Mangrove
Hutan Mangrove, di sinilah Hinata berada sekarang. Negri Nusantara, julukan populer Indonesia sejak Indonesia mengemukakan perlawanan terhadap penjajahan yang di lakukan Bangsa 'Asing'
Namun miris, mengingat bagaimana para pendahulu memperjuangkan tanah ini. Nyatanya Cinta yang pernah mereka perjuangkan. Mereka genggam dalam semangat berkobar, kini ludes terjual untuk bangsa asing yang begitu berambisi menguasai Tumpah Darah mereka.
Cinta terjual pada kaum feodalis, cinta terjual pada rangah politisi, cinta terjual di antara mulut- mulut kotor yang saling mendebatkan cinta di atas dusta, tubuh saling bersenggama tanpa ikatan sakral di hadapan sang Maha Kuasa pun di atas namakan cinta, cinta yang tumbuh di antara anak -anak manusia yang kecil mungil saling menangisi nasib sambil menggigil di bawah kolong jembatan, cinta yang terbawa dalam sekepal hati murni bayi -bayi korban kemaksiatan orang tua mereka. Yang BAHKAN tak pantas di sebut orang tua.
Hinata terdiam, terlalu malas mendebat manusia -manusia yang berkoar keburukan orang lain tanpa melihat betapa rusuhnya diri mereka sendiri.
Tapi ini bukan Metropolitan, jelas. Ini Hutan Mangrove di tengah provinsi Sulawesi Utara, yang bahkan jarang terjamah manusia. Angin ini masih alami, bersemilir menerbangkan surai sutranya yang memiliki warna tak biasa. Membawa alunan nada -nada primitif, alunan khas alam menyemangati langkahnya di pagi segar yang di penuhi embun dingin. Alunan itu masih terdengar merdu.
Hinata menyusuri hutan mangrove tersebut dengan langkah riang. Masa bodoh dengan mahluk astral, halus, ataupun transparan yang begitu di percayai insan Pribumi itu. Di sini tidak mungkin ada hantu kan?
Suara krosak mengalihkan pandangannya. Siapa? Hinata menoleh ke kanan, seorang pria berdiri agak jauh darinya. Tunggu! Darimana dia datang? Pria itu tinggi ramping, pakaiannya coklat seperti Tentara jepang, ada pistol laras panjang di pinggangnya. Apa dia polisi hutan? Tapi ini pulau Indonesia, hey sejak kapan piagam PBB dalam rangka tidak di perkenankan ikut campur dari Negara lain di langgar dengan menugaskan Tentara jepang dengan seragam Resmi begitu? Di dalam Negri pula.
Kening Hinata mengkerut, pria itu berjalan mendekatinya. Onyx pekat yang tajam, surai sekilau langit malam hampir sama dengan miliknya. Bibir tipis mungil di bingkai rahang yang tegas mempesona.
"Kau butuh bantuan?" suara bariton menyentak lamunannya.
Ia menoleh. Memberikan tatapan heran sekaligus waspada.
"Sasuke. Sasuke Uchiha" ujarnya pelan.
"Hinata" balas si gadis tak kalah lirih.
Kala kedua mata itu berpandangan. Terdapat rasa kecil yang bergetar berusaha mengkomposisi makanan, menumbuhkan diri. Memaksa keluar memunculkan diri. Seperti kecambah tumbuhan yang meronta menymbuhkan diri.
Tempat Lain;
"Paman, bagaimana ini? Kita belum mengatakannya pada Hinata!" Pemuda bersurai coklat panjang tengah menggigiti kuku jempolnya sambil mondar -mandir panik.
Paman yang Neji maksud hanya diam. Hiashi pun khawatir. Putrinya itu melarikan diri setelah mengetahui bahwa ia di jodohkan dengan putra bungsu keluarga Uchiha.
Kabur sebelum Hiashi menyelesaikan kata -katanya tentang pria yang di jodohkan dengannya itu sebenarnya sudah tiada sejak lama. Pria itu usianya bahkan sama dengan Hirashi Hyuuga. Ayah Hiashi, kakek Hinata.
Perjodohan itu di karenakan guyonan Hirashi yang menjanjikan sahabat karibnya seorang cucu perempuannya yang sangat cantik untuk ia sunting. Guyonan sebagai pelibur lara karna sahabat karibnya itu terpilih dalam Perang perdamaian di Negara Jajahan sana sedangkan Hirashi tak dapat menemani karna tidak lolos dalam uji coba. Sayang, selucu apapun isi guyonan yang di lontarkan Hirashi tak membuat sahabatnya kembali. Pria itu menghilang begitu saja, tanpa mayat tanpa kejelasan alasan menghilang.
Sahabat karib Hirashi Hyuuga ...
Sasuke Uchiha.
END.
