Naruto©Masashi Kisimoto
A Choice
"Demi apa Sakura? Kau yakin itu Sasuke?" tanya Ino tak percaya. Sakura merotasikan bola matanya, Ino berlebihan dengan berekspresi seperti itu. Ia mengeluarkan satu pakaian pada gantungan toko, memperhatikan model baju dengan warna hijau pastel.
"Kau berlebihan Pig" gerutunya, Ino masih terkekh geli mendengar cerita Sasuke yang mengerjai Sakura beberapa hari yang lalu. Bahkan pemuda itu rela mengantar Sakura sampai parkiran kampus. Sungguh tidak bisa di percaya.
Ino berdehem mencoba menghentikan tawanya "Tapi aku senang" ucap Ino pelan. Sakura menoleh sekilas ke arah sahabatnya itu, memberi tanda bahwa ia mendengarkan.
"Ku harap kau dan Sasuke bahagia"
"Kau membuatku ingin menangis Ino" ucap Sakura. Keduanya tersenyum tulus. Sakura juga berharap bahwa ia dan Sasuke akan bahagia. Sasuke memang sedikit lebih menyebalkan sekarang, tapi itu membuat Sakura merasa jauh lebih baik. Bahkan Sasuke tidak segan untuk menunjukkan perasaannya di depan umum. Sebuah hal yang selalu ia ingin kan selama ini, hal kecil yang selalu membuatnya berdebar dan yang pasti mereka tidak perlu khawatir dengan pendapat orang lain. Ah, sepertinya Sakura merindukan Sasuke.
"Sakura"
Sakura hanya menjawab dengan gumaman, pandangannya masih terdokus pada jejeran pakaian yang sedikit mencuri perhatiannya.
"Aku akan menghadiahkanmu ini" Gadis Haruno itu akhirnya menoleh ke arah Ino. Gadis itu tengah menunjukkan lingerie berwarna hitam dengan model transparan, Wajahnya memerah. Sesaat terlintas di fikirannya, ia mengenakan pakaian itu dan Sasuke sedang menunggu di ranjang. Tuhan, Ia sudah gila. Sakura langsung berjalan mendekati Ino, merebut benda laknat itu dan kembali meletakannya ke tempat semula.
"Kau gila" gerutu Sakura. Ia masih mencoba mengatur warna wajahnya. Ino yang menyadari perubahan Sakura terkikik geli, menggoda Sakura memang menyenangkan.
"Aku hanya ingin membuatmu terlihat Sexy, bukankah kalian tinggal bersama" goda Ino.
"Kami memang tinggal bersama, tapi di kamar yang berbeda" bela Sakura, Ia berjalan keluar toko itu, membiarkan Ino mengikuti langkahnya.
"Benarkah, Sampai berapa lama?"
"Apanya yang berapa lama?"
"Ya, berapa lama kalian akan beda kamar?"
Pletak
Sebuah jitakan cinta di hadiahkan Sakura ke kekasih Sai itu. Ino meringis sambil mengelus kepalanya yang di jitak.
"Sakit jidat"
"Itu biar otakmu kembali normal, Kau sudah tertular Sai mu yang mesum itu" Ucap Sakura, kembali melangkahkan kakinya menyusuri lantai Mall. Dan lagi, Ino berjalan menyamai langkah mereka.
"Sai tidak mesum" bela Ino, mereka kembali memasuki sebuah toko baju yang membuat Sakura membelokkan kaki nya "Kami memang tinggal bersama, tidur bersama, tapi Sai tidak pernah melakukan hal yang di luar batas" tambah Ino lagi.
"Aku tidak percaya" Kini gantian Sakura yang mencoba menggoda Ino, ia menatap gadis itu dengan tatapan curiga "Katakan padaku, kalian sudah sejauh mana?"
"Apanya yang sejauh mana?"
"Apa kalian memakai pengaman?" Wajah putih Ino gantian merona mendengar pertanyaan vulgar sahabatnya itu.
Pletak
"Sakit pig" ringis Sakura, ia mengelus jidatnya yang terkena balasan cintanya tadi.
"Itu supaya otakmu tidak gesrek" balas Ino.
Setelahnya Ino menuju ruang test, meninggalkan Sakura yang masih memilah-milah baju, tangan gadis itu sesekali membolak-balik pakaian. Sakura terlalu asik memilih dan tak menyadari ada seseorang yang juga melakukan hal sama di sampingnya. Pilihan sakura berhenti pada satu baju, begitu juga dengan orang itu. keduanya tersentak bersamaan
"Maaf"
"Tidak, aku yang..." Ucapan Sakura terputus saat mendapati seseorang yang sangat ia kenal di sebelahanya. Ia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, ia gugup. Sangat gugup saat mengetahui orang itu adalah kekasih mantan kekasihmu.
"Kau.. Sakura kan? anak kedokteran dan yang di ichiraku itu" Tanya gadis itu. Sakura berdehem sejenak dan mencoba tersenyum. ia mengangguk pelan.
"Aku Tayuya, ku harap kau masih ingat" Tayuya mengulurkan tangannya yang perlahan langsung di sambut Sakura.
"Mustahil aku tidak ingat kak" ya, tentu mustahil Sakura bisa melupakan seseorang yang selama ini ia coba hindari.
"Panggil saja aku Tayuya" ucap Tayuya ramah, gadis itu sedikit menoleh kesekitar "Kau sendiri?"
"Ah tidak, aku bersama Ino" Sungguh, Sakura jadi merasa canggung sekarang, perasannya jadi antara gugup dan takut. jantungnya masih saja berdebar meski hubungannya dengan Sasori berakhir.
"Tayuya?" keduanya menoleh ke asal suara, Ke arah Ino yang berjalan mendekat ke arah mereka. Wajah Ino bahkan terlihat sama terkejutnya dengan Sakura. Ia cukup bisa membaca situasi sahabat merah mudanya itu.
"Sedang berbelanja?" tanya Ino basa-basi, sebenarnya bukan itu yang ia ingin tanyakan.
"ya seperti yang kalian lihat. Aku senang bisa bertemu kalian disini" Tayuya terlihat semringah, Sedangkan Sakura dan Ino sedikit bingung dengan arah ungkapan senang gadis itu "Aku tadi bersama Sasori-
Jantung sakura nyaris melompat dari tempatnya. Bersama Sasori? tapi dimna pemuda itu.
-Tapi tadi bertemu dengan seniornya dulu di SMA, jadi aku sendirian dan itu tidak menyenangkan" cerita Tayuya panjang lebar. Sakura benar-benar meyakini bahwa keputusannya meninggalkan Sasori benar. Tayuya terlalu ramah dan baik untuk di sakiti.
"Kau bisa bersama kami" Ajakan itu datang dari Sakura. Bahkan Ino sempat terkejut mendengarnya, namun secepat itu pula ia kembali mengontrolnya.
"Kita bisa berbelanja bersama, ya 'kan Ino?"
Ino mengangguk kaku sambil mencoba membaca mimik wajah Sakura. Ia tidak yakin apa yang sebenarnya tengah di rasakan gadis itu, tapi ia yakin, Sakura tengah mencoba membuka lembaran baru "Tentu, itu akan menyenangkan"
Sakura mencoba mengubur dalam-dalan tentang siapa sebenarnya Tayuya, dan itu tidak mudah awalnya. Sakura banyak diam awalnya, ia hanya memberikan senyum atau mengangguk kaku saat Tayuya menanyainya, namun perlahan ia terbiasa. Bahkan Sakura sesekali bertukar cerita mereka. Sedangkan Ino yang awalnya khawatir dengan Sakura terlihat ikut menyamankan diri. Ia cukup kagum dengan kedewasaan Sakura.
Lama berbincang dan mengunjungi setiap toko yang ada di Mall, senyum yang tersemat di wajah Sakura akhirnya merdup perlahan saat mereka akhirnya bertemu lagi, saling menatap dan memperhatikan keadaan masing-masing. Sasori datang bersama seseorang ke tempat mereka tengah bencengkrama. Pandangan Sakura yang awalnya menetap pada Sasori beralih pada seorang pemuda yang sangat ia kenali, pemuda bermata Onyx, namun terlihat jauh lebih menyenangkan.
"Kak Itachi?"
Pemuda bersurai hitam kelam itu langsung memeluk Sakura erat, bahkan sedikit mengangkat tubuh sakura keatas dengan pelukannya. Sudah sangat lama, namun tinggi Sakura masih jauh di bawahnya.
"Sakura kau sudah besar ternyata" ucap pemuda yang di panggil Itachi itu, namun masih enggan melepaskan pelukannya. "ah, Adik ipar sudah jauh lebih cantik sekarang"
"I-iya, kakak kapan datang?"
Kata 'adik ipar' yang terlintar dari Itachi sontak membuat Tayuya dan Sasori menoleh ke arah mereka. Terutama Sasori, yang sebenarnya sedari tadi memperhatikan.
"Aku tiba kemarin, tapi Sasuke tidak mengizinkanku menemui mu, sepertinya ia tidak ingin aku memelukmu seperti ini"
Sakura menggeliat mencoba melepaskan rengkuhan pemuda yang memang selalu memperlakukannya seperti adik sendiri itu, dulu, saat masih SMA dan berstatus sebagai kekasih Sasuke, namun ini sudah tidak pantas mereka lakukan, bukan.
"Kau membuatku malu, kak" gerutu Sakura saat terlepas dari rengkuhan Kakak kandung dari Sasuke itu.
.
Tidak ada kata yang keluar dari bibir Sakura sejak tadi. Keadaannya jadi sedikit canggung dengan Sasori yang terus menatapnya. Mereka tengah duduk di restoran Fast-food. Itachi dan Tayuya tengah mengambil pesanan dan Ino permisi ke toilet beberapa saat yang lalu. Awalnya ia sempat ingin ikut dengan Itachi, namun pemuda itu melarangnya dan meminta untuk menunggu, sedangkan Tayuya dengan santainya berucap..
'Tolong jagakan Sasori, terkadang ia suka menghilang tiba-tiba'
Sakura tau itu sebuah candaan, tapi gila jika situasinya sepeti ini.
"Kau mengganti nomor ponselmu?" tanya Sasori akhirnya. Ia masih menatap Sakura datar. Dan itu sukses membuat sakura kembali mengalihkan pandangan yang sebelumnya sempat menoleh ke pemuda itu.
"I-iya" jawab Sakura pelan, nyaris berbisik. Ia terpaksa mengganti nomor ponselnya setelah hampir beberapa kali Sasuke curiga dengan nomor Sasori yang masih mencoba menghubunginya. Ia hanya tidak ingin semuanya menjadi lebih rumit jika Sasuke tau
"Kau juga pindah?"
Sakura mencoba menghilangkan kegugupannya, menatap pemuda itu. Ia tau kemana arah pembicaraan ini, dan Sakura tidak ingin Tayuya atau itachi mendengarnya.
"Sasori-"
"Kau mencoba menghindari ku?" kalimat tanya pemutus ucapan Sakura itu di ucapkan dengan nada yang tidak Sakura sukai. Dan itu benar-benar tidak membuatnya nyaman, dan kenapa Tayuya dan Itachi lama sekali.
"Kau tidak bisa melakukan itu Sakura"
"Hentikan Sasori" Sakura memperingatkan, Namun tak membuat Sasori menghentikan percakapan mereka.
"Kau meninggalkanku untuk kembali ke kekasih lamamu kan?"
"Sasori, Aku-"
"Kau tidak bisa meninggalkanku-"
"Sasori.."
"Aku tidak bisa melepaskanmu Sakura, bagaimana pun, aku tidak bisa merelakan orang yang ku cintai bersama orang lain"
"Kau sudah memiliki Tayuya, Apa yang kita lakukan selama ini salah" Sakura nyaris berteriak jika saja ia tidak melihat kondisi ramai di sekitar mereka. Dadanya terasa sesak sekarang.
Sasori menegakkan tubuhnya, melipat kedua tanganya di depan dada, menatap mantan gadisnya yang sekarang kembali menlempar pandangan kemanpun selain dirinya "Kau berubah, Apa Ino yang memintamu?"
Sakura kembali mengarahkan tatapannya pada Sasori. Emeraldanya menatap tak percaya sekaligus tidak suka saat sahabatnya itu di bawa-bawa pada masalah mereka. "Ino tidak pernah memintaku meninggalkanmu Sasori, Aku yang memilih melakukannya" Jawab Sakura penuh penekanan.
"Dia memintaku meninggalkanmu, apa kau tau?"
"Dia memintamu untuk memilih, Berhenti membawa Ino ke masalah Ini" balas Sakura tak mau kalah, Ini pertama kalinya ia merasakan kekesalan pada Sasori, maksudnya, Dimana Sasori yang selalu tenang dan menyenangkan? sebuah kenyataan yang Sakura sadari. Ia tidak mengenal jauh seorang Sasori.
"Apa kau juga tinggal bersama si brengsek itu?"
"Cukup Kak Sasori. Berhenti membahas hal ini sekarang. Kau sudah memiliki Tayuya, tidak kah itu cukup?" Ucap sakura dengan menekankan kata 'Kak' pada kalimatnya. Sebuah panggilan saat pertama kali ia bertemu dengan Sasori. Dan ia akan memanggilnya seperti itu, yang secara tidak langsung memberikan jarak di antara
Sasori yang awalnya terlihat dingin seketika berubah dengan raut kesedihan, Sakura masih tidak mengerti.
"Tidak jika aku harus kehilanganmu"
Sakura bisa merasakan sedikit permohonan dari kalimat Sasori. Ia menghela nafas panjang, rasanya menyakitkan. Tapi akan lebih menyakitkan jika ia harus kembali menjadi orang ketiga di hubungan pemuda itu. Ia sudah mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya, dan itu bersama Sasuke. Sasori hanya seseorang yang sempat mengisi ruang hampa di hatinya. Meski begitu, tetap saja Sasuke tidak pernah pergi. Terdengar jahat, tapi itu lah kenyataannya.
Tidak ada yang kembali bersuara ketika Itachi dan Tayuya berjalan menuju meja meraka, Ino juga. Sekarang Sakura tau kenapa gadis itu lama sekali hanya untuk pergi ke toilet. Ino juga ikut memesan. Tepat sebelum mereka kembali berkumpul, ia bisa mendengar Sasori berbisik.
'Aku masih mencintaimu, Sakura'
Dan itu membuat Sakura ingin cepat-cepat pergi dari situ.
.
.
Dentingan jarum jam yang terus berputar, entah berapa kali berdetak melewati angka yang berada pada tempatnya, menemani gadis sang pemilik kamar yang sedari tadi terus mencoba masuk kedalam dunia mimpi. Sakura terus bergerak gelisah, pusing kanan pusing kiri, ia terus mencari posisi nyamannya, menghilangkan kegelisahan yang sedari tadi terus membuat otaknya bekerja lebih. Sakura menyerah, ia menelentangkan tubuhnya, memandangi langit kamar yang hanya di sinari oleh cahaya rembulan yang masuk melalui sela-sela tirai kamarnya.
Tatapan itu mengganggunya, cara Sasori menatapnya siang tadi benar-benar tidak enyah dari fikirannya. Sebenarnya ia selalu suka saat Sasori menatapnya dulu, tapi yang kali ini membuatnya gelisah. Sasori menatapnya dengan tatapan yang tidak ia mengerti, ia tidak tau mengartikan tatapan itu. sedih? marah? kecewa? atau menginginkan?. Biasanya Sasori akan bersikap tidak mengenalinya saat bersama Tayuya, tapi siang tadi ia bisa melihat perubahan sikap Sasori. Bahkan ia masih ingat saat Itachi dengan terang-terangan memujinya tadi.
"Adikku beruntung bisa memiliki hati Sakura, ia bahkan jauh lebih cantik sekarang"
"Ya, adikmu memang beruntung, Itachi"
Sakura tidak bodoh untuk menyadari ada nada yang berbeda dari jawaban Sasori itu, bahkan Ino sadar. Hanya Saja Tayuya terlalu baik untuk memikirkan hal semacam itu. Itu mengganggunya, sangat malahan.
Sakura memilih bangkit dari tidurnya, melangkah perlahan menuju dapur. Berfikir, Susu coklat hangat mungkin bisa sedikit membutnya tenang. Ia melakukannya dengan perlahan, takut-takut jika Sasuke terganggu jika mendengarnya. Ia tau jika pemuda itu harus cukup istirahat, kenyataan yang ia ketahui, sasuke sedang mengurus perusahaan yang di percayakan Fugaku, ayahnya. Dan itu semakin membuatnya semakin khawatir. Orang yang pernah melakukan transplatasi jantung tidak boleh terlalu kelelahan, di tambah ia tau dari Itachi bahwa setelah Operasi, jantung baru Sasuke sempat mengalami penolakan dari tubuh barunya. Ia menghela nafas panjang, ia khawatir, apa Sasuke akan baik-baik saja?.
GREP
"Eh?" Sakura cukup di buat kaget saat tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang, cangkir di tangannya bahkan nyaris jatuh tadi. Sakura yang tadi ingin menoleh di urungkan saat kepala Sasuke sudah berpangku pada bahunya. Tidak tau kah pemuda itu, Mungkin Sakura juga butuh jantung baru jika terus begini.
"Kenapa belum tidur, Saki.." Suara Sasuke terdengar serak dan berat, cukup membuat iman Sakura nyaris goyah. Ia mencoba melepaskan lingkar tangan Sasuke dari perutnya, namun pemuda itu malah makin mengeratkannya, menengalamkan kepalanya pada lipatan bahu Sakura. Oh Tuhan, Kenapa Sasuke menjadi manja begini?
"A-aku hanya tidak bisa tidur, Sasuke lepas" Pinta Sakura, namun malah membuat Sasuke menatapnya dari samping, salah menoleh, sebuah ciuman pasti terlepas.
"Sebentar lagi, Aku hanya merindukanmu"
Ah, Sasuke berlebihan.
"Kita tinggal bersama Sasuke, bagaimana bisa kau merindukanku padahal kita selalu bertemu"
"Tapi tidak tidur bersama"
Sesuatu terasa berdesir di dalan tubuh sakura, tubuhnya menegang saat Sasuke dengan seenaknya melayangkan kecupan di bahu dan merambat ke lehernya, Sakura langsung sigap memutar badannya, dan bersyukur bisa terlepas dari rengkuhan pemuda itu. Tiba-tiba Saja udara jadi panas di sekitarnya. Oh, lihat saja Sasuke yang hanya mengenakan celana pendek sedengkul dan tanpa penutup atas, tersenyum aneh dengan rambutnya yang sedikit berantakan.
Alihkan pandangan Sakura, atau kau akan mimisan.
"Sasuke dimana bajumu?" tanya Sakura langsung, ia masih mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Melihat gadisnya kikuk, Sasuke malah mendekatkan dirinya, membuat Sakura ikut mundur sampai terhenti antara si roti sobek dan meja dapur.
"Sasuke, aku peringatkan. aku akan memukulmu jika mendekat"
Sebelah alis Sasuke terangkat, Ternyata menggoda Sakura semenyenangkan ini lihat wajah calon dokter itu yang memerah sampai ketelinga "Kau calon dokter Saki, bukankah hal ini akan biasa nanti kau lihat, bahkan kemarin juga kau sudah melihatnya"
Sakura tidak tau lagi menyebutkan warna yang lebih merah dari merah untuk menggambarkan wajahnya. Sasuke benar tapi saat itu situasinya berbeda, lagi pula jika pasien yang akan ia lihat nanti tidak akan berfikir yang iya-iy -eh yang enggak-enggak maksudnya "I-iya aku tau, ta-tapi kau berbeda"
"Berbeda? berbeda apanya Saki?" Sasuke semakin mendekatkan dirinya, membuat Sakura semakin gugup. Sakura langsung memejamkan matanya
"Sasuke aku mohon, pakai baju mu dulu, kalau tidak kembali lah tidur"
"Aku tidak bisa tidur, mungkin berbeda jika bersama mu. Bagaimana?"
"Sasuke..!" Sakura menjerit frustasi. Ia gadis normal. Siapa yang tidak tergoda dengan tampilan roti sobek yang kelewat tampan di depannya. Tapi, ia tau Sasuke juga cukup membahayakan jika menyangkut hal semacam itu. Lagi pula, ia masih ingin tetap seperti sekarang sampai mereka menikah nanti. Ia bisa mendengar Sasuke tertawa pelan, kemudian tangan hangat pemuda itu mengacak pucuk rambutnya pelan.
"Baiklah, aku akan memakai bajuku" bisik Sasuke di telinganya, kemudian pemuda itu melangkah menuju kamarnya. Sakura bernafas lega. Dulu memang Sasuke sering menggodanya, tapi kenapa sekarang jadi lebih terdengar mengairahkan.
'Tuhan, Bantulah aku menghadapi iblis mesum itu'
Terlepas dari singa tampan itu, Sakura langsung menuju ruang tengah, menjatuhkan bokongnya pada sofa empuk yang ia yakini pasti mahal. Meletakkan Coklat panasnya di atas meja, kemudian menyambar remot TV. Sudah hampir tengah malam, ia yakin ada acara yang bagus.
Sakura menoleh kesamping saat merasakan pergerakan pada sofa, Tepatnya pada Sasuke yang sudah mengenakan kaos hitam polos yang langsung duduk di samping gadis itu.
"Kenapa tidak tidur?" tanya Sakura, kemudian kembali menatap layar TV di depannya yang tengah menayangkan film drama romantis.
"Ingin menemanimu" Jawab Sasuke, tangannya langsung merangkul Sakura, menarik gadisnya untuk bersandar pada dadanya. Sakura yang awalnya ingin menolak, ia urungkan ketika sasuke mengusap lembut rambutnya, tapi tatapannya tetap pada layar TV.
"Kau sedikit manja, Ada apa?" tanya Sakura lembut, ia sedikit mendongak untuk melihat wajah Kekasihnya itu. Iya, Kekasih. Sakura sudah menyetujui hal itu.
"Apa tidak boleh?"
Sakura menyamankan posisinya, kemudian ikut mengarahkan emeraldnya pada TV "Bukan begitu, Hanya saja itu sedikit berbeda dari Sasuke si dingin yang dulu ku kenal" jawab Sakura, kini gantian Sasuke yang menurunkan pandangannya.
"Apa aku sedingin itu?"
Sakura mengangguk "Kau bukan hanya dingin, tapi selalu menjawab dengan kata 'Hn' setiap di tanyai. Apa kau tidak sadar"
"Tidak" Jawab Sasuke singkat.
Mereka kembali terdiam, cukup fokus pada film yang cukup menarik perhatian mereka, sesekali Sakura menegak susu coklatnya, ia cukup merasa nyaman berada dalam rengkuhan Sasuke, dengan pemuda itu yang sesekali mengecup lembut pucuk kepalanya.
Film yang tengah di putar menceritakan tentang dua Sahabat kuliah yang saling mencintai, hanya saja mereka tidak pernah mengakuinya. Sampai akhirnya sahabat sedari kecil sang wanita mulai menjalin hubungan dengan si Pria. Wanita itu tetap bersikap biasa saja meski ia tersakiti. Sampai akhirnya, saat pesta ulang tahun sang wanita dua sahabat itu kembali ke tempat pesta mencari dompet mahal milik sahabat kecil si wanita. Awalnya hanya perbincangan kecil menjadi sebuah ciuman yang mengatakan perasaan mereka masing-masing.
Sakura cukup berdebar melihat Scane itu yang langsung menjerumus pada kegiatan ranjang, jika ia sendiri yang menonton itu tidak menjadi masalah, tapi sekarang ia menonton bersama Sasuke. ia mendongakkan kepalanya, melihat Sasuke yang tengah serius melihat scane itu. Sakura berharap bisa membaca apa yang di fikiran pemuda itu. Namun ia urungkan saat Sasuke ikut memandangnya, ia kembali menatap TV, dengan sebuah kecupan pada pucuk kepalanya.
Kembali ke film, Dua sahabat itu akhirnya menjalin hubungan di belakang Wanita satunya, mereka sering bertemu jika kekasih sah si pria tengah melakukan pemotretan. Sampai salah satu teman pria si wanita yang berselingkuh mengetahui perselingkuhan mereka, tetapi memilih tidak ikut campur dan diam. Tapi di situ lah mulai terjadinya konflik yang cukup membuat si wanita kebingungan, teman prianya mencintai dia tapi dia mencintai pria yang sudah menjadi kekasih sahabatnya.
"Sakura..." Kepalanya mendongak lagi, menatap Sasuke yang tadi memanggilnya namun pandangannya tidak teralihkan
"Hmm" respon Sakura, menunggu Sasuke berbicara.
"Apa kau akan berselingkuh dariku?"
Deg
Pertanyaan yang keluar dari Sasuke membuat Sakura cukup terkejut, kenyataannya ia sempat menjalin hubungan dan menjadi selingkuhan Sasori. Tapi jika pada Sasuke saat itu apa masih bisa di bilang berselingkuh, ia tidak tau. Tapi cukup membuat gadis itu kebingungan menjawab, jadilah ia membalikkan pertanyaan.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?" sungguh, Sakura hanya berharap Sasuke tengah Baper karna filem yang sedang mereka tonton.
Lama, tidak ada jawaban yang keluar dari bibir Sasuke, pemuda itu memilih menatap Sakura dengan datar. Itu cukup membuat Sakura lebih dari gugup.
"Ke-kenapa kau menatapku se-seperti itu?"
"Aku hanya penasaran siapa yang sering menghubungimu sebelum kau mengganti nomor ponselmu, apa dia kekasihmu?"
Sakura ingin jujur, tapi sungguh ia tidak ingin sesuatu memburuk. Maaf Sasuke "Dia hanya kenalan di kampus, memang sedikit mengganggu" Bohong Sakura, mencoba meyakinkan. Tapi itu cukup membuat Sasuke tersenyum tipis.
"Aku percaya padamu" ucap Sasuke, pelan kembali melayangkan kecupannya "Aku hanya tidak ingin lagi kehilanganmu"
Sakura terasa tertampar cukup keras mendengar kalimat yang keluar dari Sasuke, perasaan bersalah menggelum di fikirannya. Sakura langsung memeluk Sasuke erat, membenamkan wajahnya pada dada pemuda itu, menyembunyikan air yang mengalir dari sudut matanya. 'Maaf kan aku Sasuke' batinnya. Ia semakin mengeratkan pelukannya, cukup membuat Sasuke bingung.
"Saki.. kau menangis?"
Sakura menggeleng, sedikit terisak Sakura mencoba mengeluarkan kalimatnya "hiks.. Aku mencintaimu, hiks"
Sasuke mengerti, ia kembali menggerakan tangannya untuk membelai lembut rambut sakura yang tergerai " Aku juga mencintaimu, lebih mencintaimu"
Mereka kembali terdiam untuk beberapa saat, Sakura sudah berhenti menangis, namun tetap pada posisi awalnya dengan tangan Sasuke yang memeluknya. Sampai panggilan lembut menyapa pendengarannya, ia hanya bergumam menanggapi panggilan Sasuke.
"Aku ingin"
Ucapan ambigu Sasuke membuatnya mengangkat kepala, menatap pemuda itu yang sekarang juga menatapnya.
"Ingin apa?" tanyanya polos, Sasuke menggerakkan dagunya, kearah TV. Sakura yang awalnya memasang wajah polos berubah. Ia tau apa maksud dari kata 'ingin' Sasuke. Wajahnya memerah, Saat ini Scane di TV tengah menayangkan kegiatan ranjang dua sahabat tadi. film lewat tengah malam memang membahayakan tanpa sensor.
Alaram bahaya langsung berbunyi di kepalanya, Sakura langsung mencoba melepaskan diri dari singa lapar itu. Tapi, entah bagaimana Sasuke tiba-tiba sudah merubah posisi mereka, jadilah ia berada di bawah kukuhan Sasuke yang sudah menatapnya dalam.
"Sa-sasuke, kumohon menyingkir" pinta Sakura memelas. Ia gugup, lebih dari gugup, jantungnya membabi buta.
"Sekali saja" pinta Sasuke tak kalah memelas. Untuk hal lain mungkin Sakura akan menurutinya, tapi untuk yang ini, jawabannya
"Tidak" tolak Sakura tegas. Namun itu tidak membuat Sasuke gentar
"Aku tidak menerima penolakan Sakura"
"Sasuke, Ki-kita belum menikah"
"Kalau begitu kita bisa menikah besok"
"Sasuke, mmmphh-"
Sasuke langsung menangkup bibir Sakura, melumatnya perlahan, membuat Sakura yang awalnya memberontak lama kelamaan ikut terlena dalam permainan bibir sasuke yang memberi sengatan aneh padanya. Keduanya beradu dalam permainan lidah mereka, sesekali terdengar suara kecapan yang memabukkan, kedua tangan Sakura yang awalnya di tahan Sasuke terlepas dan melingkar di leher pemuda itu, memperdalam kegiatan mereka. Beberapa menit, Sasuke menghentikan ciuman mereka, ia menatap Sakura yang sudah terengah dengan tatapan sendu. Sasuke langsung mengecup lama wajah Sakura. Dimulai dari kening, kedua mata sakura, hidung, pipi, serta bibir nya cepat.
Sasuke bangkit, mematikan TV, menggeser sedikit tubuh Sakura kemudian ikut berbaring di sebelah gadis itu. Membenamkan Sakura kedalam pelukannya.
"Tidurlah Sakura" ucapnya pelan, sembari memejamkan matanya.
"Disini?" Tak ada jawaban dari Sasuke, ia tidak yakin jika pemuda itu sudah tidur "Kau yakin ingin tidur di sini, Sasuke? berdua?"
Masih tak ada jawaban, Sasuke semakin mengeratkan pelukannya, Nafas pemuda itu terdengar halus.
"Sa-"
"Tidurlah Sakura, Aku mencoba menahan diri ku untuk tidak melakukannya sekarang" potong Sasuke "Jika kau masih berbicara, aku akan membawa mu ke kamar dan melakukan itu sampai pagi"
Sakura memilih diam, menyamankan tidurnya dan ikut memejamkan matanya. Ia benar-benar merasa nyaman sekarang. Lagi pula jika ia tidak menurut, Sasuke bisa melakukan 'itu' nanti.
"Selamat tidur, Sasuke"
"Selamat tidur, Saki".
.
.
.
.
.
3 Tahun kemudian
" Tidak"
Sakura ingin sekali rasanya menjitak kepala iblis tampan yang sekarang tengah duduk di balik meja kebesarannya itu. Sebuah papan nama yang terbuat dari kaca menampilkan deretan huruf menjadi 'UCHIHA SASUKE'. Pemuda yang baru menginjak umur 23 tahun itu menjadi pimpinan tertinggi di perusahaan yang bergerak di bidang industri. Oke, lupakan soal betapa hebatnya Uchiha Sasuke itu. Sekarang fokus pada gadis bersurai merah yang sedang menahan dirinya untuk tidak mengamuk. Sakura mengontrol emosinya, tetap mempertahankan wajahnya agar terlihat tenang.
"Aku tidak meminta persetujuanmu Sasuke, aku hanya menyampaikan saja"
Sasuke tetap mengarahkan Onyxnya pada lembaran berkas yang memang harus ia perhatikan, dengan wajah datarnya Sasuke menjawab.
"Jawabannya tetap tidak, Sakura"
"Aku akan tetap pergi"
"Pergilah, akan ku pastikan kau kembali sebelum sampai di perbatasan Suna" ancaman yang di ucapkan dengan raut tenang itu membuat Sakura kesal, ia tahu bahwa itu akan benar-benar terjadi jika ia tetap bersikeras pergi. Tidak ada cara dan itu membuat Sakura frustasi.
"Aku membencimu, Sasuke"
Sakura menghentakan kakinya kesal, ia langsung berbalik keluar dari ruangan kekasihnya itu. Tidak perduli saat semua karyawan menatapnya aneh, ada juga yang tersenyum ramah sambil menganggukkan kepala. Tidak ada yang tidak mengenal siapa Sakura. Kekasih pimpinan mereka yang cantik. Dokter muda yang sudah mulai bekerja di RS milik keluarga Uchiha yang beberapa tahun lalu baru di resmikan. Informasi, bukan Sakura yang menginginkan bekerja di RS itu, si bungsu Uchiha dengan kehebatannya dan kekuasaan yang tidak di ragukan lagi dengan seenaknya melarang Sakura untuk memilih RS lainnya dan pemuda itu juga seenaknya menggunakan kekuasaannya untuk melarang RS manapun nenerima Sakura. Meski begitu tetap saja gadis itu menjalankan tugasnya sebagai dokter spesialis anak. Hanya saja ia kesal dengan sikap Over Protective Sasuke.
Beberapa hari yang lalu, Temari menghubunginya untuk ikut menginap di Mansion Sabaku di Suna, mengadakan reuni khusus perempuan selama 3 hari 2 malam. Ino, Tenten, bahkan Ayame juga pergi, dan mereka mendapat izin dari kekasih masing-masing. Mereka akan berangkat lusa. Namun sialnya Sasuke tidak mengizinkannya pergi dengan alasan perjalanan yang jauh dan membuang waktu. Yang sebenarnya Sakura tau, Sasuke tidak ingin ia jauh darinya lebih dari semalam. Sejak dua tahun yang lalu, mereka sudah tidur sekamar, Sasuke memiliki kebiasan mengelus rambutnya sebelum tidur dan pemuda itu akan terjaga semalaman jika tidak melakukannya. Itu aneh, tapi Sakura selalu suka, tapi tidak jika itu membuatnya tidak bisa kemana-mana.
Sakura baru sampai di basemant gedung, langkahnya yang tinggal beberapa lagi sampai di mobilnya tercekat oleh Sasuke yang menahan pergelangan gadis itu. Ia menoleh, kemudian menepis tangan Sasuke.
"Aku tidak suka kau mengatakan kalimat itu, Saki" ucap Sakura tegas. Sakura tau kalimat mana yang Sasuke maksud, pemuda itu memang paling tidak bisa jika Sakura mengucapkannya. Tadi ia tidak bermaksud, memang kelepasan saja.
"Aku membencimu, benci..benci..benci.."
"Sakura" Sasuke memperingati, namun Sakura tetap mengatakan kata itu berulang-ulang.
"Aku benci Sasuke, aku benci sasuke...benci...benci...benci..."
"SAKURA !"
A/N.
Gak tau mau ngomong apa,
tapi makasih yang udah rela mantengin cerita gak bermutu ini dan juga semangat yang kalian berikan dengan mrninggalkan jejak-jejak cinta #PaanSih
Miyu sayang kalian.
Review?
