Pilot, My Husband
Pairing : Kaihun, Hanhun, Krishun, dll
Genre : Romance, Family
.
Happy Reading
.
PUK!
"Hyung kenapa? Kau seperti sedang kasamaran saja." Taemin datang bersama Kyungsoo yang membawa susunya.
"Apa kau menemukan cinta pertamamu yang sudah lama hilang?" jawab Kyungsoo polos. Dan sontak membuat Taemin dan Jongin membulatkan matanya. Oh ayolah. Kyungsoo baru kelas tiga sd.
"Siapa yang mengajarimu cinta-cintaan?" Kai menatap intens adik kecilnya itu.
"Taemin hyung."
"MWO?!" mendengar Kai berteriak, Taemin langsung berlari, ia mengambil langkah seribu.
"Taemin!" yah, begitulah keseharian di keluarga KIM. Jika kau berada di sana kujamin bakal misuh-misuh.
.
.
.
"Oppa! Kau meminum susuku! Luhan Oppa, Sehun oppa mengambil susu cokelatku! Kembalikan bambu albino!"
"Sehun! Kembalikan susu Hanyoung."
"Huft, Kris hyung gak asik. Sebentar lagi ia akan menangis."
"Kalau mau susu di kulkas ada." Luhan masih membersihkan dapur.
"Tapi, yang cokelat habis, strawbery semua!" Sehun mengerucutkan bibirnya.
"Eh? Aku beli strawberry ya? Bukannya aku beli cokelat?" jawab Kris bingung.
"Berarti Oppa sudah menyebabkan aku dan Sehun Oppa bertengkar hanya karena susu?!" Hanyoung membulatkan mata sipitnya.
"Kau membeli strawbery Kris? Itukan susu kesukaanku." Tiba-tiba Luhan duduk disamping Sehun yang masih cemberut. Kris tahu kalau Sehun dan Hayoung sudah memperebutkan susu, runyam sudah masalahnya.
"Aku tidak mau tahu, Kris Hyung harus membelikan milkshake cokelat untuk kami berdua! Kalau tidak..." seringai manis terpatri di bibir Sehun.
"Yifan oppa tidak kami izinkan menyentuh Luhan Oppa, dan Luhan Oppa tidak boleh memberi jatah kepada Yifan Oppa." Tambah Hanyoung.
"MWO?!"
"Kau tidak hanya mengurusi burung terbangmu saja kan?" canda Luhan.
"Ayo, sekalian kita makan di luar. Kita sudah lama tidak makan bersama kan?" Hayoung langsung menarik tangan Luhan, diikuti Sehun yang menarik tangan Kris.
"Sekaligus perayaan ultah Hayoung lah.." gumam Kris. Ia menoleh ke arah Luhan yang masih mengunci pintu depan.
"Kajja, anak-anak menunggu, kau sudah tampak cantik." Kris mengecup telak bibir Luhan.
"EKHEM!" dua orang itu langsung berjauhan. Kris yang menatap sebal, dan Luhan yang memerah.
"Kajja, Lulu oppa, aku tidak mau kakakku tersayang dimakan naga, hhiiiiiyyy. Ngeri atuh eui!" Hanyoung langsung menarik Luhan.
.
.
.
"Yay! Hongdae street! Kita beli bulgogi! Itu restaurantnya ayo kita kesana!" mereka akhirnya pergi ke restoran yang dipilih Hanyoung, benar-benar keluarga bahagia ^-^
"Aku pesan ayam kari, dan ddokbokki!" tiga orang dewasa itu langsung melongo.
"Kau sanggup menghabiskannya?" jujur, Luhan agak sangsi melihat ukuran porsi yang disediakan.
"Aku pesan bulgogi dua porsi dengan Luhan. Minumnya 3 hot choco dan 1 americano. Sehun, kau mau apa?" Kris menyerahkan buku menunya.
"Bibimbap saja." Jawab Sehun.
"Hyung, aku ke toilet sebentar." Kris mengangguk. Dengan perlahan, Sehun mencuci muka. Tangannya meraba gelang pemberian Jongin tujuh tahun lalu. Ia tersenyum. Cinta pertamanya, dan sahabat selamanya.
Sehun melepas gelang itu, dan menatapnya lama. Tiba-tiba, ada segerombolan anak masuk dan tak sengaja menyenggol gelang Sehun hingga terjatuh, Sehun yang sadar langsung berusaha mencari gelang yang sudah tujuh tahun melekat di tangan kirinya itu.
"Ya Tuhan! Gelangku dimana?" Sehun terus mencari di sekitar benda itu jatuh.
"Kau gila, ya?" cibir seseorang, dengan cepat Sehun menoleh, ia mendapati Kai sedang mencuci muka.
"Uhm, maaf Jongin sunbae kalau kau terganggu. Apa kau melihat gelangku? Yang berwarna hitam dengan tulisan coffe Jong?"
DEG!
"Gelang? Gelang apa? Aku tak tahu!" jawab Kai acuh, padahal ia sedang menyembunyikan kegugupannya.
"Satu lagi, jangan pernah memanggilku Jongin! Panggil aku Kai!" dengan cepat Kai menuntaskan cuci mukanya, dan mengacak rambutnya pelan. Sehun menunduk, tanpa sengaja matanya mengarah ke tangan kiri Kai yang memakai gelang.
"Milky Hun?" gumam Sehun.
"Kau membaca apa? Dasar orang aneh!" Kai langsung membalikkan badannya dan keluar dari toilet dengan tergesa-gesa, meninggalkan Sehun yang terdiam.
"Apa benar itu kau Kai?" Sehun keluar dengan lesu.
.
.
.
"Kai hyung! Aku titip ddeokbokki di tempat biasa. Hyung mau membeli bulgogi kan?" Kyungsoo mendekati kakaknya yang sibuk membolak-balik koran.
"Ini uangnya, ya hyung. Kalau kurang, tolong hyung tambahin, ya.." Kai beranjak menerima uang dari tangan mungil adiknya itu. Ia menggendong Kyungsoo yang bermain dengan mobil-mobilannya.
"Hyung! Taemin pesan sushi ya!" tiba-tiba, Taemin langsung menerjang Kai yang menggendong Kyungsoo.
"Shireyo! Mana uangmu!" sewot Kai. Ia tak habis pikir, kenapa Kyungsoo lebih dewasa dari Taemin yang posisinya sebagai kakak?
"Sudah, Kai. Aku juga titip, biar aku semua yang bayar. Kalian berdua di rumah saja, biar Kai yang pergi." Donghae tiba-tiba datang dari pintu depan, membuat Kai mendengus melihat Taemin yang memeletkan lidahnya.
"Donghae hyung kok kemari sendirian? Mana Kibum Hyung?" tanya Taemin.
"Ia tak bisa datang. Sudah sana Kai!"
.
.
.
"Ajusshi, bulgogi satu porsi, ddokbokki satu porsi, dan sushi satu porsi. Dibungkus. Saya ingin ke toilet." Ajusshi itu sudah hafal dengan pesanan Kai.
"Kau sudah besar Hunnie." Kai tersenyum mengingat sahabat kecilnya sekaligus cinta pertamanya itu jika merajuk, tertawa, menangis, dan saat ia menjadi cerewet. Ia mengusap gelangnya.
Saat ia masuk ke bilik toilet, ia tek sengaja menemukan gelang hitam bertuliskan coffe Jong.
"Ini kan milik Sehun?" gumam Kai. Samar-samar, ia mendengar suara orang yang menurutnya familiar.
"Ya Tuhan! Gelangku dimana?" Kai tersenyum.
"Gelangmu aman bersamaku Hunnie." Ia menuntaskan urusannya, ia melihat Sehun yang mengusap wajahnya kasar
"Kau gila." Cibir Kai ia membasuh wajahnya di westafel.
"Uhm, maaf Jongin sunbae, kalau kau terganggu. Apa kau tau gelangku? Yang berwarna hitam dengan tulisan coffe Jong?"
DEG!
"Gelang? Gelang apa? Aku tak tahu!"
"Satu lagi, jangan pernah memanggilku Jongin lagi, namaku Kai!" Kai menyibukkan diri lagi, mengacuhkan Sehun yang terdiam.
"Milky Hun?" Kai membelalakkan matanya. Ia menelan ludah, lalu menatap Sehun tajam.
"Kau membaca apa? Dasar orang aneh!" Kai langsung pergi, namun ia sempat mendengar ucapan Sehun.
"Apa benar itu kau, Kai?" Kai menghela nafas, ia langsung membayar makanannya, namun celaka...
"Jongin?" suara itu, suara lembut yang selallu melerai Sehun dan Kai jika mereka berdua bertengkar. Ia pasti tahu kalau mereka berdua bersahabat. Ia langsung berlari, meninggalkan Luhan yang menerka-nerka.
"Aku harus menceritakan semuanya kepada Donghae hyung, Taem, dan Soo-ie." Ia langsung berlari, tanpa memperhatikan jalan. Hingga ada mobil yang melaju cepat ke arahnya...
CKITTT!
BRUKKK!
Kai membuka matanya, ia menatap Sehun yang menangis, padahal yang hampir tertabrak itu dirinya kenapa Sehun yang menangis? Dan Kai baru sadar jika namja albino yang berada di pelukannya itu menyelamatkan dia.
"Hei, bangun, aku tidak apa-apa, kau ada yang terluka?" tanya Kai, pandangannya ke arah Sehun melembut. Sehun membuka matanya. Ia mendapati Kai yang menatapnya dalam.
"Sehun!" mendengar suara yang menginstrupsi mereka, Kai langsung berlari mengetahui Luhan sudah mengetahui dan melihat mereka berdua.
"Kau tidak apa-apa kan? Tidak terluka, kan?" Sehun hanya mengangguk.
.
.
.
"Pesawat terbang, dibuat oleh Wright bersaudara. Mereka mendapat ide karena penerbang layang handal Otto Lilienthal tewas dalam percobaan terbang menggunakan pesawat layangnya."
"Ia meninggal karena terlalu mengandalkan angin. Suatu hari, mereka mendapat inspirasi dari burung buzzard. Hingga pada bulan mei 1899, Wilbur meminta ke Smithsonian untuk meminta buku tentang aeronautika."
"Lanjut ke bab bagian astronomi, kenapa manusia bisa menembus batas lapisan atmosfer. Kita beralih ke manusia yang datang pertama kali ke bulan, Neil Armstrong. Kalian akan mempelajari tekhnik mesin dalam pesawat terutama yang tertarik masuk ke angakatan udara. Kemudian, Yuri Gagarin, kebangsaan Rusia yang menjadi orang pertama yang tiba di antariksa. Menggunakan pesawat Vostok 1 yang dibagi menjadi beberapa bagian dengan rumus kalkulus dan penghitungan aljabar tingkat tinggi untuk meminimalisir kecelakaan." Cho seosangnim mengambil nafas.
"Lihat buku halaman 198. Disitu dijelaskan pembagian modul dalam ruangan pesawat antariksa milik Uni Soviet. Terdiri dari modul perlengkapan, kapsul untuk masuk kembali(reentry capsul), dari kabin kemudi ke ruang mesin. Serta roket peluncur kapasitas sedang."
"Kemudian, pembahasan tentang piranti di pesawat luar angkasa milik USA. Apollo 15 dan 17 yang bertugas membawa Rover Lunar atau mobil dengan baterei yang dibuka dari dasar tingkat turun (descent stage)"
"Sehun-ssi, coba kamu kerjakan soal di depan." Cho seosangnim tersenyum menatap Sehun yang melangkah ragu-ragu.
"Kudengar kemarin kau berhasil bekerja sama dengan murid bandelku itu untuk menerbangkn pesawat pilot tunggal milik USA, maka dari itu, aku ingin mengetesmu apa kau bisa menentukan rasio secara matang. Kerjakan soal teori di depan, cara itu sudah kutambahkan kalkulus. Jika kau bisa mengerjakan, kau akan naik ke kelas XII A akselerasi. Di gedung A" Mendengar ucapan Cho saem, Sehun hanya bisa membelalakkan matanya. Gedung A, keals aksel? Itu kelas rusa-naga juga! Ia menghembuskan nafasnya, dan mengangguk.
"Akan saya coba." Sehun menekuni 20 soal di papan tulis hijau itu dengan semua mata tertuju kepadanya dengan tegang. Sementara itu, Cho seosangnim tersenyum terus menerus. Ia sepertinya bangga melihat anak didiknya bisa sepintar ini.
"Selesai Saem, mohon dikoreksi." Cho saem terbelalak, 20 soal yang hanya betul paling tidak 18 oleh empat sekawan itu, dikerjakan Sehun dalam waktu 15 menit, dan betul semua!
"Kau hebat! Luar biasa, kau tedaftar di kelas aksel gedung A, dan nilai di kelas ini saya naikkan tiga!"
PROK!PROK!PROK!
"Kau hebat Sehun!"
"Applause, Sehun-ah!"
"Bereskan barang-barangmu, kita ke gedung A sekarang! " ucap Cho seosangnim Cho Kyuhyun itu.
"Mwo? Sekarang? Baiklah, saem..." pasrah Sehun.
"Kami akan merindukannmu Sehun-ah." Yeosob memeluk Sehun, dibalas Sehun dengan erat.
"Jangan lupakan kami Hun-ah!"
"Kau akan menjadi popular Sehun!"
.
.
.
"Anyeonghaseyo Cho seosangnim!" para murid serempak mengucap salam.
"Anak-anak, berhubung kelas kita kekurangan murid, saya membawa murid baru dari geudng B, harap kalian bisa menrima dengan baik!" para murid hanya mengangguk sanksi.
"Saem, murid itu tidak seperti sebelumnya, kan?" tanya siswa bernametag Sooyoung.
"Pak, dia tidak tertinggal pelajarn jika disini? Aku takut ia tidak bisa mengikuti." Ucap Minho.
"Benar kata Minho Oppa, dulu ada pindahan dari kelas di gedung B, malah tidak bisa mengikuti dan akhirnya kembali ke kelas, dan kabar berikutnya ia tewas gantung diri." Tambah Seohyun, kembaran Minho.
"Dia berusia 15 tahun."
"Mwo?"
"Tidak seharusnya kalian terkejut mengingat teman kalian Kim Jongin juga begitu bukan?" Cho saem dapat menangkap hal yang ditakutkan para siswanya itu.
"Kalian tahu Xi Sehun? Siswa pindahan dari SOPA, yang berhasil kolaborasi dengan Kai tempi hari? Hari ini ia masuk kelas ini, Sehun-ssi, masuklah, dan perkenalkan dirimu." Sehun melangkah dengan canggung.
"Anyeonghaseyo, naneun Xi Sehun imnida, bangapseumnida." Ia membungkukkan badan.
"Boleh aku memberi 'salam perkenalan' untuknya saem?" tanya Seeohyun, bibirnya menyeringai sedikit.
"Silahkan Seohyun-ssi." Jawab Cho seosangnim. Ia mengerti apa yang dimaksud salam perkenalan. Sementara Sehun sudah mengeluarkan peluhnya, ia memperhatikan tiga orang itu yang masih berkutat di depan, tanpa memperbolehkan ia untuk melihat. Penasaran dengan 'salam perkenalan' ala Seohyun, Sooyoung, dan Minho? Tunggu kelanjutannya, ya...
.
.
TBC
Halo! Update kilat kan? Eh ada yang tahu cara menuliskan biodata di ffn? Kalau tahu, kasih tahu dong... plis
Mau minta dibuatkan pairing, siapa di ff-ku yang lumutan di laptop, sesuai permintaan aja, ya. Ini aku pihak netral. Aku bias semua shipper.
Walau lebih ke magnae line, tiang listrik line, rusa-kelinci...
Jangan lupa reviewnya ya..
