Pilot, My Husband
Pairing : Kaihun, Krishan
Rate : M (tunda dulu)
Genre : Roman aja
.
Dah, Selamat Membaca!
.
Kusarankan dengerin lagu Breath-SM The Ballad di bagian Krishan.
terserah anda!
.
.
.
Sehun terbangun. Ia merasa asing dengan tempat saat ia bangun sekarang. Ia juga merasakan ada sesuatu di lubangnya.
"Shhh..." ia menggeliar tak nyaman saar ada tangan yang merengkuh pinggangnya. Sehun membalikkan tubuhnya. Iris hazelnya melihat Kai tertidur damai dengan wajahnya yang masih terlihat berkeringat. Dengan tangan bergetar, ia mengusap wajah Kai secara perlahan. Ini wajah orang yang ia tunggu dari dulu.
"Jongin..." Sehun menyenderkan kepalanya di dada bidang Kai yang tidak tertutupi selimut tipis itu. Hangat dan nyaman. Tangan Kai semakin memeluknya erat. Seolah menambah dalam arti penyatuan tubuh mereka.
Lampu kecil yang menjadi penerangan satu-satunya membuat malam ini tampak bergairah. Apalagi dengan *ehm* Kai di *ehm*nya. Yang ia rasakan kembali menegang.
"Kenapa kau bergerak terus? Tidak lelah?" Sehun membuka kelopak matanya. Irisnya menatap obsidian elang Kai yang seolah membuainya itu.
"Ah..." Sehun mendesah saat Kai menumbuk sweatpotnya. Dua tangan Kai mendekap Sehun lebih dekat, lidahnya menjelajahi leher putih 'namja'nya seolah meyakinkan Sehun bahwa hanya ia yang bisa menyentuh tubuhnya.
"Kaih..." Sehun menggerakkan pinggulnya, membiarkan Kai memasukkinya lebih dalam.
"Tadi kau kenapa?" rupanya Kai tidak mau mengeluarkan miliknya dari Sehun.
"Kau tahu Kai..." belum sempat Sehun melanjutkan omongannya, Kai meletakkan telunjuknya di bibir mungil Sehun.
"Panggil aku Jongin, Hunna..seperti saat kita tadi.." Kai menjilat leher putih Sehun..
"Jong-ah...jah...nganh...enghh.."Kai terus menumbuk sweatpot Sehun.
"Faster...hhhh...Jonghhhh...ah...disituh..."Sehun terus mendesahkan nama Kai. Respon Kai? Ia sangat senang bertemu dengan sahabat kecilnya, kalau boleh yah, first lovenya...kekeke
"Jonginh/Sehun" Nafas mereka terengah saat telah mencapai puncak.
"Jelaskan padaku..." Kai mengecup bibir Sehun.
"Aku hanya tidak mau melihat Luhan hyung banting tulang lagi. Ia sudah terlalu repot jika harus membiayai masalah ini." Kai mengusap pelan pipi Sehun.
"Kau percaya padaku kan?" Sehun mengangguk ragu.
"Dengar Sehun, aku akan membantumu sebisaku."
"Tapi, hubungan kita apa? Kenapa aku hanya merasa kita seperti partner sex?"
DEG
"Kau tetap seperti dulu saat kita masih kecil." Mendengar itu Sehun semakin melesakkan kepalanya ke dada Kai.
"Tidak ada kata putus diantara kita."jawab pria tan itu santai.
"Tapi..."
"Ingat gelang persahabatan kita ini?" Kai melepas gelang ditangan kirinya.
"Kai..."Sehun tersenyum haru.
"Saranghae, chagiya..."
"Mwo?" Sehun melongo, ia mendongak, menatap wajah Kai diatasnya yang tersenyum lembut.
"Aku mencintaimu Sehun. Mungkin ini terlalu awal mengingat kita masih 15 tahun. Tapi, aku sungguh-sungguh." Kai menangkup wajah Sehun dan mengecup keningnya pelan.
"Nado saranghae Kim Jongin." Sehun tersenyum manis.
"Kim Jongin sangat menyayangi Kim Sehun.." Sehun memukul lengan Kai.
"Margaku Xi!"
"Sebentar lagi juga ganti jadi Kim! Lima tahun lagi..."
"Istirahat yang cukup, aku minta pengunduran jadwal pelatihan ke Jeju menjadi dua hari lagi." Sehun mengerutkan kening.
"Diundur, dan kau harus ikut, aku tidak tahu dan tidak mau tahu apapun alasannya!" Kai langsung memeluk Sehun yang hendak protes.
"Kai, ehm...kau yakin kita tidur disini? Ini kan pesawat pegangan Choi saem? Aku takut nanti jika ada bau seperti ini, kau tahu kan maksudku? Aku kasihan dengan Cho saem." Tanya Sehun ragu.
"Kalau kau tahu ini pesawatnya, kenapa kau masuk kesini?" Kai menaikkan alis, sedikit menggoda Sehun, tak masalah kan?
"Aku baru melihat tulisan itu." Kai mengikuti arah yang ditunjuk Sehun, dan itu langsung membuat Kai speechless. Tulisan di dinding pesawat seperti ini:
SIMBA SIWON & BABYKYU
Kai tidak menyangka guru kimianya itu bisa seromantis itu, mungkin ia akan mengukir nama Sehun dengan es kering saat ia menerbangkan pesawat? Mungkin bisa dicoba, ia kan orang anti MAINSTREAM!
"Sudahlah, kita tidur. Aku akan bicara dengan Seohyun atau Sooyoung besok pagi." Sehun menurut. Ia memejamkan matanya di dalam dekapan hangat orang yang sudah menjadi namjachingunya itu.
"Tolong matikan CCTV-nya, ya Hyung!" Kai mengacungkan jempol kearah CCTV, karena ia tahu jadwal piket sedang di tangan Minho. Sabar ya, mas...
"Huh, susahnya kalau jomblo..."
"Terima kasih atas transaksinya.." Kris hanya tersenyum tipis.
"Kris? Sedang apa kau disini?" saat ia menoleh, ia mendapati Jessica menatapnya dengan tatapan, uhm, curiga, maybe.
"Eng, tidak ada, hanya menabung. Sudah dulu ya noona, aku minta satu keponakan lagi."
BUGH!
"Ya! kalau otakku gegar karenamu, awas! Kalau Luhan meninggalkanku bagaimana? Karena aku namja bodoh?" Kris mengusap dahinya yang terkena lemparan tas kakaknya, tas tangan bro!
"Otakmu tak akan terkena gegar otak, dan satu lagi, Luhan mungkin kecewa jika mengetahui yang sebenarnya. Dan kau memang bodoh!" Kris hanya tersenyum pahit saat Jessica berkata seperti itu, karena yah, memang faktanya begitu.
"Kau benar, noona. Baiklah, aku pergi dulu." Kris langsung meninggalkan kakaknya yang hanya menghela nafas akan sifat tak jujur adiknya. Ia mengambil kertas yang terjatuh dari saku celana adiknya itu. Ia tahu jika Kris berbohong, untuk apa ia ke bank central kalau untuk transaksi? Biasanya ia pasti mengirim uang, tapi, untuk siapa? Dengan jantung berdebar, Jessica membuka kertas yang sudah dilipat itu. Matanya membulat saat tahu apa tujuan Kris bertransaksi.
"Maldo andwe, kau keterlaluan!"
.
Pilot, My Husband
.
"Korea! Suasananya tidak berubah!" namja cantik yang baru tiba dari Jepang itu bertepuk tangan.
"Ngomong-ngomong, bagaimana kabar Sehun, ya?"
"Baekhyun!" namja itu menoleh, ia mendapati kakak sepupunya sedang berlari ke arahnya.
"Luhan hyung!" Baekhyun langsung menerjang, tapi ia mengerem mendadak saat Hanyoung berdiri di depannya.
"Kasihan adikku!" Baekhyun tersenyum, ia memeluk Luhan dengan sedikit tenang, tidak seagresif tadi.
"Kok hanya kalian berdua? Mana Kris hyung dan Sehun?" pandangannya mengedar mencari sosok menjulang itu.
"Aku disini." Kris menggandeng Sehun yang masih dengan tampang andalan, manyun.
"Sehunnie! Kau sudah besar! Masih digandeng? Ckckck." Baekhyun mencubit pipi Sehun hingga merah.
"Lebih baik kita pulang, nanti malam akan ada badai lebat, dan aku juga dapat shift malam." Kris tidak memperdulikan Sehun yang terus menerus memeluk lengannya, ia tahu anak ini tambah bad mood.
"Sehun oppa, minum ini dulu." Hanyoung menyodorkan bubble tea di tangannya yang sudah ia keluarkan dari tadi. Sehun meminumnya dengan kesal. Ia berjalan tertatih, ia tidak menyangka akan sesakit ini, hey! Ia juga pernah merasakan ini saat ia terbangun di rumah Kai, apa jangan-jangan...maldo andwe!
"Kau masih di SOPA Hun?" Sehun hanya menggeleng, ia sibuk mengurangi rasa sakit di tubuh belakangnya dengan bersikap senormal mungkin.
"Tidak, aku di IFS A-1 karena dipindahkan rusa-naga itu!" Sehun menjawab dengan sinis, ia kesal dengan siapa sih? Jongin yang membuat tubuhnya seakan remuk, atau Kris hyung yang tidak jadi membelikannya pinkupinku? Eh? Apa? Kalian tidak salah membaca, kok. Ini fakta.
"Sinis sekali menjawabnya." Cibir Kris. Sehun memeletkan lidah.
"Aku pusing, Ya Tuhan!" Luhan hanya geleng-geleng kepala.
.
Pilot, My Husband
.
"Ini kamarmu hyung, maaf tadi belum kurapikan." Sehun menunjuk kamar disebelahnya.
"Gomawo." Sehun masuk kedalam kamarnya. Ia melihat 2 kardus yang menumpuk di samping almari bajunya.
"Huft, kenapa rasanya bukuku sangat banyak? Dua kardus itu buku semua? Ckckckck. Padahal aku bukan kutu buku." Tatapan Sehun berubah memelas.
"Nanti minta bantuan Luhan hyung saja!"
.
Pilot, My Husband
.
Kris sedang berada di kamar mandi, dan hal itu membuat Luhan berinisiatif untuk membersihkan kamarnya dan sang suami, cieeeee Luhan...hihihihi. backsound: Kuntilanak keselek.
Ia merapikan tempat tidur, membereskan pakaian kotor dan menumpuknya di keranjang baju. Juga merapikan berkas milik Kris yang sengaja ditinggal di rak buku Luhan. Jangan kira mereka tak suka membaca, kalau mereka tak suka, kenapa bisa masuk IFS? Nah, ingin kujelaskan sedikit tentang banyaknya rak buku. Di kamar Sehun ada tiga rak buku yang isinya komik, buku referensi, ensiklopedi, karya ilmiah, buku pelajaran, dan novel bahasa inggris yang ia terjemahkan, hebat bukan?
Kamar Hanyoung, dua rak buku yang isinya hampir sama dengan Sehun, yang membedakan tak ada novel berbahasa inggris, melainkan buku tentang artis, kau tahu maksudku, yeah...anak SMP kan banyak yang suka K-Pop. Sama seperti Hanyoung.
Kamar Krishan? Lima rak buku dengan ensiklopedi sains, matematika, kimia, dan tentunya penerbangan yang tebalnya minta ampun! Ruang kerja Kris, kalian pasti tahu lah sebanyak apa.
SREET!
Tiba-tiba ada kertas yang jatuh dari rak tertinggi. Karena penasaran Luhan mengambil kertas yang terlihat dilipat acak itu hingga kusut dan berwarna kekuningan.
"Tujuh belas mei dua ribu delapan? Itukan tanggal cerai Papa dan Mama? Apa ini?" Luhan juga menemukan satu amplop.
"Dua puluh mei dua ribu delapan? Ini tanggal...tidak mungkin...I...ini...tttt-tanggal...Ppppp-apppa..mening-gal...hhh?" Luhan langsung mengambil stofmap yang berwarna hijau itu dan mulai membukanya, ia menggigit bibirnya saat mengetahui apa isi dari stofmap itu.
"Jadi? Hiks...Kris..penyebab...hiks...semuanya?" Luhan mengusap air matanya, ia menutup mulutnya supaya tidak terdengar Kris. Ia melanjutkan membaca.
12-05-2008
Apa yang harus kulakukan?
Kalau aku menuruti papa, aku sama saja menyakiti Luhan.
Tapi, disaat bersamaan aku harus memilih..
Orang tua Luhan atau, Sica noona dan Eoma
Aku tak mau mereka berdua mati terbakar bensin itu
Tuhan...
"Kris..." Luhan hanya terisak, dadanya serasa sesak, sangat sesak..
17-05-2008
Aku menyetujui ucapan Papa,
Luhan, aku membohongimu...kumohon maafkan aku
Aku baru pulang dari taman, menenangkan kekasihku
Tapi, apa reaksinya jika dia tahu yang sebenarnya?
Aku kejam, sangat...
Wajah Luhan sudah sepenuhnya basah, ia benar-benar menangis. Bahkan suaranya tidak bisa ia tahan mengingat sakit hatinya semakin dalam. Kenapa Kris membohonginya? Kenapa? Ia salah apa? Apa Kris tidak tahu kalau ia harus banting tulang setelah itu? Setelah kematian ayahnya, sang ibu akhirnya menyusul. Apa Kris tidak memikirkan perasaan Hanyoung atau Sehun?
CKLEK!
"Apa yang kau lakukan Lu?" Luhan menoleh, Kris langsung terkesiap melihat air mata mengalir deras dari pipi anaenya itu. Dengan cepat ia langsung mendekati Luhan, berniat menanyakan apa yang terjadi dan menenangkannya.
"Kau berbohong...huks.." Kris terdiam. Ia tahu arah pembicaraan Luhan.
"Luhan, itu tak seperti yang kau pikirkan, aku bisa jelaskan-"
"Tak perlu! Itu alasan...hiks...kau langsung datang ke rumahku tanpa mengabariku tanggal dua puluh? Karna ini? Jawab aku...hiks..." Luhan menangis di depan Kris dengan bibir terus mengucapkan kata yang tidak pernah anae lembutnya itu ucapkan.
"Kau...hiks..mengecewakanku, Kris..."Luhan langsung mengambil koper dan memasukkan bajunya sembarang.
"Luhan, kau mau kemana?"
"Urusi saja urusanmu!"
"Luhan! Tunggu!" Kris langsung mengejar Luhan yang sudah keluar dengan koper di tangan kirinya, Kris mencari diruang tengah, nihil. Kris langsung naik ke lantai dua, berharap Luhan ada di kamar Hanyoung, Sehun, atau Baekhyun.
"Hyung...kita mau kemana?" suara Sehun itu menghentikan langkahnya, dengan segera, ia mendobrak kamar Sehun, dan batinnya mencelos saat melihat pemandangan di depannya. Sehun menggendong Hanyoung yang tertidur, dengan Luhan yang membawa dua koper.
"Kau mau kemana Luhan!" Kris mencekal tangan Luhan saat ia berusaha menuruni tangga.
"Kau pembunuh! Kau pembunuh Kris!" Luhan mendorong Kris hingga dahinya membentur meja, namun ia tak menghiraukannya. Luhan langsung keluar diikuti Sehun yang menatap iba ke arah Kris.
"Luhan! Tunggu!" Kris beranjak dari tempatnya, ia berlari, namun ia gagal. Luhan, Sehun, dan Hanyoung sudah pergi dengan taksi. Melihat itu, Kris langsung mengambil mobil di garasi.
"Kumohon Luhan, dengarkan penjelasanku!" Kris langsung tancap gas dengan kecepatan di atas rata-rata. Mobil audy-nya membelah jalanan Seoul malam hari.
"Kemana kau?" Kris mengikuti taksi yang membawa tiga orang tersayangnya, dan Kris semakin membelalakkan matanya melihat tiga orang itu masuk stasiun.
"Sehun!" Sehun yang mendengar Kris, ingin berbalik, namun, melihat wajah Luhan yang tidak baik, ia memilih diam.
"Ayo, masuk kereta, kita ke Daegu!"
"Mwo? Tapi, hyung..."
"Sehun! Luhan!"
"Cepat masuk!"
PUFH! ZRATH!
KTX itu membelah rel dan berjalan dengan kecepatan tinggi, membawa Sehun, Luhan dan Hanyoung di dalamnya. Membiarkan Kris terdiam menatap kepergiannya.
"Luhan..."
.
.
TBC
Hai! aku kembali lagi, terima kasih banyak udah ngedukung ff ini, untuk rate m, aku gak buat terlalu eksplisit, ada yang kuskip, oke, mohon dimaklumi...
Untuk, membalas review, chapter depan deh...
aku ngantuk, update chapter 8.41 p.m
ok. ini malam dah!
