Pilot, My Husband

Pairing : Kaihun, Krishan

Genre : Romance, Comedy

Rated : M ( nanti kalau dah chap Kaihun jadian ^_^)

.

Happy Reading!

.

"Ini dari kami mohon diterima." Minho tersenyum. Sehun mengambil kapur dan spidol karena dua papan tulis itu sudah terpenuhi soal.

"Dia pintar." Aku Seohyun, ia berbicara seperti itu karena Sehun berhasil mengerjakan soal buatan Sooyoung yang terkenal dengan aplikasi angkanya yang rumit.

"Bahkan soal ceritamu yang menjebak pun dia mampu." Kagum Sooyoung. Sehun dengan cepat mengejakan soal dari Seohyun yang terkenal dengan pertanyaannya yang menjebak.

"Kuakui ia jenius." Akhirnya sang otak professor buka suara. Ia mengakui kemampuan Sehun dalam menghitung ketepatan matematika yang sangat diperlukan apabila nanti saat praktek ia ditempatkan di bagian pemantau fungsi radar.

"Selesai, mohon dicek." Semua murid berbisik-bisik, jujur, mereka mulai menyukai Sehun yang walau pindahan dari gedung B.

PROK!

PROK!

PROK!

"Kami menerimamu." Jawaban singkar dari Minho menjadi penutup ketegangan di kelas itu.

"Horee! Selamat bergabung Sehun-ah!"

"Adikmu tidak mengecewakan Luhan. Aku bangga menjadi guru dan senior bagi kalian."

.

.

.

CKLEK!

"Sehunnie, sudah pulang?" Luhan tersneyum melihat Sehun yang lesu sekali.

"Ada apa? Kau terkena masalah?" Sehun menggeleng, raut wajah cemas Luhan kian kentara saat Sehun diam dengan manis di kursi meja makan.

"Hyung..." Sehun berdiri dan memeluk Luhan.

"Waeyo? Ceritakan kalau ada masalah." Luhan mengusap punggung Sehun dan merasakan beban dari adiknya itu.

"Aku diterima di kelas aksel XII A." Ucapan Sehun yang terdengar jelas membuat Luhan melongo.

"Eh? Jinja? Wah, chukkae! Lalu kenapa kau bersedih?" Luhan tak habis pikir dengan jalan otak adiknya.

"Tapi, biayanya sangat besar hyung." Lirih Sehun.

"Hyung yang akan membiayainya, kau hanya sekolah saja. Kris hyung menjadi pelatih di sekolah militer AU, gajinya besar, dan aku juga menjadi guru di sekolah militer AU, yah walaupun di bagian konseling. Tapi itu sudah cukup, kan?" ucap Luhan, berusaha membesarkan hati Sehun.

"Tapi, hyung tidak akan membohongiku lagi seperti dulu kan Hyung?" Luhan menggelengkan kepalanya, pikirannya menerawangsaat dua orang tuanya bercerai dan susahnya menghidupi dua adiknya. Dengan terpaksa, Luhan meninggalkan Hayoung yang masih kecil di Yoon ajuma, ia memasukkan Sehun ke SOPA, sekolah asrama dengan biaya murah. Satu-satunya jalan adalah dengan masuk Sekolah Penerbangan Internasional secara gratis karena beasiswa.

"Hyung janji."

.

.

.

"Kim Jongin-ssi, kau tahu kenapa kau dipanggil saat memberi bimbingan kepada kelas X B?" tanya Cho Saem.

"Tidak." Jawab Kai seadanya."

"Bukankah Huang seosangnim sudah memberi tahumu?" Kai menatap Kyuhyun, Zitao tidak mengatakan apa-apa.

"Huang saem tidak memberitahuku sama sekali." Jawab Kai sekenanya.

"Hah, dia pasti lupa kalau Kai dan Sehun dipartnerkan untuk mengikuti The Opening Ceremony untuk menyambut presiden Amerika yang akan datang ke Korea." Ucap Cho saem akhirnya.

"Kalian akan dibimbing oleh Kris dan Luhan, kebetulan mereka kosong tugas di akademi." Kai menatap cengo guru di depannya.

"Kalian akan melaksanakan masa pelatihan satu bulan di pangkalan udara dekat akademi militer tempat mereka berdua bertugas untuk dilatih."

"Baiklah, terserah anda." Kai keluar dari ruangan.

"Aku butuh hiburan!" Kai berlari menuju hanggar, namun ia terkejut mendapati Sehun sedang mengusap pesawat jet yang tempo hari ia pakai. Kai mendekati Sehun secar pelan, terdengar iskan halus yang lolos dari bibrnya.

"Sedang apa kau disini?"tanya Kai acuh. Sehun mendongakkan kepala, mendapati Kai yang menatapnya tajam, dengan cepat, Sehun mengusap air matanya dan beranjak pergi. Seulas senyum terbit di wajah tampan seorang Kim Jongin.

"Kau tidak berubah Sehunna.." ia pergi keluar dari hanggar, sepertinya ia akan langsung pulang.

"Mianhae, hyung. Aku bukan donngsaeng yang baik bagimu." Sehun melirik arlojinya, sudah sore rupanya.

Sehun berlari menuju parkiran, ia mengambil sepedanya, dan mengayuhnya perlahan

"Luhan hyung.." Sehun terus menggigit bibir bawahnya. Saat sampai di jalan yang lumayan sepi Sehun mempercepat sepedanya. Namun naas,..

"Hei, ada kelinci kecil tersesat, bagaimana kalau kita ajak bermain sebentar?" lima laki-laki yang masih berseragam, mungkin sebayanya. Menarik Sehun ke gedung kosong di belakang halte..

"LEPASKAN AKU!"

"Tenang manis, kau akan merasa nikmat nanti.." salah satu dari mereka meminumkan cairan perangsang ke dalam mulut Sehun.

"UGH! LEPASKAN AKU! AKU BUKAN YEOJA!"

GLEK!

Dan cairan hijau pekat itu sukses ditelan Sehun, lima pemuda itu menyeringai, ia menyobek kemeja tipis sebagai dalaman, hingga kancing Sehun terbuka semua.

"Eungh...ah...pah...nashhh...shhhh...oh...jjjjah...ngannh...nh" Sehun membekap mulutnya yang bisa bicara seperti itu.

BRUK! BRAK!

Sehun membuka matanya, ia melihat sosok Kai walau buram. Lima orang itu dihabisinya dengan cepat. Kai berjalan mendekat, ia melihat Sehun yang berusaha menutupi bajunya, dengan sigap, Kai menggendong Sehun ala bridal ke rumahnya, ia menatap Sehun yang sudah tertidur, ia mencium sedikit obat perangsang pada tubuhnya.

"Sialan! Sehun, maafkan aku tidak bisa menjagamu..." Kai mengecup bibir! Tepat di bibir, mamen! BIBIR!

"Eungh.." Sehun melenguh pelan dan menyamankan posisinya di dada Kai.

"Sebenarnya kau pingsan atau tidur, sih?" Kai meninggalkan sepedanya begitu saja, dan membawa Sehun dengan sangat hati-hati, tiba-tiba mata Sehun terbuka.

"Kaih...sunhhh...baeh...pah...nashhhh...huh...nghhh..." Sehun membuka bajunya yang sudah tak terbentuk, tangannya melingkar sempurna di leher Kai. Sementara Kai membelalak saat melihat leher Sehun yang seperti meminta untuk dicumbu. Ia menjilat telinga dan mengecup leher Sehun

"Ah...Kaih...huh...nh...shhhhh..." libido Kai langsung memuncak mendengar desahan Sehun yang sangat sexy itu.

"Kau mau apa Hun?" Kai menyeringai melihat tangan Sehun yang meraba-raba kancing bajunya. Dengan cepat, ia langsung membawa Sehun ke apartemennya yang tidak jauh dari lokasi tadi.

"Kuh..mohon...nhhh...Kaih..." untung saja apartemen Kai berada di lantai dua, tidak begitu tinggi. Sampai di apartemen Sehun langsung menarik Kai,, sementar Kai memerangkap Sehun di dinding, hingga tidak bisa bergerak.

And...NC dimulai!

Kai mengecup dan menjilat leher putih Sehun membuat Sehun meremas rambut belakang Kai. Tangannya yang usil perlahan membuka celana seragam Sehun hingga turun ke mata kaki. Ia mengelus pusat tubuh Sehun, tubuhnya sudah lemas, jika Kai tidak menopangnya mungkin ia akan jatuh.

"Uhm...Kaih...uhng...nghhh...ah...shhhh..." tanpa sadar, tangan Sehun juga bermain di dada Kai untuk membuka kancing seragamnya.

"Kita lanjutkan di kamar saja, baby..." dengan cepat, Kai langsung membuka kamarnya kasar, dan membanting Sehun di ranjang. Ia langsung mengunci pintu dan menindih Sehun. Mereka berdua terlibat ciuman panas yang menggairahkan siapa saja yang mendengarnya.

"Eungh..."

"Arghh..." Kai menggeram nikmat saat pusat tubuh Sehun yang masih memakai underwear itu bergesekan dengan miliknya, cukup! Ia tidak tahan, dengan cepat ia membuka seluruh seragam sekolahnya dan menggesekkan juniornya ke Sehun.

"Ah...Kaih...heungh...nghhh..." Kai langsung mencopot underwear Sehun dan melemparnya asal, sekarang, 'little hunnie' sudah berdiri tegak di hadapannya, seolah menantang dirinya untuk menyentuh junior kecil itu. Perlahan Kai mengemut, junior kecil itu.

"Kaih...uh...thereeeh..." Kai menggigit lubang di ujung junior Sehun dan twinsballnya tidak seirama. Dengan cepat dan menghentak.

"Ah...Kaih...uh...morehhh...heunghh...ah..."

'Shhh...Kaihhhh...Uhhhh...akk...kuhh...mauh...kehhhh...AH!"

Croot

Croot

"Akh! Kaih...apah...ituh..." kai memasukkan dua jarinya ke hole milik Sehun yang sangat ketat itu. Melebarkannya perlahan untuk juniornya yang big size.

"Kumasukkan neh..."

SLEP!

"AKH! Kaih...uhm...ah...ngehh..."

"Kau sempith...babyh...kkhhhkkkhhh..." Kai langsung menumbuk Sehun terus menerus.

.

.

.

Other side...

Kris masih memeluk Luhan yang tertidur. Ia memandangi wajah lelah istrinya itu. Kris mengusap pelan surai cokelat Luhan. Mungkin karena kelelahan akibat aktivitas rutin mereka, Luhan langsung tertidur. Tapi tidak dengan Kris, ia masih betah memandangi Luhan yang tidur dengan wajah masih bersimbah peluh, membuatnya semakin cantik dan uhm, boleh dikatakan sexy. Walau Luhan paling benci dipanggil seperti itu.^_^

"Lu, maaf aku berbohong padamu tentang identitasku. Tapi, aku janji aku akan membantu Sehun, biar aku saja." Kris mengecup bibir Luhan dan bangkit untuk mengambil handphonenya. Ia menghubungi sebuah nomor.

"Ajusshi, tolong kirimkan uang lima ratus won ke Sekolah Penerbangan Internasional untuk pembayaran beasiswa atas nama Xi Sehun." Kris tersenyum, ia kembali merebahkan dirinya, ia tak pernah bosan untuk melihat wajah Luhan yang tenang dan bercahaya. Yah, Luhan saat tidur, sangat berbeda dengan Luhan saat marah. Bahkan, Kris harus memutar otak lebih untuk membujuk anaenya yang sedang marah. Ia teringat cerewetnya Luhan saat Hanyoung mengepel tapi airnya tumpah semua, atau saat Sehun merusakkan laptop penuh datanya, hingga akhirnya ia turun tangan, begitu;ah.

"Saranghae, nae anae..." Kris mengecup kening Luhan, dan memeluknya untuk pergi ke alam mimpi.

.

.

TBC

Gimana? Update kilat,kan? Besok Jum'at libur kan? Nah mungkin, aku akan meng-update tiga chapter.

Jangan Lupa reviewnya ya, terima kasih untuk yang sudah membaca, terima kasih banyak untuk kalian, mungkin aku gak balas review di ff, tapi langsung kuhubungi, gak papakan?Maaf kalau chap 3 mengecewakan...

Dah, ya! Met malem!