheningan di mobil tersebut. Tetapi Sei sama sekali tidak menjawabnya. "Sei?" aku menengok kearah Sei dan mendapatinya tertidur pulas. Aku hanya terkikik kecil.

Aku akhirnya menghilangkan kebosananku dengan memperhatikan jalanan. Karena aku duduk di belakang dan di tengah aku bisa melihat pemandangan dengan indah. Tak lama kemudian.

*pluk*

Aku mendapati Sei tertidur di pundakku. Aku hanya terdiam karena tidak ingin membuat heboh satu mobil. Semua tentram sampai Onii-chan yang duduk di depanku menengok ke belakang.

"Ne Tomo- maaf mengganggu." Onii-chan berbalik lagi. Sial, pasti ketahuan. Dan benar saja.

"Apa yang mengganggu Tetsu-kun?" Momoi melihat ke arahku dan langsung speechless dan ingin berfangirling. "KAWAIIII!" Momoi langsung memfotokoku. Aku hanya bisa terdiam saat di foto, aku tak ingin membangunkan Sei. Dan usahaku gagal, Sei terbangun. Dia melihat Momoi dan kembali tertidur. Sungguh ini memalukan… aku ingin mati saja!

End of Omake.


A/N: maaf banyak A/N. omakenya sungguh absrudkan? Dan Rin, Jo. Jangan fangirling. Aku tidak suka Onii-sama! Hanya Akashi yang ada di hatiku. Sekian!

Mohon tinggalkan Review. Isinya boleh unek-unek, boleh kritik, boleh saran, boleh flame, pokoknya apapun itu saya terima! (kl anda flame saya sebenarnya lumayan senang. Gak usah pusing-pusing nyari ide #dirajam satu kampung) intinya Kritik dan saran di butuhkan.

Sign,

ChizuGawa