warning!
YAOI/OOC
typos/no eyd/bad plot
romance/tragedy/angst
.
.
Unfair Love
Slice 2
.
-Kamu tidak akan tahu seberapa kuat dirimu, sampai suatu saat, menjadi kuat adalah pilihan satu-satunya-
.
© Dhabum
enjoy
.
.
Sudah hampir satu jam Kihyun menunggu Hyunwoo. Mulutnya sudah menguap berulang kali, padahal hari belum terlalu larut menurutnya.
"Masih disini?" Tegur Hyunwoo lalu mendudukkan dirinya di kursi di samping Kihyun.
"Eum.. Sudah mau pulang?" Tanya Kihyun semangat sambil bangkit dari duduknya.
Hyunwoo mengangguk sebagai jawaban. Setelah berpamitan pada rekan kerjanya, Hyunwoo pun mulai berjalan pulang. Meninggalkan Kihyun di belakang.
"Yaaaaa! Tunggu aku,, aku menunggumu dari tadi asal kau tau,," Kihyun berlari kecil untuk mensejajarkan langkahnya dengan langkah lebar Hyunwoo.
"Pulanglah.. Jangan mengikutiku.." Ucap Hyunwoo acuh sambil memakai sepasang headset di telinga kanan di kirinya.
"Huh.. Dasar tidak sopan.." Gerutu Kihyun. Dengan senyum usil di bibir tipisnya, sedikit berjinjit saat mencoba meraih headset di telinga kanan Hyunwoo, setelah dapat dia memakaikannya di telinganya sendiri.
"Yah kau..-" Hyunwoo membatalkan niatnya untuk protes saat melihat Kihyun yang mulai menikmati lagu yang didengarkannya sambil terseyum. 'manis' batinnya.
"Aku memang manis.. Heheee"
"Huh.. Jangan terlalu percaya diri.." Dengus Hyunwoo.
Kihyun hanya berdecih lirih mendengar perkataan sinis Hyunwoo.
"Sebenarnya.. Apa sih yang membuatmu tidak tertarik padaku?" Celetuk Kihyun saat lama tak ada percakapan di antara mereka.
"..."
"Huh.. Puta-pura tidak dengar lagi.."
Hening lagi-lagi melingkupi dua pemuda itu. Hanya terdengar langkah kaki yang terdengar saling bersahutan. Kihyun sibuk menahan diri agar tidak menggenggam tangan Hyunwoo yang menyenggol tangannya sedari tadi.
"Nah.. Sudah sampai.. Masuklah.."
"Eh..." Bingung Kihyun.
"Masuklah, ini rumahmu kan?"
"Ah.. I iya.." Gagap Kihyun. Bodohnya, jadi dari tadi mereka berjalan ke arah rumahnya. Ya Tuhan, Kihyun tidak menyadarinya sama sekali. Dia fikir, Hyunwoo berjalan lansung ke arah rumahnya, seperti biasa. "Oh... Tunggu.. Jadi hyung baru saja mengantarku pulang?" Kata Kihyun dengan berbinar-binar. Tentu saja, setaunya arah rumahnya dan rumah Hyunwoo berlawanan dari toko tempat Hyunwoo bekerja, jadi Hyunwoo memang sengaja mengantarkannya kan?
"Tidak.. Jangan terlalu percaya diri duluu.." Hyunwoo mulai menjauhkan wajah manis Kihyun yang berada tepat di depan wajahnya. "Aku hanya harus melakukan sesuatu di tempat lain, dan kebetulan saja searah dengan rumahmu.."
"Oh begitu.." Jelas sekali kekecewaan yang tergambar di wajahnya. "Ah tapi tak apa.. Aku tetap menganggap mu mengantarku pulang.." Sebuah senyum cerah terpatri di sana, membuat satu dimple lucu di bawah matanya terlihat jelas.
Selama beberapa detik, Hyunwoo terdiam. Sedikit terpukau dengan dimple Kihyun yang baru saja disadarinya.
"Masuklah.." Setelah berkata seperti itu, Hyunwoo memulai langkahnya meninggalkan Kihyun.
"Huh.. Kenapa susah sekali mendapatkan Son Hyunwoo itu,," kesal Kihyun. "Ah.. Apa Hyungwon sudah sadar ya?"
Dengan semangat Kihyun mekangkahkan kakinya menuju kamar yang beerada tepat di sebelah Wonho, kamar Hyungwon. Melihat satu sosok yang sedang bersandar di kepala ranjang itu, membuat satu senyum lebar tersungging di wajahnya.
"Hyungwon-ah!" Pekiknya semangat,, mengabaikan tatapan bingung pemuda di hadapannya.
"Apa.. Kau mengenalku?" Tanya Hyungwon takut-takut.
"Hng.. Aku bertemu denganmu siang tadi.. Kalau ceritanya seperti itu, menurutmu aku mengenalmu tidak?" Ucap Kihyun dengan wajahnya yang serius. Membuat wajah Hyungwon yang sudah bingung menjadi lebih bingung lagi. "Ei.. Jangan memasang ekspresi seperti itu,, aku hanya bercanda.. Hanya bercanda.." Cengir Kihyun. Membuat sudut bibir Hyungwon tertarik ke atas. "Wah.. Kau manis sekali saat tersenyum begini.."
Mendengar pujian Kihyun membuat pipi Hyungwon bersemu.
"Namamu Chae Hyungwon kan? Perkenalkan,, Aku Yoo Kihyun" Kihyun mengulurkan tangannya pada Hyungwon. Sedikit ragu, tapi akhirnya Hyungwon menyambutnya dengan senyum lebar. "Berapa umurmu?"
"Delapan belas tahun (usia Korea, usia inter 17)" jawab Hyungwon pelan.
"Woah.. Kita seumuran" Kihyun sedikit terpukau dengan kenyataan yang ada.
"Oh.. Tumben sekali kau sudah pulang?" Tanya Wonho yang baru memasuki kamar Hyungwon dengan heran.
"Biar saja, apa pedulimu,," ketus Kihyun.
"Kau sudah mengenalnya?" Kali ini Wonho mengajukan pertanyaannya pada Hyungwon.
Mendapati Wonho yang menatapnya begitu intens, Hyungwon reflek menundukkan kepalanya. Membuat Wonho lagi-lagi menyunggingkan seringaiannya.
"Dia Yoo Kihyun,,, calon istriku.."
Meski sedang menunduk, Wonho dengan mudah tahu jika Hyungwon tengah melebarkan matanya, terkejut. Membuatnya tertawa dalam hati.
"Apa-apaan?!" Bantah Kihyun tak terima.
Hari minggu, hari ini dia ingin membuntuti Hyunwoo yang sedang bekerja, seperti biasanya. Tapi karena kejadian kemarin, dia benar-benar malas melakukannya. Tapi kalau difikir-fikir Hyunwoo sering atau malah selalu memperlakukannya seperti itu, tapi kenapa Kihyun benar-benar bad mood kali ini?
"Yaa.. Ada apa denganmu?" Tanya Wonho bingung melihat wajah Kihyun yang tertekuk seharian ini.
"Apa?"
"Hyunwoo lagi? Biasanya kalau seperti ini tandanya kau sudah tidak berminat lagi dengan mainanmu.." Enteng Wonho sambil meraih sebuah stick ps yang diabaikan Kihyun.
"Ish.. Sudah kubilang kan.. Aku serius kali ini.." Kihyun cemberut.
"Bocah sepertimu mana tau serius menyukai orang itu seperti apa.." Remeh Wonho.
"Benar.. Aku berani bersumpah.. Aku serius kali ini.. Aku pasti akan mendapatkannya.. Pasti.." Tekad Kihyun.
"Kau dulu juga bilang begitu saat bersama Cha Seung In kan? Tapi saat dia sudah mulai, kau malah memintaku pura-pura jadi pacarmu.." Kata Wonho sambil berkonsentrasi pada ps di depannya.
"His.. Lupakan itu.. Eh tapi hyung.. Apa yang akan kau lakukan pada Hyungwon?"
"Oh.. Dokter Song sedang memeriksanya.." Jawab Wonho enteng sambil meletakkan kepalanya di atas paha Kihyun.
"Anni.. Maksudku.. Kenapa kau membelinya?"
"Menurutmu apa yang akan kulakukan padanya?" Jawab Wonho sambil menatap mata Kihyun dalam.
"Ish terserah kau saja, aku heran kenapa semua anak orang kaya sepertimu memiliki hobi yang aneh.." Gerutu Kihyun mulai memainkan video game di depannya, menyusul Wonho.
"Berkacalah tuan muda Yoo.." Sindirnya sambil berusaha membuat gol.
"Yaaa kau mulai berulah Shin Wonho-ssi?" Geram Kihyun yang baru saja kecolongan satu gol.
"Yang kalah harus membelikan pizza.." Tawar Wonho sambil mulai mendudukkan tubuhnya, bersiap melancarkan serangannya pada Kihyun.
"Deal!" Semangat Kihyun
Hyungwon mengaduk semangkuk bubur di tangannya tanpa minat. Shin Wonho, entah kenapa nama itu tidak asing ditelinganya.
"Huh.. Sadarlah.. Dia tidak jauh berbeda dengan anak orang kaya yang manja di luar sana.." Gerutunya.
"Siapa yang kau bicarakan?" Kihyun yang baru saja datang dengan sepiring buah langsung bertanya dengan wajah yang sangat ingin tahu.
"A-apa? Tidak-tidak.." Hyungwon menggeleng.
"Heol.. Aku tahu kau pasti sedang memikirkan Wonho hyung.." Jawab Kihyun enteng sambil memotong sebuah apel.
"Huh.."
"Benar kan?" Kihyun menusukkan sepotong apel pada garpu, lalu memberikannya pada Hyungwon.
Tanpa ragu, Hyungwon menerimanya. Entah kenapa meskipun baru bertemu dengan Kihyun, Hyungwon bisa yakin kalau Kihyunn adalah orang yang baik. Mungkin bertanya pada Kihyun soal Wonho bisa membuat kepalanya yang penuh pertanyaan sedikit longgar.
"Kalau kau berniat mengorek informasi dariku, maaf maaf saja. Bukannya tak mau berbagi,, tapi Wonho hyung itu sangat sulit dijelaskan..." Kata Kihyun sambil menggigit sepotong apel.
"Kau bisa membaca pikiranku?" Kaget Hyungwon.
"Oh? Aku bahkan tidak tau kalau aku sehebat itu, apa benar itu yang baru saja kau fikirkan?"
"Hng.." Hyungwon tidak tau harus berkomentar seperti apa.
"Haha.." Kihyun tertawa lebar. "Yang kutahu, Wonho hyung adalah orang yang baik, dan menyenangkan. Dia juga tidak pelit, dan baik dalam belajar. Kalau soal yang lainnya, kau akan mengerti sendirilah nantinya..."
"Hm..." Hyungwon menikmati apelnya dalam diam.
"Ah.. Bersiap-siaplah setelah ini.. Kita akan pergi keluar makan pizza dan membeli beberapa pakaian untukmu.
"Oh.. Ti-tidak usah.." Tolak Hyungwon halus.
"Apa kau mau memakai baju Wonho hyung terus-menerus?"
"Eh?" Reflek Hyungwon menyingkap selimutnya, ah jadi baju yang dipakainya adalah milik Wonho? Pantas saja sangat longgar. Bagaimana kalau untuk sementara dia meminjam baju Kihyun saja?
"Jangan berfikir untuk meminjam bajuku, jangan mimpi.. Aku tidak suka orang lain memakai barangku.." Tegas Kihyun.
'Ugh.. Anak ini menyeramkan' batin Hyungwon.
Kihyun memakan pizzanya dengan lahap dan bahagia. Berbeda dengan Hyungwon yang memakan pizza di hadapannya sedikit demi sedikit dan pelan-pelan. Apa yang dilakukan Wonho? Dia hanya melihat kedua pemuda tadi sambil menyedot cup softdrink ditangannya.
"Tak makan hyung?" Tanya Kihyun dengan mulut penuh.
"Melihatmu makan aku mendadak tidak selera.."
Kihyun melotot sambil merengutkan bibirnya.
"Kasar, berhati batu,, tidak romantis.. Brengsek.." Maki Kihyun.
"Haha.. Kau sangat menggemaskan Kihyun-ah.." Wonho tertawa senang.
"Benar.." Celetuk Hyungwon. Membuat tawa Wonho berhenti seketika. Seketika suasana canggung melingkupi mereka.
"Uhuk!" Tapi tiba-tiba Kihyun tersedak.
Dengan cepat, Hyungwon membukakan sebotol air mineral dan menyodorkannya pada Kihyun. Cepat-cepat Kihyun menenggak isinya.
"Huh.." Dengan lega Kihyun mengelus dadanya.
"Apa yang membuatmu tersedak begitu?" Tanya Wonho sambil mengaduk softdrinknya.
"Hah.. Sepertinya aku harus pergi.. Dan hyung,, jangan lupa membelikan pakaian untuk Hyungwon.." Tanpa menjawab pertanyaan Wonho, Kihyun langsung saja pergi dari sana. Dan setelah Wonnho tau ke mana arah Kihyun berlari, dia hanya menggeleng tak perduli.
"Kihyun tidak membawa ponselnya.." Kat Hyungwon yang meliat ponsel Kihyun di atas meja.
"Yaa Yoo Kihyun!" Jerit Wonho. "Aish anak itu.."
Sepeninggal Kihyun, Hyungwon merasa sangat canggung berdua saja dengan Wonho.
"Sudah menyelesaikan makananmu?"
"S-sudah.." Gagapnya.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Wonho pergi meninggalkan Hyungwon. Membuat Hyungwon dengan buru-buru ikut berdiri, mengekor di belakang Wonho.
Di sinilah Hyungwon berdiri, di sebuah toko dengan berbagai macam baju yang terpajang apik. Matanya berbinar takjub melihat baju-baju yang sekali lihat saja, dia yakin itu bukan barang murah.
"Pilihlah yang kau mau.." Kata Wonho. Setelah itu Wonho memilih untuk mendudukkan dirinya di atas sofa yang memang disediakan di sana.
Hyungwon hanya mengangguk sebagai jawaban. Sementara dia memilih baju, dia sedikit mencuri pandang pada Wonho yang sepertinya sedang menelfon seseorang.
"Ya Jooheon-ah?"
"Apa dia orang yang benar?" Kata suara di seberang.
"Entahlah.."
"Atau haruskah aku mencari 'Chae' lagi?"
"Untuk saat ini fokuslah pada Kihyun dulu.." Putus Wonho.
Setelah memutuskan sambungannya, dia memfokuskan arah pandangannya pada Hyungwon.
'Apa kau benar-benar dia? Chae Hyungwon?' Batinnya.
Kihyun tidak tau dia ada di mana, yang jelas dia saat ini sedang mengikuti Hyunwoo. Tadi saat sedang makan pizza, dia tak sengaja melihat Hyunwoo lewat. Dan tanpa pikir panjang dia langsung mengikuti Hyunwoo.
Sudah hampir tiga puluh menit Kihyun mengikuti Hyunwoo. Lelah sekali rasanya, apalagi sekarang musim panas.
"Ugh.. Sampai kapan dia mau berjalan terus seperti ini? Gerutu Kihyun.
Saat Hyunwoo berbelok di sebuah gang, dengan semangat Kihyun mengikutinya. Dia berteriak kencang saat ada yang orang yang tiba-tiba saja menarik tangannya dan menabrakkan punggungnya di dinding, teriakannya tertahan saat orang itu membungkam bibirnya.
Dadanya berdegup kencang, ketakutan melingkupi perasaannya membuat air mata jatuh tanpa dia sadari. Dia takut, sangat takut. Dia sangat sering di posisi seperti ini.
"Yah.. Kau tak apa?" Tanya orang yang membekap mulutnya tadi. "Yoo Kihyun... Kau tak apa.. Ya.."
"Hyunwoo Hyung!" Dengan air mata yang bercucuran, Kihyun menubrukkan tubuhnya pada tubuh Hyunwoo. Sempat ingin melepaskan diri dari Kihyun yang memeluknya sepihak, namun saat dia menyadari tubuh Kihyun yang bergetar hebat, Hyunwoo membatalkan niatnya.
"Maafkan aku.." Bisiknya sambil menepuk punggung Kihyun. Hyunwoo sadar benar kalau dialah yang membuat Kihyun seperti ini.
Saat Kihyun sudah mulai tenang, Hyunwoo mulai memberikan jarak antara tubuh mereka berdua.
"Kau baik-baik saja?"
"Hm.. Aku sudah tak apa.." Kata Kihyun sambil tersenyum lebar.
"Kau tidak ingin melepaskanku?" Kata Hyunwoo mulai terganggu karena Kihyun masih menempel padanya.
"Ish.. Merusak suasana saja.." Gerutu Kihyun sambil melepaskan pelukannya pada Hyunwoo tidak rela.
Wonho dan Hyungwon sudah sampai di rumah. Suasana benar-benar canggug semenjak Kihyun pergi.
"Oh.. Ini ponsel Kihyun.." Hyungwon menyerahkan ponsel Kihyun sambil menunduk.
Tanpa menatap Hyungwon, Wonho mengambil ponsel Kihyun dan meninggalkannya begitu saja.
"Sebenarnya apa yang harus kulakukan di rumah ini.."desah Hyungwon sambil membawa barang yang dibelikan Wonho tadi dengan kerepotan.
Hyungwon sangat kaget saat dia mendapati Wonho sedang tidur di atas kasurnya. Tidak berani mengusik tuan muda yang sedang terpejam itu, Hyungwon meletakkan barang belanjaannya di atas meja di samping kasurnya sepelan mungkin.
Namun saat dia berniat keluar dari kamar itu, Hyungwon merasakan Wonho menahan tangannya. Lalu dengan satu sentakan dari Wonho membuat tubuh kurus Hyungwon limbung, terjatuh tepat di atas Wonho.
Terkejut dengan posisinya, Hyungwon berusaha menjauhkan diri. Namun tangan Wonho yang entah kapan sudah ada di pinggangnya justru menarik Hyugwon semakin mendekat.
Mata yang mulanya terpejam itu mendadak terbuka, menatap Hyungwon intens tepat di kedua matanya.
"A-a.. Ma-maaf" gagapnya, berusah untuk bangkit. Namun lagi-lagi gagal.
"Kau,, siapa sebenarnya dirimu?" Bisik Wonho, namun Hyungwon mampu mendengarnya dengan jelas.
Hyungwon hanya menatap Wonho tak mengerti.
Melihat kebingungan di wajah Hyungwon membuat Wonho tersenyum samar.
"Kau berat.."
Dengan reflek Hyungwon mendudukkan tubuhnya di samping Wonho. Gugup sekali, rasanya seperti ada genderang di dadanya.
"Ma-maaf.." Hyungwon menunduk, menyesal.
"Kalau kau menyesal.. Kemarilah.." Wonho menarik tangan Hyungwon hingga membuat pemuda kurus itu terbaring di sampingnya. "Kalau kau menyesal.. Tetaplah seperti ini.." Wonho menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Hyungwon. Menghirup dalam aroma pemuda itu yang terasa cocok di indranya.
"B-baiklah.." Sempat ragu, Hyungwon mulai menepuk pelan punggung Wonho.
Merasakan nyaman sentuhan Hyungwon di punggungnya, membuat kantuk mulai melingkupi Wonho.
Sudah gelap di luar sana saat Wonho mulai membuka matanya. Saat menoleh ke samping dia mendapati Hyungwon masih terlelap dengan bibirnya yang sedikit terbuka.
Wonho tersenyum, bohong kalau dia bilang tidak tertarik pada Hyungwon. Nyatanya, sejak dia melihat Hyungwoon untuk pertamakali -saat Jooheon membawanya- Wonho sadar, kalau dia sudah tertarik pada pemuda itu.
"Kau tidak akan tau seberapa kuat dirimu. Sampai suatu saat nanti menjadi kuat adalah pilihan satu-satunya." Lagi-lagi Wonho mendengar suara itu. Suara orang yang samapi saat ini belum dia ketahui di mana keberadaannya.
Saat pikirannya sedang tidak fokus, Wonho merasakan ponselnya bergetar.
"Apa?!" Kagetnya langsung bangun. Membuat Hyungwon yang ada di sampingnya ikut terbangun.
"Maafkan aku.. Tapi Kihyun tiba-tiba meghilang.." Kata suara dari seberang telponnya.
"Na Jung Soo brengsek!" Umpatnya, lalu pergi mengabaikan Hyungwon yang sedang bingung.
.
.
To be Continue
mind to review? 😍
this fic is dedicated to Monbebe form Dhabum with love
13-08-16
Big THANKS buat yang udah mau repot-repot ngereview tulisan abal inih *sujud syukur
Semoga chapter ini memuaskan dan bisa menjawab pertanyaan readerdeul di chapt sebelumnya. :D
tahu banget deh tulisan ini masih jauh dari kata bagus, nyadar kok nyadar T.T
Nah yang belum review, boleh banget kok review di chapt ini.. Siapa tau reviewnya bisa jadi ide(?) konten cerita kan?
Last.. Keep healthy yang gengs.. Keep reading ma work.. And keep review ma story :D
Stay tune . :*
