Disclaimer © Tadatoshi Fujimaki

Warning: OOC, AU, Typo(s)

.

.

.

Kagami menggertakkan giginya ketika lagi-lagi Aomine membuang kertas ke lantai yang daritadi sudah dibersihkannya. Sudah kurang lebih seminggu Kagami bekerja di rumah ini dan meskipun mereka sangat menjengkelkan tapi tidak tahu kenapa Kagami selalu ingin kembali ke sini. Dan waktu dia tidak sengaja memberitahu mereka kalau dia akan keluar menjadi maid mereka, Kuroko dengan wajah super datar memintanya untuk tinggal dan Kagami tidak yakin apakah Kuroko sungguh-sungguh atau hanya bercanda ketika dia meminta Kagami untuk tetap menjadi maid mereka karena wajahnya yang butuh tambahan ekspresi. Juga Kise yang tidak mau diam kalau dia akan sangat merindukan masakan Kagami dan rumah yang bersih karena Kagami satu-satunya yang mau membersihkan rumah. Dan Akashi yang mencoba untuk tidak terlalu menunjukkan ke-emperor-annya untuk menyuruh Kagami tetap di sini bersama mereka tapi tetap saja membuat Kagami sedikit takut padanya. Jadi itu yang membuatnya tetap bersama para pelangi.

"Apa yang kau tulis daritadi selalu membuang-buang kertas?" tanya Kagami sambil meletakkan kedua tangannya di pinggang dan memandang galak Aomine yang sedang selonjoran di sofa.

"Bukan urusanmu." jawabnya enteng.

"Jangan buang-buang kertas kalau begitu. Kau tidak tahu aku sedang apa?"

"Mengomel," jawab Aomine dan mengeluarkan seringaiannya yang membuat Kagami ingin menonjok mukanya. "Kau tahu, kau lama-lama seperti ibuku kalau mengomel terus seperti itu."

"Oh ya, apakah ibumu pernah tidak memberimu makan malam?" balas Kagami.

Aomine mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Kagami. "Hah?"

"Karena kau tidak mendapat makan malam." kata Kagami dan langsung segera menuju dapur untuk siap-siap membuat makan malam.

"Hey!"

Kagami mengabaikan seruan Aomine dan tetap menuju ke dapur.

"Kagamicchi!"

Kagami menghentikan tangannya ketika akan mengambil panci ketika mendengar suara menyebalkan yang memanggil nama panggilannya yang dibuat-buat menjadi menyebalkan.

"Siapa yang kau panggil Kagamicchi!" balas Kagami ketika Kise muncul di sampingnya. Dengan sangat tiba-tiba Kise memanggilnya dengan tambahan-tambahan seperti itu seperti Kagami sudah diikutkan ke geng pelangi ini. Kata Kuroko, kalau Kise sudah memanggilnya seperti berarti Kise sudah mengakui Kagami dan Kagami membalas dia tidak ingin pengakuan dari Kise, dia di sini hanya untuk bekerja biar tidak gabut di apartemen.

"Kagamicchi, makan malam buat apa?" tanya Kise, tidak menghiraukan protes Kagami.

"Hmm aku masih memikirkannya tapi ada bahan-bahan untuk membuat kare jadi—"

"Hey hey Kagamicchi aku mendapat banyak daging dari manajerku yang katanya dia dapat dari fansku, bagaimana kalau kita membuat daging panggang dengan alat pemanggang elektrik yang aku dapat dari fansku beberapa hari yang lalu?"

Kagami mengerutkan keningnya, ini orang mau memberikan saran untuk makan malam atau cuma mau pamer kalau dia punya banyak fans?

"Baiklah, bagaimana dengan yang lain?"

"Yang lain pasti mau kalau Kagamicchi yang masak ssu," jawab Kise. "Kau hanya tinggal memasak nasi dan sayuran-sayuran sampingannya."

"Oke, kau bisa istirahat dulu kalau begitu." kata Kagami.

"Aku tidak capek, aku ingin membantumu memasak ssu."

"Baiklah." Kagami hanya berharap kalau Kise benar-benar membantu dan malah tidak merepotkan.

"Oke oke apa yang harus aku lakukan?" Kise bertanya dengan ceria.

"Cuci saja beras ini," jawab Kagami dan memberikan Kise beras untuk dicuci.

Setelah Kagami memastikan Kise mencuci beras dengan benar, dia lalu mengambil sayuran-sayuran yang dibutuhkan dari lemari es untuk makan malam nanti.

"Kagamicchi, apa kau pernah sekolah memasak?"

"Kenapa?" tanya Kagami sambil memasukkan daging ke panci untuk merebusnya agar menjadi empuk.

"Masakanmu enak sekali ssu, kau harus menjadi chef." jawab Kise.

Kagami merasakan pipinya memanas sedikit mendengar pujian Kise. Dia tahu sejak dulu kalau masakannya enak, tapi tiap kali ada yang memberikan pujian seperti itu dia masih merasa malu. "Aku sudah tinggal sendiri sejak enam belas tahun jadi mau tidak mau aku harus bisa memasak untuk bisa bertahan hidup."

"Kau sudah tinggal sendiri sejak enam belas tahun?" tanya Kise mengulangi perkataan Kagami dan membelalakkan matanya.

"Ya, itu yang aku bilang tadi."

"Kagamicchi, apa kau tidak kesepian?"

"Tidak juga, setelah lulus sekolah aku langsung tinggal bersama Tatsuya." jawab Kagami.

"Siapa?" tanya Kise mengerutkan keningnya, apakah Kagamicchi sudah mempunyai someone special selama ini?

"Dia—"

"Apa yang sedang kalian lakukan?" suara Kuroko menghentikan Kagami yang akan menjawab pertanyaan Kise.

"Membuat makan malam." jawab Kagami dan tersenyum ke Kuroko yang menghampiri mereka.

"Kenapa Kise-kun ada di sini?"

"Aku membantu Kagamicchi memasak ssu," Kise menjawab.

"Membantu atau menganggu?"

"Kurokocchi…"

"Apa yang kau masak Kagami-kun?" tanya Kuroko yang dengan sepenuhnya menghiraukan Kise.

"Kise mendapat banyak daging tadi jadi dia meminta untuk makan malam dengan daging panggang." jawab Kagami.

Kuroko mengangguk-angguk dan mengamati Kagami yang sedang memotong-motong sayuran. "Aku akan membantumu juga kalau begitu."

Setelah mereka selesai memasak, lebih tepatnya Kagami yang memasak dan kadang-kadang mengomeli Kise dan Kuroko kalau mereka mulai berulah tapi akhirnya masakan makan malam berhasil dibuat. Kagami meletakkan sayuran-sayuran yang sudah dipotong-potongnya ke meja makan yang sudah dikelilingi para Generasi Keajaiban untuk makan malam. Kagami mengerutkan keningnya ketika masih ada satu kursi yang belum ditempati tapi melihat semua pelangi sudah berkumpul. Bahkan Aomine yang seharusnya tidak mendapat makan malam juga sudah duduk di sebelah Kuroko.

"Kenapa masih ada kursi kosong?" tanya Kagami.

"Untukmu," jawab Akashi.

"A-apa maksudmu?"

"Kau bisa ikut makan malam bersama di sini."

Kagami membelalakkan matanya dengan pipi yang merona merah. Makan malam bersama Generasi Keajaiban? Dia bahkan tidak pernah bermimpi akan makan malam bersama pemain basket terkenal tanah air yang di idolakannya (sekarang mungkin sudah agak tidak setelah mengetahui kelakuan mereka).

"Aku yang mempunyai ide itu ssu," kata Kise dengan ceria.

"Aku yang mempunyai ide itu Kise-kun." balas Kuroko menatap Kise dengan datar.

"Oke Kurokocchi yang mempunyai ide itu," kata Kise. "Tapi aku yang menyuarakan ide itu ssu."

"Hey bisakah kita mulai makan sekarang dan berhenti membicarakan hal-hal bodoh itu?" Aomine mengeluh dan sudah memegang sumpitnya.

"Kau seharusnya tidak mendapat makan malam!" Kagami memelototi Aomine.

"Hah, memangnya apa yang akan kau lakukan kalau aku tetap makan?" balas Aomine.

"Kau tidak tahu apa yang sudah aku masukkan ke makananmu."

"Taiga," kata Akashi menghentikan percekcokan rumah tangga di depannya sebelum berlangsung berjam-jam. "Cepat duduk agar kita bisa segera memulai makan malam."

Kagami akhirnya mengangguk dan duduk di kursi kosong yang sudah disiapkan untuknya.

.

.

.

"Aku pulang."

Kagami berdiri dari duduknya di sofa ruang depan dan menyambut Midorima yang baru pulang. "Selamat datang, kenapa kau baru pulang? Yang lainnya sudah pulang daritadi."

"Ya, aku ada urusan dengan pelatih." jawab Midorima.

Kagami mengangguk-angguk dan berjalan menuju dapur yang diikuti oleh Midorima. "Sudah makan? Aku akan menghangatkan makan malam untukmu."

"Tidak usah, ambilkan saja sup kacang merah di lemari es." balas Midorima dan duduk di meja makan.

"Aku masih tidak mengerti kenapa kau sangat suka makanan ini," kata Kagami dan mengambilkan sup untuk Midorima. "Kau tidak suka masakanku?"

"T-tentu saja aku suka nanodayo," jawab Midorima dan membenarkan letak kacamatanya. "H-hanya saja sekarang aku ingin makan sup kacang merah."

"Oke, kau mau aku menghangatkannya dulu?"

"Ya, terima kasih."

Midorima mengamati Kagami yang mulai menuangkan supnya ke panci untuk dipanaskan dan matanya mengamati jam dinding yang menunjukkan sudah agak larut sekarang. "Kau akan pulang setelah ini?" tanya Midorima.

"Ya, aku sudah selesai cuma tinggal menunggumu pulang." jawab Kagami dan meletakkan mangkuk yang sudah berisi sup kacang merah yang sudah dipanaskan di depan Midorima.

"Kenapa kau tidak tinggal di sini saja?"

"Hah?" Kagami menatap Midorima bingung.

Midorima membelalakkan matanya ketika dia menyadari ucapannya. Dia lalu menggerakkan-gerakkan kacamatanya dengan pipi yang akan memerah. "M-maksudku kita masih punya kamar kosong dan d-daripada kau harus bolak-balik."

"Oh…" Kagami tidak tahu kenapa dia juga ikut merona melihat tingkah canggung Midorima.

"Aku akan tanya Akashi." kata Midorima lalu buru-buru keluar dapur untuk meminta persetujuan Akashi.

"Midorima…" Kagami mencoba menghentikan Midorima tapi dia sudah menghilang dari hadapan Kagami.

Keesokan harinya, Kagami berdiri di depan apartemennya yang ditinggali bersama Tatsuya dengan para Generasi Keajaiban berdiri di belakangnya. Ternyata Akashi menyetujui ide Midorima untuk Kagami tinggal bersama mereka dan pelangi-pelangi yang lain juga dengan gembira menyambut Kagami di kediaman mereka, atau lebih tepatnya Kise dan Kuroko (walau masih dengan wajah datarnya) yang gembira dan Aomine dan Murasakibara hanya bilang terserah. Tapi Kagami bilang kalau dia akan izin ke Himuro dulu dan para pelangi langsung ikut izin ketika mereka mendengar Kagami sudah tinggal dengan laki-laki lain.

"Tatsuya, aku pulang."

"Selamat dat…" Himuro yang akan menyambut Kagami menghentikan kalimatnya ketika melihat Kagami tidak sendirian. "…ang."

"Silakan masuk, aku akan membuat minum." kata Kagami mempersilakan para pelangi masuk dan dia langsung menuju dapur dan diikuti Himuro.

"Taiga, apa yang terjadi? Kenapa kau membawa pulang majikan-majikanmu?" tanya Himuro setelah mereka sendirian.

"Mereka menyuruhku untuk tinggal bersama mereka Tatsuya," jawab Kagami.

Himuro menghela napas kaget dan meletakkan tangannya di dadanya. "Kau akan meninggalkan kakakmu satu-satunya dan tinggal dengan pemuda-pemuda yang baru kau kenal dua minggu?"

Kagami merona merah mendengar perkataan dramatik Himuro. "Tatsuya!"

"Bercanda bercanda." Himuro tersenyum dan mengacak-acak rambut merah Kagami. "Kenapa mereka menyuruhmu tinggal bersama mereka?"

"Tidak tahu, katanya mereka kasihan aku harus bolak-balik setiap hari dan di rumah mereka masih ada kamar kosong untuk aku tempati." jawab Kagami.

Himuro mengangguk. "Aku akan berbicara dengan mereka." katanya lalu meninggalkan Kagami yang masih membuat minum untuk tamunya dan menghampiri para Generasi Keajaiban.

"Jadi," mulai Himuro setelah dia duduk di depan para pemuda yang akan mengambil Kagami darinya. "Apa alasan kalian mengajak Taiga tinggal bersama kalian?"

"Kalau Taiga belum memberitahumu," jawab Akashi memandang Himuro dengan sungguh-sungguh. "Kami tidak ingin dia capek bolak-balik. Kadang-kadang harus pulang larut juga dan agar keselamatannya lebih terjamin lebih baik Taiga tinggal bersama kami."

"Kenapa kalian sampai membuat Taiga pulang sampai larut? Kalian tidak peduli kalau Taiga selalu capek setelah selesai bekerja?" balas Himuro.

"Kenapa kami harus peduli? Dia hanya maid." kata Aomine yang langsung mendapat tatapan tajam dari seluruh ruangan.

"Maaf." kata Kuroko dan menyikut perut Aomine karena berbicara yang bukan-bukan.

"Karena kami peduli makanya kami meminta Taiga untuk tinggal bersama kami." jawab Akashi.

"Maaf, tapi kau sebenarnya siapanya Kagamicchi, ssu?"

Himuro tersenyum ke pelangi pirang yang bertanya padanya. "Aku adalah suaminya Taiga."

"Eeeehhhhh?" kata Kise dengan keras. Pelangi yang lain menatap Himuro tidak percaya.

"Ya, kita menikah tiga tahun yang lalu di Amerika," kata Himuro lagi, tertawa di dalam hati melihat ekspresi pemuda-pemuda di depannya. "Kalian tahu cincin yang selalu dipakai Taiga di lehernya itu? Itu sebenarnya adalah cincin pernikahan kita." katanya dan menunjukkan cincin yang sama di lehernya.

"Maaf menunggu lama." kata Kagami sambil membawa nampan berisi enam gelas berisi teh hijau panas untuk Generasi Keajaiban. Kagami mengerutkan keningnya ketika melihat para Generasi Keajaiban memandang tembok dengan tatapan kosong dan Himuro yang tersenyum puas memandang mereka.

"A-apa yang terjadi?"

"Kagamicchi…" Kise menatap Kagami dengan mata berkaca-kaca. "Kau sudah menikah, ssu?"

"Hah? Apa yang kau bicarakan?" Kagami bertanya sambil mengerutkan keningnya.

"Kau sudah menikah dengan Himuro-san?" kali ini Kuroko yang bertanya.

Kagami langsung berganti memelototi Himuro yang malah tertawa terbahak-bahak. "Tatsuya!"

"Sorry, tapi kau harus melihat wajah mereka saat tahu kau sudah menikah." katanya masih dengan tertawa.

Kagami menghela napas, ini selalu terjadi kalau dia mengajak orang yang dikenalnya ke apartemen untuk bertemu Himuro, dia pasti selalu berbohong dan memberitahu semua orang kalau dia adalah suami Kagami.

"Tidak, aku belum menikah dan Tatsuya adalah saudaraku." jawab Kagami dan duduk di sebelah Himuro.

Para pelangi menghela napas lega sebelum menatap tajam Himuro. Himuro hanya mengangkat bahunya.

"Jadi bagaimana, kau mau tinggal bersama bersama kami?" tanya Akashi.

"Ya," jawab Kagami lalu menatap Himuro. "Tapi aku harus bertanya dulu pada Tatsuya."

"Maksudmu kau tetap akan tinggal denganku kalau aku keberatan kau pindah?" tanya Himuro.

"Ya, aku yang mengajakmu untuk tinggal denganku jadi aku tidak bisa meninggalkanmu sendiri." jawab Kagami.

"Kalau begitu aku keberatan kau pindah."

"Maaf aku tidak akan pindah kalau begitu." kata Kagami ke Generasi Keajaiban.

"Aku memaksamu."

"Aku akan keluar kalau begitu." balas Kagami.

Para pelangi lalu terdiam. Mereka tidak ingin Kagami keluar dan harus mencari maid lagi.

"Taiga, tidak apa-apa kau tinggal bersama mereka,"

"Benarkah?" tanya Kagami menatap Himuro heran yang sebelumnya keberatan ditinggal Kagami dan sekarang merubah pikirannya secara tiba-tiba.

"Yeah, they obviously need you more than me." kata Himuro.

Kagami memandang para pelangi sebelum berganti memandang Himuro lagi. "You're sure you're gonna be okay?"

"Don't worry Taiga," kata Himuro tersenyum dan mengelus kepala Kagami. "Kau masih bisa pulang seminggu sekali atau semacamnya, kan?"

Kagami menatap Akashi yang mengangguk untuk mengizinkan Kagami pulang seminggu sekali. "Ya, kau bisa mengunjungiku juga di sana."

"Oke."

Dan dengan begitu akhirnya Kagami tinggal di perumahan elit nomor 1 bersama para Generasi Keajaiban.

.

.

.

A/N: terima kasih review nya~ review lagi yaaa :^)