Chapter 6
SEMUA TOKOH DALAM CERITA INI MILIK PENGARANG ASLI MEREKA BESERTA LAGU YANG MUNGKIN ADA
BILA ADA KESALAHAN MOHON MAAF
Seperti didalam organ tubuh beberapa benda sepert sulur melilit tubuh sosok prempuan yang berada dalam keadaan seperti Salip, pandanganya kosong melihat semua gambar kekacauan perang didepanya melalui benda sepert semua berhenti saat mendengar teriakan dan cahaya terang menyilaukan memudarkan segalanya.
Dengan kasar prempuan itu membuka matanya,nafasnya memburu dia duduk dan menarik selimut hingga menutupi sampai dada semilir angin pagi menerbangkan tirai kamar iya menoleh disampingnya masih terlelap lelaki yang menjamahnya semalam, keringat dingin masih terlihat pada pelipis prempuan itu dia lalu bangkit dari ranjang dan duduk di kusen jendela beruntung hari masih gelap dan ruangan ini tidak dinyalakan lampunya.
"Dasar,ini menyusahkan" gumanya.
Tanpa dia sadari Naruto sudah berdiri dibelakanya, sedikit tersentak kala tangan kekar milik lelaki itu melingkar pada pingangnya namun itu tidak berlansung lama prempuan itu menyamankan tubuh yang masih polos didekapan Naruto.
"Ahkir-ahkir ini, kau nampak punya masalah" kata Naruto dia lalu menuntun Hinata untuk duduk di pinggir ranjang.
"Aku selalu bermimpi,namun mimpi itu terasa sangat nyata" kata Hinata.
"Sudahlah,itu hanya bunga tidur" kata Naruto lembut.
"Mimpi itu, terasa nyata seperti perang dan terus datang beberapa hari ini" balas Hinata sambil menatap mata sebiru samudra itu.
Naruto hanya menghela nafas pendek, tanganya terulur untuk mengusap surai lembut milik prempuan di hadapanya usapanya turun pada pipi cabi itu dia berhenti dan membingka wajah ayu bidadari didepanya.
"Dengarkan aku, terjemahkan semua mimpimu dengan hal positip bila kau menerjemahkanya dengan hal buruk takutnya akan jadi kenyataan tak usah takut ada aku".
Hinata hanya diam dirinya lalu bersandar pada dada bidang Naruto, mengunakan tangan kananya untuk merah jubah milknya dan menyelimuti tubuh Hinata agar angin dingin dini hari tidak membuatnya sakit atau kedinginan. Dirinya menghirup puncak kepala Hinata menghirup bau wangi dari sampo yang sering dia gunakan ,dirinya menerawang ke cakrawala pagi dalam diam memikirkan semua yang terjadi dan langkah apa yang terbaik untuk diambil.
Mentari sudah tinggi dua insan manusia itu sudah memulai tugas mereka masing-masing, cukup banyak yang harus dilakukan namun sebuah diagram sihir cukup besar muncul diatas dan mengarah keistana dalam beberapa saat sebuah cahaya ke emasan seperti laser mengarah ke istana suara dentuman keras dan asap membumbung tinggi adalah sisa dari sinar itu.
Istana mengalami kerusakan yang tidak begitu parah trimakasihlah pada baril yang mengelilingi istana , pasukan istana langsung bersiap mengatasi glombang kedua serangan fajar ini pandangan mereka satu yaitu orang yang melayang di langit siapa lagi kalau bukan Toneri dibelakangnya terdapat ratusan monster gagak dan beberapa mahluk aneh lainya sedangkan didarat setidaknya satu titan kolosal dan dua Titan armor berserta ribuan zetsu.
"cih, keparat kau Toneri!"
Umpat salah satu jenderal yang baru berdiri karena terkubur di salah satu puing kastil yang runtuh dirinya tadi belum siab menerima dampak angin saat serangan bertemu dengan kekai istana, saat berdiri dirinya langsung mendapat printah untuk evakuai warga sipil.
Dan disinilah raja Minato dengan pakaian tempur lengkapnya berhadapan dengan Toneri dan pasukanya, tatapan keras nan tajam Minato bertemu dengan tatapan tenang nan meremehkan milik Toneri dari angkasa pagi.
"Apa yang kau inginkan sebenarnya, cepat jawab!"
"Serahkan tubuh Ryujin dan istriku,Maka kalian akan selamat."
"lebih baik, Kami hancur daripada melepas mahluk itu."
"Jadi, itu jawabanya pasukan serang."
Toneri hanya mengawasi dari langit saat pasukanya bergerak menghancurkan ibukota bangsa elemental ini, saat diluar sana pasukan dengan gagah berani bertarung 8 orang tengah fokus mempertahankan dinding segel yang bergejolak hebat saat mereka sibuk orang terkuat sekaligus pemimpin mereka sedang bertarung melawan dalang kekacauan ini.
"Hebat juga kau, kau bisa menyibukan ayah."
Ucap Naruto sambil mengacungkan pedang Hitamnya pada Toneri, sedangkan lawanya hanya tersenyum remeh dan maju menerjang Naruto dengan pedang cahaya sewarna serangan yang menghantam istana alasan kenapa tak ada satupun yang membantu Naruto adalah karena mereka sudah terkapar lemas karena tenaga mereka diserap oleh Toneri mereka dipaksa menjadi penonton pertunjukan tari kematian ini.
"Cih, sial kita jadi penonton uh."
Ucab Sasuke dan dibalas anggukan yang lain.
"kita serahkan pada Naruto, bila dia tumbang habislah kita."
Bukan hanya diruangan Fuin diluar pertempuran semakin memanas saat Titan Kolosal dan Armor berasil menjebol dinding luar pemukiman penduduk, pasukan darat langsung bertempur sengit melawan zetsu yang seakan tiada habisnya.
"Kakashi, kita tumbangkan tiga itu dulu mereka sangat merepotkan."
"Kau benar Guy, kau tumbangkan kakinya akan kupotong tengkuknya dengan raikiri."
Dengan itu Guy melepas bobot dikaki dan membuka gerbang akibatnya, aura biru menyelimuti tubuhnya bagai menghilang gerakanya sangat cepat hanya dentuman angin dan tiga raksasa itu jatuhtak mau menyiakan kesempatan dengan tangan diselimuti petir Kakashi memotong tengkuk akibatnya tiga mahluk itu mati dan menguap.
Tak sampai disitu mengetahui salah satu komandan akan mengunakan kemampuan terkuatnya pasukan digaris depan langsung mundur benarsaja Asakujaku dari Guy menghantam kerumunan Zetsu, kembali ketempat penyegelan Naruto sudah akan sampai dibatasnya disampingnya tergeletak Hinata yang mencoba membantu namun dengan mudah bisa dikalahkan.
"Kenapa, kau sudah menyerah?"
"tak akan pernah"
Mengunakan sisa kekuatan terahir, dirinya salurkan tenaganya pada pistol ditanganya dan menenbakkan pada Toneri naas seranganya berasil dikembalikan pada Naruto dalam sisa kesadaranya dirinya melihat Hinata yang diambil oleh lelaki itu sebelum kegelapan menelanya.
Sedikit demi sedikit, kesadaran kembali langit kamar rawat yang pertama masuk sedikit pusing memang namun dirinya langsung ingat apa yang terjadi saat akan turun ranjang sembilan ekor menahanya agar tetap berbaring saat menoleh ternyata ada ibunya dan kurama yang sedikit kurus.
"ibu, bagai mana semuanya?"
Raut wajah sendu sudah menjadi jawaban.
"dia berasil membawa Hinata dan tubuh Ryujin."
"jadi, seperti itu."
Tak berselag lama Minato masuk ke dalam ruangan rawat bersama Jiraiya dan Tsunade melihat suaminya datang Kushina langsung membantu Minato untuk duduk, Naruto tak bersuara namun kepalan tanganya semakin mengeras melihat ayahnya sekarang penuh lilitan perban.
"Nampaknya, kau sudah sehat Naruto."
"Hm."
Kata Naruto sambil berpaling menatap keluar jendela, yang ada didalam ruangan itu hanya menghela nafas panjang namun kepanikan melanda Kushina saat anak pirangnya itu tiba-tiba turun dari ranjang dan meraih jubah miliknya.
"kau mau kemana Naruto?"
"Ayah, aku harap semua sudah pulih dalam waktu 4 bulan."
"Tunggu, apa maksutmu bocah?"
"Ero-sannin, walaupun berasil mendapat tubuh Ryujin mau tidak mau harus menunggu waktu 4 bulan kalau ingin membangkitkan mahluk itu ada sedikit waktu untuk menyiapkan pasukan dan."
Terjadi jeda sejenak sampai dibawah kaki Naruto mulai dikelilingi aura energi berwarna emas, bukan hanya itu saja Kurama yang sedang diobati dengan ke8 saudaranya dirinya mengalami hal yang sama tak seperti Naruto dirinya kelimpungan kebingungan setelah itu menghilang kembali ke Naruto dirinya hanya tersenyum simpul.
"Masih ada waktu, Untuk mengambil malaikatku."
Kilatan cahaya menjadi pengiring kepergian Naruto, Minato hanya menghela nafas nampaknya mereka tak bisa melatih Naruto dirinya langsung memberi printah untuk melakukan persiapan perang besar-besaran ke seluruh pemimpin 5 elemen.
Disuatu dimensi alias tempat latihan Naruto dan Kurama suatu tempat dengan keadaan exstrim, gurun pasir sangat luas dengan beberapa batu serupa pilar alam di bagian selatan, hutan teramat sangat lebat dengan suara raungan mahluk buas dibagian Utara dan ombak laut yang ganas, dibagian Barat gunung dengan kilatan petir dan gunung api dibagian Timur.
"Kurama, kau mulai dengan bagian Barat dan selatan kita ketemu di Utara."
"walaupun aku sudah bersamamu cukup lama, tak kusangka kau akan melakukan hal ini."
"Hy, nikmatisaja."
"berlatih dengan 4 dewa dari 4 penjuru mata angin dalam 4 bulan!"
"semoga selesai tepat waktu, Ayo KURAMA"
Dengan itu dimulailah pelatihan Naruto.
