5 Centimeters per Second

Cast: Oh Sehun, Kim Jongin, other cast(s).

Genre: Romance, Angst(?)

Warn: Yaoi, Crack Pairing, Typo(s)

Note: FF ini adalah remake dari film animasi Jepang dengan judul yang sama. Jadi, jika ada yang pernah menonton filmnya pasti akan tahu alur cerita ff ini. Tapi maaf sebelumnya bagi yang sudah menonton filmnya. Cerita ini bakalan agak berbeda dari film tsb. Mungkin ada beberapa penambahan atau pengurangan scene. FF ini author dedikasikan untuk Event HunKai Sweet Couple.

Haduh haduh haduh... Maaf karena aku baru publish chap 3 nya sekarang. Hari senin kemarin udah mulai masuk kuliah soalnya. Banyak rapat pertunjukan drama juga semester ini #curhat dikit nggak apa-apa ya XD. Oh ya, biar lebih akrab, panggil aku Aiko aja, eonni atau saeng juga boleh. Aku satu line sama HunKai alias line 94 yeay *tepuk tangan sambil loncat-loncat bareng HunKai*. Sebagai permintaan maafku, chap ini aku buat lebih panjang dari sebelumnya.

Oke, langsung aja ke cerita ya. Happy reading~

.

.

.

Sehun POV.

Jika aku mengingat kembali pada waktu Jongin menelponku malam itu, aku menjadi sangat menyesal. Jongin pasti sangat menderita—sama sepertiku—di sana. Sayangnya, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku bahkan tak sanggup untuuk sekedar mengucapkan selamat tinggal padanya.

Seharusnya aku menahannya untuk tetap tinggal. Seharusnya aku tidak membiarkannya pergi. Andai dia tidak pindah, bisa dipastikan kami masih akan tetap bersama hingga saat ini, bahkan mungkin sampai selamanya.

Namun, semuanya hanya tinggal penyesalan. Aku tidak bisa memutar waktu. Andai aku memiliki kekuatan time control.

Sehun POV End.

.

.

.

Sehun memandang sekelilingnya. Stasiun Kwangju ini terlihat ramai dengan orang-orang yang hendak pulang ke rumah setelah lelah seharian bekerja. Ia dapat melihat genangan air yang tercipta karena sepatu orang-orang itu basah terkena air lelehan salju.

Hembusan angin dengan bau khas musim dingin memasuki indera penciuman pemuda berwajah poker face itu ketika ia menjejakkan kaki di peron 5, menunggu keretanya datang.

'Mohon perhatian! Kepada seluruh penumpang kereta pada jalur 5 yang akan menuju Iri, dimohon untuk bersabar menunggu kedatangan kereta yang akan terlambat 8 menit karena salju. Kami memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada para penumpang yang tergesa-gesa atas keterlambatan ini. Terima kasih.'

Sehun mengecek arloji dan kertas jadwal keberangkatan kereta di tangannya. Ia tidak pernah berpikir bahwa jadwal keretanya akan tertunda karena salju sebelumnya.

Sekarang sudah pukul 17.10, sedangkan di kertasnya tertulis bahwa kereta akan meninggalkan stasiun Kwangju pada pukul 17.04.

Pemuda dingin itu mendengus kesal. Sungguh, ia sudah—sangat—tidak sabar untuk meninggalkan stasiun ini. Ia ingin cepat-cepat sampai di Seoul.

Cahaya kekuningan dari arah timur mengalihkan perhatian Sehun dari pergelangan tangannya.

Keretanya sudah datang.

Senyum sumringah tercetak jelas di bibir tipis Oh Sehun tatkala kereta itu berhenti tepat di hadapannya.

.

.

.

'Perhatian, perhatian! Karena salju turun sangat lebat, maka kereta ini diperkirakan akan terlambat sekitar 10 menit untuk tiba ke stasiun Iri. Kami meminta maaf sebesar-besarnya kepada para penumpang yang sedang tergesa-gesa.

'Sial!' Rutuk Sehun dalam hati.

Dirinya benar-benar tidak habis pikir, bagaimana bisa salju turun selebat ini di akhir musim dingin? Huh~! Cuaca memang sulit diprediksi.

Untuk menghilangkan kekesalannya, Sehun lebih memilih memandang ke luar jendela. Bangunan-bangunan tinggi yang semula berdiri kokoh, kini telah digantikan dengan area persawahan yang diselimuti oleh benda putih dingin—salju.

Pemuda jangkung itu merapatkan mante tebal ketika hawa dingin mulai menusuk hingga tulang-tulangnya. Sebenarnya Sehun cukup menyukai musim dingin, namun, jika hawa dinginnya sampai seperti ini, ia lebih memilih musim panas saja.

'Pemberhentian selanjutnya, stasiun Iri. Stasiun Iri. Kami ulangi sekali lagi! Pemberhentian selanjutnya, Stasiun Iri. Bagi penumpang yang hendak turun di Stasiun Iri, harap menyiapkan diri. Terima kasih.'

Sekali lagi, pemberitahuan yang terdengar dari speaker di dalam gerbong kereta membuat Sehun menatap jadwal kereta yang berada dalam genggamannya. Ia hanya terdiam di samping pintu kereta saat kereta itu berhenti di stasiun Iri. Ia sudah benar-benar lelah. Ia hanya ingin cepat sampai di Seoul dan bertemu dengan Jongin.

"Bisakah kau menutup pintunya, Nak? Aku sangat kedinginan di sini."

Perkataan dengan nada sedikit bergetar karena kedinginan menyadarkan Sehun dari lamunannya. Ia menoleh ke samping kanan dan mendapati seorang pria paruh baya sedang meringkuk kedinginan di tempat duduknya.

"A-ah, jwiseonghamnida." Balas Sehun sambil membungkukkan badannya setelah menutup pintu kereta.

Pria itu hanya mengibaskan tangannya—tidak peduli. Kemudian kembali pada kegiatan awalnya—menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya—menghilangkan rasa dingin.

Perjalanan menuju stasiun berikutnya dilanjutkan 10 menit kemudian.

.

.

.

Sehun POV.

Waktu yang dibutuhkan untuk menempuh perjalanan dari stasiun satu ke stasiun lainnya luar biasa lama. Belum lagi waktu yang dibutuhkan saat kereta berhenti di tiap stasiun yang juga lama. Menurut rute kereta, masih ada beberapa stasin lagi yang harus kulalui.

Kulirik arlojiku untuk kesekian kalinya. Gawat. Sekarang sudah pukul 7 malam tepat. Pasti Jongin sudah menungguku di stasiun Seoul.

Kuhela nafasku kasar. Padang gurun musim dingin yang tak terlihat di luar jendela, waktu yang terbuang sia-sia, rasa lapar yang kini mendera, semuanya terasa melemahkan hatiku sedikit demi sedikit.

Aku sedikit membanting tas ke bangku kereta dan kududukkan tubuhku di bangku tersebut. Waktu yang telah kami janjikan sudah terlewat dengan sia-sia. Saat ini pasti Jongin merasa cemas.

Aku mengeluarkan sebuah amplop dari dalam saku mantelku. Di hari ketika telepon berdering, kenyataan bahwa aku tidak sanggup mengucapkan selamat tinggal kepada Jongin, dan saat mengingat bahwa aku tidak bisa menghiburnya, aku sangat merasa malu.

Flashback On.

Terlihat dua anak laki-laki sedang berdiri berhadapan di koridor sebuah sekolah dasar di Daegu. Hari ini adalah hari perpisahan kelas 6 di sekolah itu.

"Jadi..." Jongin memecahkan keheningan di antara mereka. Ia memasang senyum manisnya walaupun senyum itu jadi lebih terlihat jelas mengandung kegetiran di dalamnya. Apalagi saat mata kelamnya melihat raut wajah Sehun yang begitu menyedihkan di depannya. Dengan sangat tidak rela, ia berkata,

"Selamat tinggal, Sehun-ah."

Sehun tidak merespon. Ia hanya terdiam seperti patung. Matanya pun enggan memandang ke arah anak laki-laki yang ia anggap sahabat sekaligus orang yang ia cintai ini. Jongin itu bagai oksigen bagi Sehun, jadi bagaimana bisa ia hidup jika Jongin pergi darinya?

Flashback Off.

Surat Jongin yang pertama, aku terima setengah tahun setelah kejadian itu. Selama musim panas tahun pertamaku di Junior High School, aku ingat apa yang dia tulis di surat itu.

Dua minggu sebelum hari ini, aku menulis sebuah surat yang akan keberikan padanya secara langsung. Surat yang berisi segala hal yang tidak bisa kukatakan pada Jongin, segala hal yang aku ingin dia mendengarnya. Jujur saja, aku punya banyak hal yang ingin kusampaikan, termasuk tentang perasaanku.

Sehun POV End.

.

.

.

'Penumpang yang hendak menuju Seoul harap pindah ke kereta yang berada di peron satu. Karena salju yang turun dengan lebat, jadwal keberangkatan kereta akan ditunda selama kurang lebih 20 menit. Kami memohon maaf atas keterlambatan yang terjadi karena cuaca saat ini. Terima kasih.'

Sehun meremas kertas jadwal keberangkatan keretanya. Ia benar-benar muak dengan keterlambatan keretanya. Mau sampai kapan ia terjebak di setiap stasiun karena salju? Sekarang saja sudah pukul 20.15.

Untuk mendinginkan pikirannya, pemuda itu menuju mesin penjual minuman kaleng, hanya sekedar mendapatkan sekaleng kopi hangat yang tersedia di sana. Lama ia memandangi berkaleng-kaleng kopi yang berjajar di dalamnya, menentukan kopi mana yang ingin ia minum. Namun, ketika ia hendak mengeluarkan dompet dari saku mantelnya, surat yang telah ia tulis untuk Jongin terjatuh dan terbang terbawa angin yang berhembus kencang.

Seketika perasaannya bercampur aduk antara marah, sedih, kecewa, dan frustasi. Ia ingin meluapkan semua emosinya, tapi pada siapa? Pada apa? Tak terasa butir-butir air mata mulai berjatuhan dari mata tajamnya. Ya Tuhan, ia benar-benar frustasi saat ini.

'Kereta dengan tujuan kota Seoul telah tiba di peron satu. Kepada para penumpang tujuan Seoul, diharapkan untuk memasuki kereta. Terima kasih.'

.

.

.

Derit roda kereta yang bergesekan dengan rel memenuhi gerbong kereta yang hanya dihuni oleh Sehun. Kaca jendela di sampingnya sudah tidak bisa digunakan untuk melihat pemandangan di luar sana karena tertutup embun yang sangat tebal. Tiba-tiba kereta yang ia tumpangi berhenti.

'Mohon perhatian! Karena badai salju yang sedang terjadi saat ini, kereta akan berhenti sementara waktu. Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi. Kami tidak bisa memberikan perkiraan kapan kereta akan kembali melanjutkan perjalanan. Ulangi—'

Sehun sudah tidak memperhatikan apa yang diucapkan oleh sang announcer itu. Ia sibuk mengecek arlojinya yang menunjukkan pukul 20.54. Dengan putus asa, ia melepaskan jam tangangnya itu, lalu memejamkan kedua matanya.

Flashback On.

Jongin sedang duduk di bangku kereta dalam perjalanan pulang ke rumahnya. Ia baru saja menyelesaikan kegiatan klub dancenya. Saat ini tangannya sedang asyik menulis sebuah surat. Sebuah surat yang akan ia kirimkan pada seseorang di Daegu sana. Siapa lagi kalau bukan Sehun, Oh Sehun.

Flashback Off.

Entah karena apa, Sehun malah membayangkan Jongin yang selalu sendiri di dalam tidurnya. Sudah hampir dua jam kereta berhenti. Setiap menit terasa bagai selamanya bagi Sehun. Waktu seakan-akan mempunyai niat jahat untuk tidak mempertemukannya dengan Jongin.

'Jongin-ah... cepatlah... segeralah kembali ke rumah. Jangan menungguku, jebal!' Seru Sehun dalam hati.

Sehun menggertakkan giginya, meremas kuat bagian depan mantel yang menutupi pangkuannya. Ia dengan sekuat tenaga menahan air mata yang sudah menumpuk di pelupuk matanya agar tidak jatuh. Namun, percuma saja, toh air matanya tetap jatuh membasahi sebagian kecil mantelnya.

.

.

.

'Perhatian, perhatian! Kereta sudah sampai di peron 3 stasiun kota Seoul. Kepada para penumpang yang hendak turun, diharapkan untuk bersiap-siap. Terima kasih.'

Sehun segera bangkit dari bangkunya. Tak lupa ia menyelempangkan tas ke pundaknya. Matanya menatap jam dinding di peron stasiun begitu ia menapakkan kakinya turun dari kereta. Sudah pukul 23.15.

'Pasti Jongin sudah pergi.' Batinnya dalam hati.

Sehun berjalan dengan gontai menuju pintu keluar stasiun. Kepalanya tertunduk lesu menyadari kenyataan bahwa ia terlambat lebih dari empat jam dari waktu yang dijanjikan.

Deg!

Kakinya secara otomatis berhenti di tempat ketika ia melihat sesosok pemuda sedang duduk di bangku ruang tunggu stasiun lewat ekor matanya. Ia melangkahkan kaki panjangnya mendekati sosok pemuda yang sedang menunduk itu.

"Jongin-ah..." Panggilnya dengan suara lirih.

Pemuda itu mendongak. Memperlihatkan wajahnya yang manis. Seketika matanya membulat kaget melihat Sehun ada di hadapannya. Mereka berpandangan lama sekali. Manik hazel Sehun bertemu dengan manik black pearl kepunyaan Jongin. Hingga Jongin memutuskan kontak mata mereka dengan mencengkeram bagian depan mantel Sehun. Kepalanya menunduk. Setelah itu terdengar isakan kecil dari bibir berisinya.

Sehun mendekat, melingkarkan tangannya ke pundak Jongin, memeluknya dengan erat. Jongin membenamkan wajahnya di perut datar Sehun, membalas pelukan pemuda itu tak kalah eratnya.

.

.

.

"Mashita~" Kata Sehun setelah menyeruput minuman hangat yang mereka—Sehun dan Jongin—beli di mesin penjual minuman kaleng.

"Jinjja? Ini hanya Cappucino biasa, Sehun-ah." Ucap Jongin dengan senyum manis yang masih setia melekat di bibirnya.

"Cappucino? Aku belum pernah meminumnya sebelumnya. Aku hanya tahu kopi hitam saja." Ujar Sehun polos.

"Mwo? Kau pasti sudah pernah meminum ini sebelumnya." Sangkal Jongin. Ia mengeluarkan kotak makanan dari dalam tas ranselnya. "Aku membuatkanmu kimbap, tapi aku tidak tahu bagaimana rasanya. Aku baru belajar membuatnya tadi pagi bersama eomma. Kau mau mencobanya, Sehun-ah?"

Sehun mengangguk sambil tersenyum lebar, membuat matanya melengkung seperti bulan sabit. "Gomawo, Jongin-ah. Kau tahu saja aku sedang lapar."

Jongin terkekeh mendengar perkataan Sehun. Ia menyodorkan sekotak kimbap ke hadapan pemuda milky skin itu, yang dengan semangatnya mulai mengambil sepotong kimbap.

Dengan mata berbinar senang, Sehun memasukkan kimbap itu ke mulutnya dalam sekali suap. Ia mengunyahnya perlahan.

"Otte?" Tanya Jongin was was. Ia takut jika Sehun tidak menyukai masakannya.

"Kimbap ini benar-benar kimbap terenak yang pernah kumakan. Bahkan kimbap buatanmu mengalahkan kimbap buatan bibi Jung yang terkenal sangat enak itu." Jawab Sehun riang.

Jongin memukul bahu Sehun pelan dengan kepala tertunduk karena malu. "Kau ini, selalu saja melebih-lebihkan."

"Aniya, aku berkata jujur, Jongin-ah. Kimbap ini benar-benar enak." Elak Sehun.

"Itu pasti karena efek perutmu yang kelaparan, Sehun-ah." Jongin terkikik geli melihat sahabatnya ini. "Aku akan memakannya juga."

Pemuda berkulit tan itu mengambil satu potong kimbap dan melahapnya. Mereka berdua meneruskan acara makan mereka dengan sesekali di iringi percakapan dan canda-tawa.

.

.

.

Sehun dan Jongin berjalan keluar dari stasiun setelah menghabiskan makanan mereka. Petugas stasiun berkata bahwa stasiun itu akan tutup karena sudah tidak ada kereta yang akan berangkat sebagai akibat dari badai salju hari ini.

Jongin berlarian kecil di depan Sehun, membuat pemuda yang lebih muda beberapa bulan darinya itu terkekeh geli melihat tingkah kekanakannya. Permukaan tanah yang tertutup salju tebal, membuat jejak kaki mereka tercetak jelas di sana.

Wajah keduanya terlihat sangat bahagia. Seakan-akan mengatakan bahwa hanya dengan kehadiran keduanya di sisi masing-masing, sudah cukup untuk membuat mereka merasa bahagia.

"Kau lihat pohon itu?" Tanya Jongin memecahkan keheningan di antara mereka. Jemarinya yang terbalut sarung tangan menunjuk ke sebuah pohon besar yang ada di sisi kanan mereka.

"Apakah itu pohon yang ada di surat?" Sehun bertanya balik.

Jongin mengangguk antusias. "Ne. Itu adalah pohon sakura yang kubicarakan di surat."

Mereka berdua menatap pohon di hadapan mereka dengan berbinar. Mimpi Jongin terwujud. Mimpinya untuk melihat pohon sakura ini bersama Sehun telah terwujud, walaupun saat ini bukan musim gugur.

"Lihatlah, Sehun-ah." Jongin menengadahkan tangannya. Sebutir salju mendarat dengan sempurna di telapak tangannya yang kini sudah tidak terbalut kaos tangan. "Bukankah ini seperti bunga sakura yang berguguran?"

Sehun menatap Jongin yang tengah tersenyum. Pemuda itu nampak sangat indah di mata tajam Sehun. Apalagi dengan butiran-butiran salju yang turun di sekitarnya, membuat hati Sehun berdesir. Jantungnya berdetak cepat. "Ne, kau benar. Salju ini seperti bunga sakura yang berguguran."

Setelah itu, mereka hanya memandang satu sama lain. Seolah ingin menyelami sosok masing-masing lewat tatapan mata. Entah mendapat dorongan dari mana, kini Sehun mendekatkan wajahnya pada Jongin—yang juga melakukan hal yang sama. Mereka dapat merasakan hembusan nafas keduanya yang menerpa wajah mereka masing-masing.

5 senti,

4 senti,

3 senti,

2 senti,

1 senti, dan—

Chu~

Bibir keduanya saling menempel, merasakan sensasi baru yang mana rasanya seperti ada ribuan, bahkan jutaan, kupu-kupu yang mengepakkan sayapnya di perut mereka. Rasanya sedikit aneh, namun juga menyenangkan.

Semula mereka hanya saling menempelkan bibir hingga tangan Sehun—yang awalnya berada di samping kanan-kiri tubuhnya—kini sudah berada di sisi kanan-kiri pinggang ramping Jongin. Kecupan itu berubah menjadi ciuman yang sedikit menuntut.

Dengan ragu, Jongin mengalungkan kedua tangannya di leher Sehun, mengusap rambut bagian belakang Sehun berharap Sehun semakin memperdalam ciuman mereka.

Dalam ciuman itu, mereka dapat merasakan sebuah perasaan lain. Perasaan takut kehilangan dan ditinggalkan. Perasaan pedih saat memikirkan bagaimana jika setelah ini mereka tidak akan bersama selamanya. Perasaan terluka saat memikirkan mereka akan kembali menjalani hidup mereka sendiri. Tidak bersama seperti saat ini atau beberapa tahun lalu.

Namun, kegelisahan yang mereka rasakan segera meleleh ketika mereka merasakan kehangatan bibir masing-masing. Karena kebutuhan akan pasokan oksigen untuk paru-paru mereka, keduanya melepas tautan bibir itu. Menyisakan benang saliva yang menghubungkan bibir keduanya.

Jongin—dengan wajah merah campuran antara malu dan kehabisan oksigen—memeluk Sehun erat. Dibalas oleh pemuda poker face itu dengan pelukan yang tak kalah eratnya.

Sehun POV.

Malam ini, kami memutuskan untuk menginap di gudang kecil di samping tanah lapang. Berbagi selimut tua yang kami temukan di gudang itu. Kami saling bertukar cerita dengan posisi Jongin membaringkan kepalanya di dadaku dan kedua tanganku yang melingkar erat di pinggangnya hingga kami terlelap dalam posisi seperti itu.

Sehun POV End.

.

.

.

Matahari telah muncul di ufuk timur menandakan hari baru telah datang. Pagi ini Sehun akan kembali ke Mokpo dengan menggunakan kereta api yang sudah mulai beroperasi kembali. Jongin mengantarnya hingga ke stasiun.

Mereka berdiri canggung di samping kereta. Dengan langkah berat, Sehun melangkahkan kakinya ke dalam gerbong.

"Eum... Sehun-ah..."

Suara Jongin yang terdengar lirih membuat Sehun membalikkan badannya. "Ne?"

"Sehun-ah... kau akan—"

Ada jeda yang agak panjang setelahnya. Namun, Sehun tetap menunggu kelanjutan kalimat itu. Berharap bahwa Jongin akan mengungkapkan perasaannya terhadap dirinya. Anggap ia pengecut karena tidak berani mengungkapkan perasaannya terlebih dahulu, tapi memang begitulah kenyataannya. Sehun merasa takut. Takut jika setelah ia mengungkapkan perasaannya, Jongin akan menjauhinya, atau bahkan membencinya.

"Kau akan baik-baik saja mulai sekarang. Aku yakin itu." Ucap Jongin mantap. Ia tersenyum kecil. Sehun tahu Jongin memaksakan senyumannya itu.

"Gomawo." Belum sempat Sehun berkata lebih jauh lagi, pintu gerbong kereta menutup, pertanda bahwa kereta akan berangkat sebentar lagi. "Jongin-ah, kau juga harus baik-baik saja di sini. Kita akan saling mengirim surat. Jika perlu, kita juga akan saling bertelepon." Seru Sehun dari dalam.

Saat ini, langit nampak sangat cerah. Burung-burung berkicauan dan terbang kesana-kemari dengan pasangannya. Jauh berbeda dengan Sehun dan Jongin yang harus kembali berpisah. Tanpa kejelasan hubugan mereka. Tanpa pernyataan cinta dari keduanya.

TBC or End?


Otte? Udah panjang kan ini? Semoga pada suka ya sama chap yang ini. Di sini moment HunKai-nya udah aku buat sebanyak mungkin dan seromantis mungkin menurut kemampuanku. Oh ya, buat review-nya maaf nggak bisa bales satu per satu.

Balasan review:

Mizukami Sakura-chan: ini mereka ketemu lagi kok, tapi trus dipisahin lagi *evil laugh* gomawo atas sarannya. Bener-bener berterima kasih deh sama kamu atas masukannya. Sebenernya aku bener-bener bingung mau nulis pengumuman yang di keretanya itu gimana hehe. Tapi yang ini semoga lebih baik dari yang kemarin. Amin.

Sungie (Guest): alhamdulilah kalau udah mengerti. Semoga yang ini makin bisa dimengerti ya, saeng. Tenang gimana nih maksudnya? :D

Akasuna no Akemi: tenang tenang, aku kasih sedikit bocoran ya... Sehun di sini nggak semenderita Takaki di filmnya kok. Dan kemungkinan—ini baru kemungkinan lho ya—endingnya bakalan nggak senyesek filmnya. Akan ada beberapa alur cerita yang aku ubah kok.

Lakuning Geni Wasesa Segara: jinjja? Hahaha aku yang nggak ngerti itu pas episode keduanya. Duh, aku bener-bener nggak mudeng di situ.

Thanks to: novisaputri09, adilia taruni 7, Jongin48, Jongkwang, Mizukami Sakura-chan, cute (Guest), maya han, Kamong Jjong, afranabilah19, askasufa, jonginisa, liaoktaviani joaseo, sungie (Guest), Akasuna no Akemi, Guest, aldi loveydovey, hyura kim 5, flamintsqueen, Lakuning Geni Wasesa Segara, onlysekai.

Untuk para reader yang udah mau baca, review, favorite, dan follow ff-ku, makasih banyak. Ditunggu reviewnya, ya.

With love,

Kaiko94