Suara benturan terdengar di penjuru ruangan. Tidak hanya satu, suara kaki yang menghantam serat polyster punch bag bersahut-sahutan. Orang-orang berbadan atletis, pria dan wanita, berlomba-lomba seolah ingin menghancurkan puch bag dihadapan dengan beragam teknik tendangan dan tinju. Perlombaan kick boxing internasional yang akan diadakan tidak lama lagi melatari kegiatan mereka.
Beberapa dari mereka beristirahat guna memulihkan stamina yang banyak terkuras. Ada yang makan, sekedar bercengkrama dengan teman dan sibuk dengan gadget masing-masing. Gadis bersurai hitam legam termasuk kelompok yang terakhir. Nafasnya masih menggebu tidak beraturan. Rambut sebahunya agak basah, handuk kecil dilingkarkan manis di leher, siap untuk menyeka keringat yang bergulir. Sementara ia kembali menempelkan ponsel di telinga.
Nada sambung terdengar. Lama ia menunggu, berharap agar nada sambung berganti menjadi suara seorang pemuda. Namun sayang, yang ia dengar adalah suara operator dengan kalimat khasnya, menandakan kalau panggilannya tidak dijawab. Entah tidak didengar. Atau dimatikan. Raut sedih jelas terukir di wajah orientalnya. Ini sudah yang keempat kali hari ini.
"Mikasa," gadis berambut kuncir kuda dengan mulut penuh terisi makanan mengambil alih perhatiannya. "Pelatih memanggilmu tuh."
Mikasa menyimpan kembali ponselnya. "Aku segera kesana."
.
.
.
Shingeki no Kyojin belongs to Hajime Isayama, Author take no profit.
[WARNING]
AU, Lemon gajadi, T++ (dipastikan naik rating ( ͡° ͜ʖ ͡°)), Cerita gajelas, Author newbie, Nulis ngasal, Chara labil, Gaya menulis juga labil, Mungkin (semoga enggak) OOC, Garing, Typo, Tidak sesuai EYD, dsb.
Sekedar info, bagi yang gak bisa buka FFn lagi karena Ipo-chan dan kawan2 merusuh, FF ini bisa juga dibuka di Wattpad dengan judul yg sama.
.
.
.
Eren menekan tombol reject pada panggilan di layar ponsel, ini sudah yang keempat kalinya hari ini.
"Aku pulang," ucap seorang pemuda berambut bob pirang. Armin menutup pintu apartemen kemudian. Sambil melepas sepatu dan kaus kaki ia melihat pemandangan: Eren terkapar di sofa, dengan baju yang masih sama saat terakhir kali ia melihatnya. Tas kerja tergeletak di samping sofa dengan indahnya, TV menayangkan channel Animal Planet.
Armin menghela nafas, Eren tertawa garing.
"Selamat datang…"
"Eren, kenapa belum ganti baju? Itu baju sejak kemarin kan? Sejak kau dari rumah Rivaille."
Sepulangnya dari rumah Rivaille tadi pagi, tanpa menghiraukan apapun ia langsung menghempaskan diri dengan manisnya diatas sofa. Kenapa adalah karena ia lelah. Sangat. Lelah. Terlalu banyak kejadian yang menimpanya kemarin. Yang ia inginkan hanya istirahat, berguling di sofa dan merenungkan semua hal yang dialaminya kemarin.
"Sudahlah," Armin berjalan menuju dapur tidak jauh dari situ. Mengeluarkan air dingin dari kulkas lalu menuangkan isinya ke gelas. "Tadi kau bagaimana Eren? Di rumah Rivaille."
"Tidak gimana-gimana," Eren memalingkan muka dari mata Armin. Nampak telinganya memerah.
Seketika ia menyadari gelagat aneh sahabatnya. Armin meletakkan gelas yang sudah kosong di meja setelah meminum isinya. "Eren, kau pasti menyembunyikan sesuatu. Apa yang terjadi?"
"Tidak terjadi apa-apa kok!"
"Ayolah Eren, kau meragukanku ya? Kau pikir sudah berapa lama kita bersama? Aku tahu kau pasti menyembunyikan sesuatu. Katakan, apa yang terjadi."
Eren diam, masih belum mau menatap dengan keras kepalanya. Namun tekanan yang diberikan Armin hanya dengan kekuatan tatapan menusuk punggung mulai menggoyahkan pendiriannya. Makin lama, makin menusuk. Eren merasa jengah.
"Aaaarghhh!" Dengan sangat terpaksa Eren menghadapkan wajah kembali ke Armin. "Baiklah, aku akan cerita, puas!?"
Ya, penyerahan diri Eren menimbulkan senyum puas di wajah Armin. Eren kesal melihatnya, kalah bukanlah hobinya.
Teringat akan apa yang akan ia ceritakan kepada Armin membuat parasnya memerah secara instan, membuatnya ragu untuk berkata-kata.
"E... ehm..."
Armin menanti kata-kata yang akan meluncur dari mulut Eren dengan sabar.
Dengan wajah merah, Eren berkata terbata dengan suara yang makin mengecil di akhir kalimat, "A-aku… Levi-san kemarin… kami nyaris… melakukan itu…"
Armin tersedak ludahnya sendiri.
Armin berharap telinganya yang sedang tidak beres saat itu. Kaget, dan kehabisan kata-kata, itulah kata yang pas untuk mendeskripsikan perasaan Armin Arlert setelah mendengar pernyataan sahabat sejak kecilnya itu.
Eren yang ia tahu adalah bocah polos tukang cari mati yang kegiatannya hanya membaca buku selain bertengkar dengan anak-anak kampung. Baru mulai tercemar semasa kuliah saat ia menonton video dewasa bersamanya, itu pun secara tidak sengaja. Dan sekarang ia mengaku nyaris melakukan hubungan dengan penulis yang baru ditemuinya dua kali, yang juga sesama laki-laki.
"Ehm… 'melakukan itu', itu maksudmu bukan itu yang 'itu' kan?"
Eren diam menunduk, wajah semerah tomat. Itu sudah menjelaskan semuanya. Bukan jawaban yang diharapkan Armin.
"Aku tidak tahu harus bereaksi apa."
"I-ITU KECELAKAAN! Dia yang tiba-tiba menarik kerahku dan menciumku, lalu mendorongku ke sofa, lalu melakukan hal-hal aneh dan mulai meraba anu-"
"KAU TIDAK PERLU MENJELASKANNYA DENGAN DETAIL, OKE?!" Armin buru-buru memotong sebelum Eren menceritakan hal yang tidak diinginkan. "Aku hanya tidak habis pikir, bagaimana dia bisa melakukan hal semacam itu pada orang yang baru dikenalnya. Eren, sebaiknya kau minta dipindah tugas sekarang, sebelum semuanya terlambat. Rumor itu benar."
Tiba-tiba seperti ada sesuatu yang menusuk ulu hatinya saat itu. Eren, tidak rela menyerah pada Levi sekarang. Tidak sebelum tujuannya tercapai. Ia tidak akan membiarkan editor lain yang merubah pemikiran Levi. Tidak selain dirinya.
"Aku tidak akan melakukan itu…"
"Kenapa? Orang itu sudah melakukan hal yang tidak senonoh padamu." Armin memberi jeda sebelum melanjutkan kalimatnya dengan nada penuh selidik, "Apa jangan-jangan, kau jadi menyukainya?"
"Bukan begitu! Ada sesuatu pada penulis ini yang menggangu pikiranku, dan aku ingin mengungkapnya sendiri. Tapi aku belum tahu apa itu. Dan aku tidak akan melepasnya sebelum aku berhasil mengetahuinya. Kau tahu melarikan diri itu bukan sifatku."
Ia menghela nafas pasrah. "Hahaha, kau ini ya. Kalau sudah terobsesi pada sesuatu pasti tidak akan melepasnya ya? Kalau begini aku juga tidak bisa apa-apa. Tapi ingat Eren, meski begitu kau tetap harus berhati-hati."
Eren tersenyum. Ia bersyukur punya sahabat yang pengertian dan mengerti dirinya seperti Armin. "Terima kasih Armin, akan kuingat baik-baik."
"Yah, kalau aku sih pasti tidak masalah, tapi aku tidak yakin dia akan sependapat denganku."
Tiba-tiba perasaan Eren tidak enak, "Dia itu, maksudmu siapa?"
"Mikasa akan pulang. Tiga minggu lagi."
.
.
.
Pegawai wanita terpana saat sosok itu melewati mereka. Pegawai lelaki menunduk minder, merasa inferior dihadapannya. Semuanya menyapa dengan hormat kepadanya, yang dibalas dengan kaku dan formal.
Pria itu berjalan dengan penuh wibawa. Bak tentara, langkahnya mantap dan postur tubuhnya tegap. Rambut pirangnya ditata klimis. Setelan jas berkelas membalut tubuhnya. Meski usia sudah menginjak kepala empat, namun tak tampak kerutan-kerutan tak berarti di wajahnya, membuatnya nampak sepuluh tahun lebih muda.
Erwin Smith, salah satu petinggi penting di Perusahaan Penerbitan Shiganshina. Pria yang membawa perusahaan kecil itu menjadi besar dengan ide-ide gilanya hingga sanggup mebuat nama di dunia internasional. Dihormati dan dipercaya atasan, disegani bawahan.
Sampai ada pemandangan menarik yang membuat langkahnya terhenti. Telinganya menangkap suara dua lelaki yang saling berdebat. Yang satu mengomel emosi dan yang satunya lagi berusaha membela diri. Ia mengamati kedua orang itu.
"Bukannya Rivaille sudah mengirimkan naskahnya padamu sesuai jadwal hah?" Pria rambut belah tengah keemasan itu berkata dengan emosi. "Bagaimana bisa kau mengatakan tidak akan menyerahkan naskahnya?!"
"Tolong pak, kali ini saja. Beri aku perpanjangan waktu untuk merevisi."
"Kau ini! Kau harusnya sudah tahu kan? Yang kau tangani itu Rivaille! Naskahnya tidak perlu disunting, tugasmu hanya menerima naskah dari Rivaille, membacanya sekali, dan menyerahkannya padaku! Kau hanya perantara, sadarilah posisimu!"
Sayang, semua perkataannya seolah dipentalkan dari telinga pemuda bersurai brunette. "Aku tidak bisa menerima itu pak, ada yang harus kuperbaiki di naskah Rivaille. Karena aku editornya," ia bersikeras.
"Oh ya?" Ia tertawa sarkastik, nada suaranya jelas meremehkan. "Kalau begitu jelaskan padaku, apa saja yang salah dari naskahnya."
Eren hanya terdiam begitu dilempari pertanyaan yang begitu telak. "I-itu…" ia hanya bisa mengepalkan tangan. Untuk yang kesekian kali ia mengutuki kebodohannya sendiri.
"Lihat! Kalau begitu sebenarnya tidak ada yang salah! Sekarang cepat serahkan naskahnya!"
"Aku tidak bisa…"
"Kau!"
Pria yang tadinya hendak menghardik itu menghentikan gerakannya saat menyadari keberadaan seseorang di belakang. Buru-buru ia menata sikap. "Ah, selamat pagi, Erwin-san," ia berucap dengan amat sopan.
"Mengapa ribut sekali, Flagon?"
"Ah, itu-" Flagon melirik kesal pada Eren. "Anak ini mengatakan kalau dia tidak mau menyerahkan naskah Rivaille sebelum menyuntingnya atau apalah. Seperti yang anda tahu, padahal jadwal cetak untuk novel terbarunya sudah ditentukan dan diumumkan pada media masa. Kita sudah menunda penyerahan naskah Rivaille karena urusan pergantian editor, kalau ditunda lagi, itu bisa mengacaukan jadwal perilisan novelnya. Dan sudah pasti kinerja perusahaan kita akan dipertanyakan dan akan mencoreng citra perusahaan. Bagaimanapun Rivaille adalah salah satu penulis populer perusahaan kita," jelas Flagon panjang lebar pada Erwin, yang sebenarnya ditujukan pada Eren guna mempertegas kembali apa yang sebenarnya sudah ia jelaskan padanya.
Mata Erwin jatuh pada Eren."Eren Jaegar, kan?"
Eren merasa dirinya akan diberi semacam teguran yang tidak menyenangkan oleh Erwin, atau mungkin yang paling parah, dipecat. Eren sudah bersiap diri. Ia menegakan tubuhnya kaku karena takut dan gugup, "I-iya, pak?"
Seulas senyum mengembang menghiasi paras Erwin. "Aku akan memberimu perpanjangan waktu, Jaegar."
Eren dan Flagon melongo sesaat.
Kedua pria tidak menyangka akan jawaban yang keluar dari mulut Erwin barusan, tapi yang membuat mereka lebih kaget adalah. Dia tersenyum.
Erwin Smith, dikenal sebagai pribadi yang kaku dan formal di seluruh perusahaan. Wajahnya seolah sengaja diciptakan Tuhan dari beton, kaku dan monoton. Dan sekarang di hadapapan kedua bawahannya, ia tersenyum. Dan alih-alih merasa terpesona atau kagum, entah mengapa yang mereka rasakan adalah: merinding.
Begitu tersadar dari lamunannya, Flagon langsung melontarkan protes. "Tunggu Erwin-san, anda hanya bergurau kan? Tidak mungkin kita memberi perpanjangan waktu bagi anak ini untuk alasan yang tidak jelas, anda tahu apa akibatnya bukan? Kurasa para atasanpun akan sependapat denganku."
"Tidak masalah, akan kuatur semuanya agar para petinggi dan media tidak mempermasalahkannya." Erwin berkata seolah hal itu begitu mudah, semudah membalik telapak tangan.
Flagon melempar tatapan tidak percaya pada Erwin. Heran dan tidak habis pikir, perasaannya campur aduk. Namun ia sadar bahwa bagaimanapun Erwin tetaplah orang penting di perusahaan, yang ia lakukan hanya berbalik pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun sambil mendumal, meninggalkan Erwin serta Eren.
Eren merasa tidak enak hati pada Flagon, ia merasa setelah kejadian ini atasannya itu akan memperlakukannya berbeda dari sebelumnya. Ia juga merasa tidak enak pada Erwin. Meski ia sangat menginginkannya tapi orang seperti dia sampai harus turun tangan demi keegoisannya. Tapi ia juga tidak mengerti, apa yang membuat Erwin berbuat demikian untukknya.
Erwin dan jalan pikirannya yang sulit ditebak.
"Terima kasih, Erwin-san. Dan juga… maafkan aku."
"Tidak perlu minta maaf Jaegar," ia menepuk pundak Eren.
Bibir Erwin kembali menyunggingkan senyum tipis. Senyum aneh itu lagi, membuat bulu kuduk Eren berdiri untuk yang kesekian kali.
"Aku mengandalkanmu, Jaegar," Erwin berkata pelan di telinga Eren sebelum pergi berlalu.
.
.
.
Dan sekarang Eren berdiri di depan pintu itu. Pintu nomor 37, apartemen Levi. Eren memperhatikan lekat-lekat pintu yang tebuat dari kayu gelap itu. Jari berkeringat sudah ada di depan tombol bel merah di sampingnya, ragu antara menekan atau tidak. Pintu itu berputar menciptakan distorsi, seolah ingin menelan semua benda yang berada di dekatnya.
Eren langsung menepis jauh-jauh visualisasi absurd yang tergambar di benaknya. Ia menguatkan tekad. Dengan segenap keberanian ia menekan bel.
Ting, tong…
Sunyi.
Beberapa detik menit berlalu.Pintu itu bergeming untuk waktu yang cukup lama.
Seketika Eren merasakan déjà vu.
Beberapa lama setelah itu, dari pintu sebelah keluar seorang wanita paruh baya bertubuh gemuk dengan tas belanja di tangannya. Melihat pemandangan bocah yang memecet bel berkali-kali dengan begitu putus asa menarik simpatinya.
"Nak, kalau kau mencari tuan Ackerman, dia sedang tidak berada di rumah."
"Ah, begitu ya…" Raut kecewa terpasang secara instan di wajah Eren.
Jadi intinya sekarang Levi sedang tidak berada di rumah. Menelponnya? Tapi ia tidak tahu apa Levi akan mengangkatnya atau tidak. Sempat terpikir olehnya untuk menunggu di depan pintu, namun Eren tidak tahu kapan Levi akan kembali. Eren juga punya banyak kerjaan, kalau bisa ia ingin masalah ini selesai secepatnya, dan juga, ada hal yang ingin Eren sampaikan pada Levi secara langsung.
"Kau ini siapanya? Kerabatatau kenalannya?" Ibu itu tiba-tiba membuka pembicaraan.
Eren agak kaget, membuatnya ragu untuk menjawab. Sebenarnya Eren merasa tidak nyaman karena wanita ini menanyakan hal yang bukan kepentingannya, tapi Eren merasa berhutang karena ibu itu sudah membantunya jadi ia menjawab saja. "Bukan, aku editornya."
"Oh! Begitukah?" Ibu itu menyahut hiperbola. "Aku memang mendengar kabar kalau dia itu penulis, ternyata benar ya!"
"Ya, begitulah."
Tipikal ibu-ibu gemar bergosip, ia langsung mengangkat topik dan bicara dengan begitu semangat. "Tuan Ackerman itu benar-benar misterius ya, dia tidak pernah bicara kepada tetangga-tetangganya, dan lagi aku juga tidak berani untuk menyapanya, entah kenapa auranya itu loh…."
Entah mengapa Eren bisa mengerti perasaannya dalam beberapa hal.
"Tapi tuan Ackerman sepertinya bukan orang yang jahat," intonasi ibu itu melembut."Kau tahu? Pegawai yang seharusnya membersihkan mansion ini gemar membolos. Merepotkan sekali kalau melihat koridor disini kotor, tapi tuan Ackerman dengan sukarela membersihkannya." Wajah ibu itu nampak senang sekali saat bercerita.
Eren tertegun mendengar cerita itu. Ia tidak menyangka kalau Levi punya sisi seperti ini juga. Mungkin sebenarnya, dia memang tidak seburuk kelihatannya.
"Ah, dan kalau dilihat-lihat sepertinya dia cukup tampan jika mengesampingkan tubuhnya yang pendek itu. Andai saja dia lebih ramah, pasti dia akan disukai banyak wanita, fufufufu…" nampak semu tipis menghiasi wajanya. Melihatnya entah kenapa Eren merasa hal itu sangat absurd. Ah, sudahlah, ibu-ibu juga boleh berpendapat.
Terlintas di benaknya untuk membayangkan Levi yang tersenyum dan bersikap ramah, ia pun mencoba membayangkannya.
"…"
Okay, mustahil, lupakan saja. Sudah cukup ia melihat senyum tampan namun mengerikan dari Erwin Smith pagi ini, ia tidak perlu mendapatkannya dari Levi juga.
Eren kembali tersadar dari lamunannya. Tapi Eren hanya bergeming, tidak tahu harus berbuat apa. Apa lebih baik memang menunggu di depan pintu sampai orangnya datang? Atau lebih baik ia pulang dan datang lagi esok? Tapi Eren ingin segera bertemu Levi.
Di tengah-tengah dilemanya, Eren menyandarkan punggung ke tembok. Opsi menunggu hingga Levi pulang mungkin tidak seburuk itu, dan ia bisa menunggu sambil beker-
"Ah, nak! Aku baru saja ingat! Dari pakaiannya sepertinya dia tidak pergi jauh, jadi mungkin dia masih berada di sekitar sini."
.
.
.
Matahari berada di atas, ditutupi awan yang bergulung-gulung, membuat udara sore musim semi saat itu cukup dingin. Eren berjalan di trotoar sambil memasukan tangan di saku jaket. Rumah makan, toko-toko dan swalayan berderet sepanjang jalan. Saat itu mendekati jam makan malam, membuat jalanan dipadati orang. Pasangan, pegawai kantoran, pasangan lagi, Eren baru ingat ini malam minggu.
Ia tidak ingat pernah menjadi orang yang pesimis, tapi rasanya mustahil bisa menemukan Levi di antara lautan manusia ini. Ditambah parah dengan postur tubuh kecil orang itu memperkuat keyakinannya.
Seiring langkahnya, Eren diserang haus mendadak. Ia menghampiri vending machine terdekat. Entah kenapa saat ini dia ingin meminum teh hitam hangat, minuman yang jarang menjadi pilihannya. Kaleng teh hitam menggelinding dari mesin. Eren langsung membukanya. Cairan hangat teh mengalir di tenggorokan. Menenangkan dan nyaman. Eren mempertanyakan dirinya sendiri kenapa tidak lebih sering meminum ini.
Sepanjang hari sepertinya hanya ini kejadian bagus yang dialaminya, begitu pikir Eren.
Dengan gembira Eren menyesap tehnya sembari berjalan. Kalau ia tak kunjung menemukan Levi juga, dia akan coba kembali ke apartemennya.
Sampai Eren merasakan sesuatu yang besar menabraknya. Teh yang sedang diminumnya dengan penuh nikmat tumpah ruah di bajunya. Kini Eren hanya bisa meratapi bajunya yang basah dan lengket, ditambah kulit di balik kaus yang sedikit perih akibat terkena air panas.
"HOI KAU!" Suara seseorang tiba-tiba menggelegar.
Eren mengangkat wajah guna melihat sosok yang membentak sekaligus menabraknya. Berjejer empat orang bertubuh besar dan sangar. Kulit kecoklatan penuh tato, baju robek sana sini. Bukan gembel tapi diakui sebagai gaya rebel khas preman. Dan nampaknya mereka memang preman sungguhan.
Seorang dari mereka berpakaian paling norak dengan batu akik di seluruh tubuh, dia yang menabrak Eren tadi berteriak,"Beraninya kau mengotori baju mahalku brengsek!" Ia menunjukkan setitik noda teh di jaket bulu motif macan tutulnya.
Alis Eren bertaut. Memperhatikan noda di jaket yang memang hanya secuil itu, sangat jauh dibanding bajunya yang basah kuyup. Ia juga merasa preman itu yang menabraknya, bukan dia. Dan sekarang preman itu yang marah padanya? Harusnya ia yang berada di posisi itu.
Eren menghembuskan nafas berat. Ia mengeluarkan dompet dari kantung celana jeans-nya, lalu menyerahkan beberapa lembar uang pada preman itu. "Maafkan aku. Ini untuk biaya laundry. Aku sedang buru-buru, permisi."
Eren bergegas meninggalkan preman-preman itu. Meski jika ingin jujur, emosi Eren sudah di ujung kepala dan siap meledak kalau ia tidak menahan diri tadi. Tapi saat ini akal sehatnya sedang bekerja. Dia tidak punya waktu untuk membuat keributan dengan mereka. Dia punya urusan yang lebih penting: menemui Levi dan menyunting naskahnya.
Tiba-tiba Eren merasakan tangan-tangan besar itu menggiringnya secara paksa. "Oi, apa-apaan ini?! Lepaskan!" Eren berontak, tapi terlambat, ia sudah berada di sebuah gang sepi. Preman-preman itupun mulai merapatkannya ke dinding, mengelilinginya setengah lingkaran agar ia tidak bisa kabur. Tatapan mereka merendahkan dan mengintimidasi. Sementara Eren balas dengan pandangan menantang.
Preman berjaket macan tutul angkat bicara, "Oi, sampah, kau kira segini cukup hah?" katanya sambil menunjukkan lembaran uang ke depan hidung Eren. "Kau pikir berapa harga jaket ini?"
Eren menjawab ketus, "Yang pasti tidak lebih mahal dari kotoran anjing."
"AKU BELI JAKET INI DI TROST TAHU!" preman itu berteriak emosi, menyebut distrik paling pretigius di negeri. Eren hanya mendengus tidak percaya. Paling hanya jaket murah meriah beli satu dapat satu yang biasa dijual di swalayan, pikirnya.
"Sekarang serahkan uang ganti rugi!" Preman itu meraih kerah baju Eren dengan kasar.
Muncul perempatan di dahi Eren. Emosinya tidak dapat ditahan lagi, ia langsung meledak di tempat, "LEPASKAN BRENGSEK! Kau yang menabrakku jadi itu salahmu sendiri! Kau pikir aku peduli dengan jaket kampunganmu itu hah?!"
"KURANG AJAR!" preman itu berteriak, kepalan tinju melesat wajah Eren.
.
.
.
Levi berjalan cepat diantara kerumunan orang. Melihat manusia-manusia berkumpul lalu lalang begini banyak seperti semut membuat matanya sakit. Levi benci keramaian, bahkan mungkin dia membenci eksistensi manusia itu sendiri. Membuatnya mempertanyakan keputusannya untuk tidak pergi belanja kebutuhan bulanan sedari hari masih siang, bukannya di saat menuju jam makan malam seperti ini, di masa manusia-manusia kurang kerjaan menghabiskan waktunya yang tidak berguna untuk berkumpul dan berhaha-hihi dengan manusia lainnya.
Andai saja ia tidak bekerja membabi buta hingga lupa waktu guna melampiaskan semua beban pikirannya tadi. Jika bukan karena seorang bocah bawel bermulut besar.
"LEPASKAN BRENGSEK!" Suara bocah bawel bermulut besar yang familier menggema di telinganya.
Levi menghentikan langkahnya, menyeret kaki ke arah gang kecil asal suara tadi. Terlihat pemandangan segerombolan sampah yang ramai-ramai memojokkan seorang bocah tukang cari mati seraya mencengkram kerah bajunya.
Ia yakin tidak salah mengenali bocah yang sedang diperas itu. Namun semua itu bukan urusannya. Sial di jalan, bertemu sampah masyarakat dan dipalak, sudah biasa dan bukan hal baru. Levi berniat mengangkat kakinya dari tempat itu. Sampai terlihat dari sudut matanya saat ia melirik kembali, tinju preman itu melesat, bermaksud mengenai bocah yang sial itu.
Ia membiarkan kantung belanjaan di kedua tangannya meluncur mengenai tanah dengan isi yang berhamburan keluar. Levi berlari. Secara insting, ia berlari ke arah gerombolan itu. Saat ini, otaknya hanya terfokus untuk satu hal: membersihkan sampah.
Satu sampah rubuh.
Kaki terangkat di udara, disertai tatapan tidak percaya semua orang disitu.
Termasuk Levi.
Preman lain yang ada disitu membelalak menyaksikan temannya rubuh sekali hantam oleh tendangan seorang bocah. Tidak terima, ia langsung mengarkan tinju ke wajah sang pelaku, "SIALAN!"
Eren merunduk menghindari tinju dengan mulus. Ia balik meninju perut preman itu. Preman terbatuk, merasa seolah seluruh isi perutnya akan keluar. Belum cukup, Eren kembali meninju dagu, sepintas terdengar bunyi retak. Preman pun rubuh seketika.
"UWAAA!" Preman yang tersisa berteriak ketakutan sembari menyerang Eren dengan membabi buta. Eren mengelak dari semua pukulan, hingga salah satu serangannya mengenai wajah Eren, meninggalkan sedikit jejak kebiruan. Namun sebelum preman berseru puas akan pencapaiannya, sebuah tendangan melesat menghantam kepalanya dari samping. Preman terakhirpun rubuh menyusul teman-temannya.
Eren menurunkan kakinya kembali ke tanah dan mengatur posisi berdiri. Masih dengan nafas yang memburu, Eren memperhatikan preman-preman itu dengan pandangan jijik. Seolah dia benar-benar habis membasmi serangga. Eren baru menyadari akan keberadaan sosok yang sedari tadi menontonnya. Levi dengan tatapan yang sulit diartikan, berdiri tidak jauh dari situ.
"Levi-san?"
"Bocah... apa-apaan ini?"
"Eh?" Agak bingung dengan pertanyaan Levi, lalu pandangannya terarah pada tubuh-tubuh preman yang bergelimpangan di kakinya. "Ah, orang-orang brengsek ini tadi berusaha memerasku, begitulah."
Levi diam, tidak merespon. Erenpun ikut diam.
Levi kembali angkat bicara, "Tidak lapor polisi?"
"Tidak, lapor polisi hanya akan membuat masalah tambah rumit," begitu jawab Eren singkat.
Levi diam lagi, Eren juga.
Suasana canggung yang aneh kembali merambati suasana. Levi berbalik dan angkat kaki dari situ, menuju ke arah belanjaanya yang berceceran.
"AKH!" Eren berseru tiba-tiba, membuat Levi meghentikan langkahnya dan menengok ke belakang. Teringat akan tujuan awalnya, buru-buru Eren menghentikan Levi. "B-bisakah kita berbincang sebentar...?"
.
.
.
Matahari tenggelam, menimbulkan gradasi biru dan oranye di langit serta awan. Rumah makan, toko-toko dan swalayan berderet sepanjang jalan, penuh oleh pengunjung, beberapa mulai menyalakan lampu. Saat itu sudah memasuki jam makan malam, membuat jalanan dipadati orang-orang. Pasangan, pegawai kantoran, pasangan lagi, mengingatkanmu akan malam minggu.
Dan kini mereka berjalan berdampingan.
Ehm… Tidak juga jika dilihat seorang yang lebih pendek berjalan lebih ke depan, sementara yang satunya mengekor patuh di belakang dengan canggung.
"Aku tidak tahu kau bisa bela diri," Levi tiba-tiba membuka pembicaraan. Sembari berjalan, tanpa menengok sedikitpun.
"Saudara perempuanku atlet kick boxing, jadi dia mengajariku sedikit." Eren kesal mengakuinya, tapi semua jurus-jurusnya tadi berasal dari Mikasa, yang merupakan atlet andalan di klubnya. Bahkan bisa dibilang salah satu yang terbaik di negeri ini.
"Hmm…" Masih sambil terus berjalan, Levi melanjutkan kalimatnya, "Tadi itu tidak buruk bocah, tapi sepertinya saudarimu itu tidak mengajarimu hal yang penting ya? Gaya bertaungmu amatir dan terlalu banyak gerakan sia-sia."
Eren hanya memasang wajah bingung di belakang, "Ehm, iya? Mungkin? Mikasa memang tidak mengajariku banyak." Eren heran kenapa Levi tiba-tiba mengomentari gaya bertarungnya dan bicara seolah dirinya itu pakar bela diri, atau mungkin memang begitu adanya? Mengingat dibalik tubuh kecilnya itu terdapat kekuatan dan tubuh yang sangat perkasa. Kay, kenapa author tiba-tiba ngerasa ambigu?
Mereka tidak bicara lagi dan kembali berjalan. Levi mendecih saat ada seorang gadis remaja yang menyenggol bahunya. Dari situ Eren menyadari kalau Levi tidak menyukai kerumunan. Kebetulan Eren melihat sebuah taman berada tidak jauh dari situ.
"Kita ke taman itu," ucap Levi yang terdengar seperti perintah. Eren menurut dan mereka menuju ke salah satu bangku taman disitu dan mendudukan diri mereka.
Levi meletakkan belanjaanya diantara dia dan Eren. "Jadi apa yang ingin kau bicarakan?" Sebenarnya Levi sudah tahu apa yang ingin dibicarakan Eren, namun ia bertanya saja.
"Sebelumya aku ingin minta maaf."
Sekilas mata Levi membulat.
Gestur kaku, Levi membalas datar, "Untuk apa minta maaf?"
Eren menggigit bagian bawah bibirnya. "Aku merasa bodoh sekali. Aku malu bisa menyebut diriku ini sebagai editor bahkan di saat aku tidak bisa menemukan kesalahan di naskahmu. Yang kulakukan hanya berkoar ada yang salah, tapi tidak bisa menjawab saat ditanya 'yang mana'."
Keduanya sama-sama terdiam saat itu. Levi melirik Eren di samping dari sudut matanya. Eren menunduk, wajahnya menggambarkan kesal, malu dan penyesalan. Levi mengepalkan tangannya. Entah kenapa Levi merasa kesal, entah kepada siapa, mungkin pada dirinya sendiri, dan juga ada perasaan aneh di sudut hatinya.
"Tapi aku sungguh-sungguh ingin memperbaiki kesalahan itu!" Eren memutar wajahnya menghadap Levi, menatapnya tepat di mata. "Dengan tanganku sendiri. Karena aku tahu, aku ingin melakukannya."
Levi melihatnya lagi, bara api di dalam emerald. Sesuatu yang tidak dimilikinya. Atau bahkan orang lain.
Mungkin, Eren berbeda. Mungkin.
"Lakukan sesukamu." Levi mengambil belanjaannya dan bangkit dari kursi. "Tapi ingat, aku bukan orang yang sabar. Pembicaraan kita berakhir."
Emerald itu berkilat. Senyum cerah merekah di wajahnya. Seperti anak kecil yang diberikan hadiah natal oleh ibunya. "Terima kasih!"
Sepintas, Levi terpesona olehnya. Dia yang biasanya hanya memasang tampang bodoh dan merengut, kini menampilkan sesuatu yang… entahlah. Levi tidak punya kata-kata yang cukup pantas untuk mendeskripsikannya.
Apa boleh Levi berharap pada senyum itu?
.
.
.
TBC (TUBERCOLOSIS) /paan si
A/N:
HAY, AUTHOR YG APDETNYA SENADA SIPUT ENCOK KONSTIPASI DISINI
Bagi yang belom tau siapa itu Flagon, dia itu karakter dari spin off Attack on Titan: Choice With No Regrets.
Entah kenapa gw ngerasa chapter ini cheesy banget. Chapter depan mungkin bakal ngungkapin sedikit soal identitas Levi, yha, mungkin saya juga gatau /HEH.
Sekarang balasan review di chapter kemaren...
Hikaru Rikou: Sebenernya si Hanji bukan sms tapi nelpon sih ^_^ Dia Cuma nanyain keberadaan Eren doang kok, begitu tau ternyata Erennya udah cabut dia langsung panik sendiri dan langsung ngasih tau Levi kalo waktu itu bakal ada badai.
Aura57: CremmeNekoii
MurabitoB: Adegan anu-anunya pasti bakal ada kok ( ͡° ͜ʖ ͡°)b
Aquila: Makasih buat pengertiannya *cium*/digeplak
Fujoshi Hentai: Sori, belum bisa masukin adegan anu-anu :,)) TAPI PASTI ADA KO, Author juga udah ga sabar nunggu kapan Eren 'jebol' nya *ketawa laknat*
R Eucliffe Walker: Kalo gak mesum, mungkin bukan Levi namanya :v
BTW, makasih banget buat yang udah sudi nge-fav, follow, dan meninggalkan jejak review di FF abal-abal ga jelas inih dan juga yang sudi luangin waktu kalian yang berharga buat baca meskipun hanya menjadi silent reader, meskipun author apdetnya seabad sekali ini…
MAKASIH BANGET SERIUS, AI LOP YU ALL! *sinih tante cium atu2*
