Chapter 6

Title: Your Happiness Is My Priority

Disclaimer: Kuroko No Basuke milik Fujimaki Tadatoshi. Lagu dia milikmu bukan milikmu punya Yovie dan Nuno.

Summary: jika aku di tanya apa yang paling berharga bagiku. Mungkin aku akan menjawab 'kebahagiaan orang yang ku sayangi'. Naïve bukan? –chapter 6– "Tolong jangan menangis. Aku tidak tau harus bagaimana caranya menenangkan perempuan." / "Pindahlah ke Rakuzan, kau lebih cocok di sana." / "Aku tak menyangka akan melawanmu Tomoko."

Warning: Akashi x OC/ BL (antar chap 7/8)/ Typo berterbangan/ GAJE/ EYDhampir nihil/ merusak mata, otak, jiwa dan lain sebagainya/ OC/ OOC(terutama Akashi)/ keluarga yang di ubah-ubah oleh Author alur suka-suka Author/ Author yang baru keluar dari RSJ/ cerita bikin Author bingung apa lagi pembaca dan masih segedung lagi yang perlu di ingatkan tapi sekarang Author bingung mau nulis warning apa lagi. Mungkin di chapter mendatang akan ada warning baru.

Rated: T

P/N (Plot Note): Rakuzan menagn WC dan Akashi belum menjadi Oreshi

A/N: Saya sungguh minta maaf jika ini update Lama to the banget. Saat libur lebaran saya sakit dan sekolah menyiksa saya sehingga tidak bisa menyentuh laptop saya tercinta. Di chapter ini mungkin akan lebih absurd dari chapter lainnya.

Anyway Don't like it don't read it. If you still want to read. Have a nice reading.


Chapter 6: Tadaima


Wintercup sudah selesai dan dimenangkan oleh Rakuzan. Misiku gagal total, Sei sama sekali tidak berubah menajadi dirinya yang dulu.

Aku duduk di tangga depan stadium menunggu onggota lainnya berganti pakaian. Dari pada duduk aku lebih seperti meratapi nasib. Hahhh... Kenapa aku berharap? Padahal aku sudah tau melawan Sei itu pasti kalah.

"Oi Tomoko!" Walaupun aku tau di panggil oleh Kagami aku tetep tidak berbalik kearah sumber suara. "Kau kenapa?" Kagami duduk di sebelahku.

Aku memeluk kakiku dan membenamkan kepalaku di antara dada dan kaki. "Aku hanya merasa tidak berguna. Sebagai kekasih Sei aku merasa gagal mengembalikan keperibadi Sei." Aku menghela napas cukup panjang. "Aku tau bagaimanapun keperibadiannya, dia tetap Sei. Tapi jika dia seperti ini terus maka dia akan menyakiti orang disekitarnya dan dirinya sendiri. Aku hanya ingin dia kembali bersenang-senang dan bebas." Aku menahan airmata yang bisa tumpah kapanpun.

"T-t-tu-tung-tunggu! Ka-kamu berpacaran dengan A-Akashi!?" Dia sama sekali tidak tahu apa!? Dasar lemot, jika aku bukan pacaranya kenapa aku mengejarnya saat pembukaan wintercup Bakagami.

"Iya. Kau baru tau?" Aku mengangkat sedikit wajahku dan membenamkannya kembali.

Tak lama setelah aku berbicara dua lengan besar memelukku. Bukan hanya memeluk dia membawaku ke dada bidangnya.

"Tolong jangan menangis. Aku tidak tau harus bagaimana caranya menenangkan perempuan. Lagi pula kau tak sepenuhnya gagal. Buktinya Akashi masuk ke dalam zone. Dan anggota kiseki yang lain sudah menyadari kesalahan mereka. Juga kelompok kita masih utuh walaupun kalah." Kagami mengelus-elus kepalaku.

"Kau benar Kagami…" Aku kembali menangus entah karena sedih atau bahagia karena kata kagamu benar. Mungkin aku terlalu banyak pikiran.

(-o-)

Aku dan Kagami berjalan ke arah kermunan Seirin. Di sana aku juga melihat anggota kiseki kucali Sei.

"Tomo-chin… jangan sedih…" Murasakibara memelukku dari belakang dan menaruh kepalanya di pundakku.

"Aku tidak apa-apa Murasakibara-kun." Aku mengelus-elus surai ungunya.

"Walaupun kalian kalah kalian keren saat bertanding-ssu!" Kise dengan antusias menghibur kami.

"Jangan terlalu di pikirkan, Akashi memang seperti itu. Aku mengatakan ini bukan karena aku ingin menghibur nanodayo."

"Walaupun kau gagal mengembalikan kepribadian Akashi seperti dulu, kau sudah berhasil membuat kami sadar Tomo." Aomine mengacak-acak rambutku.

"Terima kasih semua. Aku senang kalian sudah kembali seperti dulu." Aku tersenyum. Decitan sepatu terdengar sangat jelas. Dan sumber itu berasal dari kelompok Rakuzan yang berjalan ke arahku. Lebih tepatnya 5 laki-laki.

"Tomoko. Aku akan menawarkanmu sesuatu. Pindahlah ke Rakuzan, kau lebih cocok di sana." Sei membuka suara dinginnya.

"Maaf aku menolaknya."

"Bagaimana jika kita buat taruhan? Bulan Januari akan ada pertandingan persahabatan antara Seirin dan Rakuzan. Jika Rakuzan menang kau harus pindah ke Rakuzan dan jika Seirin menang-"

"Kau harus meminta maaf kepada semua orang yang sudah kau rendahkan. Dan kau harus kembali seperti dulu bagaimanapun caranya."

"Aku terima." Sei menyeringai dan menatap tak suka ke arah Anggota Seirin. Setelah puas dia berbalik dan pergi.

"Sampai nanti~" Mibuchi mengedipkan sebelah matanya yang disusul merinding disko anggota Seirin.

"Pertandingan nanti pasti menyenangkan!" Hayama menyilangkan tanggannya di belakang kepalanya dan mengikuti Sei.

"Aku lapar, ayo rayakan kemenangan kita dengan makan gyuudon!" ini sama sekali tidak nyambung…

"…" aku mendapatkan tatapan dari Mayuzumi. Aku hanya membalas tatapannya dengan tatapan bingung. "Aku meghormatimu karena kau berani melawan Akashi." Dipun menyusul yang lain.

Aku akan berusaha untuk pertandingan nanti.


"50 putaran lagi!" Kantoku berteriak kearah anggota basket yang berlari keliling lapangan.

"Bisakah kita istirahat?" Hyuuga-senpai memohon kearah aku dan Riko-senpai. Tentunya sambil berlari.

"Kalau kalian capai boleh kok. Duduk saja di bench dan aku akan membagikan minuman dan handuk." Beberapa di antara mereka bersorak gembira dan membelokan arah lari mereka ke bench. Tentu saja Onii-chan tidak ikutan bersorak gembira. Sepertinya dia membaca pikiranku atau batinku, mengingat kita kembar. Sebelum mereka duduk aku berkata lagi. "Tapi setelah istirahat kalian harus berlari 5 kali lagi." Mereka tambah tersenyum mengingat mereka harus berlari 50 kali jika tidak istirahat. "5 kali kompleks perumahan di sekitar sini." Mereka langsung mengurungkan niat dan kembali berlari lagi.

"Kau terlalu sadis melatih timmu." Suara yang tak asing di telingaku itu menyentuh saraf pendengaranku lagi. Arah suara itu dari pintu GYM yang dekat denganku.

"Aku ingin melihat kemampuan mereka-" aku berbalik kearah orang tersebut. "Aomine-kun. Jangan lupa aku membiasakan mereka untuk tidak bolos. Tidak seperti seseorang yang kulitnya redup, bodoh, dan HENTAI." Aku menatap lurus kedua mata berwarna seperti lautan dalam.

"Hei! Semua laki-laki saat masa remaja itu hentai! Kalau dia tidak hentai itu tidak normal." Aomine membela dirinya. Entah Aomine itu AHOmine atau dia memang menyadarinya jika dia itu AHO. Kenapa? Dia sama sekali tidak mengelak saat aku berkata dia bodoh.

"Onii-chan tidak hentai. Sei juga tidak." Aku kembali menatap timku yang masih berlari.

"Tau dari mana mereka tidak hentai?"

"Aku tidak pernah sekalipun menemukan majalah porno di kamar Onii-chan. Di file laptopnya saja tidak ada sama sekali. Kalau Sei, itu ooc sekali kalau dia mesum." Akashi dan Onii-chan mesum, apa kata dunia!? (Chizu: dunia tidak bisa berbicara Tomo-chan)

"Sebenarnya mereka itu pasti mesum… Jika tidak mereka tidak akan mimpi b-" Aomine berhenti berkata-kata. "ARGH! Aku tak akan menjelaskannya! Aku kemari hanya ingin membantu tim kalian, bukan untuk bolos. Aku sudah ada izin jika tidak percaya." Aomine menepuk kepalaku sekali dan berjalan kearah timku yang tepar. Aku hanya menggambil handuk dan minum untuk mereka.

Semenjak hari itu Tim kami mendapat pelajaran tambahan dari Aomine. Kemajuan yang paling mencolok adalah Kagami, mengingat dia selalu one on one dengan Aomine saat latihan. Bukan one on one yaoi ya aku belum sebejad Author (Chizu:*jllleeeeb*).


Hari yang di tunggu-tunggupun tiba, hari dimana Seirin melawan Rakuzan. Saat pulang sekolah tim Rakuzan datang ke Seirin. Aku menyambut para anggota Rakuzan di depan gerbang. Mereka datang dengan mobil-mobil pribadi Sei, bukan kejutan baru bagiku tapi kejutan bagi siswa lain.

"Selamat datang Sei dan kelompok Rakuzan. Tolong ikuti saya untuk ke GYM." Setelah menunduk sedikit aku berbalik badan dan pergi ke arah GYM.

Di tengah perjalanan aku mendengar bisikan-bisikan dari siswa-siswi Seirin. Contohnya saja "Lihat murid Rakuzan, mereka pintar-pintar loh!" lalu, "mereka cakep-cakep ya~" dan "Lihat pemuda berwarna merah itu, namanya Akashi Seijuurou. Katanya selain cakep dan pintar dia kaya loh! Aku ingin menjadi pacarnya kalau bisa jadi istrinya deh!" aku hanya menahan emosi ke grombolan murid permempuan yang menyebalkan itu.

"Sepertinya keadaan hatimu sedang tidak baik Tomoko." Sei berjalan di sebelahku.

"Seperti itulah. Jangan lupa janjimu ya Sei."

"Aku tak akan melupakannya." Kamipun sampai di GYM aku mengantar mereka ke ruang ganti. Saat mereka semua sudah masuk dan aku beranjak pergi tetapi Sei menahanku dengan menggenggam tanganku.

"Ada apa Sei?" dia membisikan sesuatu padaku dan masuk ke dalam ruang ganti. Saat itu juga wajahku memerah. "Apa-apaan sih!?"

"aku dengar dari Tetsuya kau mengatakan aku tidak mesum. aku akan membuat kau berubah pikiran setelah aku menang. Tenang sayang, aku akan pelan-pelan untuk pertama kali."

"ARGHHHHH! Aku benci pelajaran biologi dan hormon!" aku berlari ke lapangan dengan wajah memerah.


Pertandinganpun dimulai. Seirin mendapatkan bola dan menyetak score. Saat quarter pertama aku merasa ada yang janggal. Kelompok Rakuzan tidak begitu banyak melakukan offense, mereka lebih memilih defense.

"ISTIRAHAT!" teriakku saat quarter 1 akan di ganti dengan quarter 2. Aku memberikan minum kepada anggota timku. Mereka memasang wajah berseri-seri mengingat skor kami 30-15. Tapi aku merasa sesuatu yang janggal…

Quarter ke duapun dimulai. Dan semuanya berubah, anggota Rakuzan melakukan perlawanan balik. Offense maupun defense mereka sangat kuat. Dan aku menyadarinya sekarang. Mereka memang sengaja membuat kami mengeluarkan beberapa kartu as kami di quarter pertama. Selain alasan mengetahui gerak kami, mereka juga menginginkan setamina kami berkurang. Maka dari itu mereka melakukan defense bukan offense.

Pertandingan semakin sengit saat quarter 3. Terutama saat Onii-chan memakai emperor eyesnya. Jangan lupa Kagami masuk ke dalam zone, begitupula Sei. Di pertangahan Quarter semakin memanas.

"HIYAAAAAA!" Kagami melakukan Dunk dengan mengeluarkan suara sangat berisik. Seirinpun memimpin skor 100-98 tekanan pada Rakuzanpun bertambah.

Setelah itu Rakuzan kembali bangkit. Sei juga melakukan zone sharing, tapi bagiku itu lebih mirip zone wireless. Di akhir quarter Sei mencetak skor dengan dunknya. Rakuzan meminpin 120-135.

Kedua kelompokpun beristirahat sejenak. Aku berpikir keras untuk memenangkan pertandingan mengembalikan Sei, jika bisa. "Kantoku, aku mempunyai permintaan tolong-"


"Quarter ke 4 dimulai." Rakuzan memakai Mibuchi, Hayama, Nebuya, Mayuzumi dan Sei. Sedangkan Seirin Kagami, Hyuuga-senpai, Kiyoshi-senpai, Onii-chan dan Aku. Benar, kalian tak salah baca atau author salah ketik. Memang aku yang ikut bertanding.

(flashback)

"Kantoku, aku mempunyai permintaan tolong masukan aku ke dalam tim di quarter terakhir ini" Aku menatap Riko-senpai dengan tatapan serius.

"Kau tak salah Tomo-chan? inikan pertandingan melawan laki-laki mana boleh?"

"jika diingat-ingat Sei berkata 'Bagaimana jika kita buat taruhan? Bulan Januari akan ada pertandingan persahabatan antara Seirin dan Rakuzan.' Dia tidak berkata 'Tim basket Seirin' atau 'pertandingan laki-laki' dengan kata lain seluruh murid Seirin bisa berpartisipasi. Lagi pula ini adalah pertandingan persahabatan tidak ada masalah jika mereka menyetujuinya. Percayalah padaku."

"Baiklah aku akan bertanya kepada coach Rakuzan." Riko-senpai berjalan menuju bench Rakuzan. Tak lama kemudian dia kembali dan berkata "Mereka mengijinkannya. Begitu pula aku. Good luck Tomoko, menangkan pertandingan ini."

"Arigatou Senpai." Aku tersenyum ke arah timku dan beranjak untuk mengganti baju. Saat aku beranjak lengan kuat itu memengang tanganku. Aku berbalik dan mendapatkan Onni-chan memasang wajah khawatirnya.

"Aku akan baik-baik saja Onni-chan. Jangan terlalu khawatir, jika Onii-chan yang mempunyai penyakit jantung saja bisa kenapa aku tidak?" akupun melepaskan genggaman tangan itu dan berlari ke arah ruang ganti.

(end of flashback)

Dan disinilah aku sekarang. Berjuang untuk mengharumkan nama Seirin. Em… entah kenapa aku merasa Alay mengatakan 'untuk mengharumkan nama Seirin'. Anyway, aku memakai jersey yang ku pesan hanya untuk iseng awalnya. Jersey Seirin seperti yang lain dengan nomer 18. Selain memakai jersey aku juga memakai sweatband merah di tangan kananku dan pelindung lutut yang terbuat dari karet di lutut kiriku. Jangan lupa rambutku seperti biasa di kuncir ekor kuda.

Rakuzan memegang bola di quarter ini dan Hayama dan Mayuzumi melakukan alley-loop sayangnya di tahan oleh Kiyoshi-senpai. Bola menjadi milik Kagami dia langsung berlari dan berusaha mencetak angka tetapi Sei dan Reo melakukan defense. "Tetsuya!" Kagami mengoper bola ke Onni-chan dan Onni-chan mengopernya kepadaku.

"Aku tak menyangka akan melawanmu Tomoko." Sei melakukan mark padaku. Aku berusaha memasukan bola tetapi Sei tetap melakukan defense. Aku melihat Kagami berada di belakangku.

"Maafkan aku Sei." Aku membanting bola ke tanah sehingga bola itu melambung tinggi. Di saat Sei fokus ke arah bola aku memosisikan diriku di belakangnya. Di saat bersamaan Kagami meloncat dan memberikan bolanya padaku. Setelah mendapatkan bolanya aku menembakan bola dan mencetak skor.

Aku melihat Sei tersenyum kearahku. "Jadi ini basket yang kau ingin tunjukan padaku Tomoko?"

Tunggu, aura ini. Aku menatap wajahnya tepatnya kedua matanya, Merah. "Sei-kun?" mataku berkaca-kaca.

"Maaf aku baru datang." Dia tersenyum, senyum yang sudah lama tak terlihat. "Sebenarnya aku ingin memelukmu sekarang tapi aku akan menundanya mengingat kita di tengah pertandingan." Akupun mengangguk.

Setelah kejadian Pertarungan semakin memanas. Hingga 2 menit sebelum pertandingan terakhir skor kami seimbang 155-155.

Mibuchi menembakan shootnya tetapi gagal sehingga bola menjadi milik Onii-chan. Aku dan Kagami berlari ke ring Rakuzan. Onii-chan memakai Ignite pass kai dan sampai pada Kagami. Kagami di block oleh Nebuya dan Mayuzumi.

Akhirnya aku mendapat bola dan berusaha melakukan fake. Fake yang sama saat aku bertarung dengan Kagami. Pertama aku memastikan lawanku mengikuti gerakanku. Dan lawanku tidak lain adalah Sei. Kekanan, kekiri lalu aku berputar kekanan dan meloncat. Sei ikut meloncat walaupun loncatannya pendek, dan aku tak melakukan shoot. Setelah menginjak tanah aku kembali meloncat dan menembaknya.

Di saat aku berusaha meloncat Sei berkata "Tomoko, kau tidak pernah berubah ya. Kau masih saja naïf tapi aku menyukai sisi naïfmu juga." Sei tersenyum dan meloncat lebih tinggi dan lebih cepat dariku dan memblock bolaku. Jadi dia melompat pendek hanyalah fake? Sei mendorong bola sehingga bola tersebut lepas dari tanganku.

*PRIIIIIIIIIITTT*

"Pertandingan selesai, Seirin dan Rakuzan seri!" Wasit berteriak keras. Semua penonton dan pemain hanya bisa diam.

*Plok* *Plok* *Plok*

Kami semua tertuju kearah tepuk tangan yang berasal dan Kise. Setelah itu lapangan penuh dengan tepuk tangan. Kamipun berbaris dan memberi salam. Aku berdiri tepat di depan Sei.

Aku menundukan kepalaku, menutupi ekspresiku tepatnya. "Tomoko?" Sei mendekatiku dengan nada khawatir.

Saat dia tepat di depanku aku mengangkat wajahku dan menampar wajahnya. Sei hanya bisa memegangi pipinya dan lapangan menjadi riuh lagi. "Itu karena kau membuatku takut!"

Aku mengangkat tanganku tinggi-tinggi, Sei sudah pasrah dan memejamkan mata. Aku memegang pipinya dan menciumnya tepat di bibir. HEI aku malu tau! (CG: Tomo-chan, tidak ada yang nanya. Tomoko: #nyiapin benda tajam. CG: #kabur)

Aku menydahi ciuman singkat itu. "Itu karena aku rindu padamu." Aku membuang mukaku yang berblushing ria. Aku hendak berbalik namun tubuhku dipeluk oleh Sei.

"Tadaima Tomoko." Sei membenamkan wajahnya di pundakku sedangkan aku mebenamkan wajahku di dada bidangnya.

"Okaeri Sei." Aku menikmati momen ini dan melupakan sorak-sorak dari penoton atau teriakan iri.


"Tomoko, kau pulang dulu ya. Aku ada urusan dengan kantoku sebentar. Kalau bisa pulanglah dengan Akashi-kun mengingat ini sudah sore." Onni-chan berbicara panjang lebar saat aku menunggunya di depan ruang ganti.

"Baiklah Onni-chan. Sampai bertemu di rumah." Aku melambai dan berjalan kea rah ruang ganti Rakuzan. Pintu ruang ganti tersebut sedikit terbuka karena penasaran aku mengintip dari celah tersebut.

"Mengintip itu tidak baik Tomoko." Sei membuka pintu ruang ganti tersebut.

"Ehehehe, aku ingin menunggumu saja kok, aku tak bermaksud mengintip. Ayo pulang Sei!" aku menggandeng tangannya.

"Kau masih pelupa ya Tomoko." Aku memandang Sei dengan tatapan bertanya. "Aku sudah tidak tinggal di Tokyo lagi."

"Ah iya… aku lupa." Aku merasa kecewa tidak bisa pulang bersama lagi. Dulu saat SMP aku sering pulang bersama Onni-chan dan Sei bersama-sama. Ya walau dia akan di jemput di perempatan dekat rumahku mengingat rumahnya sebenernya sangat berlawanan arah.

"Kalau tak salah rumahmu ada satu kamar tamu bukan?"

"Iya, memang kenapa?"

"Aku akan menginap di rumahmu hari ini mengingat besok Sabtu. Anggota lain sudah aku suruh pulang dengan mobilku."

"Baiklah. Ayo kalau begitu tapi sebelum itu aku ingin mampir ke beberapa toko dulu." Aku berjalan beriringan dengan Sei.

Setelah aku dan Sei keluar dari gerbang sosok itu muncul lagi dari kegelapan. "Cih, kupikir dengan konflik SMP hubungan mereka akan meregang. Lihat saja, Dia akan menjadi milikku bukan milikmu."

To Be Continue


A/N: YAK akhirnya chapter ini selesai juga! Maaf kalau terlalu chessy atau aneh dan semacamnya… #pundung di pojokan

Saya akan mengulang-ulang ucapan terima kasih untuk: Kinto Kin, AyumuIshikawa, Kitami Misaki, Silvia-KI chan, Juvia Hanaka, Aoi Yukari, Kumada Cihyu, Rin, Jo, , sakazuki123, kuroiyazoi, Leonia Otaku, Golden Eye, , Nijigengurl, bubletea, Reina Reiss, Harukawa Ayame, Zhang Fei dan semua silent Reader. ME LOPE YOU! Begitu kalau saya meniru kata-kata tuan saya tercinta. #tuan saya iitu cewek loh (ada yang nanya? KAGA!)

Oiya, ini ada beberapa OMAKE yang entah kenapa muncul saat saya ketiduran belajar Ekonomi #hiks besok ulangan TT^TT


OMAKE 1

"Ne Sei, aku penasaran dirimu yang satu lagi itu menghilang atau bagaimana?" aku memilih-milih barang di suatu toko.

"Dia dan aku sekarang sudah tercampur menjadi satu Tomoko." Aku hanya menghemria tanda mengerti.

"Oiya aku ingin menepati janjiku." Sei tersenyum kearahku.

"Kau ingin minta maaf ke semua orang yang kau sakiti?"

"Bukan." Sei mendekatkan dirinya ke telingaku. Sei berbisik, "Aku ingin menegaskan aku juga mesum. Jadi, kau harus bersiap malam ini Tomoko~"

Mukaku langsung memerah. "SEI WA HENTAI!" dia hanya menertawakanku.

End


OMAKE 2

Setelah aku dan Sei keluar dari gerbang sosok itu muncul lagi dari kegelapan. "Cih, kupikir dengan konflik SMP hubungan mereka akan meregang. Lihat saja, Dia akan menjadi milikku bukan milikmu."

"Pergilah kamu sekarang juga jangan pernah mendekatinya~ kamu tak akan mungkin menda-"

"Oi! Lu kenapa nyanyi-nyanyi dah Author!" bayangan itu memarahi Chizu yang entah dari mana muncul. Kayak setan aja ya tuh anak…

"Gue hanya bernostaliga mengingat saat aku karoke dengan Jo." Tiba-tiba latar belakang suaranya orang-orang sopran dan Tenor bernyanyi dengan nada tinggi 'haaaaaa' atau 'aaaaaaa' atau semacamnya.

"Setau gue lu gak nyanyi lagu Indo dah." Si misterius bersweatdropria.

"Suka-suka gue! Emgnya gue karoke harus di tempat karoke? Gue sering kok karoke di sekolah atau di bus dan lain-lainnya dasar –" Si Author langsung di bekap mulutnya.

"Jangan sebut nama gue!"

"Apaan dah –emmmmmmm!" pada akhirnya si Author dibekap oleh si misterius.

"HA! Mimpi yang aneh!" Chizupun bangun dan melihat jam. "WHAT THE! UDAH JAM 4 SORE! GUE BELOM APAL EKONOMI 100% FF BELOM SELESAI GAME BELOM SELESAI!" mari berdoa untuk Chizu yang kehilangan banyak waktu gara-gara ketiduran.

End


A/N: gak jelas banget ya ==. Apapun itu, tolong tinggalkan Review~ Di Fav dan Follow atau PM juga boleh. sebenernya saya bingung mau di lanjutin atau di hapus atau tamatin aja disini. Watashi wa kaninarimasu! #udah salah fandom ngaco lagi ngomongnya.

Sign,

ChizuGawa