Sakura tak ambil pusing, ia kembali memperhatikan refleksi diri pada Ponselnya. menarik nafas dalam-dalam. Melangkah perlahan menuju pintu apartemennya, Bel rumah kembali terdengar.

Pintu yang perlahan terbuka, perlahan pula melunturkan senyumnya, tubuhnya membeku di tempat, emeraldnya menatap lurus ke arah seseorang yang berdiri di depannya. Waktu terasa berhenti, lidahnya keluh, kakinya terasa lemas. Dia tidak mungkin salah, wajah itu, sepasang onyx itu, model rambut itu, tatapan itu, dan perasaan ini..

"Sa-su-ke?"


Naruto©Masashi Kishimoto

A Choice


Perasaan canggung seakan menyelimuti ruangan tengah milik gadis bermarga Haruno itu. Sakura mencoba menipu dirinya dan dunia dengan memperlakukan Sasuke solah-olah pemuda itu adalah teman yang sudah lama tidak bertemu. Sakura tersenyum canggung, mempersilahkan Sasuke duduk dan permisi ke dapur utnuk membuatkan minum

Sasuke langsung menahan pergelangan Sakura untuk menghentikan langkah gadis itu. Ia tidak bodoh, meski Sakura bersikap seolah-olah baik-baik saja, ia tau gadis itu mencoba menahan diri untuk tidak meledak-ledak ke arahnya.

"Saki.." panggilnya pelan.

Sakura masih tidak ingin menoleh, meski sejujurnya ia begitu ingin memeluk pemuda itu, mengatakan bahwa ia merindukan Sasuke. Merindukan kehadiran pemuda itu dan bertanya mengapa Sasuke pergi. Tidak, Sasuke hanyalah pemuda brengsek yang membuatnya terbiasa dengan hadirnya pemuda itu, membuat Sakura meletakan seluruh hatinya dan di tinggalkan begitu saja.

Sakura memutar tubuhnya, dengan pergelangan tangan kirinya yang berada di genggaman Sasuke. Ia menatap pemuda itu, menatap dengan kebencian dan perasaan terluka

PLAK

Nafas Sakura memburu setelah mendaratkan sebuah tamparan yang sepertinya membuat Sasuke tidak terkejut. Dengan kasar ia melepaskan tangannya, melangkah memberikan jarak di antara mereka.

"Kau Uchiha Sasuke" Sakura berucap dengan jari menunjuk-nujuk pemuda itu "KAU PEMUDA BRENGSEK"

Lepas sudah makian yang sedari tadi tertahan oleh gadis itu. Sasuke memilih diam, menatap sendu Sakura yang mulai terisak dengan wajah penuh dengan kemarahan

"KAU TAU APA YANG TELAH TERJADI DENGANKU? KAU DENGAN SEGALA KESOMBONGANMU ITU BERFIKIR BAHWA AKAN BAIK-BAIK SAJA MENINGGALKAN HARUNO SAKURA DAN KEMBALI LAGI HA?" Sakura menjerit frustasi, tidak perduli jika seseorang mendengarnya berteriak.

Demi Tuhan, Sasuke merasakan sesak di dadanya. Ia perlahan mendekat. Namun terhenti ketika Sakura memberikan kode dengan tangannya.

" jangan dekati aku"

"Sakura.."

"JANGAN DEKATI AKU UCHIHA" Sakura melemparkan Vas bunga yang langsung di tangkis oleh Sasuke.

Sakura berjalan ke arah rak buku, mencari benda yang bisa ia lemparkan ke arah Sasuke, seolah melampiaskan kemarahannya yang dia tahan selama empat tahun lebih ini.

"KAU BRENGSEK, KAU MEMBUATKU TERBIASA DENGAN MU KEMUDIAN PERGI BEGITU SAJA, KU SASUKE BAJINGAN" Sakura terus melempari buku-buku miliknya dengan membabi buta, Airmatanya sudah mengalir tanpa henti, ia sesekali terisak mencoba melampiaskan perasaan sesak di dadanya.

Seolah menerima itu semua, Sasuke mencoba menerima semua lemparan buku yang di hujamkan Sakura, tak perduli saat jilid buku tebal yang mendarat cukup membuatnya merasakan sakit. Ia terus mendekat, namun Sakura tetap menghindar dengan melempar benda apapun yang ia temukan.

"Sakura dengarkan aku.."

"TIDAK" pandangan Sakura sedikit kabur akibat airmata yang membendung, mencoba membrontak saat Sasuke mencekram kedua pundaknya. Tangannya meraba mencari apapun yang bisa ia gunakan untuk melempar pemuda itu.

Bhuk

Sasuke terdiam saat merasakn ujung jilid buku menyentuh dahinya dengan kasar, ia bisa merasakan perih dan sesuatu yang hangat mengalir perlahan. Ia menatap Sakura, bukan marah. Ia bingung saat melihat wajah gadis yang di cintainya itu terlihat terkejut dan merasa bersalah.

.

"Maaf"

untuk kesekian kalinya kata itu terucap dari bibir Sakura saat mendengar ringisan Sasuke ketik ia membersihkan luka di kepalanya. Lukanya tidak begit parah, hanya tergores karna ujung jilid buku, tapi tetap saja harus di bersihkan.

Sakura menatap Sasuke tidak suka saat pemuda itu tersenyum ke arahnya "Berhentilah tersenyum"

"Tapi kau lucu Saki, Beberapa saat yang lalu kau berniat membunuhku, sekarang kau malah mengobatiku..ittai" Sasuke meringis saat Sakura sengaja menekan lukanya.

"Aku calon dokter jika kau belum tau" Sakura menempelkan plaster setelah luka sasuke bersih "Tugasku menyembuhkan, jadi sudah menjadi tugasku untuk mengobatimu"

"Bukan karna kau perduli denganku?

Gerakan Sakura terhenti. Tentu saja ia perduli dengan pemuda itu. Bagaimanapun juga ia tetap tidak bisa membenci Sasuke, tetap saja, seperih apapun luka yang di berikan pemuda itu akan terlupakan saat Sasuke tersenyum memohon kepadanya. Ia tidak memunafikan, perasaan itu masih ada.

"Bukan" dustanya.

Sakura bangkit, meletakan kembali kotak P3K ke lemari. Ia menghela nafas menyadari ruangan itu sudah tidak lagi menunjukkan kerapian, padahal ia sudah membersekan apartemennya sejak Sore. Bagaimana jika Sasori melihatnya nanti?

TING

TONG

ASTAGA, SASORI !

Batin Sakura panik, ia lupa jika memiliki janji dengan kekasihnya itu. Tapi, Sasuke?

"Biar aku saja yang buka" Sasuke bangkit dari duduknya, yang dengan cepat di tahan oleh Sakura, menarik pemuda itu ke kamar.

"Ada apa?"

"Kau tunggu disini" Sakura yang ingin pergi tercekat oleh tangan Sasuke.

"Siapa itu?"

"Bukan urusanmu"

"tentu saja itu urusanku. Aku harus tau siapa yang berkunjung ke apartemen gadis ku saat tengah malam"

Sakura menautkan kedua alisnya, menatap aneh Sasuke ketika mendengar kata 'Gadis-ku'

"Gadisku?"

"Ya, kau gadisku"

"Dengar ya Uchiha Sasuke, empat setengah tahun kau meninggalkanku tanpa kabar" Jelas Sakura " Empat setengah tahun, kau tau artinya It's over"

"Tidak, bahkan tidak ada kata putus dari kita"

"Istri yang di tinggal selama enam bulan tanpa kabar dari suaminya itu artinya cerai. Kau tau cerai" Sakura menekan kan kata cerai dengan mimik tegas sebanyak dua kali.

TING

TONG

Sasuke kembali menahan langkah Sakura "Tidak, aku kembali untukmu. Kau fikir aku akan membiarkan mu pergi. Tentu kau tau kalau Uchiha selalu.."

"-Uchiha selalu mendapatkan apa yang mereka mau, Aku tau Uchiha" Potong Sakura kesal. Ia tau slogan keluarga Uchiha yang selalu ia dengar dulu dari mulut pemuda itu.

"Jadi kau masih gadisku"

"tidak"

"iya"

"tidak"

TING

TONG

"Iy-"

"oke-oke" Sakura menarik nafas, menjepit pangkal hidungnya frustasi. perdebatan ini tidak akan berakhir dan sekarang Sasori sudah menunggu di depan pintu.

"Begini saja, Jika kau tetap menunggu di kamarku dan menjadi anak baik, Aku akan pertimbangkan itu, Setuju?"

"Tidak"

Ingin sekali rasanya Sakura meninju wajah yang sialan tampan itu. Emosinya bahkan belum tandas karna kehadiran Sasuke, pemuda itu tetap menyebalkan. Ia tidak tau apa yang harus di lakukan sekarang. Biarkan saja Sasuke membuka pintu dan melihat Sasori? toh Sasuke tidak mungkin kenal dan mengetahui statusnya.

ide bagus

Tapi bagaimana jika Sasuke berniat kuliah di kampusnya dan mengetahui bahwa dia berstatus kekasih gelap. Astaga! tidak itu tidak boleh. Sakura terkurung dalam fikirannya.

Sedangkan itu Sasuke menautkan kedua alisnya bingung melihat gadis yang terlihat lebih dewasa itu memasang wajah yang berubah-ubah, sebentar tersenyum, sebentar merengut.

Ting

Tong

Bel kembali berbunyi untuk yang kesekian kalinya, kali ini Sasuke tak perlu menunggu persetujuan gadis-nya itu. Alaram bahaya langsung berbunyi di otak Sakura ketika Sasuke berjalan ke arah pintu, ia langsung bergerak cepat. Namun tetap saja, kekuatan Sasuke jauh lebih besar, Sakura sudah di tarik ke kamarnya dan di kunci dari luar.

"Sasuke... buka pintunya, kau tidak punya hak melakukan itu" bentak Sakura, ia terus mendobrak-dobrak pintu dengan emosinya.

Sasuke tak menanggapi teriakan dan dobrakan di belakangnya, ia melangkah dengan Emosi bersiap mengenyahkan si sialan yang bertamu di apartemen gadisnya malam-malam begini.

'Jauhi gadisku siapapun kau, Sakura hanya milikku'

Ia bersumpah, jika si brengsek yang mengangkat telphonenya beberapa hari yang lalulah yang berada di depan pintu, ia tidak akan peduli seandainya semua penghuni apartemen ini terbangun karna perkelahian. Sekali putaran, Bunyi 'Ceklek' dari pintu yang terbuka menampakkan sang tamu.

.

"Sasuke sialan.. Brengsek...Pantat ayam..Teme sialan..." makian demi makian entah sudah berapa kali mengotori lidah Sakura. Ia terus saja menendang-nendang pintu kamarnya sendiri sejak tadi. Entah apa yang akan terjadi jika Sasuke bertemu dengan Sasori mengingat si pantat ayam itu paling tidak suka jika miliknya di sentuh. Eh? Sakura langsung menggeleng-gelengkan kepalanya, mengenyahkan fikiran bahwa dirinya masih milik Sasuke.

Pemuda itu lah yang membuat Sakura merasa depresi seperti orang gila, Sasuke pergi begitu saja, membuatnya menjadi manusia bodoh yang terus bertanya apa yang telah ia lakukan sehingga Sasuke melakukan itu. Bahkan Sasuke lah yang membuatnya seperti penderita Tantophobia, mencintai seseorang dan takut kehilangan, membuatnya mencintai Sasori dan tidak ingin kehilangan pemuda itu.

Sakura mendudukkan dirinya, bersandar pada sisi kasurnya. rasanya kepalanya ingin meledak, ia tidak tau apa yang tengah terjadi di luar, apa yang akan di lakukan Sasuke atau apa yang Sasori lakukan jika melihat Sasuke berada di apartemennya.

"Akhhh, kenapa jadi serumit ini?" ucap Sakura frustasi. Ia melipat kakinya ke dada, menenggelamkan kepalanya. Bahkan hubungannya dengan Sasori sudah cukup rumit, dan kembalinya sasuke kekehidupannya membuat semuanya menjadi semakin rumit. Entah apa yang akan terjadi lagi? Mungkin akan semakin rumit jika Ino tau hubungannya.

CEKLEK

Sakura mengangkat wajahnya saat mendengar pintu kamarnya terbuka, ia langsung bangkit saat Sasuke berdiri dengan seseorang yang bahkan baru saja ia fikirkan.

"Ino?"

.

'Pembicaraan perempuan?'

Sasuke kembali menghela nafas mengingat ucapan Ino sebelum menutup pintu kamar Sakura, tidak membiarkan pemuda itu ikut dalam pembicaraan serius mereka. Ia memilih mengitari ruangan dengan pandangannya, ruangan yang sudah berserakan buku-buku di lantai. Tidak banyak yang berubah dari Sakura selain Rambut merah muda yang sudah sangat panjang, bahkan membuat gadis itu terlihat sangat cantik dan dewasa.

Pandangannya terhenti pada pohon tanpa daun yang terletak di ujung ruangan. Sasuke mlangkahkan kakinya, mendekati hiasan itu. Sebuah senyum tipis terulas di wajahnya.

"Kau masih menyimpannya" gumamnya.

Sasuke mengangkat tangannya, menyentuh ranting-ranting yang hampir menyamai tingginya, Ranting yang seharusnya menjadi tempat lembaran foto mereka dulu. Menjadikan gambaran mereka sebagai daun pohon itu. Sasuke masih ingat pertama kali Sakura mencetuskan ide itu, mengumpulkan semua kertas foto mereka dan mengaitkannya pada setiap ranting. Gadis itu bahkan selalu membawa kameranya kemanapun, seolah candu untuk meletakan foto baru pada dahan itu. Sekarang, ranting itu kosong, tidak ada lagi lembaran foto mereka. Apa Sakura sudah membuangnya? apa Sakura sudah tidak mencintainya? apa Sakura sudah tidak lagi menyimpan kenangan mereka? berbagai pertanyaan 'apa' terus bergulam dalam fikirannya.

Sasuke melangkahkan kakinya ke dapur berniat mengalirkan air ke kerongkongannya yang kering. Membuka kulkas, ia menautkan kedua alisnya melihat banyaknya makanan di dalamnya. Sakura tinggal sendiri, tapi kenapa banyak makanan dan minuman? Pertanyaan itu ia simpan sendiri, mengambil air botol air mineral dingin, Sasuke teringat sesuatu, meletakkan kembali dan menutup kulkas. Memilih air mineral dengan suhu normal.

.

Sakura berjanji akan lebih mengontrol isi fikirannya sekarang, ia tidak tau harus mengatakan apapun saat Ino datang dan menatapnya meminta penjelasan yang bahkan ia tidak tau tentang apa. Ini hampir tengah malam dan datangnya Ino secara tiba-tiba membuat fikirannya bertanya-tanya.

"Aku bertemu Sasori tadi" kalimat yang keluar dari bibir tipis Ino sepontan membuat Sakura membulatkan matanya terkejut. Apa Ino...

"Ya, aku sudah tau semuanya Sakura" Ucap Ino seolah tau apa yang di fikirkan Sakura sekarang.

"Bagaimana bisa?" tanya Sakura ragu-ragu. Demi apapun, ia seperti pembunuh yang tertangkap basah sekarang. Ino sahabatnya sejak dulu, dan Ino lah yang paling tau bagaimana dirinya saat di tinggal Sasuke dulu, tapi ia tidak tau jika sahabatnya itu mengetahui hubungannya dengan Sasori.

Ino meraih tasnya yang di letak di sebelah dirinya, ia merogoh mengambil sebuah kertas foto dan menunjukkannya ke arah Sakura.

" Aku menemukannya di lipatan buku di meja belajarmu saat kita pesta pyiama kemarin, Secara bukti ini membuat kecurigaanku belakangan ini benar"

Sakura membisu seketika, jantungnya bahkan sudah tidak lagi berdetak sebagaimana mestinya, ia mengambil foto itu dari tangan Ino, fotonya bersama Sasori saat malam pertemuannya di kedai Ichiraku.

"Ayame juga bercerita saat kau tiba-tiba saja meninggalkan kami di Cafe kemarin soal cara kau melihat Sasori ketika di Ichiraku"

Sakura mengangkat wajahnya, menatap ke arah Ino terkejut.

"Kami tidak buta Sakura, Bahkan Tenten juga melihat nama Sasori di ponselmu saat di cafe, atau ketika aku melihat mobil Sasori terparkir di depan gedung apartemen ini"

Ino menghela nafasnya berat saat melihat Sakura yang tertunduk sedih.

"Aku, tenten bahkan ayame sudah mencurigai itu, bahkan ketika kau bersikap takut-takut saat tenten ingin masuk ke kamar mandi mu membuat dugaan kami semakin kuat"

'Entahlah, Sasori barangkali'

Ucapan Ino beberapa hari yang lalu yang ia kira bercanda seolah menyadarkannya bahwa mereka sudah mencurigainya. Sakura merasa bodoh sekarang.

Ino menggerakkan kedua tangannya, meletakkannya di atas kedua tangan Sakura yang mencekram ujung bajunya "Sakura.." Panggilnya, Sakura mengangkat wajahnya, menatap iris Aquamarine yang selalu menjadi sahabat terdekatnya.

"Kau punya pilihan untuk melupakan Sasuke dulu, tapi jika mencintai Sasori dan menjadi perusak dalam hubungan mereka itu bukan pilihan Sakura" Ucap Ino pelan,

"Lalu apa? kembali kepada brengsek itu dan bersiap di tinggalkan lagi?" Sakura sudah tidak bisa menahan air matanya lagi. Sakura tau ia salah menjadi orang ketiga dalam hubungan Sasori. Tapi, pemuda itu lah yang membantunya terlepas dari cengkraman Sasuke. Sasori lah yang membuatnya kembali merasa hangat saat Sasuke dengan seenaknya menghilang.

Ino mencoba menenagkan diri, Ino mengerti apa yang tengah di rasakan Sakura sekarang "Ku fikir Sasuke memiliki alasan mengapa ia memilih pergi. Apa kau sudah menanyakannya?"

"Tidak perlu ada yang harus di tanyakan Ino"

"Aku tau kau marah Sakura. Ya, Sasuke memang brengsek karna meninggalkanmu begitu saja. Tapi coba kau fikir, Jika memang dia tidak memiliki alasan, kenapa Sasuke kembali?"

"Karna dia brengsek" jawab Sakura sekenanya.

"Sangat brengsek" sambung Ino. Keduanya tertawa pelan.

"Dengarkan aku Sakura, ini hidupmu, kau yang menentukan bagaimana kebahagiaanmu terbentuk. Jika kau membenci Sasuke dan memilih melupakannya itu hakmu Sakura, tapi jika kau memilih tetap bersama Sasori coba kau tanyakan pada dirimu sendiri, Apakah Sasori akan meninggalkan Tayuya suatu saat dan memilihmu?"

Sakura terdiam, mencoba menanyakan pada dirinya sendiri. Ia tidak tau, ia bahkan tidak tau apa Sasori akan terus bersamanya setelah bertunangan dengan Tayuya. Ia ragu.

"Aku tidak memihak pada siapapun, aku memihak pada Sakura sahabatku. Bagaimana pun aku tetap tidak suka sahabatku menjadi orang ketiga, Sakura" Tambah Ino, ia tersenyum menarik Sakura kedalam pelukkannya. Sakura memang selalu terlihat tegar, namun ia tau, Sakura begitu rapuh dari dalam

"Ino.." panggil Sakura pelan, yang di tanggapi gumaman oleh gadis pirang itu.

"Tapi aku mencintai Sasori, aku tidak ingin kehilanganya..Hiks..." Tangisan Sakura kembali pecah, menyembunyikannya di balik lipatan bahu Ino. Bagaimana pun ia tetap mencintai Sasori, meski ada perasaan yang kembali setelah bertemu Sasuke. Tapi tetap saja, ia masih membenci pemuda itu.

Ino mengelus lembut pundak Sakura yang bergetar, mencoba memberi ketenangan "Aku tau, Tapi bolehkah aku bertanya sesuatu?"

Sakura mengangguk

"Apa kau masih mencintai Sasuke?"

Tidak ada jawaban dari Sakura, Ia sendiri tidak tau harus menjawab apa. Sakura tidak tau.

"Sudah tidak apa, Pilihan ada di tanganmu" Ino melepaskan pelukannya, meletakan kedua tangannya di bahu Sakura "Apapun itu, pilihlah sesuatu yang memang patut kau pilih, mengerti" Ino menarik pipi cuby Sakura, membuat si empunya meringis dan memukul pelan tangan gadis itu. Mereka tertawa bersama.

Sakura merasa jauh lebih lega dengan adanya Ino di sisinya. Ia kira Ino akan memakinya dan memandang jijik karna Sakura rela menjadi orang ketiga. Mereka tertawa bercerita bersama melupakan seseorang yang menunggu mereka.

"Jadi, Kau mencoba membunuh sasuke dengan buku?" tanya Ino, mengingat saat ia masuk, ruangan tengah berantakan dan terdapat luka di dahi Sasuke.

Sakura mengangguk, Ino tertawa mengingat pepatah yang mengatakan 'buku adalah jendela dunia' dan Sasuke nyaris mati karna itu.

Ino pulang setelah Sai menjemputnya. Bahkan Sakura sekarang di buat lupa akan Sasori. Sakura melangkah masuk, dan mendapati Sasuke yang sudah tertidur di Sofa ruang tengahnya. Langkah perlahan, Sakura mejongkokkan diri, menatap wajah tampan tapi brengsek Sasuke yang begitu tenang, dengkuran halus terdengar menandakan sang pemuda memang tengah tertidur.

Dengan pelan Sakura menyentuh plaster luka yang menutupi hasil perbuatannya tadi, ada sedikit perasaan bersalah. Tidak banyak yang berubah dari Sasuke, ia tetap pemuda tampan tapi brengsek yang mempesona. Hanya rambutnya saja yang sedikit lebih panjang, namun tetap mencuat kebelakang, model yang aneh tapi membuat pemuda itu keren. Awalnya Sakura ingin membangunkan Sasuke, tapi ia urungkan melihat garis lelah di wajanya. Sakura bangkit, menuju kamar, mengambil selimut dan bantal. Dengan hati-hati Ia mengangkat kepala Sasuke, menyelipkan bantal,

"Ahhh" Tangan Sasuke yang menahan pergerakannya membuatnya terkejut setengah mati. Perlahan kelopak Sasuke terbuka, memperlihatkan sepasang Onyx mempesona. Jantung Sakura benar-benar hampir Copot.

Sasuke tersenyum, lebih tepat menyeringai ke arah Sakura "Ciuman sebelum tidur?"

Wajah Sakura terasa memanas mendengar suara serak nan menggoda Sasuke, jantungnya semakin berdebar. Ia langsung menarik bantalnya, membekap wajah Sasuke.

"Mati saja kau" ucapnya, kemudian pergi dengan kaki menghentak-hentak kesal.

BLAM

Suara pintu yang terbanting membuat Sasuke terkekh pelan, ia menarik bantal dari wajahnya, menghirup aroma cerry yang tertinggal dari Sakura.

"Belum berubah" gumamnya, sebelum benar-benar tertidur.

Flash back

(Pertemuan Ino dan Sasori sebelumnya)

Ino langsung melangkah sedikit terburu-buru ketika mengetahui Sakura pulang kerja lebih awal. Ino masih berada di apartemennya ketika teringat soal gantungan gelang berbentuk kipas yang ia lihat di pergelangan Sakura. Itu simbol klan, simbol klan Uchiha. Itu membuatnya yakin jika Sasuke telah kembali, dan di perkuat dengan temari yang menghubunginya, memberi tahu bahwa Sasuke beberapa hari ini menginap di apartemen Shikamaru dengan adanya ransel Backpeeker yang Temari temukan. Ia sudah menghubungi Sakura, namun tidak tersambung. Bahkan ia yakin jika Sasori berada di apartemen gadis itu.

Langkah kakinya melambat saat melihat pemuda yang sangat ia yakini adalah Sasuke, ia memilih memperhatikan dari jauh ketika Sasuke masuk ke gedung apartemen Sakura. Biarlah mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri, fikirnya. Ino baru mau merogoh tas kecilnya memgambil ponsel untuk menghubungi Sai. Namun terhenti saat melihat mobil yang sangat ia kenali masuk ke parkiran Apartemen Sakura.

Gawat, pasti akan ada perang dunia jika Sasuke bertemu dengan Sasori. Ino langsung mempercepat langkahnya ketika Sasori sudah masuk ke gedung apartemen, ia berlari, mencoba mendekatkan jarak.

"Sasori.." panggilannya terdengar. Sasori menghentikan langkahnya sebelum menaiki tangga, Terlihat wajah pemuda itu terkejut saat mendapati Ino yang memanggilnya.

Ino masih mencoba mengatir nafas.

"I-Ino, Ha-hai" sapa Sasori gugup.

"Kita harus bicara"

Awalnya Sasori ingin menolak ajakan Ino, namun ia khawatir jika Ino malah mengikutinya jika menolak. Dengan berat hati, Sasori menurut, melangkah beriringan menuju parkiran.

"Ada apa?" tanya Sasori bas-basi, melihat itu Ino sedikit naik pitam. namun mencoba bersikap biasa.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Ino, ia bisa melihat Sasori sedikit kebingungan menjawabnya.

"Bertemu Sakura?"

Sasori memandang kaget kebarah Ino, namun tidak ada gunanya berbohong.

"Dari mana kau tau?

Ino tersenyum getir " tidak biasanya Sakura pulang awal saat bekerja, lagi pula aku sahabatnya. tentu aku tau"

"Jadi kau sudah tau semuanya?"

Kena kau Sasori "Awalnya belum, mendengar kau bertanya seperti itu, sekarang aku sudah tau" jawab Ino mencoba tenang, meski didalam hati ingin sekali rasanya menjambak rambut merah itu. Siapa yg tidak emosi jika sahabatnya di jadikan selingkuhan. tangannya sudah gatal.

Ino menarik nafas perlahan, mencoba menenangkan diri "Apa yang kau inginkan dari Sakura?"

"Apa maksudmu?"

"Apa kau mencintai Sakura?"

"Aku sangat mencintai Sakura, kau puas?"

"Kalau begitu tinggalkan Tayuya"

Sasori merasa tenggorokannya tercekat mendengar kalimat Ino. Ia terdiam. Membat Ino semakin yakin kalau Sasori tidak akan meninggalkan Tayuya.

"Kalau kau tidak bisa meninggalkan Tayuya, tinggal kan Sakura"

"Kau bercanda, Aku mencintainya. Aku tidak akan melepaskannya"

"Apa kau tau, kau hanya akan menyakiti Sakura jika terus menjadikannya selingkuhanmu" suara Ino naik beberapa oktaf "Aku tidak berhak melarang Sakura untuk mencintaimu, tapi kau hanya akan menyakitinya jika menjadikan Sakura selingkuhanmu"

"itu bukan urusanmu Yamanaka"

"Aku sahabatnya, Sasori, itu menjadi tanggung jawabku"

"terus apa? ku ingin menyebarkan gosip murahanmu jika kami berselingkuh?"

"Aku memang ratu gosip, tapi aku tidak bodoh menggosipkan sahabatku sendiri"

"Kalau begitu urusi saja urusanmu" Sasori berniat meninggalkan Ino, namun terhenti saat tangan Ino menahan pergelangan tangannya

"Sakura tidak sendiri sekarang, teman-teman kuliahnya datang saat tau dia pulang lebih awal" bohong Ino. Meski begitu ia tidak mungkin mengatakan Sasuke ada di Sana. Sasori melepaskan tangan Ino sedikit kasar. Emosinya tersulut, ia melangkah menuju mobilnya, pergi dengan perasaan marah.

Sedangkan Ino memilih mendatangi Sakura, ia harus membicarakan hal ini. Bahkan ia tidak bisa menunggu besok, Gadis pirang yang selalu diikat pony-tail itu yakin pasti ada perang di sana sekarang.

Ino tidak lagi menghitung sudah berapa kali ia menekan bel apartemen Sakura. Kekhawatiran seketika membuatnya berfikir yang tidak-tidak, Apa Sakura sudah membunuh Sasuke dan sedang menyembunyikan mayatnya? Ah, Sakura mengerikan jika marah.

Perlahan pintu terbuka, Ino bernafas lega karna ternyata Sasuke masih hidup.

"Kau.." Sasuke mencoba mengingat, "Temannya Sakura kan?"

"Hai, Sasuke lama tidak bertemu" Sapanya, Ino langsung nyelonong masuk. kedua alisnya mengerut melihat ruangan tengah Sakura seperti baru terkena gempa.

"Aku terkejut kau masih hidup Sasuke, Ku fikir sekarang Sakura sedang menyembunyikan mayatmu"

"Hn"

Ino melirik sekilas, ternyata tidak berubah, fikirnya. Ino menoleh mencari Sakura.

"Dimana Sakura? kau tidak membunuhnya kan?" tanya Ino selidik.

Sasuke memutar bola matanya bosan "Dia di kamarnya"

Mengetahui itu, Ino langsung berjalan menuju kamar Sakura, memutar kunci, dan menekan knop pintu. Ia bisa melihat Sakura tengah pundung, bersandar pada tempat tidur.

"Ino?"

"Sakura, ada yang harus kita bicarakan"

Ino menoleh ke arah Sasuke yang masih setia berdiri di sampingnya seolah ingin tau. yang di lihat tak ambil pusing, Sasuke tetap kekeh berada di situ. Melihat tak ada kepekaan sang Uchiha, Ino mendorong Sasuke keluar,

"Kau tunggu saja di luar, Ini pembicaraan perempuan"

BLAM

pintu tertutup.

Flashback end.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC


A/N :

Uahhh, akhirnya update juga. Makasih untuk yang udah ninggalin reviewnya. Tau kah para readers satu review adalah obat semangat untuk miyu.

Oke, sebelumnya miyu minta maaf karna, miyu hanyalah penulis amatir yang mencoba menyalurkan bakat. Jika ada ketidak sukaan para readers miyu gak maksa untuk suka.

Jadi, miyu buat alur ceritanya sesuai imajinasi dan kejadian kawan yang sekarang udah bahagia.

Dan terimakasih juga yang udah rela memberi waktunya untuk singgah di hati miyu, eh cerita maksudnya.

Oke see yaa

Review?