Disclaimer © Fujimaki Tadatoshi
WARNING: OOC, AU
.
.
.
Pandangan Aomine langsung menjadi gelap ketika dia memasuki salah ruang hotel yang sudah dipesankan untuknya. Setelah pesta ulang tahunnya yang diadakan oleh teman-temannya, Aomine disuruh segera pergi ke hotel depan mereka mengadakan pesta dan memasuki ruang 510 dan disana akan ada hadiah besar untuknya. Aomine yang sebenarnya akan segera mengistirahatkan badannya karena dia sangat capek dan akan membuka apapun hadiah untuknya besok, malah menemukan dirinya dengan tangan orang lain yang menutupi matanya. Aomine akan membuat siapapun orang ini yang kemungkinan adalah perambok atau apa menghabiskan malamnya di penjara ketika suara seduktif berbisik tepat di telinganya.
"Selamat ulang tahun… hadiahmu sudah siap untuk dibuka…"
Oohh... jadi ini hadiah yang dibicarakan… Aomine mengangguk-angguk dalam hati. Aomine memegang kedua telapak tangan di matanya dan menarik "hadiahnya" untuk berdiri di depannya. Setelah Aomine mendapatkan penglihatannya kembali, dia akhirnya bisa melihat orang di depannya. Orang itu yang ternyata adalah laki-laki dengan tinggi yang hampir sama dengan Aomine, mempunyai rambut merah menyala dengan kanzashi sederhana yang menghiasi rambutnya. Di kedua ujung matanya terdapat eyeshadow berwarna merah terang yang membuat mata merahnya menjadi semakin bercahaya. Tubuh orang itu dibalut dengan kimono longgar dengan hiasan bunga dan kipas disekeliling kimononya yang berwarna senada dengan rambutnya dan memperlihatkan kedua kakinya yang panjang dengan indah.
Geisha? Darimana mereka bisa mempunyai ide seperti ini? Oke Aomine memang pernah cerita ke Momoi kalau dia ingin bisa tahu rasanya kembali ke Edo era dan mengunjungi salah satu rumah geisha, tapi Aomine tidak bisa membayangkan kalau mereka akan menghadiahi dia keinginannya yang tidak begitu rahasia ini.
"Hey…" kata orang itu saat Aomine hanya memandanginya dan masih memegangi kedua pergelangan tangannya. "Aku disuruh untuk menunggu disini dan menemani seseorang yang sedang berulang tahun…?"
"Apa—oh ya…" kata Aomine akhirnya melepaskan pegangan tangannya dan masuk lebih dalam ke kamar hotel.
"Jadi kau ingin mengambil layananmu sekarang?" tanya geisha itu.
"Apa?" tanya Aomine bodoh.
Geisha itu menganggkat salah satu alis bercabangnya dan menatap Aomine seakan dia bodoh. "Itulah kenapa aku dibayar untuk kesini,"
"Oh…" jawab Aomine sambil membaringkan tubuhnya yang lelah ke kasur empuk hotel itu. "Kau tahu, aku sangat capek sekarang jadi kau bisa kembali ke rumah atau darimanapun kau berasal,"
"Hey dengar Tuan, teman-temanmu dengan rambut pelangi aneh sudah membayarku sangat mahal untuk malam ini dan kau akan menyuruhku kembali saat aku baru disini lima menit?" tanya geisha itu menghentakkan kakinya menghampiri Aomine dan mencodongkan wajahnya untuk melihat Aomine.
Aomine mengamati wajah geisha itu dan menghela napas setelah saling berpandangan lama. Aomine kemudian duduk dan geisha itu yang menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Untuk seorang yang bekerja seperti itu, kau bangga juga dengan pekerjaanmu," kata Aomine.
Geisha itu memelototkan matanya marah ke Aomine. "Hey! Aku bukan bangga, tapi peraturannya memang begitu. Jika aku sudah kembali seawal ini, apa kata bosku nanti? Dia bakal menuduhku membunuh klien atau yang lainnya dan hanya mau mengambil uangnya tanpa memberikan layanan." cerita geisha itu berapi-api.
"Oke… oke…" kata Aomine akhirnya. Yah mungkin dia akan ngobrol sebentar dan menyuruh geisha itu menemaninya tidur. "Duduk sini," lanjutnya sambil menepuk-nepuk tempat disampingnya yang langsung dituruti oleh geisha itu.
"Jadi…"
"Jadi siapa namamu?" tanya Aomine.
Geisha itu memicingkan matanya menatap Aomine, "Kagami."
"Kagami," Aomine mencoba menyebutkan nama geisha hadiahnya itu. "Jadi kau benar-benar geisha?"
"Tidak. Tapi aku disuruh berpenampilan seperti ini saat mereka memesanku."
"Oh…" kata Aomine.
"Jadi apa yang ingin kau lakukan?" tanya Kagami.
"Aku sangat capek sekarang jadi aku akan tidur." jawab Aomine.
"Tapi—"
Aomine mengangkat tangannya untuk memberi tanda Kagami untuk berhenti. "Ya aku mengerti kau belum melakukan pekerjaanmu atau apa itu… memangnya kenapa kau sangat ingin melakukan pekerjaanmu?"
Kagami menatap ke bawah, "Karena aku tidak ingin makan gaji buta," katanya pelan. "Dan memangnya kau akan membuang begitu banyak uang hanya untuk ini? Mungkin bagi kalian uang tidak masalah tapi—"
"Hey oke, tenang…" kata Aomine dan meletakkan tangannya di bahu Kagami untuk menghentikan ocehannya.
Kagami yang akhirnya menyadari apa yang sudah dilakukannya memalingkan mukanya dan tidak memandang Aomine.
"Jadi apa saja yang bisa kau lakukan?" Aomine akhirnya bertanya.
"Apa saja yang kau inginkan," jawab Kagami dan kembali menatap Aomine.
"Apa saja?"
"Hm-mm," kata Kagami sambil mengangguk.
"Jadi…" mulai Aomine sambil mengarahkan tangannya yang sebelumnya berada di pundak Kagami ke bawah dengan gerakan lambat. "Bagaimana jika kau isikan bak mandinya dengan air panas?"
"Apa?!" teriak Kagami. "Itu bukan—"
"Kau sudah bilang kau bisa melakukan apa saja yang aku inginkan, kan?" tanya Aomine sambil menyeringai.
"Ya… tapi bukan itu yang aku maksud dengan apa saja!" debat Kagami.
"Terserah. Tapi aku sudah membayarmu sangat mahal jadi lebih baik kau menurutiku atau aku bisa menangkapmu," kata Aomine yang masih menyerigai.
"Menangkapku?" tanya Kagami bingung.
"Ya, aku polisi."
"Oh… terus itu membuatmu lebih istimewa?" tanya Kagami berdiri di depan Aomine dan membungkuk untuk menatap matanya. "Aku sudah bersama banyak polisi yang mungkin jabatannya lebih tinggi darimu sebelumnya."
"Tapi sekarang kau bersamaku jadi kau adalah punyaku untuk malam ini," kata Aomine dengan suara dalam dan menatap Kagami tajam.
Kagami yang ditatap intens oleh dua mata dengan warna biru gelap segelap lautan paling dalam hanya bisa menatapnya dan tidak mempunyai lagi argumen yang bisa diutarakan. Jadi Kagami hanya meganggukkan kepalanya yang membuat Aomine tersenyum.
"Jadi isikan bak mandinya dengan air panas. Aku akan mandi," perintah Aomine lagi yang kali ini Kagami menurutinya.
.
Setelah Aomine selesai mandi yang membuatnya menjadi lebih segar, dia keluar dari kamar mandi masih dengan mengeringkan rambut birunya dan melihat geisha (yang bukan geisha) rambut merah itu duduk dengan menekuk kakinya ke bawah dan menggunakannya sebagai alas duduk di tengah-tengah kasur hotel dan sedang menghisap pipa bambu tradisional yang kelihatannya sebagai ganti rokok.
"Hey dilarang merokok disini," kata Aomine.
Kagami yang kaget cepat-cepat menolehkan lehernya ke Aomine dan mengamatinya sebelum melihat pipanya yang masih mengepulkan asap. "Oh, maaf." katanya sebelum meletakkan pipanya di meja sebelah ranjang.
Aomine kembali mengeringkan rambutnya dan setelah selesai meletakkan handuknya di salah satu kursi.
"Kau tahu, kasur ini sangat empuk sekali," kata Kagami sambil mengarahkan tubuhnya naik turun seperti anak kecil sehingga kasur itu memantul-mantul.
"Hah? Memangnya kau tidak pernah tidur di kasur seperti itu sebelumnya?" tanya Aomine yang mulai mendekati Kagami.
"Yaahh kau tahu… aku tidak begitu memperhatikannya sebelumnya karena aku terlalu sibuk… melakukan pekerjaanku…" kata Kagami sambil mengelus-elus seprai kasur itu dengan tangan kanannya.
"Oh…" kata Aomine yang sudah berada di samping ranjang. "Hey geser sedikit,"
Kagami menuruti perintah Aomine dan menggeserkan tubuhnya untuk memberikan Aomine ruang untuk duduk.
"Kau tidak memakai baju?" tanya Kagami saat Aomine hanya memakai jubah mandi putih tanpa berganti dengan baju lainnya.
"Aku tidak membawa baju ganti dan bajuku tadi agak bau," jawab Aomine.
Kagami tertawa kecil mendengar jawaban Aomine, "Ya aku sudah menduganya,"
"Hey coba saja kau memakai pakaian yang sama dari jam tujuh pagi sampai jam sepuluh malam dan beritahu aku jika pakaianmu tidak bau,"
"Tidak bisa karena aku tidak memulai bekerja dari jam tujuh pagi," kata Kagami. "Dan aku selalu wangi."
Aomine mengangkat kedua alisnya mendengar pernyataan Kagami. "Masa?"
"Kau bisa buktikan sendiri,"
"Oke." kata Aomine menerima tantangan Kagami. Dia kemudian mendorong Kagami untuk berbaring dan Aomine langsung memposisikan tubuhnya di atas tubuh Kagami dan diantara kakinya.
"Apa yang kau…"
Tapi Kagami tidak menyelesaikan kalimatnya karena Aomine sudah memegang dagu Kagami untuk mengarahkan kepalanya ke samping dan menempelkan hidung mancungnya ke pipi Kagami.
"Mmm… kau memang wangi." kata Aomine dan kembali menempelkan hidungnya ke pipi Kagami untuk membauinya. Aomine kemudian mengarahkan hidungnya ke telinga Kagami sampai lehernya dan menghirup napas dalam. Kagami mempunyai harum seperti sesuatu yang manis yang membuat Aomine tidak ingin mengangkat wajahnya dari Kagami.
Saat Kagami mulai membuka kakinya lebih lebar dan menganggkat wajahnya untuk memperlihatkan lehernya lebih banyak, Aomine menciumi sepanjang leher putih Kagami dan membuka bagian atas kimono merah Kagami untuk juga menciumi dada sampai pundak Kagami yang membuat Kagami mendesah.
"Oke aku akan tidur sekarang." kata Aomine setelah dia berhenti menciumi Kagami.
"Huh?" tanya Kagami dengan pipi memerah yang sebelumnya menikmati perlakuan Aomine yang tiba-tiba berhenti.
"Kau bisa menemaniku tidur," kata Aomine dan menidurkan dirinya dengan posisi se-nyaman mungkin. "Tidur… dalam arti yang sebenarnya." lanjutnya saat melihat Kagami bingung.
"Oh… oke." kata Kagami.
"Sini." kata Aomine menepuk-nepuk tempat disebelahnya.
Kagami mengangguk dan mencopot kanzashi di rambutnya sebelum tidur disebelah Aomine.
"Hey aku menikmati malam ini bersamamu jadi aku akan menemuimu lagi kapan-kapan," kata Aomine tiba-tiba.
"Benarkah?"
"Ya." jawab Aomine dan meletakkan tangannya di pinggang Kagami dan mengarahkan tubuhnya untuk lebih dekat.
Kagami mencopot sehelai rambut merah di kepalanya dan mengambil tangan Aomine sebelum kemudian mengikatkan sehelai rambutnya itu di jari kelingking cokelat Aomine.
"Apa ini?" tanya Aomine mengamati sehelai rambut merah yang tertali rapi di kelingkingnya.
"Itu tanda agar kau benar-benar menepati janjimu. Dan kau tidak akan bisa melepasnya sebelum bertemu denganku dan aku yang akan melepasnya untukmu," jelas Kagami.
"Oke, itu ide yang bagus." kata Aomine sambil tersenyum.
Kagami mengangguk dan membalas senyuman Aomine.
"Selamat malam."
"Selamat malam."
.
.
.
Tomoyo to Kudo: Iya ini kayak kumpulan cerpen(?) gitu jadi setiap chapter ceritanya bakal tidak bersambungan (mungkin bakal ada yang bersambungan kalau aku membuat sekuelnya) :) terima kasih sudah membaca :)
