"Apa maksudmu menyuruh bocah labil itu jadi editorku?"
Omelannya disambut tawa dari pihak lain di telepon. Tawa yang tenang, namun Rivaille selalu merinding tiap mendengarnya, meski sudah lama ia mengenal pria itu.
"Dengar... " Levi memijit pelipisnya. "Dari lagaknya saja sudah terlihat kalau dia membosankan, lebih parah dari Oruo. Terlebih dia tidak terlihat seperti editor yang berpengalaman. Aku tidak keberatan untuk menggunakanya sebagai mainan, tapi editor itu urusan lain," Rivaille berkata dengan nada sinis.
Tidak terpengaruh, Erwin membalas tenang. "Aneh sekali, berpengalaman atau tidak, semua itu tidak ada bedanya bagimu. Mengingat perangai burukmu itu."
Alis Rivaille mengerut kesal. Ia sangat yakin Erwin sedang mengejeknya sekarang.
"Bukankah kau tak keberatan dengan hal itu? Apa pikiranmu jadi labil seperti nenek-nenek sampai merubah keputusan tiba-tiba?"
"Sesukamu ingin menganggapnya bagaimana. Nanti kau akan mengerti apa maksudku. Sampai nanti, Levi."
"Oi! Tunggu, Erwin!" Terlambat, Erwin sudah menutup sambungannya. Rivaille mendecih. "Si alis sialan itu… "
.
.
.
Shingeki no Kyojin belongs to Hajime Isayama, Author take no profit.
[WARNING]
AU, Lemon gajadi, T++ (dipastikan naik rating ( ͡ ͦ ͜ʖ ͡ ͦ )), Cerita gajelas, Author newbie, Nulis ngasal, Chara labil, Gaya menulis juga labil, Mungkin (semoga enggak) OOC, Garing, Typo, Tidak sesuai EYD, dsb.
Sekedar info, bagi yang gak bisa buka FFn lagi karena Ipo-chan dan kawan2 merusuh, FF ini bisa juga dibuka di Wattpad dengan judul yg sama.
.
.
.
Eren memelototi komputernya dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
Connie yang sedang kebetulan lewat, mengernyit heran. "Eren, kenapa melihat komputermu seperti itu? Rusak ya? Apa perlu kupanggil Reiner untuk memeriksanya?"
Sunyi. Tidak ada jawaban. Hanya aura gelap yang menguar dari tubuh pemuda bersurai coklat itu.
Historia menahan Connie sesaat sebelum ia melayangkan protes ke Eren karena main tebar kacang. "Biarkan saja, dia sudah begitu sejak 20 menit yang lalu."
"Me-memangnya dia sedang apa?"
"Menunggu kiriman e-mail naskah Rivaille."
Disambut 'oh' panjang, pemuda berkepala plontos itu sontak mundur teratur. Tidak mau menggangu lebih jauh. Saat ini rekannya tidak dalam keadaan bisa diajak mengobrol.
Tidak lama setelah Connie meninggalkan Eren, ia mendapat notifikasi dari inbox Gmail-nya. Tepat jam 11.00, tidak kurang, tidak lebih, naskahnnya datang. Dengan seribu macam kecemasan Eren segera membacanya.
Tiap paragraf, tiap kalimat, tiap kata ia baca dengan seksama, sampai akhirnya membawanya pada kata terakhir.
Ia diam sejenak. Dengan mata yang masih terpaku menatap kalimat terakhir dari naskah itu. Ia menyadari sesuatu setelah membacanya. Ia menyadari sesuatu yang sama sekali tidak pernah terpikir olehnya selama ini, membuatnya merasa harus menemui Rivaille. Segera.
Tanpa ragu ia menyambar ponselnya dari meja. Menelpon kontak Rivaille yang ia dapat dari Hange-san; karena ia dengan bodohnya lupa bertukar kontak dengan penulis itu sebelumnya.
Nada sambung terdengar, Eren dengan sabar (atau tidak sabar) menunggu sampai ada seseorang mengangkat teleponnya. Namun yang ia dengar hanya suara mbak-mbak operator dengan kalimat khasnya, menandakan Rivaille tidak mengangkat telepon.
Namun didikan keluarga Jaeger membuatnya menjadi anak yang tidak mudah menyerah; (baca: keras kepala), Ia menghubungi kontak Rivaille lagi. Tapi naas, yang ia peroleh tetap sama. Begitu juga dengan usahanya yang ketiga kali, keempat kali, maupun akhirnya kesepuluh kali.
Usaha terakhir yang terpikir olehnya, meski enggan ia akan meminta bantuan Hange lagi. Ia menghamiri Hange yang sedang asyik berkutat dengan komputer di mejanya sambil melahap ramen instan.
"Maaf Hange-san, apa kau punya nomor Rivaille selain yang ini?"
Hange berhenti menyeruput ramen selama beberapa saat.
"Kalau boleh tau, apa yang membuatmu memintanya?" Kecemasan tergambar jelas di suaranya.
"Ehm… entah kenapa Rivaille tidak bisa dihubungi jadi-"
Kalimat Eren terputus saat melihat Hange yang tiba-tiba mengacak-acak rambutnya sendiri. Ia mengerang sambil memegangi dahinya. "Arghhh… si Rivaille itu, sudah kubilang jangan begitu sama editor baru, masih saja…"
"Ah, maaf Eren… " Sadar sudah membuat si Editor baru itu bingung, Hange buru-buru menjelaskan,"Ini semua salahku karena tidak memberi tahumu sebelumnya tapi… "
"…sebenarnya Rivaile terbisa tidak merevisi naskahnya. Kami tidak akan heran kalau Rivaille tidak bisa dihubungi setelah menyerahkan naskah," sambungnya.
Eren agak terkaget. Lalu memasang wajah bingung. "Bukanya hal seperti itu sangat… tidak profesional?" Tanyanya heran.
"Iya kan?!" tiba-tiba Hange bangkit dari kursinya heboh. "Sepertinya dia mempunyai kesepakatan aneh dengan Erwin, tapi tetap saja. Aku sudah menyuruhnya jangan terlalu keras pada editor baru sepertimu, tapi sepertinya dia tidak mau dengar."
Eren tiba-tiba merasa kesal. Menurutnya Hange bicara seolah ia tidak mampu menangani Rivaille. Rasa kesalnya menambah keyakinannya untuk menemui Rivaille. Dan ide brilian muncul begitu saja di kepalanya.
"Ano, Hange-san… "
.
.
.
Eren mengutuki dalam hati Rivaille karena tinggal di alamat yang sangat susah dicari.
Peluh membanjiri seluruh tubuhnya. Baju yang tadinya beraroma detergen segar kini berbau asap polusi. Butuh tiga kali ganti kereta dan satu kali naik bus agar bisa sampai ke tempat ini. Belum lagi daerahnya yang masuk ke pelosok pertokoan yang tersembunyi membuat Eren harus tanya alamat sana-sini pada orang-orang setempat.
Eren masuk ke apartemen itu. Menurut alamat yang diberi Hange, orang itu tinggal di kamar nomor 37. Ia mengetuk pintu kamar yang dimaksud.
Pintu itu bergeming untuk saat yang lama.
Eren mengeluarkan ponselnya, ingin mencoba menelpon sekali lagi. Namun tidak lama setelah itu terdengar suara langkah kaki mendekat dari balik pintu. Pintu dibuka lalu nampaklah sesosok lelaki dengan tinggi badan dibawah rata-rata. Ia mengenakan kaus lengan panjang hitam polos dan celana training. Windex dan kain lap ditangan.
Rivaille menurunkan masker yang menutupi wajahnya."Heh, rupanya bocah fap-fap," ucapnya datar.
Ia sontak menyerukan protes tak terima, "Namaku Eren Jaeger!"
"Terserah, kau kesini untuk meneruskan percakapan kita yang terputus kemarin di ranjangku?"
Kali ini Eren tidak terpengaruh pelecehan Rivaille dan langsung mengutarakan niatnya. "Aku datang untuk mendiskusikan revisi naskah," ucapnya tegas.
Rivaille memandang Eren lama. Ia menghela nafas. "Dengar bocah… mungkin kau sudah tahu, tapi aku punya kesepakan dengan si alis itu. Aku tidak akan mengubah naskahku begitu diserahkan."
Eren yakin yang dimaksud 'alis' itu pasti Erwin-san. Tapi ia tidak menyerah.
"Tolong biarkan aku mendiskusikan naskah ini," ucapnya dengan nada bicaranya yang sama sekali tidak seperti orang minta tolong.
"Tidak."
"Kumohon."
"Jawabanku tidak berubah."
Selaras dengan sikap dinginya, Rivaille segera menutup pintu tanpa belas kasihan. Namun Eren lebih cepat. Ia buru-buru menyelipkan kakinya di celah pintu sebelum tertutup.
"Bocah, apa yang kau-!"
Eren berhasil menerobos masuk ke apartemen Levi. Terlalu heboh, ia malah menabrak tubuh yang ada di depannya hingga mereka berdua terjatuh. Dan Seketika Eren menyadari kalau tubuhnya menindih lelaki itu. Ia bisa merasakan lekuk-lekuk otot perut terlatih sempurna milik Rivaille di tangannya.
"Singkirkan tubuh baumu itu dariku," geram Rivaille dengan nada mencekam.
"Ma-maaf!" Cepat-cepat Eren bangkit berdiri.
Dengan segera Rivaille juga berdiri. Ia menepuk-nepuk bajunya seolah sedang menyingkirkan segala jenis bakteri dari sana. Ia lalu mendecih. "Kau… berusaha menggodaku ya?"
"Apa maksudmu?" Tanya Eren dengan kepolosan yang tidak dibuat-buat.
"Sudahlah," Rivaille memalingkan wajahnya. "Pokoknya kau pulang saja sana, sebelum aku menendang bokongmu keluar." Ia mendelik tajam ke arah Eren lewat sudut matanya.
"Aku tidak akan pergi sebelum kita membahas naskah anda terlebih dahulu." Ia berkata dengan penuh kesungguhan. Rivaille diam. Memperhatikan dua manik emerald yang terbakar oleh ambisi. Sesuatu yang tidak dimilikinya.
"Jadi ini maksud si sialan itu… " desah Rivaille dengan suara sangat pelan. Mendecih untuk kedua kalinya, sebelum ia berpaling dan berjalan."Terserah kau saja."
Eren langsung mengartikannya sebagai pengiyaan dan sontak mengikutinya dengan wajah berseri. Gestur tangan Rivaille menyuruhnya duduk di sofa berwarna navy blue. Ia meletakkan ponsel yang sedari tadi digengamnya di meja.
Sementara si tuan rumah berkutat di konter dapur, Eren gatal ingin menanyakan pertanyaan yang sedari tadi berada di pikirannya. "Kenapa tadi kau tidak bisa dihubungi?"
"Aku sedang bersih-bersih, Jadi kumatikan ponselku," Ia menjawab acuh tak acuh. Tangannya sibuk mengaduk cairan di dalam gelas.
Bersih-bersih. Sesakral itukah bersih-bersih baginya hingga mematikan ponselnya? Setelah meneliti apartemen Rivaille, Eren langsung mendapat jawaban tanpa perlu bertanya. Ini mungkin apartemen paling bersih yang pernah dilihat Eren seumur hidupnya. Dari penampilannya tadi saat membuka pintu, dapat disimpulkan kalau dia bahkan belum selesai bersih-bersih. Eren sulit mempercayainya.
Tidak lama kemudian Rivaille datang membawa dua gelas berisi teh dan meletakkannya di meja. Rivaille langsung duduk di sofa seberang Eren.
"Lalu, apa yang ingin kau bicarakan?" Ia bertanya sambil menyeruput teh. Eren segera menyadari pria ini memiliki cara yang unik saat memegang gelas.
"Langsung saja Rivaille-san, aku-"
Rivaille memotong, "Panggil aku Levi. Rivaille itu nama penaku."
"Baiklah Levi-san, langsung pada intinya saja," Eren menegakkan posisi duduknya. Menatap Levi. "Aku menyadari ada beberapa keanehan diceritamu, dan aku merasa perlu membicarakannya denganmu."
"Seperti?" Levi menaikkan sebelah alisnya.
Eren memberikan seulas senyum tipis yang canggung. Bola matanya mengerling tak fokus. "Sebelum itu, jujur saja. Aku menyesal tidak membaca karyamu lebih cepat… "
Levi menyeruput tehnya sambil memperhatikan.
"Ceritamu sungguh menarik!" Lanjut Eren semangat. "Baru kali ini membaca cerita dengan ide yang sangat fresh, tidak terpikirkan olehku cerita dengan latar yang begitu menarik. Terlihat jelas kalau kau memiliki pandangan unik tentang dunia ini. Tapi... bagaimana caraku mengucapkannya ya… " Suaranya yang tadinya penuh semangat mendadak diselimuti keraguan di kalimat terakhir.
"Bicaralah bocah. Editor macam apa yang tidak bisa menyampaikan maksud pemikirannya?" Tatapan Levi jelas-jelas merendahkan. Eren mengerang dalam hati, sebal. Tapi karena memang sesuai dengan fakta, ia tidak bisa membantah.
"Maksudku, rasanya ada yang aneh dengan hubungan antar karakter, seperti… Entahlah, rasanya terlalu datar dan tidak realistis. Seperti kalau misalnya Gregor sedang bersama dengan teman wanitanya. Wanita tidak akan bereaksi seperti itu jika diperlakukan begini…"
Eren jelas tidak yakin apa Levi menangkap maksud penjelasannya yang terlalu asal itu. Dan benar saja, wajah Levi mengernyit. Menandakan kalau ia sama sekali tidak paham dengan apa yang diocehkan bocah ini.
Levi menghela nafas, dengan suara cukup keras. "Dengar bocah… " Levi memijit pelipisnya penuh iritasi. Kerut-kerut di wajahnya nampak bertambah.
"Aku tidak tahu kenapa Erwin 'mengutusmu' menjadi editorku tapi kau sama sekali tidak punya kemampuan sebagai editor. Menjelaskan pemikiranmu pada penulis saja kau tidak bisa. Aku sudah bertemu banyak editor hingga saat ini, dari yang sudah berpengalaman sampai yang sangat tidak bermutu. Dan tidak ada satupun dari mereka yang bisa mengesankanku hingga saat ini. Dan kau, kau yang terburuk dari semuanya. Entah otak si alis sial itu sudah menciut seperti milik Hange atau apa."
Eren meremas fabrik celana jeansnya. "I… itu… " ucapnya penuh rasa tidak terima. Tapi entah kenapa ia tidak bisa melawan sama sekali.
Levi menaikkan wajahnya angkuh. Melihat Eren dengan tatapan merendahkan. "Yah… kalau kau bisa menjelaskannya dengan baikpun tidak akan mempengaruhi keputusanku. Aku tidak akan mengubah naskahku begitu diserahkan," Levi berucap dengan penekanan pada kalimat terakhir.
"Kenapa begitu?"
"Bukan urusanmu." Levi membalas dingin. Tanpa melihat Eren sedikitpun. Ia meneguk tehnya lagi. "Kau pikir aku tidak tahu orang macam apa kau ini?"
Alis Eren mengerut. "Apa maksudmu?"
"Kau itu, sebenarnya bahkan tidak mengerti tentang apa yang kau ocehkan sendiri. Kau hanya berusaha mencari-cari kesalahan dalam ceritaku. Kau cuma bocah labil amatiran yang mau menunjukan kalau dirinya hebat dengan mengkritik penulis populer agar dirinya terlihat pintar. Kau bahkan tidak ada bedanya dengan orang-orang bodoh itu."
"Itu tidak benar!"
"Begitukah? Mentalmu itu seperti bocah SMP yang merasa kalau dirinya itu orang paling benar di dunia padahal mereka sendiri tidak mengerti apa yang mereka debatkan. Bocah yang haus perhatian dan pengakuan, menggelikan."
"Kalau begitu anda sendiri apa?"
Levi terdiam selama beberapa saat, sebelum melontarkan pandangan penuh iritasi terhadap sosok dihadapannya.
"Kau sendiri, hanya penulis egois yang tidak mau meneriman kritik dari orang lain."
Eren takut, ia tidak bohong.
Ketakutan itu bertambah saat melihat tatapan menbunuh Levi yang jelas-jelas ditujukan padanya. Namun entah kenapa mulutnya tidak bisa berhenti melontarkan kata-kata. "Kau tidak bisa memaksa editor untuk melakukan apapun yang kau mau. Kalau begitu, apa gunanya keberadaan kami? Kau tidak bisa memperlakukan kami seenaknya!"
"Bocah… tahu apa kau?" Nada bicara Levi jelas-jelas menunjukkan keberatan.
.
.
.
1 jam setelah kepergian Eren ke apartemen Levi, senyum lebar masih menghiasi wajah Hange. Orang-orang di sekitarnya makin menganggapnya sinting.
"Hange, apa ada sesuatu yang baik terjadi?" Suara lembut seorang wanita mengabil alih perhatian Hange. Yang ditanya hanya senyum-senyum melihat wanita berambut jahe dengan potongan sebahu itu.
"Jauh lebih baik dari dugaanmu Petra! Akhirnya kita bisa membuat si penulis keras kepala itu mendapat pelajaran sedikit!" Serunya girang dengan penuh kepuasan.
Petra langsung mengerti siapa yang dimaksud 'penulis keras kepala itu', namun bukan itu yang membuatnya terkejut. Ia langsung teringat pada sosok Eren yang tidak membalas sapaan nya saat ia berlari keluar kantor seperti orang kesetanan beberapa saat lalu.
"Hange, kau tidak tahu…?!" Pekik Petra cemas. "…hari ini akan ada badai besar!"
.
.
.
"Tidak ada yang salah dengan ceritaku. Sejak pertama kali aku menyerahkan naskahku, tidak ada yang merasa keberatan. Hanya kau orang bodoh yang berpikir begitu. Dan jangan pikir aku akan mau menuruti kau yang bodoh itu. Kalau aku mau, aku bisa merubahnya sesukaku, dan hanya aku yang bisa memutuskannya."
"Kenapa anda begitu keras kepala? Jika aku bisa menjabarkan dengan benar kekurangan-kekurangan di ceritamu harusnya kau mau merevisi naskahmu. Kalau begini apa gunaku menjadi editormu?"
"Untuk menjadi perantara untuk menyerahkan naskahku kepada penerbit hingga siap cetak. Apa sudah jelas?"
"Kau tidak bisa seperti itu…"
Zamrud dan jelaga beradu, seperti ada visualisasi imajinatif percikan api diantaranya. Sengit. Suasana berubah mencekam. Bagaikan batu yang beradu dengan batu, tidak ada yang berniat mengalah sedikitpun.
"Pulang dan bersihkan bokongmu sana bocah," titah Levi mengintimidasi penuh kekesalan.
"Setidaknya dengarkan aku dulu."
"Dengar apa? Bocah yang merengek mengadu kakinya yang keseleo karena mengejar layangan pada ibunya? Bicara saja tidak jelas."
"Makanya biarkan aku berpikir sebentar!"
"Pulanglah. Jangan membuat aku kesal."
"Tidak akan."
Eren merasakan ada tangan yang menarik kerah bajunya. Levi menarik Eren ke arahnya. Ia menatap Eren marah. Meja kopi menjadi pembatas mereka berdua.
"Daripada mendengar ocehanmu yang tidak jelas dasarnya, aku lebih menginginkan tubuhmu."
Dan seketika itu terjadi. Sesuatu yang lembut menyetuh bibir Eren. Bibir mereka saling bertaut. Menyadari apa yang terjadi, refleks Eren berusaha melepaskan diri.
Ia mencengkram bahu Levi, mendrongnya sekuat tenaga. Namun tenaga pria itu lebih besar. Eren tak berdaya dihadapannya. Levi memasukkan lidahnya pada mulut Eren yang terbuka.
Lidahnya mengabsen setiap inci bagian mulut Eren. Eren merasakan sensasi aneh menggelitik di perutnya, yang entah kenapa terasa begitu memabukkan. Tungkai kaki Eren melemas, kesempatan itu dipakai Levi untuk mendrongnya ke sofa.
Levi melepaskan ciuman panasnya. Seuntai benang saliva terjalin dari bibir keduanya. Eren yang sedari tadi merasa sesak, menghirup oksigen dengan rakus. Bibir Levi berpindah ke bagian bawah rahang Eren. Lidah kasarnya menyapu bagian itu.
"Hhhh… Lepas!" Eren memerintah setengah berteriak dengan napas terengah-engah. Matanya sedikit sayu, dengan wajah merah dan liur yang mengalir sedikit dari mulut. Tidak menyerah, ia mendorong dan menendang Levi sekuat yang ia bisa. Namun sia-sia, Levi tak bergeming.
Eren yang memberontak malah membuatnya semakin bergairah. Levi memperkuat kuncian tangannya pada Eren. Lidahnya turun ke tulang belikat, lalu bahu.
"Ahh-!" Tanpa sadar Eren mendesah. Levi menggigit bahu Eren.
Eren menjerit kesakitan. Titik-titik darah bermunculan dari gigitannya. Dihisapnya dengan rakus, sampai menimbulkan bunyi yang cukup keras. Levi sukses memberi tanda pada kulit kecoklatan Eren.
Tidak cukup sampai disitu, Levi membuat beberapa tanda lagi di tempat yang berbeda. Desahan Eren yang entah sadar atau tidak sadar turut menyertai hisapan Levi. Jari-jari panjangnya menelusuri tubuh Eren hingga ia menyingkap sedikit kaus Eren yang berbau asap. Telapaknya meraba perut Eren sedikit, membuat pemuda itu menggeliat geli.
Kuku levi menelusuri pinggiran celana jeans Eren. Sampai akhirnya ia memasukkan tanganya ke balik celana. Eren tersentak kaget, menyadari Levi mulai mencoba menginvasi 'areal pribadinya'.
"J-jangan… " desah Eren yang sudah kehabisan tenaga. Namun Levi kembali membungkam Eren dengan ciuman. Ia menjilat bibir Eren sebelum kembali memasukan lidahnya. Sementara tanganya mulai meraba sesuatu di bawah sana yang sudah setengah keras itu.
"Akh!" Tubuh Eren tersentak, hingga punggungnya melengkung. Tangan Levi memijit atas bawah bagian itu yang masih terbungkus celana dalam, hingga akhirnya benda itu mulai terasa basah. Eren terus mendesah di sela-sela ciumannya, lalu Levi menciumnya lagi, terus berulang. Eren sudah tak memberontak lagi dan Levi terus menciumnya sambil memainkan tanganya dibawah.
Dan kini Eren ikut memainkan lidah dalam ciumannya. Dan Entah sejak kapan tangan Eren bergelayut di leher Levi, seolah memintanya untuk mencium lebih dalam.
Kedua lelaki itu sudah tidak berada di dunia ini. Mereka seolah berada di dunia lain, dimana hanya mereka berduayang ada di situ. Logika digantikan oleh hasrat. Terus menyentuh satu sama lain demi memuaskan sesuatu dalam diri.
Levi merasakan miliknya mulai mengeras. Ia mengeluarkan tangannya dari situ dan berniat membuka resleting celana Eren. Jemari Levi menurunkan resleting Eren sampai kebawah.
Namun suara asing yang datang entah dari mana menyadarkan mereka dari mimpi.
Eren yang mendapatkan kesadaranya kembali langsung mendorong Levi sampai pria itu nyaris terjungkal lalu cepat-cepat turun dari sofa seperti orang kesetanan.
Levi yang nyaris terjatuh langsung menyadari kalau suara terkutuk itu adalah dering telepon yang berasal entah dari mana.
"Oi, kau-!" Levi yang hendak mengamuk karena diusik ditengah 'kegiatannya' langsung menoleh ke arah Eren. Namun pemandangan yang dilihatnya membuat nafasnya tercekat.
Eren yang berdiri tidak jauh dari situ, menatap Levi dengan air mata mengalir tanpa henti dari sudut matanya. Menutupi wajahnya yang merah padam dengan punggung tangan sambil sesenggukan.
Levi hanya bisa memandang dengan mata membulat. Rasanya ia ingin melakukan sesuatu agar Eren tidak menangis lagi, namun lidahnya kelu dan tubuhnya kaku. Eren langsung menyambar tasnya lalu berlari keluar dari apartemen itu. Levi masih terpaku di tempatnya.
Ia tidak mengejar Eren. Ia merasa tidak berhak untuk itu. Dan sekarang, Levi sadar betapa ia bertingkah seperti bajingan. Mencoba memperkosa seseorang hanya karena emosinya sendiri.
Levi membetulkan posisinya di sofa. Ia ingin mendinginkan kepalanya sesaat dan berpikir.
Setelah merasa dirinya sudah lebih tenang, Levi bangkit dan membereskan gelas-gelas teh yang baru diminum sedikit. Levi memperhatikan gelas milik Eren yang sama sekali tak tersentuh. Tidak berlama-lama, ia membawa kedua gelas itu ke wastafel dan berniat mencucinya. Namun lagi-lagi dering berisik telepon menggangu kegiatannya.
Setengah kesal ia mengabil ponselnya dan menjawab telepon dengan tidak bersahabat. Namun air wajahnya langsung berubah begitu mendengar apa yang dikabarkan Hange.
.
.
.
Lari. Lari. Lari.
Hanya kata itu yang ada di kepala Eren sekarang. Ia terus berlari tak tentu arah. Kemanapun kakinya akan membawanya, ia tidak peduli. Sempat Eren nyaris tertabrak mobil sewaktu menyebrang jalan dan menabrak beberapa pejalan kaki yang langsung mengatainya dungu dan semacamnya.
Sampai setetes air jatuh mengenai wajahnya, memperlambat larinya. Tetes-tetes air mulai jatuh satu persatu dari langit, hingga akhirnya turun sangat deras. Eren yang teringat akan keberadaan laptop di tasnya langsung mencari tempat terdekat untuk berteduh. Ia menemukan deretan gedung pertokoan tak terpakai di sana.
Dengan cuek Eren menyandarkan punggunya pada tembok toko yang kotor. Ia langsung merasakan lututnya yang gemetar dan mulai mati rasa akibat terlalu banyak berlari. Membuatnya merosot terduduk. Nafasnya memburu dan peluh membanjiri tubuhnya.
Eren masih tidak bisa mempercayai apa yang baru saja terjadi. Semuanya terlalu cepat, terlalu tiba-tiba. Nyaris diperkosa oleh penulisnya sendiri. Semuanya terlalu sulit dipercaya.
Tanpa disadari otaknya memutar ulang kejadian yang baru dialaminya tadi. Aroma tubuh pria itu, cengkramanya yang diluar dugaan sangat kuat, suaranya, ciumannya.
Eren menonjok wajahnya sendiri, yang lalu disambut nyeri di pipinya. Bagaimana bisa ia memikirkan hal-hal tentang pria itu saat ini; pria yang sudah mencoba memperkosanya. Dan bisa-bisanya ia terbawa arus pria itu. Lalu ia malah lari seperti pengecut dan melupakan tujuan awalnya.
Eren malu pada dirinya sendiri. Ia merasa dirinya sangat menyedihkan. Ia bahkan tidak tahu sedang berada di mana.
Eren merogoh sakunya, berniat setidaknya mengabari Armin soal keadaannya. Namun benda yang dicarinya tidak ada. Eren sontak keringat dingin. Ia teringat kalau ia meletakkan ponselnya di meja apartemen Levi dan lupa membawanya. Ia juga teringat kalau dering ponsel yang 'menyadarkannya kembali ke dunia nyata' adalah suara ponselnya sendiri.
Eren mulai megutuki dirinya sendiri saat itu juga.
Ia meringkuk di pojok dinding toko yang kotor itu. Ia mendecih saat merasakan bagian bawahnya yang masih berdenyut akibat 'urusan yang tidak tuntas' itu. Entah sejak kapan, sepertinya hujan deras sudah berubah menjadi badai. Cipratan air hujan yang jatuh ke tanah mengenai Eren.
Ia tidak peduli namun tubuhnya berkata lain dengan ia yang mulai menggigil karena hembusan angin badai yang tidak kira-kira. Udara dingin membuatnya mengantuk. Perlahan, kelopak matanya menutup.
Namun suatu guncangan di pundak membangunkannya.
"Bocah, kau sudah bosan hidup rupanya, hah!? Kalau kau tidur, kau bisa mati kedinginan!" Seru sesosok pria bertubuh pendek itu. Ia membawa payung, namun badannya setengah basah. Masih dengan pakaian yang sama, berdiri di hadapan Eren.
"Le-Levi-san?" Eren hanya bisa bengong menatap sosok dihadapannya. Tanpa basa-basi Levi segera melingkarkan mantel hangat ketubuhnya. Eren diseret masuk kedalam mobil sedan hitam yang diparkir di depan toko sebelum otaknya sempat mencerna apa yang sebenarnya terjadi.
Begitu masuk, udara hangat dari pemanas menyambutnya. Levi yang juga sudah berada di dalam mobil menghela nafas sambil melipat payung. Ia mendecih saat melihat tetesan air dari payung jatuh mengotori mobilnya.
Eren tidak percaya, Levi bisa menyetir dalam cuaca seburuk ini hanya untuk menjemputnya. Bagaimana jalannya bisa terlihat? Dan bagaimana pula ia bisa menemukan dirinya di toko bobrok ini?
Eren menunduk sambil mencengkram celana jeansnya. "Terima kasih…" ucap Eren dengan suara serak, yang lebih terdengar seperti bisikan karena suaranya yang begitu kecil.
Ada hening sedetik sebelum Levi membalas. "Iya," lalu Levi mulai menjalankan mobilnya kembali ke apartemen.
Selama perjalanan mereka tidak berbicara sepatah kata pun.
.
.
.
Levi sedang merogoh kantung celananya untuk mengambil kunci. Sementara Eren hanya diam memperhatikan dibelakangnya. Mau tak mau, Eren harus berada di apartemen Levi sampai badai reda, karena rumahnya cukup jauh dari sini.
Semua kendaraan umum berhenti beroperasi akibat badai buruk ini. Terlalu beresiko untuk Levi mengantarnya ke rumah yang jauh itu. Dan kemungkinan besar, badai baru akan reda besok pagi. Jadi ia harus menginap.
Levi masuk ke apartemen, Eren mengekor di belakang dengan canggung. Tanpa basa-basi Levi langsung berkata, "Mandi dan ganti baju sana, kalau kau tidak mau masuk angin."
Buru-buru Eren menolak. "Eh, ti-tidak usah, nanti baju ini juga kering sendiri kok." Yang langsung disambut delikan tajam dari Levi; yang jelas-jelas memerintahkannya untuk tidak membantah. Dorongan aneh membuat Eren langsung tunduk dan menuruti tanpa banyak protes.
Eren menaruh tasnya yang agak basah di tempat yang diperintahkan dan masuk kamar mandi.
Sesuai dugaan, kamar mandinya sangat bagus dan bersih. Warna putih mendominasi dengan sedikit aksen abu-abu. Tercium aroma citrus segar dari pengharum ruangan otomatis. Terdapat bath tube besar lengkap beserta shower dengan air panas dan dingin.
Eren melepas pakaiannya yang basah dan berbau asap ke keranjang baju kotor. Ia menyalakan shower dan membasuh diri. Air dingin yang tadi dirasakannya di luar kini berganti menjadi air hangat dari shower yang menenangkan.
Eren mengambil sabun beraroma maskulin milik Levi dan membalurkannya ke seluruh tubuh hingga berbusa. Setelah itu ia juga keramas menggunakan shampo yang tersedia.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari pintu.
"Y-ya?" Jawab Eren, memperbolehkan orang itu untuk membuka pintu. Sekat kaca buram di samping bath tube membuatnya hanya terlihat siluet dari luar, jadi ia tidak perlu takut tubuh polosnya terlihat.
Pintu terbuka dan Levi nampak membawa beberapa setel baju bersih dan sikat gigi. "Ini baju ganti dan sikat gigi baru untukmu. Baju ini bukan milikku, dan kupastikan ukurannya pas untukkmu." Ia meletakkan barang-barang itu di pinggir wastafel.
"Terima kasih."
"Ah, dan juga… " Levi kemudian melanjutkan, "…Ini celana dalam. Masih baru." Dengan wajah datar ia meletakkan celana dalam yang masih terbungkus plastik kemasan. Setelah bicara begitu akhirnya Levi keluar.
Eren meyakinkan dirinya kalau tidak ada maksud lain dari tindakan Levi tadi. Tapi tetap saja ia merasa malu luar biasa. Dan benar ia membutuhkan celana dalam karena celana dalamnya yang sebelumnya sudah 'kotor'. Cepat-cepat Eren menyelesaikan mandinya dan berpakaian.
Kemeja dan celana katun yang disediakan Levi memang benar pas ditubuhnya. Entah milik siapa pakaian itu, Eren tidak mau memikirkannya. Keluar dari kamar mandi ia disambut Levi di meja makan, dengan sepiring makan malam dan segelas teh yang masih hangat.
"Makanlah," ucap Levi, tidak dengan nada ramah, namun tidak kasar pula.
Tidak enak hati menolak niat baik Levi, Eren duduk di kursi seberangnya. "Terima kasih atas makanannya," ucap Eren singkat seraya mengatupkan tangan sebelum menyuapkan potongan daging dan kentang ke mulutnya.
Alih-alih membuka pembicaraan, Eren lebih memilih memikirkan betapa aneh sikap Levi saat ini. Sifatnya jadi berubah 180° dari tadi siang. Dia bahkan sampai repot-repot menyiapkan makan malam. Sepertinya Levi itu orang yang lebih aneh dari dugaannya.
Mereka berdua makan dalam diam. Hanya suara dentingan garpu yang sesekali terdengar.
Selesai makan, Eren menawarkan diri untuk bantu mencuci piring. Levi tidak menolak. Setelah selesai beres-beres, Levi langsung menuju meja kerjanya dan menyalakan laptop. Sepertinya ia bekerja. Sementara Eren yang tidak tahu harus apa, celingak-celinguk sebelum memutuskan akan bekerja juga. Dengan enggan ia duduk di sofa tempat terjadinya peristiwa terkutuk itu.
Kakinya tak sengaja menyentuh benda yang tak asing baginya. Ponselnya tergeletak dibawah sofa. Beberapa miss call dan sms dari Armin dan Hange-san, ia lalu menemukan orang yang menelponnya saat itu adalah Mikasa.
Eren langsung mengabari Armin dan Hange lewat sms bahwa ia baik-baik saja dan berada di apartemen Levi. Sementara Mikasa, diabaikannya. Eren mengeluarkan laptop dari tasnya dan bekerja.
Suasana berlangsung canggung, dengan kedua pihak yang sibuk dengan urusannya masing-masing. Tidak ada yang nampak berniat membuka pembicaraan. Eren terlalu takut, sementara Levi terlihat terlalu fokus pada pekerjaannya.
Sampai jam menunjukkan pukul 11 malam, Eren mematikan laptopnya dan izin tidur ke Levi. Levi menjawab dengan dehaman.
.
.
.
Perlahan kelopak mata yang melapisi dua manik hijau itu membuka. Belum sepenuhnya sadar ia mengerang sebentar dan memiringkan kepalanya ke samping. Fabrik lembut dari sarung bantal langsung membelai pipinya. Selimut hangat yang membalut tubuh dan matras empuk dibawahnya jelas-jelas menandakan dirinya tidak sedang berada di sofa.
Aneh sekali. Seingatnya ia tidur si sofa laknat itu semalam.
Ia segera merubah posisinya menjadi duduk.
Matanya menelusuri ruangan kamar yang tidak dikenalnya itu. Rapi dan minim perabotan. Eren langsung menduga ini kamar milik Levi. Ia meraba bagian bokongnya. Tidak sakit. Pakaiannya juga masih lengkap dan sama seperti kemarin, begitu juga celana dalamnya.
Eren beranjak dari kasur dan pergi ke luar kamar itu. Ia segera menghampiri sofa navy blue yang terletak tidak jauh dari pintu kamar. Benar saja, terdapat Levi sedang tidur dibalut selimut tipis disitu.
Sepertinya entah mengapa Levi memindahkan dirinya ke kasur saat ia tidur. Matanya terpaku memperhatikan kelopak mata Levi yang tertutup.
Sedikit kerutan di sekitar matanya memberikan kesan dewasa alih-alih tua. Wajah yang biasanya selalu menunjukan iritasi seolah tidak ada satupun hidupnya yang disirami kebahagiaan, sekarang menampakkan sesuatu yang sama sekali lain.
Matanya beranjak dari Levi. Berpaling dan mengemasi barang-barangnya. Mengenakan pakaiannya yang baru selesai dicuci. Tidak lupa ia meninggalkan secarik catatan di meja makan, lalu pergi.
.
.
.
TBC (TUBERCOLOSIS) /paan si
A/N:
WARNING: Author note bakal panjang (dan gapenting). Bagi manusia-manusia yang merasa kurang kerjaan, dipersilakan membaca ~'_')~
Wah apdetnya lama yah. /digebukin warga.
MAAFKAN SAIYA! *sujud* SERIUS, MAAP BANGET. ENTAH BERAPA ABAD INI FF GUE TELANTARKAN. JANGAN GEBUK SAYA, LEMPAR DOUJIN BOLEH /dibakar.
Ternyata aku emang bukan author yg bisa update cepet… Nulisnya mood-mood an, juga gara2 aku yg main asal nulis aja sebelum mikirin mateng-mateng konsep dan perkambangan ceritanya juga bikin aku kesusahan sendiri pas nulis chapter 2 ini, sumpah jangan ditiru ya gaes (T_T).
Selama liburan aku sama sekali gak bikin FF ini. Godaan WiFi unlimited terlalu dahsyat TvT). Baru mulai ngerjain pas liat komen di wattpad yang nanyain updetan *kabur*. Ditambah gw ngerjain ini pas udah masuk sekolah, jadi susah nyari2 waktu yg enak buat nulis.
Kedengeran kayak cari2 alasan ya? Maaf deh, tapi emang gitu keadaannya T∆T). Aku emang bukan contoh author yg baik, tapi diusahakan FF ini bakal terus apdet sampe selesai.
Karena itu sebagai gantinya di chapter ini (agak) lebih panjang dari sebelumnya. Dan juga saya kasih persembahan RiRen! YAAAYYY~ *tebar bunga*. Sumpah nulis adegan nganu itu lebih susah dari bayangan. Tapi di luar dugaan seru banget! Ampe sodara ketakutan liat mukaku pas lagi nulis.
Yaaah meski saiya masih baru buat begituan. Jadi maap kalo adegannya kurang nampol /eaak. Dan buat kalian (kali aja ada) yang ngamuk karena Eren gak jadi jebol, sabar dulu ya, Author pengen mulai pelan-pelan aja dulu, ntar suatu saat pasti jebol kok sama batang perkasanya abang Levi /eehh ( ͡ ͦ ͜ʖ ͡ ͦ ).
Biar kayak author2 lain, author juga mau bales-balesin review! w)/"
Segitu aja deh, hahahahah. Kalo ada yg pengen nanya2 jangan sungkan ya, hehehehehe
Buat kalian yg udah nge Fav, Follow dan meninggalkan jejak Review, Makasih banget lho! Author terharu dan gak nyangka ada yg sudi notis ni FF gaje, kirain gabakal ada yg suka. Dan para silent reader yg udah mau luangin waktu baca juga terima kasih banyak! (soalnya author juga suka nyider /dilempar bata). Semoga terhibur dan bahagia bacanya! Apalagi kalo ampe nyengir2 sendiri muahahhahahha.
KEEP READING RIREN GAYS. KIBARKAN BENDERA RIREN. RIREN 4 LIFE! ( ͡ ͦ ͜ʖ ͡ ͦ )9
