Growl

Rate:: T

Pair:: KaiSoo, ChanBaek, KrisTao, HunHan

Genre:: Drama and Romance

Author:: Hiwatari Niwadark

Annyeong~! Oh, sepertinya sudah 3 minggu author gak update nih ff ya? Atau mungkin 1 bulan? == #plakk Maap, mood lagi gak dapat *bow* Okeh, jujur, mood lagi gak dapat karena masalah Baekhyun *gantung diri*

Serasa dilempar cintanya Sehun (?), author sakiitt banget tahu berita itu, mood langsung hilang seketika. Huftt… Yasudahlah, tak apa, anggap saja berita itu gak ada, oke? #seenaknyaaja XD Oke deh, lanjut!

Enjoy~!

~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~

Setelah meletakkan barang-barang belanjaan di meja, Baekhyun mendudukkan dirinya di sofa dan terdiam. Ia masih memikirkan namja yang ia temui di pasar tadi. 'Ah, mungkin suaranya mirip saja.' batinnya berusaha untuk tidak memikirkan hal-hal yang aneh. Saat Baekhyun berdiri dan hendak berjalan ke dapur, langkahnya terhenti saat Luhan lewat tepat di depannya dan duduk di sofa single.

Niat Baekhyun untuk ke dapur pun hilang saat melihat sesuatu yang aneh pada Luhan. "Luhan hyung," panggilnya. Luhan yang terlihat lelah pun menoleh dan menaikkan wajahnya sejenak, bertanya 'ada apa' pada Baekhyun. Baekhyun pun langsung menyentuh lehernya sendiri dan bertanya, "Ada apa dengan lehermu, hyung?"

Luhan yang tampaknya tidak mengerti pun mengernyitkan keningnya. "Hah?"

Baekhyun melangkah mendekati Luhan dan manarik bahu kanan Luhan agar sedikit menyampinginya, dan tampaklah dengan jelas leher bagian kanan Luhan yang terdapat kemerahan seperti bekas gigitan manusia.

"Memangnya ada apa, Baek?" tanya Luhan.

"Gigitan manusia, hyung." jawab Baekhyun yang sedetik kemudian langsung mundur satu langkah, menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan menatap Luhan dengan mata melebarnya. "Apa hyung melakukan 'this and that'? Jangan-jangan itu kissmark, hyung?" tanya Baekhyun dengan menggebu-gebu.

"Hah?!" Luhan tampak terkejut sekaligus bingung dengan pertanyaan Baekhyun. "This and that apaan coba? Kissmark? Kau pikir siapa yang mau membuat kissmark di leherku, eoh?"

Baekhyun dengan perlahan kembali mendekati Luhan dan memperhatikan bekas gigitan itu. "Ini, hyung. Bekas gigitan. Masa kau tidak tahu?" tanyanya. Luhan menggelengkan kepalanya. Jujur, ia sendiri tidak tahu tentang gigitan itu dan sangat penasaran dengan bentuk gigitan itu. "Kau tidak bercanda 'kan, Baek?" tanya Luhan.

"Serius, hyung. Ini… Tidak sakit?" tanya Baekhyun seraya menyentuh bekas gigitan itu. Sekali lagi, Luhan menggelengkan kepalanya. Baekhyun mengernyit. "Tapi ini kelihatannya dalam loh, hyung. Dan mulai membiru. Tidak mungkin hyung tidak merasakannya saat ada yang mengigit dan tidak sakit sama sekali saat disentuh." ujarnya.

Luhan tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya ia menyentuh sendiri bekas gigitan itu. Benar-benar tidak terasa apa-apa. Tidak sakit ataupun perih. "Tadi saat di pasar, saat kita membeli ikan, aku merasa seperti digigit semut persis di bagian ini. Hanya sakit sebentar saja, setelah itu tidak terasa apa-apa lagi." jelas Luhan.

Baekhyun terlihat masih membungkukkan badannya untuk melihat bekas itu dalam-dalam. "Ini tidak terlihat seperti digigit semut. Ini bentuk gigitan manusia, hyung. Masa kau tidak merasa ada seseorang yang menggigitmu?" tanya Baekhyun lagi. Luhan menggelengkan kepalanya. "Kulitku bukan kulit kudanil, Baek. Kulitku tidak setebal itu sampai-sampai gigitan manusia pun tidak terasa." balas Luhan dengan memutar kedua bola matanya.

"Ada apa?" tanya Tao yang datang dari dapur dan duduk di sofa panjang dengan segelas jus jeruk di tangan kirinya. Beberapa detik kemudian disusul oleh Kyungsoo yang duduk di samping Tao.

"Ini…" jawab Baekhyun. "Di leher Luhan hyung ada bekas gigitan. Bekasnya sih seperti bekas gigitan manusia, tapi hyung tidak merasakan gigitan ini, padahal bekasnya ini cukup dalam." lanjutnya.

Tao mengernyit bingung. "Hah? Masa gigitan sedalam dan sebesar itu hyung tidak merasakannya?" tanyanya. Luhan mengedikkan kedua bahunya, tidak terlalu mempedulikan masalah gigitan itu selama tidak sakit ataupun mengganggu.

"Kata Luhan hyung sih dia hanya merasakan gigitan semut saja. Tapi bentuk gigitan ini seperti rahang manusia, bekas gigi ini dan… Eh?" Ucapan Baekhyun terhenti saat melihat kejanggalan pada bekas gigitan itu. "Ini… Kenapa bekas gigi taringnya sangat tajam?" gumam Baekhyun dengan pelan. Ya, pada sisi kiri dan kanan bekas tersebut tidak heran terbentuk bekas gigi tarik, namun bekas taring di sini sangatlah dalam, bahkan hingga terdapat sedikit bercak darah pada kedua bagian gigi taring tersebut.

Luhan tampak menoleh pada Baekhyun seraya memegang lehernya. "Serius?" tanya namja cantik tersebut. Dengan cepat ia meraih ponsel dan membuka kamera depannya dan dijadikan sebagai cermin untuk melihat bekas gigitan itu. Dan benar saja, bekas itu cukup dalam, terutama pada bagian taringnya. "Aw.. Besar sekali bekasnya."

Kyungsoo yang terdiam pada posisinya terlihat sedang memikirkan sesuatu, lalu sedetik kemudian, namja mungil itu berdiri dan beranjak ke dapur.

"Ahjumma," panggilnya. "Ne? Ada apa, Kyungsoo-ssi?" jawab ahjumma yang tengah memasak sup untuk makan siang. "Apa ahjumma tahu siapa yang menempati villa sebelah ini?" tanya dengan nada yang dikecilkan. "Villa sebelah? Oh yang biru tua ini? Pemiliknya itu seorang dosen di Seoul, dan datang mampir ke villanya 3 bulan sekali bersama istri dan anaknya." jawab ahjumma paruh baya tersebut.

Kyungsoo langsung menggelengkan kepalanya. "Ani, bukan yang itu, ahjumma. Maksudku villa sebelah yang warna putih ini, villa yang dulu pernah dibeli oleh appa Luhan hyung." jelas namja mungil itu. Ahjumma yang telah selesai memasak sup pun menutup kompor gas dan menatap Kyungsoo dengan senyum manis yang terpampang di wajahnya. "Ohh… Villa sebelah kiri ini? Itu tidak ada yang menempati, Kyungsoo-ssi." jawab Kiyoung ahjumma.

Kyungsoo mengernyit, ia sudah menduga jawaban inilah yang akan dikeluarkan oleh maid yang telah lama bekerja di tempat ini.

"Apa ahjumma tahu siapa yang membeli villa ini?"

"Pembelinya, ya?" Kiyoung ahjumma tampak berpikir sejenak. "Kalau tidak salah dengar, pembelinya itu meninggal saat mendaki gunung yang ada di sebelah sana setengah tahun setelah ia membeli villa itu, yahh sekitar 8 tahun yang lalu. Banyak rumor yang tersebar di kalangan pemilik villa di kompleks ini. Ada yang mengatakan kalau pembelinya tewas karena longsor, ada yang mengatakan tewas karena tersesat di hutan, dan bahkan ada yang mengatakan tewas dimakan serigala karena saat ia mendaki bertepatan dengan tibanya bulan purnama. Ia mendaki gunung bersama beberapa temannya. Dan rumor yang terakhir inilah yang paling dipercaya sebelumnya karena mayat mereka tidak ditemukan. Lama-lama, si pembeli dan rumor itupun dilupakan oleh orang-orang. Dan kabarnya, 5 tahun yang lalu akan ada orang dari gunung sebelah yang akan membeli villa itu, tapi sampai sekarang pembeli itu tidak datang dan membelinya. Oleh karena itu villa itu sangat kusam dan tidak terawat sejak kejadian 8 tahun yang lalu." jelas maid tersebut dengan panjang lebar.

Kyungsoo mengangguk mengerti meskipun sejujurnya di pikirannya masih terdapat banyak kebingungan mengenai villa itu.

"Apa ahjumma tidak pernah melihat ada orang lain yang menyusup ke villa sebelah? Atau mungkin ahjumma pernah mendengar suara-suara dari sebelah?" tanya Baekhyun yang tiba-tiba muncul dari belakang Kyungsoo yang sempat membuat Kyungsoo tersentak kaget.

Baekhyun hanya menyengir kecil saat melihat Kyungsoo yang melotot ke arahnya.

"Tidak. Memangnya siapa yang mau menyelinap masuk ke dalam villa kusam itu? Bahkan pintunya pun sudah terbungkus sarang laba-laba, tidak mungkin ada yang menyusup masuk. Dan… suara-suara? Saya tidak pernah mendengar suara-suara dari villa sebelah, Baekhyun-ssi. Memangnya ada apa?" tanya Kiyoung ahjumma dengan senyum tipisnya. Baekhyun dan Kyungsoo mengernyit dan kemudian tersenyum ke arah maid tersebut. "Aniyo, tidak ada apa-apa kok, ahjumma. Terima kasih atas informasinya, Kiyoung ahjumma." ujar Kyungsoo dengan sopan yang kemudian membantu maid tersebut untuk menyiapkan makan siang.

.

.

.

Malam harinya…

Jam 21.25

Luhan, Baekhyun, Kyungsoo dan Tao terlihat berkumpul dan duduk di lantai kamar mereka setelah sebelumnya menyelesaikan makan malam mereka, menyikat gigi, mencuci wajah, kaki, dan tangan dan sekarang hanya menunggu rasa kantuk menjemput mereka. Tampak Luhan, Baekhyun dan Kyungsso tengah memasang wajah serius mereka. Sedangkan Tao terlihat memeluk bantalnya dengan erat.

"Kalian ini tidak sedang bercanda, 'kan?" tanya Tao yang tampak ketakutan setelah mendengar cerita-cerita dari hyungnya yang tengah berdiskusi.

Dan semua yang didiskusikan oleh ketiga sahabat yang telah ia anggap sebagai hyungdeulnya itu berhasil membuat Tao ragu, apakah hal-hal yang diceritakan hyungdeulnya itu benar atau tidak. Karena pasalnya, hanya dia yang tidak mendengarkan ataupun mengalami hal-hal aneh seperti yang telah dialami hyungdeulnya.

"Ani, Tao. Untuk apa kita bercanda?" tanya Baekhyun. Tao yang mendengar balasan Baekhyun itupun langsung membenamkan wajahnya ke bantal yang tengah ia peluk.

"Ahjumma tidak mendengar ataupun mengalami hal-hal aneh selama 9 tahun ini, masa kita yang baru datang 1 hari ini bisa mengalami hal-hal aneh ini? Dan dulu, saat kami sekeluarga masih sering berkunjung ke villa ini, tidak pernah terjadi hal-hal aneh kok." jelas Luhan.

"Tunggu dulu." Baekhyun berkata dan mengernyit mengingat saat mereka berada di toko perhiasan bebatuan tadi pagi. Bagai menyusun puzzle, Baekhyun mengingat kembali semua kejadian-kejadian yang telah ia alami selama berada di bukit ini.

Geraman hewan, suara tawa yang tiba-tiba hening, bertemu dengan namja yang bersuara persis seperti suara dari villa sebelah, bekas gigitan di pasar.

Tidak ingin memikirkan semua ini sendirian, Baekhyun pun tampak mulai menceritakan apa yang ia pikirkan saat di pasar tadi pagi.

"Dengar, aku tidak tahu apakah ini benar atau tidak. Ini hanyalah pendapatku saja. Suara teman dari namja yang tadi menabrak Tao sama persis dengan suara namja yang aku dengar dari villa sebelah semalam saat makan malam. Dan yang buat aku semakin curiga itu… namja itu tersenyum padaku. Ani, bukan senyum ramah, tapi sejenis seringai begitu. Aku… aku tidak tahu, firasatku mengatakan kalau pertemuan di pasar itu bukanlah ketidaksengajaan. Aku tidak tahu, ini hanya firasat dan pendapatku saja." jelas Baekhyun yang bahkan ia sendiri pun bingung dengan pemikirannya yang terlampau jauh ini.

Luhan, Tao dan Kyungsoo tampak terkejut mendengar penjelasan Baekhyun. "Suaranya sama? Apa kau yakin? Atau mungkin hanya mirip saja?" tanya Luhan memastikan.

Baekhyun menggelengkan kepalanya. "Aku tidak yakin. Tapi… Melihat semua kejadian-kejadian yang aku alami dan kalian ceritakan, entah kenapa membuatku yakin kalau orang yang kita temui itu ada sangkut pautnya dengan semua ini. Hah, entahlah." Baekhyun mengusap rambutnya dengan kasar, bingung sendiri dengan tesis yang ia buat.

"Sepertinya kau terlalu banyak menonton film, hyung. Gayamu sudah terlihat seperti Sherlock Holmes." ujar Kyungsoo dengan tawa kecil. "Ih, aku serius, Kyung." balas Baekhyun.

"Apa maksudmu dengan 'melihat semua kejadian-kejadian', hyung?" tanya Tao, masih dengan memeluk erat bantalnya.

Baekhyun memasang tampang berpikirnya. "Haih, katakan saja! Jangan terlalu banyak bergaya, hyung." oceh Tao seraya memukulkan bantalnya pada Baekhyun. Baekhyun menyengir sebelum akhir memasang wajah seriusnya.

"Begini, kejadian pertama itu suara kaleng saat aku berada di kamar sebelah. Setelah itu, suara geraman hewan yang juga terdengar di kamar sebelah yang berasal dari villa sebelah, terjadi sebelum makan malam. Lalu, suara saklar dan suara marah seseorang dan suara tawa. Suara marah tersebut mengatakan bahwa ia sedang melakukan sesuatu. Setelah itu tidak ada suara apa-apa lagi. Benar-benar hening. Seolah-olah mereka tahu bahwa seseorang telah mendengar mereka berbicara." Baekhyun menghentikan penjelasannya. Kyungsoo, Luhan dan Tao mendengarkan dengan sangat serius. Otak Baekhyun sedang dalam mood waras, pikir mereka.

"Besoknya, Luhan hyung mendapatkan bekas gigitan pada lehernya tanpa penyebab yang diketahui. Aku simpulkan pendapatku bahwa mereka adalah penghuni villa sebelah. Awal mereka menyadari keberadaan kita saat Kyungsoo hyung mendengar suara geraman. Kamar sebelah tidak pernah digunakan 'kan, hyung? Oleh karena itu aku berpikir kalau mereka menyadari keberadaan kita karena ada suaraku dan Kyungsoo hyung yang berbicara cukup kuat dari kamar sebelah yang biasanya kosong. Dan lagi, mungkin saja suara geraman itu adalah suara anjing yang menyadari keberadaan kita di villa ini. Lalu, saat kita sedang berada di tengah-tengah makan malam, aku tiba-tiba masuk ke kamar. Suara mereka tiba-tiba berhenti, yang awalnya ramai dengan tawa dan marah kekesalan tiba-tiba terhenti dan hening. Seperti menyadari keberadaanku. Dan sesuatu yang salah satu namja dari villa sebelah tersebut katakan menurutku adalah rencana mereka untuk membuat pertemuan 'tidak sengaja' dengan kita di pasar." jelas Baekhyun panjang lebar dengan mimik wajah ketidakyakinan.

"Lalu menggigit leher Luhan hyung?" timpal Kyungsoo. Baekhyun menyentuh keningnya. Ia merasa pusing dengan semua ini. "Ini tidak masuk akal." ujar Tao.

"Aku juga berpikir seperti itu." gumam Baekhyun. "Iya. Coba pikirkan, kalau mereka memiliki anjing, seekor anjing itu pasti akan menggonggong entah itu pagi, siang, ataupun malam. Tapi aku tidak pernah mendengar suara gonggongan anjing. Dan lagi, bagaimana mungkin namja yang terlihat rapi, keren dan tampan seperti mereka tinggal di villa sebelah yang sangat kusam dan kotor? Mereka masuk dan keluar villa itu lewat mana? Sedangkan bisa kita lihat sarang laba-laba masih terrajut cantik di depan pintu villa itu." jelas Luhan.

"Dan soal bekas gigitan di leher Luhan hyung itu… Tidak mungkin seseorang dapat menggigit tanpa terasa sakit pada objek gigitannya, apalagi dengan gigitan sedalam itu." Kyungsoo mengangguk setuju dengan perkataan Tao.

"Mungkin semua ini hanya kebetulan saja, Baek. Mungkin saja suara-suara yang kita dengar itu hanyalah suara angin mengingat semalam anginnya berhembus sangat kencang. Dan mungkin saja bekas di leher Luhan hyung itu hanyalah memar biasa yang terkadang memang dapat terbentuk dengan sendirinya." ujar Kyungsoo berusaha menyudahi pikiran-pikiran aneh yang mulai menggerogoti mereka.

Semuanya mengangguk. "Mungkin saja." gumam Baekhyun. Namun dalam pikirannya, ia benar-benar yakin kalau suara yang ia dengar itu adalah suara manusia yang sedang berbicara. Seratus persen yakin.

"Umm… Begini saja, bagaimana kalau untuk malam ini kita berempat tidur di kamar sebelah? Kita coba buktikan sekali lagi apa benar ada suara di villa sebelah, bukan hanya imajinasi saja. Kalau kita berempat yang berada di kamar sebelah, otomatis kita berempat akan mendengarnya bersama-sama, bukan?" Luhan mengusulkan setelah rasa penasarannya tidak dapat dipendam lagi.

Baekhyun dan Kyungsoo mengangguk setuju.

"Ah, aku tidak mau. Itu mengerikan. Mendengar cerita dari kalian saja sudah mengerikan, apalagi mendengarnya secara langsung." Tao membenamkan wajahnya ke bantal yang ia peluk.

"Yasudah kalau tidak mau ikut, kau tinggal di kamar ini saja, ne?" tanya Baekhyun. Tao mengangguk. "Biar kami bertiga yang tidur di kamar sebelah dan kau tidur sendirian di sini. Aku tidak jamin kalau suara-suara itu akan terdengar di kamar ini juga." lanjut Baekhyun yang membawa bantal dan guling miliknya, siap-siap untuk pindak ke kamar sebelah.

Mendengar perkataan Baekhyun, Tao rasanya ingin menangis menjerit-jerit, tidak ingin ditinggal sendirian di kamar ini. Dan akhirnya, Tao pun dengan tertib mengikuti hyungdeulnya pindah ke kamar sebelah. The end. #plak

Keempat namja manis dan cantik tersebut menyusun bantal dan guling mereka di kasur.

Gerakan Luhan terhenti saat mendengar sesuatu yang samar-samar.

'Grrrr-'

"Ah, hujan!" seru Baekhyun yang membuat perhatian Luhan teralih ke jendela balkon, dan benar, hujan yang lumayan deras. Namja cantik bermata indah tersebut mengingat apa yang baru saja ia dengar. 'Ah, mungkin saja suara petir.' Dan kembali melanjutkan kegiatannya, tidak mempedulikan suara tersebut.

"Aww, malam ini pasti akan sangat dingin." komentar Kyungsoo yang duduk di atas kasur seraya memandang ke arah jendela. Sedangkan Tao juga ikut duduk di kasurnya dan Luhan, memandang ke arah jendela. Hujan turun dengan cukup deras. Suhu di kamar tersebut mulai mendingin.

Beberapa menit kemudian, hujan secara tiba-tiba mereda dan akhirnya berhenti. Meskipun aneh dengan hujan yang cukup lebat lalu tiba-tiba reda, namun mereka tetap bersyukur karena dengan redanya hujan, udara malam ini tidak akan terlalu dingin.

Tao yang masih duduk di atas kasurnya pun kembali melihat ke arah jendela, tepatnya ke arah bulan yang bersinar dengan terang.

"Bulan purnama, hyung." ujar Tao. Sontak, Kyungsoo, Luhan, dan Baekhyun menoleh dan melihat ke arah jendela. Dan benar saja, bulan sangatlah bulat dan terang.

Baekhyun tampak berjalan dan duduk di samping Tao. "Haahh, indah~" ujarnya dengan senyum manis terpampang di wajahnya. Sedetik kemudian, namja manis itu menjatuhkan tubuhnya ke belakang dan bergolek-golek malas di atas kasur milik Tao dan Luhan tersebut. "Ngantuk." gumam Baekhyun.

"Aih, hyung! Tidur di kasurmu sana! Aku mau tidur!" Tao mengusir dan menendang-nendang kecil pada pinggul Baekhyun. "Iya, iya." Baekhyun mendengus, lalu bangkit dan kemudian menjatuhkan tubuhnya di atas kasurnya. Entah kenapa rasa kantuk tiba-tiba menyerangnya. Lebih baik ia tidur sekarang. Tidak jauh beda dengan Kyungsoo dan Luhan yang satu-persatu mulai berbaring di kasur dan terlelap. Tao sendiri pun memutuskan untuk ikut berbaring. Ia menutup pintu kaca yang menjadi pembatas antara balkon dan kamar, lalu mematikan lampu kamar.

Namun rasa kantuk tidak memihak pada Tao yang terlihat berbaring menghadap ke arah Luhan, memejamkan matanya dengan headset yang menempel di kedua telinganya, namun kesadarannya masih penuh. Suasana kamar yang gelap dan sepi membuat Tao sedikit canggung dan lebih memilih menyumpal kedua telinganya dengan headset.

ZTTARRR!

Tao sontak membuka matanya dan menoleh ke arah jendela, ia membuka headsetnya. 'Hujan.' pikirnya. Saat namja manis yang memiliki bagian hitam pada bawah matanya hendak memasang kembali headsetnya, sesuatu menghentikan gerakannya. Gerakannya benar-benar terhenti, bahkan napasnya pun tertahan dan matanya terlihat melebar.

Seseorang masuk ke balkon dari arah samping. Gelap, Tao tidak dapat melihat wajah namja tersebut, yang jelas namja itu berpostur tinggi. Detak jantung Tao terasa mulai tidak beraturan saat melihat namja tersebut berhenti tepat di tengah tengah balkon, menghadap ke arah Tao dengan background petir yang menyala-redup.

Mata Tao tampak terbelalak saat sebuah cahaya petir menyala dengan sangat terang hingga membuat wajah namja tersebut terlihat cukup jelas meskipun hanya sekilas. 'Mau apa dia ke sini? Ada apa dengan matanya yang memerah itu?'

Rasanya ia ingin segera membangunkan ketiga hyungdeulnya, namun entah kenapa sekujur tubuhnya terasa berat dan fokusnya hanya terpaku pada namja di luar sana.

Perlahan-lahan, hujan kembali mereda. Tao masih terdiam pada posisinya. Perlahan, awan mendung yang menutupi bulan purnama mulai menghilang hingga sinar terang bulan purnama pun kembali terlihat. Namun bukan itu yang menjadi perhatian Tao saat ini, melainkan namja itu yang masih dikelilingi kegelapan sehingga hanya terlihat bayangan hitamnya saja.

Tao mengernyit saat secara perlahan postur tubuh namja tersebut berubah menjadi semakin pendek, semakin pendek, dan semakin –eh?

Dan kali ini Tao benar-benar terlonjak kaget. Sepertinya kali ini ia benar-benar harus membangunkan ketiga hyungnya.

.

.

"AWUUUUUU!"

Namja tersebut berubah menjadi seeokar serigala. Ya, namja tersebut.

.

.

Namja yang tadi pagi menabrak yang bernama 'Kris'

~TBC~

Jeng! Jenggg! *tegang* *tegang* #plakkk

Ala-ala sinetron getoh, loh~ Sinetron yang paling kece itu… Yang judulnya itu… Apa- lupa. == #plakk 'Handsome Handsome Wolf' itu loh :3 *ditembak mati*

Oke, untuk chap kali ini, hanya inilah yang bisa author sampaikan untuk kalian readersku tercinta *lempar kecupan sayang* #plak ^^

Big thanks to my dearest readers. Thanks a lot buat review kalian ^^

Oke, akhir kata dari author,

Review, please~? ^^

Gomawo~

*bow* m(_ _)m