Disclaimer Fujimaki Tadatoshi
WARNING: OOC, Typo, crack(?)
.
.
.
Aomine berdiri di pojokan sambil bersendekap dengan kening berkerut. Dia tidak tahu kenapa akhir-akhir ini kekasihnya yang sebelumnya adalah malaikat unyu-unyu yang kadang-kadang sumbunya pendek dan marah-marah sekarang malah menjelma menjadi dedemit amit-amit yang minta dibuang ke kedalaman laut yang paling dalam. Tadi pagi tidak tahu kenapa Aomine yang bangun lebih dulu padahal biasanya kalau Kagami belum teriak-teriak sampai membangunkan seluruh planet bumi baru Aomine akan bangun. Padahal malam sebelumnya mereka tidak melakukan apapun meskipun Aomine sangat menginginkan melakukan ehem-ehem dengan Kagami tapi karena Kagami yang terus-terusan menolak dan mengancam akan memblack list nama Aomine dari apartemennya untuk selamanya (meskipun mereka sudah tinggal bersama, tapi Kagami masih menganggap Aomine hanya seorang tamu yang menumpang bermalam di apartemennya) maka Aomine mengalah dan melakukan ehem-ehem lain kali. Jadi karena pagi itu Aomine sedang sangat lapar dan tidak ingin hanya makan makanan sisa tadi malam, dia membangunkan Kagami.
"Kagami," Aomine mencoba mengguncang-guncang tubuh Kagami untuk membangunkannya.
Kagami menggeliat sedikit tapi tetap melanjutkan tidur.
"Kagamiiii…" Aomine mulai merengek. "Aku lapar,"
Kagami menampik tangan Aomine dan berguling untuk memunggungi Aomine.
"Ayolah Kagami, aku lapar." Aomine tidak berhenti merengek.
Kagami mengeluarkan suara jengkel kemudian bangun dan memelototi Aomine. "Kenapa kau tidak pernah mau melakukan sesuatu untuk dirimu sendiri?!" teriaknya kemudian keluar kamar dan membanting pintu dengan keras.
Aomine yang masih kaget karena tiba-tiba diteriaki oleh Kagami hanya bisa mematung di atas ranjang mereka. Tidak biasanya Kagami akan marah sepagi ini dan biasanya Kagami memang akan mengomeli Aomine karena tidak mau mandiri tapi dia tidak akan sampai marah seperti ini. Setelah menimbang-nimbang lebih baik keluar atau menunggu sampai badai pasti terlalu, Aomine akhirnya memutuskan untuk keluar karena perutnya sudah tidak tahan dibiarkan kosong. Dia hanya berserah diri kepada Tuhan semog Kagami tidak akan menusukkan pisau mentega ke matanya.
"Selamat pagi,"
Aomine mengerutkan keningnya mendengar sapaan pagi Kagami yang ceria. Kenapa ia tiba-tiba bisa ceria seperti ini? "S-selamat pagi."
"Aku sudah membuatkanmu sarapan," kata Kagami yang masih mengenakan apron birunya dan meletakkan piring berisi roti panggang keju dan sosis goreng serta jus jeruk dingin di depan Aomine yang sudah duduk.
"Uh… terima kasih." Aomine masih menatap Kagami heran yang mengangguk dengan ceria lalu mengambil sarapannya sendiri.
Setelah sarapan karena memang hari ini mereka sedang libur, mereka memutuskan untuk bermalas-malasan di sofa sambil menonton televisi yang sedang menayangkan acara memasak dengan celebrity chef yang sedang naik daun baru-baru ini.
"Kau bisa membuat itu?" Aomine bertanya dari tempatnya tidur di pangkuan Kagami dan merasa mengantuk sedikit karena tangan Kagami yang berada di kepalanya dan membelai-belai rambutnya terasa sangat nyaman.
"Hmm… mungkin." Kagami menjawab masih sambil menyisiri rambut Aomine dengan jarinya.
"Oh, aku kelihatannya pernah melihat dia waktu di mall." komentar Aomine tentang chef wanita seksi yang sedang menghias masakannya di layar kaca.
Pergerakan tangan Kagami di rambutnya berhenti dan tiba-tiba Aomine sudah tergeletak di lantai.
"Lalu kenapa kau tidak menikahinya saja?!" Kagami kembali mengeluarkan suara ultrasoniknya dan meneriaki Aomine.
Dan karena itu, Aomine memilih melipir ke pojokan untuk kesehatan mental dan jiwanya. Dia benar-benar tidak tahu kenapa Kagami bertingkah seperti itu. Daripada dia akan lebih tersakiti, Aomine memutuskan untuk keluar rumah dan menjauh dari Kagami sampai dia bertingkah normal kembali. Tapi ketika Aomine akan menuju pintu dan mengambil sepatunya, dia mendengar suara tangisan dan melihat Kagami menutup wajahnya dan pundaknya bergetar. Melupakan rasa jengkelnya ke Kagami tadi, dia langsung menghampiri Kagami.
"Kagami, kenapa?"
Kagami menggeleng-gelengkan kepalanya masih dengan menutup wajahnya dan malah menangis lebih keras.
"Kagami," Aomine menarik Kagami untuk duduk di pangkuannya dan Kagami hanya menurut dan menangis di pundak Aomine.
"Hey kenapa?" Aomine bertanya dengan lembut dan mengelus-elus kepala berambut merah Kagami. "Aku minta maaf kalau aku membuatmu sedih."
"Tidak," Kagami menggeleng dan berbicara tersendat-sendat karena menangis. "A-aku minta maaf karena kurang baik untukmu."
"Apa? Hey kenapa kau bisa berpikir seperti itu?" Aomine mengangkat wajah Kagami dan memegang kedua pipinya yang memerah.
"Maafkan aku, Aomine." kata Kagami masih tetap menangis.
"Kagami, kau tidak salah apapun." Aomine berkata dan menurunkan wajah Kagami untuk menciumnya.
Kagami langsung membalas dan mengalungkan lengannya ke leher Aomine ketika Aomine mengelus punggunya dan menempatkan kedua tangannya di pinggang Kagami. Kagami mendesah pelan ketika Aomine memulai menjilat bibirnya dan memasukkan lidahnya ke dalam mulut Kagami. Kagami menarik Aomine untuk berbaring bersamanya di sofa. Kagami menghela napas relaks ketika Aomine mulai menciumi rahangnya dan turun sampai ke lehernya. Kagami menelusupkan tangannya ke kaos yang dikenakan Aomine agar bisa merasakan kulit Aomine dan menggores punggungnya dengan kuku-kukunya.
Aomine semakin bersemangat untuk menciumi Kagami ketika dia mendesah semakin keras dan mendongakkan kepalanya untuk memberi Aomine akses lebih banyak. Aomine menyeringai dan menghisap kulit sensitif Kagami sampai meninggalkan tanda. Aomine kemudian menjilat tanda yang baru dibuatnya lalu menggigit leher Kagami. Sebelum dia akan melanjutkan kegiatan panasnya, tiba-tiba dia menemukan dirinya kembali mencium lantai secara seksi.
"Apa-apaan!" Aomine berkata dan memelototi Kagami yang masih berada di atas sofa.
"Kau yang apa-apaan!" balas Kagami. "Kenapa kau menggigitku? Menurutmu itu tidak sakit?"
Aomine mengerutkan keningnya. Biasanya Kagami selalu menikmati kalau Aomine memberikan atensi lebih ke lehernya (meskipun Kagami tidak pernah mengakuinya) tapi kenapa dia sekarang malah mempermasalahkan gigitan kecil seperti ini. Oke Aomine sudah berada di batas sabarnya, Kagami sudah keterlaluan pagi ini.
"Apa masalahmu?" tanya Aomine. "Kau bersikap menjengkelkan sejak tadi pagi,"
"Kau yang bersikap menjengkelkan!" balas Kagami.
"Terserahlah!" Aomine berkata marah. "Kau sangat menjengkelkan, memangnya kau hamil?"
"Kalau iya kenapa?" balas Kagami.
Oh jadi itu alasan kenapa Kagami bersikap menjengkelkan dan suasana hatinya berubah-ubah dengan cepat? Aomine pernah membaca itu disebut mood swing pada ibu hamil.
"Oh."
Aomine memandang Kagami kemudian membelalakkan matanya ketika sadar apa yang Kagami bicarakan. Kagami hamil? Eeeehhhhhh?
"Siapa bapaknya?"
Dan sofa melayang dengan manis ke arah Aomine.
.
.
.
A/N: XP
Sori lagi stress karena sebentar lagi UTS :v
hey that rhymes /slapped
