Perasaan itu berubah,
Atau mungkin tidak pernah berubah?
Hanya saja kau berfikir bahwa itu adalah cerita yang baru.
Terlukis meninggalkan waktu yang membelenggu,
Menari melupakan lembaran usang.
Tidak, Cerita itu terulang saat waktu memutar
Kau fikir semua berubah.
Tidak, mereka tetap sama.
Dan ketika waktu dan takdir bekerja sama
Kau menyadari tidak pernah ada yang berubah.
Namun kau menipunya...
Naruto©Masashi Kisimoto
A Choice
Kedua kelopak sang onyx mengerjap tak nyaman, perlahan terbuka mencoba menyesuaikan retina dengan cahaya ruangan di sekitarnya, Sasuke bangkit dari tidur tak nyamannya, punggungnya sedikit sakit karna posisi yang buruk untuk tidur. Jarum jam masih menunjukkan pukul 5 pagi kurang, Sasuke memilih tidak melanjutkan tidurnya, buku-buku hasil kemarahan Sakura tadi malam ia punguti, kembali tersusun rapi di raknya.
Sasuke menekan pegangan pintu kamar Sakura, ia cukup terkejut karna tak terkunci. Langkahnya di buat setenang mungkin, sinar bulan yang masuk ke ruangan itu menjadi satu-satunya pencahayaan yang menjaga langkahnya agar tak menabrak sesuatu. Aroma cerry yang menyeruak lembut memberikan ketenangan sendiri untuknya. Di atas kasur, di ujung sisi, Sakura tertidur dengan posisi miring dengan sisi kanan. Sasuke mendekat, menarik selimut yang menggulung di bawah, menariknya sampai batas bahu gadis Haruno itu. Ia mendudukkan dirinya, menyamakan posisi kepalanya dengan wajah Sakura.
Secara otomatis tangannya bergerak menyingkirkan helaian merah muda yang menutupi pahatan karya Tuhan itu. Wajah cantik dan tenang itu awalnya membuat Sasuke tersenyum, namun pudar ketika mendapati bulu mata Sakura sedikit basah dengan jejak air mata yang tertinggal.
"Maafkan aku, Saki" ucap Sasuke pelan, Sasuke mendekatkan kepalanya perlahan, menyentuh kening sakura dengan bibirnya lembut, melepaskannya perlahan berharap tak mengusik tidur nyaman Sakura. Namun perkiraannya salah, kelopak Sakura perlahan mengerjap, menampilkan emerald dengan tatapan mengantuk dengan sebuah senyuman.
"Selamat pagi, Sasuke"
Sasuke yakin bahwa Sakura tidak dalam keadaan sepenuhnya sadar saat mengucapkan sapaan itu, Jadi Sasuke hanya diam, saling menyatuhkan pandangan keduanya. Sasuke mengangkat tangannya, menyentuh lembut permukaan kulit pipi sakura.
Kedipan demi kedipan perlahan mengumpulakn kesadaran Sakura, wajah tampan Sasuke menjadi hal yang pertama kali ia tangkap, pria itu akhirnya kembali, kembali dan sekarang berada di kamarnya dan...
Bhuaang
Sakura terkejut dan secara refleks mengayunkan kepalannya ke wajah Sasuke, pemuda itu terpental kebelakang saat secara tiba-tiba. Seketika itu juga Sakura sadar apa yang baru saja ia lakukan.
"Astaga Sasuke!"
.
Sasuke kembali mendongakkan kepalanya, mencoba menghentikan darah yang sedari tadi mengalir dari hidungnya, Kepalanya terasa berdenyut. Sakura tak main-main mengeluarkan tenaganya tadi. Untuk kedua kalinya, ia menghadapi penganiyayaan.
"Maafkan aku, aku tidak sengaja" Ucap sakura. Ia datang membawa mangkuk kecil berisi ice-cube yang di bungkus dengan kain.
"Jangan mendongak seperti itu, Biarkan saja" Sakura duduk tepat berhadapan dengan Sasuke, memposisikan tubuh pemuda itu agar tetap tegak "Bernafaslah dengan mulut, usahakan agar tidak mengangkat kepalamu"
Sasuke mengikuti arahan Sakura, mulutnya sedikit terbuka dan menutup saat bernafas, menatap lurus pada wajah Sakura yang sedang mengompres wajahnya dengan es. Beberapa menit, tak terlewat untuk memandangi wajah Sakura yang baru bangun dari tidur bahkan tanpa make-up apapun Sakura terlihat cantik.
"Kau mengejutkanku sasuke, syukurlah hidungmu tidak patah"
"Hn"
Pendarahan pada hidung sasuke berhenti, Sakura mulai membersihakn darah yang tertinggal. Tentu ini bukan salahnya, salahkan Sasuke yang seenaknya memandanginya saat tidur. mengingat itu sakura jadi kesal.
"Apa yang kau lakukan di kamarku?"
Masih dengan wajah tenang Sasuke menjawab "Memandangimu"
Sejujurnya jantung sakura cukup berdebar, ia mencoba mengatur suhu wajahnya, menghembuskan nafas perlahan kemudian berdehem untuk menghilangkan kegugupan.
Ku fikir Sasuke memiliki alasan mengapa ia memilih pergi. Apa kau sudah menanyakannya?
Ucapan ino kembali mengiang, Alasan? Benar ia harus mengetahui alasan Sasuke meninggalkannya dulu. Tapi bagaimana jika alasan itu memang mengharuskan pemuda itu pergi dan baru bisa kembali sekarang. Bagaimana dengan Sasori? bagaimana dengan hubungan mereka?
"Saki"
Sakura tersentak dari lamunanya, Menatap sepasang onyx yang sebenarnya sangat ia rindukan. Ia tidak tau apa yang sebenarnya tengah di rencanakan Tuhan untuknya, apa yang di rencanakan takdir dengan membolak-balik hatinya, ia mengira Sasuke sudah tidak lagi menepati tahta di hatinya, tapi melihat wajah pemuda itu, Sakura langsung mengetahui bahwa Sasuke tidak pernah pergi.
Tuhan, Ini menyakitkan.
"Apa yang terjadi?" tanya Sakura akhirnya. Ya, ia harus tau apa yang terjadi sampai Sasuke harus meninggalkannya.
"Kau memukulku sampai berdarah"
"Bukan, Apa yang terjadi empat tahun yang lalu sampai kau harus meninggalkanku?" biarlah ia terdengar seperti gadis bodoh yang mengemis cinta kepada kekasih lamanya. Bagaimanapun juga ia berhak mengetahui alasan itu.
Sasuke tau pertanyaan itu akan terlontar cepat atau lambat, tapi mungkin tak apa. Pemuda itu menghela nafas sejenak, sebelum menarik kaosnya. Sakura yang melihat itu hanya bisa melebarkan matanya.
.
"Keaadan sasuke semakin hari semakin buruk, jantungnya tidak akan bertahan lama"
"Lalu apa yang harus kami lakukan dokter? lakukan sesuatu untuk menyelamatkannya"
"Satu-satunya cara adalah transplatasi Jantung, Hanya saja itu sangat beresiko. Golongan darah Sasuke adalah Ab- (negatif) itu adalah golongan darah yang sangat langkah, Kami minta maaf tuan Uchiha, Kami tidak bisa membantu"
Itachi maupun sang dokter tidak mengetahui bahwa Sasuke mendengar percakapan itu di balik pintu ruangan Dokter. Sasuke melangkah pergi, meninggalkan gedung rumah sakit itu, menghitung hari hidupnya.
.
Sasuke hanya tersenyum tipis melihat tingkah gadis bersurai merah muda di depannya, Gadis yang menepati seluruh hatinya, gadis yang selalu tersenyum ceria seakan menjadi matahari sendiri untuknya. Membawa camera polaroid, gadis itu -Sakura- tak henti-hentinya mengarahkan kamera ke arah mereka berdua.
"Sasuke tersenyum lebih lebar" ucap sakura, sembari kembali mengarahkan lensa kamera itu ke arah mereka.
"Sudah berapa banyak yang tercetak, Untuk apa foto sebanyak itu Sakura?"
"Akan ku tunjukkan nanti, jadi tersenyumalah"
Sakura kembali mengarahkan kameranya, mendekatkan diri ke Sasuke. Tepat saat Sakura menekan tombol, sasuke mendekatkan wajahnya, mengecup lama pipi gadis itu yang sepontan membuat Saura tersenyum lebar-bahagia. Ya, Sasuke sudah sangat bahagia untuk hidupnya, Sakura termasuk sosok gadis yang membuat kebahagiaannya itu nyata. Ia ingin hidup lebih lama untuk melihat Sakura tertawa, melihat mereka menikah, memiliki anak dengan wajah sepertinya dan tua bersama, Sasuke ingin.
Ini seperti melihat memori yang tumbuh seiring waktu, Lembaran-lembaran foto di kaitkan pada ranting pohon sintetis. Sasuke tersenyum miris, melihat Sakura tersenyum bahagia sambil mengaitkan foto-foto mereka tadi.
.
Sasuke seolah merasa mendapat kesempatan dari Tuhan, ia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya saat Itachi memberi tahunya bahwa mereka mendapat donor jantung yang sesuai untuknya. Hanya saja, bukankah setiap kesempatan yang di berikan ada hal yang harus di lewati terlebih dahulu?
"Besok pagi kita akan berangkat ke Jerman, Ayah dan ibu sudah menyiapkan semua di sana. Aku akan bicara dengan kepala sekolahmu tentang hal ini"
pindah? bukankah berarti meninggalkan? Sasuke kembali terdiam, apa yang akan terjadi jika operasinya tidak berjalan dengan baik? bagaimana dengan Sakura jika mengetahui itu? Tidak, Ia akan kembali, dan Sakura tidak harus tau tentang kepergiannya.
"Kak.." Itachi yang sibuk dengan ponselnya menoleh ke arah Sasuke.
"Tolong rahasiakan ini"
.
Dan di sinilah dia, dalam keadaan hidup dan mati. Wajahnya sudah memucat sejak tiba di Jerman, tubuhnya cepat lelah hanya dengan melakukan hal kecil. Di balik pintu operasi, ia bisa melihat ibunya terisak saat berbicara dengan dokter, ayahnya bahkan tak bisa menahan airmatanya jatuh. Sasuke tak tau apa yang tengah di bicarakan mereka, tapi ia yakin bahwa itu bukan berita yang terlalu baik.
Sasuke hanya memandangi langit-langit ruangan bernuansa putih itu, membayangkan wajah Sakura yang tersenyum untuknya, membayangkan gadis itu tertawa dan memasang wajah cemberut yang malah membuatnya makin gemas. Ia tidak tau apa kehidupannya akan berakhir di sini? tapi satu yang ia yakini.
'Sakura, Aku mencintaimu'
Pandangannya memburam, rasa ngantuk luar biasa menyerangnya setelah obat bius yang di suntikkan pada lengan Sasuke bekerja. Kelopaknya perlahan menutup, cahaya terang lampu operasi menjadi pengelihatan terakhir sebelum Sasuke tak sadarkan diri.
.
Sakura tak bisa menahan isakan tangisnya, tangannya masih berada pada bekas sayatan pisau operasi pada dada Sasuke, Ia merasa bodoh sekarang. Perasaan bersalah memuncak tak menentu, merutuki ketidak setiaannya itu, seharusnya ia yakin bahwa Sasuke tidak meninggalkannya. Sakura merasa menjadi kekasih terbodoh, bagaimana bisa ia tidak mengetahui tentang penyakit jantung pemuda itu. Sakura terisak, mengumpat untuk dirinya sendiri.
"Aku minta maaf Sakura" Sasuke mengangkat wajah sakura, menatap emerald yang sudah mengalirkan air mata itu "Aku tau kau akan sangat khawatir jika mengetahui itu"
"Bodoh, Tentu aku khawatir, dasar teme bodoh" Sakura langsung menerjang Sasuke, memeluk pemuda itu seolah takut kehilangan lagi. "Jangan...pergi.. lagi" isakan Sakura pecah, ia tak tau lagi harus bagaimana selain menangisi kebodohannya itu.
Sasuke membalas pelukan Sakura, menghirup aroma gadis itu dalam, tangannya membelai lembut surai yang selalu ia sukai. Ia bisa merasakan tubuh Sakura bergetar hebat bersama dengan isakan tangis gadis itu. Sasuke perlahan melepaskan pelukannya, namun Sakura menolak, ia tetap memeluk Sasuke, membenakmkan wajahnya pada lipatan bahu pemuda itu.
"Saki.. Sudah tidak apa.." ucap Sasuke menenangkan, Sakura hanya menggelengkan kepalanya, semakin mengeratkan pelukannya. Sasuke tidak tau bahwa Sakura telah melakukan hal bodoh, menghianati pemuda itu dengan menjadi perusak hubungan Sasori. Ia di butakan cintanya, entah cinta yang mana, Sasuke atau Sasori.
.
.
.
.
"ra...Sakura"
"Eh.. Iya?"
Entah sudah keberapa kalinya Ayame mendapati Sakura melamun sejak sore tadi. Ia sudah meminta Sakura untuk pulang jika memang gadis itu sedang kurang sehat atau sedang ada masalah, tapi selalu saja Sakura menolak dan berkata ia baik-baik saja.
"Kau baik-baik saja?" tanya Ayame lagi, meski ia tau Sakura akan menjawab dengan jawaban yang sama.
"Aku baik"
Tidak, ia tidak sedang baik. Fikirannya kalut. Sakura masih dibingungkan dengan apa yang harus ia pilih. Ia tidak satu sisi ia tidak bisa meninggalkan Sasuke, tapi di sisi lain ia juga tidak bisa meninggalkan Sasori.
"Apa ini soal Sasori?"
Dadanya kembali sesak mendengar nama pemuda itu. Kedai sudah tutup sejak beberapa menit yang lalu. Namun tak ada sedikitpun niatan dirinya untuk kembali pulang. Sakura menghela nafas berat, sebelum menjawab pertanyaan Ayame.
"Ini bukan lagi tentangnya" jawabnya pelan "Tapi juga tentang seorang pemuda"
Ayame menautkan alisnya bingung "Maksudmu?"
"Sasuke kembali" Sakura memberi jeda sesaat "Kembalinya sasuke seolah semacam memberiku pilihan"
"Sasuke? Sasuke itu siapa?"
Sakura nyaris tertawa sendiri, tentu saja, ia lupa bahwa Ayame sudah pasti tidak mengenal Sasuke. Mereka hanya beberapa tahun ini kenal. Wajah Sakura rasanya memanas, ia bingung harus mengatakan apa tentang Sasuke, Mana yang lebih tepat, Mantan kekasih? atau kekasih? atau kekasih lama yang menghilang tapi belum menjadi mantan?
"Kekasihmu?"
Wajah Sakura yang tadinya terlihat sedih berubah menjadi merona, ia menggaruk pipinya sendiri. Rasanya aneh saat mengetahui bahwa Sasuke itu kekasihnya.
"Heheh, sepertinya begitu"
"Kau punya dua kekasih?!" Ayame tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, maksudnya ya, ia akui memang Sakura cantik. Tapi bukannya sedikit egois memiliki dua kekasih.
"Bu-bukan begitu" Bantah Sakura "Sasuke itu kekasih lamaku yang menghilang tapi tidak menjadi mantan"
"He?" Ayame memiringkan kepalanya, mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi dari penjelasan aneh yang baru saja di terima dari Sakura. Ah, tentu saja, Cinta segitiga.
"Sakura dengarkan aku" ucap Ayame serius, kini duduk berhadapan dengan gadis itu "Terkadang kepergian seseorang itu memiliki alasan yang kuat"
Ayame benar, dan ia sudah tau alasan yang memang benar-bebar tidak memiliki pilihan lain.
"Saat Sasuke-mu kembali, apa ia memberi tahukan alasannya?"
Sakura mengangguk lemah.
"Apa alasan itu memang hal yang harus di ambil?"
Sakura kembali mengangguk.
"Baiklah, Kufikir dia masih mencintai mu makannya kembalikan?"
Sebuah anggukan lagi.
"Jadi apa kau mencintainya?" Sakura terdiam, dia senang saat Sasuke kembali untuknya memang, tapi bagaimana dengan..
"Jika yang menjadi kendala mu untuk menjawab pertanyaanku yang terakhir adalah Sasori, Sepertinya aku harus memberi tahumu sesuatu"
Sakura menatap penuh tanya pada Ayame, Terkadang anak Hukum itu sedikit mengerikan dengan bisa membaca situasi seseorang, ia bisa mendengar Ayame menghela nafas sebelum berbicara. tiba-tiba saja dadanya sesak.
"Aku mendengar ini dari Konan beberapa hari yang lalu, Sasori dan tayuya akan bertunangan Akhir bulan ini"
Deg
Ia bisa merasakan jantungnya tersentak di dalam sana, Rasanya ia masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Bahkan sasori tidak mengatakan apapun padanya.
Apakah Sasori akan meninggalkan Tayuya suatu saat dan memilihmu?
Kalimat ino kembali terngiang, Sahabatnya itu benar. Sampai kapan ia akan terus bersama Sasori?
"Itu pilihanmu Sakura, Kau yang memegang kebahagiaanmu" Ayame menggengam tangan Sakura seolah memberi semangat. Emerald gadis itu berkaca-kaca, ia mengadahkan kepalanya, mencoba menghentikan laju air mata yang sekarang membuatnya terlihat cengeng.
"Kau benar Ayame, Aku yang memegang kebahagiaanku" ucap Sakura. Ia langsung menerjang Ayame, memeluk erat gadis itu.
"Sakura..."
"Ah, aku senang memiliki sahabat seperti kalian" Sakura makin mengeratkan pelukannya, tidak sadar bahwa yang di peluk kehabisan nafas.
"Sakura... aku..."
"Apa jadinya aku jika tidak ada kalian?"
"Sakura.. Aku...tidak..bisa Bernafas" Suara Ayame tercekat, Sakura langsung melepaskan pelukannya, tersenyum lebar. Sembari menggaruk tengkuk belakangnya yang tidak gatal.
"Maaf, aku terlalu bersemangat" ucapnya. Ayame hanya mengibas-ngibaskan tangannya sambil mengatur nafasnya.
"Sebaiknya kau pulang, Ini sudah larut"
Sakura berdiri, menegakkan badannya seolah menerima perintah dari atasannya.
"Siap bos"
.
Tidak ada yang lebih mengejutkan gadis itu dari pada melihat Sasori sudah berdiri di depan kedai saat ia baru melangkahkan kakinya meninggalkan kedai Ichiraku. Ia bahkan tak membalas senyuman pemuda itu.
"Hai" Sapa Sasori, yang akhirnya hanya di balas senyuman tipis dari gadis itu.
"Kau pulang terlambat"
"Ah, iya tadi sedikit mengobrol dengan Ayame" jawabnya pelan. Mereka saling terdiam, Sakura mencoba mengarahkan pandangannya pada jalanan, mencoba mengalihkan rasa sedihnya dari tatapan pemuda itu. Mungkin ini sudah waktunya, ya. Ia sudah mengambil pilihan.
"Sakura/Sasori" panggil mereka bersamaan, Sakura cukup salah tingkah karna itu.
"Kau saja dulu Sakura" ya, memang harus ia dulu. Sakura tidak mau berlama-lama mengatakannya, ia takut apa yang di katakan Sasori adalah soal pertunangannya itu. sungguh itu sangat menyakitkan.
"Sasori.." panggilnya lagi, Pemuda itu hanya tersenyum menunggu sakura melanjutkan ucapannya "Sebaiknya kita akhiri saja semuanya" ucap Sakura pelan. Jantungnya berdebar saat melihat ekspresi Sasori yang cukup terkejut. Ia sendiri bahkan terkejut, entah dari mana ia memiliki keberanian itu. Tapi, sejujurnya ada perasaan lega.
"Sakura?"
"Aku minta maaf, tapi apa yang kita lakukan ini tidak benar, Sasori. Maafkan aku, Ku harap kau bahagia dengan Tayuya" Tak ada jawaban dari Sasori dan Sakura tak ingin menunggu jawaban dari pemuda itu. Ia melangkah pergi, meninggalkan Sasori yang masih terdiam dengan fikirannya. Ia tidak tau apa yang tengah di fikirkan pemuda itu. Tapi, ada sesuatu yang menyakitkan di balik dadanya. Perasaan sesak setelah mengatakan itu, Apa ini? Sakura berharap ia tidak menyesali keputusannya ini. Sudah semestinya ia pergi. Sasuke jauh lebih membutuhkannya dari pada Sasori. Sakura meyakinkan diri. Ia tidak akan menyesal.
"Saki?"
Sakura kembali di buat tersentak saat mendengar seseorang memanggil dengan nama itu, Ia menolehkan kepalanya ke arah mobil yang entah sejak kapan sudah berada di situ. Perasaan khawatir seketika melandanya, apa Sasuke melihatnya dengan Sasori tadi?
"Sa-sasuke? apa yang kau lakukan di sini?" tanya Sakura gugup. Ia mencoba menghapus jejak airmatanya saat Sasuke keluar dari mobil.
Sasuke tak menjawab pertanyaan Sakura, ia lebih tertarik dengan apa yang coba Sakura tutupi "Ada apa dengan mu?"
"Apanya?"
"Kau menangis"
"Tidak" elak Sakura, ia mencoba tersenyum di depan Sasuke. Pemuda itu cukup pandai untuk mengetahui Sakura tengah berbohong, Ia menatap Sakura dengan tatapan mengintimidasi.
"Baik..baik aku menangis, Sasuke. Puas?" ucap Sakura, ia tau Sasuke akan meminta penjelasan lebih untuk itu. Jadi Sakura terlebih dahulu menjawab-
"Aku sedang dalam masa dimana hormon meningkat, jadi perasaan ku sedikit berubah-ubah. Makannya aku menangis"
-Bohong.
"Kau lagi datang bulan?"
Blush..
Ia bisa merasakan wajahnya memanas. Bagaimana bisa Sasuke mengatakan hal itu seolah itu hal yang biasa.
"Wajah mu memerah" ejek Sasuke, Sakura langsung memukul pelan dada Pemuda itu membuat Sasuke meringis-acting.
"Ugh, Sakura bekas operasi" Sasuke menunjuk ke dadanya. Dan itu sukses membuat Sakura kelabakan.
"Astaga, Sasuke aku lupa"
Cup
Sebuah ciuman singkat pada bibir sakura sontak membuat gadis itu terdiam. Ia tidak lagi membayangkan warna wajahnya yang pasti sudah sangat merah. Sasuke tersenyum tipis melihat wajah gadisnya yang terlihat lucu. Ia langsung menarik sakura masuk kedalam mobilnya. Sakura yang masih dalam mode malu tapi mau itu hanya menurut tanpa mengatakan apapun. Satu yang sakura tak sadari, sebelum masuk kedalam mobil, sasuke memberikan tatapan remeh ke arah seseorang yang sedari tadi memperhatikan mereka.
.
.
.
.
.
Sakura nyaris menyeret kakinya sendiri menuju apartemenya. Ia lelah dan kesal, Seminggu sebenarnya waktu yang lama untuk berada di Rumah Sakit kota Suna untuk melengkapi laporan yang harus di selesaikan, Hanya saja jadwalnya yang di tetapkan Dosen Orochimaru adalah waktu dimana festival di laksanakan. Dan Sakura melewatkannya. Fikiran Sakura jadi jahat, ia berharap dosennya itu tidak memiliki pasangan. Ia merogoh tasnya, mencari benda kecil yang akan mengantarkannya pada kamarnya yang nyaman.
Kedua alisnya menaut bingung, ia kembali memasukkan kuncinya, mencoba mengepaskan nya. Namun tetap saja kuncinya tidak cocok, ia kembali memeriksa bahwa kunci berwarna silver itu memang kunci apartemennya.
"Benar, Astaga." Sakura terus mencoba, namun tetap sia-sia.
Sakura menyerah, ia memilih melemparkan kuncinya kesembarang arah. Tubuhnya sudah lelah, perjalanan 8 jam itu bukan waktu yang singkat.
"Sakura..." ia menoleh ke asal suara. Wanita berkepala empat yang menjadi tetangganya selama ini.
"Apa yang kau lakukan?" tanya wanita itu. Sakura makin di buat bingung, apa tetangganya itu lupa bahwa Sakura selama ini tinggal disini.
"Bukannya kau sudah pindah ya?"
"Pindah bi?"
"Iya, kekasihmu kemarin yang memindahkan barang-barang mu, dia bilang kau terlalu sibuk untuk membantu"
Sebuah nama terlintas begitu saja. Ya, siapa lagi yang suka melakukan hal sesuka hati tanpa meminta izin, merasa dia bisa melakukan apapun yang ia mau. Sakura langsung mengambil ponselnya, mencari satu nama yang juga seenaknya mengganti nama kontak pemuda itu menjadi..
'My Lovley',
ugh, entah sejak kapan pemuda itu jadi berlebihan.
.
Pandangannya masih terfokus pada jalanan, bahkan pemuda itu tidak terlihat terganggu dengan tatapan tajam dari gadis di sebelahnya. Wajahnya nampak tenang, cukup membuat Sakura geregetan untuk menjambak rambut model pantat ayam itu.
"Sasuke..."
"Hn" Respon singkat itu semakin membuat Sakura geram.
"Apa yang kau lakukan?"
"Menyetir" jawab Sasuke singkat, Sakura menarik nafas dalam.
"Kau tau apa yang ku maksudkan?" Tangan Sakura benar-benar gatal.
"Bagaimana perjalananmu?"
"Sasuke berhenti mengalihkan pembicaraan"
"Sakura, aku sedang menyetir. Bisakah kita bahas saat tiba nanti?" ucap Sasuke dengan tenang. Sakura yang sudah tau berdebat dengan pemuda itu bukanlah hal yang mudah, ia kembali memposisikan tubuhnya, kedua tangannya di lipat di dada dengan pipi mengembung. Sekarang Sasuke yang geram ingin mencubit benda lunak itu.
"Istirahatlah Sakura, kau pasti lelah"
Sakura mendengus sebal "Aku tidak mengantuk"
.
Sakura menggeliat sesaat ketika Sasuke meletakan gadis itu di atas kasur. ia melangkahkan kakinya, menutup tirai jendela kaca besar ruangan itu agar Sakura tetap nyaman dalam tidurnya. Ia yakin saat ini Sakura bebar-benar lelah. Bahkan saat Sasuke menggendong gadis itu dari mobil menuju lantai atas ini, Sakura tidak terusik sama sekali. Sepatu cets yang menyemat di kaki Sakura ia lepas, menarik selimut sampai menutupi bahu gadis itu.
Wajah tenang Sakura saat tidur selalu berhasil membuat lengkungan tipis pada wajah Sasuke. Ia merasa damai saat gadis itu berada di dekatnya. Itu salah satu alasan kenapa Sasuke memindahkan barang-barang Sakura ke apartemen yang baru ia beli ini. Ia ingin Sakura selalu dalam pengawasannya dengan tinggal dalam satu rumah. Sebenarnya bukan itu saja, Ia hanya ingin menjauhkan Sakura dari si pengganggu itu. Mungkin ini terlalu berlebihan, tapi kau akan melakukan hal yang sama jika kau pernah hampir kehilangan gadis yang menjadi alasanmu untuk hidup. Sebuah kecupan lembut pada pucuk hidung Sakura menjadi ucapan selamat istirahat darinya, kemudian melangkah pergi membiarkan gadis itu beristirahat.
.
.
Kedua kelopaknya mengerjap sebelum terbuka, menampilkan sepasang emerald yang terlihat jauh lebih segar dari sebelumnya. Pandangannya langsung mengarah pada jendela besar dengan tirai berwarna biru tua, ia tidak ingat kapan mengganti tirai itu. Kesadarannya mulai terkumpul, Sakura langsung menyapu ruangan kamar yang ia yakini bukanlah kamarnya dulu, bukan kamar ino atau kamar teman-temannya yang lain. Masih dalam keadaan setengah mengantuk, Sakura mendudukkan diri, menjatuhkan tapak kakinya pada lantai marmer yang dingin. Dia ingat sekarang, ini pasti kamar barunya. Entah sudah berapa lama ia tertidur, yang pasti cukup lama sampai tenggorokkannya terasa kering.
Sakura bangkit, menyibakkan tirai kamarnya, sinar mentari yang menyala terang sempat membuat gadis itu merasa silau. Terlalu terang, Sakura meraih ponselnya, melihat jam pada layar benda petak itu. Kedua matanya melebar, jantungnya nyaris melompat.
"Astaga, PUKUL DELAPAN !" Sakura panik, tentu ia panik. Kelasnya di mulai pukul 8.20 dan yang ia ingat hari ini adalah kelas penting, kelas Dosen Anko, bahkan wanita itu jauh lebih mengerikan daripada Dosen Orochi. Sakura mulai berlari, namun kurang berhati-hati.
Bhukk
"Sakura, ada apa?"
Sakura mengadahkan kepalanya, menoleh pada sasuke yang berdiri di ambang pintu menggunakan celemek masak. Sasuke jadi terlihat manis. Tidak, ini bukan saatnya mengagumi ketampanan jelmaan dewa Yunani itu. Ia langsung bangkit, Sakura bahkan tak lagi sempat mengeluh sakit saat dirinya jatuh menyandung kaki sendiri, ia langsung bangkit menuju pintu yang ia yakini sebagai kamar mandi, dan lupa membawa handuk dan pakaian ganti. Sasuke yang bingung melihat tingkah gadisnya itu mengetuk pintu kamar mandi pelan.
"Sakura, ada apa denganmu?" tanya nya pelan. Ia bisa mendengar suara gemericik air dari dalam.
"Aku terlambat, Sasuke. Kenapa kau tidak membangunkanku?"
Kedua alis pemuda itu bertaut, sepertinya tadi ia tidak salah melihat kalender. Biarlah, sudah lama tidak menggoda gadis itu. Sasuke memilih menuggu di depan pintu, ia menunggu gadis itu mengumpat, dan ia baru saja mendengarnya.
"Sasuke, Apa kau masih di situ?"
"Hn" tidak ada lagi jawaban dari Sakura setelahnya, ia yakin gadis itu tengah bimbang sekarang.
"Sasuke...?" suara sakura terdengar gugup. Sasuke jadi sedikit tidak tega.
"Ada apa sakura?"
"Hmm, bisa tidak keluar sebentar"
"Kenapa?" tanya Sasuke tanpa dosa, ia masih setia bersandar pada dinding. Sasuke bisa membayangkan betapa merahnya wajah gadis itu.
"Kumohon lakukan saja"
"Baiklah"
Ini benar-benar memalukan, Sakura tidak tau lagi entah bagaimana warna wajahnya sekarang. Ia mengutuk kecerobohannya sampai lupa membawa pakaian ganti dan handuk, sialnya baju yang ia kenakan tadi sudah masuk ke dalam mesin cuci. Sakura menarik nafasnya dalam, telinganya di tempelkan pada pintu, berharap Sasuke benar-benar pergi.
"Sasuke..? Kau masih di situ?" panggilnya lagi. Beberapa saat, tidak ada suara dari Sasuke. Perlahan ia memutar knop pintu. Sedikit mengintip dengan posisi tubuh masih tertutup pintu. Sepi. Sakura merasa lega sekarang, sepertinya-
"Saki..."
"Kyaaaaaaa"
BLAM
Pintu kembali terbanting, Sakura langsung bersandar pada pintu. Jantungnya sudah memompa membabi buta, wajahnya memerah. Nafasnya memburu. Oh, Tuhan, sejak kapan Sasuke jadi sejahil dan semesum itu. Ia yakin bisa terkena serangan jantung jika terus seperti ini. Dari luar, ia bisa mendengar tawa pemuda itu dan pintu yang tertutup. Sumpah, demi celana dalam Orochimaru, Sakura akan membalas ini semua.
.
Mobil Sasuke berhenti perlahan tepat di parkiran Universitas Konoha, Wajah Sakura masih memerah antara kesal dan malu. Kesal karna Sasuke mengerjainya, malu karna Sasuke mengerjainya di saat ia sedang tidak mengenakan apapun. Sakura menggerutu kesal, Menatap Sasuke yang masih terlihat Santai dengan mengunci pintu mobilnya.
"Sasuke, aku sudah terlambat" ucap Sakura kesal, ia masih mencoba membuka pintu. Tangannya terulur berniat menekan tombol kunci, namun terhenti oleh tangan Sasuke.
"Kau yakin mau kuliah?" tanya Sasuke. Kedua emerald sakura memutar bosan.
"Kau memintaku bolos?"
Sasuke hanya mengendikkan bahunya, kemudian mendekatkan wajahnya ke arah sakura yang sepontan membuat gadis itu memundurkan kepalanya perlahan.
"Ap-apa yang ingin kau lakukan?" Wajahnya kembali memanas, Sasuke ternyata jauh lebih tampan dari dekat. Tuhan beruntungnya Sakura. Pemuda itu menolehkan kepalanya, menunjuk pipinya dengan jari.
"Tidak" tolak Sakura cepat. Sepertinya Sakura lupa jika Uchiha tidak menerima penolakkan.
"Terserah, waktu terus berputar" ucap Sasuke santai. Sakura yang sudah terlalu terburu-buru akhirnya mengalah, ia mengecup pipi Sasuke secepat kilat.
"Sudah" ucap Sakura. Sasuke kembali memalingkan wajahnya ke arah lain, menunjuk pipi yang satunya.
"Sasuke.." protes Sakura.
"Tik...tok"
Sakura menghela nafas berat kembali melayangkan bibirnya ke pipi sasuke, Lagi. Tapi sepertinya Sasuke masih belum puas mengerjai gadis itu, ia memposisikan wajahnya menghadap Sakura, menunjuk dahinya. Sakura yang geram akhirnya menangkup wajah pemuda itu dengan kedua tangannya, ia menciumi wajah Sasuke secepat kilat, Pipi, hidung, dagu, pipi lagi. Senyum tipis terlihat indah di wajah Sasuke, ia menekan tombol kunci pintu. Sakura tersenyum juga, kemudian membuka pintu mobil.
Kakinya yang baru akan keluar terhenti, pintu mobil kembali tertutup. Sakura terlalu terkejut hanya bisa membolakan matanya, ia bisa melihat wajah Sasuke yang sangat teramat dekat dengan onyx yang menutup. Jantung sakura kembali berdebar saat sadar bibirnya sudah menyatu dengan bibir Sasuke, Sebuah ciuman yang sudah sangat lama ia rindukan. Emeraldnya perlahan menutup, mulai meresapi perasaan yang berkejolak, dan mulai membalas ciuman pemuda itu. Tangan Sasuke bergerak, memperdalam ciuman mereka dengan menahan tengkuk kepala Sakura agar tak menjauh.
Cukup lama, kebutuhan oksigen yang mendesak menjadi alasan mereka melepaskan pungutan masing-masing, meski keduanya masih enggan. Sakura terengah, mencoba menormalkan nafasnya kembali.
"Kita lanjutkan nanti di rumah?" tanya Sasuke dengan seringai di wajahnya.
"Dalam mimpimu" jawab Sakura, ia langsung keluar sebelum berbisik pelan di telinga Sasuke. Kemudian sedikit berlari masuk ke dalam fakultasnya. Sepeninggalan Sakura, Sasuke tidak berniat meninggalkan arena kampus. Ia melihat wajahnya yang sudah merona. Rasanya menyenangkan, dan mendebarkan. Dan lagi pula, Sebentar lagi juga Sakura kembali.
.
Sakura menautkan alisnya bingung melihat keadaan fakultasnya yang selalu ramai kini menjadi sepi, ia berjalan perlahan, menuju kelas yang biasanya ia dan teman-temannya belajar.
KOSONG
Tidak ada siapapun, Sakura terus bertanya dalam hati di mana mereka. Apa ada perubahan jadwal kelas? tapi tidak ada yang mengabarinya. Sakura merogoh ponselnya, berniat menghubungi salah satu teman sekelasnya. Namun terhenti sebelum menu kontak ia pilih, Di dengan huruf kecil di bawah angka jam. Di sana tertulis 'Sunday' bukan 'Monday', artinya 'Minggu' bukan 'Senin'.
'Kau yakin mau kuliah?'
Pertanyaan Sasuke tadi?
Sasuke tau, pemuda pantat ayam itu tau jika ini hari minggu bukan hari senin dan sengaja tidak memberi tahukannya. Ia menggenggam erat ponselnya, nyaris remuk. Perempatan muncul di jidat (lebar) nya.
"TEME SIALAN, KUBUNUH KAU NANTI !"
Di tempat lain, Sasuke sudah tidak bisa menahn tawanya. Tawanya meledak-ledak. Ia suka menjahili Sakura.
.
.
.
.
.
TBC
A/N.
I'm back,
Maaf yang udah nunggu kelanjutan ini.
Maaf...maaf...maaf... (Ber-ojigi sampe encok)
Miyu ganti nick-name, tapi tetap pakai nama Miyu. terimakasih yang udah setia tetap rela membuang kouta untuk membaca cerita tidak bermutu ini.
Miyu ada sedikit masalah di kehidupan nyata, jadi baru bisa update. Moga chap. ini tidak mengecewakan..
Tinggalkan review nya ya...
