Disclaimer © Tadatoshi Fujimaki
Warning: OOC, AU, Typo(s)
.
.
.
Pagi-pagi sekali Kagami sudah harus naik kereta untuk kembali ke perumahan elit nomor 1 dan mulai pekerjaan hari pertamanya. Dia sudah diberi salinan kunci untuk rumah mereka agar pagi-pagi Kagami sudah siap membuat sarapan dan lain-lain.
"Permisi," bisik Kagami sambil membuka rumah tempatnya bekerja meskipun dia tahu tidak akan ada yang menjawabnya. Kagami langsung menuju dapur dan menghela napas ketika melewati ruangan santai sangat berantakan dengan majalah-majalah dan kaset-kaset DVD berserakan dimana-mana, dia akan membuat sarapan dulu sebelum membereskan ruangan yang tidak tahu habis dibuat apa semalam.
Kagami membuat telur orak-arik, sosis goreng, roti panggang dan juga menyiapkan sereal. Dia juga membuat kopi, teh dan menyiapkan susu serta jus. Dia tidak tahu apa biasanya yang mereka makan untuk sarapan dan kerena mereka bukan orang normal, Kagami berpikir mungkin mereka tidak makan makanan orang-orang normal. Dan lagipula kalau mereka tidak memakan ini semua, Kagami bisa memakan semua untuk sarapan.
"Selamat pagi, Kagami-kun."
Kagami berteriak kaget dan akan memukul Kuroko dengan spatula yang dipegangnya tapi untungnya tidak jadi. Ini orang akan membuat jangka waktu hidupnya memendek jika melakukan itu terus-menerus.
"Apa-apaan dengan rambutmu itu?" tanya Kagami ketika melihat rambut bangun tidur Kuroko yang melegenda.
Kuroko hanya menjawab dengan memegang rambut birunya.
"Kau mau sarapan dengan apa?"
"Roti saja Kagami-kun." jawab Kuroko lalu duduk di salah satu kursi makan yang ada enam.
Kagami meletakkan beberapa roti panggang yang sudah diolesi dengan selai ke piring lalu meletakkannya di depan Kuroko.
"Mau susu?"
Kuroko mengangguk dan Kagami segera mengambilkan susu untuk Kuroko.
"Dimana yang lain?" tanya Kagami sambil mengangkat sosis yang sudah matang.
"Masih tidur."
Tepat setelah Kuroko menjawab, sekumpulan pelangi lalu memasuki dapur yang menjadi penuh.
"Selamat pagi, mau sarapan apa?" sapa Kagami yang tangannya penuh.
"Aku mau seperti Kurokocchi, ssu."
"Aku sereal dan kopi tanpa gula."
"Aku roti dan jus."
Kagami menyiapkan semua permintaan mereka dan meletakkan sarapan mereka di depan masing-masing pelangi. Kagami lalu melihat Murasakibara yang meletakkan kepalanya di meja dan belum meminta sarapan.
"Hey M-Murasakibara, kau mau sarapan?" Kagami berkata dan mengguncang-guncang tubuh besar Murasakibara untuk membangunkannya.
Murasakibara mengerang dan mengangkat wajahnya masih dengan mengantuk. "Hm? Sarapan?"
"Ya, kau mau sarapan dengan apa?"
"Emm terserah." jawab Murasakibara lalu meletakkan kepalanya di meja kembali.
Kau mau sarapan dengan mi instan kadaluarsa? kata Kagami di dalam hati tapi dia hanya mengangguk dan mengambilkan Murasakibara dengan semua menu sarapan yang dibuatnya biar dia memilih sendiri.
"Aomine mana?" tanya Kagami yang menyadari belum ada kepala dengan rambut biru gelap bersama mereka.
"Mungkin belum bangun. Tolong bangunkan." perintah Akashi.
Kagami mengangguk lalu keluar dari dapur dan menuju kamar Aomine yang letaknya sudah ditunjukkan sebelumnya. Kagami langsung mengetuk pintu berwarna putih berkali-kali tapi tetap tidak ada jawaban. Kagami menggigit bibirnya dan bertanya-tanya apakah dia harus memasuki kamar Aomine dan membangunkannya untuk sarapan atau tidak. Kamar adalah privasi seseorang dan Kagami pasti akan sangat jengkel kalau ada orang yang tiba-tiba masuk kamarnya tanpa permisi dahulu (seperti yang sering dilakukan Himuro). Tapi dia tidak secara lancang masuk kamar orang lain karena sebelumnya dia sudah mengetuk-etuk pintu kamar Aomine. Dan lagipula Akashi juga sudah menyuruhnya untuk membangunkan Aomine dan Kagami tidak ingin macam-macam dengan orang itu karena dia masih ingin keluar dari rumah ini dengan sehat tanpa kekurangan apapun. Kagami menghela napas dan mencengkeram apronnya sebelum akhirnya memutuskan untuk membangunkan Aomine.
"Permisi," kata Kagami pelan dan membuka pintu kamar Aomine. Kagami membelalakkan matanya ketika melihat apa yang ada di depannya. Aomine sedang membuka kaos yang dipakainya dan menampakkan tubuh atletisnya dengan jelas. Muka Kagami menjadi semerah rambutnya lalu dia cepat-cepat keluar dan membanting pintu. Kagami lalu segera kembali ke dapur dengan wajah yang masih memerah.
"Ada apa, Kagami-kun?" tanya Kuroko yang melihat Kagami memasuki dapur secara tergesa-gesa dengan muka merah.
"T-tidak kenapa-napa." jawab Kagami lalu menyibukkan dirinya dengan penggorengan.
"Dimana Aomine-kun?"
"D-dia—"
"Pagi."
Kagami menghentikan jawabannya ketika suara dalam menyapa mereka semua. Kagami mengalihkan pandangannya dari Kuroko dan kembali ke masakannya.
"Hey maid, beri aku sarapan."
Kagami mengerutkan keningnya mendengar panggilan yang diberikan Aomine untuknya. "Dengan apa?"
"Terserah."
Terserah lagi. Kagami akan benar-benar memberikan Aomine makanan kadaluarsa untuk dimakan tapi tidak jadi karena dia tidak ingin dipecat hanya setelah satu hari bekerja.
"Kalian tahu, maid baru kita ini ternyata orang yang mesum."
Kagami membelalakkan matanya dan wajahnya kembali memerah lalu memandang Aomine untuk memelototinya. "Aku tidak mesum!"
"Oh ya, lalu kenapa kau masuk kamarku saat aku sedang ganti baju?" tanya Aomine dengan seringai menyebalkan di wajahnya.
Rona merah di wajah Kagami menjadi semakin gelap saat dia mengingat kejadian tidak mengenakkan beberapa saat yang lalu. "A-aku sudah mengetuk pintumu berkali-kali tapi kau tidak membukanya jadi aku masuk untuk membangunkanmu."
"Pfft bilang saja kalau kau suka masuk kamar orang sembarangan untuk mengintip mereka,"
"Aku tidak pernah melakukan sesuatu seperti itu!" bantah Kagami dan memelototi Aomine.
"Ya aku tidak percaya," balas Aomine masih dengan menyeringai. "Aku harus selalu mengunci kamarku kalau kau ada di sini."
Kagami rasanya sudah ingin melempar teflonnya ke muka Aomine. "Kau… kau Ahomine!"
"Hey!"
Kagami merengut lalu membanting sarapan Aomine di depannya. "Aku akan membersihkan ruang depan dulu, taruh di situ saja piring kalian setelah kalian selesai sarapan."
"Kenapa aku cuma mendapat ini?"
Kagami tidak menghiraukan seruan Aomine dan tetap keluar dari dapur. Aomine memelototi sarapannya yang hanya terdapat satu potong roti panggang tanpa selai atau tanpa apapun di piringnya.
"Salahmu sendiri Aomine-kun."
Aomine memelototi Kuroko yang hanya membalas menatapnya datar.
"Ya." kata Akashi menyetujui.
"Aku setuju dengan Kurokocchi, ssu." tambah Kise.
Midorima dan Murasakibara mengangguk-angguk menyetujui teman-temannya yang lain. Aomine jadi bertanya-tanya kenapa dia berteman dengan orang-orang ini.
.
"Hey,"
Kagami mendongakkan kepalanya ketika mendengar suara yang memanggilnya ketika dia sedang membersihkan meja makan. Midorima memandangnya dengan angkuh di balik kacamatanya.
"Ya?"
"Kau Leo, kan?" tanya Midorima.
Kagami mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Midorima. "Hah?"
"Leo peringkat kedua terbawah hari ini nanodayo jadi kau harus menjauhi warna merah."
"Apa maksudmu? Rambut dan mataku berwarna merah!" kata Kagami tapi Midorima mengabaikannya dan membuka lemari es untuk mengambil kaleng sup kacang merah.
"Oh dan benda keberuntunganmu hari ini adalah vacuum cleaner jadi kau harus membawa itu kemana-mana."
"Bilang saja kalau kau ingin menyuruhku membersihkan rumah!" Kagami mencoba membayangi Midorima dari belakang tapi tidak berhasil karena Midorima yang lebih tinggi darinya.
"Aku memberitahumu ini karena ini hari pertamamu bekerja agar kau tidak mengacaukan rumah ini bukan karena yang lain." tambah Midorima membenarkan letak kacamatanya.
"Hah?!"
Tapi Midorima sudah melenggang pergi dan mengabaikan Kagami. Kagami hela napas-buang napas hela napas-buang napas sampai membuat dirinya tenang dan tidak dengan sengaja membakar rumah ini. Dia jadi berpikir bayaran banyak tidak setimpal kalau harus menghadapi orang-orang menyebalkan ini setiap hari. Kagami akhirnya menghela napas dan kembali membersihkan meja ketika satu lagi pelangi yang memasuki dapur. Kagami berpura-pura pelangi pirang itu tidak ada dan tetap melakukan pekerjaannya.
"Hey,"
Kagami memutar bola matanya ketika dia dipanggil lagi.
"Apa?"
Kise hanya mengamati Kagami dari atas sampai bawah. "Aku pikir kau butuh pakaian yang lebih bagus ssu. Kemarin waktu kau interview juga cuma memakai baju seperti itu."
"Terus?" Kagami sudah mulai mengeluarkan perempatan siku-siku di keningnya.
"Aku punya banyak baju rancangan desainer ternama dengan kualitas yang bagus kalau kau mau meminjam." kata Kise setelah mengambil air mineral di botol.
"Buat apa aku memakai baju seperti itu buat bersih-bersih rumah?!"
"Oh… ya kau benar. Lagipula apron itu pantas untukmu ssu." kata Kise lalu pergi dengan tertawa-tawa.
Jika Kagami tidak mempunyai kontrol diri yang bagus, dia mungkin sudah menancapkan gagang kemoceng yang dipegangnya ke lubang hidung Kise.
.
Malam itu setelah para pelangi sudah selesai dengan latihan mereka seperti biasa, Kagami segera membuat makan malam untuk mereka. Ketika Kagami membalikkan badan untuk mengambil kecap, dia tidak sengaja menabrak Murasakibara yang ternyata sedang berdiri di belakangnya.
"M-Murasakibara,"
Kagami semakin memundurkan tubuhnya ketika Murasakibara semakin mendekat dan menundukkan kepalanya untuk melihat Kagami.
"A-apa yang kau lakukan?" kata Kagami yang merona karena wajah Murasakibara yang sangat dekat dengan wajahnya.
"Nee…" Murasakibara berkata dengan nada yang sangat malas. "Alismu benar-benar terbelah."
"Hah?"
Kagami lalu berseru kesakitan ketika Murasakibara mencabut alis kanannya. "Apa yang kau lakukan, sialan?!"
Murasakibara tidak menghiraukan Kagami dan mengamati alis di tangannya. "Wow ini sangat panjang."
"Kembalikan!" Kagami meloncat-loncat untuk mengambil kembali alisnya yang sudah dicabut Murasakibara.
"Kapan makan malamnya jadi? Aku sudah lapar." kata Murasakibara dan membuang alis Kagami lalu duduk di kursi makan.
"Stupid rainbow." omel Kagami dan mengambil lagi alisnya yang dibuang Murasakibara. "Sebentar lagi." dan katanya untuk menjawab pertanyaan Murasakibara.
Ketika makanan sudah jadi dan semuanya sudah berkumpul, sekali lagi Aomine tidak ada bersama mereka. Sebenarnya Kagami akan membiarkan Aomine tidak ikut makan malam dan membiarkannya kelaparan. Dunia tidak akan rugi kalau orang seperti Aomine meninggalkannya. Tapi Kagami sudah membuat makan malam untuk enam orang dan akan rugi kalau harus dibuang jadi dia tetap mencari dimana Aomine berada dan menyuruhnya untuk makan malam. Kagami menemukan Aomine sedang membaca majalah di sofa ruang depan dan menghampirinya.
"Aomine, kau tidak makan malam?"
"Hm?" Aomine bertanya balik tapi matanya masih terpaku di majalah yang dipegangnya.
"Makan malam sudah jadi dan semuanya sudah berada disana, kau tidak ikut?" Kagami mencoba sabar dan tidak menggeplak kepala Aomine.
"Hm?" lagi-lagi Aomine tidak mendengarkannya.
Kagami mengerutkan keningnya dan mencoba melihat apa yang sedang dibaca Aomine dan merasakan wajahnya memanas sedikit ketika dia melihat seorang cewek dengan pakaian yang sangat minim sedang berpose menunjukkan bagian pantatnya.
"Aomine!"
"Apa?" Aomine memandang Kagami dengan muka tanpa dosa yang membuat Kagami ingin membuangnya ke luar angkasa agar diadopsi oleh alien. "Kau mengangguku."
"Oh maaf aku menganggumu melihat-lihat gambar mesum yang sangat penting untukmu." balas Kagami dengan jengkel.
"Kau kenapa sih? Cemburu?" tanya Aomine.
Kagami mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Aomine. "Oh ya aku cemburu, tolong lihat pantatku."
Kagami memelototi Aomine ketika dia benar-benar melihat pantat Kagami. "Jangan lihat pantatku!"
Aomine mengangkat bahunya. "Kau sendiri yang minta."
"Cepat makan!" kata Kagami akhirnya dan meninggalkan Aomine kembali ke dapur.
.
"Oke aku sudah membersihkan dapur dan kalau kalian lapar nanti malam kalian bisa menghangatkan sisa makan malam yang sudah aku taruh di lemari es. Aku akan pulang sekarang." kata Kagami pamit untuk pulang ke para pelangi setelah jam kerjanya selesai.
"Ya terima kasih," balas Akashi mewakili teman-temannya. "Kau mau aku antar pulang?"
"Tidak usah, aku bisa naik bus atau kereta lagipula ini belum terlalu malam." jawab Kagami menolak tawaran Akashi.
"Oke."
"Sampai bertemu besok, Kagami-kun."
"Ya," balas Kagami dengan sedikit berat hati. Bagaimanapun juga dia harus bertahan paling tidak sampai dia mendapat gaji pertamanya dan kalau dia masih tidak bisa menolerir kelakuan para pelangi-pelangi ini dia akan langsung segera keluar dan tidak akan kembali lagi.
.
.
.
A/N: ini udah cepet? udah lah ya lol. sempet sakit beberapa hari jadi nggak bisa nulis apa-apa :') tapi untungnya sekarang udah sembuh :^)
Semuanya pada punya app nya fanfiction . net yang untuk android itu kan? Soalnya bakal ngebales review di PM masing-masing lewat app itu :DD
