Disclaimer © Fujimaki Tadatoshi
WARNING: OOC, AU
.
.
.
Jam digital berbentuk kotak disamping meja tempat tidur Kagami menunjukkan pukul 02.10 AM ketika Kagami terbangun dan merasakan ranjang tempatnya tidur bergerak menandakan ada orang lain yang naik ke kasur bersamanya. Kagami masih pura-pura tidur dengan memejamkan matanya meskipun Aomine mencondongkan wajahnya ke wajah Kagami yang sedang berbaring ke samping dan mencium pipinya sebelum mengucapkan selamat malam. Setelah Aomine berbaring dengan nyaman dan Kagami mendengar dengkuran pelan menandakan Aomine sudah berada di alam mimpi, Kagami memutarkan tubuhnya menjadi telentang dan menatap langit-langit kamarnya yang gelap. Akhir-akhir ini meskipun Kagami dan Aomine tinggal bersama tapi frekuensi mereka bisa bertemu satu sama lain sangat sedikit. Bahkan dulu waktu mereka belum tinggal bersama masih lebih mending daripada sekarang yang kenyatannya mereka hanya bertemu saat sarapan sebelum berangkat bekerja. Kagami juga setiap hari sekarang selalu memasak dan memakan makan malam sendiri sejak Aomine jarang pulang sebelum tengah malam. Kagami sudah menanyakan alasan kenapa Aomine selalu pulang telat dan mendapat jawaban kalau pekerjaannya sekarang sedang sibuk-sibuknya jadi dia harus lembur. Dan tentu saja Kagami percaya karena tidak mungkin Aomine berbuat sesuatu yang menyakiti hati.
Tapi lama-kelamaan Kagami juga merindukan saat-saat bersama Aomine seperti dulu. Sekarang hanya saat akhir pekan mereka bisa bersama itupun kalau tidak ada pekerjaan mendadak oleh keduanya. Kagami menghela napas dan memutuskan akan berbicara dengan Aomine besok apapun tanggapan Aomine. Kagami kemudian mendekatkan tubuhnya ke tubuh Aomine dan mengistirahatkan kepalanya di pundak Aomine dan tangannya ditempatkan di dada Aomine dimana Kagami bisa merasakan dada Aomine yang naik turun secara teratur saat dia bernapas. Kagami mengambil napas dalam dan memejamkan matanya untuk kembali tidur.
.
"Pagi," sapa Aomine keesokan paginya.
"Hey," balas Kagami mengarahkan kepalanya ke samping untuk mencium Aomine. Aomine berdiri disamping Kagami dan menuangkan kopi untuk dirinya sendiri sebelum membuka lemari es untuk mengambil karton susu.
"Kau akan makan malam di rumah hari ini?" tanya Kagami.
Aomine meminum kopinya sebelum menjawab Kagami, "Hmm… mungkin tidak."
"Lembur lagi?"
"Iya."
Kagami kemudian menaruh telur, sosis dan roti panggang keju di kedua piring mereka dan menaruhnya di meja makan dapur.
"Ada apa?" tanya Aomine setelah dia duduk dan mengambil sendok yang diberikan Kagami.
"Tidak ada. Cuma… kita sudah lama tidak makan malam bersama." jawab Kagami dan duduk dihadapan Aomine yang sudah memulai makan sarapannya. "Apakah kantormu sedang kekurangan orang sampai kau harus lembur terus?"
"Kelihatannya tidak. Kita memang sedang banyak kerjaan akhir-akhir ini. Tapi aku berjanji minggu depan semuanya pasti akan selesai," kata Aomine.
"Oke."
Setelah itu mereka tidak berbicara lagi dan menghabiskan sarapan mereka.
"Bye. Aku berangkat dulu." kata Aomine mencium Kagami selamat tinggal.
"Hati-hati."
.
"Kagami, kenapa?" tanya salah satu teman kerjanya ketika mereka sedang istirahat makan siang.
"Oh hai. Tidak apa-apa," balas Kagami dan kembali memakan makan siangnya.
"Kau tidak seperti biasanya akhir-akhir ini. Kantor jadi terasa sepi kau tidak teriak-teriak lagi seperti biasa," kata temannya dan duduk di sebelah Kagami.
Kagami tertawa kecil mendengar pengakuan temannya. "Yahh… memang sedang ada sedikit masalah di rumah," cerita Kagami akhirnya.
"Dengan pacarmu?"
"Kau tahulah masalah biasa," kata Kagami sambil mengangkat bahunya.
"Kenapa?" tanya temannya yang sudah selesai memesan makan siangnya dan mulai makan.
"Dia sibuk terus akhir-akhir ini dan pulang selalu larut malam. Kita bahkan kalau ketemu hanya saat sarapan."
"Oh?"
"Oke itu memang pekerjaannya tapi… kau tahu…" lanjut Kagami.
"Bicara kepadanya, mungkin kalian bisa menyelesaikannya bersama," saran temannya.
"Yeah aku sudah akan melakukannya lama jika dia bisa pulang kalau aku masih membuka mataku,"
"Saat akhir pekan. Saat kalian sedang berlibur," saran temannya lagi.
Kagami memikirkan sebentar saran temannya kemudian mengangguk. "Aku akan mencobanya. Terima kasih sarannya," kata Kagami tersenyum ke temannya.
"Kapanpun."
.
Bahkan saat hari libur pun ternyata Aomine masih tidak di rumah dan membuat Kagami tidak bisa mendiskusikan masalah ini bersama. Sampai akhirnya Kagami memutuskan untuk melakukan sesuatu yang meskipun membuat hatinya sakit tapi dia harus tetap melakukannya. Hubungannya dengan Aomine sekarang tidak lebih seperti teman biasa yang hanya bisa bertemu saat pagi.
Kagami menunggu Aomine pulang sampai larut malam duduk sendirian di sofa dan memikirkan rencananya dengan matang-matang. Mungkin ini memang yang terbaik setelah sekian lama. Setelah beberapa saat, akhirnya Kagami mendengar kunci diputar dan pintu yang terbuka menampakkan Aomine yang… agak aneh, dia terlihat segar untuk orang yang baru pulang kerja. Lembur.
"Kagami? Kau masih bangun?" panggil Aomine yang kelihatannya kaget melihat Kagami, kemudian memeluknya saat Kagami menghampirinya. "Jam berapa sekarang?" katanya dan melihat jam tangannya.
"Lewat tengah malam sudah pasti dan akan agak sulit mencari kendaraan sekarang," kata Kagami.
"Woah apa?" tanya Aomine kaget. "Kau akan mencari kendaraan? Untuk apa?"
"Ke rumah temanku. Lihat aku sudah mengepak bajuku," kata Kagami dan mengambil tas besarnya yang sudah berisi baju-bajunya.
Aomine yang melihatnya langsung mengambil tas Kagami darinya. "Untuk apa kau mengepak bajumu juga?"
"Karena aku membutuhkannya untuk beberapa hari ke depan,"
Aomine mengerutkan keningnya bingung. "Kagami, apa yang terjadi?" tanyanya dan memegang tangan Kagami untuk mengajaknya duduk di sofa yang tadi ditempati Kagami tapi Kagami tetap ditempatnya menarik Aomine kembali.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya akan menginap di rumahnya." jawab Kagami.
"Kenapa?"
Kagami menghela napas sebelum menatap Aomine. "Aomine, mungkin sebaiknya kita istirahat dulu,"
"Ya ya, ayo istirahat di kamar." kata Aomine yang akan berjalan menuju kamar tapi Kagami mencegahnya.
"Tidak Aomine. Maksudku, istirahat dari hubungan ini."
"Apa maksudmu… kau ingin putus?" tanya Aomine mengeratkan genggamannya.
"Tidak, maksudku kita tidak usah bertemu selama satu atau dua bulan atau lebih," jelas Kagami.
"Kenapa?" tanya Aomine tajam.
"Kenapa? Kita sudah tidak bertemu akhir-akhir ini dan daripada aku kesepian di rumah sendiri meskipun sebenarnya aku tinggal bersama orang lain lebih baik aku kesepian saat tidak tinggal bersama orang lain," kata Kagami dan akan mengambil lagi tasnya.
"Apa? Kenapa kau menyalahkanku?" tanya Aomine marah dan mengambil tas Kagami lagi.
"Aku tidak menyalahkanmu, aku mengerti kau sedang bekerja—"
"Kalau kau mengerti kenapa kau ingin istirahat atau apapun itu?"
"Aku belum selesai!" kata Kagami sedikit keras kemudian menghela napas untuk menenangkan dirinya. "Lihat, Aomine…" kata Kagami memegang kedua tangan Aomine. "Mungkin ini hal yang terbaik. Kau bisa mencari orang baru—"
"Aku tidak ingin mencari orang baru."
"Oke apapun yang akan kau lakukan, kau bisa melakukannya. Kenyataanya kita sudah tidak melakukan apapun yang menandakan kalau kita mempunyai hubungan, kita juga hanya bisa bertemu saat sarapan. Itupun tidak lebih dari satu jam…" kata Kagami sedih.
Aomine mengarahkan kedua tangan Kagami yang mengenggamnya dan menciumi jari-jari tangan Kagami dengan lembut. "Kagami tolong sabar sebentar, kalau sudah selesai kita bisa bersama lagi,"
"Kau sudah pernah mengatakan itu. Aku lelah menunggu untuk kau di rumah paling tidak satu hari,"
"Tapi—"
Kagami melepaskan kedua tangannya dari genggaman Aomine dan menempatkannya di kedua pipi Aomine. "Ini tidak seperti kita benar-benar putus dari hubungan ini kau tahu… cuma sedikit… tidak bertemu,"
"Apa yang akan kau lakukan jika tidak bertemu?"
"Melakukan kegiatanku seperti biasanya…?"
"Lalu apa bedanya jika kita masih bersama?" tanya Aomine bingung.
"Oh ya tentu saja tidak ada bedanya karena aku akan tetap sendiri, itu maksudmu?"
"Tidak, tentu saja tidak—"
"Aomine," kata Kagami menatap kedua mata Aomine dalam. "Apakah kau selama ini selalu benar-benar bekerja sampai larut malam?"
Aomine mengarahkan pandangannya ke bawah dan tidak bertemu mata Kagami. "Tentu."
"Benarkah?" tanya Kagami skeptis.
Aomine masih tidak memandang Kagami lama sebelum akhirnya menatap Kagami dan menghela napas. "Oke baiklah… memang beberapa kali aku menghadiri pesta yang diadakan temanku. Tapi itu karena aku diundang dan kau tahu pasti akan sedikit kasar jika akau menolak undangan mereka kan?" tambah Aomine cepat-cepat.
"Oh ya tentu saja. Aku mengerti. Kau pasti akan bosan jika di rumah terus-terusan," jawab Kagami.
"Kagami," kata Aomine dan mengeratkan tangannya yang memeluk pinggang Kagami. "Aku tidak akan bosan jika bersamamu."
"Aku tahu." kata Kagami dan mengarahkan kedua tangannya ke rambut biru Aomine dan memijat-mijat kepalanya lembut.
"Jadi?"
Kagami memajukan tubuhnya sampai wajah mereka menjadi sangat dekat dan menyentuhkan bibirnya ke bibir Aomine.
"Bertahanlah untuk satu bulan," kata Kagami sebelum menempelkan bibirnya ke Aomine lagi. "Kau pasti bisa."
Kemudian Kagami kembali mencium Aomine dengan penuh perasaan yang langsung dibalas oleh Aomine. Kagami kemudian membuka mulutnya untuk kedua lidah mereka bertemu. Setelah beberapa saat, mereka memutuskan ciuman mereka dan Aomine meletakkan keningnya di kening Kagami.
"Kenapa kau harus melakukan ini?" bisiknya.
"Untuk berpikir. Dan mungkin kita juga akan punya perasaan yang sama kau tahu, sendirian." kata Kagami dan melepaskan dirinya dari Aomine. Kemudian Kagami mengambil tasnya dan membuka pintu.
"Hey…" panggil Aomine. "Apakah aku boleh menelponmu atau mengirim pesan kapan-kapan?" tanyanya saat Kagami membalikkan badannya.
"Tidak karena itu tidak sesuai dengan maksud," jawab Kagami. "Sampai bertemu." tambahnya sebelum menutup pintu.
