Growl

Rate:: T

Pair:: KaiSoo, ChanBaek, KrisTao, HunHan

Genre:: Drama and Romance

Author:: Hiwatari Niwadark

"Awwuuuuu!"

Kai menghentikan gerakannya, sedangkan Kyungsoo langsung membuka matanya. "Suara apa itu?" tanyannya. Kai tidak menjawab, nampaknya namja tampan itu sedang berpikir.

"Awwwuuuuuu!" Aungan lain kembali terdengar. Kai melepaskan tangannya dari wajah Kyungsoo. "Aku tidak tahu. Sepertinya sesuatu telah terjadi." gumamnya pelan. Kyungsoo mengernyitkan keningnya, tidak mengerti dengan maksud Kai.

Kyungsoo yang melihat Kai sedang kebingungan pun melirik ke arah pintu. Inilah yang maksud dari ucapan yang ia katakan pada Kai sebelumnya. Cepatlah memakannya sebelum ia berubah pikiran. Dan sekarang, namja itu telah berubah pikiran. Kyungsoo melangkah mundur dengan pelan, matanya tetap mengamati Kai yang tengah melihat ke arah jendela, namja itu terlihat sedang menerawang sesuatu.

Mundur 3 langkah, namja itu langsung berlari keluar dari kamar. Kai terkejut dan hendak mengejar Kyungsoo, namun namja itu memutuskan untuk tetap tinggal di kamar itu. Ia sedang mendengar suara aungan yang kembali terdengar. Ia kenal betul dengan suara-suara itu, suara aungan yang dikeluarkan secara bergantian dari Kris, lalu Sehun dan yang terakhir Chanyeol.

Mata namja tampan itu terlihat mengeluarkan cahaya, ia sedang melihat keadaan di luar sana. Sebenarnya apa yang terjadi?

.

.

.

.

"Nghh..." Tao mengeluh saat rasa pusing di kepalanya menyambutnya ketika ia tersadar. Menggeliatkan tubuhnya sejenak kemudian dengan perlahan membuka kedua matanya. Ia mengernyit saat merasa pandangannya kabur dan suasana di sekitarnya itu gelap.

'Di mana ini? Di kamar, ya?' pikirnya bingung. Ia tidak ingat kalau terakhir kali hal yang ia lakukan adalah tidur di kamar meskipun ia juga tidak ingat apa hal terakhir yang ia lakukan sebelum ia tidak sadarkan diri.

Tidak sadarkan diri? Ia ingat ia tidak tidur, berarti ia pingsan? Dan dengan pandangannya yang masih kabur itu dapat melihat samar-samar sesuatu yang berada di atasnya. Dengan bingung namja itu berusaha untuk mendudukkan dirinya yang kini entah tengah berbaring di mana. Tao terdiam, tubuhnya tidak bisa bergerak, sesuatu menahan kedua lengannya saat ia hendak mendudukkan dirinya. Bukan sesuatu, sepertinya 'seseorang'.

Dengan perlahan pandangannya mulai jelas, semakin jelas dan akhirnya ia dapat melihat dengan jelas apa yang ada di atasnya itu.

"Uwwaaaaahhh!" Tao berteriak, terkejut melihat Kris yang kini tengah berada di atas Tao dengan kedua tangannya sebagai penahan tubuhnya agar tidak menimpa Tao. "Lepaskaaan! Hyung! To-hmmpphh!" teriakan Tao tertahan oleh tangan besar Kris yang menutup mulutnya. Gigi-gigi taringnya yang runcing dan mata emasnya benar-benar membuat membuat Tao bergetar ketakutan.

Di mana hyungdeulnya? Di mana mereka? Dan kenapa ia bisa ada di sini? Apa yang terjadi? Apa ia benar-benar akan dimakan? Semua pertanyaan-pertanyaan itu mengelilingi pikiran Tao. Bingung bercampur ketakutan.

Tangannya yang bebas berusaha untuk memukul Kris, dan sialnya, kedua tangannya berakhir ditahan oleh tangan kanan Kris yang bebas. Tao mulai panik, ia tidak tahu lagi harus berbuat apa. Dengan spontan dan pikiran untuk melawan, Tao menendangkan kakinya ke selangkangan Kris.

"Ughh!" ringis Kris. Dengan segera Tao menepis tangan Kris yang menahannya dan segera bergerak mundur. Kris menggeram kesal. Tao menghentikan gerakanya saat punggungnya telah menabrak pohon besar yang ada di belakangnya. Ternyata Kris membawanya sampai ke tengah hutan, di mana cahaya matahari pun tidak terlalu ada di sana.

"Lepass!" Tao meringis kesakitan saat tangannya dicengkram dengan kasar oleh Kris. Ia menatap mata emas Kris yang terlihat agung dan mewah namun sangat mengerikan itu. Mata namja manis itu terlihat memerah dan berair. Biasanya, dalam situasi sesulit apapun atau dalam situasi bahaya, hyungdeulnya pasti akan selalu ada di sana untuk melindunginya. Tapi sekarang, di mana mereka? Bukan hanya mengkhawatirkan dirinya sendiri, ia juga mengkhawatirkan hyungdeulnya. Apakah mereka juga sedang mengalami hal seperti ini? Apa mereka baik-baik saja?

Tangan kiri Tao yang bebas mengusap kedua matanya yang hampir menitikkan air mata. Ia meringis kecil saat kuku-kuku tajam Kris menancap dan menembus kulit tangan kanannya yanh dicengkram dengan sangat kuat itu. Sakit dan takut, tapi ia berusaha untuk tidak membiarkan air matanya turun.

Tao kembali berusaha untuk melawan dengan wushunya, melawan selama 1 menit namun gagal. Yang ia dapatkan malah cengkraman kuat di tangan kirinya juga dan kedua kakinya ditahan oleh kedua kaki Kris. Entah kenapa namja di depannya itu sangatlah kuat, ia sudah mengeluarkan semua kekuatannya untuk melawan namja itu dan namja itu? Tidak bergerak sama sekali. Padahal Tao sudah memenangkan 7 kali pertandingan martial art yang mengandalkan kekuatan melawan yang besar, tapi kenapa hal itu tidak berefek pada Kris?

Lagi-lagi air kembali menggenangi matanya. Kris menyeringai. "Diamlah. Jadilah anak manis di detik-detik terakhirmu." bisik Kris yang sedari tadi tidak mengeluarkan suaranya. Ia adalah tipe yang paling tidak suka berbicara di saat-saat seperti ini. Mengganggu mood.

Namja tampan bertubuh tinggi itu mendekatkan wajahnya pada Tao, ia melihat dengan intens leher putih namja yang ada di depannya ini. Ia bukan drakula yang akan meminum darah dari leher manusia, ia adalah serigala, pemakan daging. Ia menargetkan leher sebagai objek gihitan pertamanya itu karena leher memiliki nadi. Sekali gigit di leher, korbannya akan langsung meninggal. Dengan begitu tidak perlu untuk mendengar jeritan-jeritan kesakitan dari korbannya di saat ia menggigit daging-dagingnya, 'kan?

"Huks!" Kris menghentikan gerakannya di saat gigi-gigi taringnya sudah menyentuh permukaan kulit leher Tao. Ia melihat wajah Tao yang kini tengah memejamkan matanya dengan erat. Terlihat setetes air mata turun dari mata kanan namja manis itu. Kris mengernyit bingung, selama beratus-ratus tahun ini ia tidak pernah bertemu dengan mangsanya yang diam menangis membiarkan lehernya untuk digigit. Biasanya si mangsa akan berteriak-teriak meminta tolong, memaki-makinya, menangis meraung-raung, bukannya menangis pasrah seperti ini.

Namun ia akui Tao itu kuat, ia cukup kelelahan dengan perlawanan Tao. Dia kuat, tapi kenapa dia sangat mudah menyerah dan menangis? Begitulah pikir Kris. Namja tampan itu tidak menghiraukan hal itu, ia memilih untuk melanjutkan kegiatannya. Ujung taringnya kini mulai menekan ke kulit leher Tao.

"Hiks!" Isakan kecil itu kembali terdengar. Kris kembali menghentikan gerakannya. Ia menjauhkan wajahnya dari leher Tao dan berganti menatap wajah Tao yang masih memejamkan matanya.

Merasa tidak terjadi apa-apa, Tao membuka matanya dengan perlahan dan tersentak saat mendapati tatapan tajam dan dalam dari Kris. "Kenapa tidak jadi?" tanya Tao dengan suara yang sangat pelan. Kris terkejut sekaligus bingung mendengar pertanyaan Tao yang masih dapat terdengar olehnya itu.

'Dia ini apa? Kenapa aneh sekali?' pikir Kris bingung. Jelas, manusia mana yang bertanya pada karnivora sepertinya kenapa tidak jadi memakannya? Kris mengeratkan cengkramannya pada kedua tangan Tao. Tao meringis kesakitan, ia memejamkan matanya dengan erat untuk menahan rasa sakitnya. Kini kedua pergelangannya berdarah karena kuku-kuku Kris yang menancap ke tangannya. Sakit tak terjelaskan.

Kris yang berniat untuk melanjutkan kegiatannya pun kembali berhenti saat tidak sengaja melihat ke arah wajah Tao. Ia terdia mengamati wajah Tao. Entah apa yang dipikirkan oleh pemimpin kelompok itu, namja tampan itu sedikit menjauhkan tubuhnya dan melonggarkan cengkraman tangannya pada pergelangan tangan Tao.

Dan kemudian, Tao membuka matanya dan melihat dengan jelas Kris memunculkan telinga serigalanya, rahangnya yang semakin besar, tangannya yang mulai berbulu dan kemudian namja tampan itu mengaung dengan sangat kuat.

"Awwwuuuuuuu!"

.

.

.

Sehun berdecak kesal, ia lelah terus menahan Luhan yang sedari tadi memberontak. Entah itu kepalanya yang disundul oleh kepala Luhan, tangannya yang digigit, rambutnya yang dijambak, telinganya yang ditarik, selangkangannya yang ditendang, punggungnya yang dicakar, dan sebagainya. Kekuatan Sehun memang tidak sebesar kekuatan Kris, namun terbilang kuat jika dibandingkan dengan kekuata manusia. Meskipun begitu, entah kenapa perlawanan Luhan membuatnya kelelahan, kekuatannya yang semula penuh kini dapat dikatakan tinggal 50%. Padahal awalnya ia sudah hampir dapat menikmati dagingnya, sialnya Luhan malah sadarkan diri dari pingsannya di saat di tengah menancapkan gigi-gigi taringnya ke lehernya. Dan sekarang dapat kalian lihat bekas gigitan yang tidak terlalu dalam pada leher Luhan dengan sedikit darah yang keluar. Sebut saja itu adalah bekas gigitan kedua yanh bersarang di leher Luhan.

"Arghh! Pergi kau, dasar alien!" bentak Luhan yang kali ini menendang perut Sehun dengan lututnya. Sehun menggeram kesal. Meskipun semua pukulan yang diberikan oleh Luhan itu tidak sakit baginya, namun menahan pergerakan Luhan sangatlah melelahkan. Dan lagi, ia sudah sangat ingin merasakan darah dan daging namja yang ada di depannya itu.

"Diamlah!" Sehun menahan kedua tangan Luhan dengan kasar, ia sudah muka dengan semua perlawanan Luhan. Dengan kasar ia mencengkram leher Luhan dengan sebelah tangannya. Sedangkan tangannya yang satu lagi menahan kedua tangan namja berwajah cantik yang ada di depannya itu.

"Khh! Khukk! Hukk! Uhuk!" Luhan terbatuk dan merasa napasnya tertahan. Ia kembali berusaha memberontak dan akhirnya kedua tangannya pun berhasil terlepas dari cengkraman Sehun.

"Ck!" decak Sehun. Dengan kesal ia melepaskan cengkraman pada leher Luhan dan kemudian menaikkan dagu Luhan dengan tangan kanannya dan menyentuh wajah namja cantik itu dengan tangan kirinya.

Tanpa sengaja, kuku panjang Sehun menggores pipi lembut dan putih Luhan hingga berdarah.

"Aww!" ringis Luhan memejamkan matanya dengan erat menahan rasa sakit. Sehun terdiam, memandangi darah yang menetes dari pipinya. Tanpa sengaja, ia matanya menatap langsung ke mata Luhan yang baru saja dibuka. Keduanya terdiam, Sehun menatap mata bulat Luhan dengan cukup lama, sedangkan Luhan hanya terdiam bingung dengan Sehun yang menatapnya dengan dalam.

"Awwuuuuuu!" Namja berwajah cantik itu baru saja berniat untuk bergerak dan melarikan diri selama Sehun masih terdiam, namun sialnya suara aungan yang terdengar membuat Sehun tersadar dan kembali mencengkram kedua lengannya dengan erat.

Sehun terlihat sedikit menegakkan tubuhnya dan melihat ke sekelilingnya.

"Suara apa itu?" tanya Luhan. "Diamlah, bukan urusanmu." jawab Sehun dingin tanpa menoleh ke arah Luhan. Ia masih bingung kenapa aungan milik Kris yang jelas sangat ia kenal itu dikeluarkan? Biasanya aungan seperti itu dikeluarkan hanya pada saat bulan purnama muncul. Dan lagi, ada yang berbeda dengan suara aungan itu, terdengar lebih kuat.

Melihat Sehun yang lagi-lagi kembali lengah, Luhan pun langsung mendorong wajah tampan Sehhn dengan sekuat tenaganya dan segera lari dari makhluk aneh itu. Sehun yang didorong dengan kasar itu pun hanya duduk membiarkan Luhan untuk berlari menjauh. Ia terdiam beberapa detik sebelum akhirnya namja tampan itu berdiri, menepuk-nepuk celananya yang kotor dengan seringai tipis yang terbentuk di bibirnya.

"Awwwuuuuuu!"

.

.

.

.

"Ya! Jawab aku! Kau bisu?! Aku tanya, di mana yang lain? Kenapa kau menculikku?!" Baekhyun terus memberontak, menjambak-jambak rambut Chanyeol dan terus bertanya, yang tepatnya berteriak pada Chanyeol.

Chanyeol tidak menjawab, memang cukup lelah untuk menahan perlawanan Baekhyun yang dapat dikatakan dahsyat ini. Namja manis yang ada di depannya ini tidak lelah-lelahnya memberontak dan berteriak. Kini di samping menahan gerakan Baekhyun, Chanyeol fokus pada leher putih yang ada di depannya itu yang sialnya sangat sulit untuk digigit.

"Woii! Jawab aku!" kesal Baekhyun yang kemudian menarik kedua telinga Chanyeol. "Aww!" ringis Chanyeol. "Kalau telingaku putus atau ada anggota tubuhku yang terluka, wujud serigalaku akan muncul dan memakanmu hingga tulangmu pun tak bersisa." ancam Chanyeol. Baekhyun terdiam. Ia tidak berani menyentuh Chanyeol.

"Kalau begitu," bisik Baekhyun. "KEMBALIKAN AKU KE VILLA!" teriak Baekhyun tepat di telinga Chanyeol yang membuat namja tampan itu merapatkan giginya menahan rasa teriakan itu. Ya, coba bayangkan saja bagaimana rasanya jika kau menempelkan telingamu ke speaker bioskop. Begitulah rasanya...

Chanyeol berdecak kesal. Ia benar-benar tidak ingin bermain-main lagi. Dengan kesal, namja berambut coklat kemerahan itu menutup mulut Baekhyun dengan tangannya dan dengan segera menancapkan gigi-gigi taringnya ke leher Baekhyun.

"HMPHH!" Baekhyun berteriak tertahan. Ia dapat merasakan sesuatu yanh tajam itu masuk dengan dalam ke lehernya. Sakit. Sangat sakit. Namja manis itu dapat merasakan darahnya mengalir ke belakang lehernya berhubung posisinya saat ini adalah terbaring di tanah hutan.

"Awwuuuuuu!" Baekhyun dapat merasakan taring Chanyeol berhenti bergerak. Untung saja tarik itu belum mengenai urat nadinya, kalau tidak, maka ia sudah pasti akan melihat malaikat dengan sayap yang indah menjemputnya.

"Hmmpphh!" erang Baekhyun kesakitan saat Chanyeol menarik gigi-gigi tarinhnya dari lehernya. Napasnya berderu dengan kencang. Ia tidak dapat memikirkan apa maksud dari aungan itu lagi, terlalu sibuk dengan rasa sakit pada lehernya.

Chanyeol terdiam mendengar aungan itu. Dengan perlahan ia bungkamannya pada mulut Baekhyun dan melonggarkan cengkramannya pada lengan namja manis itu. Dengan napas yang masih belum teratur dan alis yang berkerut, Baekhyun melihat Chanyeol yang tidak melakukan apapun. Bahkan namja tampan itu malah melonggarkan cengkramannya. Dengan perlahan, ia menjauhkan tubuhnya dari Chanyeol.

Baekhyun tampak terkejut saat Chanyeol menoleh ke arahnya dan menatapnya. Namja tampan itu menahan tangan Baekhyun.

"Awwwuuuuuu!" Namun suara aungan serigala kembali terdengar. Kali ini Chanyeol benar-benar melepaskan tangan Baekhyun, ia bahkan menjauhkan tubuhnya dari namja yang lebih pendek darinya itu. Baekhyun bingung, namun ia tidak terlalu memikirkan hal itu. Yang paling penting sekarang ini adalah kabur dan mengobati lehernya. Lalu, namja manis itu pun dengan sedikit terhuyung berdiri dan beranjak dari tempat itu. Entah ke mana ia melangkah, ia tidak tahu jalan keluar dari hutan ini, yang jelas ia hanya ingin menjauh dari Chanyeol.

Chanyeol terdiam melihat punggung Baekhyun yang semakin menjauh. Ia menghela napasnya mengusap bibirnya yang berlumuran darah. Menarik napasnya dalam-dalam dan...

"Awwwuuuuuu!"

.

.

.

"Haaah... Haaahhh..." Tao terengah-engah setelah setengah jam berlari-lari tanpa berhenti ataupun melambatkan kecepatan berlarinya. Ia masih takut kalau saja Kris mengejarnya. Ia menyandarkan tubuhnya ke pohon yang ada di dekatnya, mengusap keringat di keningnya dan menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.

Krseek!

Tao tersentak kaget dan langsung mengambil langkah seribu. Namun, ia berhenti saat menoleh ke belakang dan mendapati Baekhyun menopang tangan kanannya pada pohon dan tangan kirinya yang memegang lehernya. "Baekhyun hyung!" panggil Tao seraya berlari mendekati Baekhyun. Ia menahan sekuat tenaganya agar air matanya tidak mengalir turun. Ia ketakutan dan juga senang saat bertemu dengan Baekhyun, seperti anak yang tersesat di mall dan bertemu kembali dengan orang tuanya.

"Hyung, lehermu berdarah!" Ia memutuskan untuk tidak bertanya karena ia sudah tahu penyebab dari pendarahan itu, ia lebih memilih membantu Baekhyun untuk berdiri.

"Tao-yah." Baekhyun bernapas lega setelah bertemu dengan Tao. Lebih baik berdua daripada sendirian. Tapi, bagaimama dengan Luhan dan Kyungsoo?

"Di mana Luhan hyung? Kyungsoo?" tanya Baekhyun dengan suaranya yang pelan. Tao menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu, hyung." jawab Tao seraya membantu Baekhyun untuk berjalan. "Lebih baik sekarang kita cari jalan keluar dari hutan ini. Mana tahu tidak sengaja bertemu dengan mereka, atau mungkin mereka ada di villa." ujar Baekhyun. Tao menganggukkan kepalanya. Perasaannya kini bercampur aduk antara takut, sedih, marah, senang dan terutama khawatir melihat kondisi Baekhyun. Namja manis bertubuh tinggi itu berjalan dengan sesekali meringis saat tangan ataupun kakinya tergores ranting-ranting pohon yang rendah.

"Luhan hyuuunggg? Baekhyun hyungggg? Tao-yaahhhh! Hyungggg?" Baekhyun menarik tangan Tao saat mendengar samar-samar suara yang memanggil namanya. "Itu suara siapa, Tao?" tanyanya. Tao mengernyitkan keningnya. "Suara apa, hyung?"

"Tao-yaaaah! Hyuuunggg! Kalian di manaaa?" Tao membulatkan matanya saat ia mendengar suara yang dimaksud oleh Baekhyun. "Bukankah itu suara Kyungsoo?" tanya Baekhyun berusaha mencari asal suara itu.

"Ah! Baekhyun hyung! Tao!" panggil Kyungsoo dari arah belakang Baekhyun dan Tao. Baekhyun tersenyum lebar melihat Kyungsoo. Begitu juga dengan Tao, namun namja itu hanya tersenyum sedetik dan kemudian menunjukkan wajah terkejutnya. Ia berjalan mendekati Kyungsoo, begitupun dengan Baekhyun.

"Hyung, ada apa dengan pipimu?" tanya Tao yang kini sudah berdiri tepat di depan Kyungsoo. Kyungsoo mengernyit. "Ada apa memangnya?"

Baekhyun menyentuh pipi kanan Kyungsoo yang sedari tadi menjadi pusat perhatiannya dan Tao. Setelah menyentuh pipi Kyungsoo, namja itu menunjukkan tangannya pada namja bertubuh lebih mungil darinya itu. "Pipimu berdarah sangat banyak."

Kyungsoo tampak terkejut melihat darah pada tangan Baekhyun yang tadi menyentuh pipinya. "Apa ini? Apa pipiku terluka?" tanya Kyungsoo. Tao menganggukkan kepalanya. "Bentuknya seperti cakaran besar, hyung. Darahnya banyak dan belum kering." jawabnya. Kyungsoo semakin mengernyit bingung. "Tapi aku tidak merasa sakit sama sekali, dan aku tidak menyadari kalau ini berdarah." Jawaban Kyungsoo tentu membuat Baekhyun dan Tao mengernyit bingung.

"Kau juga dibawa ke hutan?" tanya Baekhyun. Kyungsoo menggelengkan kepalanya. "Ani, aku tertinggal di villa sendirian dengan Kai. Aku pikir kalian bertiga tidak mungkin pergi jauh sedangkan mobil masih ada di depan rumah. Jadi aku pikir lebih baik mencari kalian di hutan ini." jawabnya. Ya, dan sekarang mereka bertiga sama-sama terjebak di hutan. Great.

"Luhan hyung tidak bersama kalian?" tanya Kyungsoo. Luhan dan Tao menggelengkan kepala. "Ani, kami bertiga terpisah dan aku tidak sengaja bertemu dengan Tao." jawab Baekhyun. Tao melihat lengannya yang berdarah. Aneh, kenapa luka-luka mereka darahnya susah untuk berhenti ataupun kering? "Apa lebih baik kita kembali ke villa? Mungkin saja Luhan hyung sudah kembali ke villa." usul Tao. Baekhyun dan Kyungsoo terlihat sedang berpikir. Sudah cukup lama sejak ia keluar dari villa itu, mungkin saja Kai sudah pergi dan ada kemungkinan juga Luhan kembali ke villa itu saat ia masuk ke hutan ini, 'kan? Tapi bagaimana kalau tidak? Bagaimana kalau justru sebaliknya, Luhan tidak berada di villa?

"Baiklah, kita kembali dulu." jawab Baekhyun. Sedikit ragu dengan keputusannya namun ia tidak tahu apa yang bisa mereka lakukan jika terus berada di dalam hutan ini. Bisa-bisa malah serigala lain datang memakan mereka.

Ketiga namja itu berjalan kurang lebih 2 jam sejak kesepakatan mereka untuk kembali ke villa. Tao dan Baekhyun tersenyum lega saat dapat melihat villa mereka dari dalam hutan ini, yang berarti mereka sudah ada di pinggir hutan. Sedangkan Kyungsoo, ia semakin khawatir, entah kenapa firasatnya mengatakan kalau Luhan belum kembali ke villa itu, namun ditepisnya jauh-jauh pikiran itu. Positive thinking.

Cukup lama berjalan dari pinggir hutan ke villa, akhirnya mereka masuk ke dalam villa dengan was-was. "Hyung? Luhan hyung?" panggil Baekhyun.

Tidak ada jawaban yang terdengar. Dan mungkin Kai sudah tidak ada di villa itu lagi.

"Hyung? Luhan hyunnggg!" Kali ini Baekhyun memanggil dengan teriakan. Masih tidak ada jawaban. Kyungsoo, Baekhyun dan Tao terdiam. "Aku akan coba periksa di kamar atas." ujar Baekhyun pelan.

Kyungsoo menarik ujung kaos yang dikenakan oleh Tao saat Tao hendak mengikuti Baekhyun. "Apa lebih baik aku kembali ke hutan mencari Luhan hyung?" tanyanya. Tao terdiam, tatapan sedih terpancar dengan jelas dari matanya. "Kita coba periksa di kamar atas dulu, hyung." balasnya pelan seraya menarik tangan Kyungsoo dan berjalan menaiki tangga.

"Baekhyun hyung?" Tao membuka pintu kamar mereka dan tidak menemukan siapapun. "Tao-ah." panggil Kyungsoo menarik tangan Tao seraya menunjuk ke arah kamar sebelah, kamar paling ujung. Tao menghela napasnya kemudian berjalan ke arah kamar yang ditunjuk oleh Kyungsoo tadi.

"Baekhyun hyung," Kyungsoo dan Tao memasuki kamar yang menjadi tempat pertama di mana semua ini berawal. Terlihat di sana Baekhyun tengah berdiri di samping kasur seraya memandangi balkon jendela, membelakangi Tao dan Baekhyun.

"Kita harus kembali ke hutan." ucap Baekhyun pelan. Namja manis itu membalikkan tubuhnya menghadap kedua temannya. Tao mengusap wajahnya. Ia tidak menyangka liburan di mana ia berharap dapat bersenang-senang bersama sahabat-sahabatnya ini akan berakhir seperti ini. Kyungsoo merasakan setetes darah dari pipinya jatuh mengenai tangannya. Ia menatap darah yang ada di tangannya itu.

"Gggrrrrrr!" Ketiga namja itu sontak menoleh ke arah dinding di mana suara itu berasal.

"Ggrrrrrrr!" Kriiittt!

Erangan itu kembali terdengar disertai dengan suara cakaran sesuatu pada dinding. Baekhyun, Kyungsoo dan Tao saling bertatapan dengan mata terkejut. Mereka langsung berlari keluar dari kamar itu dan mengemasi barang-barang mereka seadanya, bahkan banyak baju-baju mereka yang sedang tergantung di gantungan baju ditinggal begitu saja.

"Bagaimana dengan Luhan hyung?" tanya Tao. Mereka kini sedang berlari menuruni tangga dengan tas masing-masing di tangan mereka. "Kita akan mencarinya dengan menggunakan mobil." jawab Baekhyun. Mereka segera melempar tas-tas mereka ke dalam mobil dan duduk di tempat masing-masing dengan Baekhyun sebagai pengendara.

Saat namja manis itu hendak menjalankan mobilnya, terdengar suara ketukan dari jendela belakang mobil yang membuat ketiga namja itu terkejut.

"Luhan hyung!" seru Tao. Luhan tampak berjalan terpincang ke arah pintu mobil dan masuk ke dalam mobil tersebut. Penampilannya sangat berantakan dengan luka di mana-mana, di leher, di kening dan di kaki. "Hyung, kau ke mana saja? Ada apa denganmu?" tanya Baekhyun khawatir. Kyungsoo sibuk memberikan tissue kepada Luhan.

Luhan yang napasnya masih terengah-engah berusaha untuk menjawab. "Cepat jalankan mobilnya!" Dengan segera Baekhyun menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Untung saja jalanan sudah diperbaiki semalam.

"Lalu, apa yang terjadi denganmu, hyung? Kami mencarimu." tanya dan ujar Kyungsoo. "Aku tersesat di hutan, dan kalian tahu apa yang terjadi di hutan itu? Tepat sebelum aku keluar dari hutan itu, banyak pohon-pohon besar yang tumbang dan langit perlahan-lahan semakin gelap. Dan aku tertimpa oleh salah satu pohon yang untungnya tidak terlalu besar, dan inilah hasilnya." jelasnya menunjuk kening dan lututnya yang berdarah. "Angin berhembus sangat kencang dan langit gelap itu semakin menyebar dan mendekati villa kita saat aku berlari ke mobil ini. Maka itu aku menyuruh kalian untuk cepat menjalankan mobil ini. Dan sepertinya kau harus mempercepat kecepatannya, Baek." ujar Luhan yang melihat ke arah belakang dengan khawatir.

Baekhyun yang terkejut dan takut pun langsung mempercepat laju mobilnya. "Serigala itu..." gumam Luhan yang masih melihat ke arah belakang mobil, memantau jalan di belakang. "Kenapa dia tiba-tiba melepaskanku?" Namja berwajah cantik itu membalikkan tubuhnya ke depan. "Iya, yang namanya Chanyeol itu juga tiba-tiba melepaskanku setelah mendengar dua suara aungan."

"Sehun melepaskanku setelah mendengar aungan pertama." ujar Luhan. "Sehun?! Kau diculik oleh Sehun itu?!" tanya Baekhyun dengan nada tinggi. "Iya."

Baekhyun menggeleng-gelengkan kepalanya, tak habis pikir Luhan bisa selamat dari tangan si Sehun yang mengerikan dan kejam itu.

"Kai terlihat kebingungan saat mendengar ketiga aungan itu. Sepertinya ada sesuatu di balik aungan-aungan itu." ujar Kyungsoo memejamkan matanya, lelah dengan semua yang terjadi pada hari ini.

"Dan aku dilepaskan oleh Kris secara tiba-tiba lalu dia mengaung." ujar Tao pelan. Kyungsoo dan Luhan sontak menoleh ke arah Tao. "Berarti ada sesuatu yang membuat Kris mengaung. Memangnya apa yang kau lakukan sampai membuat pemimpin dari serigala-serigala itu mengaung?" tanya Luhan. Tao menggelengkan kepalanya "Aku tidak melakukan apa-apa, dia saja yang tiba-tiba berhenti dan mengaung."

Kyungsoo kembali menyandarkan tubuhnya dan memejamkan matanya. "Berarti pemimpin itu sedang merencanakan seseuatu. Tidak mungkin dia melepaskan mangsanya begitu saja. Dan lagi, Sehun, Chanyeol dan Kai mendengar melepaskan kita setelah mendengarkan aungan itu. Mereka mengaung secara bergantian seperti memberikan sinyal, dari Kris ke Sehun ke Chanyeol lalu ke Kai. Labih baik kita berhati-hati selama di perjalanan ini. Kita hanya bisa lega setelah keluar dari daerah ini." ujar Kyungsoo panjang lebar. Luhan, Tao dan Baekhyun mengangguk setuju.

Tanpa mereka sadari, pada diri mereka masing-masing terdapat luka yang disebabkan langsung oleh serigala-serigala itu.

.

.

.

"Dari rumus ini dapat kita susun rumus baru dengan yaitu perbadingan kuat medan gravitasi antara benda satu dengan..." Luhan menghela napasnya dengan bosan, memandang ke arah jendela. "Hyung! Perhatikan gurunya kalau kau tidak mau spidol guru itu terbang dan mendarat di kepalamu." bisik Tao yang duduk di sampingnya. Baekhyun yang duduk di depan Luhan pun menoleh ke belakang. "Hayooo! Mikirin apa?" Luhan berdecak dan meninju kecil lengan Baekhyun. "Hanya bosan saja, aku tidak mengerti apa yang dia katakan."

Kyungsoo yang duduk di samping Baekhyun juga ikut membalikkan badannya ke belakang. "Apa perlu kuulang apa yang da katakan agar hyung mengerti?" tanya Kyungsoo jahil. Luhan, Baekhyun dan Tao tertawa kecil.

Ptaakkk!

Sebuah spidol berhasil mengenai leher Baekhyun.

"Jangan berisik kalian! Dengarkan atau keluar!" Marah guru fisika yang super killer itu. Luhan, Kyungsoo dan Tao menegakkan tubuhnya mereka dan terlihat menahan tawa. "Ck, kenapa hanya aku yang kena spidolnya?" gumam Baekhyun kesal seraya mengusap-usap lehernya. Spidol itu tepat mengenai lukanya, bekas gigitan Chanyeol yang kini ia tutup dengan plaster.

Ya, sudah seminggu berlalu sejak kejadian itu. Mereka pulang ke rumah dan tidak ada kejadian aneh yng menimpa mereka, keculi luka mereka ini. Luka yang ada di leher Luhan dan Baekhyun, di lengan Tao dan di pipi Kyungsoo ini sembuhnya sangatlah lama. Darahnya tidak mengering selama 2 hari dan sampai sekarang luka itu masih basah meskipun darah sudah berhenti keluar.

(Darah tidak kering bukan berarti mengalir terus, bayangkan seperti darah pada jerawat yang kalau ditekan darah baru akan keluar, jika dibiarkan tidak akan keluar banyak. Luka di mereka itu jika disentuh akan keluar, meskipun tidak disentuh tidak bisa kering)

Sreeekkk!

"Permisi, Pak," Tampak kepala sekolah masuk ke dalam kelas. "Maaf mengganggu, tapi ini ada siswa baru. Mereka datang terlambat jadi mereka masuk di tengah pelajaran seperti ini." lanjutnya. Huru fisika itu mengangguk mengerti dan berdiri di samping kelas, membiarkan kepala sekolah untuk berbicara.

"Anak-anak, ini ada siswa pindahan. Mereka pindah dari sekolah yang jauh dari Seoul. Silahkan masuk."

Baekhyun yang sibuk menghitung soal yang diberikan guru fisika itupun mengangkat sebelah alisnya. 'Mereka?' pikirnya. Mereka yang berarti siswa pindahan itu ada lebih dari satu orang?

Sreeekk!

Tap tap tap...

Terdengar bisikan-bisikan kecil dari para siswi yang terlihat kagum dengan siswa-siswa baru itu. Dan juga tampak Luhan, Baekhyun, Kyungsoo dan Tao melebarkan mata mereka.

"My name is Kris. Bangapseumnida."

"Annyeong, Kai imnida."

"Oh Sehun."

"Park Chanyeol imnida. Bangapseumnida."

~END~

Sequel

"Kenapa kau tiba-tiba mengusulkan itu?" tanya Sehun dingin. Kini mereka tengah berkumpul di 'rumah' mereka, yaitu villa kusam itu.

Kris terdiam, ia terlihat duduk dengan tenang di sofa single. "Ada apa sebenarnya?" tanya Kai. "Apa yang kau rencanakan?" Kini suara bass Chanyeollah yang terdengar.

Kris menyeringai tipis. "Aku tertarik pada salah satu dari mereka, yang paling tinggi itu. Aku berencana untuk memasuki kehidupannya. Jika kalian mau, kalian boleh ikut denganku. Jangan terburu-buru, kalian dapat memakan mereka setelah kalian memiliki mereka sepenuhnya." jelasnya dengan seringai yang lepas dari wajah tampannya.

Dan dengan luka yang mereka ciptakan di tubuh mangsanya itulah mereka dapat mencium dan mendeteksi keberadaan mangsanya melalui darah.

Tidak ada yang bisa lepas dari mereka. Apa yang hilang akan didapatkan kembali.

~Officially END~

Yuhuuuu! Akhirnya end jugaaa... Yang paling ingin author sampaikan di ff ini adalah ucapan terima kasih author yang sebesar-besarnya pada readers. Tanpa readers, ff ini hanyalah sampah.

My lovely readers, thanks a lot for your reviews and support. Terima kasih sebanyak-banyak karena telah menemani author di ff ini dari chap 1 sampai akhirnya end.

Maaf kalau ff ini mengecewakan readers. *bow* Mian. Inilah usaha author untuk memuaskan readers. :) Semoga readers merasa lega dengan endingnya ff ini meskipun ngegantung ==

Okeh akhir kata dari author, samlai jumpa di ff selanjutnya... Bye byeee!

Review please~? Gomawo ^^ *bow*