Setelah mengantarkan Tayuya pulang. Sasori langsung menginjak gas mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju apartemen Sakura. Ia mengkhawatirkan gadis itu setelah Tayuya memberi tahu bahwa sepupunya meng-upload foto mereka saat di paris beberapa hari yang lalu. Sasori merutuki dirinya karna tidak berkata jujur soal tidak ada kabar darinya selama seminggu dengan mengatakan ia ikut dalam perjalanan keluarga. Soal keluarga memang iya dis pergi dengan keluarga, hanya saja bukan keluarganya, melainkan keluarga Tayuya.
Naruto©Masashi Kisimoto
A Choice
.
Warning : AU, OOC, TYPO, etc
Selama perjalanan entah berapa kali ia mencoba menghubungi Sakura, namun selalu saja tidak ada jawaban. perasaanya semakin gelisah karna Sakura tidak pernah sekalipun mengabaikan telphone darinya. Ia khawatir Sakura mengetahui hal itu dan mendiaminya meski ia meragukan itu. Sakura memang orang ketiga dalam hubungannya dengan Tayuya. Kekasih gelap, selingkuhan atau apapun panggilannya itu ia mencintai gadis itu, Sasori tetap tidak ingin kehilangan Sakura, ia ingin sakura tetap ada di sisinya meski ia tidak bisa meninggalkan Tayuya juga. Egois memang, tapi ia tetap tidak bisa memilih.
Sudah hampir 10 menit Sasori berdiri di depan pintu apartemen Sakura, memencet bel, mengetuk pintu, dan menghubungi ponselnya sudah ia lakukan, namun tetap saja tak ada kabar dari gadis itu.
"Sasori..." mendengar namanya di panggil, Sasori langsung menoleh ke asal suara, ia kenal Suara itu, Suara yang sejak tadi di tunggunya.
Tidak jauh darinya, Sakura berdiri sambil tersenyum. Ia bisa melihat mata Sakura yang sembab dengan wajah yang terlihat pucat. Ia yakin bahwa Sakura telah mengetahuinya, dan selalu saja bersikap seolah-olah semuanya baik-baik saja, bersikap bahwa ia tidak terluka. Sasori lebih suka Sakura memakinya, memukulnya dari pada bersikap diam seperti itu. Ia hanya takut jika Sakura meninggalkannya.
"Kau dari mana saja?" tanya Sasori. Mereka telah masuk ke apartemen Sakura. Gadis itu tetap bersikap biasa saja, meski ia bisa melihat ada jejak air mata di pipi gadis itu.
Sakura mencoba menenangkan diri " Aku pergi berbelanja dengab ino tadi, maaf karna membuatmu khawatir"
Sakura langsung melangkahkan dirinya ke dapur, mencoba sedikit menjauhkan kontak dengan Sasori. Perasaannya masih tidak menentu pasal foto pemuda itu dengan Tayuya. Ia tidak ingin berteriak di depan pemuda itu, menanyakan pasal pendengaran Ayame soal pertunangan.
"Sakura aku tau kau sudah melihatnya"
Gerakannya terhenti dengan cangkir di tangannya, Sakura menggenggam cangkir itu cukup erat. Ia sudah mencoba tidak membahas hal itu, tapi kenapa Sasori yang membahasnya.
"Aku tidak mengerti apa yang kau ucapkan" Jawabnya kemudian.
Sasori tidak bisa lagi menahan diri, Ia tidak bisa terus melihat Sakura mengacuhkan hal yang membuat gadis itu terlihat menyedihkan. Ia berjalan mendekat, memutar tubuh sakura, mengcekram pundak gadis itu.
Bunyi 'Prang' dari cangkir yang terjatuh dari tangan Sakura seketika memecah keheningan ruangan itu. Kedua mata sakura mebola, jantungnya berdebar tak menentu ketika Sasori menyatuhkan bibir mereka. Ia bisa melihat wajah Sasori dengan garis kesedihan dari dekat. Sakura memejamkan matanya, melepaskan semua kesedihannya bersama.
Perlahan Sasori melepaskan pungutan bibirnya, menatap Sakura dengan tatapan yang sulit di artikan ketika emerald itu membuka.
"Apa kau sudah bertunangan dengan Tayuya?" Tanya Sakura, menatap dalam mata Sasori. Ini menyakitkan, tapi ia ingin tau.
"Belum"
"Belum?" beo Sakura, dadanya sesak.
Sasori terdiam, ia tidak tau harus bagaimana menjelaskannya. Kenyataannya memang ia dan Tayuya belum bertunangan, Namun persiapannya sudah di lakukan antara keluarganya dan keluarga Tayuya. Hubungan mereka memang di dasari oleh perjodohan awalnya, Sakura juga mengetahui itu, hanya saja ia tidak bisa memungkiri kalau Tayuya juga menempati hatinya.
"Apa kau akan meninggalkanku?"
"Tidak" Jawab Sasori cepat "Aku tidak akan meninggalkanmu Sakura, sejak awal aku mencintaimu. Aku tidak bisa meninggalkanmu tapi ku mohon mengerti lah, Aku juga tidak bisa meninggalkan Tayuya. Perjodohan itu..."
Grep
Pelukan tiba-tiba Sakura menghentikan ucapan Sasori. Itu semua sudah cukup bagi Sakura, ia tidak ingin Sasori meninggalkannya.
"Aku hanya tidak ingin kau meninggalkanku, aku mengerti, aku tidak apa-apa seperti ini" sakura memberi jeda pada kalimatnya, menarik nafas dalam-dalam, memenuhi paru-parunya dengan aroma maskulin pemuda itu "Aku mencintaimu"
Sasori membalas pelukan Sakura, hatinya sedikit merasa lega " Aku juga mencintaimu"
.
Mereka saling tatap hampir 2 menit, tidak satupun dari kedua insan itu mengedipkan matanya, duduk berhadapan di atas kasur Sakura dalam diam. Sesekali Sasori tersenyum, menjulingkan matanya mencoba menggoda Sakura, ia sudah melihat gadis musim semi itu tidak bisa lagi menahannya.
Tip.
Satu ketipan dari Sakura, Satu kemenangan untuk Sasori.
"Aww ittai.." Sakura meringis saat sasori menarik hidungnya, sudah ketiga kalinya ia kalah dalam tanding saling tatap. Sakura bisa merasakan hidungnya memerah.
"Kau curang" ketus Sakura, ia mengrucutkan bibirnya sebal.
Sasori terkekeh lucu melihat wajah gadisnya yang seperti badut itu, rasanya ingin sekali ia menarik bibir Sakura yang mengrucut itu dengan bibirnya (mesum mode on)
"Sakura"
"Apa?"
"Berhentilah mengrucutkan bi-"
TING
TONG
Bunyi bel mengagetkan keduanya. Terutama Sakura, ia langsung merampas ponselnya, memastikan bahwa yang di takutkannya salah. Menatap jam, jantungnya berdebar. Sudah pukul 9 malam. Ia lupa janjinya mengadakan pesta piama denga tiga temannya itu. Dan sekarang Sasori masih berada di apartemennya. Gawat.
TING
TONG
Sasori yang melihat gelagat Sakura merasakan kecurigaan. ia jadi ikut berdebar tentang siapa yang tengah menekan Bel apartemen gadis itu.
"Ada apa Sakura?"
"Gawat..gawat..gawat" Sakura mulai panik "Itu pasti Ino, bagaimana jika dia melihat kau ada di apartemenku?"
"Ino? Ino anak kesenian?"
"Iya Sasori-ku, Ino mana lagi, Yamanaka Ino"
Sasori menatap horor Sakura, ia jadi ikut panik. Dan semakin panik saat ponsel Sakura berbunyi dan nama 'Ino pig' terpampang jelas di layar.
"Aduh, bagaimana ini?" Sakura mulai ragu mengangkat ponselnya, Sasori bahkan tidak tau apa yang harus di lakukan.
TING
TONG
Drrrt
Drrrt
TING
TONG
Drrrt
Drrrt
Suara bel dan ponsel sakura saling beradu, mau tidak mau Sakura mengangkat telphone dari Ino.
"Hal-"
'JIDAT BUKA PINTUNYA, KAU MAU MEMBUAT KAMI TUA MENUNGGU DI DEPAN PINTU' Sakura sampai harus menjauhkan ponselnya, Astaga. Ia ingin mati saja sekarang.
"Tunggu sebentar"-tut.
Sakura menatap Sasori mencoba mencari ilham bagaimana caranya membawa Sasori keluar dari apartemennya.
.
Sakura membuka pintunya dengan senyum kaku, di sana sudah berdiri Ino, Tenten dan Ayame yang langsung nyelonong masuk.
"Kenapa lama sekali?" Selidik Ino
"Kau hampir membuat ku tua sebelum menikah dengan Yamato" gerutu Ayame
"Aku ingin pipis"
Mati.
Jantung sakura nyaris melompat saat Tenten berjalan menuju kamar mandi, tempat di mana Sasori bersembunyi. Ya, ia tau itu tempat terburuk untuk bersembunyi, hanya saja itu adalah tempat yang terlintas begitu saja tadi.
Bertindak cepat Sakura.
"TENTEN" teriakan Sakura membuat tenten menggantungkan tangannya di udara yang hampir menggengam knop pintu. Sakura langsung berlari menarik Tenten menjauh.
"A-apa kau tidak ingin ke kamar dulu?"
"Aku ingin pipis dulu Sakura"
"Kau terlihat mencurigakan Sakura" Ayame menatap Sakura Curiga. Ino dan Tenten yang melihat Sakura gelagapan membenarkan Ayame.
"apa kau menyembunyikan seseorang di dalam sana?" tanya Tenten juga. Anak kedokteran di serang dua anak Hukum.
"Apa jangan-jangan orang yang kau bilang ingin kau temui tadi ada di toilet?" timbal Ino. Sakura mulai berkeringat dingin ketika tiga sahabatnya mulai menatapnya dengan tatapan selidik.
"Ti-tidak bukan begitu"
"Ayo kita cari tau" Ucap Tenten, keduanya menyetujui. Melangkah perlahan menuju kamar mandi.
Jantung Sakura semakin berdetak tak karuan, ia kehilangan akal untuk menghentikan teman-temannya. Keringat dingin mulai mengalir di jidat(lebar)nya saat Tenten memutar knop pintu. Bagaimana? bagaimana?bagaimana?
Ceklek
Mati aku, batin Sakura.
"Tidak ada apapun"
"Apa?" sakura cukup terkejut, ia langsung berjalan menuju kekamar mandi, memeriksa kedalamnya. Benar tidak ada apapun, Lalu di mana Sasori?
"Sudahlah, kalian minggir. Aku sudah tidak tahan" Tenten langsung masuk, mendorong Sakura keluar dan langsung menutup pintu.
"Ah padahal tadi bakal seru kalau ada seseorang di dalam sana" ucap Ayame langsung melenggang masuk ke kamar.
"Ku fikir kau menyembunyikan seseorang Sakura" ucap Ino, Sakura tertawa garing.
"I-tu tidak mungkin kan, memang siapa yang mau ku sembunyikan"
Ino mengendikkan bahunya "Entahlah, Sasori barang kali"
Sakura nyaris kena serangan jantung mendengar Ino menjawab dengan benar, meski ia tau, gadis itu tengah bercanda karna Sasori termasuk mahasiswa populer di kampusnya.
Tapi yang menjadi pertanyaan dimana Sasori?
"Temari akan datang sebentar lagi" tambah Ino sebelum masuk kekamar.
Tapi yang menjadi pertanyaan dimana Sasori.
Sakura tersentak saat ponselnya yang sedari tadi ia genggam bergetar, Ia langsung menjawab telphone itu.
"Hallo?"
'Sakura, aku sudah berada di luar'
"Sasori, tapi bagaimana?"
Sakura bisa mendengar Sasori terkekeh di ujung sana. 'Ya, dengan teknik Ninja. Yasudah, selamat bersenang-senang'
"Baik, Sampai jumpa"-tut. Sakura bernafas lega sekarang. Entah bagaimana pemuda itu bisa keluar, tapi yasudahlah. Cukup Tuhan dan Sasori lah yang tau.
.
Ini sudah nyaris 9 jam pemuda bermarga Uchiha itu berkutat dengan Laptopnya. Ia hanya akan berhenti ketika keadaan alam yang mendesak. Bahkan Shikamaru yang awalnya tidak berniat mengganggu sedikit penasaran juga dengan sahabatnya itu.
Shikamaru mengenal Sasuke sejak SD, dengan satu lagi pemuda bernama Naruto yang sudah kembali ke Amerika bersama Ayahnya saat tamat SMP. Sasuke dan Shikamaru masuk ke SMA yang sama, namun saat kelas dua SMA sasuke tiba-tiba saja pindah ke Jerman bersama kakak nya. Ia tidak tau kenapa, tapi setelah Sasuke menceritakan semuanya ia cukup terkejut. Yang lebih membuatnya terkejut adalah Sasuke sudah menyelesaikan kuliah S1 nya di Jerman hanya dengan waktu 2,5 tahun di umur 20 tahun.
" Apa kau tidak lelah?" Shikamaru akhirnya membuka suara yang sejak tadi fokus dengan game PS nya "Dengan kesehatanmu yang sekarang apa tidak berpengaruh?"
Jari sasuke yang sedari tadi bergerak lihai di atas keyboard berhenti sejenak, ucapan Shikamaru mengingatkannya sesuatu. Ia menutup laptopnya, berbalik ke arah Shikamaru.
"Apa kau kenal dokter yang bagus di sini?"
Shikamaru mengendikkan bahunya "Aku tidak tau, tapi kurasa Sakura tau"
Mendengar nama Sakura sedikit membuat Sasuke mengingat gadis musim semi itu. Sejak berada di konoha ia belum bertemu langsung dengan Sakura. Ia penasaran bagaimana penampilan gadis itu sekarang, apa masih terlihat lucu dengan pipi yang cuby, atau imut dengan tubuh mungil dan rambut merah muda sebahu atau mengerikan saat marah. Ia tidak tau apa reaksi Sakura ketika bertemu dengannya setelah pergi begitu saja dan muncul lagi setelah empat tahun lebih,
"Apa kau tidak ingin bertemu dengan Sakura?"
Lamunan Sasuke terpecah mendengar pertanyaan shikamaru, tentu saja ia ingin hanya saja..
" Kami sempat khawatir melihat Sakura ketika kau pergi" Shikamaru mulai bercerita, menoleh ke foto kelulusan SMA mereka yang berdiri manis di atas TV "Dia terlihat kacau, bukan seperti Sakura yang kami kenal, ia terus bertanya kemana kau pergi dengan ku, bahkan dia sempat mendatangi rumah lamamu, bertanya ke tetangga, bahkan dia mendatangi Kepala sekolah" Shikamaru menghela nafas sejenak "Sakura lebih sering berdiam diri sampai kelulusan, ku fikir dia sangat kehilanganmu"
Perasaan bersalah Sasuke semakin tak terbendung sekarang. Sasuke sadar telah menyakiti Sakura dengan pergi begitu saja, hanya saja jika ia tidak pergi, ia tidak yakin bisa bersama Sakura lagi.
"Tahun pertama kuliah dia jarang berkumpul bersama, Sakura lebih suka menyibukkan diri, itu yang ku dengar dari Ino. Tapi tahun kedua sampai sekarang Sakura mulai kembali, Bahkan dia sering berkumpul bersama lagi dengan teman-temannya, ku fikir dia sudah melupakanmu"
Kalimat terakhir Shikamaru membuat Sasuke terhenyak batin. Melupakannya?. Sasuke merasakan dadanya sesak, Ia pergi bukan tanpa alasan, ia pergi karna itu harus.
Sasuke menghela nafas, mengatur emosinya "Maksudmu dia sudah punya kekasih?"
"Entahlah, tapi sampai sekarang aku tidak pernah melihatnya dengan pria"
Sedikit kelegaan membuat Sasuke sedikit berharap. Sesaat ia teringat sesuatu. Sasuke sempat mengirimkan pesan beberapa hari yang lalu, saat Sasuke menelphone ia bahkan nyaris memaki pria yang menjawab telphone Sakura, padahal jika waktu Jepang, itu nyaris tengah malam.
Deringan ponsel Shikamaru memecah keheningan di ruangan itu. Shikamaru melirik ke jam dinding, sudah jam 11 malam, siapa yang menghubunginya di waktu seperti ini. Ia langsung menyambar ponselnya yang tergeletak di atas meja. Shikamaru sedikit terkejut saat melihat nama kontak pada ponselnya
"Panjang umur" gumamnya, kemudian menunjukkan ke arah Sasuke.
HARUNO SAKURA calling...
Sasuke tidak tau harus berekspresi seperti apa sekarang, tiba-tiba saja ia menjadi gugup.
"Kau memberi tau mereka aku datang?" tanya Sasuke, Shikamaru langsung menggeleng cepat.
"Untuk apa? kau bilang kau akan membunuhku jika memberi tau yang lain"
"Mau ku angkat tidak?" tanya Shikamaru lagi, Sasuke mengangguk.
"Jangan bilang ada aku"
Shikamaru langsung menekan tombol hijau.
"Moshi-mosi" Shikamaru menjauhkan ponsel dari telinganya, menekan tombol Loadspeaker dan meletkannya di atas meja.
"Berisik sekali"
"SHIKA, KEKASIHMU BERADA DI APARTEMENKU SEKARANG-"
Sasuke merasakan dadanya menghangat, itu suara sakura.
'-TIDAK MEREKA BOHONG'shikamaru mengrenyitkan alisnya mengenali suara itu. Suara Temari.
"Apa yang kalian lakukan di sana, berisik sekali"
'Kami sedang melakukan acara wanita kau tidak akan mengerti' Suara Ino.
'APA KAU TAU, TEMARI BILANG DIA LEBIH MEMILIH DOSEN KAKASHI DARI PADA KAU-'
'-TIDAK MEREKA BOHONG'
'TIDAK AKU BENAR, DIA BILANG KAKASHI MENGAJAKNYA KE FESTIVAL NANTI'
Perempatan muncul di dahi shikamaru, tersulut emosi rupanya "AKAN KU BUNUH KAKASHI JIKA DIA BERANI MENDEKATI KEKASIHKU"
Hening, tidak ada suara lagi dari sebrang sana mendengar triakan Shikamaru, bahkan sasuke yang sedari tadi menikmati suara Sakura terkejut.
'HAHHAAHHA'
'DIA CEMBURU'
'kau kalah tenten, meski tidak romantis tuan Nara ternyata menyayangi Temari' suara Ino
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Shikamaru kesal, wajahnya memerah antara malu dan kesal.
'kau tidak akan mengerti' suara Sakura
'Kau membuatku kehilangan 1000 yen shika' suara tenten
"bukan urusanku, dasar berisik"
Tidak ada reapon dari sebrang telphone, Shikamaru mencoba tenang, tarik nafas buang, tarik nafas buang,
'Jadi, siapa selanjutnya?' Masih terdengar suara dari ponsel shikamaru, sepertinya mereka belum sadar itu.
'Baiklah Kita menghubungi Neji' suara Temari
'Ku fikir dia akan sangat cemburu, Neji meski diam tapi sangat posesif dengan Tenten' suara Sakura
'apa kau yakin, bagaimana dengan Sakura? siapa yang akan kita hubungi?' Suara Ayame
'Tenten matikan ponselnya'
-tut
"Merepotkan" grutu Shikamaru, ia langsung bangkit menuju kamar berniat tidur, meninggalkan Sasuke yang tengah bergelum dengan fikirannya.
.
Matahari menggeleng ketika membiarkan sinarnya masuk ke kamar apartemen yang di huni lima gadis yang tengah tertidur, cerita-cerita tentang keanggunan perempuan rusak jika dunia tau bagaimana posisi para gadis itu tengah tertidur.
Sakura di atas ranjang dengan sebelah kaki kanan menggantung di sisi ranjang dengan kaki kiri berada di atas pinggang Tenten yang tidur telungkup, tangannya berada di atas wajah Ayame, Ayame telentang dengan tangan merentang dengan Temari yang tertidur di atas bokong Tenten sebagai bantal dan menimpah tubuh ayame. Surai berbeda warna mereka berantakan. Kamar yang bernuansa Pink'n'Green yang biasanya tertata rapi begitu kacau nyaris seperti baru terkena gempa.
Temari yang pertama kali merasa terusik saat sayup-sayup suara bel apartemen masuk melalui gendang telinganya. perlahan ia mendudukkan diri, memperhatikan posisi teman-temannya yang begitu menggelikan.
Ting
Tong
Kakinya melangkah perlahan, melewati pintu, rambut blondenya di ikat asal, Temari berdiri tepat di depan pintu, bersiap memutar knop pintu.
Temari mengusap matanya, menoleh-noleh kesetiap sudut lorong apartemen, tidak ada siapapun. Ia mendecih sebal, mengutuk siapapun yang tidak memiliki hal yang lebih penting dari pada mengganggu gadis dengan tidur cantiknya. Temari baru ingin menutup pintu,namun tehenti saat melihat sebuah kotak dan bunga merah muda di depan pintu.
.
"Oh tuhan.." Ino akhirnya membuka suara setelah kesadarannya sepenuhnya terkumpul. Tenten dan ayame yang masih belum sadar sepenuhnya menoleh kearah Ino yang begitu beraemangat melihat benda yang di temukan Temari di depan pintu.
"Kalian tau ini bunga apa?" ino menunjuk ke arah bunga dan bingkisan yang tengah di pangkuan Sakura. Ke-empatnya menggeleng.
"Ini bunga Camelia merah muda"
"Lalu?" ke-empatnya berucap serempak.
"bunga Camellia artinya 'Aku merindukanmu', itu berarti ada seseorang yang sangat merindukan Sakura sekarang" Mereka semua terdiam menatap Ino, mencoba mencerna kalimat yang baru saja mereka dengar. Menatap bergantian, bunga ke Sakura, bunga ke Sakura. Sedangkan Sakura menatap gantian bunga itu kemudian teman-temannya, bunga ke teman-temannya.
"APA!"
.
"Tekanan darahmu baik, semuanya normal, aku sudah meriksa laporan kesehatanmu dari Rumah Sakit jerman, secara Signifikan kau mengalami peningkatan yang cukup baik. Jadi jangan buat dirimu terlalu lelah, tuan Sasuke"
Sasuke keluar dari ruangan dokter yang akan memantau kesehatannya kedepan. Rumah Sakit bukan tempat yang asing untuknya, bahkan ia sampai terbiasa dengan aroma Antiseptik dan obat-obatan yang menjadi ciri tempat itu. Beberapa perawat tersenyum ke arah Sasuke, meski begitu ia tidak terlalu memperdulikan.
Langkahnya terhenti saat mendapati seorang ibu yang tengah menangis di depan ruangan pasien. Itu mengingatkannya saat ibunya menangis ketika mengetahui kondisinya dulu, untuk pertama kalinya saat itu Sasuke melihat ibunya begitu sedih bahkan ayahnya yang notabenya selalu berekspresi datar terlihat begitu sedih. Ah, Sasuke rindu keluarganya.
.
Gelang dengan batu kristal berbentuk bunga Sakura yang saling terhubung melingkar dengan apik di pergelangan tangan kanan Sakura. Ia tidak tau siapa yang mengirimnya tadi pagi, tapi jika di tanya ia sungguh menyukainya, ia bernai bertaruh gelang itu hanya di buat terbatas. Dan lagi, sebuah mainan kecil berbentuk kipas yang tergantung di ujung rantai pengait seperti pernah ia lihat, tapi dimana?
"bunga Camellia artinya 'Aku merindukanmu', itu berarti ada seseorang yang sangat merindukan Sakura sekarang"
ucapan Ino kembali terngiang di kepalanya. Pertanyaan demi pertanyaan terus saja membuatnya menerka-nerka. Siapa? Sasori kah?
Entahlah, ia akan memikirkannya nanti. Sekarang ia harus fokus dengan Dosen Orochimaru di depan. Sakura takut kedapatan tidak memperhatikan dan di kurung bersama ular peliharaan dosen killer itu.
.
"Jadi kau sudah tau siapa yang mengirimi itu?"
Sakura menggeleng pelan menjawab pertanyaan Ayame.
"Tapi kau tau kurasa penggemar rahasiamu itu bukan orang sembarangan, Aku yakin gelang itu tidak bisa di beli sembarang orang"
Ya, sakura tau pasti tentang itu. Hanya saja entah mengapa perasaan gelisah tidak sedikitpun enyah sejak kemarin. Jantungnya terus berdebar-debar, Sakura bisa merasakan perasaan yang tidak begitu ia sukai. Padahal hubungannya dengan Sasori jauh lebih baik sekarang. Sasori lebih sering menghubunginya, mencuri waktu untuk bisa bertemu dengannya.
KRING
Sakura tersentak saat mendengar suara lonceng pintu berbunyi, ia langsung bangkit dari duduknya, mendatangi pria yang membawa sebucket bunga.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Sakura sopan, pemuda yang mungkin masih siswa SMA itu membaca kertas sebelum berbicara.
"Saya mengantar bunga untuk nona Haruno Sakura"
"Dari siapa?" tanya Sakura penasaran, sedikit berharap bahwa Sasori lah yang mengirim bunga itu, Namun jawaban sang kurir membuat rasa penasarannya semakin memuncak.
"Pesanan lewat telphone, dia merahasiakan identitasnya"
Setelah menandatangani surat terima, si kurir itu permisi pergi meninggalkan Sakura dengan bunga berwarna kuning lembut yang di rangkai dengan indah.
"Primrose"
.
Bel yang berbunyi pagi-pagi benar-benar mengusik tidur cantik sakura. Rambut merah muda sepinggangnya terurai sedikit berantakan, mengenakan kemeja kebesaran dengan bawahan celana dalam Sakura membuka pintu apartemennya.
Tidak ada siapapun.
Hanya sebuah kotak yang terbungkus kertas kado berwarna merah muda dengan pita berwarna Hijau dan sebucet bunga berwarna ungu yang terlihay indah. Sakura sedikit membungkukkan badan untuk mengambil kotak itu.
Sakura keluar menoleh ke kanan dan kiri mencari siapapun yang bisa di curigai sebagai pengirim, lagi-lagi tidak ada siapapun
Sakura menghirup aroma menenangkan dari bunga itu, entah kenapa ada sedikit kelegaan dalam dirinya. Ia tersenyum tipis, senang tapi bingung tapi senang.
"Hyacinth"
.
"Yukata?"
Tenten, Ino dan Temari membeo bersamaan setelah mendengar cerita Sakura tentang isi kotak yang di emukannya tadi pagi.
"Itu berarti seseorang mengajakmu pergi kan?" Tenten mencoba menerka.
"Aku tidak yakin"
"Kau harus yakin Sakura, bukankah itu bagus. seingatku kau tidak memiliki pasangan untuk pergi kan?" sahut Temari
"Iya, tapi kan..."
"Tapi tunggu, aku sepertinya pernah melihat benda ini" Ino mengangkat lengan Sakura, menunjuk ke arah gantungan berbentuk kipas.
"Benar, tapi di mana ya?" Semua tampak berfikir.
Drrt
Drrt
Sakura menarik tangannya dari Ino, merogoh ponselnya yang bergetar di dalam kantong celana, sekilas Sakura melihat nomor pemanggil, menekan tombol hijau dan menempelkannya pada telinga.
"Moshi-moshi... Benarkah?... Baiklah... Sedang berkumpul dengan teman... ya, Sampai nanti"-tut
Wajah Sakura berubah semringah " Bagaimana jika kali ini kalian aku traktir"
.
Sejak siang Sakura tak sekalipun melunturkan senyumnya. Siang tadi Sasori menghubunginya, memberitahu Sakura bahwa pemuda itu akan kembali bermalam di apartemen miliknya. Sakura bekerja lebih awal dua jam di kedai Ichiraku, dan meminta pulang lebih awal tentunya untuk menyiapkan Sasori sesuatu untuk cemilan mereka nanti malam.
Sakura melirik pada jam yang tergantung manis di dinding ruang tengah, masih pukul 9. Masih ada banyak waktu untuk Sakura bersiap-siap. Ia tidak tau, tapi entah kenapa hari ini kebahagiaannya terasa berlipat-lipat padahal sudah sering berdua dengan pemuda itu. Sakura ingin selalu tertawa, bahkan ia tanpa sadar tersenyum-senyum sendiri.
Tiba-tiba saja ia berubah jadi gugup, Sakura mengangkat kedua tangannya, memastikan tubuhnya tidak bau, menatap dirinya pada cermin, memastikan tidak ada kesalahan dalam penampilannya.
Sakura kembali memeriksa setiap ruangan, memastikan tidak ada benda memalukkan yang bisa membuatnya memilih melompat dari gedung. Langkahnya terhenti, memandangi cukup lama pohon hiasan tanpa daun yang berdiri rapi di sudut ruang tengah. Aneh, dia berdebar-debar.
TING
TONG
Sakura tersentak, lamunannya buyar. Ia kembali melirik jam di dinding. Masih pukul sepuluh kurang. Padahal ia ingat Sasori bilang akan sedikit terlambat karna ada hal yang harus di lakukannya, Sakura tak mau tau apa itu. Ia tau itu akan menyakitinya, jadi lebih baik tidak tau.
Sakura tak ambil pusing, ia kembali memperhatikan refleksi diri pada Ponselnya. menarik nafas dalam-dalam. Melangkah perlahan menuju pintu apartemennya, Bel rumah kembali terdengar.
Pintu yang perlahan terbuka, perlahan pula melunturkan senyumnya, tubuhnya membeku di tempat, emeraldnya menatap lurus ke arah seseorang yang berdiri di depannya. Waktu terasa berhenti, lidahnya keluh, kakinya terasa lemas. Dia tidak mungkin salah, wajah itu, sepasang onyx itu, model rambut itu, tatapan itu, dan perasaan ini..
"Sa-su-ke?"
.
.
.
.
.
TBC.
A/N
yeah.. Akhirnya selesai juga chap. 2. Tepar. Sebelumnya miyu ucapin terimakasih untuk yang udah bersedia membuang waktunya dan membaca fanfict tidak bermutu ini (Pundung di sudut ruangan).
Oke, kembali ke cerita. Miyu gak mau terlalu terburu-buru, jadi ecek-eceknya agak di buat penasaran gimana reaksi Sakura pas liat Sasuke dan gimana janjinya sama Sasori. Ah gitu lah.
Makasih yang udah ninggalin review di chap sebelumnya. pertanyaan readers udah di jawab yah...
Baiklah, mohon reviewnya untuk chap ini.
See yaa...
