chapter 2
.
.
.
Hunt in.
Ok, Sebelumnya saya sangat berterima kasih atas respon kalian. Kritik dan saran saya terima dengan senang hati. Saya akui fic ini sangat jauh dari kata sempurna. Dan untuk kedepan, yang pasti saya akan membuat cross ini berbeda dan yg lain. Kbnyakan yg lain slalu mengikuti alur dari canon DxD. Ya wlaupun tdak sepnuhnya juga. Ok, versi saya ini mungkin akan SANGAT berbeda mengingat di sini Naruto adalah Pengunjung yang mencari jalan pulang. Untuk kedepan,apakah Naru akan jadi iblis atau tidak, jawabanya adalah tidak. Karena ia memiliki alasan yang kuat untuk tetap menjadi Manusia. Dan untuk sudut pandang, jujur. Sebenarnya saya bimbang, karena saya bingung menentukan sudut pandang nya. Apakah lebih baik jika full one pov's ? Atau sudut pandang biasa ? Untuk pairing, hmm sebaiknya ikuti alur dahulu... Karena saya tidak menyukai seseorang jatuh hati begitu mudah tanpa interaksi, contact, dan feel, yang jelas.
Ok segitu aja. Sekali lagi saya sangat berterima kasih untuk kalian yang sudah Me-review.
: : : : :
4.30 pm in Kuoh Academy, room occult sciene club.
"Ampuni aku kami-sama~... Ampuni aku kami-sama~... Ampuni aku kami-sama~..."
"Are? Mahkluk-kuning-san takut hantu?."
"Haahh~...-oh ayolah Uzumaki-san. Kami ini iblis, bukan hantu. Iblis dan hantu itu berbeda. lihat, apa tubuh kami transparan? Apa wujud kami menyeramkan? Dan -hei, lihat kaki kami, menempel di lantai kan?"
Seperti apa yang terlihat, kini mereka berada di sebuah gedung lama sekolah Kuoh. Tepatnya adalah klub penelitian ilmu gaib. Naruto yang kini memakai Baju biru tua polos dan celana jeans hitam pemberian Akeno yang sejatinya adalah milik Issei terus meringkuk di pojokan ruangan bernuansa classic itu. Mengabaikan Sesosok Rias dan Akeno yang duduk berhadapan di sofa sambil menyesap teh yang dibuatkan Akeno.
"Buchou, Ise dan Asia sepertinya terlambat datang kemari. Apa kah terjadi sesuatu? koneko dan Kiba juga." Akeno lebih memilih menanyakan teman atau anggota keluarga nya tenimbang harus terus berdebat dengan Mahkluk kuning-san yang terus nyempod di pojokan tidak jelas. Lucu juga sebenarnya, dirinya baru kali ini bertemu dengan seseorang yang trauma berat akan sesosok mahkluk astral itu. Dan itu pula memunculkan pertanyaan yang hinggap di kepalanya tentang; semengerikan apa sih hantu itu? Ahh simpan pertanyaan itu untuk nanti, ia kini lebih memilih menatap Rias dengan raut menanti jawaban.
"Kudengar mereka (Ise dan Asia) langsung pulang dengan bergandengan tangan menuju gerbang. Seperti nya mereka sedang menikmati kencan mereka. Kiba sedang membuat kontrak dengan manusia. Dan untuk koneko, ia lebih jadi dingin dan pendiam setelah kejadian dimana kita menemukan Dia(Naruto)." jawabnya dengan menunjuk pemuda pirang yang masih memeluk erat lututnya di akhir kalimat nya. Sedikit heran juga mengenai Koneko, apa yang membuatnya begitu dingin dan pendiam? Walaupun sejatinya Koneko tak banyak bicara, tapi ia tahu mana yang dingin es dan mana yang dingin nya es yang mencair. Apa karena Naruto? Tapi apa penyebabnya?
"Oh, kalian membicarakan bocah Neko-chan(kucing) itu ya? Aku tahu dia ada di dalam perpustakan. Ku akui ia memiliki Senjutsu yang lumayan kuat sampai aku bisa merasakan hawa keberadaanya." Naruto jadi ikut tertarik mengenai bocah kucing itu. Karena menurutnya, orang yang lahir dengan kekuatan senjutsu yang alami bahkan bisa menjadi lebih kuat dari orang yang memiliki senjutsu bukan dari lahir. Tergantung bagaimana ia mengolah nya saja. Naruto kini mendekat kearah Rias dan Akeno yang menatap curiga dalam duduk nya.
"Kau bisa merasakan Keberadaan Koneko? Khu khu khu, aku tahu kau bukanlah Manusia biasa..." Akeno menyeringai senyum, bukan seringai jahat atau mesum. Tapi seringai ketertarikan akan apa yang dimiliki oleh pemuda yang mulai mendudukan diri di samping nya dan menghadap Rias.
"Baru sekali kau bertemu dengan Koneko di ruang kesehatan dan sekarang kau sudah bisa tahu hawa keberadaanya dimana? Bagaiana caranya?." Rias bertanya, dirinya bahkan belum bisa merasakan hawa keberadaan iblis dari jarak yang jauh. Tapi pemuda ini? Ya mahkluk kuning yang menganggap nya Hantu itu bisa merasakanya? Menarik, ini benar-benar menarik.
"Senjutsu. Karena Neko-chan memiliki energi itu. Begitu pula dengan diriku -Uups!..." sial! Dirinya keceplosan memberi tahukan kemampuan nya. Haaarrgg ia memang tak bisa berbohong. Tapi kenapa sulit sekali menyembunyikan nya sih?
"Hemm? Benarkah...? Buchou...-bagaimana jika kita paksa makhluk-kuning ini untuk menjelaskan tentang siapa dia sebenarnya... Aku udah kepalang greget melihatnya berbohong seperti maling pakain dalam yang sudah ketahuan." Akeno tersenyum manis kearah Naruto. Tangan nya mengepal kesal karena kelakuan Naruto yang menurutnya tak jelas. Ia kini semakin yakin bahwa Naruto memiliki rahasia yang belum dia ketahui.
Dan reaksi Naruto yang melihat senyum Akeno hanya bisa merinding ngeri, bagi dirinya melihat seseorang tersenyum dengan keterpaksaan itu sangatlah menyebalkan dan membuat mata sepet. Ahh ia ingat seseorang yang sama dengan Akeno.
"Kau seperti Sai. Teman-ku yang bahkan tak punya emosi terpaksa memakai emosi. Hasilnya, setiap ku melihatnya tangan ku gatel ingin menempeleng wajahnya. Tapi itu dulu... Karena sekarang ia sudah berubah." ya, ia ingat dulu waktu pertama kalinya ia bertemu Sai yang dulu tiba-tiba saja menyerangnya dengan alasan yang tak jelas. Baru saja ia 1 hari di dunia ini, ia sudah merindukan suasana konoha yang mungkin sekarang sudah damai.
Akeno diam sesaat. Perlahan sesak merambat kehati, mengalir dari dalam dada menuju kepala hingga rona merah tercetak di wajah putih ayu nya. Dirinya marah, sangat marah. Bukan karena ia di hina atau apa. Hanya saja ia benci, benci jika ada seseorang yang sok mengerti akan dirinya.
Rasa perih terasa di kedua pipi tan nya. Sorot matanya meneduh seolah mengerti dengan apa yang terjadi. Ia tahu apa kesalahan nya, ia juga mengerti kenapa hal ini dilakukan oleh gadis berambut hitam kebiruan yang memandang nya marah.
"Tahu apa kau hah?! Kau pikir aku juga tak tahu tingkah bodoh mu hanya kedok belaka heh?!... Aku akui, aku memang tak sepenuhnya mengenal mu! Tapi aku mencoba menahan untuk tidak sok mengerti dengan apa yang ada pada dirimu. Aku benci mengakui ini. Bahkan aku sendiri baru kali ini menunjukan kemarahan ku di depan [Raja] ku... Sekali lagi ka-."
"Sudah puas? Syukurlah jika ini dirimu yang sesungguhnya. Aku hanya tak bisa melihat seseorang yang tersenyum karena sebuah alasan, bukan karena ketulusan. Aku akui, aku memang tak mengerti apa yang ada pada dirimu. Namun setidaknya, aku lebih senang melihatmu menjadi dirimu sendiri. Terima kasih karena telah menyelamatkan ku. Terima kasih karena kalian telah menolongku. Maaf jika aku belum bisa membalaskan kebaikan kalian. Permisi..." ya, Naruto lebih senang melihat mereka yang jujur. Walau harus ia melakukan sebuah kesalahan.
Naruto bangun, lalu tersenyum -tidak, ia nyengir seperti biasa... Dan ia perlahan berjalan keluar dari ruangan khas nuansa classic ini.
"Tunggu du-..." belum sempat Rias mencegah Naruto pergi, teriakan nya terburu terpotong oleh gumaman pelan Naruto.
"Aku tetap menolak, karena aku tak ingin terikat. Aku masih mengemban tujuanku sampai kapan pun. Mencari kedamaian... Adalah tujuanku. Dan aku tak akan pernah menarik kata-kata ku, karena itu adalah jalan ninja-ku..." pelan, namun cukup jelas di dengar oleh indra kedua iblis yang menatap nya dengan berbagai pandangan.
Naruto menutup pintu, dan kini suasana kembali sunyi setelah ketegangan sementara akhirnya berakhir.
"Akeno...-"
"Aku ingin sendiri Buchou..." Akeno hanya butuh waktu untuknya bisa membangun kembali tembok yang tadi di gedor oleh mahkluk kuning menyebalkan itu. Beranjak pergi mencari tempat menyendiri adalah prioritas utama nya sekarang.
Haahh~ Rias hanya bisa menghela nafas panjang. Siapa yang menyangka perbincangan renyah berubah menjadi rumyan seperti ini. Dirinya memang egois, karena ia ingin; mendapatkan budak yang memiliki potensi yang tinggi seperti pemuda pirang tadi. Tapi, seperti nya ia harus pasrah saja dengan lepasnya calon budak nya itu.
Memijat pelan kening nya berusaha agar mendapat rilexasi walaupun sesaat. Rias menyandarkan punggung nya pada sofa lebih dalam seakan itu bisa mengurangi rasa penat nya hari ini.
"Begitu banyak pertanyaan yang hinggap di kepala ku, sampai ku tak bisa mengeluarkan satu kalimat pun. Hahh~." gumam nya pelan, lalu mata ruby nya terpejam sebentar. Istirahat 15 menit mungkin akan mengurangi sedikit lelahnya pikiran yang ia rasakan.
'Aku tetap menolak, karena aku tak ingin terikat. Aku masih mengemban tujuanku sampai kapan pun. Mencari kedamaian, Adalah tujuanku... Dan aku tak akan pernah menarik kata-kata ku, karena itu adalah jalan ninja-ku...'
Ninja?
Mata nya terbelalak lebar dan langsung bangun ketika mengingat perkataan terakhir Naruto tadi. Ia baru ingat, ada sesuatu yang ganjil di sini.
"Aku harus menemui Sona." Dirinya tahu, siapa orang yang bisa menjawab rasa penasaran nya ini.
:::*:::
suasana tegang mendominasi ruangan Hokage yang kini menjadi tempat dimana rapat dadakan terjadi. Meja sepanjang 3 meter dengan lebar 2 meter itu telah terisi penuh oleh orang-orang yang kini ber-expresi serius. Walau tak sepenuhnya yang berada disini tidaklah di dominasi oleh orang yang termakan usia.
"Ceritakan kembali kejadian dimana akar masalah ini bermula. Sasuke, kau yang melakukan jurus kombi henge dengan Naruto saat mengecoh Kaguya, bisa jelaskan secara terperinci?." Tsunade, yang sejatinya masih menjabat sebagai Hokage itu kembali memulai topik. Sungguh, ia sangat merindukan bocah kuning itu. Ia sangat tak sabar untuk menyerahkan kewajiban yang ia emban sekarang Pada Naruto.
"Ha'i. Aku dan Naruto memang sempat melakukan Henge dengan Naruto. Saat itu, Kakashi berhasil melukai lengan kanan Kaguya dan itu membuatnya lengah. Sakura yang menghajar kaguya terlebih dahulu dari aku dan Naruto pun menambah kesempatan kesempurnaan akan rencana kami agar bisa menyegel Kaguya. Saat itu pula, di waktu Naruto mulai menyegel Kaguya dengan RIKUDOU FUIN, cahaya yang sangat terang bersinar menyilaukan mata. Aku sempat merasakan tanganku menghantam bagian perut Kaguya. Dan saat tubuhku jatuh bersama Sakura, aku tak melihat mereka berdua. Tapi aku sangat yakin bahwa Naruto telah menyegel kaguya. Dan aku sangat yakin, bahwa ia dilemparkan ke dimensi lain oleh kaguya sebelum ia tersegel dalam diri Naruto." jawab Sasuke tenang. Setelah perdebatan panjang akan dirinya yang mendapat hukuman atau kebebasan itu. Sasuke langsung menggebrak meja dengan keras dan berteriak "Utamakan Naruto! Kalian ingin membunuhku juga tak apa. Tapi jika kalian mengabaikanya. Aku yang akan menghancurkan Konoha saat ini juga." dan saat itu perdebatan mengenai dirinya langsung pupus dan berganti dengan topik mengenai hilang nya Naruto.
"Jadi untuk sekarang kita harus memikirkan berbagai cara untuk membawa pulang Naruto." Shikamaru ikut bersuara, ia pun mulai memikirkan segala cara.
Jika ini berhubungan dengan dimensi. Hanya satu kesimpulan yang ia tahu dari sebuah tingkatan dari jurus perpindahan dimensi. Hiraishin, adalah tingkatan ketiga dari jurus Shunsin. Yang pertama adalah kawirimi, yang sejatinya berpindah dengan sebuah objek tertentu sebagai media untuk menyelamat kan diri dari mara bahaya. Shunsin pula tingkatan kedua dari jurus dasar yang di gunakan kawarimi. Ketiga adalah Hiarashin yang mulai menggunakan percepatan perpindahan melalui dimensi tertentu dengan segel khusus yang menjadi mediasi perpindahan. Dan itu adalah jurus yang di ciptakan oleh Hokage ke 2.
"Siapa di sini yang tahu mengenai informasi dari jurus tingkatan lanjut dari Hiraishin?." Shikamaru angkat bicara. Mereka semua diam. Tsunade, diam. Kakashi seperti ingin bicara namun ragu akan apa yang ia ingin sampaikan. Para rokie pun diam. Hampir dari semua orang yang berada di sana diam.
"Bagaimana dengan Ka-..."
"Kamui adalah dimensi yang hanya dimiliki oleh dirimu, Kakashi. Yang berarti dimensi itu hanya milik mu dan tak bisa untuk berpindah ke dimensi lain. Memang bisa jika berkombinasi dengan jurus perpindahan Yang Sasuke-kun kembangkan dengan mencari titik dimensi tertentu. Dengan kata lain, masih kurang pasti jika kau menyarankan kamui." Orochimaru angkat bicara dan memotong gagasan yang ingin kakashi keluarkan.
"Ahh saya lupa bahwa anda bisa menggunakan jutsu terlarang, Orochimaru-san. Kenapa tidak bangkitkan hokage ke 2 dan ke 4 yang pasal nya mereka telah menandai tubuh Naruto dengan segel Hiraishin saat perang melawan madara?." Shikamaru mengeluarkan kembali pendapatnya. Ia sudah menyangka bahwa Orochimaru pasti akan menyangkat setiap gagasan. Karena dia lah yang bisa... Membangkitkan mereka yang menciptakan jurus perpindahan dimensi.
Secercah harapan pun kini hadir dalam suasana yang tak nyaman ini.
"Khu khu khu, Nara-kun memang pintar."
:::*:::
Toujou Koneko. Gadis bertubuh kecil yang sering di gemborkan menjadi maskot dari sekolah kuoh Academy itu kini menatap sebuah buku. Buku setebal kamus bahasa inggris yang sebenarnya itu adalah buku sejarah peradaban manusia. Lebih tepatnya peradaban zaman edo. Dirinya tahu bahwa mengenai pemuda beramput kuning itu ada sesuatu hal yang membuat dirinya merasakan apa itu takut, sebuah perasaan yang mengganjal di hati saat merasakan hawa lain dari tubuh pemuda kuning itu. Dirinya memang sempat menjenguk pemuda kuning yang belum sempat ia ketahui nama nya itu di lantai tua gedung lama yang berada di belakang sekolah. Satu atap pula dengan ruangan club penelitian ilmu-Gaib.
Dirinya bahkan sudah menghabiskan waktu entah berapa lama untuk menemukan arti, gambar dan sejarah mengenai ikat kepala yang berlambangkan daun yang mengikat kepala penuh rambut pirang itu. Saat dirinya melihat sesosok perempuan bermata tiga, 2 berletak sebagaimana manusia biasa, dan 1 yang terletak di pertengahan kening nya. Dan semua mata itu seakan memiliki intimidasi yang kuat. Sampai ia bergetar melihatnya. Di tambah lagi 2 tanduk yang berada di kepalanya itu, menambah kesan ketakutanya. Walau ia akui wajah mahkluk itu sangat di sayangi, terbilang cantik namun terusak oleh cover di wajahnya.
Dan pula, kekuatan alam seakan berlimpah mengalir dari tubuhnya. Menguar seakan uap bensin terhempas udara. Sejujurnya, ia sangat ingin mengetahui siapa pemuda kuning itu. Karena dirinya yakin, wanita atau mahkluk aneh yang di deskripsikan olehnya tidaklah menghilang. Melainkan memasuki tubuh pemuda pirang yang saat itu tak sadarkan diri.
"Yoo~ Neko-chan..."
Koneko sampai terjengit kaget karena tiba-tiba saja sebuah suara mengagetkan nya datang dari arah samping kanan telinga nya. Padahal ia sangat yakin bahwa murid lain mungkin tak akan ada yang kesini. Lagi pula, mahkluk macam apa yang memanggilnya Neko-chan? Ia akui itu adalah sebagian dari nama nya. Dan pula, menyangkal bahwa dirinya bukan kucing juga percuma. Karena dirinya memang perwujudan dari Neko-Shou.
"..."
Naruto menunggu, sampai 10 detik berlalu ia tak mendapatkan jawaban dari gadis berambut putih perbaduan dari biru pudar. Naruto bahkan terus memandangi gadis yang duduk di samping nya ini. Gadis kecil itu memang menatap kearah buku, namun ia sangat yakin. Bahwa pandangan itu bukanlah pandangan seseorang yang sedang menikmati bacaan. Melainkan, pandangan menerawang jauh entah kemana yang terbawa oleh pemikiran dari gadis kecil itu.
"Koneko."
Naruto mengerjap kan matanya beberapa kali. Mendengar penuturan yang seakan membenarkan atau mungkin memberi tahukan Nama nya. Menanti beberapa saat bermaksud mencari maksud lain dari untaian kata yang di lontarkan gadis kecil di samping nya, akhirnya ia mengeluarkan suaranya.
"Koneko? Apakah itu nama mu? Tapi aku lebih senang memanggilmu Neko-chan." tutur Naruto di temani cengiran Khas nya.
Masih diam dan memandang datar buku, koneko lalu menengok kearah Naruto yang nyengir kearah nya. Apa ini?
"Kau... Siapa?." bukan, bukan ini yang ingin ia tanyakan. Tapi mengapa pertanyaan ini yang dikeluarkan oleh bibir mungilnya?
"Aku? Nama ku Uzumaki Naruto. Terima kasih sebelum nya karena kalian telah menolong dan merawatku." jawab Naruto masih setia dengan cengiran khasnya.
"Aku ingin melihatnya." ungkap Koneko kembali
"Melihat? Melihat ap?."
"Mahkluk yang berada di tubuhmu."
Naruto bungkam sesaat. Koneko masih memandangnya datar. Namun Naruto tahu, dari pandangan datar itu ia melihat rasa ketertarikan dari kedua bola mata itu. Rasa ingin tahu, yang sama dengan rasa penasaran.
"Hehehe gomen ne, aku hanya bunshin yang di suruh boss untuk mencari informasi tentang dunia ini."
Wajah datar Koneko hancur seketika berganti dengan wajah penuh tanda tanya.
Bunshin?
Boss?
Mencari informasi mengenai dunia ini? Ok, ia sangat yakin. Dan ia masih belum sepenuhnya memahami apa yang dikatakan pemuda kuning di depan nya ini. Sampai satu kalimat terlintas dikepalanya.
"Siapa kau sebenarnya?"
:::*:::
Naruto diam menatap jauh kearah lingkungan di depan sekolah Kuoh Academy. Tatapan sendu jelas tersirat di raut wajah tan nya. Surai pirang nya melambai searah hembusan angin senja yang penuh akan warna jingga kemerahan di langit.
Naruto tahu, ia harus mencari jalan untuknya pulang. Tapi bagaimana? Andai ia punya jurus perpindahan dimensi, mungkin ia bisa pulang dengan mudah. Mau tak mau ia harus menetap di sini. Lagi pula mempelajari berbagai hal yang ada di dunia ini sepertinya cukup menarik.
Ia akui, dirinya masih belum lepas dari lelah nya. Namun niatnya untuk mencari tahu tentang dunia ini tidak bisa menghentikan tindakan nya memakai bunshin untuk mencari informasi.
"Aku memang bodoh. Tapi tidak cukup bodoh untuk tidak mengerti ucapan mu Kaguya." gumam Naruto memandang jauh kearah langit.
Dirinya memang bodoh, tapi tidak cukup bodoh untuk tidak mengerti apa yang di ucapkan kaguya di pertemuan akhir dalam alam bawah sadarnya.
"Ku-kurama? Ba-bagaimana...-"
"Salahkan wanita gila itu. Sudah diam, aku tak ingin mendengar apa-pun dari mu. Aku masih belum terbiasa dengan wujud manusia ku."
Naruto cukup terkejut ketika seorang gadis bersurai merah panjang sepinggang dengan bola mata merah kekuningan dan pupil vertikal menatap jauh memandang awan duduk di samping nya meringkuk.
"Setidaknya pa-pakailah pakaian -ttebayo! Ini, pakai kaos ku untuk menutupi tu-tubuhmu." Naruto berteriak dengan wajah yang memerah sempurna. Tak mengelak jika ia cukup terkejut dengan indahnya tubuh Kurama yang putih mulus tanpa noda dengan surai merah yang kontras jelas mengundang gairah. Apa lagi suasana senja yang menerpa kulit kurama seakan ini adalah penomena alam. Hei! Ini memang fenomena langka bukan? Dalam hidup Naruto, baru kali ini ia duduk berdampingan dengan seseorang, ralat maksudnya perwujudan dari bijuu terkuat dari delapan bijuu lainya yang kini dalam wujud manusia tanpa busana sama sekali. Apa lagi kurama tak merasa malu atau menutupi aset nya yang menjulang menantang mengundang mata.
"Kebesaran." intrupsi kurama terdengar setelah memakai kaos biru polos Naruto. Ya, kaos itu tampak kebesaran sehingga mampu menutupi bagian paha nya. Namun juga itu tak sepenuhnya menutupi semua tubuhnya.
"Ce-cerewet! Apa kau ingin aku memperkosamu?." Naruto sedikit meninggikan suaranya dan menyembunyikan wajahnya kesamping karena tak sanggup melihat kurama. Hei, ia adalah lelaki normal, jadi jangan salahkan dia jika gairahnya bergejolak ketika melihat tubuh telanjang lawan jenisnya.
"Kau, cari beberapa baju perempuan untuk Dia(Kurama) bagaimana pun caranya."
"Baik boss!."
Naruto membuat satu lagi bunshin, lalu menyuruhnya mencari beberapa baju untuk kurama.
"Tunggu dulu, kau bisa ada di sini apakah kau juga bisa kembali kedalam tubuh ku?."
"Aku ti- ittaii...-"
Sebelum melanjutkan kalimatnya, Kurama memegang lengan kanan nya sembari menunjukan raut menahan sakit.
"Brengsek kau nenek kelinci! Akan ku cakar wajah mengerikan mu! Grrrr." Kurama menggeram merutuki nasibnya yang sepertinya harus bisa menerima mau tak mau bagaimana pun caranya. Ini semua gara-gara nenek kelinci itu yang seenaknya menendang dirinya keluar, dan itu mengganggu waktu tidur nya. Cih, awas saja nanti.
"Pffttt bwahahahaha aha aha aduh aduh ahahaha kau lucu sekali saat marah Ku-Ra-Ma-chan. Ahahaha." Naruto tertawa terbahak. Baginya, melihat kurama yang marah dengan wujud manusia nya ini sangatlah lucu. Dengan tampang yang terbilang cantik dan perkataan nya yang kasar sangat terkesan aneh. Karena ucapanya dan expresi Kurama saat marah sangat lucu, sama halnya dengan remaja seusianya. Bayangkan saja, makhluk berwujud monster dengan sembilan ekor, cakar dan taring yang menyeramkan itu, Kini malah menjadi remaja yang menggemaskan.
"Ada yang lucu bocah? Melihatmu, aku ingin mencakar wajahmu." Kurama cemberut kesal melihat Naruto yang kini terbaring memegang perut nya masih dengan tertawa nya.
"Gyaaa~ ampun! Ampun! Hen-hentikan -Auwh gyaaa." Naruto berteriak ketika Rambutnya dijambak dan di tarik kekanan dan kekiri oleh kurama.
Ahh~ dengan senja dan angin sore yang bersepoi ria menerpa raga, sangat menambah nuansa romansa yang sangat terasa. Ya setidaknya mereka bisa melepas penat walaupun sesaat dengan bercanda. Aneh memang, mengingat interaksi seperti belum pernah terjadi sebelum nya.
"Kalian! Turun dari atap sekolah, SEKARANG JUGA!."
"Eh?"
Candaan mereka berhenti ketika seseorang berteriak kearah mereka. Seseorang gadis berwajah tegas dengan kacamata tanpa bingkai dengan bola mata violet yang menyiratkan ketegasan.
"Siapa kau mahkluk berdada rata? berani sekali kau memerintahku!."
Naruto terkesiap, atau mungkin terkesima melihat kurama yang berdiri berkacak pinggang menatap tajam kearah gadis yang meneriaki mereka. Sungguh, melihat Kurama yang berkelakuan seperti ini, bagaikan melihat Sakura yang sedang datang bulan. Dalam hati ia tertawa mengingat hal itu. Namun kembali lagi, ia pun turut mengarahkan atensi nya pada gadis bersurai hitam kebiruan.
Shitori Souna, atau yang biasa di panggil Sona Shitri yang menjabat sebagai ketua dewan mahasiswa kini menatap lebih tajam dari sebelum nya kearah gadis bersurai merah seperti Rias yang kini berkacak pinggang seakan menantangnya.
"Apa kau bilang? Turun dan kesini kau! Kita selesaikan sekarang juga!." Sona membalas teriakan itu. Tembok yang di pakai nya kini hilang sudah. Wajah tegasnya kini memerah menahan amarah karena tak terima mendapati makian yang memang itu adalah fakta bahwa dada nya memang rata.
TAP
"Apa? Mau bertarung denganku pettan-onna?(Perempuan berdada rata)." Kurama turun dan langsung menghadap di depan sona yang terjengit terkejut karena tiba-tiba saja Kurama berada di depan nya.
"Apa kau iblis? Aku tak bisa merasakan aura Da-thensi atau malaikat pada diri mu, tapi aku yakin bahwa kau bukanlah manusia."
"Aku memang bukan manusia. Memangnya kau ini apa? Monster?."
Sona mundur dan memasang fose bersiaga. Lingkaran sihir tercipta di depan tangan kanan Sona dan siap mengarahkan nya pada Kurama.
"Ok! Aku memang tak tahu mahkluk macam apa kau. Tapi yang pasti kau mungkin cukup kuat untuk melawan ku." dengan selesainya ucapan kurama, cakra berwarna merah mulai menguar dari dalam tubuh Kurama. Perlahan, cakra tipis itu menyelimuti tubuhnya lalu tangan yang berwujur cakar dari cakra yang membungkus tangan nya siap Ia arahkan kearah gadis yang berani menentang nya.
Tep
"Hentikan Kurama. Kita disini bukan untuk bertarung. Dan kau nona, aku tahu kau adalah iblis. Dari aura mu yang sama seperti Gremory-san. Aku minta maaf atas hal ini." Naruto memegang kedua tangan Sona dan Kurama secara bersamaan. Jika di biarkan, mungkin gadis iblis ini akan menjadi bulan-bulanan amukan kurama yang berwujud manusia.
Untuk kedua kalinya Sona di buat terkejut bukan main. Bukan hanya kapan pemuda kuning dan gadis merah ini yang tiba-tiba saja berada di depan nya, pemuda kuning ini juga bahkan tahu bahwa ia adalah iblis. Ya tidak mengherankan juga jika pemuda ini sudah mengenal Rias yang notebane nya sahabat sesama iblis. Tapi siapa gerangan 2 mahkluk di depanya ini? Sedikit ganjil jika Sona mengasumsikan bahwa mereka adalah manusia.
"Siapa kau? -tidak, maksudku mahkluk apa kalian? Dan bagaimana bisa kau tahu tentang Rias?" Sona bertanya sembari menaikan kacamatanya yang sedikit turun akibat gerakan terkejut nya tadi.
Akhirnya suasana tegang tadi kini berangsur surut. Kesegiaanya kini berganti menjadi wajah tegas seperti biasanya. Tapi juga rautnya tak lepas dari rasa penasaran.
Waktu pun kini menunjukan bahwa matahari sudah mulai menyembunyikan wujudnya. Terbukti dari cahayanya kini mulai makin gelap.
"Aku di tolong oleh kelompok Gremory-san saat ku tak sadarkan diri. Dan perkenalkan, nama ku Uzumaki Naruto, dan dia adalah Kurama." Naruto memperkenalkan Dirinya dan juga Kurama yang mendengus kesal.
"Shitori Souna, aku adalah ketua dewan mahasiswa di sekolah ini." Sona pun menyambut salam perkenalan Naruto. Dirinya masih bingung. Apa yang sebenarnya ia lewatkan? Ia harus menanyakan tentang hal ini pada Rias.
"Hhmmpt, Dasar perut karet." celetuk Kurama yang mendengar raungan suara perut Naruto.
"Hei, aku bahkan tak sempat mengisi perut entah sudah berapa hari lama nya. Wajar saja kan jika aku lapar?." Naruto membantah membenarkan fakta bahwasannya ia belum makan sudah entah berapa hari lama nya.
"Sebaiknya kita keruangan klub sona, kau bisa mendapatkan makanan. Mungkin jika perrage ku ada, aku bisa menyediakan makanan sekaligus memperkenalkan mu pada mereka. Tapi mengingat perrage ku sedang ada urusan, lebih baik kita ke ruang klub Rias." ajak Sona. Pintar, ia memanfaatkan situasi ini untuk mencari tahu kebenaranya.
"Hahh mau bagaima lagi, ayo Kurama." Naruto pun sebenarnya enggan kembali ke sana, tapi ya mau bagaimana lagi? Perutnya kini sudah di ambang batas kewajaranya.
Mereka pun berjalan di pimpin oleh Sona di depan. Naruto kini sudah merasakan cukup kedinginan karena tak memakai baju. Hei ini sudah masuk malam bukan? Di tambah ia berdiam di atap yang pasalnya angin cukup kencang menambah dingin di tubuhnya.
Memutari sekolah menuju halaman belakang sekolah tempat dimana gedung lama yang di singgahi Rias berada, akhirnya setelah berjalan beberapa menit, mereka pun sampai di lantai tiga, tempat ruang klub penelitian ilmu-Gaib.
Mengetuk pintu 3 kali, akhirnya Sona mendapat jawaban dari dalam.
"Masuk."
pintu pun terbuka. Sona, Naruto, Dan Kurama pun memasuki Ruangan klub.
Issei dan Asia menatap terkejut kearah Naruto. Atau lebih tepatnya Issei menatap Kurama yang pasalnya kini memakai baju yang di berikan dirinya untuk Naruto. Dan benjolan kecil terlihat disana...
"Auwwh!" Issei memegang hidung nya yang mengeluarkan darah.
"Ise-san, kau tak apa-apa?." Asia memegang lengan Issei memastikan bahwa Issei baik-baik saja.
Akeno membuang muka, lebih memilih tidak memandang kearah Naruto. Atau lebih tepatnya menghindari bertatap dengan nya.
Yuuto Kiba, pangeran tampan itu memandang Naruto sambil tersenyum. Walau tak mengelak bahwa ia tak melepas kesiagaan nya. Tapi mengingat pemuda itu datang dengan Sona, ia menurunkan kesiagaan nya.
Koneko tiba-tiba datang dan menghampiri Naruto.
Pukulan yang ia arahkan pada Naruto begitu mudah di tahan tangan kanan Naruto. Menyernyit bingung menatap Koneko karena tiba-tiba saja ia mengarahkan serangan. Tak heran jika gadis kecil ini cukup kuat, mengingat Naruto tahu bahwa Koneko mempunyai Senjutsu.
"Kau... Bukanya masih berada di perpustakaan?." Koneko menarik tangan nya dari cengkraman Naruto kasar. Terkejut juga sih pukulanya di tahan begitu mudah oleh pemuda pirang ini.
"Ahh~ sepertinya bunshin ku mengerjakan tugasnya dengan baik. Dia adalah klon-ku."
Sona yang melihat tak adanya Rias pun bertanya, mengabaikan kejadian kecil tadi.
"Dimana Rias?." tanya sona.
"Bukankah Buchou mencari mu kaichõ?." Kiba menjawab. Berarti Buchou belum bertemu dengan Sona kalau Sona sendiri bertanya dimana Buchou.
"Mencari ku?." ulang Sona. Ah lebih baik ia menunggu sebentar di sini.
"Buchou pergi setelah aku tiba. Dia bilang ingin pergi menemui mu Kaichou." jawab kiba yang masih melirik kecil kearah Naruto dan Koneko yang berhadapan.
Sona berbalik lalu menatap Naruto dan Koneko yang pasalnya berada di belakang nya tepat di ambang pintu. Di belakang Naruto ada Kurama yang menatap kearah dalam ruangan dengan bosan.
"Apa yang kalian perdebatkan?." tanya Sona lalu menaikan kecil Kaca mata tanpa bingkai nya. Dirinya masih heran dengan adanya sosok Naruto dan Kurama. Berbagai pertanyaan jelas terkiang di kepalanya. Ingin rasanya agar Rias cepat datang. Sona lebih memilih bertanya pada sahabatnya itu, bukan nya ia tak percaya atau tidak menganggap adanya keluarga Rias. Tapi ya nama nya juga dengan sahabat sendiri terasa lebih nyaman.
"Dia(Naruto) bisa membagi dirinya. Itu yang ku tanyakan. Karena aku yakin, dia masih berada di perpustakaan saat aku datang kesini." jawab Koneko datar sembari menunjuk Naruto.
"Hahh~ aku akan menjawab nya setelah perutku terisi, bagaiamana?." jawab Naruto, ia heran. Bukankah ia tadi sudah menjawabnya bahwa Naruto yang ada di perpustakaan itu adalah bunshin nya? Tapi kenapa masih saja di tanyakan sih?
Sona menatap Akeno setelah mendengar jawaban Naruto. Ada ya aneh, Akeno bahkan tidak menatap kehadiran nya. Dan -hei kemana senyum yang biasa Queen sahabatnya itu pancarkan? Ada apa ini?
"Kurasa masih ada beberapa makanan ringan dan Cup Ramen." Akeno menjawab. Dirinya masih sangat kesal dengan pemuda kuning menyebalkan itu. Kalau saja tadi tak ada Buchou, mungkin ia sudah memanggang pemuda kuning itu. Akeno pun pergi ke belakang.
"Minna(semuanya) Aku izin pulang duluan dengan Asia. Tolong sampaikan pada Buchou bahwa aku pulang lebih awal." Issei yang sedari tadi menatap kesana kemari bahwa ada yang aneh akhirnya memilih untuk pulang. Kencan nya dengan Assia memang menyenangkan, tapi tak mengelak bahwa ia cukup lelah juga. Ya setidaknya kencan tadi bisa membantu dirinya untuk melupakan pacar yang membunuhnya. Issei juga tak menyangka, bahwa Yuma-chan ternyata adalah Da-tenshi, padahal itu adalah kencan pertama nya.
"Nanti akan ku sampai kan, Ise-kun." jawab kiba tersenyum simpul, ia memaklumi Issei ingin begitu cepat pulang. Ya, ia juga masih ingat latihan sparta yang buchou ajarkan kepada Issei tiap pagi.
"Terima kasih Kiba, ayo Asia." Issei pun pergi dengan mengajak Asia. Ia ingin cepat-cepat istirahat. Walaupun saat malam kekuatanya berlipat, ia masih tak bisa lepas dari rasa lelah nya.
Sona memilih duduk berhadapan dengan kiba, di susul Naruto yang ikut duduk dan juga Kurama yang duduk di sampin Naruto.
Suasana kembali sunyi. Tak ada yang ingin memulai pembicaraan. Naruto yang duduk berhadapan dengan Sona menaikan Sebelah alisnya akan tingkah Sona yang menurutnya siap meledak kapan saja. Dan saat dirinya menoleh kesamping, ternyata wajah yang menggeram marah juga di lakukan Kurama dan di tujukan pada Sona.
Naruto hanya bisa pasrah dan menghela nafas. Menoleh kearah kiba, kiba pun angkat bicara.
"Pasti berat ya?." ujar Kiba dengan Senyum yang masih tak lepas dari wajahnya.
Sekali lagi, Naruto menghela nafas.
SRING
"Awas bocah!." Kurama tiba-tiba berteriak dan lalu menarik tangan Naruto melemparkan tubuh Naruto kearah tembok sampai retakan cukup besar tercipta karena benturan Tubuh Naruto.
"Uuggh... -Apa yang kau lakukan Kurama!."
"Nenek Kelinci itu keluar, aku bisa merasakan nya bocah. Dia ingin menikam mu."
"Tidak mungkin dia akan membunuhku, bola bulu! Kau ingat dia terse-."
"Cih, padahal hampir saja aku bisa menghapus [tanda] di tubuhmu."
Sebuah suara terdengar, terlihat Kaguya yang berdiri melayang di depan pintu.
"Lihat? Aku benarkan?." ucap Kurama bangga karena dirinya memang benar merasakan adanya keadaan Nenek kelinci itu.
Kiba, Sona, Koneko, dan Akeno yang baru datang hanya bisa terdiam melihat kejadian dan kehadiran Kaguya. Mereka terkesiap karena bisa merasakan Aura dan kekuatan yang begitu besar.
2 lubang dimensi tercipta di sebelah kanan dan kiri Kaguya. Kurama yang melihat itu langsung mengeluarkan Cakra nya siap menerjang Kaguya.
"Sudah baik aku mengeluarkan mu dari dalam sel. Dan kau hanya mengganggu saja."
BUAAK!
Kurama terlempar sampai menghantam kaca jendela dan jatuh dari ketinggian lantai tiga sampai suara berdebum bertanda benda jatuh membentur tanah itu adalah kurama.
Naruto yang masih lengah dan lelah karena belum mendapat istirahat yang cukup pun hanya bisa diam ketika beberapa besi menancap dan membawa dirinya pada dinding yang retak. Besi itu tidak mengenai tubuh nya, hanya saja besi itu menancap mengikuti lekuk tubuhnya sehingga membuat Naruto terlentang dan menempel di dinding tak bisa bergerak.
Kaguya lalu muncul di depan Naruto begitu saja. Dan Kaguya mencengkram leher Naruto.
"Breng...Uhuk -sek! Gaahh apa -yang... Kau hhmmpt."
Ucapan tak terima Naruto terpotong ketika tiba-tiba saja Kaguya mencium Naruto tepat pada bibirnya sehingga menghentikan Untaian kalimat yang Naruto keluarkan.
Perlahan, Sesuatu tanda di tubuh Naruto menghilang...
Dan perlahan pula Kaguya menghilang memudar.
"Aku ceroboh melupakan segel ayahmu... Dan sekarang, ayahmu tak akan bisa datang kesini. "
Naruto tersadar, apa yang di ucapkan Kaguya padanya membuatnya menarik satu kesimpulan.
"Hiraishin. Brengsek kau perempuan kelinci! Haaarrrggg aku lupa di tubuh ku ada tanda segel dari Hiraishin. Jadi itu sebabnya kau mencium ku heh? Mediasi penghapus fuin yang menyebalkan." Ucap Naruto sedikit berteriak.
"Graaaa Kurama!." Naruto berteriak dan berontak mencoba melepaskan diri.
BRUAAK!
Dinding tempat dirinya tergantung jebol akibat dirinya kini memakai kekuatan transmigrant Ashura-nya. Naruto melayang dan langsung melesat mencari Kurama.
Mereka yang melihat kejadian itu hanya bisa diam dan tak bisa berkata apa-apa melihat kejadian ini. Terlalu mengejetkan untuk bisa bereaksi menanggapi kejadian yang tak terduga dan baru pertama kali mereka lihat ini. Bagaimana ketika Naruto di cium paksa oleh Wanita bertanduk, melihat kekuatan Yang luar biasa dari Naruto. Lalu melihat Naruto dan kaguya melayang tanpa menyentuh tanah. Oh jangan lupakan energi merah kekuningan yang keluar dari tubuh wanita berambut merah itu.
"Akeno-san, Kiba-san, Koneko-san. Ceritakan padaku bagaimana kalian menemukan mereka." ujar Sona yang masih menatap kearah jendela yang sudah hancur itu.
Orang yang di panggil Sona masih diam belum bisa menjawab pertanyaan Sona. Lebih tepat nya, terkesima, terkejut, atau apa pun yang di deskripsikan dari rasa kaget.
"KURAMA!." Naruto mendekat kearah Kurama yang tergeletak di tanah yang mencekung akibat benturan.
"Bocah... Aku tahu semua nya, tapi aku tak bisa uhuk -menjelaskan semuanya, nenek gila it- uhuk -u menyegel pengetahuan tentang cara agar kita bisa pulang padaku. Kau lihat segel ini? Dia yang membuatnya agar setiap aku ingin memberitahukan nya, segel ini akan aktive dengan menyakitkan. Dan itu pula, mengapa aku berada di luar dengan wujud manusia. Entah bisa atau tidak aku kembali ke tubuhmu, aku tidak tahu pasti."
"Aku tak peduli dengan semua itu, aku hanya tak ingin 'teman' yang mengerti ku meninggalkan ku. Jujur, kau berada di sini sungguh membuatku senang. Dan hanya kau yang ku miliki di dunia ini, kurama. Jika kau melemah, aku yang akan melindungi mu dengan nyawa ini. Kau ingat? Nyawaku adalah nyawa mu, Kurama."
"Kau terlalu cerewet bocah."
Naruto merengkuh tubuh kurama yang memar di bagian paha, kaki dan tangan nya. Kurama memang tak sepenuhnya bebas. Hanya karena dia berada di luar tubuh Naruto, bukan berarti Naruto bukan lagi jinchuriki kurama. Kurama masih tetap terikat dengan Naruto, karena itu lah tubuhnya melemah dengan wujud manusia nya ini. Sebagian besar cakra nya berada dalam tubuh Naruto, dan sekarang dirinya mungkin bisa dikategorikan setara dengan jounin.
"Aku akan mencari jalan untuk pulang, Seterjal apa-pun jalan itu, akan ku langkahi. Jika kaki ini tak bisa lagi di gunakan, aku akan merangkak dengan tangan ku. Jika tanganku terluka. Aku akan menyeret tubuhku dengan dagu ku. Dan aku akan selalu melindungi mu. Ingat ini kurama, karena ucapanku tak akan pernah ku tarik kembali. Karena itu adalah jalan ninja-ku."
"Aku tahu itu bocah, karena kita adalah satu."
Kurama tersenyum tulus dalam rengkuhan Naruto.
:::*:::
DUAARR!
Ledakan cakra terjadi di hutan kematian. 2 orang yang berhadapan satu sama lain terpental akibat lonjatan cakra yang cukup besar. Salah satunya adalah pria berambut kuning panjang dan pria berambut putih.
"Mu-mustahil..."
Gumam sang pria berambut kuning.
"Segel nya... -menghilang?."
Sahut pria berambut putih.
2 orang yang di ketahui Hokage ke-2 dan 4 itu berdiri dari jatuh nya. Menatap tak percaya pada apa yang terjadi tadi, hokage Ke-4 yang bernama Namikaze Minato itu bertanya pada Senju Tobirama, Hokage sebelum dirinya, Hokage ke-2.
"Apa anda juga merasakan nya?" tanya minato.
"Aku sempat merasakan cakra kecil dari segel Hiraishin sebelum segel itu semakin lenyap. Aku yakin, ada yang memakai jurus penghapus fuin." jawab Tobirama yang masih berpikir keras bagaimana itu bisa terjadi. Ia sangat yakin bahwa dirinya masih sempat merasakan sedikit cakra yang ada pada tubuh Naruto dari segel hiraishin nya sebelum segel itu menghilang. Dan itu menjelaskan mengapa ia dan Minato sampai terpental akibat jurus Hiraishin .
"Tak heran jika yang menghapusnya adalah Pencipta dunia Shinobi itu sendiri." jawab Minato dengan wajah yang sama terkejutnya. Ia terlambat, terlambat menyelamatkan putra nya yang di bawa kabur ke dimensi entah dimana oleh Kaguya Õtsutsuki.
Tsunade, Kakashi, Sasuke, Sakura, Orochimaru, Karin, Suigetsu dan shinobi konoha yang ikut menyaksikan itu mendekat kearah 2 mantan hokage yang kini berdiri berhadapan.
"Minato, apa yang terjadi?." Tsunade Harap-harap cemas menantikan jawaban yang ia harap itu bukanlah jawaban yang menyakitkan. Tapi sayang nya, jawaban nya adalah...
"Satu-satu nya jalan untuk membawa Naruto kembali telah...-Dirusak."
keputusaan datang melanda hati mereka yang berharap... Harapan itu seakan sirna mendapati fakta bahwa jalan yang harus nya berakhir bahagia kini berujung sia-sia.
Mereka yang mendengar ucapan minato hanya mampu diam tak bisa berkata apa-apa.
"Shinobi Konoha yang ku kenal bukanlah hanya pecundang! Masih ada jalan untuk bisa membawa kembali Naruto-kun. Apa pun itu, aku akan mencari nya! Aku tak akan menyia-nyiakan semangat Naruto-kun! Aku tak akan menarik kata-kata ku, karena itu adalah jalan ninja-ku, jalan NINJA KONOHA!." Hinata berteriak seakan tak terima jika orang-orang mulai putus asa dengan hilang nya jalan untuk mencari Naruto.
DEG
.
"Hi-hinata kau..."
"Hinata-san..."
"Hinata-chan..."
Ya, Hyuuga Hinata tahu ini masih belum berakhir. Ia yakin, masih ada cara untuk bisa membawa Kembali sang cahaya hatinya. Ia tak akan melupakan penyemangat hidupnya. Karena Naruto adalah Orang Yang Paling Berharga bagi hidup nya.
Karena Hinata tahu bahwa dirinya, sangat mencinta Uzumaki Naruto, Sampai kapan pun!.
to be continue
A/N ok, biar saya jelaskan sedikit... berhubung ini masih masuk tahap pengenalan terhadap chara naru pada chara Dxd, jadi Hunt buat alur nya sedikit lambatt, maaf jika up nya lama , hunt bukan anak sekolahan lg, hunt sibuk kerja, ya inilah hasil hunt sepulang kerja. bagus dan buruk nya hunt minta maaf sebesar-besar nya , dan hunt harap semoga kalian berkenan memberi respon dengan me-review fic ini... dan oh ya, saya juga masih dalam ppengenalan DxD , sampe saat ini hunt masih baca LN nya DxD..
saran, masukan, kritikan, dam apapun yg berbentuk respon terhadap fic ini , hunt terima dengan senang hati. ini juga demi kelangsungan fic ini...
ok , jaa matta atode readers-san...
Hunt out
