Disclaimer © Fujimaki Tadatoshi
WARNING: OOC, AU, Typo(s), OC
.
.
.
Kagami mengerutkan keningnya ketika pagi itu sarapan dan satu kursi masih kosong. Sebenarnya dua yang kosong tapi satu kursi kosong punyanya Aomine yang sedang keluar jadi Kagami menghitung satu kursi yang kosong. Dia tidak melihat Murasakibara dimanapun dan setelah memberikan sarapan untuk semua pelangi yang ada di ruang makan, dia lalu pergi ke kamar Murasikabara untuk membangunkannya.
"Murasakibara," panggil Kagami sambil mengetuk pintu kamar Murasakibara. Ketika Kagami tidak mendapat jawaban, Kagami membuka pintu dan melihat Murasakibara masih bergelung di bawah selimutnya.
"Murasakibara, sudah waktunya sarapan." kata Kagami lagi dan melihat wajah Murasakibara yang memerah dan bernapas berat. Kagami membelalakkan matanya dan meletakkan tangannya di kening Murasakibara dan merasakan keningnya panas.
Murasakibara membuka matanya ketika merasakan tangan Kagami di keningnya. "Tai-chin,"
"Kau sakit?"
"Aku tidak mau sarapan, Tai-chin." kata Murasakibara lebih malas dari biasanya.
Kagami mengangguk lalu keluar untuk mengambil termometer. Dia kembali ke kamar Murasakibara dan menggunakan termometer yang sudah diambilnya untuk mengukur suhu tubuh Murasakibara dan melihat 38°C di termometer yang dipengangnya.
"Kau demam, tunggu sebentar aku akan mengambil kompres." Kagami lalu buru-buru menuju ke dapur untuk mengambil air dingin dan kain untuk mengompres Murasakibara.
"Kagami-kun, apa yang kau lakukan?"
"Murasakibara sedang demam jadi aku akan mengompresnya." jawab Kagami tergesa-gesa sebelum kembali ke kamar Murasakibara.
"Kau mau makan apa?" tanya Kagami setelah selesai mengompres Murasakibara.
"Aku tidak mau makan."
"Murasakibara kau harus makan kalau kau ingin cepat sembuh," kata Kagami. "Bagaimana kalau aku membuatkan bubur?"
"Aku tidak mau makan." ulang Murasakibara dan menaikkan selimutnya.
"Oke aku akan membuatkanmu bubur." kata Kagami mengabaikan perkataan Murasakibara dan kembali menuju dapur untuk membuat bubur.
"Kalian sudah selesai sarapan?" tanya Kagami ketika melihat tumpukan piring kosong di bak cuci piring dan para pelangi hanya duduk-duduk santai karena ini hari libur mereka.
"Ya, kau tidak sarapan?"
"Nanti," kata Kagami menjawab pertanyaan Akashi. "Aku akan membuatkan Murasakibara bubur dulu."
"Murasakibaracchi sangat beruntung ssu," kata Kise meletakkan kepalanya di meja setelah Kagami selesai membuat bubur untuk Murasakibara dan menghilang lagi.
"Apa maksudmu dengan itu?" tanya Midorima.
"Aku ingin Kagamicchi memanjakanku juga," jawab Kise. "Memangnya kau tidak ingin juga Midorimacchi?"
"T-tentu saja tidak, bodoh!" jawab Midorima dengan wajah yang agak memerah.
"Sudahlah mengaku saja Midorimacchi." balas Kise.
"Bodoh." kata Midorima dan mencengkeram dua buah ceri yang adalah benda keberuntungannya hari ini.
Sementara itu di kamar Murasakibara, Kagami masih mencoba untuk membuat bayi besar itu paling tidak makan satu sendok agar dia bisa minum obat setelahnya. "Ayolah Murasakibara, paling tidak makan satu sendok."
Murasakibara menggeleng-gelengkan kepala berambut ungunya sampai membuat kompres di keningnya jatuh dan Kagami secara tanggap langsung mengembalikannya. "Aku tidak mau, Tai-chin. Rasanya pasti tidak enak."
Kagami menghela napas, dia harus sabar menghadapi pelangi satu ini apalagi saat dia sedang sakit seperti ini. "Aku janji rasanya akan enak, ayo coba dulu." Kagami menyendokkan bubur yang sudah dibuatnya dan mengarahkannya ke mulut Murasakibara.
Murasakibara menatap bubur di depannya sebelum menatap Kagami dan menatap buburnya lagi. Dia kemudian membuka mulutnya dan Kagami langsung memasukkan bubur di sendoknya ke mulut Murasakibara.
"Bagaimana enak, 'kan?" Kagami bertanya dengan wajah penuh harap Murasakibara akan mau makan.
Murasakibara mengunyah makanan di mulutnya sebelum mengernyit dan menelan dengan susah payah. "Tidak enak."
Kagami menghela napas lagi. "Ayo makan sedikit lagi agar kau bisa minum obat. Please…" Kagami menambahkan ketika Murasakibara tetap menutup mulutnya rapat.
Murasakibara menatap Kagami, mungkin kalau sedikit lagi tidak apa-apa lagipula Tai-chin pasti sudah berusaha keras membuatkannya bubur dan merawatnya. Murasakibara akhirnya mengangguk dan Kagami tersenyum dengan lebar sebelum segera menyuapi Murasakibara buburnya. Murasakibara tiba-tiba merasakan bubur di mulutnya terasa enak dan tidak pahit dengan senyuman Kagami.
Kagami akhirnya selesai mengurusi Murasakibara dan keluar kamarnya setelah Murasakibara kembali tidur untuk beristirahat. Ketika kembali ke dapur untuk sarapan, Kagami melihat para Generasi Keajaiban masih duduk-duduk di dapur.
"Bagaimana keadaan Atsushi?" Akashi bertanya.
"Dia sudah meminum obatnya dan sekarang sedang istirahat," jawab Kagami dan meletakkan wadah bubur kosong Murasakibara ke tumpukan piring kosong di bak cuci piring. Dia lalu memandangi para pelangi. "Jadi tolong jangan mengganggunya."
Semuanya mengangguk kecuali Kuroko yang meletakkan kepalanya ke meja makan.
"Kuroko, kau kenapa?" Kagami bertanya sambil mengerutkan keningnya.
"Hmm… aku tidak apa-apa, Kagami-kun." jawab Kuroko dengan lemas.
"Apa kau sakit juga?" Kagami membelalakkan matanya dan menghampiri Kuroko dengan cemas.
"Mungkin."
"Oh mungkin sekarang memang musim demam, tolong kembali ke kamarmu aku akan mengompresmu nanti."
Kuroko mengangguk lalu berdiri dan berjalan pelan-pelan memasuki kamarnya dan Kagami langsung mengambil kompres lagi kali ini untuk mengompres Kuroko dan mengikutinya ke kamar.
Kise yang daritadi melihat kejadian mencurigakan di depan matanya akhirnya membelalakkan matanya dan menarik napas kaget. "Kurokocchi sudah mengeluarkan jurusnya ssu,"
"Apa maksudmu?" tanya Midorima.
"Kurokocchi hanya berpura-pura sakit agar Kagamicchi merawatnya seperti Murasakibaracchi!"
"Mungkin Tetsuya benar-benar sakit, Ryouta."
"Aku yakin Akashicchi, Kurokocchi benar-benar sehat wal afiat dan sekarang dia sedang berakting," balas Kise secara sungguh-sungguh. "Aku akan melakukannya juga ssu."
"Hah?"
"Kagamicchi…" kata Kise memulai aktingnya ketika Kagami kembali ke dapur. "Aku pikir aku sakit juga, ssu."
"Kau juga Kise?" Kagami langsung menghampiri Kise dengan khawatir.
"Iya ssu, uhuk uhuk." Kise langsung terbatuk-batuk yang membuat Akashi dan Midorima mengernyit.
"Oh… kau tidak apa-apa?" Kagami bertanya semakin khawatir.
Akashi dan Midorima tidak tahu harus berpikir Kagami terlalu polos atau terlalu bodoh sampai tidak menyadari akting buruk Kise.
"Oke, kau istirahat di kamar, aku akan menyiapkan kompres dan obat untukmu." kata Kagami dan Kise mengangguk lalu langsung menuju kamarnya.
"Oke kalau semuanya juga melakukannya." kata Akashi lalu menuju kamarnya dan ikut berpura-pura sakit agar mendapatkan perlakuan istimewa dari Kagami.
Midorima mengerutkan keningnya, bahkan seorang Akashi juga melakukan hal-hal tidak patut seperti itu untuk mendapatkan perhatian dari Kagami. Memang apa yang spesial dari maid baru mereka itu, Midorima masih tidak tahu apa yang mereka lihat dari Kagami.
"Sekarang Akashi juga ikut sakit," Kagami tiba-tiba kembali ke dapur dan akan membuat kompres baru untuk Akashi.
"Ya," jawab Midorima sekenanya.
"Kau sakit juga, Midorima?" tanya Kagami dan menatap Midorima khawatir.
"T-tidak. Aku baik-baik saja." Midorima menjawab tergagap karena wajah Kagami yang sedikit dekat dengan wajahnya. Midorima tidak tahu kenapa tapi Kagami dengan pipi yang sedikit memerah dan alis uniknya sedikit turun karena khawatir membuat jantungnya berdetak cepat.
"Oh syukurlah," kata Kagami sambil tersenyum lebar.
Midorima membelalakkan matanya dan memalingkan wajahnya, terlalu silau oleh senyuman Kagami.
"Kau yakin? Wajahmu memerah," Kagami berkata khawatir dan akan memegang dahi Midorima tapi Midorima menjauhkan kepalanya dari jangkauan tangan Kagami.
"A-aku benar-benar tidak apa-apa, nanodayo." jawab Midorima.
"Midorima, kau mungkin sakit juga. Tolong kembali ke kamarmu untuk istirahat." kata Kagami dan menarik tangan Midorima untuk berdiri dan kembali ke kamarnya.
"O-Oi Kagami…"
"Sudah kembali saja ke kamarmu," Kagami tetap mendorong Midorima untuk kembali ke kamarnya dan tidak menghiraukan protes Midorima. "Kau tambah sakit nanti kalau kau tidak segera istirahat."
Kagami akhirnya bisa menghela napas lega setelah semua pelangi sudah berada aman di kamar masing-masing. Kasihan mereka semua sakit bersamaan seperti itu. Kagami harus menjaga kesehantannya agar dia bisa merawat mereka semua agar kembali sehat.
Terkutuklah kalian wahai Generasi Keajaiban (minus Murasakibara yang benar-benar sakit dan Aomine yang sedang keluar) sudah membuat malaikat polos harus repot mengurusi kelakuan kalian.
Ketika Kagami akan memakan sarapannya yang teraibaikan tadi, tiba-tiba suara pintu terbuka dan Aomine yang memasuki rumah membuatnya tidak jadi memakan sarapannya. Kagami lalu berdiri dan mengernyit saat dia merasakan kepalanya tiba-tiba terasa sakit. Tapi dia lalu menggeleng-gelengkan kepalanya dan berjalan menuju Aomine yang baru datang.
"Aomine,"
Aomine mengerutkan keningnya ketika Kagami langsung menghampirinya dengan langkah pelan-pelan dan langsung memegang kedua pipi Aomine dan menempelkan dahinya ke dahinya Aomine.
"Kau tidak apa-apa?"
"Aku yang seharusnya bertanya seperti itu," jawab Aomine dan memperhatikan wajah kemerahan Kagami yang sangat dekat dengan wajahnya.
"Semuanya sakit di kamar," beritahu Kagami dengan napas berat. "Jangan-jangan kau sakit juga?"
"Tidak. Jelas-jelas kau yang sakit." Aomine menjawab. Sangat dekat seperti ini, Aomine bisa melihat bulu mata Kagami lumayan panjang dan mata merahnya bersinar meskipun kelopaknya setengah tertutup.
"Aku tidak apa-apa," kata Kagami akhirnya menjauhkan wajahnya dan berjalan kembali ke dapur.
"Kagami, sebaiknya kau istirahat saja," kata Aomine sambil mengikuti Kagami.
"K-kau mau sarapan apa?" Kagami bertanya dan tidak menggubris saran Aomine.
"Hey!" Aomine langsung menangkap tubuh Kagami yang tiba-tiba akan terjatuh. "Sudah kubilang kau sedang sakit."
"A-aku tidak sakit," balas Kagami meskipun dia sedang bersandar ke tubuh Aomine. "Aku bisa membuatkanmu waffle kalau kau mau."
"Ya kau bisa membuatkanku waffle kalau kau sudah sembuh," jawab Aomine.
"Oke aku akan membuatkanmu waffle." kata Kagami dan akan kembali menuju dapur.
"Merepotkan!" keluh Aomine sebelum dia membungkuk dan menggendong Kagami bridal style. "Ugh, kau berat lagi."
"Hey aku bisa berjalan sendiri." protes Kagami lemah tapi kepalanya terkulai ke dada Aomine.
"Ya," Aomine menggerutu dan dengan susah payah berjalan ke kamar Kagami dan menidurkannya ke ranjangnya. "Sekarang istirahat."
Aomine lalu keluar dari kamar Kagami setelah menyelimutinya dan menutup pintu di belakangnya. Aomine lalu melihat teman-teman pelanginya yang sedang berada di depan pintu masing-masing.
"Aominecchi, apa yang kau lakukan di kamarnya Kagamicchi ssu?" tanya Kise.
"Kau sebaiknya mempunyai alasan yang bagus, Aomine-kun." tambah Kuroko.
"Aku sudah tidak menggunakan guntingku lama," kata Akashi.
Midorima hanya membenarkan letak kacamatanya tapi menatap Aomine tajam.
Murasakibara tidak ikut karena dia masih tidur.
"Kagami sakit di dalam sana," jawab Aomine dan mengerutkan keningnya. "Apakah kalian sedang pura-pura sakit?"
Mereka semua mengalihkan pandangan masing-masing dan tidak menatap Aomine.
"Apa?!" Kise berteriak dramatis. "Kagamicchi sakit, ssu?" lalu dia menerjang Aomine untuk memasuki kamar Kagami.
"Oh tidak, Kagami-kun sakit." kata Kuroko lalu mengikuti Kise.
"Aku akan membuatkan kompres," kata Akashi lalu beranjak ke dapur.
"Aku akan mengecek Kagami." kata Midorima dan berlalu menuju kamar Kagami.
Aomine mengerutkan keningnya, kenapa dengan mereka semua? Aomine lalu mengangkat bahunya dan menuju dapur untuk sarapan.
.
"Kagamicchi maafkan aku ssu," Kise memeluk erat Kagami dan menggesek-gesekkan pipinya ke pipi Kagami. "Aku tidak tahu kalau kau sakit."
Sore itu setelah Kagami bangun dari istirahatnya, para Generasi Keajaiban langsung menuju kamar Kagami untuk mengecek keadannya. Untungnya Kagami hanya kecapekan dan deman biasa tidak parah sehingga setelah meminum obat dan beristirahat dia sudah tidak apa-apa.
"Hey Kise…" Kagami mencoba menyingkirkan Kise agar tidak nempel-nempel padanya.
"Kise-kun, kau mengganggu Kagami-kun." Kuroko lalu menyodok rusuk Kise dengan jurus andalannya yang membuat Kise menjauhi Kagami.
"Kurokocchi jahat ssu." Kise mewek dan mengelus-elus pinggangnya.
"Bagaimana keadaanmu, Taiga?" Akashi bertanya dan duduk di pinggir ranjang Kagami.
"Aku sudah tidak apa-apa," jawab Kagami sambil tersenyum. Dia lalu melihat Murasakibara yang duduk di kursi dan tubuhnya terbalut selimut besarnya. "Murasakibara, apa yang kau lakukan di sini? Kau tidak apa-apa?"
Bahkan saat dia sakit, Kagami masih tetap memikirkan orang lain. Sungguh para pelangi merasa beruntung mempunyai "pengurus" seperti Kagami.
"Aku ingin menjenguk Tai-chin," jawab Murasakibara.
"Aku tidak apa-apa, kau sebaiknya kembali istirahat ke kamarmu Murasakibara."
"Aku sudah sembuh, Tai-chin," balas Murasakibara lalu menghampiri Kagami dan meletakkan tangan besarnya di kepala Kagami. "Karena Tai-chin yang merawatku."
Kagami membelalakkan matanya lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan wajah semerah rambutnya. "I-itu kan sudah tugasku." gumamnya.
"Kawaii moe kyun~"
Midorima berdehem. "Aku akan mengecek Kagami lagi dan memberinya obat, kalian sebaiknya keluar agar Kagami bisa beristirahat."
"Midorimacchi modus, ssu."
"A-apa yang kau katakan, bodoh," Midorima memelototi Kise dengan pipi yang agak memerah.
"Kau pasti hanya ingin sendirian dengan Kagamicchi," balas Kise.
"Sudah sudah Ryouta," kata Akashi menengahi. "Biarkan Shintarou memberikan obat untuk Taiga agar Taiga bisa cepat sembuh."
"Baiklah Akashicchi," kata Kise lalu berganti memandang Kagami lalu mengelus-elus pipi Kagami. "Cepat sembuh ya, Kagamicchi."
Semuanya lalu mengikuti Kise keluar dari kamar Kagami untuk membiarkan Kagami istirahat. Sebelum Akashi menutup pintu, dia memandang Midorima tajam.
"Aku mengawasimu, Shintarou."
Midorima mengangguk takut-takut, Akashi bisa sangat mengerikan kalau dia mau. Midorima lalu mengambil termometer untuk mengecek suhu tubuh Kagami.
"Demammu sudah turun," kata Midorima lalu mengambilkan Kagami segelas air putih dan obatnya.
"Oh syukurlah," kata Kagami lalu menerima obatnya dari Midorima.
"Minum obatmu lagi lalu kau bisa istirahat."
Kagami mengangguk dan menuruti perkataan Midorima untuk meminum obatnya. "Terima kasih Midorima." kata Kagami dan tersenyum.
"J-jangan pikirkan. Uh, aku harus pergi juga, kau segera istirahat!" Midorima lalu cepat-cepat keluar dari kamar Kagami. Sudah dua kali dia terkena serangan senyum Kagami yang bahaya untuk kesehatan jantungnya.
Kagami lalu menutup matanya untuk tidur. Hari pertama dia tinggal dengan Generasi Keajaiban, dia malah sakit. Hebat sekali.
.
"Tatsuya, aku tidak apa-apa hanya kecapekan." kata Kagami ke Himuro yang sedang mengunjunginya hari itu. Meskipun Kagami tidak memberitahunya tapi ketika Himuro menghubunginya dan menanyakan keadannya, dia jadi tidak bisa berbohong ke Himuro. Kagami kadang-kadang heran kenapa Himuro sampai tahu keadaannya meskipun mereka sedang tidak bersama. Himuro menyebutnya itu "big brother instinct".
"Kecapekan? Pasti orang-orang ini menyuruhmu untuk bekerja keras setiap hari, 'kan?" Himuro melirik pintu kamar Kagami yang terbuka sedikit dan beberapa pasang mata warna-warni mengintip dari situ.
"Tidak," sanggah Kagami. "Mereka tidak memperkerjakanku terlalu berat, mungkin aku hanya tertular Murasakibara."
"Oh, jadi mereka hanya membuatmu sakit?"
"B-bukan begitu maksudku," kata Kagami cepat-cepat meluruskan perkataannya. "Aku yang salah karena dekat-dekat dengannya jadi tertular."
"Taiga kau terlalu memanjakan mereka."
"Aku tidak memanjakan mereka!" kata Kagami.
"Oke oke," Himuro lalu tersenyum dan mengacak-acak rambut Kagami. "Aku akan kembali dulu kalau begitu. Kau istirahat saja, oke?"
"Kau kembali naik apa?" tanya Kagami. "Sekarang sudah malam, bagaimana kalau kau menginap di sini saja?"
"Tenang saja Taiga, aku akan baik-baik saja. Kau lebih baik tidur, oke?" Himuro kemudian membungkuk dan mencium kening Kagami. "Cepat sembuh, Taiga."
Sementara di balik pintu, para Generasi Keajaiban yang daritadi mengintip pertemuan kakak adik itu memelototkan matanya ketika melihat percakapan intim(?) mereka.
"D-dia mencium Kagamicchi, ssu." Kise berkata horor.
"Yaelah Bang, inget status. Situ cuma kakak-kakakan main nyosor-nyosor segala." mereka membatin dengan gemas.
"Dia menuju ke sini!"
Mereka semua lalu menegakkan diri dan berdiri berdampingan seakan bodyguard yang sedang menjaga kamar Kagami ketika Himuro akan keluar.
"Taiga sedang tidur." kata Himuro.
"Ya, terima kasih sudah datang." balas Akashi, sopan. Meskipun si Himuro ini menjengkelkan tapi dia juga harus tetap mengambil hati kakak ipar.
"Kalau kalian tidak keberatan, aku akan menginap di sini untuk membantu merawat Taiga," kata Himuro lagi.
"Oh ya, kami keberatan."
Himuro memutar bola matanya, dia sudah menyangka kalau anak-anak ini akan menolaknya. "Baiklah kalau begitu, aku harap kalian tidak apa-apa kalau aku memberitahu ayahnya Taiga kalau Taiga sakit."
"Oke, silakan."
"Baiklah aku akan pulang," Himuro lalu berjalan untuk keluar. "Oh ya by the way, kalau menurut kalian aku sudah terlalu protektif kalian harus melihat ayahnya Taiga."
.
.
.
Kagami sejak tadi terlihat gelisah sambil melihat layar telepon genggamnya. Dia bahkan hampir menambahkan merica bubuk ke mangkuk berisi serealnya Kuroko.
"Kagami-kun, kau tidak apa-apa?" tanya Kuroko setelah Kagami hampir menyiramnya dengan susu.
"Huh? O-oh ya, aku baik-baik saja." kata Kagami. "B-bolehkah aku pergi setelah ini?"
"Kau mau ke mana?" tanya Akashi, mengangkat alis.
Pipi Kagami menjadi semakin memerah. "Bertemu seseorang."
"Siapa?"
"S-seorang." jawab Kagami ambigu. "Bolehkah?"
"Ya tentu, kenapa tidak."
"T-terima kasih, Akashi," Kagami lalu langsung membereskan bekas-bekas sarapan.
"Hey, aku belum selesai!" protes Aomine ketika Kagami langsung mengambil mangkuknya meskipun dia masih makan.
"Baiklah, aku akan bersiap-siap." kata Kagami setelah dia selesai beres-beres dan langsung menuju kamarnya untuk bersiap-siap.
"Sangat mencurigakan, ssu." bisik Kise sementara mereka semua mengawasi kepergian Kagami.
"Apa yang akan kau lakukan, Akashi-kun?"
"Kau seperti membaca pikiranku, Tetsuya," balas Akashi. "Kita harus mengikuti Taiga."
"Akashi, beberapa orang menyebut itu menguntit." kata Midorima.
"Apakah orang-orang itu ada di sini sekarang?" tanya Akashi ke Midorima.
"Tidak."
"Dengar, kita melakukan ini untuk kebaikan Taiga. Bagaimana kalau dia akan bertemu dengan orang jahat yang ingin melakukan hal-hal jahat kepada Taiga?"
"Ya, aku setuju Akashicchi!" kata Kise bersemangat.
"Baiklah semuanya sudah setuju," kata Akashi memutuskan meskipun hanya Kise yang bilang setuju. "Semuanya, bersiap!"
"Yes, sir!"
.
"Kalau aku yang sedang berkencan dengan Kagamicchi, aku pasti tidak akan membuatnya menunggu," komentar Kise.
Mereka sedang duduk bergerombol tidak jauh dari meja Kagami di food court di dalam salah satu mall di dekat perumahan mereka. Mereka juga sudah membawa alat-alat menguntit profesional dan alat-alat berat untuk jaga-jaga kalau Kagami benar-benar akan bertemu orang jahat.
"Siapa bilang Kagami sedang berkencan?" tanya Aomine sambil memakan teriyaki burger dengan santai. Meskipun mereka sedang membuntuti Kagami tapi mereka tidak repot-repot bersembunyi karena sifat Kagami yang polos (atau bodoh?) dia tidak menyadari mereka. Bahkan Murasakibara melewati tempatnya duduk dua kali untuk memesan makanan, Kagami tetap tidak menyadari raksasa ungu itu.
"Lihatlah Aominecchi, daritadi Kagamicchi berbicara di teleponnya berkali-kali pasti dia menyuruh siapapun itu untuk segera datang." Kise memberikan deduksinya.
"Mungkin dia akan bertemu dengan temannya."
"Tidak mungkin, Kagamicchi pasti bertemu dengan pacaranya."
"Memangnya kau ingin Kagami punya pacar?"
"Tentu saja tidak, ssu," Kise menjawab cepat.
"Shh, ada yang datang," kata Kuroko dan menghentikan percakapan Aomine dan Kise.
Mereka lalu kembali memfokuskan perhatian mereka ke Kagami yang berdiri dan dihampiri oleh laki-laki tinggi kurang lebih dua meter dengan rambut merah. Mereka mengira kalau laki-laki itu sudah berumur 40 tahunan atau bahkan lebih. Kagami terlihat jengkel tapi laki-laki itu hanya tersenyum cengegesan lalu memeluk Kagami. Kagami yang sebelumnya masih cemberut tapi akhirnya membalas pelukan laki-laki itu.
Para pelangi menarik napas kaget ketika Kagami membalas pelukan laki-laki itu dan tersenyum ke arahnya.
"K-Kagamicchi!" Kise sudah membasahi pipinya dengan air mata.
"Siapa itu?" Akashi memandang tajam laki-laki tidak dikenal yang masih memelukkan kedua tangannya ke tubuh Kagami itu.
"Mungkin itu daddynya." jawab Aomine yang langsung mendapat pelototan dari teman segengnya.
"Aomine-kun, jangan bicara sembarangan." kata Kuroko yang tangannya sudah gatal ingin memvanishing drive(?) laki-laki yang sedang bersama Kagami.
"Tai-chin sukanya dengan oom-oom." kata Murasakibara yang tangannya sudah meremukkan gelas sodanya yang sudah kosong.
"Dan bule."
"Mereka bergerak," beritahu Midorima yang sedari tadi memandang targetnya dengan seksama.
"Ayo mengikutinya." perintah Akashi yang langsung dilaksanakan oleh anak buahnya.
Mereka akhirnya mengikuti Kagami dan orang tidak dikenal itu kemanapun mereka pergi. Ternyata mereka memang seperti berkencan dengan memasuki satu toko ke toko yang lain dan membeli barang-barang. Kagami bahkan kelihatan sangat bahagia seharian itu.
"Akashi-kun, aku sudah tidak kuat." kata Kuroko setelah melihat laki-laki itu mencium pipi Kagami dan Kagami memalingkan mukanya yang memerah.
"Aku juga, ssu," kata Kise. "Aku tidak kuat melihat Kagamicchi bermesraan dengan orang lain."
"Sebaiknya kita kembali Akashi, agar kita semua sudah ada di rumah kalau Kagami kembali," saran Midorima.
"Ya kau benar," balas Akashi. "Tapi aku juga akan menyuruh Taiga untuk kembali." Akashi lalu mengambil telepon genggamnya dan menghubungi Kagami.
"Halo?"
"Taiga, kau ada di mana?" tanya Akashi.
Mereka bisa melihat Kagami menyuruh laki-laki di sebelahnya untuk diam sebelum dia kembali menjawab Akashi. "Uh… aku ada di mall."
"Kau bisa pulang sekarang? Kita semua lapar di sini."
Mereka memperhatikan lagi Kagami yang berbicara dengan laki-laki itu. Laki-laki itu menjawab Kagami sebelum Kagami mengangguk dan berbicara lagi dengan Akashi lewat sambungan telepon. "Oke baiklah, tunggu sebentar aku akan segera pulang."
"Oke, hati-hati di jalan." Akashi lalu memutuskan sambungan teleponnya.
.
"Aku pulang."
Para Generasi Keajaiban yang sebelum duduk rapi bersama di sofa membelalakkan mata ketika Kagami membawa pulang teman kencannya(?).
"Selamat datang."
"Taiga jangan lupa untuk memakai baju yang sudah kubelikan tadi."
"Ya." jawab Kagami dan meletakkan belanjaannya.
"Taiga kau belum mengenalkan orang yang bersamamu." kata Akashi.
"Oh ya maaf, ini adalah ayahku."
"Ayahmu?"
"Ya, aku adalah papanya Taiga," kata orang itu lalu merangkul pundak Kagami dan membuat Kagami lebih dekat dengannya.
"Ayah, jangan dekat-dekat," kata Kagami dan menjauhkan dirinya.
"Aww jangan begitu Taiga, katanya kau ingin menikah dengan papa?" tanya ayahnya Kagami dengan cemberut.
"Aku tidak pernah berkata seperti itu!" sanggah Kagami dengan wajah yang merona merah.
Ayahnya lalu tertawa dan mengacak-acak rambut merah Kagami. "Di mana kamar mandinya?"
"Di dekat dapur, Ayah lurus saja."
Ayahnya Kagami mengangguk sebelum beranjak ke kamar mandi.
"Maaf atas ayahku," kata Kagami. "Aku sebenarnya tidak ingin mengajaknya ke sini tapi dia memaksa."
"Tidak apa-apa, Kagami-kun."
Pelangi yang lain mengangguk-angguk. Kalau begini kan mereka bisa pedekate dengan calon mertua.
"Tapi kenapa dia suka nempel-nempel padamu, ssu?" tanya Kise.
Pipi Kagami merona mendengar pertanyaan Kise. "Aku sudah bilang budaya di sini berbeda tapi dia masih suka seperti itu."
"Oh, dia sebenarnya orang mana?"
"Amerika."
"Tapi kenapa namamu seperti itu?"
"Kagami Taiga sebenarnya adalah nama ibuku tapi ayahku suka sekali dengan nama itu jadi dia menamaiku seperti ini," jawab Kagami sambil mengangkat bahu.
"Lalu bagaimana ayahmu bisa membedakan namamu dan ibumu?" tanya Midorima.
"Ibuku sudah meninggal," jawab Kagami.
"Oh, maaf Kagami."
"Tidak apa-apa, ibuku sudah berada di tempat yang lebih baik sekarang jadi aku tidak sedih." balas Kagami sambil tersenyum.
"Taiga, ayah sudah kangen dengan masakanmu bagaimana kalau kau memasakkan ayah?" kata ayahnya setelah dia selesai dengan urusannya di kamar mandi.
"Baiklah, aku juga akan membuat makan siang untuk mereka." kata Kagami lalu menuju dapur yang diikuti oleh ayahnya.
"Phew, ternyata itu cuma ayahnya Kagamicchi," kata Kise lalu menyenderkan punggungnya ke belakang.
"Kan aku sudah bilang itu daddynya, ayahnya," kata Aomine. "Makanya pikiran jangan mesum."
Generasi Keajaiban merasa tertohok hatinya karena seorang Aomine yang biasanya mereka berikan julukan mesum sekarang berganti menyerang balik. Tapi akhirnya mereka bisa bernapas lega karena pikiran terburuk mereka tidak menjadi nyata.
.
.
.
A/N: ini chapter lanjutnya~ semoga bagus :v
Terima kasih review, fav, follownya. Review lagi ya~ :)
