Pilot, My Husband

Pairing : Kaihun, Krishan

Genre : Romance, family

Rated : M

Summary : "Dia itu Kris, Luhan..."

.

.

.

Happy Reading!

.

.

.


Suasana Jepang terlihat sedikit mencekam. Suasana malam itu terlihat sedikit berbeda dibanding malam sebelumnya. Begitupun yang dirasakan oleh seorang Luhan. Ia sedang meninabobokan dua jagoan kecilnya yang kelelahan akibat bermain seharian bersama Sehun dan Kai. Entah bagaimana mulanya dua orang itu bisa bertemu. Mungkin, Tuhan sudah menggariskan kalau mereka berjodoh. Buktinya, walaupun ia membawa Sehun pergi kemanapun, Kai pasti bisa menemukan adiknya entah itu cepat atau lambat.

Apa Kris juga akan seperti Kai?

DEG!

"Ya Tuhan, kenapa aku malah memikirkan orang berengsek itu?!" ia benar-benar tidak habis pikir dengan kinerja otaknya yang sedikit tidak konkrit. Ia mengusap wajah Luen yang terlihat sangat mirip dengan Kris. Dengan mata tajam dan dagu yang tegas. Anaknya itu sangat mirip dengan Kris. Dari wajah hingga sifat. Ia mampu menjaga Luai yang terlihat sangat mirip dengannya.

"Hyung, kau sudah tidur?" suara Sehun membuyarkan lamunan Luhan malam itu. ia bangkit dari tidurnya dan tersenyum tipis.

"Belum. Kenapa kau juga belum tidur?" kata Luhan sedikit heran melihat adiknya yang berkali-kali mengucek matanya. Kalau boleh jujur, Sehun itu sangat manis, tapi, ia hanya berani bilang Sehun manis kalau ada Kai. Jangan kira dibalik sifat tenang adiknya itu, kalau kalian melihat Sehun marah, uhm..wajahnya menggemaskan dan membuat tertawa, tapi tenaganya sangat kuat.

"Tidak, aku sedang mengerjakan tugas." Luhan hanya mengangguk. Ia menggeser duduknya ketika Sehun duduk disampingnya. Entah kenapa, Luhan merasa suasananya sangat canggung dan awkward.

"Hyung, aku mendapat tawaran kerja di Korea." Suara Sehun yang terdengar sangat lirih bisa ia dengar dengan jelas karena tak ada satupun suara lain yang menganggunya. Ia hanya menatap Sehun datar. Tak berminat. Ia sedikit menyalahkan Kai yang berbicara tentang sekolah penerbangan itu lagi, yang mestinya membuat ia teringat dengan semua kenangan yang ada disana...termasuk Kris.

"Hyung...katakan sesuatu.." Luhan hanya terdiam ketika Sehun menggoyangkan lengannya. Namja rusa itu masih diam.

"Bisa kita akhiri pembicaraan ini? Aku lelah." Kata Luhan dengan pandangan yang menusuk kearah Sehun, membuat namja pale skin itu semakin tertunduk. Ia terlihat mengatur bicaranya untuk tidak menyinggung kakaknya dan tetap santun meskipun ini akan menyinggung masalah hati dan perasaannya.

"Kau tahu hyung kalau Kris hyung mengalami kecelakaan pesawat ketika kita berada di rumah sakit akibat kerusakan kereta itu?" kata Sehun sembari tangannya mengusap pipi tembam milik Luai. Kali ini, ia tidak menatap wajah Luhan. Membiarkan kakaknya berfantasi dengan pikirannya. Tak ada respon.

"Ia sangat menyayangimu hyung, kau seharusnya bisa mengerti penjelasannya terlebih dahulu kau seharusnya tidak..."

"Untuk apa aku mendengar penjelasan dari pembunuh itu?!" ucapan Sehun dipotong oleh Luhan. Ia masih sangat trauma dengan tulisan di berkas-berkas itu. otaknya terus memerintah untuk mendiamkan dirinya selama ia sanggup, tapi hatinya tidak memungkiri kalau ia merindukan pria tinggi yang merupakan ayah dari Luen dan Luai.

"Apa kau tega melihat Luai diejek terus menerus karena dianggap tidak punya ayah?" Sehun kini memberanikan diri untuk membujuk kakaknya ini, ia tahu kalau didalam hati terdalam kakaknya ini..uh...puitis sekali...masih memiliki rasa sayaaaaaaaaaaaaaang yang sangat besar pada lovely Ben-bennya itu. ia menggunakan jurus aegyo dan puppy eyes andalannya, Sehun bahkan memainkan ekspresinya dibuat sesedih mungkin berharap kakaknya ini akan luluh.

"Hyung...aku dapat melanjutkan kuliahku disana...jebal..." kata Sehun sembari sesekali mengusap matanya untuk menyakinkan Luhan kalau ia sangat sedih(meskipun bohongan) dan, yang Sehun tahu, Luhan adalah orang yang tidak tega, jadi, ia sangat berharap...

"Baiklah, akan kupikirkan.." jika tidak ingat ia sedang berakting, ia sudah akan berteriak tidak jelas mendengar kalimat yang keluar dari kakaknya itu. ia mengusap matanya dan tersenyum senang, ia memeluk kakaknya. Bibirnya menyeringai ketika Luhan mengusap punggungnya sembari mengatakan kalimat penenang.

"hyung, kau akan berterima kasih padaku suatu hari nanti, hehe..."

o0o

Pilot, My Husband

o0o

1 bulan kemudian...

"Hyung, kau yakin memilih rumah yang ini?" Sehun menatap ke sekelilingnya. Ia mengeryit ketika daerah ini berada di distrik Gangnam. Darimana kakaknya memiliki uang sebanyak ini untuk membeli apartemen di daerah Gangnam?

"Mungkin kau heran, tapi, aku membelinya dengan uang hasil menjadi tutor dan guru di sekolah Jepang selama lima tahun kita menetap disana." Sehun mengangguk. Sekarang, pendapatan mereka lumayan banyak karena Hanyoung masuk kelas asrama di China mengingat nenek mereka meminta cucu bungsu mereka tinggal disana.

"Hyung, aku kuliah dimana?" Luhan mengeryit ketika Sehun menanyakan hal itu. ia tersenyum misterius ketika Sehun menatapnya dengan rasa penuh penasaran. Mungkin, ia akan senang mendapat kunjungan yang akan berlansung berkali-kali dari pangerannya itu.

"Kau? Di Yonsei, maaf, kau tidak bisa di kembali di sekolahmu yang dulu.." Sehun yang mendengar ada nada getir di dalam suara kakaknya tersenyum. Ia menggenggam jemari Luhan.

"Hyung, aku tidak masalah dimanapun aku sekolah, dimanapun aku mengeyam pendidikan, yang terpenting, aku selalu bersama hyung. Karena, hyung sangat berarti bagiku. Kau sudah seperti Eomma, kau sudah seperti Appa, dan kau sudah menjadi hyung terbaik bagi seorang Xi Sehun, so don't cry again Luhannie hyung.." Luhan langsung memeluk Sehun. Ia mengecup pelan dan penuh kasih sayang pelipis Sehun. Sementara Sehun mengusak-ngusak dada Luhan mencari kehangatan.

"Sehun hyung! Jangan ambil Mommy!" Luen berteriak histeris ketika melihat Luhan memeluk Sehun dengan erat. Bocah itu langsung berlari diikuti Luai yang membawa boneka teddy bear miliknya.

"Mommy tidak melupakan kalian, ayo berpelukan!" dan Luhan memeluk Sehun, Luen, dan Luai secara bersamaan.

TUUUT!

"Hei! Siapa yang kentut? Merusak suasana saja!" Luai menatap kesal kearah tiga orang didepannya. Sehun dan Luhan juga mengendus bau tidak sedap.

"Hehe, mianhae..aku kelepasan.." Luen nyengir tak bersalah. Ia meneguk ludahnya kasar ketika merasakan aura gelap yang menguar dari orang yang biasanya terlihat seperti malaikat itu.

"Kalian kenapa? Eh? Kabuuuuuuuuuuuuuur!" dan setelah ini, kita pasti mendengar..

"WU ZHEN LU!"

o0o

Pilot, My Husband

o0o

"Kau kenapa hyung? Hari ini kau terlihat sedikit aneh dan..sedikit menyeramkan." Kai melirik sinis Kyungsoo yang sedang memakan serealnya. Bocah bermata bulat itu hanya mengendikkan bahunya. Sebenarnya, ia salah atau tidak sih? Kai hyungnya yang biasanya tersenyum menawan, sekarang malah tersenyum seperti idiot. Saat ia mendengar kabar kalau Kai hyung sudah bertemu dengan Sehun hyung, ia ikut senang dengan perkembangan kakaknya, tapi, apakah kakaknya harus tersenyum berlebihan juga seperti ini?

"Kalau kau bahagia, jangan terlalu bahagia seperti remaja labil. Kau itu sudah dewasa hyung!" Taemin datang menyerobot roti isi milik Kyungsoo, yang langsung dihadiahi pelototan mata yang malah terlihat sangat lucu dan imut. Dasar anak-anak.

"Sudahlah, aku berangkat dulu." Kai mengacak rambut Kyungsoo yang malah membuat bocah itu terantuk meja. Kai yang melihat itu langsung mengambil langkah seribu. Ia tidak mau berurusan dengan baby Soonya yang sangat galak jika sudah seperti itu. mungkin, hanya Taemin yang bisa meredakan Soo devil mode onnya.

Pria tan itu melajukan mobil birunya dengan tenang. Sesekali melihat suasana kota Seoul yang terlihat masih berkabut karena ini masih sangat pagi. Sebenarnya, ia lebih menyukai memakai motor skuternya yang berwarna putih kenapa? Karena di motor itulah kenangannya dan Sehun sangat banyak, tapi, akhirnya ia memakai mobilnya (setara dengan avanza jika di Indo)

"Sehun-Sehun, kau benar-benar tidak berubah lima tahun ini. Tetap seperti dulu." Kai terkekeh melihat wallpaper ponselnya. Saat itu, ia mengeryit heran ketika melihat Jessica noona tengah mendatangi kantornya. Dengan segera, ia mendekati wanita itu.

"Sica noona? Kenapa datang ke kantorku sepagi ini?" Jessica terlihat tersenyum miris. Wanita itu memberi isyarat untuk bicara di tempat lain. Kai hanya mengangguk. Ia menitipkan kunci mobilnya kepada bawahannya untuk diparkirkan.

"Jadi, ada apa noona datang ke kantorku pagi-pagi sekali?" tanya Kai ketika pelayan memberikan secangkir mochacino dan secangkir teh hijau kepada mereka. Jessica hanya menghela nafas. Ia terlihat sangat tertekan akhir-akhir ini.

"Tolong bantu Kris untu bertemu dengan Luhan, Kai-ah."

"Mworago?" apa telinganya salah mendengar? Bukankah Jessica adalah orang yang sangat jeli jika mencari orang? Kenapa ia meminta bantuan kepada dirinya?

"Hanya kau dan Sehun yang bisa membantu Kris. Adikku terlihat semakin mengenaskan. Paling tidak, bujuk Luhan untuk menemui Kris. Aku tahu kalau ia sudah berada di Korea, maka dari itu, aku meminta padamu dengan sangat...pertemukan Kris dengan Luhan..."

"Noona tidak perlu seperti itu, aku akan berusaha membantu sebisaku." Kai buru-buru menahan wanita itu ketika Jessica ingin bersujud dihadapannya. Ia ikut tersenyum ketika Kai menyunggingkan senyum.

"Kalau begitu, aku pamit. Maaf, tidak mengenakkan sekali ya, menangis di depanmu, minumannya biar aku yang bayar." Kai terkekeh, ia menolak tawaran dari Jessica.

"Biar aku saja noona, aku akan berusaha kalau masalah yang itu." Jessica menganguk dan pamit pergi, meninggalkan Kai yang terdiam.

KRIIING! BEEEP!

"Ne, Yeoboseyo?"

"Ah, Sehunna? Wae? Arasseo."

o0o

Pilot, My Husband

o0o

"Bagaimana dengan rencana selanjutnya, Kai?" Tanya Sehun ketika Kai duduk disampingnya. Mereka sekarang tengah berada di Namsan Tower. Sehun tengah meniup-niup sosis bakar dan kentang ulir yang ia pesan. Sementara Kai hanya memutar-mutar cangkir starbucksnya dengan lemas.

"Kita lakukan pendekatan pada Luhan hyung saja terlebih dahulu, lalu kita ajak dia melihat Kris hyung. Kau bisa diandalkan karena akting menangismu yang bagus dihadapan Luhan." Sehun melirik sinis Kai yang berkata tanpa beban, seolah mengatakan akting itu hal mudah. Sehun hanya menggerutu pelan. Kai yang melihat itu segera menarik pemuda pale skin itu untuk mendekat.

"Apa?!" kata Sehun cemberut. Bibirnya dimajukan sementara tangannya bersedekap di depan dada. Dengan iseng, Kai menggigit leher putih Sehun.

"Eungh...Kaih..." Sehun melenguh. Kenapa Kai bisa tahu kelemahannya? Ia bukan seperti Yixing hyung yang katanya Luhan hyung kalau ditiup lehernya akan kegelian hingga wajahnya memerah, tapi kenapa hanya karena Kai ia bisa uhm, sedikit malu sih mengakuinya, hihihi...

"Hunna...Baby Hunna, hei..." Kai mencolek dagu Sehun membuat Sehun menggeser duduknya dan menatap sebal.

"Kai, kita disini untuk membahas bagaimana cara Luhan hyung dan Kris hyung bertemu, bukan bermesraan! Ini tempat umum!" Sehun menyentil pipi Kai. Sekali-kali, orang ini harus diberi pelajaran.

"Berarti kalau bukan tempat umum boleh? oke, kembali ke topik." Kai mengabaikan tatapan Sehun yang seakan ingin membunuhnya saat itu juga.

"Tadi Sica noona meminta tolong padaku untuk membawa Luhan hyung melihat keadaan Kris hyung." Sehun mengangguk. Ia mendengarkan ucapan Kai, sembari merasakan usapan tangan Kai di rambutnya.

"Bagaimana kalau kita paksa Luhan hyung untuk melihat Kris hyung? Aku yakin ia sebenarnya masih sayang, tetapi masih ada ego yang menyelimuti hatinya."mereka berdua segera pergi untuk melaksanakan rencana yang mereka buat.

o0o

Pilot, My Husband

o0o

Rencana B : Memaksa Luhan hyung bertemu Kris hyung

"Kalian mau membawaku kemana sih? Kenapa Luai dan Luen tidak diajak? Kenapa harus dititipkan kepada Cho ahjuma? Kenapa hanya aku?" Sehun dan Kai memilih untuk tidak meladeni Luhan. Karena, kalau mereka memberi tahu tujuan mereka yang sebenarnya, Luhan pasti akan menolak mentah-mentah ajakan mereka. Padahal, kan mereka bermaksud baik, menyatukan dua raga yang terpisah jauh.

Sebenarnya, sejak tadi, perasaan Luhan sudah tidak enak. Ia merasakan bahwa akan bertemu dengan seseorang yang akan membuatnya ingat dengan trauma itu dulu. Apa itu Kris? Luhan tidak berharap jika ia harus bertemu dengan pria tinggi itu.

Namun, harapan tinggal harapan. Ia terdiam ketika melihat sebuah rumah bertuliskan JK. Jessica-Kris. Sehun dan Kai membawanya ke rumah kakak beradik yang membuatnya merasa menjadi orang paling bodoh. Ia hanya diam ketika Jessica menyambutnya dengan pelukan hangatnya. Otaknya benar-benar blank. Ia tidak bisa berpikir apapun untuk menutupi keterkejutannya.

"Kau akan terkejut jika melihat keadaan suamimu." Ah, ya. Luhan belum bercerai dengan Kris. Ia hanya mengajukan surat pengunduran diri kepada tempat bekerjanya, bukan dengan surat cerai kepada Kris. Luhan hanya menurut ketika Jessica menggiringnya menuju sebuah kamar di lantai atas. Sebuah kamar bercat putih.

CKLEK!

Pintu putih itu terbuka. Menampilkan kamar bercat abu-abu yang terlihat samar. Ada seseorang yang sedang duduk di kursi roda. Wajahnya menghadap kearah jendela. Tak mempedulikan kalau ada orang yang melihat di pintu kamarnya.

Luhan tahu siapa orang yang tengah duduk di kursi roda itu. Luhan tahu kalau pikiran namja tinggi itu sedang kosong. Namja bermata rusa itu menatap Jessica tak mengerti. Sedang Jessica yang ditatap hanya tersenyum sendu.

"Dia itu..."

"Kris..." Luhan berkata lirih, airmatanya tak bisa ia bendung. Ia segera berlari mendekati Kris yang duduk tanpa menghadapnya. Pandangannya menerawang ke jendela. Terlihat begitu menyedihkan. Celana jeans biru dongker dan kaos hitamnya membuat ia terlihat gagah seperti dulu, hanya wajahnya yang memperlihatkan kesedihan.

"Kris..ini..aku..hiks..Luhan..." Luhan dengan perlahan menangkup wajah tirus Kris. Membuat mereka berdua bertatapan. Mata sembab Luhan dengan mata tak berekspresi milik Kris. Jessica memberi kode kepada Sehun dan Kai untuk meninggalkan mereka berdua.

"Luhan?" Kris merespon. Tangannya dengan perlahan mengusap tangan Luhan yang berada di pipinya. Namja bermata rusa itu langsung memeluk leher Kris. Tidak peduli kalau ia berada di pangkuan Kris di kursi rodanya, tapi, ia sangat bahagia, Kris yang menyadari kalau Luhan sekarang ada di hadapannya dan memeluknya dengan erat segera membalas pelukan Luhan tak kalah erat.

"Luhan, maafkan aku..." Luhan menggeleng. Ia terus meneggelamkan wajahnya di bahu Kris. Sementara Kris menyesap aroma tubuh Luhan yang lima tahun ini tidak ia rasakan dan ia hirup. Untuk pertama kalinya, Kris menangis bahagia karena Luhan sudah kembali kesisinya, sudah kembali kepelukannya lagi.

"Saranghae, My Luhannie..."

"Nado Kris...hiks..nado, my pilot, my husband..."

.

.

.

+fin


Yeah! Chapter terakhir untuk Pilot, My Husband setelah aku hiatus mengerjakan ff ini sekian lama. Terakhir update chapter Mei, dan baru september diselesaikan. Oke, aku minta maaf dengan keterlambatan cerita. Maaf kalau aku gak bisa menuhin rated M karena memang aku tidak berpengalaman.

Terima kasih yang sudah menyempatkan waktunya untuk membaca ff ini.