Pilot, My Husband

Pairing : Kaihun, Hanhun, Krishun, dll

Genre : Romance, Family

.

Happy Reading!

.

"Sehun, sarapanmu sudah kusiapkan! Tolong panggilkan Kris juga untuk turun." Luhan menata meja makan sambil menunggu dua orang tersayangnya itu menampakkan tubuhnya. Namja cantik itu membereskan ruang keluarga sambil menunggu.

"Chagiya, kau masak apa? Baunya sampai disini!" ucap seseorang dari kamar.

"Sudah, cepat turun! Panggilkan Sehun juga aku tak mau ia sakit." Luhan tersenyum melihat adiknya turun meski dengan wajah cemberut, dan langkah lesu.

"Ada apa? Kau lesu sekali pagi ini." Kris heran melihat adik iparnya yang bibirnya sudah seperti ikan mas itu.

"Iya, biasanya kau seperti kincir angin keblabasan?" Luhan membenarkan ucapan Kris.

"Kalian berdua tidak perlu memindahkan sekolahku juga! Apalagi di bagian penerbangan." Sehun semakin manyun, melihat dua orang di depannya itu terkekeh.

"Kau tidak suka? Maafkan hyung yang sudah memindahkan sekolahmu, tapi jika di SOPA itu terlalu jauh, dan kau harus naik dua bus, bagaimana?" Luhan hanya geleng-geleng kepala saja.

"Benar kata Luhan, bukan berarti apa-apa, tapi hyung ingin kamu belajar mandiri secara perlahan. Masih baik ada Luhan yang membantu, kalau kau disana tidak ada yang mengawasi. Berkemas saja kau perlu bantuan." Tambah Kris.

"Terserah, Kalian berdua jika memojokkanku sangat kompak. Hah, lebih baik kucoba, bukan. Sepertinya itu lebih baik. Kris hyung, Luhan hyung, aku berangkat." Sehun berpamitan dan berangkat ke sekolah barunya itu, huft.

.

Pilot, My Husband

.

"Baiklah, disini aku. Sekolah Penerbangan Internasional. Paling tidak aku lumayan menguasai bidang komputer." Ujarnya menyemangati dirinya sendiri, lalu mengikutialur siswa kelas dua yang berjalan ke arah lapangan.

"Adik-adikku sekalian, berhubung kalian sudah kelas dua, diharapkan kalian memberi contoh yag baik bagi adik kelas." Ia memperhatikan orang itu merasa familiar. Seseorang dengan kulit tan dan rahang tegas terpahat sempurna, dan matanya yang tajam meski memancarkan kehangatan.

Setelah pengumuman tidak jelas itu, Sehun memberanikan diri mendekati orang yang berpidato tadi.

"Permisi, apa kau Zitao hyung?" Sehun menghindari tatapan tajam oran yang sedangn membaca buku itu.

"Iya, benar, apa kau Xi Sehun? Sehun?" Zitao langsung memeluk Sehun.

"Bagaimana kabar Luhan-ge dan Kris-ge setelah menikah?" tanya Zitao.

"Kau sudah tidak mengharapkan Luhan hyung lagi kan hyung?" canda Sehun

"Panggil aku Huang Seosangnim! Bocah nakal!" Sehun mengaduh.

"Baik, seosangnim, saya pergi dulu, terima kasih!" Sehun langsung berlari meninggalkan Zitao dengan namja yang menatapnya dengan aneh.

"Nuguya, ge?" Zitao mengerukan keningnya saat mendengar pertanyaan namja berkulit tan.

"Xi Sehun adik dari Xi Luhan orang yang kusukai s=dulu, namun menikah dengan Kris sahabatku." Jawab Zitao enteng.

"Hyung tidak marah?" Zitao tertawa.

"Kai, bohong jika aku tidak marah atau kecewa. Tapi, melihat dia bahagia, itu jauh lebih menyenangkan meskipun bersama orang lain dan bukan kita. Relakan dia Kai, bersikaplah dewasa. Kau pasti bisa, nae dongsaeng." Zitao menepuk bahu Kai dan beranjak pergi.

.

Pilot, My Husband

.

"Sehun? akhirnya kau masuk sekolah penerbengan juga. Bosan di SOPA?" Sehun menoleh mendapati Yeosob, teman JHS-nya dulu.

"Begitulah, pasangan rusa-naga itu yang menyuruhku." Canda Sehun.

"Kau ini, eh, selama kau ada disini, jangan pernah berurusan dengan Kim Jongin. Dia kingka disini." Ucap Yeosob.

"Kim Jongin?"

"Dia seorang berandal. Beberapa bulan lalu, ia diputuskan oleh pacarnya dengan alasan tidak jelas. Ternyata, ia selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Kau tahu? Ia merupakan pilot termuda disini. Kau masuk kelas apa?" tanya Yeosob.

"TIK saja." Jawab Sehun kalem.

"Kita satu kelas, ayo!" mereka tak menyadari ada orang yang tersenyum mendengar pembicaraan mereka tentangnya, ya, seorang Kim Jongin. Tunggu, apa aku bilang tadi ia tersenyum? Ah, entahlah.

.

Pilot, My Husband

.

"Anak-anak, ini pesawat terbang buatan Amerika, yang telah diuji cobakan di Korsel. Ini dipakai oleh angkatan udara saat pertunjukkan ulang tahun Korea selatan. Dan pilotnya Kim Jongin, dari kelas XII-A." Jelas Lee seosangnim.

"Ini, peralatan komunikasi yang dipasangkan diharnes. Peralatan ini dulu dipakai oleh empat serangkai, salah satunya Xi Luhan."

"Ada yang mau mencoba?" tawar Lee seosangnim. Semua anak langsung terdiam. Yeosob denga iseng mendorong Sehun untuk maju kedepan.

"Ah, anak muda. Xi Sehun, eh? Kau adiknya Luhan? Ayo cobalah, sebentar, akan kupanggilkan Jongin." Lee seosangnim ingin mengetes Sehun. Ia kan adik Luhan, kalau kakaknya pintar, adiknya bagaimana?

"Tapi, kemampuanku belum seberapa, seosangnim." Lirih Sehun.

"Cobalah, ah, Kai! Kebetulan kau lewat. Kau perlu co pilot kan? Cobalah dengan Sehun, tapi mungkin ia akan penggerak radar. Partnermu." Lee seosangnim menepuk bahu Kai.

"Ayo Sehun, aktifkan radio komunikasinya." Sehun perlahan mendekati peralatan yang pernah dipakai kakaknya itu. Saat melihat settingnya, ia tersenyum 'lebih sulit yang dirumah' batin Sehun. Ia meng-aktifkan tabung indikator, dan panel di dekat programer search, berusaha menentukan mach dan altitude. Ia mematikan tiga prosesor utama, dan berusaha menghubungkan dengan propeller-nya. Sukses!

PROK!PROK!PROK!

Sehun melepas headphone penghubung itu, dan mengusap peluh di dahinya.

"Luar biasa, kau dengan mudah mengaplikasi program itu, padahal aku butuh waktu tiga bulan untuk menguasainya. Baiklah, sekarang, Kai, Sehun, kalian kujadikan partnerm uji coba SEKARANG!"

"Baik seosangnim!" Kai mengangguk mantap.

"Mwo?! Aku belum siap!" Sehun langsung mundur, tapi, tangannya ditahan oleh Kai.

"Percaya dengan apa yang kau lakukan. Penerbanganku kau yang menentukan." Kai tersenyum dan memasuki pesawatnya. Banyak siswa yang kaget kenapa seorang Kim Jongin bisa dengan mudahnya akrab dengan murid pindahan itu.

Sehun kembali berkutat dengan peralatan empat monitor itu, setelah menemukan mach dan altitude pesawat yang tepat, Sehun memberi kode kepada Kai.

Kai yang berada di dalam pesawat jet langsung memasangkan headphone, wireless, dan memastikan kabel yang berfungsi seagai penghubung dengan sinyal radar berfungsi dengan baik.

"Kau siap? Jangan gunakan tangki pemanas terlebih dahulu, lebih baik kau aktifkan tabung regulator yang berada tepat di bawah kursi kemudimu untuk penghematan. Kau mendengarku?"

"Ya, aku mendengar."

"Baiklah, luncurkan dengan pelan-pelan, stabilkan kecepatan. Jangan terlalu lambat, angin di sekitar lapangan penerbangan dan hanggar terlihat tidak bersahabat, mereka membawa awan kumulus."

"Baik, siap untuk penerbangan!
.

3

.

2

.

1

WUSH!

"Bisa kau stabilkan kecepatan! Kau terlalu labil dalam hal ini! Mulailah dengan 27 knot!" Sehun yang berada di hanggar berteriak sambil mengoreksi data-data dari pesawat. Teman-temannya sampai tegang saat melihat pesawat yang dinaiki Kai sedikit oleng.

"Kau gila?" Kai balas membentak.

"Setidaknya kau bisa kurangi kecepatanmu atau kau akan menabrak daratan! Kecepatanmu sekarang 600 mil/jam! Itu sudah batas maksimal mesin pesawat itu Kai!" mendengar teriakan Sehun dari headphone-nya, perlahan ia mengurangi kecepatan laju pesawatnya.

"Pastikan tangki sudah diberi tekanan yang cukup, kalau bisa kau harus sempat manuver untuk mencari altitude yang tepat." Suara Sehun sudah mulai tenang. Semua yang menonton menahan nafas saat pesawat yang dinaiki pilot muda itu bermanuver dengan sayap kanan pesawat nyaris mengenai tiang radar.

CESHHH! BLUSSHHH!

Pesawat mendarat dengan sempurna. Sehun langsung mengusap peluhnya dan memanjatkan doa. Tangannya masih berkeringat dingin. Suara tepuk tangan yang riuh berasal dari teman-temannya. Sehun masih tak percaya, hingga Lee seosangnim membawakannya segelas air putih.

"Kau hebat, Sehun-ssi. Lebih hebat dari kakakmu." Sehun masih menetralkan jantungnya, tak sengaja, ia melihat Kai yang sedang menatapnya. Obsidian kelam itu menatap Sehun dingin, hingga membuat Sehun meneguk ludahnya kasar, ia tahu kalau tadi ia salah karena membentak sunbaenya sendiri. Ia harap-harap cemas saat Kai berjalan ke arahnya dengan mata yang serasa mengulitinya hidup-hidup.

"Kau tahu? Kau satu-satunya orang yang pernah membentakku saat aku menaiki pesawatku." Kai mengusak rambut Sehun dan tersenyum tipis.

"Senang menjadi partnermu nae hoobae." Perlakuan Kai sontak membuat pipi Sehun menyepuh merah. Bagaimana kalau Luhan tahu? Bisa diledek habis-habisan denganya. Apalagi Kris hyung yang selalu memproklamirkan jangan-pacaran-saat-masih-sekolah-atau-masa-depanmu-tidak-baik.

"Sehun!" saat Sehun menoleh ia melihat Yeosob berlari ke arahnya.

"Kau hebat sekali tadi!" Yeosob memeluk Sehun dengan erat sekali.

"Kau mencekikku!" Sehun mendorong pria manis itu.

"Hehe, maaf."

"Pulang sekolah kau mau kemana?" Yeosob melempar komik one piece milik Sehun.

"Membeli hadiah, maknae di keluargau ultah." Kata Sehun.

"Mwo? Hayoung ultah? Yang keberapa? Kau tahu dia imut sekali! Kau tinggal di Seoul dengan Luhan hyung, sementar Hayoung di Busan. Apa kau akan pergi ke Busan? Kalau pergi, aku ikut dong!" Yeosob berteriak senang, sementara Sehun memutar bola matanya, dari JHS hingga sekarang, penyakit hebohnya tidak bisa hilang!

"Yeosobku sayang, pertama, aku tidak ke Busan. Kedua, Hayoung akan tinggal bersama kami. Artinya, mereka berdua yang akan menjemputnya ke Busan, sudahlah setelah ini kita akan teori tentang mesin dan tekhnik serta kegunaannya, aku tidak mau terlambat!" Sehun menarik Yeosob ke kelas.

Orang yang sedari tadi diam membaca buku dengan kacamatanya itu menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Tampan.

"Yeopoda. Kenapa kau tidak bilang jika kau kembali?"

.

.

.

TBC

Halo! Ini ff keempatku! Update kilat kan? Sepertinya aku ketagihan, mumpung ada tugas bahasa Indonesia, sekalian buat refreshing saja! Oh, ya untuk yang menunggu Aki No ShiShu, Werewolf, dan All My Love For You, secara bertahap, yaa...

Jo Lali review ya rek! Matur nuwun! Bye Bye!

(contoh orang pelit ngomong)

Biarin! Wlek!