Title: Your Happiness Is My Priority

Disclaimer: Kuroko No Basuke milik Fujimaki Tadatoshi. Dufan milik PT Jaya Ancol. Tapi cerita ini milik saya yang entah dapet ide dari petir mana. Jangan lupa para OC juga punya saya.

Summary: jika aku di tanya apa yang paling berharga bagiku. Mungkin aku akan menjawab 'kebahagiaan orang yang ku sayangi'. Naïve bukan? –chapter 4– Jangan banyak protes, berbicara saja dengan orang itu."

/ "Kau masih menyeramkan Tomoko."/ "FOUL!"

Warning: Akashi x OC/ BL (di chapter mendatang)/ Typo berterbangan/ GAJE/ EYDhampir nihil/ merusak mata, otak, jiwa dan lain sebagainya/ OC/ OOC(terutama Akashi)/ keluarga yang di ubah-ubah oleh Author alur suka-suka Author/ Author yang baru keluar dari RSJ/ Dufan tiba-tiba ada di Jepang/ dan masih segedung lagi yang perlu di ingatkan tapi sekarang Author bingung mau nulis warning apa lagi. *plaaaak* Mungkin di chapter mendatang akan ada warning baru.

Rated: T

P/N (Plot Note): ff ini masalah perpecahan club itu mulai di kelas 3 bukan kelas 2.

A/N: ya sangat telat Update. Seblumnya saya minta maaf karena cerita ini kebanyakn mengambil dari cerita asli karena saya buru-buru dan kehabisan Ide. Jadi kalau ceritanya jelek tolong maafkan saya. Lalu nama chapter sama cerita jauh beda. Dan di sini tidak ada Romance.

Don't like it don't read it. If you still want to read. Have a nice reading.


Chapter 4: This is My Choice


Saat ada kesenangan pasti ada kesedihan. Itulah kehidupan, siang dan malam, hidup dan mati, awalan dan akhiran.

Sebenarnya ada hal yang bisa membuat manusia terlepas dari suatu akhiran. Caranya adalah jangan pernah ada awalan. Memusingkan bukan? Tapi pilihan ada di tangan orang yang menjalankan kehidupan.


Pertandingan Nationals akan di mulai. awal dari badai yang akan melanda persahabatan kami.

"Ne, Dai-chan ke mana? Apa dia bolos?" Momoi memasuki ruangan GYM.

"Sepertinya begitu-ssu, aku sama sekali tidak melihatnya." Kise hanay mengenggam bola yang tadinya ia akan masukan ke dalam ring. "Padahal sebentar lahi Nationals akan di mulai-ssu."

"Onii-chan? Ada apa?" aku mengamati Onii-chan yang hanya murung di pinggir lapangan. Belakang ini semua berubah, sikap dan perilaku.

"Tidak ada apa-apa Tomoko-chan." Aku tahu itu bohong tapi aku tak ingin mengungkit-ungkit masalah ini dahulu.


Aku pulang bersama Onii-chan seperti biasa. Tapi Onii-chan terlihat murung. Aku bertekad untuk membangkitkan semangat Onii-chan.

"Onii-chan, bolehkah kita duduk di taman itu sebentar?" aku menunjuk taman yang memiliki kursi panjang. Setelah duduk aku menekan sederet nomer di handphoneku dan menyerahkanya pada Onii-chan. "Jangan banyak protes, berbicara saja dengan orang itu. Itu mungkin akan menenangkanmu lagi pula dia mungkin punya saran."

Onii-chan mengambil handphoneku dan mendekatkannya pada telinganya. Setelah selang waktu yang tidak begitu lama terdengar suara dari sebrang sana.

[Halo? Ada apa Tomoko?]

"Halo Ogiwara-kun? Ini Tetsuya. Apakah kamu ada waktu senggang?"

[Ah! Ternyata Tetsuya toh. Aku sedang senggang? Ada apa?]

"Aku ingin berbicara." Onii-chan pun menceritakan masalah Aomine dan tim basket kami. Aku akui tim kami lebih bermain sendiri-sendiri. Aku juga tidak menyukainya karena bagiku basket itu tentang kerja sama tim. Sekuat-kuatnya seseorang dia pasti akan bergantung kepada orang lain.

Selesai pembicaraan Onii-chan dengan Ogiwara Onii-chan memberikan handphoneku yang masih tersambung. Aku mendekatkan telingaku dengan handphone. "Terima kasih Ogiwara-kun. Kau telah membangkitkan semangat Onii-chan lagi."

[Bukankah itu wajar Tomoko? Ngomong-ngomong aku akan menutup telphonenya ja-na. sampai ketemu di pertandingan, aku tak akan main-main.]

"Begitu pula kami Ogiwara-kun. Ja-na." aku memutus sambungan telephone. "Ayo pulang Onii-chan. Aku tahu kau bisa mengembalikan Aomine seperti dulu."

"Hem. Arigatou Tomoko-chan." Onii-chan tersenyum dan menggenggam tanganku.

"Douita Onii-chan~" kami berjalan pulang.


Keesokannya Aomine ikut latihan. Setelah latihan neraka dari Shirogane-sensei, ya walaupun itu tidak neraka juga sih. Anggota 1st string pulang.

"Aomine-kun. Maukah kau pergi beli pop slice bersama?" Onii-chan memberanikan diri

"Ayo Tetsu. Hari ini panas aku ikut!" aku tersenyum karena rencana Onii-chan berhasil. Kami bertiga pergi membeli pop slice dan berjalan pulang. "Aomine-kun, kenapa kau jarang latihan?" Onii-chan membuka pembicaraan.

"Karena semakin aku bermain basket semakin aku berpikir basket itu membosankan. Mungkin yang bisa mengalahkanku hanya ak- *PLUK* *BYUUUUURRRR* UWAAAAAAAA! APA-APAAN KALIAN!?" Onii-chan memasukan pop slice ke dalam baju Aomine sedangkan aku menguyur Aomine dengan the dingin yang tadi ku beli. Sebenernya aku sayang dengan minumanku tapi mau bagaimana lagi kata-katanya menyebalkan.

"Jika aku menjadi lawanmu aku ingin kau memakai kekuaran penuh untuk bertarung Aomine-kun. Suatu saat kau akan menemukan lawan yang setara." Onii-chan berkata dengan datarnya.

"Kau pikir kau siapa Ahomine-kun? Semua orang itu punya kelebihan sendiri! Jika kau ingin berkata seperti itu jadi Tuhan dulu! Setidaknya kalahkan Michael Jordan dalam one on one." Aku berwajah tidak senang.

Aomine tersenyum kearah kami. "Kalian membangkitkan semangatku. Tapi, tidak usah membuatku basah kuyup dan kedinginan karena pop slice. KALIAN INI!" Kami berlari menghindar kejaran Aomine. Ini sunguh menyenangkan.


Latihan terjadi seperti biasa hingga. "AKU TIDAK MAU LATIHAN LAGI! LATIHAN MEMBOSANKAN!" Murasakibara bertengkar dengan Sei.

"Ayo one-on-one." Sei akhirnya by one dengan Murasakibara dan dia memenangkannya. Aku merasa ada yang lain dengan Sei. Cara dia mendribble, memasukan bola ke ring, gerakannya, dan semuanya berbeda. Aura di sekitarnyapun berubah menjadi lebih dingin. Sei berjalan ke luar GYM dan aku mengejarnya.

"Sei, ada apa?" Sei berhenti. "Kau terlihat berbeda hari ini. Kau seperti bukan Akashi Seijuurou yang biasanya."

"Apa yang kau bicarakan Tomoko? Aku adalah Akashi Seijuurou." Sei berbalik badan dan menampakan kedua matanya yang berubah berbeda warna.

"Sei?" setelah hari itu Sei berubah. Kadang sangat gentle dan kadang sangat sadis. sekarang aku mengerti. Sei mempunyai dua keperibadian. Sebenarnya aku sedikit takut tapi, Sei adalah Sei. Dia masih orang yang kucintai.


Nationals di mulai. Setelah upacara pembukaan anggota Teiko pergi ke ruang ganti. "Ah! Aku ketinggalan lemon honey di tempat pembukaan. Aku akan mengambilnya." Aku keluar dari ruang ganti dan berlari ke tempat upacara. Setelah menemukan dan mengambil lemon honey aku kembali ke ruang ganti.

Hah… semua sudah berubah. Mereka berlomba-lomba mendapatkan skor tanpa kerjasama. Onii-chan pasti merasa down… Sei, kenapa kau berubah di saat seperti ini?

*bruk*

Karena terlalu memikirkan tim basket aku menabrak seseorang sampai kami berdua jatuh. "Ah! Maaf! Anda tidak apa-apa?" Aku menahan malu dan berdiri.

"Wah, Tomoko yang pernah bercita-cita menjadi pembunuh bayaran. Dan mempunyai organisasi hitam supaya menemukan jantung yang cocok untuk kakaknya bisa bengong saat berjalan lalu meminta maaf menahan malu." Tunggu, suara ini bukankah ini milik- aku benar-benar memfokuskan untuk melihat wajah orang yang ku tabrak. Benar saja orang itu adalah Ogiwara.

"Ogiwara-kun hisashiburi. Maaf aku telah menabrakmu. Dan cita-cita untuk mencari jantung yang cocok itu masih." Kataku tersenyum.

"Kau masih menyeramkan Tomoko. Padahal luarmu itu sudah seperti anak perempuan biasa. Rambut yang kau mulai panjangi, celana leggingmu itu sudah tidak tabrakan dengan rokmu, dan kau tersenyum cerah. Ternyata pisikis itu lebih susah diubah ya." Seperti biasa Ogiwara masih orang yang ceria.

"Memang lebih susah pisikis Ogiwara-kun. Ah! Tunggu." Aku mengambil sapu tangan dan mengelap unjung bibirnya yang masih belepotan saus. "Kelakuanmu juga belum berubah walaupun kau tambah tinggi dan kekar. Hahaha."

"Jika kau berkata seperti itu nanti pacarmu cemburu loh."

"Mungkin saja. Ngomong-ngomong kau tau dari mana aku sudah punya pacar?"

"Tetsuya memberitahuku. Jadi pacarmu itu seperti apa?"

"Jika fisik, dia mempunyai rambut berwarna merah, tingginya ± 158. Secara pisikis dia tipe Yandere."

"Wah Yandere meet TsunYanKuudere."

"Nama macam apa itu Ogiwara-kun?"

"Macam-macam."

Kami berbincang-bincang lumayan lama. Lagi-lagi aku tidak menyadari aku diperhatikan seseorang.


Sekarang semi-final interhigh. Kami melawan Kamata West. Seperti biasa Teiko memimpin pertandingan. Semua berjalan dengan lancar sampai.

*BRUUUK* *PIIIP*

"FOUL!" wasti menunjuk salah satu pemain Kamata West yang melukai Onii-chan sampai jatuh.

"ONII-CHAN!" Aku teriak histeris dari bench. Aku langsung berlari kearah Onii-chan. Darah segar mengalir dari bagian kepala Onii-chan. Semua terasa hitam dengan refleks aku mengambil cutter dalam saku rokku dan meluncurkanya kearah pemain yang tadi melukai kakak. Luncuran itu akan mulus mengenai jantung pemain tersebut jika Sei tidak menangkapnya.

Sei menjatuhkan cutterku dan memelukku yang sedang emosi. "LEPASKAN AKU SEI! LEPASKAN! DIA HARUS MEMBAYAR INI SEMUA! NYAWA DAN JANTUNGNYA BAYARAN YANG SEPANTAS PERBUATANNYA!" Aku berontak dalam pelukan Sei. Tapi Sei semakin erat memelukku.

"Tomoko, tenanglah. Jika kau melakukan itu akan menjadi skandal. Jika itu terjadi kita tidak bisa menenangkan Nationals demi Shirogane-sensei dan demi Tetsuya. Kami akan membalas perbuatannya dank au hanya perlu tenang." Akupun berusaha menenangkan diri. Apa yang di katakana Sei benar.

"Aku sudah tenang Sei. Kau boleh melepaskanku." Sei melonggarkan pelukannya. Paramedis mengotong Onii-chan ke ruang kesehatan. "Sei! Menangkan pertandingan ini. Jika kau kalah aku tak akan pernah memaafkanmu." Aku mengambil cutterku kembali dan me-death glare pemain tadi sebelum aku mengikuti Onii-chan keruang perawat.

(-_-)

Aku duduk di samping Onii-chan. walaupun perawat berkata Onii-chan tidak apa-apa aku tetap khawatir. Pertandingan Teiko dengan Kamata sudah berakhir. Walaupun skornya dua kali lipat aku rasa itu belum cukup untuk membalas perbuatannya pada Onii-chan.

"Ugh… Aku di mana?"

"Ah! Onii-chan kau sudah bangun. Kau tidak apa-apa? Ada yang sakit? Pusingkah? Haruskah aku membunuh orang tadi?" Tanyaku dan tak lama Sei masuk ke dalam kamar.

"Tetsuya bagaimana keadaanmu?"

"Aku baik-baik saja Akashi-kun. Dan Tomoko-chan kau tak perlu khawatir, aku baik-baik saja." Onii-chan mengelus kepalaku. "Bagaimana pertandinganya Akashi-kun?"

"Kami menang melawan Kamata. Dan akan bertanfing dengan Meikou di final." Seijuurou berkata datar.

"Meiko?" aku bertanya bersamaan dengan Onii-chan.

"Iya, Meiko. Ada apa?" Tanya Akashi.

"Begini Akashi-kun. Aku mempunyai teman di Meiko dan aku memiliki Janjin dengannya." Onii-chan bercerita tentang Ogiwara dan janji mereka.

"Jadi, tolong bertanding dengan Meikou dengan Serius Akashi-kun." Onii-chan memohon karena dia tidak diijinkan bermain.

"Baiklah, aku mengerti. Aku akan tunjukan kekuatan Teiko kepadanya. Tomoko, tolong temani Tetsuya." Sei berjalan membuka pintu.

"Tanpa kau minta aku akan melaksanakannya Sei." Sei pergi dari ruangan. Dan tak lama kemudian Onii-chan tidur kembali.


Onii-chan bangun lagi dari tidurnya. "Apakah pertandingan sudah selesai?" itulah kata pertama yang keluar dari mulut Onii-chan.

"Seharusnya sekarang quarter ke-4 sudah muali." Onii-chan langsung berlari kea rah tv terdekat. Dan aku mengikutinya.

Walaupun Teiko sangat bersemangat untuk pertandingan ini ada sesuatu yang janggal. Onii-chan berlari lagi ke lapangan. Dan akupun mengejarnya.

Saat kami memasuki lapangan pertandingan selesai dengan skor 111-11. Dengan kata-kata kise, "mission complete dengan skor yang mirip." Aku tambah mempercayai bahwa Sei bermain-main dengan pertandinga ini.

Aku melihat Ogiwara dengan wajah yang tak bisa kujelaskan ekspresinya. Onii-chan yang menangis dan Akashi yang berjalan seperti tidak peduli. Ini sungguh menyakitkan.

Setelah pertandingan dan kami beranjak pulang aku sedikit menjauh dari Akashi-kun. Di tengah perjalanan setelah keluar dari gedung aku melihat kartu milik orang bernama 'Hyuuga Junpei'. "Onii-chan, Aku akan mengembalikan kartu ini. Kamu duluan saja."

"Aku ikut. Momoi-san, aku dan Tomoko akan mengembalikan kartu milik orang lain. Bilang ke lain jika pergi saja dahulu." Momoi mengangguk dan pergi ke kumpulan tim Teiko. Sedangkan kami kembali ke gedung.

Kami melihat pertandingan Seirin melawan Kirisaki Daichi. Aku terpana oleh kerja sama tim yang sangat bagus. Mereka seperti menutupi kelemahan diri sendiri dengan kebersamaan. Dan satu hal lagi yang aku lihat. Onii-chan sangat terpana oleh pertandingan tersebut.


Onii-chan mengundurkan diri dari tim basket. Begitu pula aku. Dan hari yang kuhindari akhirnya datang. Hari dimana kami harus memilih sekolah dan cita-cita.

Setelah mendapatkan kertas yang di bagikan aku hanya bisa memandaginya dengan tatapan kosong. "Ne, Onii-chan. kau ingin ke sekolah mana?"

"Aku ingin ke Seirin." Onii-chan berkata singkat. Tak lama kemudian bel pulang berbunyi. Kami membereskan semua barang-barang. Tiba-tiba Akashi-kun datang menghampiriku.

"Tomoko, aku ingin bicara." Aku hanya mengangguk dan menyuruh Onii-chan untuk pulang duluan.

Setelah semua keluar aku bertanya "Ada apa Sei?" tanyaku masih duduk pada

"SMA mana yang kau pilih?" dia bertanya dengan dingin.

"Aku belum tahu Sei."

"Masuklah ke Rakuzan."

"Apa maksudmu Sei?"

"Aku ingin kau masuk Rakuzan Kuroko Tomoko."

"Maaf Sei aku belum tahu akan masuk mana Sei. Aku akan pkir-pikir lagi." Ya, hubunganku dengan Sei sedikit merenggang setelah pertandingan Nationalis.


Setelah aku berbicara dengan Sei aku tetap di dalam kelas merenungi kertas di depanku. Jika aku memilih Seirin maka aku akan berpisah dengan Sei dan mengingkar janjiku untuk bersama denganya. Sedangkan jika akau masuk Rakuzan aku berpisah dengan Onii-chan dan tidak bisa menemaninya seperti janjiku pada diriku sendiri.

"Jika kau terus merenungi itu kau akan punya keriput sebelum umurmu Tomo-chan." Suara Haru-Sensei.

"Haru-nii. Maksudku, sensei. Ada apa datang ke sini?" Haru-sensei berjalan mendekati mejaku.

"Aku datang untuk murid kesayanganku, tepatnya adikku yang manis. Kau boleh memanggilku dengan Nii Tomoko." Katanya sedikit memainkan nada. "Kau pusing memilih SMA?"

"Iya. Aku sama sekali tidak tahu harus memilih SMA mana."

"Sekarang aku bingung. Kemana gadis dengan tegar mengatakan akan ke Teiko walaupun di tolak oleh orangtuanya mentah-mentah." Haru-Nii duduk di bangku depanku dengan menghadap kepadaku. "Tomo-chan. Kau harus mengikuti kemauanmu. Kau sudah tidak terkengkang dalam sangkar dingin itu. Itu saja yang bisa kukatakan Tomo-chan." Haru-Nii berdiri dari kursi. "maaf, aku masih punya pekerjaan Tomo-chan, ja-na." Haru-Sensei berjalan keluar kelas.

"Haru-nii. Arigatou." Aku sedikit berteriak.

"DOUITA IMOUTO!" Haru-Nii berbalik teriak. Sekarang aku sudah menetapkan sekolah yang ingin aku tuju. Aku beranjak dari kursi dan menekan sederet nomer. Setelah do sebrang sana mengangkat aku langsung berkata. "Maafkan aku. Aku tidak akan masuk kesekolah yang sama denganmu. Maaf."

[… Baiklah jika itu kemauanmu Tomoko. Maaf aku sedang sibuk, aku akan menutup telphonenya. Ja-na]

"Ja-na"


Sebulan setelah lulu aku kembali masuk di sekolah yang baru. Walaupun aku meninggalkan satu orang berharga bagiku aku tidak merasa terbebani karena inilah sekolah yang kupilih. Dan sekolah yang aku pilih adalah Seirin.

Walaupun aku masuk Seirin Sei dan aku masih berpacaran. Aku masuk sini karena aku akan membantu Onii-chan untuk menunjukan kepada Sei basket yang sesungguhnya. Permainan dengan kehangatan dan kebersamaan.

Seirin, mudah-mudahan aku membuat kenangan indah di sini.

To Be Continue


A/N: yak sangat absurd. Sebenernya ini chapter yang paling ancur. Sekali lagi maafkan saya karena sudah membuat ff tidak berguna. Lalu typo pasto SUANGAT BUANYAK.

Terima kasih untuk: Kinto Kin, AyumuIshikawa, Kitami Misaki, Silvia-KI chan, Juvia Hanaka, Aoi Yukari, Kumada Cihyu, Rin, Jo, , sakazuki123, kuroiyazoi, Leonia Otaku, Golden Eye, , Nijigengurl dan semua silent Reader. Sungguh Terima kasih! Maaf jika ceritanya tambah ancur dan Author tambah stress. Terutama Update yang selalu telat.

Mohon tinggalkan Review. Isinya boleh unek-unek, boleh kritik, boleh saran, boleh flame, pokoknya apapun itu saya terima! (kl anda flame saya sebenarnya saya SANGAT SENANG! #mudah-mudahan selamet sama teman saya) intinya Kritik dan saran di butuhkan.

maaf ada yang ketinggalan.

untuk Fisika-san: terima kasih sudah membaca dan sosok misterius itu RA~HA~SI~A~ ehehehe. kalau penasaran ikuti saja sampai tamat #maksa (di gebuk satu dunia)

Sign,

ChizuGawa