Chapter 5.5
Title: Your Happiness Is My Priority
Disclaimer: Kuroko No Basuke milik Fujimaki Tadatoshi. Omen series milik Lexie xu Tapi cerita ini milik saya yang dapet ilham tiap bisnis dengan kloset(a.k.a BAB).Jangan lupa para OC juga punya saya.
Summary: jika aku di tanya apa yang paling berharga bagiku. Mungkin aku akan menjawab 'kebahagiaan orang yang ku sayangi'. Naïve bukan? –chapter 5.5– "Kakakmu sedang di rawat oleh dokter di ruang sebelah"/"Ternyata kau tipe Tsundere."/ "Aku menghargai keberanianmu. Tapi maaf, aku tidak tertarik."
Warning: Akashi x OC/ BL (antar chap 7/8)/ Typo berterbangan/ GAJE/ EYDhampir nihil/ merusak mata, otak, jiwa dan lain sebagainya/ OC/ OOC(terutama Akashi)/ keluarga yang di ubah-ubah oleh Author alur suka-suka Author/ Author yang baru keluar dari RSJ/ Dufan tiba-tiba ada di Jepang/ OC yang bertambah /dan masih segedung lagi yang perlu di ingatkan tapi sekarang Author bingung mau nulis warning apa lagi. *plaaaak* Mungkin di chapter mendatang akan ada warning baru.
Rated: T
P/N (Plot Note): sebelum Winter cup di mulai dan setelah Kuroko menemukan teknik vanishing drive.
A/N: untuk ke sekian kalinya maaf update terlalu lama. Minggu ini selain sibuk dengan urusan daftar sekolah, les, dan yang paling membuat saya kesusahan Ibu saya sakit jadi saya tak bisa berpacaran dengan leptop saya ini. #keliatan banget jomblonya. Ngomong-ngomong ini cerita di saat si kembar dan seseorang yang nanti kalian akan tahu siapa jalan-jalan di Tokyo. Dan di sini banyak Flashback, saya hanya ingn memperjelas cerita.
Don't like it don't read it. If you still want to read. Have a nice reading.
Chapter 5.5: Let's Go Traveling
Hah… capek… aku berbaring di ranjang kamarku. Hari ini semua berlatih untuk Winter cup mati-matian. Kami memang sangat menginginkan kemenangan, walaupun yang terpenting kebersamaan. Aku juga ingin menunjukan basket sesunguhnya pada kiseki. Kalau bisa aku ingin menantang mereka one-on-one atau group, tapi mengingat kakiku yang cacat ini aku mengurung niatku.
Ya, kakiku cacat. Kakiku cacat saat aku kelas 5. Hari itu aku dan Onii-chan pergi jalan-jalan ke luar rumah. Sebenarnya aku menghindari pertemuanku dengan calon tunanganku. Sebenarnya saat itu aku sama sekali tidak tertarik dengan pernikahan. Karena jika aku menikah aku tak bisa terus bersama Onii-chan.
Kami pergi ke maji burger untuk membeli vanilla milkshake. Aku menyuruh Onii-chan duduk terlebih dahulu dan aku membelinya. Saat mendapatkan vanilla milkshake aku beranjak dan mencari Onii-chan. Tetapi aku sama sekali tidak menemukannya. Saat aku melihat kearah jendela, aku menemukannya sedang menggendong kucing di tengah penyebrangan jalan.
*flashback*
Aku berjalan ke luar dari Maji burger. Saat aku ingin menyebrang tetapi lampu penyebrangan berubah menjadi merah. Dari kiri Onii-chan ada mobil dengan kecepatan tinggi melaju.
"ONII-CHAN!" tanpa pikir panjang aku berlari ke arahnya dan mendorongnya ke seberang jalan. Setelah itu rasa sakit bergerayang di kaki kiriku dan hal yang kulihat hanya putih.
Akhirnya aku sadar di sebuah ruangan. Kalimat yang kuucapkan pertama kali adalah "Dimana Onii-chanku?" pada perawat.
"Kakakmu sedang di rawat oleh dokter di ruang sebelah." Saat itupun aku berdiri dan menuju pintu walaupun berjalan dengan satu kaki yang terseret-seret. Tetapi aku tertahan oleh seseorang yang tiba-tiba masuk ke kamarku.
"Lukamu masih parah. Lebih baik kamu istirahat terlebih dahulu." Kata Orang tersebut. Orang yang menahanku umurnya kurang lebih setara denganku. Bagaimana aku bisa istirahat jika aku tidak tahu keadaan kakakku bodoh. "Kakakmu baik-baik saja, dia hanya di beri band aid karena luka ringan. Dan aku tidak bodoh." Eh? Kenapa dia bisa membaca pikiranku? Padahal aku sama sekali tidak berekspresi. "Aku melihat dari matamu."
"Bagaimanapun juga aku ingin bertemu dengan Onii-chan." aku berusaha menyingkirkan tubuh di depanku. Tetapi orang itu malah menggendongku dan menaruh tubuhku di atas ranjang tadi. Karena aku tahu tidak ada jalan untuk keluar aku hanya cemberut dan membuang muka. Pintupun terbuka menunjukan sosok Onii-chan.
"Onii-chan!" Onii-chanpun berjalan ke arahku. Aku memeluknya erat. Aku sungguh takut kehilangan Onii-chanku. Dia adalah orang yang paling berharga. Aku melihat beberapa band aid di tubuh ringkihnya itu. "Maaf. Maafkan aku Onii-chan. Maaf aku tidak bisa melindungimu. Maaf. Maaf."
"Tidak apa-apa. Sebenarnya aku yang harusnya meminta maaf. Aku membuat kakimu cacat. Maafkan aku." Onii-chan memelukku balik dengan lebih erat.
"Iee, jika Onii-chan tidak apa-apa begitu aku juga tidak apa-apa." Aku tersenyum kearahnya. Aku berbalik kearah anak yang tadi menahanku. "Ngomong-ngomong siapa namamu? Dan apa yang kau inginkan?"
"Aku Akashi Seijuurou. Dan itu bukan hal yang sopan berkata seperti itu pada penyelamatmu." Dia hanya duduk tenang di kursi samping ranjangku.
"Penyelamat?"
"Iya Tomoko-chan. Saat kau tertabrak, orang yang menabrakmu kabur. Di saat aku meminta tolong dia datang kearahku dan menelfon ambulan."
"Terima Kasih." Aku menoleh kearahnya. "Terima kasih sudah menyelamatkan Onii-chan dan aku. Tapi aku tetap tidak suka dengan perlakuanmu yang menghalangiku bertemu Onii-chan." aku membuang mukaku yang bersemu. Akashi hanya terkikik.
"Ternyata kau tipe Tsundere."
*end of flashback*
Tak lama Orangtuaku datang. Mereka memarahiku karena membawa Onii-chan pergi tanpa penjagaan dan membuatnya terluka. Sebagai hukumannya mereka tidak mengoperasi kakiku, mereka berkata bahwa nanti juga akan sembuh sendiri. Tapi kakiku tetap tidak sembuh sampai sekarang. Dan karena itu aku berhenti dari club basket. Sekarang kau tahu kenapa aku bisa bermain basket bukan?
Dan aku menyadari satu hal. Akashi adalah orang yang menjadi calon tunanganku, dia sebenarnya mengikuti aku dan Onii-chan kabur dari rumah. Memalukan? Iya itu sangat memalukan…
Aku hanya tersenyum mengingat-ingat masa lalu. Tiba-tiba aku diganggu oleh handphoneku. Aku mendapatakn pesan singkat dari sepupuku, Matsuo Yuriko. Ayahnya adalah kakak Ibuku, sekarang dia tinggal di Osaka.
From: Matsuo Yuriko
Subject: Aku akan datang! (^O^)/
Yo, Tomo-chan~ aku akan ke Tokyo Jumat ini. Jemput aku ya, dan tolong jadi tour guideku~ ;9
Aku hanya tersenyum melihat e-mail itu. Aku beranjak dari kasurku utnuk kekamar Onii-chan. "Onii-chan, Yuriko-Nee akan datang jumat ini."
"hah… Mudah-mudahan kita punya stok makanan cukup…" Onii-chan bertampang MaDeSu(Masa Depan Suram). Sepertinya Yuriko tidak seblack hole itu Onii-chan… lampumu itu yang lebih black hole, maksudku cahayamu. Tapi dia lebih mirip lampu yang sudah di gunakan bertahun-tahun menginggat rambut bagian bawahnya berwarna hitam. Itu kenyataan, lihat saja lampu yang sudah sering di pakai. Bagian bawahnya pasti berwarna hitam, terutama lampu pijar dan LED.
Setelah pulang latihan basket kami langsung menuju stasiun. Tentu saja untuk menjemput Yuriko-Nee. Tak lama setelah kami menunggu di depan stasiun kami melihat perempuan dengan rambut sebahu berwarna coklat. Iris mata orang tersebut adalah hitam pekat, seperti biasa, dia memakai baju yang menurutnya nyaman (Celana Jeans + Kaos+ Jaket).
"TOMO-CHAN~ TETSU-CHAN~" Yuriko berlari dan memeluk kami dengan erat.
"Hisashiburi Yuriko-san/nee." Kami menyambutnya bersamaan. Kami berjalan pulang kerumah dengan bis dan berjalan kaki. Di saat perjalanan kami berbincang-bincang, mulai dari sekolah, keseharian hingga kisah cinta.
"Ne, Tetsu-chan. adakah orang yau sedang sukai?" Yuriko berkeporia dengan Onii-chan
"Sepertinya belum ada Yuriko-san. Bagaimana denganmu? Apakah kau sudah move on dari Haru-San?" oke kak, kalau aku menjadi Yuriko itu pertanyaan yang menusuk. Seperti yang kalian pikirkan Yuriko jatuh hati terhadap Haru. Tetapi Haru menyukai perempuan lain, itu salah satu alasan dia bekerja di Teiko.
"Moii Tetsu-chan, jangan jahat padaku dong! Ngomong-ngomong bagaimana denganmu Tomo-chan? Bagaimana hubunganmu dengan Sei-mu itu?" Yuriko memainkan nada sehingga aku bersemu.
Hubunganku dengan Sei? "Baik-baik saja." Tetapi aku masih merasa bersalah karena memilih Onii-chan. sebenarnya aku merindukannya.
"Tomo-chan. Kenapa kau suka pada Akashi? Diakan pendek, otoriter, mata belang, dll." Yuriko, untung dia tidak mendengarnya. Bisa-bisa sepupuku ini mati tertancap gunting.
"Aku jatuh cinta pada Sei karena aku merasa aman di dekatnya. Walaupun dia selalu memakai cara nya sesuka-sukanya dia tetap memperdulikan orang lain. Dia juga sering bertindak jahat untuk kebaikan orang lain. Jalan pikirannya denganku mirip tetapi aku kadang juga susah menebaknya. Lebih tepatnya dia laki-laki dengan segudang kejutan." Mukaku memerah saat mengingat wajah Sei. "b-be-be-begitulah…"
"Aaaah~ Tomo-chan malu-malu kucing~"
"Aku setuju dengan pendapat Tomoko. Akashi sebenarnya baik, hanya saja dia memakai cara yang berbeda."
"Ne, Tomo-chan. Ceritakan saat dia menembakmu dong!" Yuriko bertampang kepo. Seandainya dia bukan keluargaku aku akan berkata 'IH, KEPO!' tapi aku mengurung minatku yang satu ini.
"Em… sebenarnya aku menyukainya dari kelas 6 SD. Awalnya aku hanya menganggap Sei itu menarik, tetapi lama-kelamaan aku menjadi nyaman disisinya, dan selalu ingin dia disisiku. Tapi aku berjanji tidak akan pernah menyatakan perasaanku. Tetapi suatu hari Sei menembakku."
*flash back musim semi 3 tahun yang lalu*
Aku sedang duduk di bangku taman di bawah pohon sakura yang bermekaran sore itu. Tempat ini sepi, mengingat posisi tempat ini berda di bagian belakang sekolah yang dekat dengan gudang. Gudang itu di anggap berhantu oleh seluruh warga di sekolah padahal di gudang itu tidak ada apa-apa.
Aku membaca novel berjudul Kutukan Hantu Opera karya Lexie Xu. Jika di lihat dari judul itu adalah novel tentang hantu, sebenarnya itu adalah novel serial tentang pembunuhan. Aku menyukai novel ini karena ceritanya susah di tebak. Sang pengarang juga membuat karakter yang unik. Putri Badai yang dingin walaupun sebenarnya dia melakukan itu untuk menutupi kelemahannya. Erika Guruh yang melakukan semuanya sesuka hati. Vleria Guntur yang terlihat cupu tetapi sebenarnya dia menyembunyikan banyak kelebihan. Rima Hujan yang terlihat menyeramkan tetapi sebenarnya dia baik. Aria Topan Ceria dan senang berbisnis. Oke aku mulai membicarakan yang tidak perlu.
Aku menikmati angin musim semi ini. Tiba-tiba aku terganggu oleh seorang pria yang mendekatiku.
"Maaf apakah kau punya waktu?" tanyanya padaku. Aku hanya berdiri dan menghadap orang tersebut.
"Sebenarnya sekarang aku hanya menunggu kakakku. Ada perlu apa ya?" aku hanya tersenyum untuk menjaga image.
"Ano… Kuroko Tomoko apakah kau mau menjadi pacarku?" Laki-laki tersebut menyatakannya tanpa ragu sama sekali. Aku menghela napas sedikit.
"Aku menghargai keberanianmu. Tapi maaf, aku tidak tertarik." Aku hanya berekspresi datar dan menatap lurus ke matanya. Ini adalah jawaban yang paling aman.
"Ba-baiklah jika begitu. Maaf mengganggu." Laki-laki itu pergi menjauh dariku. Ini sudah yang ke 3 dalam bulan ini, haaaaahhhh… Aku duduk kembali di bangku taman.
"Wah, ternyata kau dingin juga." Suara ini, hah… kenapa di saat seperti ini dia datang?
"Kata seseorang yang selalu membuat gadis yang menembaknya menangis." Aku hanya memutar mataku. Dia terkikik, orang itu tak lain adalah Akashi Seijuurou.
"Makanya aku berkata 'juga' setelah kata dingin." Di melihat buku yang kubaca. "kau suka buku itu?"
"Hem. Buku ini menarik." aku kembali membaca novel. Walaupun aku tak berekspresi aku tegang. Bagaimana tidak tegang? Sekarang sudah sore, pasti sudah sedikit orang yang berada di sekolah dan aku berduaan dengan orang yang kusukai.
"Hampir semua orang akan berpikir kau mirip Putri Badai." Ternyata dia juga membaca novel ini.
"Aku tidak peduli orang lain berpikir aku seperti apa. Aku hanya peduli tentang Onii-chan." aku menatap lurus ke mata merah darah itu.
"Bagaimana jika aku berkata kau lebih mirip Valeria?" Hah? Apa miripnya aku dengan dia? "Kalian sama-sama menyembunyikan kelebihan. Dan kalian sama-sama menarik dan unik, walaupun kau lebih menarik dan unik dari dia."
"Kau mengigau ya Akashi? Aku sama sekali tidak seperti itu." Aku hanya menghela napas dan mengatur detak jantungku yang berdetak di atas rata-rata.
"Bagiku kau sangat menarik Tomoko. Jadilah milikku Tomoko." Aku sedikit membelak mata saat mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Akashi. Sungguh? Akashi sungguh menembakku!?
"Aku menola-"
"Aku tahu kau jatuh cinta padaku Tomoko, aku mempunyai buktinya dan kau tak bisa mengelak. Kau tahu kenapa? Karena aku Absolute." Dia menyeringai kearahku. Aku sungguh tidak tahu harus seperti apa, apakah aku harus senang atau kesal karena dia seperti mengancamku.
Tapi aku berpikir tidak akan ada kesempatan ke-dua. "Baiklah. Aku menerimanya, mohon kerjasamanya Akashi." Aku tersenyum ke arahnya. Entah kenapa angin bertiup dan beberapa kelopak sakura berjatuhan, sungguh aku merasa seperti di komik-komik shoujo. Sungguh kenapa seperti komik shoujo coba!?
*End of flash back*
"Begitulah…" aku menyembunyikan wajahku yang bersemu dengan tanganku.
"Huaaa. Aku juga ingin punya cerita cinta…" Yuriko mengembungkan pipinya. "Ne, besok kita jalan yuuuk! Aku ingin menikmati Tokyo!"
Keesokan harinya pun kami pergi jalan-jalan, Yuriko ingin mengelilingi seluruh Tokyo. Sebenarnya itu tidak mungkin karena Tokyo itu terlalu luas untuk di jelajahi dalam waktu 1hari.
Kami pergi dari rumah pukul 6.30. pertama-tama kami pergi ke Ikebukuro, mengingat kami bertiga termasuk golongan otaku (Onii-chan hanya menyerempet dikit). Di Ikebukuro hal yang pertama kali lakukan adalah pergi ke Animate, sungguh itu surga. Kami menghabiskan waktu cukup lama di sana.
"Wah, tidak menyangka sudah Siang. Pergi ke Akihabara yuuk! Aku ingin makan di Maid café ." Kami mensetujuinya, kami pergi ke Akihabara dengan kereta. Saat sudah sampai di akihabara kami berjalan langsung ke café yang dituju. Karena ini Akihabara, ini surga Cosplay. Kau akan menemukan cosplayer di mana-mana.
"WUOOOO! Lihat Tomo-chan! Orang itu cosplay menjadi Mey-Rin dari Black Buttler, keren!" Yuriko menunjuk wanita yang berkacamata. "Wah! Ada yang cosplay Haruka Free! Di situ ada Erza! Ogami Rei!" dan seterusnya. Aku malas memberitahu satu-satu character yang dia sebut saat bertemu cosplaynya. Kami akhirnya sampai di Maid café.
"Itarashaimase Ojou-sama, goshujin-sama." Pelayan dengan baju maid dengan kuping dan telingga kucing menyambut kami. Dia mempersilahkan kami duduk di meja untuk 3 orang.
"Tomo-chan, kau ingin pesan apa?" Tanya Yuriko yang membolak-balik menu.
"Hem… sepertinya aku melt Mac n Cheese. Bagaimana dengan Yuriko dan Onii-chan" aku masih membolak-balik menu.
"Aku OmuRice dan Parfait saja." Yuriko menutup menu makanannya.
"Aku Pandacake saja." Onii-chan juga menutup menunya.
"Bagaimana dengan minumannya? Aku ingin Ice milk Tea, kalian?" Yuriko memanggil salah satu maid.
"Vanilla shake!" Kami menjawab bersamaan.
Setelah memesan. Tak lama kemudian makanan kami keluar. Mac n Cheseeku sederhana dengan mangkuk bulat. Omurice Yuriko di gambar kucing dengan saus tomat dan parfaitnya yang berukuran sedang menuju besar. Sedangkan Pandacake Onii-chan adalah Pancake dengan 2 es krim coklat seperti kupingnya. Kami menikmati makanan itu dengan di selingi pembicaraan.
"Terima kasih Goshujin-sama, Ojou-sama." Para pelayan memberi hormat kepada kami saat keluar dari toko. Tak jauh dari toko tersebut aku melihat gerombolan wanita. Karena penasaran aku mendekatinya dan bertanya pada salah satu orang di sana "Maaf ada apa di sini?"
"Di sini sedang ada pengambilan foto. Sungguh laki-laki yang di foto sangat keren…" em… sepertinya aku harus pergi orang ini mulai Fangirling. Akupun menjauhi krumunan itu.
"TOMOKO-CCHI!" Aku mendengar teriakan seseorang dari tenggah krumunan itu. Tunggu, cchi? Jangan-jangan.
"Kise-kun?" aku mencoba menebak orang yang memanggilku. Benar saja, laki-laki pirang itu keluar dari gerombolan.
"Doumo Kise-kun." Onii-chan membungkuk sedikit.
"Tetsuya-cchi!" kise mendekati Onii-chan. gerombolan perempuan tadi mulai berbisik-bisik. "Lebih baik kita masuk ke dalam. Tidak enak ngobrol di sini-ssu." Kamipun mengikuti Kise masuk ke dalam ruang ganti pribadinya.
"Lama tak berjumpa Kise. Aku tak menyangka akan bertemu denganmu sebelum Wintercup." Kise mempersilahkan kami duduk.
"Aku juga tidak menyangka-ssu. Tadi saat pemotretan selesai aku melihat surai baby blue mu Tomoko-cchi. Jadi aku spontan memanggilmu." Kise hanya cengar-cengir. "Ngomong-ngomong anda siapa?" Kise bertanya kepada Yuriko.
"Aku Matsuo Yuriko, sepupu mereka berdua. Salam kenal." Yuriko mengulurkan tangannya.
"Aku Kise Ryouta, salam kenal." Kise mengeluarkan senyum modelnya dan menyambut tangan yuriko. Aku jadi bingung, kise jika menjadi model sungguh bukan Kise sama sekali. Kise itu seharusnya ceria, periang, hyperactive, dan lain-lain. Tapi jika sedang bekerja menjadi model dia akan menjadi pendiam dan cool.
*tok* *tok* *tok*
"Masuk saja." Kise melepaskan jabatan tangan Yuriko.
Pintu terbuka menunjukan seorang anak perempuan "Ternyata kau disini." Itulah kalimat pertama dari bibir mungilnya itu.
Sebenarnya aku iri dengan anak itu. Dia sangat cantik. Rambut pirang sepinggangnya diurai, poninya di kepang dan di kesamping kirikan sedangkan sisanya yang tidak terkepang di bawa ke samping kanan. Muka tanpa cacat dengan mata emasnya yang berbinar, hidung mancung disertai bibir mungil. Tubuh langsing yang berbalut gaun dan jas. Gaunnya terdiri dari dua lapis, bagian dalam dibuat dengan kain berwarna putih sepaha dan lapisan kedua dari bahan transparent berwarna hitam yang lebih panjang. Di gaun itu mempunyai ikatan dengan hiasan bunga mawar di pinggang. Kakinya yang putih di tutup oleh sepatu boot hitam.
Dia dan aku sungguh berbeda jauh, aku sama sekali tidak modis. Lihat saja penampilanku. Kaos berwarna biru muda, jaket hitam, celana jeans dan sepatu kets. Rambut berantakan yang hanya kukuncir kuda. Sungguh bagai langit dan bumi.
Anak itu melihat kami sebentar. "Ah, maaf aku tidak sadar ada tamu." Dia membungkuk. "Namaku Kise Hiromi, adik Kise Ryouta. Maaf kakakku telah mereptkan kalian." Dia sama sekali tidak mirip dengan Kise-kun.
"Tidak apa-apa Kise-san. Namaku Kuroko Tomoko, salam kenal." Aku menjaabat tanggannya. "Anak perempuan itu Matsuo Yuriko, dia sepupuku. Dan laki-laki itu Kuroko Tetsuya, kakak kembarku." Yuriko dan Onii-chan membungkuk sedikit. Kami berbincang-bincang sampai malam.
"Maaf, aku mau pergi membeli minum sebentar. Ada yang ingin menitip?" Hiromi beranjak dari kursinya.(Hiromi ingin memanggilnya dengan nama kecil saja. Sebenarnya aku agak risih tapi aku tak bisa menolaknya)
"Aku Mineral water saja-ssu."
"Boleh aku titip Caramel frapucino? Ini uangnya." Yuriko memberikan uang kepada Hiromi. "Maaf merepotkan."
"Iee, aku juga ingin jalan-jalan." Hiromi tersenyum sangat manis. Aku tambah iri, hah… ayolah, aku ini manusia aku masih merasa iri.
"Aku akan ikut denganmu." Onii-chan beranjak dari kursinya mendekati Hiromi. "Tidak baik seorang anak perempuan berkeliaran sendirian di malam hari. Tomoko-chan, kau mau Vanilla milkshakekan?" aku hanya menangguk. Aku melihat mata hiromi sedikit terbelak dan mukanya sedikit memerah.
Setelah balik dari membeli minuman dan cemilan Onii-chan dan Hiromi menjadi lebih dekat. Kami akhirnya berpamit pulang karena sudah lumayan larut. Di perjalanan pulang tidak ada satu orangpun yang berbicara sampai Yuriko mengangkat suara.
"Ternyata Kise Ryouta itu tidak seperti yang aku pikirkan." Yuriko mulai mengerak-gerakkan kakinya. Kami sekarang berada di kereta, sekarang sangat sepi mengingat ini hari libur dan sudah larut malam.
"Memangnya kau berpikir Kise-kun seperti apa?" Tanya Onii-chan yang duduk di sebelahku.
"Sombong." Sebenarnya Kise sedikit sombong sih. Tapi jika sudah dekat dengan dia malah dia yang jadi budak.
Kami kembali menjadi hening. Aku memperhatikan jalan yang kami lewati tak lama kemudian aku merasa pundakku sedikit berat. Saat aku menoleh ternyata Onii-chan tertidur di pundakku. Dan sekarang pundakku yang sebelah lagi berat dan benar saja Yuriko tertidur di pundakku. Aku merasa seperti bantal.
Saat aku memikirkan seseorang tidur dipundakku aku menjadi mengingat Sei. Dia sedang apa ya? Aku sungguh merindukannya… Aku sungguh ingin bertemu dengaanmu Sei. Aku menikmati perjalan pulang dengan beban di pundakku. Bukan beban penyesalan tetapi benar-benar beban kepala dua orang.
To Be Continue
A/N: Yak ini omake, tapi lebih panjang ==. Kelihatannya cerita yang bagian ini gak berguna ya? Sebenarnya saya ingin bikin latarnya setelah WC(bukan sinonim Toilet) tapi mengingat Kuroko sangat down setelah WC jadi saya bikin jadi Omake aja.
Sekali lagi saya berterimakasih kepada: Kinto Kin, AyumuIshikawa, Kitami Misaki, Silvia-KI chan, Juvia Hanaka, Aoi Yukari, Kumada Cihyu, Rin, Jo, , sakazuki123, kuroiyazoi, Leonia Otaku, Golden Eye, , Nijigengurl, bubletea, Reina Reiss, Harukawa Ayame dan semua silent Reader. Tak lupa Keponakanku dan Rin yang menjadi figur OCku. Dan iya saya tidak salah nulis, saya benar-benar punya keponakan. Dan hanya info saja dia lebih tua dari saya. #oke kenapa curcol #lupakan.
For Bubletea: em… mungkin serame gerombolan sirkus kali ya? Hehehe. Maaf gak bisa update kilat mengingat halangan yang tadi kutulis jadi susah ngeupdate, maaf ya. Fighting \(^O^)/
Jika tidak keberatan silahkan tinggalakan Review. Satu kata saja sudah membuat Author Gak Guna ini senang setengah hidup (setengah mati sudah mainstream)
Sign,
ChizuGawa
