Hari berganti. Amaterasu kembali menyinari seantreo bumi Tokugawa yang sudah bertahun-tahun mengagungkannya. Jam 6 tepatnya, Takeru masih tertidur pulas terhipnotis ruang mimpi yang dalam, sebelum suara sang koibito membangunkannya dari seberang rumahnya.

"Takeru! Bangunlah! ", sebuah teriakan paling manis bagi Takeru, dia terbangun. Sedikit berdiri dan membuka jendela melihat sang kekasih sudah di jendela kamarnya di seberang dengan baju putih polosnya. Takeru membalasnya teriakan tadi dengan senyum dan lambaian tangan, Hikari kembali membalasnya dengan senyum manis ras Ainu sambil mencoba menyeka rambutnya pendek(versi perempuan).

"bagaimana pagi ini?" Takeru memancing sebuah pertanyaan,

"getting better!" sang lawan bicara,

"how about you Takeru?"

"seperti biasa, aku masih ngantuk."

"hahahaha kau ini!" Hikari tertawa di seberang sana, Takeru tertawa sinis.


"kuliah apa kamu hari ini takeru?"

"mmm aku mewakili jurusan untuk seminar Sejarah Asia Timur yah, ada seorang dosen dari Indonesia yang akan datang hari ini. Belaiu datang dari Universitas Pendidikan Indonesia, sambil tukar budaya lah"ujar Takeru sambil melahap rotinya.

Meja makan keluarga itu begitu hangat, setelah orang tua mereka rujuk, keluarga ini semakin hangat. Ibu Takeru memasak sejenis daging sapi, Ayah membaca koran Tokyo Today dan Matt, dia tidak di meja makan, tapi tempat tidur. Setelan kemeja biru muda dengan celana hitam ditambah sebuah jas bertuliskan Universitas Tokyo membuat Takeru terlihat seperti dosen, ditambah ransel hitam dan setelan serba resmi.

"aku pergi!"Takeru berteriak meninggalkan rumah secepat angin dan menghilang.


Jacque Wiratnakusuma masih memandangi jendela kamarnya yang hampa, bunga seroja pemberian teman dekatnya di Indonesia masih menemaninya melamun di depan jendela, di sebelahnya sebuah lagu karya S Efendi menemaninya dalam kesendiriannya

T'lah kuterima suratmu nan lalu
Penuh sanjungan kata merayu
Syair dan pantun tersusun indah, sayang
Bagaikan madah fatwa pujangga

"Surat ini..." ia melihat surat dari Mayu yang masih begitu apik, surat dengan tanggal pengiriman yang sudah tidak jelas, mungkin terkelupas atau apalah tak terlalu jelas. Keadaan hening berubah saat suatu SMS masuk ke handphonenya dan Sundajin ini kaget luar biasa. Dia berlari keluar, tidak bergaya dulu ataupun mandi atau sekedar gosok gigi dan tujuannya adalah rumah Takeru.


"Aku masih tidak mengerti ! Dunia apa?"

"AH! Aku jelaskan pun sulit Wira!"

"memang kepentinganku apa?"

"Jacque Wiratnakusuma, pokoknya akau harus ikut. Terjadi sebuah masalah besar dan kau harus ikut dengan kami."

"apa masalah besarnya Mayu!"

"itu..."

Percakapan Jacque dengan Mayu langsung hening,seluruh anak terpilihpun terdiam. Kamar Takeru yang cukup besar itu seketika hening, namun kembali, teriakan Yuko memecah ruangan. Ia jatuhkan digivicenya.

"ada apa Yuko?"ujar Tama penuh peduli, Yuko terdiam, hanya terdiam. Takeru melihat kearah Digivice dan terbelalak

"ini masalah besar kawan-kawan."Ucap takeru

"oke sebelumnya dan sejujurnya aku dan Wira tidak mengerti. Dunia digital, Gennai dan oh apapun itu." Tama mencoba menggali informasi

"maka dari itu kalian harus ikut. Agar kalian tau apa yang kami bicarakan" Daisuke mencoba mengajak.

"apa resikonya?" Wira bertanya. Dengan muka dingin, Hikari menjawab satu kata penuh arti

"MATI!"


Terimakasih maaf telat karena sibuk dan jangan lupa friend Reviewnya

Arigatou :D