Warning!
YAOI/BL/Boys Love
Hyunwoo X Kihyun
Wonho X Hyungwon
and others
typo(s)/no eyd/bad plot
romance/angst/tragedy/humor(?)
.
.
Unfair Love
slice 5
-Bahagia itu seperti apa? Untukku, kebahagiaan adalah tentang bagaimana menyikapi enyataan yang ada-
.
.
Enjoy
.
.
Semakin hari Wonho semakin membuat Hyungwon bingung dengan sikapnya yang manis-pahit tidak jelas sebab dan waktunya. Terkadang dia memperlakukan Hyungwon dengan lembut, tak jarang juga dia memperlakukannya dengan kasar. membuat Hyungwon ingin bertanya, apa salahnya? kenapa Wonho begitu padanya? Tapi sesuatu dalam dirinya menahan agar Hyungwon tidak sampai mengucap pertanyaan itu. Takut-takut jika sikap Wonho malah akan jauh lebih buruk padanya.
"Apa yang kau fikirkan?" tanya Kihyun penasaran saat Hyungwon tidak fokus pada sarapannya.
"Oh,, t-tidak ada,," Hyungwon sedikit kaget.
"Hm,, baiklah,," respon Kihyun acuh sambil melanjutkan sarapannya.
Hening selagi menikmati sarapan di rumah ini cukup aneh bagi Hyungwon. Karena meski belum lama berada di sini, Hyungwon cukup terbiasa dengan Wonho dan Kihyun yang selal berdebat di meja makan. Ah iya benar, kemana Wonho pergi? Bahkan sarapan sudah hampir selesai, namun Wonho sama sekali tidak muncul, batin Hyungwon bertanya-tanya.
"Mencari Wonho hyung? Hari ni hari penting untuknya, jadi-"
Belum sempat Kihyun menyelesaikan kalimatnya Wonho muncul dengan setelan yang melekat pas di tubuhnya. Tanpa menoleh pada Kihyun dan Hyungwon yang sedang duduk di meja makan, Wonho berjalan dengan tenang melewati mereka. Seorang pemuda berkulit putih dan bermata sipit tampak mengekor di belakangnya.
"Jooheon-ah.. jangan biarkan dia berulah lagi,,," ucap Kihyun pada pemuda yang mengekori Wonho tadi.
"Ya tuan,," dengan sopan, pemuda sipit bernama Jooheon tadi membungkukkukan badannya dan segera pergi menyusul Wonho.
Dengan raut wajah yang penuh dengan pertanyaan, Hyungwon menatap Kihyun menuntut penjelasan.
"Oh,, hari ini adalah hari peringatan kematian kekasihnya, biasanya Wonho hyung akan mabuk dan membuat ulah,," jelas Kihyun sambil melahap sisa sarapannya.
"O-oh,," respon Hyungwon sambil mengangguk-angguk mengerti. Tapi satu bagian di hatinya serasa dicubit saat mengetahui jika Wonho sudah memiliki kekasih.
Sebuket bunga arbutus sudah dia letakkan di depan sebuah guci abu yang terbuat dari marmer mahal. Dengan pandangan yang sendu, Wonho mengelus sayang selembar foto yang terpajang apik di dalamnya. Di dalam kotak krematorium itu, hanya ada sebuah Guci abu dan sebingkai foto tadi saja, tidak ada yang lainnya. Setelah menggapai sesuatu dari dalam kantongnya, Wonho meletakkan sebuah kotak bludru tepat di samping potret seorang pemuda manis yang tengah tersenyum indah.
"Maafkan aku,," lirih Wonho sambil membuka kota tadi. Yang ternyata di dalamnya adalah sebuah cincin emas putih dengan batu berlian kecil yang indah di tengahnya. "Bahkan perasaan ini yang sudah jelas-jelas adalah milikku tidak bisa kukendalikan,, maafkan aku,,"
Jooheon yang ada dibelakangnya hanya bisa menatap iba tuannya yang sedang menahan tangis. Dia tahu benar apa yang dilakukan tuannya kali ini tidak bisa dikatakan benar, sangat salah malah sebenarnya. Karena sesungguhnya hal yang sedang direncanakan oleh tuannya malah akan menggoes luka lain yang mungkin saja malah lebih dalam.
Sibuk dengan pemikirannya, bahkan Jooheon sampai tidak menadari jika Wonho sudah meninggalkan tempat itu. Setelah sadar, Jooheon buru-buru menyusul Wonho dan menyampaikan apa yang sudah dipikirkannya selama ini, ya,, dia harus menyampaikannya.
Wonho sudah hampir memasuki mobil saat Jooheon menegurnya.
"Hyung.."
Wonho menoleh dengan cepat, tidak biasanya pemuda itu memanggilnya hyung.
"Ada apa?" Tanya Wonho setelah menutup pintu mobil yang tadinya terbuka.
"Ayo kita hentikan semua ini,," serius Jooheon.
Tidak ada balasan, Wonho hanya menatap Jooheon dengan pandangan yang tidak bisa dimengerti.
"Aku akan meninggalkan Seoul, jadi kau-"
"Ya Lee Jooheon!" potong Wonho dengan nada tinggi.
Jooheon hanya diam, menatap Wonho dengan pandangan yakin. Mengatakan tanpa kata-kata kalau dia sudah bulat dengan keputusannya.
"Sudah lebih dari cukup yang kau lakukan untukku dan untuk Minhyuk hyung selama ini.."
"Tidak-tidak,, kita sudah hampir selesai dan bisa membalaskan-"
"Apa kau yakin itu yang diinginkan Minhyuk hyung? Ayolah, kau kenal dia melebihi siapapun,, Dan kau pasti tau kalau kita melakukan kesalahan kan?" Jooheon buru-buru memotong kalimat Wonho. "Dulu kita merencanakan ini saat masih terluka Hyung,, dan ini sudah satu tahun sejak luka itu,, Jadi,, kurasa sudah saatnya kita mengakhiri kebodohan ini,,"
Wonho diam, perkataan Jooheon seolah membuatnya tenggelam dan membuatnya susah bernafas. Benar, apa ini yang Minhyuk inginkan? Tentu saja bukan, berbagi perasaan dengan pemuda itu selama bertahun-tahun membuat Wonho menyadari sebaik apa pemuda bermarga Lee itu. Sekecewa apa dia padanya yang telah menyeret adik kesayangan pemuda itu pada rencana rendahan seperti ini.
"Aku juga tau kalau perlahan, pemuda Chae itu menempati tempat Minhyuk hyung dulu.." lirih Jooheon, ada sedikit luapan emosi di sana.
Wonho sedikit menegang. 'Hyungwon,, menggantikan Minhyuk,,' batinnya. "Jangan gila..!" bantahnya.
Wonho berjalan lesu dengan fokus yang mengambang. Selama ini batinnya selalu berdebat 'salah-benar' tentang rencananya, dan berapa kalipun dia mencoba berfikir logis hasilnya mengatakan kalau dia salah. Tapi entah kenapa Wonho selalu mencoba melawan fakta itu meski sebenarnya dia tahu, tapi perkataan Jooheon semakin menguatkan hasil dari fikiran logisnya.
"Tidak.. aku melakukan ini untuk mencapai kebahagiaan.." lirih Wonho memantapkan hatinya. 'Bahagia seperti apa? Kebahagiaan siapa?' Wonho menggelengkan kepalanya kuat saat hatinya seolah menjawab apa yang baru saja dia katakan. 'Sebenarnya,, kebahagiann itu seperti apa?'
Wonho terus saja berjalan dengan tidak fokus, berkali-kali bahunya bertubrukan dengan pejalan kaki lain yang berlawanan arah dengannya. Berkali-kali pula Wonho mendapat umpatan sial dari orang-orang yang tanpa sengaja ditabraknya.
Sadar-sadar, hari sudah gelap. Setelah menilik sebentar pada jam tangan mahal di pergelangan tangannya, Wonho mendecih pelan saat melihat jarumnya menunjuk angga tujuh. Menoleh kebelakang, dia tidak menemukan siapapun di sana. Ah benar, Jooheon sudah memutuskan untuk tidak bekerja denganya lagi.
"Maafkan aku hyung, sudah lebih dari cukup yang kau berikan padaku,, sekarang aku sudah bisa melakukan apapun,, jangan lagi menimbun rasa bersalahmu padaku,, berbahagialah,, Minhyuk hyung juga pasti menginginkan kebahagiaanmu. " kata-kata Jooheon masih terngiang jelas di kepalanya.
"Bahagia?"
Wonho berhenti tepat di depan sebuah pagar besi yang menjulang tinggi, rumahnya. Begitu Wonho melenggng memasuki rumah mewahnya, banyak pasang mata yang menatap penuh tanya padanya. 'Kenapa penampilan tuan muda sekacau itu?' kurang lebih seperti ituah arti tatapan mereka, dan Wonhopun sama sekali tidak menggubrisnya. Dengan santai, dia menaiki tangga berniat masuk ke kamarnya dan menyelesaikan segala kekacauan di tubuhnya.
"Wonho-hyung?"
Wonho sontak menoleh saat suara halus itu mengusik pendengarannya. Di depannya, Hyungwon sdang menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
Tidak berniat protes sama sekali saat pemuda kurus itu menyeretnya dan mendudukkan Wonho di atas kasur empuk double size-nya. Wonho hanya bisa meringis pelan saat Hyungwon menyapukan kapas yang sudah dibasahi antiseptik pada bagian sudut bibirnya yang sedikit sobek.
"Kenapa bisa seperti ini?" tanya Hyungwon pelan.
"Hanya perkelahian kecil dengan pemabuk di pinggir jalan tadi.." Jawab Wonho sambil mengamati wajah mulus Hyungwon.
Setelah itu hening, tidak satupun dari mereka berniat membuka percakapan. Hanya Hyungwon yang meringis seolah merasa perih saat melihat Wonho yang kesakitan karena lukanya yang sedang dirawat.
"Kemana Kihyun?" tanya Wonho.
"Dia sedang pergi bekerja paruh waktu.." jawab Hyungwon pelan masih fokus pada luka Wonho.
"Hyungwon-ah,,"
"Eum?"
"Bahagia itu,,, seperti apa?"
"Bahagia ya? Eum,, " Hyungwon berfikir sebentar, "Untukku, kebahagiaan adalah tentang bagaimana menyikapi kenyataan yang ada,," jawabnya sambil tersenyum tulus.
"Menyikapi kenyataan yang ada.." lirih Wonho.
"Apa kau mengatakan sesuatu?" tanya Hyungwon yang tidak begitu jelas mendengar apa yang dikatakan Wonho barusan.
"Tidak.. lupakan saja.."
"O-ohh.. b-baiklah,, kalau begitu aku pergi du-"
"Malam ini,, tetaplah di sini,," Kata Wonho sambil menahan pergelngan tangan Hyungwon.
Keesokan harinya Wonho merasa heran saat Kihyun tidak ada di meja makan untuk sarapan. Padahal, setaunya Kihyun tidak pernah melewatkan sarapan buatan Kim ahjumma yang menurutkan sangat enak bahkan melebihi rasa masakan mendiang ibunya.
"Aku akan mengantarkan sarapan Kihyun ke kamarnya.." kata Hyungwon yang sepertinya bisa membaca pikiran Wonho.
Mendengar itu, Wonho hanya mengangguk sebagai respon dan setelahnya berniat untuk elihat kamar Kihyun. Di atas kasur berwarna biru terang itu, Wonho bisa melihat gumpalan besar yang di dalamnya berisi Kihyun, onho yakin itu.
"Hei,," Wonho mengguncangkan gumpalan besar itu, "Kihyun-ah,, kau baik-baik saja?"
Kihyun menyembulkan kepalanya dari dalam selimut.
"Hyung,," kata Kihyun dengan suara seraknya. "Kupikir aku tidak baik-baik saja,, tenggorokanku sakit.." Adunya pada Wonho.
Mendengar itu, Wonho lalu menempelkan punggung tangannya di atas kening Kihyun. "Kau memang sedikit demam sepertinya,,"
"Benarkan-benarkan? Aku pasti terlalu capek bekerja,," Adu Kihyun agi.
"Makannya kan? Sudah kubilang tidak usang bekerja paruh waktu,," timpal Wonho.
"Aku hanya ingin menunjukkan pada Hyunwoo kalau aku bukan anak manja.." lirih Kihyun sendu.
"Arraseo,, terserah kau saja,,"
"Hyung,,,,"
"Apa?" tanya Wonh malas.
"Katakan pada Moon sonsaengnim kalau aku sakit,, jadi tidak isa sekolah hari ini,,,, yaaaaa" mohon Kihyun dengan wajah lucunya.
"Kenapa tidak bolos saja seperti biasanya?"
"Yahh.. karena aku sudah sering membolos,, pointku sudah banyak,, yaaaaaa" melasnya.
"Baiklah,, sekali saja,,"
"Yeeeyyy!" Kihyun memekik senang sambil menghambur dalam pelukan Wonho. "Aku mencintaimu!"
"Ya ya,, aku juga mencintaimu.." balas Wonho sambil menepuk kepala Kihyun pelan.
"Aku mencintaimu!"
"Ya ya,, aku juga mencintaimu.."
Hyungwon sedikit terkejut mendengar percakapan Kihyun dan Wonho. Lalu setelah sadar, dia menggeleng-gelengkan kepalanya cepat.
"Apasih yang aku pikirnya,,"
Setelah itu, Hyungwon memutuskan untuk membawa masuk nampan berisikan sarapan Kihyun ditangannya.
.
.
.
.
to be Continue
100916
Weww,, halloh teman-tean,, long tma no see
Udah lama bangetya ngga update DX
Maafkaaaaaaannn
Minggu ini awal masuk kuliah sih yaaa,, jadi agak terkejut gitu karena hampir tiga bulan nganggur gabut eh tiba-tiba udah massuk kuliah aja dan mulai disibukkan dengan berbagai jenis macam kelmpokan DX
Makasih banyak buat yng uda ngerevew chapter 1234 :D, jangan khawatir buat yang ngga log in an reviewnya ngga masuk,, reviewnya dikirim ke email kok. Jadi Dhabum baca juga itu loohhhhh. Jangan bosen-bosen review ya kakak kakak sayaaaaaannnnggg. Karena review dari kalian itu bener-bener bikin terharu.
Hahha,, uh,, agak gimana gitu rasanya waktu lihat statistiknya waktu liat angka viewer yang mencapai ratusan,, tapi ngga imbang sama yang ngereview,, jujur sih,, itu salah satu faktor yang bikin males update .-.v
Hahahaaaaaa,, nulis itu susah lohhh,, bener deh,, meski hasilnya cuma kayak gitu-gitu aja,, beneran deh susah,, masak review buat ngasih semangat aja ngga mau sih,, :\
Kan sebagai penulis pengen tau tuh,, gimana respon readernya? mereka suka apa engga? gitu kan pengen tau juga kita :\
Udah sih gitu aja, maaf ya jadi rada Curcol gitu DX
Tapi beneran deh,, kalo statistik chapter ini kayak sebelum-sebelumnya (yang baca banyak, yang review sedikit) jujur aja, jadi males ngelanjutin DX
Udah ah ya,, maaf kalo jadinya receh banget XD
Yang log in review bales dm yah :D
39
Sign,
DhaBum
