Chapter 4

SEMUA TOKOH DALAM CERITA INI MILIK PENGARANG ASLI MEREKA BESERTA LAGU YANG MUNGKIN ADA

BILA ADA KESALAHAN MOHON MAAF

Suara debur ombak desiran angin menjadi pengiring orang-orang ini mereka adalah teman satu kelas Naruto soalnya mereka mendapat libur, memilih tempat ini karena usul Naruto ada maksut lain mengusulkan tempat ini alasanya adalah lebih dekat rumah.

"Naruto, kemarilah" kata Kiba dan disusul gongongan akamaru.

"nanti aku susul"

Dan dia merebahkan tubuhnya di kursi pantai yang Shikamaru dan Gara bawa dia memilih berada diantara orang yang suka tidur itu, sampai sebuah rasa usil muncul kembali saat melihat tatapan Shikamaru tak lepas dari temari.

"rekam dengan baik di otak jeniusmu, gambar yang ber bikini kuncir 4 itu Shika" kata Naruto dengan nada ah entah.

Mengetahui dirinya ketahuan membuat lelaki Nara itu bersemu merah dan berguma merepotkan, beda dengan Gara yang sudah siap akan mengubur Shikamaru Hidup-hidup dengan pasir pantai untung bisa dicegah Naruto dengan gampang, tolehkan kepala Gara kekiri saat itu Ameno dan Matsuri lewat wajahnya berubah senada dengan rambutnya.

"berengsek kau, Naruto"

Umpat kedua lelaki itu saat mendengar tawa menyebalkan Naruto tawa itu tak terlalu lama saat sang malaikat datang, mengunakan pakaian renang biru tua denga motif garis kali pertama ini Naruto melihat Hinata dengan bikini, ingata saat tanpa sengaja melihat tubuh polos tempo hari kembali.

"kenapa Naruto-kun, apa kau sakit lagi?" kata Hinata.

"ah, tidak"

Saat pembalasan telah tiba Gara dan Shikamaru mulai mempropokrasi Naruto karena risih mereka dipindah dengan sihir oleh Naruto, menghela nafas lega kini dia mulai memandang Hinata yang masih heran dengan kelakuan Naruto barusan.

"kenapa?" kata Hinata.

"lupakan panda dan rusa itu, kau tidak ikut mereka?." kata Naruto sambil menunjuk teman-teman yang bermain air.

Hinata hanya menggeleng dia lalu duduk di samping Naruto, jantung rasanya akan lepas bagi Naruto melihat lekuk tubuh Hinata kini mencoba menenangkan diri supaya tidak memakan malaikat disampingnya ini, pantai ini memang sepi jarang ada pengunjung dan disini awal bertemu dengan wanita yang berbaring disampingnya.

"matahari sudah tenggelam, lukisan senja yang indahkan Hinata"

Kata Naruto untuk memecah rasa canggung mereka melihat satu persatu teman teman pulang menyisakan dua pasang mahluk ini, merapikan barang bawaan mereka kedalam tas setelah itu Naruto membuat perapian pulang sedikit lebih lama bukan masalahkan itu dalam pikiran mereka.

"hy, bintang jatuh" kata Naruto.

"disana ada lagi, dari pantai lebih indah ternyata".

Merasa cukup Hinata mengajak Naruto untuk pulang, jalan menuju rumah memang di sisi kanan kiri masih pepohonan ini mengakibatkan cahaya bulan menyinari dengan remang, angin mengoyangkan dedaunan membuat rasa sunyi semakin kuat bagi mereka.

"kau kenapa, Naruto-kun?" kata Hinata yang melihat lelaki disampingnya yang kini tubuhnya penuh dengan peluh.

"tak, kita sudah sampai kau bisa membuatkan makan malam Hinata" kata Naruto.

"bisa, kau yakin tak apa" kata Hinata kuatir.

"aku mandi dahulu"

Setelah mengucap kata itu dia lari masuk kedalam kamar mandi menguyur tubuhnya dengan air dingin berharap bisa meredakan panas didalam tubuh ini, tak ambil pusing Hinata melanjutkan acara memasaknya dengan sesekali bersenandung ringan mengiringi kegiatan mengolah bahan makanan ini.

Mendengar Naruto sudah selesai Hinata langsung masuk kedalam kamar mandi untuk giliran dirinya membersihkan diri, diluar Naruto membaringkan tubuhnya di sofa sambil menutup muka dengan handuk basah rasa bergejolak didalam tubuh semakin kuat.

"sebenarnya, aku ini kenapa".

Teriak naruto dalam hati sedikit membuka handuk yang menutup wajahnya saat merasa ada yang mendekat ternyata Hinata yang selesai mandi dan kini sudah mengenakan kemeja santai, raut kuatir semakin jelas dari wajahnya melihat kondisi sekarang.

"apa kupanggil Dokter saja, kau semakin membuatku kuatir" kata Hinata.

"tak apa, mungkin hanya kepanasan"

Bagai api yang disiram minyak rasa ini semakin tak terbendung ketika merasa halusnya tangan mungil itu, mencium aroma Hinata melihat bibir tipis itu ia kini mati matian menahan rasa ini seumur umur baru sekarang dia merasakanya.

Di ruang makan istana terlihat Minato dan Kushina tengah menikmati makan alam mereka sampai seorang ah seekor tamu datang ditengah kegiatan mereka, tak kuatir karena raja dan ratu telah mengenal siapa yang berkunjung.

"kurama, ada apa?" kata Kushina.

"Cuma malas ditendang keluar, aku takmau mengganggu saat kekuatan terbangun dengan sempurna" ucapnya.

"ho, jadi sekarang sudah terbangun aku akan mengirim seseorang untuk mengawasinya" kata Minato.

"tak perlu, untuk sekarang biarkan dirinya bersenang senang walaupun besok akan menyusahkan bagi Naruto" kata Kurama dengan seringainya.

Kembali kenaruto Hinata tengah terpojok kiri kanannya dihadang tangan kekar Naruto mata lelaki pirang itu berubah kini dua matanya bersinar dengan warna jingga, dengan cepat Naruto memberi ciuman pada leher Hinata sukses membuatnya mengerang.

"hentikan, Naruto-kun uh"

Permintaan itu jatuh ditelinga tuli Naruto, ciumanya menjalar kearah dauntelinga Hinata menuju garis raham milik malaikat ini. Hinata menoleh kekiri namun tak membuahkan hasil kini bibir tipis itu dilumat Naruto dengan ganas.

Kebutuhan udara mengahiri ciuman sepihak itu, dengan ganas Naruto merobek kemeja merah motif kotak-kotak itu dan memperlihatkan bra ungu dengan renda putih merundukan wajah sehingga sejajar dengan dua gundukan itu, deru nafas hangat Hinata rasakan didepan area dada putihnya lengkuhan semakin terdengar ketika lelaki pirang itu memberikan ciuman kepemilikan didada putih berlapis bra ini.

"hentikan Naruto-kun, kuasai kembali dirimu uh"

Sebuah tangan dari cahaya berwarna jinga memegangi kedua tangan Hinata, dengan mudah tubuhnya diangkat oleh sosok tangan itu hingga mengantung setinggi 5cm daritanah. Tangan Naruto mulai mmenelusuri seluruh lekuk tubuh milik salah satu malaikat itu, dari lekuk wajah turun membelai lembut dua payudarah semakin turun kini setelah mengusap dan meremas pelan dua pantat bulat kenyal itu ia menghentikan tanganya dipinggang ramping milik Hinata.

"apa yang kau lakukan"

Salah satu mulai bergerak kepunggung dan meraih kait bra dan melepaskanya, dada padat berisi itu sudah tersaji jelas didepan Naruto tak tunggu lama dia langsung melumat puting yang sedikit keras itu. Desahan semakin membuat pelaku semua ini menjadi beringas puting itu kini menegang sempurna.

Satu tangan yang lain menjalar kekaki Hinata lebih tepatnya kearah kewatiaanya, tubuh prempuan itu semakin mengeliat tak tenang ketika dua jari memasuki lubang yang selama ini belum tersentuh sekali tarik Cd senada dengan bra Hinata telah terlepas bagian itu terpampang jelas.

Tubuh mungil itu melengkung kala Naruto memainkan lidah dibagian sensitip bagi kaum wanita, dengan pasti dari sana mulai mengeluarkan bau dan cairan khas senhinga membuat orang lupa diri. Dua jari yang dimaasukan digerakan semakin cepat sejalan dengan Hisapan yang semakin kuat Naruto berikan pada daging kecil yang menjadi kumpulan syaraf sensitif.

Tak sampai disitu muncul kembali tangan dari tangan yang menahan Hinata, dua tangan itu mulai memainkan dua dada Hinata. Sesekali memerasnya dengan lembut dan berubah menjadi keras puting tak luput dari serangan tangan itu menarik narik dan mempelintir, membuat sensasi luar biasa bagi Hinata.

"Kyaa"

Sebuah cairan keluar dari Hinata tubuhnya kini seorah tak bertenaga, deru nafas tak teratur memandang Naruto yang kini tersenyum evil namun bukan rasa takut yang dirasa Hinata. Mungkin tanpa dia sadari sedari tadi Tubuhnya merespon sama seperti Naruto hanya warna yang membedakanya.

Dua tangan itu melepas pegangannya dari Hinata, dan kini prempuan itu berada dalam dekapan Naruto. Dimata lelaki itu kini Hinata terlihat semakin seksi membaringkan wanita itu di pinggir tempat tidur dan membuka lebar dua kakinya.

" Naruto,aah"

Darah keluar akibat berbuatan Naruto bukan hanya itu saja Aura mereka seakan bercampur, setetes air mata keluar dari pelupuk mata Hinata alangkah kagetnya ketika sebuah tangan membingkai wajah ayu itu. Saat mengangkat wajahnya kini bertemu pandang dengan mata Naruto, terjadi perubahan semula mata itu seindah laut namun kini menjadi memiliki pola seperti gabungan antar mata rubah dan katak.

"Hinata"

Ucapnya sekuat tenaga Hinata mencoba mendorong Naruto, dia memukul mukul lemah dada bidang peria itu mengerti apa yang dia lakukan pada Hinata saat akan mengerakan miliknya untuk keluar pukulan Hinata berhenti raut wajahnya seolah menahan sakit.

"berhenti, sakit Hik" isaknya.

"maaf, maafkan aku Hinata"

Kata Naruto sambil memeluk wanita dibawahnya ini, serba salah sekarang kalo dikeluarkan akan mebuat Hinata merasa sakit dan kalau tidak rasanya seperti dihisab didalam sana, apa lagi ini sampai menyentuh leher rahim Hinata.

"kau bisa bergerak"

Memandangnya mencari kepastian dan dia mendapatkanya sudah terlanjur basah mau bagai mana lagi, dengan perlhan Naruto mengerakan miliknya yang termasuk besar itu. Suara kicauan burung bergema dipagi ini sinar matahari menerobos masuk kedalam kamar ini, sinarnya membangunkan dua mahluk tanpa sehelai benangpun yang menutupinya sedikit demi sedikit mereka membuka mata beberapa detik mereka saling memandang sampai kejadian semalam kembali.

"jangan sentuh aku, pergi kau"

Kata Hinata menendang Naruto sampai jatuh, sedangkan dirinya menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut ranjang itu saat akan berdebat Hinata melempari Naruto dengan bola energi tak mau membuat kegaduhan Naruto memilih mengalah.

Sedangkan diluar Naruto hanya menghela nafas berat, tak mengerti dengan kondisinya sendiri tak pernah dirinya mengalami hal seperti ini dan selama ini tak pernah mengalami gejolak mana seperti semalam. Tak tahu kenapa ada sesuatu yang berubah didalam tubuhnya terasa sekarang merasa lebih ringan, tak mau berlalut dirinya membersihkan tubuhnya dan bersiap pergi ke akademi.

Dilain tempat terlihat dua orang tengah melakukan pembicaraan dengan sesosok rubah berekor sembilan, ditemani dua gelas kopi dan sepiring ikan untuk sang rubah.

"bisa dipastikan, kalo gaki adalah guardian" kata Kurama.

" lalu ada lagi yang kau dapat, Kurama" kata Minato.

"sedikit yang tahu, sebenarnya mereka akan sangat lebih bahaya pada penggangu wanitanya dalam keadaan apapun mereka akan datang jika wanitanya dalam bahaya. tenang itu berlaku untuk orang tuanya juga" kata Kurama.

"syukurlah, sayang kita tak bisa ikut campur untuk sekarang" kata Kushina.

"hm"

Berjalan dengan bersandar pada tembok keluar dari kamar mandi ini yang sekarang dilakukan Hinata, rasanya masih terasa sakit akibat kejadian semalam tak lupa kini dirinya sudah memakai seragam akademi saat melewati meja makan dirinya berusaha mengacuhkan Naruto yang menghidangkan makanan untuk mereka.

"Hinata, makan dulu"

Namun tak didengar Hinata, merasa kesal dirinya menghampiri dan mengendong Hinata lalu didudukan di meja makan disana Hinata masih memalingkan wajah dari Naruto merasa stres Naruto langsung melahap makananya.

Seharian ini Hinata seolah menjauhi Naruto, dan karena cara berjalanya yang sedikit tidak biasa membuat teman temanya mengkawatirkan dirinya dan Cuma dibalas senyum dari Hinata. Mungkin tanpa Hinata tahu Naruto selalu mengawasinya dari kejahuan.

"kau sedang melihat siapa" kata Shikamaru.

"tak ada, takbiasanya kau bangun ?".

"nanti malam kita berangkat, ada misi lumayang bayaranya" kata Shikamaru sambil menguap.

"baik"

Malam telah tiba sengaja Naruto tidak pulang dan memilih langsung kerumah Shikamaru sebaga tempat berkumpul, tak berselang lama Gara, Ino dan Choji datang mereka langsung menuju tempat dimana buruan mereka berada. Sebuah tambang tua yang ditingalkan disini mereka mendapat info kalo terjadi pergerakan monster yang abnormal.

Gara lalu membuat mata tiruan dari pasir dan masuk kedalam tambang, alangkah terkejutnya disana dia melihat ratusan monster tengah menambang didalam tambang tak mudah bila melawan mereka sekaligus.

"tampaknya, mereka sedang mencari sesuatu" kata Gara.

"bisa kau lihat apa yang mereka cari, Gara" kata Shikamaru.

Dia lalu mengerakan mata pasirnya keseluruh tambang, disalah satu bagian dia melihat segerombolan Goblin tengah menarik sebongkah batu sihir ukuranya cukup besar tak menunggu lama dia melapor pada Shikamaru.

"ini rencananya, kita runtuhkan kubur mereka bila ada yang selamat langsung habisi" kata Shikamaru.

Namun saat mereka merencanakan taktik sebuah bayangan raksasa menghentikan mereka, saat melihat ternyata bayangan dari Titan armor mereka ketahuan saat mahluk itu memukul mereka berpencar raunganya membuat monster didalam keluar.

"kita langsung serang, kalian bebas mengamuk namun jangan mati" kata Shikamaru.

Choji langsung membesarkan tubuhnya dan melesat menghadapi Titan besi itu, dengan pasirnya Gara mampu menghancurkan banyak mahluk menyeramkan itu sedangkan Ino dan Shikamaru mengurus segerombolan mahluk sejenis kelelawar.

Srtjf

Pedang Naruto diselimuti petir dia lalu menebaskan pedang Hitam itu dan gelombang petir memangsa sebagian besar musuhnya, menghindar dan memengal kepala dari orb setelah itu dirinya mengabungkan sihir tombak api dengan sihir angin, hasilnya tombak itu menjadi semakin kuat dan membara membakar para gobln dan orb.

"sial, seberapa banyak mereka" kata Naruto sambil menebas musuh terdekat.

Dilain tempat Hinata tengah menyapkan makanan dia memotong sayuran sebelum dimasukan panci, entah kenapa dirinya juga memasakan untuk Naruto yang semalam telah mengambil kesucianya namun rasa arah lebih kecil dari memaafkan, disebut memaafkan dirinya belum memaafkan lelaki itu.

"kemana dirinya, sampai jam segini belum pulang"

Ucabnya sambil melihat jam yangsudah menunjukan pukul 21.40 tidak biasanya dia pulang telat, mematikan kompor saat mendengar ada yang mengetuk sedikit harapan jika yang mengetuk adalah Naruto saat membuka pintu alangkah terkejutnya siapa yang mengetuk pintu seorang yang tak mau ditemuinya.

"apa kau sudah selesai main, istriku"

Hinata menjatuhkan sepatula ditangan Toneri sudah menemukanya, ditempat pertarungan tinggal sedikit musuh yang masih berdiri walaupun hanya 2 mereka adalah jendral dan sangat sulit di kalahkan tim Naruto sudah kepayahan begitu juga dua musuh mereka, sampai rasa tak enak tentang Hinata melanda Naruto.

"mati kau".

Dua mahluk itu menyerang dengan mudah bisa menyingkirkan Gara, Shikamaru,Choji dan ino mereka hanya bisa berterik saat dua pedang mengarah pada leher Naruto.

"berisik"

Mata Naruto berubah dengan cepat dirinya pindah dibelakang dua mahluk itu, ditanganya terdapat bola energi Hitam dan langsung diluncurkan pada mereka ledakan besar terjadi kagum itu yang bisa dilakukan rekan timnya setelah itu dirinya menghilang dengan portal dimensi.

Ditempat lain Hinata mematung ketika Toneri membelai pipinya, lelaki itu melompat mundur kala sebuah pedang hampir memotong lenganya pelakunya adalah Naruto dirinya memandang Toneri dengan mata campuran antara sage mode dengan chakra kurama dengan tajam.

"kau sentuh lagi, kucabut nyawamu" katanya dingin.

"kau tak akan bisa menyentuhku dengan tinjumu, sampai disini dulu pertemuan kita akan kuambil kembali istriku"

Lelaki itu langsung menghilang Hinata terduduk dan menangis, melihat hal itu Naruto mencoba menenangkan prempuan ini dirinya langsung mendudukan Hinata di sofa dan memberikanya air untuk minum setelah tenang dia meminta menceritakan apa yang terjadi.

"tenga, aku akan menjagamu" Hinata mulai tenang dan memandang Naruto.

"makan atau kau bisa mandi, aku akan siapkan makanan"

Dan dibalas senyum dari Naruto saat dirinya berdiri lukan dari pertempuran barusan baru dirasa, tangan kanan dan beberapa bagian tubuh mualai pendarahan melhat hal ini menjadkan Hinata panik dirnya bergegas masuk untuk mengambil p3k.

"kenapa kau tak bilang kalau ada misi" kata Hinata.

" itu karena kau menjauhiku, dan maaf semalam aku tahu kata ini tak cukup untuk apa yang aku perbuat namun aku jujur aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi" kata Naruto.

Tak langsung membalas Hinata masih melakukan pengobatan, dirinya melilitkan perban di tubuh Naruto dan terahir adalah tangan kananya.

"aku tak tahu, rasanya aku tak bisa marah padamu Naruto-kun untuk membencimu rasanya sangat sulit".

Tanpa hinata amati sebuah senyum terpasang dibibir Naruto.

Tbc

Yaha balik lagi maaf mungkin ceritanya semakin amburadul dari segi manapun, bila kurang berkenang di setiap ceritaku saya minta maaf dan untuk semua teman teman yang lulus SMA saya ucapkan selamat walau kayakna telat haha.

Dan pesan bagi sebagian orang/pembaca yang tak suka, Autho tak dapat apa apa tak seperti mereka pengarang asli yang dapat hasil dari karyamereka dan walaupun mereka dapat hasil dibalikmitu banyak perjuangan tak perduli apa yang terjadi mereka dituntut DL dan harus tepat waktu.

Yah maaf kalau curhatan singkat ini mengganggu bukan bermaksut gimana gitu, namun hanya curhat bukan untuk mencari musuh atau menyulut perkara bagi sesama penulis atau pembaca.

See you.