5 Centimeters per Second
Cast: Oh Sehun, Kim Jongin, other cast(s).
Genre: Romance, Angst(?)
Warn: Yaoi, Crack Pairing, Typo(s)
Author's Note: FF ini adalah remake dari film animasi Jepang dengan judul yang sama. Jadi, jika ada yang pernah menonton filmnya pasti akan tahu alur cerita ff ini. Tapi maaf sebelumnya bagi yang sudah menonton filmnya. Cerita ini bakalan agak berbeda dari film tsb. Mungkin ada beberapa penambahan atau pengurangan scene. FF ini author dedikasikan untuk Event HunKai Sweet Couple.
.
.
.
Aku sangat gembira kita berjanji untuk bertemu tanggal 5 Februari nanti. Setahun sudah berlalu sejak terakhir kita bertemu. Bagaimanapun juga aku begitu cemas memikirkannya.
Kau tahu, Hun-ah? Ada pohon sakura besar di dekat rumahku. Selama musim gugur, tempat itu akan menjadi tempat dimana bunga sakura berguguran 5 sentimeter per detik.
Seorang pemuda berwajah manis sedang duduk di bangku sebuah taman. Pemuda itu memandangi pohon sakura besar di samping kirinya. Pohon sakura yang saat ini hanya tinggal batangnya saja. Hal yang sangat wajar mengingat sekarang masih musim dingin.
Jongin—pemuda manis itu—mendongakkan kepalanya menatap langit malam ini. Senyum manis masih setia menghiasi wajahnya yang berkilau ditempa cahaya bulan.
'Bukankah akan sangat menyenangkan jika aku bisa melihat pohon itu bersamamu, Sehun-ah? Seperti apa yang dulu selalu kita lakukan.'
5 Februari, Musim Dingin Tahun Kedua Junior High School.
Pagi ini Mokpo diguyur hujan deras. Sepertinya musim dingin kali ini cuaca di negeri Gingseng sedang tidak bersahabat.
Sehun terdiam memandang ke luar jendela. Ini sudah dua minggu ia masuk ke sekolahnya yang baru di Mokpo. Dan sudah sejak seminggu yang lalu Mokpo sering kali mendapat guyuran hujan tak terduga.
"Kau sudah melihat laporan cuaca hari ini?"
Sebuah suara yang berasal dari teman sekelas yang duduk di depannya, membuat Sehun kembali menatap ke depan. Merasa sedang ditanya, Sehun pun mengangguk. "Katanya akan turun salju."
Temannya itu—Youngjae—mengangguk antusias. "Kurasa hari ini akan sangat dingin."
"Wajar saja, bulan Februari kan masih termasuk musim dingin." Sahut Jeongmin. "Sepertinya akan ada banyak orang yang terkena flu."
Seorang gadis menghampiri mereka. "Hey, kajja, kita makan di kantin."
"Ah, ne, Suzy-ah." Ucap Youngjae dan Jeongmin bersamaan.
Sehun menatap mereka yang juga menatapnya dengan pandangan kau-ikut-tidak-?. Ia tersenyum canggung. Aneh juga dipandangi seperti itu oleh tiga orang sekaligus. "Eum... Kalian saja yang pergi. Aku sedang tidak lapar."
"Geurae. Bye, Sehun-ah. Kajja, Youngjae, Jeongmin."
Setelah kepergian ketiga teman barunya itu, Sehun membuka buku catatannya. Di halaman belakang buku itu sudah tertera nama-nama 9 stasiun kereta yang akan ia lewati untuk sampai Seoul. Sehun juga sudah menyertakan jadwal keberangkatan kereta itu.
Aku senang kau akan mengunjungiku. Karena rumahku jauh dari stasiun, aku akan menunggumu di stasiun saja. Aku akan berada di ruang tunggu stasiun pada pukul 7 malam. Berhati-hatilah di jalan, Sehun-ah. Perjalananmu hari ini akan sangat panjang.
Sehun sudah tiba di stasiun kereta Mokpo. Ia membeli satu tiket dengan tujuan stasiun kereta kota Seoul. Sesuai laporan cuaca, sore ini butiran salju mulai nampak berjatuhan. Membuat gunung-gunung salju kecil di sekitar rel kereta.
Saat ini Sehun sudah berada di dalam kereta yang akan membawanya menuju Seoul, menuju tempat dimana orang yang ia cintai berada.
Sehun POV.
Pada hari yang dijanjikan dengan Jongin, turun salju selepas tengah hari. Sepertinya cuaca sedang sangat ekstrim. Kulirik jam yang melingkar di pergelangan tanganku. Sudah saatnya kereta melaju. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Jongin.
Flashback On.
"Sehun-ah! Lihat, ada seekor anak anjing." Seru Jongin riang.
Sehun yang mendengar seruannya pun berlari kecil mendekati anak laki-laki yang sedang berjongkok itu. Mereka berdua berada di sebuah taman bermain di dekat rumah mereka.
"Sepertinya tidak ada pemiliknya." Gumam Jongin yang sedang memeriksa leher anjing itu. Mencari nama pemilik anak anjing menggemaskan yang sekarang mengelus-eluskan kepalanya ke tangan Jongin.
"Wah, sepertinya dia menyukaimu, Jongin-ah." Sehun ikut berjongkok dan mengusap bulu cokelat anjing itu.
Jongin terkikik melihat tingkah laku anak anjing ini. "Ayo, kita bawa pulang, Sehun-ah. Pasti Janggu dan Jjangah akan senang mendapat teman baru."
Jongin membawa anak anjing itu ke dalam gendongannya. Senyuman lebar yang tidak pernah lepas dari bibir tebalnya itu, membuat Sehun juga tersenyum. Anak laki-laki berwajah tampan itu sangat menyukai cara Jongin tersenyum. Terlihat sangat manis di matanya dan tak ayal membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
Baru beberapa langkah, Sehun dibuat terkejut oleh seruan Jongin. "Changkkaman!"
"Waeyo, Jongin-ah? Kau sakit?" Tanya Sehun dengan wajah khawatir.
"Aniyo. Hanya saja kita belum memberi nama anak anjing ini." Kata Jongin polos.
Sehun terkekeh dan mengacak rambut hitam Jongin. "Aigoo, kukira ada apa. Kau ini..."
"Aiish... Sehun-ah, rambutku jadi berantakan." Jongin merapikan rambutnya. Bibirnya mengerucut dan pipi gembilnya menggembung kesal.
"Hahaha mian." Setelah mencubit pelan pipi Jongin, Sehun mulai memasang wajah berpikirnya. "Bagaimana jika kita menamainya Mongoo?"
Mata Jongin berbinar senang mendengar usulan Sehun. "Eum... nama yang bagus. Sekarang namamu adalah Mongoo, ne?" Kata Jongin pada anak anjing di gendongannya.
Guk! Guk!
Seolah mengerti perkataan Jongin, anak anjing itu menggonggong riang, lalu menjilati wajah Jongin. Membuat anak laki-laki itu tertawa geli.
"Sehun-ah, dia menyukai nama pemberianmu." Ucap Jongin pada Sehun yang sedari tadi hanya memandanginya.
"Jinjja?"
Jongin mengangguk. "Hey, Mongoo. Namaku Jongin, dan ini Sehun." Jongin menyodorkan kaki kanan depan anak anjing itu ke hadapan Sehun. "Ayo, berkenalan dengannya, Sehun."
Sehun menjabat kaki anak anjing itu. Dengan tersenyum lebar, ia berkata, "Halo, Mongoo. Namaku Sehun. Aku adalah appamu dan Jongin adalah eommamu."
Flashback Off.
Kupikir Jongin dan aku memiliki kesamaan dalam pola pikir dan perasaan. Satu tahun setelah aku pindah ke Daegu pada saat sekolah dasar, Jongin juga pindah ke kelas yang sama denganku. Itulah awal pertemuan kami.
Kami, yang masih kecil dan sering sakit, lebih suka berada di perpustakaan daripada ke tempat bermain. Itulah mengapa kami secara alami menjadi teman baik. Karena hal itu, kami sering diolok-olok oleh teman-teman sekelas. Tapi, anehnya, saat kami bersama, kami tida pernah mengkhawatirkan hal-hal tersebut.
Sejak saat itu, kami pulang pergi sekolah bersama. Aku terus berpikir bahwa kami akan selalu bersama-sama untuk beberapa alasan.
Stasiun Yongsanp'o.
'Selamat datang di Stasiun Yongsanp'o. Bagi para penumpang yang ingin menuju Seoul, silahkan transfer ke kereta bawah tanah Jalur Kwangju.'
Ini adalah pertama kalinya aku naik kereta sendirian. Ini juga pertama kalinya aku bepergian ke luar kota. Jantungku berdetak cepat. Entah karena ini pertama kalinya aku pergi sendiri atau karena aku akan bertemu dengan Jongin setelah ini.
Tuuutt tuuuuttt!
Kereta yang akan kutumpangi sudah datang. Aku memasuki gerbong kereta dan memilih duduk di pojok. Kereta ini terbilang cukup ramai. Ada lelaki tua yang membaca koran sambil merokok, ada beberapa gadis dengan seragam sekolah mereka sedang bergosip, ada pula beberapa orang yang memilih untuk tidur.
Aku memandang ke luar jendela. Menatap hamparan warna putih—salju. Butiran-butiran itu terus berjatuhan dari langit. Semoga Jongin memakai pakaian yang sangat tebal nanti. Aku tahu ia tidak tahan dengan cuaca dingin seperti ini.
Sehun POV End.
Stasiun Kwangju.
'Kita akan segera tiba di Kwangju. Ulangi, kita akan segera tiba di Kwangju. Di Kwangju, kita akan berhenti untuk menunggu kereta ekspress yang akan tiba pada pukul 5 sore.'
Sehun melihat jam di pergelangan tangannya. Saat ini sudah pukul 4.55 sore, berarti ia hanya tinggal menunggu 5 menit untuk melanjutkan perjalanan ke stasiun berikutnya.
Mata tajamnya kembali menatap langit. Ia menghembuskan nafasnya kasar hingga menimbulkan uap. Detak jantungnya kembali berpacu. Menunggu 5 menit terasa seperti 5 tahun bagi Sehun.
Flashback On.
Jongin berdiri di hadapan sebuah telepon umum. Tangannya memegang gagang telepon yang sudah ia tempelkan ke telinganya.
"Yeoboseo. Eommoni, ini aku, Jongin." Kata Jongin saat nada sambung di seberang sana berhenti, digantikan oleh sapaan dari Nyonya Oh, atau ibu Sehun. "Apakah Sehun ada?" Tanyanya kemudian.
"Tunggu sebentar, ne." Jawab wanita paruh baya itu.
Jongin bisa mendengar derap langkah kaki di seberang sana. Disusul oleh sebuah kalimat yang terdengar seperti, "Sehun-ah, ada telepon untukmu dari Jongin."
Sehun menerima telepon yang diberikan oleh ibunya. "Waeyo, Jongin-ah?"
"Sehun-ah... Aku...aku akan pindah besok pagi." Suara Jongin terdengar lebih lirih dari sebelumnya.
Sehun terbelalak kaget. "Huh? Pindah? Lalu, bagaimana dengan XOXO Junior High School? Kita sudah bekerja keras untuk masuk ke sana." Ucap Sehun dengan nada kecewa.
"Appa dan eomma sudah mendaftarkanku untuk masuk ke SM Junior High School di Seoul. Maafkan aku, Sehun-ah." Jongin tidak bisa lagi membendung air matanya. Ia menangis di kotak telepon umum itu.
"Uljima... Kau tidak perlu meminta maaf, Jongin-ah." Sehun berusaha menenangkan Jongin yang terisak di sana. Hatinya terasa begitu sesak mendengar kenyataan ini, apalagi mendengar tangisan Jonginnya.
"Aku sudah hiks memohon pada mereka hiks agar membiarkan—hiks—ku untuk menetap di Daegu bersama hiks bibi Byun, tapi...hiks mereka bilang...hiks hiks aku masih terlalu kecil untuk hiks berada jauh dari mereka."
"A-aku mengerti. Gwaenchana, Jongin-ah. Jangan menangis lagi." Sehun berusaha menjaga suaranya agar tidak terdengar bergetar, namun sebenarnya air matanya sudah menganak sungai di pipi mulusnya.
Hening menyelimuti mereka berdua. Hanya suara isak tangis yang sesekali terdengar dari keduanya.
Flashback Off.
TBC or End?
Maafin aku karena harus motong ceritanya sampai di sini. Ini udah lumayan panjang, 'kan? Maaf juga yang nggak ngerti alur cerita chap sebelumnya. Soalnya alur di filmnya juga seperti itu. Semoga di chap ini ada yang ngerti dengan alurnya.
Balasan review:
Mizukami Sakura-chan: Bukan kamu yang lola kok, chingu. Ini memang alurnya yang agak sulit dimengerti hehehe. Semoga chap ini udah bisa ngerti :)
jongkwang: ini udah panjang belum?
jonginisa: di sini udah ada hunkai moment-nya lho (walaupun dikit) :D
novisaputri09: sehun sama jongin kepisah waktu masuk SMP, chingu.
Kamong Jjong: hehehe ceritanya emang kayak gitu. Pakenya surat menyurat.
Guest: ini udah lanjut :)
: ini dilanjut saengie :)
Sungie (Guest): haduh maaf ya kalo nggak bisa dimengerti. Semoga yang ini bisa dimengerti. Hahaha terima kasih udah suka.
afranabilah19: hahaha di chap ini Sehun lagi dalam perjalanan menemui Jongin. Mungkin chap depan baru ketemu.
jongin48: huhuhu sama, chingu. Aku juga meneteskan air mata pas nonton. Berdo'a aja semoga Sehun nggak semenderita itu ya hihihi.
Akasuna no Akemi: hahaha iya chingu. Semoga suka sama cerita ini ya :)
Guest: arraseo. Gomawo semangatnya :)
Untuk para reader yang udah mau baca, review, favorite, dan follow ff-ku, makasih banyak. Ditunggu reviewnya, ya.
With love,
Kaiko94
