Pilot, My Husband

Pairing : Kaihun, Krishan

Genre : Romansa...

Rated : M (terserah di chap berapa)

.

.

.

Happy Reading!

.

.

.

5 tahun kemudian...

"Mommy! Sehun hyung nakal! Dia berjanji mengajakku ke Taman Maruyama untuk melihat sakura!" siapa yang berteriak? Hanyoung? Bukan.

"Zhen Lu-ah! Jangan berisik!" teriak Hanyoung dari kamar. Zhen Lu? Biar kujelaskan, ingat chapter kemarin? Nah dia pergi membawa buah hatinya|bahasanya thor|lima tahun lalu. Sekarang pasti udah gede. Nah, anaknya itu ia beri nama Wu Zhen Lu. Tapi entah kenapa ia sangat senang dipanggil Luen.

"Oppa, kau jangan begitu. Sehun oppa kan kelelahan pulang kuliah. Nanti, kalau Sehun oppa berhenti sekolah, yang jadi dokter siapa?" celetuk Luai. Siapa lagi itu? Ehm, perlu saya jelaskan lagi? Luhan punya anak kembar, laki-laki dan perempuan. Ia memberi nama Wu Zhen Lu dan Wu Zhai Lu.

"Benar kata Luai, chagi. Kau tidak kasihan melihat kakakmu itu pulang kuliah?" Luhan datang membawa sushi. Luen yang cemberut langsung bersemangat saat melihat sang mommy datang membawa kesukaannya. Tangan kecilnya cekatan meraih sumpit. Namun, saat ia melihat Luai, ia membatalkan niatnya, kenapa? Karena adiknya memakai jurung bbuing-bbuing!

"Kau duluan saja adikku sayang..." Luhan terkekeh mendengar celetukkan putra kecilnya. Mata rusanya mengedar, ia tidak menemukan dua adiknya.

"Sehun! Hanyoung! Ayo turun! Makan malamnya sudah siap!" mendengar kata makan, Xi bersaudara itu langsung turun. Suara gedebuk tangga menjadi tanda perkelahian antara Sehun dan Hanyoung untuk turun terlebih dulu.

"Kami datang!" dan diakhiri dengan Sehun yang menggendong Hanyoung.

"Duduklah." Mereka berempat makan dengan lahap, terutama Luen dan Hanyoung.

"Kecil-kecil makannya banyak, nggak tumbuh tinggi, ck!" Sehun berdecak. Dua orang dewasa itu hanya geleng-geleng melihat tiga anak itu sedang berebut makanan. Seulas senyum sendu menggantung di bibir Sehun saat melihat kakaknya tertawa. Ia takut, lima tahun ini ia memendamnya sendirian. Ia takut kakaknya kecewa lebih dalam. Memilih diam dan tak tahu apa-apa, hanya itu yang bisa Sehun lakukan, dulu, ia pernah mencobanya, tapi Luhan...

Flasback on

"Hyung, bolehkah aku bicara empat mata saja?" tanya Sehun saat Luhan sedang mengajari les bahasa mandarin kepada murid-muridnya.

"Anak-anak, Sehun hyung pinjam Luhan hyung dulu ya.." Sehun tersenyum manis kepada anak SHS yang sedang mengerjakan soal. Sedetik, mereka terdiam, menganggumi ciptaan Tuhan yang hadir didepannya itu, mengapa ia begitu cantik saat tersenyum, apalagi dengan bias matahari sore yang membuatnya terlihat bercahaya.

"Silahkan saja Sehun hyung! Diculik saja juga tidak apa-apa!" Luhan menatap Hakimo tajam, anak itu harus diberi pelajaran nanti. Mata rusanya mengalihkan perhatian ke arah Sehun yang memasang mimik muka mendung, pasti ada yang tidak beres. Ia mengikut saja saat tangannya ditarik pelan, sangat pelan dan..rapuh? yah, rapuh. Dan Luhan yakin pasti ada yang mengganjal di hati adiknya itu.

"Ehm, Luhan hyung, aku ingin bicara padamu, ini tentang kepindahan kita yang tiba-tiba ke Jepang." Sehun mengatur suaranya, takut sekali, ia sangat takut, senyum Luhan yang biasanya terlihat manis dan menenangkan, berubah menjadi senyum sedih nan pilu yang membuat Sehun sangat takut mengatakan hal ini.

"Kris-lah penyebabnya. Dia yang membunuh Appa, aku tahu itu dari buku catatannya!aku...huks...tidak...mem...hiks...per...cayainya." Sehun langsung memeluk Luhan.

"Tapi, jika Kris hyung terluka, apa hyung mau kembali kepadanya?" Sehun berbisik pelan sambil mengusap punggung kakaknya.

"Sebenci appun aku padanya, aku...hiks...tetap mencintainya..." Sehun tersenyum, apakah ini waktu yang tepat? Jika iya,tapi, kenapa ia merasa suara hyung cantiknya ini penuh keraguan?

"Tapi, Sehun, kau tidak apa-apakan kalau kau masuk kedokteran di Jepang? Memasuki kelas aksel dan kembali ke China tiga tahun lagi?" Sehun melepas pelukannya.

"H-hyung?"

"Kumohon Sehun, untuk sementara ini jangan bicarakan tentang dia, aku ingin melupakan sejenak masalah kita di Korea, kalau perlu kita ke Korea Utara." Canda Luhan meski itu tidak membawa pengaruh baik pada Sehun. Luhan langsung pergi, dan Sehun menarik kesimpulan kalau kakaknya itu sangat kecewa.

"apa reaksimu hyung, jika tahu Kris hyung mengalami koma?" Sehun hanya menunduk sedih, ia ingin semuanya kembali normal, ia ingin menjadi pekerja di bagian radar dan komunikasi pesawat, bukan kedokteran, tapi ia tahu Tuhan memilihkan yang terbaik untuknya. Yah, Sehun percaya itu.

Flasback Off

"Pelan-pelan, nanti tersedak." Luhan menuangkan air putih ke gelas masing-masing.

"Mom! Coba saja ada Daddy disini. Pasti akan sangat menyenangkan, dengan begitu, akan ada yang memarahi Luen Oppa jika dia menjahiliku!" ucapan polos Luai membuat tiga orang didepannya terdiam. Hanyoung sedikit banyak tahu tentang masalah kedua kakaknya itu.

"Ya, coba saja Daddy-mu ada disini." Jawab Luhan lirih.

.

Pilot, My Husband

.

Seorang laki-laki duduk di kursi roda dengan pandangan kosong ke arah jendela. Bibirnya terkatup. Musim semi yang ia tunggu-tunggu sudah tidak berarti lagi. Ia terdiam. Hembusan nafas lelah keluar darinya.

Menggerakkan roda di kursinya, ia menatap jengah kertas-kertas di mejanya. Ini sudah lima tahun, namun orang yang ia tunggu tidak pernah kembali. Mungkin Tuhan menghukumnya kali ini.

Tak ada senyum manisnya. Tak ada tawa cerianya. Tak ada pelototan jika dia marah. Tak ada pukulan buku jika ia meminjam buku sembarangan. Tak ada ciuman manis lagi. Tak ada harum teh hijau yang menenangkan dirinya saat memeluk tubuhnya. Tak ada usapan di punggungnya. Tak ada yang perlu dipermasalahkan jika ia salah meletakkan sepatu. Tak ada. Dunianya terasa hampa.

Hambar.

Jemari panjangnya mengusap pelan sebuah foto. Perlahan, ia bangkit dari kursi pesakitannya. Ia berbohong. Berbohong kepada semua orang jika ia lumpuh, ia hanya berharap, dengan melakukan itu, ia bisa menemui orang yang lima tahun ini ia rindukan.

Kenapa tidak mati saja saat pesawat itu meledak? Kenapa ia harus koma? Kenapa ia tidak mati? Luhan sudah tidak ada di sampingnya lagi.

"Bogoshippoyo, rusa kecilku..." lelaki itu hanya mengusap fotonya dengan perlahan, seolah tak ada tenaga untuk mengangkatnya.

Sejak peristiwa itu, ia lebih memilih mengundurkan diri dari penerbangan, memutuskan kontrak sebagai pilot, dan membayar denda karena perbuatannya itu melanggar, tapi ia tidak peduli. Bahkan, Han Kyuwan pun memberinya bogem mentah karena peristiwa ini.

Hatinya tidak sakit mendengar makian dari atasannya itu. Tapi, ia lebih merasakan perihnya hati saat Luhan pergi. Jessica pun tidak bisa mencegah adiknya untuk memutuskan kontrak tiba-tiba. Ia memutuskan kontrak setelah dipikirnya dengan matang.

Ia mengusap wajahnya. Kepalanya menoleh ke arah fotonya dan Luhan yang tersenyum bahagia di depan pesawat F-K Slam Eagle.

"Dimana kau sekarang? Aku merindukanmu Xiao Lu.."

.

Pilot, My Husband

.

"Hyung, kau tak makan? Badanmu sekarang sangat kurus." Kyungsoo, bocah kecil imut itu sudah mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan. Sekarang, ia sudah kelas 2 JHS.

"..."

Tak ada jawaban, selalu begitu. Kyungsoo sebenarnya sangat merindukan Sehun. Hyung cantik yang dibawa Kai hyung ke rumahnya dalam kondisi pingsan, eh, pingsan atau tidur,ya? ah molla.

Namun, melihat keadaan hyungnya, bocah itu hanya mampu menghela nafas kasar. Ia merasa teracuhkan. Hyungnya menjadi sangat pendiam, bak robot yang tidak mempunyai hati. Bahkan senyum ramahnya berganti dengan tatapan tajam yang seolah mengintimidasi siapapun yang melihatnya. Lima tahun ini banyak yang berubah.

"Kau makan saja, hyung tidak lapar." Kai mengusak lembut rambut adik bungsunya itu, ia keluar dari perpustakaan di rumahnya. Meninggalkan sanga adik dengan senyum kecewanya.

"Sehun hyung, kau dimana?" Kyungsoo menatap sedih makanan di tangannya. Hingga sebuah tepukan di bahunya menyadarkannya dari alam pikirannya.

"Hyung..." Taemin tersenyum lembut. Adiknya ini butuh sandaran. Dengan cepat, ia mengambil baki makanan di tangan adiknya, meletakkannya di meja, dan menggendong Kyungsoo di punggungnya.

"Aku mau tanya hyung." Taemin mengerutkan kening, namun sedetik kemudian, ia mengangguk. Ia merasakan kalau dagu kecil adiknya bertumpu di bahunya.

"Apa kepindahan kita ke Jepang salah?" Taemin terkekeh mendengar pertanyaan adiknya itu.

"Tidak, malah, aku merasakan ada firasat baik untuk Kkamjong hyung." Hah, nak, coba kalian tahu kalau orang yang kalian cari berada satu negara dengan kalian.

Mereka berdua turun ke lantai satu, mereka terdiam melihat Kai yang sudah siap dengan pakaian sederhana. Namun tetap kelihat rapi.

"Aku pergi dulu menemui dosenku." Kai berjalan pergi, mengacuhkan adiknya yang sangat mengharapkan senyum sang kakak bisa kembali seperti dulu.

"Aku berharap yang terbaik untuk Kai hyung." Ucapan Kyungsoo, diamini Taemin.

.

Pilot, My Husband

.

Kai berhenti di sebuah cafe untuk minum kopi. Mungkin ada benarnya ia pergi ke Jepang, berusaha melupakan masa lalu, seperti saran sepupu sok tahunya itu yang sudah menikah dengan –celakanya Minho, professor kurang kerjaan dari kelasnya dulu. Dan, hebatnya lagi, Kai sudah punya keponakan! Choi Min Jung. Yah, anak mereka.

"Kopi arabica-nya satu." Kata Kai kepada pelayan yang kebetulan lewat. Ia membuka laptopnya. Rencanaya, hari ini ia akan bertemu dingan Prof. Hiroshi Akima dan satu orang mahasiswa dari fakultas kedokteran.

Sebenarnya itu cukup membuatnya bingung, untuk apa seorang mahasiswa fakultas aeronautika seperti dirinya berdiskusi dengan mahasiswa fakultas kedokteran? Heh! Membicarakan apa mereka berdua nanti? Obat? Ckckck, ia bahkan tidak berpikir kalau ia mempunyai pasangan hidup seorang dokter, apa ia bisa membagi waktu dengan tetek bengek tentang obat dan keluarga?

Kecuali jika yang menjadi pasangan hidupnya itu Sehunnya-eh? Ngomong-ngomong tentang Sehun, hah...kemana kekasih yang baru satu hari resmi menjadi miliknya seutuhnya itu? Alasan kenapa ia menjadi dingin seperti ini yah, karena itu.

Kehilangan seorang yang ia sayangi. Hilang bak ditelan bumi. Bersaamaan dengan guru sepupunya itu, siapa lagi kalau bukan Luhan. Dan ditambah dengan Kris hyung yang mengalami lumpuh akibat kecelakaan itu. Perayaan ultah Korea-pun harus diundur karena insiden itu.

Sebenarnya, ia tidak menginginkan yang muluk-muluk. Yang ia inginkan hanya menanyakan kenapa Sehun pergi tanpa kabar. Hanya surat pengunduran diri dari Luhan saja yang ia ketahui.

Bahkan, karena Sehun, ia menjadi kebal dengan ejekan Minho ataupun Sooyoung yang mengatakannya broken heart ataupun salah pendekatan atau apalah itu. Saat kelulusanpun, walau dia harus melakukan pidato apapun lah, ia hanya tersenyum palsu. Hatinya sudah kosong sejak dulu. Ia butuh Sehunnya. Ia sangat menyayangi dan tidak mau kehilangannya.

"Menunggu lama Kai?" namja tan itu menolehkan wajahnya saat mendengar ada yang memanggilnya.

DEG!

Itukah mahasiswa fakultas kedokteran yang dikatakan Prof. Hiroshi?

"S-Sehun..."

.

Pilot, My Husband

.

"Bagaimana kabarmu?" tanya Kai, ia hanya diam. Sebenarnya, ia ingin sekali memeluk tubuh dihadapannya ini, tapi, ia harus menunggu respon dari Sehun terlebih dahulu. Sedangkan Sehun, ia hanya menggigit bibirnya, sesekali lidahnya menjilat bibirnya yang tiba-tiba terasa kering. Entahlah, namun pengaruh tatapan Kai yang tajam membuatnya tidak bisa berkutik. Dalam kasus ini ia yang salah.

"K-Kai..." Sehun hendak memegang tangan Kai, namun, oleh Kai langsung ditepis. Tangan namja tan itu kembali masuk ke jaketnya. Mengacuhkan Sehun yang hampir menangis dihadapannya. 'Uh, apa aku keterlaluan?' batinnya.

Kai beranjak pergi dari tempat itu, tidak menghiraukan Sehun yang sudah menangis karena ketakutan terhadapnya.

"Mianhae, Kai.." Sehun berlari dan memeluk Kai dari belakang, ia menangis di punggung tegap itu. Tangannya mengalung di perut Kai. Tangan putih itu terlihat tak berdarah karena dinginnya udara menuju musim semi. Sementara Kai, tak bergeming. Ia membiarkan bajunya basah karena air mata Sehun. Ia bisa bernafas lega. Orang yang ia cari selama ini ada di dekapannya.

"K-kai...hiks...aku minta maaf. Aku tahu aku bodoh! Aku tahu aku-hmmmppthh.." Sehun terdiam saat Kai mengecup bibr pinknya dengan lembut. Berusaha mengatakan kerinduan yang ia pendam selama lima tahun ini. Tangan kanannya menangkup perpotongan leher Sehun dan tangan kirinya meraih pinggang Sehun. Membawanya lebih merapat pada dirinya.

Ia merindukan aroma bayi yang menguar dari Sehun. Ia merindukan rasa manis bibir yang sedang ia kecup ini. Ia merindukan semua yang ada pada diri Sehun. Bibirnya melumat pelan bibir mungil Sehun. Berusaha menggoda mulut kecil itu untuk membukakan jalan. Sehun menikmati setiap pergerakan bibir tebal itu di atas dirinya. Tangannya mengalung sempurna di leher Kai.

Lidah Kai mulai mengeksploitasi goa hangat milik Sehun, mengajaknya bertarung lidah. Tidak ada nafsu. Hanya cinta dan kerinduan mendalam yang dipendam masing-masing insan. Kai memiringkan kepalanya, berniat lebih dalam, dan direspon baik oleh Sehun.

Matanya membuka dan melihat ekspresi dari orang yang sedang ia kecup ini. Cantik. Hanya itu yang bisa ia katakan, karena memang seperti itu kenyataannya.

"Aku merindukanmu, Hunnie.." Kai menyudahi ciumannya dan memeluk namja yang sudah berhasil memporak-porandakan hatinya selama lima tahun ini.

"Maaf, Kai..Eum..apa aku boleh meminta bantuanmu?" Sehun mendongakkan kepalanya dan menghadap pria dihadapannya.

"Mwo?" Kai hanya mengerutkan keningnya, hingga ia terdiam saat Sehun membisikkan sesuatu. Bibirnya sedikit menyeringai.

"Jebal..." Kai kembali memeluk Sehun dan mengecup telinganya, membuat sensasi menggelitik di lubang telinga namjanya.

"Aku akan membantumu..."

.

.

TBC


Hai! Aku kembali! Readers dah pada tahu belum ada berita kalau Kris EXO menggugat SM? Sebenarnya masalahnya bisa diselesaikan baik-baik gak sih? Kan kasihan para fans nanti bisa menyebabkan fanwar. Apalagi EXO itu jumlahnya 12 dan memang udah kesepakatannya kayak gitu.

Nanti jadi sebelas, sepak bola gitu? Yang jadi leader di EXO-M siapa? Nanti pairing Krishan, Krishun, KrisTao, dan Kris yang lain-lain gak ada gimana? Gak lucu banget kalau EXO-M jadi lima orang. Apalagi saat kasus Hanggeng dulu. Pihaknya terus yang disalahkan, dan SM yang punya keuntungan. Mungkin CEO SM memikirkan yang terbaik buat artisnya, tapi, semoga masalah ini gak berujung dengan hengkangnya salah satu personil.

Mungkin EXO bisa dibilang penerusnya Super Junior, tapi jangan sampai ada kasus personil hengkang. Gak hanya membernya yang sedih n' kecewa kita juga. Tapi, jika itu emang pilihan terbaik bagi sang dduizhang, ya udah kita gak bisa ngapa-ngapain lagi. Protes? Mungkin gak akan digubris.

Jadi, kita sebagai fans EXO hanya bisa berdoa untuk yang terbaik bagi personilnya.

EXO SARANGHAJA! WE ARE ONE!