SEMUA TOKOH DALAM CERITA INI MILIK PENGARANG ASLI MEREKA BESERTA LAGU YANG MUNGKIN ADA
BILA ADA KESALAHAN MOHON MAAF
Bunyi seperti reruntuhan bergema dari berbagai arah,dari kejahuan terlihat mahluk yang menyeramkan yang kini mengarah pada ribuan orang dengan beranekaragam jenis sihir sebuah teriakan menjadi awal bentrokan yang sanggup menghancurkan gunung, di dalam mahluk itu terdapat seorang wanita.
Terbangun dengan nafas tak teratur, itu yang kini menjadi kebiasaan Hinata semenjak beberapa hari yang lalu mimpi itu terus kembali dalam tidurnya. Mengambil segelas air disamping ranjangnya dan meminum tandas isinya, pandanganya beralih keluar semburat jingga telah terlihat pertanda raja siang akan kembali berkuasa.
"aku lebih baik bangun saja"
Setelah merapikan tempat tidurnya dirinya menemui Naruto, lelaki itu kini tertidur dimeja ruang tamu mellihat hal itu Hinata kembali masuk kedalam kamar untuk mengambil sebuah selimut. Merasa ini percuma karena mungkin lelaki pirang ini sudah disini semalaman namun tetap prempua itu lakukan.
Setelah menyelimuti Naruto Hinata menuju dapur untuk mengolah bahan makanan untuk mereka, setelah memasukan beberapa bahan kare ahkirnya jadi bau masakan terasaa mengoda siapa saja yang menciumnya. Tergoda untuk mencicipi masakan itu saat tengah menyiapkan masakan di piring Naruto sudah berdiri didepan meja, matanya belum terbuka sempurna pertanda bahwa pria pirang itu belum seutuhnya bangun.
"pagi...huam" katanya.
"kau mandi saja dahulu, mungkin bisa membuatmu bangun" kata Hinata.
"hm"
Berjalan seperti zombi menuju kamar mandi, naas saat akan masuk dirinya salah ujungnya tembok dirinya tabrak menahan tawa itu yang kini Hinata pelakunya hanya memandang kesal dan langsung masuk kedalam untuk mandi.
"dasar"
Dirinya langsung membuat minuman untuk mereka, tak berselang lama Naruto selesai melakukan kegiatan paginya tak seperti tadi dirinya kini terlihat lebih segar, tak mau menunggu lama pria itu langsung menuju kursi di meja makan untuk memakan hidangan yang sudah tersaji.
"nampaknya,kau menjalani misi yang berat Naruto-kun?" kata Hinata.
"lumayan, sebenarnya aku baru pulang jam 4 pagi" kata Naruto.
"kau bisa tidur lagi."
"acaramu, untuk hari ini apa?" kata Naruto.
"tidak ada,memang ada apa"
"tak ada, kalau begitu aku bisa tidur nyenyak sedangkan kau jaga rumah".
"dasar"balas Hinata.
Lelaki pirang itu langsung merebahkan kembali tubuhnya di Sofa, tak lupadirinya menyalakan radio yang kebetulan menyiarkan lagu All of me lama kelamaan dirinya memasuki alam mimpi. Saat kembalinya dari dapur Hinata hanya memandang sejenak Naruto yang sudah pindah alam.
"eh,cepat sekali tidurnya"
Ucapnya sambil melambaikan tanganya di depan wajah Naruto, tak mau menggangu rubah yang tidur Hinata memandang ruangan sekitar membersihkan ruangan ini lebih baik hampir menyelesaikan pekerjaanya sebuah ketukan dia dengar, saat membuka pintu ternyata adalah Choji.
"ah,Choji-san ada apa?" kata Hinata ramah.
"begini,ada misi untuk kita dirimu dan Naruto dipanggil keakademi" ucap Choji sambil makan kripiknya.
"baik,trimakasih" kata Hinata.
Dia lalu membangunkan Naruto sedikit sulit memang tapi ahkirnya berhasil,sedikit mengumpat memang karena hal seperti ini dia dan Hinata sudah siap dengan pakaian lengkap mereka mempercepat waktu Hinata ditarik dengan sihir ruang dimensi Naruto.
Setelah sampai mereka berbarengan dengan datangnya teman-teman yang lain, mungkin Naruto tidak sadar sedaritadi dirinya terus memegang erat tangan Hinata seperti tak membiarkanya pergi dari sisinya dan hal itu diketahui Tsunade.
"nampaknya kalian sudah berkumpul"ucapnya sambil memandang satu persatu.
"langsung saja,semalam istana diserang namun bisa digagalkan" ucapnya.
"APAA"
Dan reaksi Naruto yang lebih keras,kabar ini sukses mengusir rasa ngantuknya dan diganti rasa marah namun dapat cepat padang saat sebuah tangan mengusap dadanya melihat siapa pemiliknya yang telah pasti itu adalah Hinata,amarah itu kini padam dan raut serius dia pasang.
"tugas kalian adalah, untuk menjadi pasukan cadangan kalian berangkat siang ini".
Mereka satu persatu keluar dari ruangan itu,sepanjang jalan dilorong raut Naruto selalu serius sorot mata biru itu menjadi tajam dan dingin sangat berbeda jauh dari Naruto yang Hinata kenal selama ini. Sedikit rasa kuatir hinggap dihati Hinata dengan keadaan Naruto sekarang.
"Hinata, bisa ikut aku kesuatu tempat".
"eh,mau apa?" ucap Hinata terkejut.
"kita mengambil sesuatu" balas Naruto.
Kini mereka sedang berjalan pada jembatan kayu yang menjadi jalan di daerah hutan bakau, rasa heran Hinata semakin besar kenapa dirinya diajak sampai ketempat ini namun diurungkan saat melihat raut serius diwajah Naruto. Saat sudah melewati hutan bakau lebih tepatnya di tengah-tengah hutan Hinata melihat sebuah rumah cukup sederhana berdiri kokoh diantara rimbunya pepohonan, tak mau menunggu lama lelaki pirang itu mengandeng masuk Hinata.
"selamat datang"
Saat masuk mereka disambut pria tua, Hinata memandangi isi ruangan itu tempat itu bergaya klasik mirip bar klasik nuansa itu kental diruangan ini. Naruto dia memesankan dua minuman untuk mereka bartender itu langsung menyiapkan pesanan mereka.
"kalau mau minum,kenapa kemari?" kata Hinata.
"siapa bilang Cuma beli minuman,ah itu dia sudah datang" ucap Naruto.
Dari tangga turun seorang wanita sekilas hampir mirip dengan Hinata, prempuan itu tersenyum kala melihat Naruto dan menghampirinya sedikit mengkerutkan alis saat melihat wanita duduk disamping lelaki pirang itu.
"wah, tak biasanya kau membawa wanita Naruto" ucap prempuan itu.
"langsung saja,Shion aku butuh pistolku dan jangan lupa perkuat" Kata Naruto sambil meminum minumanya.
"kau beruntung,aku baru dapat barang bagus aku ambilkan sebentar lama mungkin tak apa sekalian kau bisa bercinta dulu dengan prempuanmu" balasnya dengan kedipan mata di ahkir sebelum berlalu.
Naruto lalu merangkul Hinata wanita ini hanya memandang heran pada Naruto, dirinya langsung mengunakan bahu Hinata sebagai bantalan kepala kuningnya itu.
"nyamanya".
"bangun,apa yang harus kukatakan saat shion-san datang" kata Hinata.
"haha, aku belum tidur" kata Naruto masih terpejam,merasa tidak cukup dia mengunakan paha Hinata untuk bantal alternatip.
Hinata hanya menghela nafas ahkir-ahkir ini Naruto menjadi sedkit manja padanya setelah hari itu, setelah meminum minumanya Hinata menerawang kearah langit-langit mimpi semalam masih menjadi pikiranya wanita itu. Wanita itu serasa pernah Hinata lihat namun dimana?.dirinya lupa dan yang pasti bukan hal baik tentang mimpi itu.
"eh,rubah itu tidur" kata Shion ditanganya terdapat dua kotak.
"mungkin,dia lelah" balas Hinata.
"ho, dan kau hebat juga bisa menaklukan rubah kuning itu" kata Shion sambil menunjuk Naruto.
"tidak, aku malahan diselamatkan olehnya" balas Hinata.
"hm,ini senjata sesunguhnya lelaki yang tidur dipangkuanmu itu"
Shion lalu membuka kotak merah yang dia bawa,Dua senapan revolver hitam dengan ukiran kepala rubah berwarna putih sedangkan kotak satunya senapan yang lebih elegan namun memiliki ukiran rubah berwarna ungu itu yang melintas dibenak Hinata shion hanya tersenyum tipis.
"ehm,jam berapa sekarang" kata Naruto setengah sadar.
"jam 12.30" jawab shion.
"Hinata, kau ambil yang putih itu untukmu" kata nya disela melakukan peregangan.
"tapi in"
"ambil saja,ayo aku tidak mau kena sembur".
Setelah berpamitan dengan Shion mereka kembali ke akademi disana sudah berkumpul tim yang akan ditugaskan di istana, mereka serempak memandang dua anggota yang baru datang . Lebih tepatnya pada pria kuning yang selama ini mereka kenal dengan aura hangat nan cerah, namun kini bahkan melebihi aura dingin sang Uchiha sasuke kekasih Haruno Sakura.
"apa benar, orang itu Naruto" bisik Kiba pada Shikamaru.
"apa matamu rabun, sangat jelas itu si kuning merepotkan" balas Shikamaru.
"gerr" umpat Kiba.
Mereka telah lengkap berada pada tugu teleport, tempat ini sering digunakan untuk mengirim siswa akademi ke tempat misi yang mereka terima setelah memeriksa semua telah lengkap Ino langsung mengaktipkan sihir yang sudah ditanam ditempat itu.
Lingkaran sihir muncul di tengah tanah lapang di sisi istana mengeluarkan satu regu dari akademi Konoha, kedatangan mereka disambut pasukan istana mereka dipandu untuk menemui raja yang sudah menungu mereka. Perjalanan menuju tempat raja bisu seribu bahasa tak ada yang membuka percakapan sampi diruang tahtah.
"kalian sudah datang" kata Minato.
"maaf atas keterlambatan kami, yang mulia" ucap Sasuke.
"tak apa, langsung saja aku butuh kalian untuk menjaga ruangan benda terlarang penyerangan terahir menimbulkan banyak korban di pihak kita" ucap Minato.
"apa musuh sebegitu kuatnya, Hingga menimbulkan banyak Korban yang mulia" kata Shino.
"jumplah mereka, sangat cukup Hingga membuatku kerepotan" balas suara yang mereka kenal terutama NaruHina.
"Kurama, dasar rubah tua lama aku cari ternyata kau disini" sembur Naruto.
"langsung saja, kalian akan menjadi tembok kedua terahir untuk menjaga tempat Fuin" kata Minato.
"siap"
Dalam ruangan itu tersisa hanya dua pasang manusia dan seekor kitsune, hening sebentar sampai Naruto menghamburkan tubuhnya untuk memeluk kedua orang tuanya mendapat pelukan tiba-tiba dari anak yang sudah dibilang tidak kecil lagi membuat tubuh dua orang tua itu kehilangan keseimbangan dan jatuh.
"hua.. aku senang kalian tak apa apa" kata Naruto.
"kami tak selemah itu, sudah diam apa kau tak malu dilihat Nata-chan" kata Kushina yang sedari tadi diam.
"cih..apa kau tak malu dilihat wanitamu' oceh Kurama.
Naruto berbalik dan hanya melihat Hinata yang sedang menahan tawa, hal ini membuat cemberut.
"lebih baik, bisa jelaskan orang tolol yang berani menyerang terang-terangan ayah" kata Naruto.
"kau bisa lihat sendiri di bangunan timur, Asuma akan menjelaskanya" kata Minato.
"baik"
Dua orang remaja itu meninggal kan sang raja, setelah yakin mereka tak bisa mendengar pembicaraan Kurama mulai bersuara.
"kuharap gaki tak kaget bila sang kelinci menjadi singa betina hahah" kata Kurama.
"aku sudah siapkan kamar untuk mereka" kata Minato.
"ahkirnya, aku punya cucu" ucap Kushina girang.
"urusi dulu masalah ini, baru kau bisa tenang".
Naruto dia bersama Hinata menuju gedung yang ditunjukan ayahnya, disana adalah tempat introgasi tahanan benarsaja disana mereka disambut asuma sarutobi salah satu dari 12 kesatria penjaga istana dan kebetulan adalah guru mereka di akademi.
"ah, Naruto dan Hinata" kata Asuma.
"langsung saja, mana orangnya" kata Naruto dingin.
Guru perokok itu langsung mempersilahkan dia untuk masuk, mata biru itu menemukan seonggok mahluk aneh tergeletak di atas meja mahluk itu seperti manusia namun yang membedakanya adalah tubuhnya adalah tanaman dan berwarna putih. Bukan disitu saja melihat kesudut lain ada beberapa yang sangat serupa.
"mereka adalah salah satu, dari beberapa jenis yang menyerang tempo hari" jelas Aoba salah satu petugas penyelidik.
"lalu mahluk apa ini?".
"mereka adalah Zetsu, dan mereka adalah mahluk yang paling banyak digunakan untuk menjaga tempat -kun" kata Hinata.
"ehh" pekik semua.
"terimakasih, atas infonya" dengan itu mereka kembali sibuk.
Tak mau menggangu kerja bagian ini Naruto menyeret Hinta untuk keluar, dia mengajak menuju danau tempat dimana dulu dirinya selalu kunjungi letaknya memang tidak terlalu jauh dari istana. Saat melihat tempat ini kata indah keluardari mulut Hinata saat melihat hamparan bunga liar di sekitar danau oh terimakasih atas cuaca cerah hari ini yang menambah indah danau ini, pantulan sinar matahari membuat seolah danau itu bersinar.
"indah, apa tak masalah kita disini" ucap Hinata.
"tidak, aku hanya mau meluangkan waktu bersamamu sebelum aku sangat sibuk" kata Naruto.
"kitakan ditempatkan di bagian yang samakan?".
"bukan, aku yang berada di paling dekat dengan Fuin bersama dengan 8 orang yang lain".
"eh,maksutnya?"
Pria pirang itu hanya tersenyum dia lalu menarik Hinata untuk duduk, dirinya lalu memeluk Hinata dari belakang meistirahatkan dagunya pada puncak kepala Hinata dan memandang lurus pada danau, merasa kurang nyaman prempuan itu menyamankan posisinya sehingga sangat nyaman bersandar pada dada bidang milik Naruto.
"kalau situasi seperti ini, kami pemilik patner ah lebih mudahnya seperti aku dan kurama berada pada garis ahkir untuk menjaga fuin dan bertangung jawab untuk menjaganya agar mahluk yang disegel tak terlepas" kata Naruto.
"memang, disana tersimpan mahluk apa" kata Hinata,prempuan itu mengunakan bahu milik lelaki itu untuk bersandar sehingga dia bisa memeluk tubuh kecil ini dengan lebih nyaman, Naruto hanya tersenyum akan kelakuan malaikat ini.
"percayalah, akan kulakukan apapun untuk menjaga mahluk itu agar tidak lepas".
Mungkin tak mereka ketahui ada beberapa pasang mata yang melihat kelakuan Roman mereka, melalui bola kristal siapa lagi kalau buka raja, ratu Jiraiya bersama istrinya Tsunade yang kadang kelakuan mereka sama somvlak dengan raja dan ratu.
"buah jatuh tak jauh dari pohonya" kata Jiraiya sambil menulis sesuatu.
"jadi, kita akan perang lagi Minato" ucap Tsunade.
"nampaknya, iya dengan keturunan terahir otshuki" kata Minato.
Waktu berjalan cepat tak terasa sudah menginjak Sore hari, dua insan itu terbangun semilir angin dan kenyamanan bersama membuat mereka terhanyut kedalam alam mimpi dua mata yang memiliki pesona sangat menawan itu terbuka, sebuah kecupan Hinata berikan pada sisi kiri pada pipi bergaris tiga itu dan sebagai balasan adalah sebuah kecupan sayang pada dahi prempuan itu.
"ayo,kita kembali sudah waktunya kita berkumpul"
"hm"
Benar saja sesampainya mereka sudah mendapat semburan dari teman teman mereka terkecuali dari Shino,Shikamaru,sai dan Sasuke. Keramaian mereka berhenti saat beberapa orang masuk mereka kagum karena yang baru lewat adalah 7 orang yang berada di bagian ahkir untuk menjaga segel.
"bukanya itu 7 dari 9 orang yang menjaga segel" kata Ino.
"keren, apalagi lihat semua senjata mereka" kata Tenten.
"lalu, dimana yang dua sisanya" kata Lee.
Ditengah pembicaraan mereka tanpa mereka sadari lelaki pirang ini tersenyum, tak mau memperpanjang mereka bubar satu persatu menuju kamar mereka tanda tanya muncul ketika Naruto dan Hinata dibawa oleh pelayan menuju tempat lain yang tidak selokasi dengan teman mereka.
Dan benar saja mata kiri Naruto berkedut sebal dia tahu siapa dalang dari semua ini, bayangan ibu garang berambut merah melintas dibenaknya bagai mana tidak ruangan ini atau kamar berada cukup jauh dari rombongan dan ini adalah kamar pribadi milik Naruto yang kini diubah menjadi berbau roman kamar pengantin, seingatnya kamarnya dulu tidak seremang ini.
"grrr, ini pasti ulah ibu apa juga maksutnya" kata Naruto sebal.
"kalau kau tidak mau, aku akan minta pada ibu untuk pindah Naruto-kun" kata Hinata.
"tak usah, aku punya firasat kalau akan menjadi lebih merepotkan"
Karena kamar mandinya hanya satu Naruto menyuruh Hinata untuk mandi duluan, sambil menunggu dirinya menjelajahi isi kamarnya yang rasanya sudah lama dia tinggal dirinya lalu duduk ditepi jendela menikmati angin sore yang berhembus.
Lamunanya buyar saat Hinata memangilnya dari kamar mandi, saat membalasnya dirinya merasa sangat bodoh bagaimana tidak dirinya terus mengajaknya kesana semari hingga melupakan wanita itu belum mengemasi pakaianya.
"jadi, aku harus bagai mana Naruto-kun" kata Hinata dari dalam.
Bukan salah Hinata dirinya baru ingat saat sudah selesai mandi, rencananya dia akan keluar hanya dililit handuk namun handuk itu terlalu kecil untuk menutupi tubuh moleknya mau tidak mau dia harus memangil Naruto.
"tungu sebentar".
Mau tak mau lelaki pirang itu harus meminta bantuan ibunya,dan disinilah dia diketawai habis habisan dalam hati dirinya berharap Hinata tidak didandani yang aneh aneh dan beruntung doanya dikabulkan.
"aku tinggal dulu Naru-chan ingat kau ada acara dengan 8 pilar lain, dan berikan cucu yang manis buat ibumu ini" katanya sebelum menghilang dibalik pintu.
Jangan ditanya bagai mana wajah dua insan muda itu, untuk meredam malu dirinya langsung menyambar pakaian yang dibawakan ibunya untuk dirinya kedalam kamar mandi sedangkan Hinata dia langsung merebahkan tubuhnya dikasur dan menutupi wajah merahnya dengan bantal.
Beberapa saat kemudian Naruto keluar dan kini penampilanya semakin gagah kala memakai seragam khas pelindung ruang Fuin miliknya, dia memang beda dengan yang lain kini ia memakai jubah jinga dengan disain api perak dibagian bawah, ditanganya dibalut sarung tangan dan didalam jubahnya rompi akademi mereka, dipingangnya bersemat dua pistol.
"Hinata, ayo kita berkumpul" kata Naruto sambil sedikit mengoyangkan tubuh Hinata.
"kita berkumpul dimana?".
"sudahlah,Ayo".
Membantu Hinata untuk bangun dan dia seperti biasa mengandeng tangan mugil itu menuju tempat pertemuan, sedikit tertawa saat melihat beberapa wajah yang nampak terkejut mereka dari Konoha dirinya melepas gandengan tangan Hinata dan dengan isyarat dia pergi menemui 8 pilar yang lain.
"nampaknya, kau sudah punya istri ketua" kata Han dan ditambahi angukan dari patnernya.
"berisik" balas Naruto.
"jadi Hinata rupanya,pantas waktu itu kau meningalkan kami" balas Gara.
"diam kau,panda"sungut Naruto.
Gelak tawa terdengar dari mereka,namun itu semua tidak berlangsung lama suasana tegang kembali menyelimuti mereka sedari awal memang 9 orang ini memang tidak berada sekelompok dengan yang lain.
"sebelumnya,aku minta maaf tidak ada saat kejadian itu" kata Naruto serius.
"langsung saja,beberapa waktu yang lalu ruang fuin bergejolak seperti ada yang ingin membangkitkan mahluk itu" kata Yugito.
"mungkin aku tahu siapa pelakunya" kata Naruto.
"siapa?".
"keturunan terahir, keturunan dari penyegel mahluk itu".
Raut syok tergambar jelas diwajah mereka, pandangan mereka sama perang akan terjadi lagi.
"dari pada seperti ini, kita perkuat kekai aku punya rencana semoga berhasil".
Megesampingkan hal itu dikelompok Hinata dirinya sudah dikerubungi oleh teman-temannya, mereka meintrogaasi malaikat indigo itu perihal Naruto yang selama ini mereka kenal sebagai laki-laki yang dipandang sebelah mata dalam kemampuan.
"jadi,selama ini sibodoh itu menyembunyikan kemampuanya" kata Sasuke.
"apa perlu dijawab"
Pria emo itu hanya mendecit kesal, acara berahir dengan hasil adalah ancaman perang sehinga semua prajurit harus siaga penuh untuk sewaktu waktu bila prang memang meletus. Semilir angin malam menerbangkan helaian rambut biru itu bak sebuah kain sutra , membiarkan surainya ditiup angin prempuan ini bersandar ditepi jendela kamar yang disinari rembulan, perang kata itu masih terngiang dalam benaknya.
"apa...apa memang kita harus perang"
Lirihnya dalam gundah sebuah tangan melingkar pada pingangnya, tak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik tangan kekar itu tangan itu semakin mempererat pelukanya seakan ingin menenangkan dirinya. Angin malam nan dingin yang membelai tubuhnya tak terasa karena rasa hangat dari tubuh lelaki pirang dibelakangnya.
"jika memang, itu adalah jalannya".
Hembusan angin sedikit lebih kuat berbarengan dengan rasa dingin dikulit Hinata memperat pelukan Naruto, pakaian transparan berwarna Hitam itu memang tak membantu entah mengapa akan terjadi badai sebentar lagi.
"Naruto-kun" ucapnya pelan.
"ada apa?"
"sentuh aku"
Langsung wajah lelki itu memerah karena malu, mendapat permintaan tiba- tiba dari wanita ini namun melihat wajahnya menjadi semakin yakin tak perduli apa yang membuat Hinata meminta ini dia langsung melumat bibir tipis itu, dua tanganya tak tingal diam mereka menyusuri lekuk tubuh wanita ini.
"hmn" desah Hinata.
Dia lalu mendorong tubuh kecil itu keranjang dimata biru lelaki pirang ini Hinata malam ini sangat sexi, dia mulai mengisab cuping telinga dan memberi tanda kemerahan pada leher Hinata tak sampai disana dia turun hinga belahan dada bulat kenyal itu.
Dia langsung melepas kain tipis penutup Hinata dan membuangnya kesembarang tempat, sinar bulan menjadi penerang mereka Naruto dengan beringas menghisap puncak alias puting Hinata sedangkan tangan kanan meremas gemas dan satunya memainkan klitori Hinata, bau khas mulai tercium dari lubang sengsama Hinata Naruto menghentikan Hisapan pada dada dan mengantinya pada bagian intim Hinata.
"ahh"
Desah Hinata saat dia mencapai puncak untuk pertama kalinya dalam permainan ini, tak sempat mengambil nafas dia sudah mendapat tusukan pada lubangnya benda besar itu bergerak memenuhi lorong Hinata dengan gerakan cepat dan bertenaga, hanya bisa menutup mata dan mengelengkan kepala saat kenikmata mulai memenuhi kepalanya tanpa sadar tubuhnya mulai melengkung seolah menghidangkan dua dadanya, mendapat hidangan Naruto langsung menerkam dua daging itu.
Merasa kurang puas Naruto lalu membalik Hinata dengan sekali sentak, kini wanita itu dalam keadaan menungging membuat kegiatan keluar masuk Naruto semakin leluasa dia sudah mendapat kenikmata yang kedua kalinya tak sampai disitu Naruto mengunakan dada Hinata sebagai pegangan saat lelaki itu menyemburkan semua benihnya lagi kedlam rahim Hinata, sangat banyak hinga benda panas itu melumer keluar dari rahim Hinata.
TBC
