5 Centimeters per Second

Cast: Oh Sehun, Kim Jongin, other cast(s).

Genre: Romance, Angst(?)

Warn: Yaoi, Crack Pairing, Typo(s)

Note: FF ini adalah remake dari film animasi Jepang dengan judul yang sama. Jadi, jika ada yang pernah menonton filmnya pasti akan tahu alur cerita ff ini. Tapi maaf sebelumnya bagi yang sudah menonton filmnya. Cerita ini bakalan agak berbeda dari film tsb. Mungkin ada beberapa penambahan atau pengurangan scene. FF ini author dedikasikan untuk Event HunKai Sweet Couple.

Mianhae~ T_T baru update sekarang. Tugas-tugas kuliah bener-bener nyita waktu dan pikiran. Sampe-sampe aku bisa nulisnya pas pulang ke rumah kemarin. Maafin aku ya readers tersayang~ kalo kalian mau maafin aku, nanti dicium satu per satu sama Jongin oppa hihihi.

Oke, langsung aja ke cerita ya. Happy reading~

.

.

.

Musim semi, beberapa tahun kemudian.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, dan tahun-tahun pun silih berganti. Tidak terasa sudah 10 tahun berlalu sejak pertemuan Sehun dan Jongin terakhir kali. Sekarang Sehun sudah bekerja di salah satu perusahaan game terbesar di Seoul sebagai perancang game. Setelah lulus dari bangku Senior High School, pemuda berkulit putih itu memutuskan untuk hidup mandiri di Seoul untuk melanjutkan studinya.

Minggu pagi yang cerah di bulan April ini, Sehun habiskan berjam-jam waktu senggangnya di depan komputer di apartemennya, merancang sebuah game inovasi terbaru sebagai tugas dari bosnya—Park Chanyeol. Ruangan yang sedikit berantakan, tidak membuat konsentrasinya berkurang walaupun hanya secuil.

Angin musim semi berhembus kencang memasuki jendela kamar apartemennya yang memang sengaja ia buka. Sehelai kelopak bunga sakura terjatuh di dekat cangkir kopi di hadapannya—mungkin terbawa angin—membuat Sehun mengalihkan pandangan matanya dari depan komputer. Helai demi helai kelopak bunga yang kecil itu berjatuhan di meja kerjanya, menyusul kelopak bunga sakura yang pertama jatuh di sana.

Dalam sekejap mata, Sehun sudah memakai jaket dan sepatunya. Tanpa peduli bahwa komputernya masih menyala, ia mengunci pintu apartemen dan, dengan langkah cepat, menaiki lift menuju basement bangunan tinggi ini.

Berjalan-jalan di sekitar apartemen dengan pemandangan bunga-bunga sakura sudah menjadi kebiasaan rutin yang Sehun jalani selama musim semi dan musim gugur. Memikirkan musim semi dan musim gugur, ditambah kenangan manis akan kedua musim itu, membuat Sehun mau tidak mau kembali memikirkan Jongin.

Pemuda bermarga Kim itu memang sudah tidak tinggal di Seoul lagi sejak masuk Senior High School. Ia kembali pindah ke kota Busan. Kota yang terkenal dengan keindahan pantainya. Jika dipikir-pikir, percuma saja Sehun pindah ke Seoul saat Jongin sudah tidak ada di kota ini. Tapi apa boleh buat? Ia harus tetap melanjutkan sekolahnya untuk meraih cita-cita sekaligus menjalankan amanah dari sang appa.

Sehun menatap pohon sakura besar di hadapannya. Seulas senyum tampan terpatri di bibir tipisnya. Walaupun begitu, jika dilihat-lihat lagi, matanya menunjukkan rasa sedih, rindu, dan... perih.

'Bagaimana kabarmu, Jongin-ah?'

'Apa kau baik-baik saja di sana?'

'Apa kau... bahagia?'

Pertanyaan-pertanyaan itu selalu terlintas di pikiran pemuda tampan itu setiap kali otaknya memikirkan Jongin. Sejak pertemuan mereka 10 tahun lalu, Sehun dan Jongin tidak pernah lagi bertemu. Mereka hanya berkirim surat dan saling menelpon beberapa kali hingga Jongin pindah ke Busan. Sejak saat itu, mereka tidak pernah menghubungi satu sama lain, atau lebih tepatnya, Jongin tidak pernah menghubungi Sehun lagi.

Kenapa Sehun tidak menghubunginya terlebih dahulu? Jika kalian bertanya seperti itu, maka Sehun akan menjawabnya dengan gelengan kepala. Sehun tidak tahu alamat Jongin sekarang, Jongin tidak memberitahukannya. Nomor ponselnya pun sudah tidak aktif. Jongin seperti hilang ditelan bumi.

Tiga bulan pertama setelah Jongin menghilang, Sehun benar-benar terpuruk. Ia mogok makan, tidak pernah keluar rumah, bahkan keluar kamar saja jika dihitung tidak lebih banyak dari jari-jari di salah satu tangan. Sehun juga sempat tidak masuk sekolah selama satu bulan penuh.

Orang tuanya benar-benar khawatir dengan keadaan Sehun. Mereka hampir saja pergi ke Busan untuk mencari Jongin agar Sehun dapat kembali seperti semula ketika tiba-tiba saja Sehun keluar kamar dan berkata bahwa ia akan kembali bersekolah. Perasaan pasangan suami-istri tersebut kala itu tidak bisa diungkapkan oleh kata-kata. Mereka benar-benar sangat bersyukur atas kembalinya putra semata wayang mereka—walaupun sebenarnya Sehun tidak pergi ke mana-mana.

Apa kalian penasaran penyebab Sehun kembali seperti semula? Jawabannya sederhana, hanya sebuah kalimat yang tertulis di surat terakhir Jongin sebelum pemuda tan itu menghilang.

"Kejarlah apapun yang menjadi tujuanmu, Sehun-ah, walaupun jalan menuju tujuanmu itu teramat sangat sulit."

Sebenarnya bukan hanya kalimat itu yang membuat Sehun kembali bangkit dari keterpurukannya. Masih ada satu kalimat pamungkas lagi dari Jongin—dan ia rasa kalimat itulah yang menjadi penyemangatnya. Kalimat yang berbunyi,

"Aku percaya kau bisa, Hunnie."

Jika Jongin saja percaya bahwa Sehun bisa melewati masa-masa sulit, kenapa ia tidak bisa percaya pada dirinya sendiri? Dan juga, hal yang menjadi tujuan Sehun sampai saat ini adalah Jongin. Jongin yang selalu mengisi hatinya selama ini. Jongin yang selalu menjadi penyemangatnya. Jongin yang begitu ia cintai.

.

.

.

Musim dingin. Beberapa bulan kemudian.

Sehun turun dari bus di halte dekat apartemennya di daerah Gangnam. Ia baru saja pulang dari kantornya di daerah Gyeongi-do. Malam ini udara kota Seoul mengalami penurunan dari udara di malam-malam sebelumnya, jelas saja ini sudah masuk bulan Desember yang berarti sudah memasuki musim dingin.

Sepanjang jalan menuju apartemennya, banyak terpampang pernak-pernik khas Natal. Pohon-pohon dililit oleh lampu warna-warni yan berkerlap-kerlip layaknya bintang di angkasa.

Drrrt drrrt drrrt!

Sehun merogoh saku mantelnya. Mengeluarkan benda persegi—ponselnya—dari dalam sana ketika benda itu bergetar, tanda ada panggilan masuk. Ia terdiam seketika melihat caller id yang terpampang di layar ponselnya.

Baekhyun is calling.

Itu dari Baekhyun, teman kuliah sekaligus teman satu kantornya. Teman yang memiliki perasaan lebih dari teman untuknya. Ya, Baekhyun—pemuda berparas cantik itu—menyukai Sehun, atau mungkin lebih tepatnya mencintai pemuda itu. Sehun tahu hal ini. Bahkan sejak tiga tahun yang lalu saat mereka masih sama-sama duduk di bangku perkuliahan.

Sayangnya, di hati pemuda berwajah dingin itu hanya ada satu nama. Kim Jongin. Dari dulu hingga sekarang, seluruh ruang di hatinya hanya terisi oleh pemuda manis itu.

Sehun mendongakkan kepalanya saat butiran-butiran berwarna putih—salju—berjatuhan dari langit. Ponsel di tangannya sudah tidak bergetar lagi—tanda bahwa panggilan itu telah berakhir, bahkan sebelum dijawab oleh sang penerima panggilan.

.

.

.

"Bisakah kau kembali saat tahun baru, Jongin-ah?" Tanya seorang wanita paruh baya—Nyonya Kim—pada pemuda manis. Mereka berada di stasiun untuk mengantarkan keberangkatan Jongin ke Seoul beberapa saat lagi.

Jongin tersenyum mendengar perkataan sang eomma. Eommanya ini memang tidak pernah bisa berada jauh dari dirinya. "Akan kuusahakan, Eomma. Ada beberapa hal yang harus kupersiapkan terlebih dahulu, jadi—"

"Gwaenchana. Kau harus memasakkan makanan yang lezat untuknya." Potong Nyonya Kim.

Jongin berkedip-kedip beberapa kali, lalu tertawa gugup. "Ah...arraseo, Eomma."

"Jika ada apa-apa, beritahu kami, Jongin-ah." Kini giliran Tuan Kim yang berbicara. Pandangan matanya menyiratkan kesedihan dan kekhawatiran.

Jongin menampilkan senyum terbaiknya. "Tenanglah, Appa, Eomma. Aku akan baik-baik saja. Lagipula ada Kris hyung yang akan menjagaku di sana."

Tuut tuuuut!

Suara kereta—yang menjadi tanda kereta akan berangkat—memasuki indera pendengar mereka. Jongin memeluk kedua orang tuanya bergantian. "Cuaca hari ini sangat dingin. Kembalilah ke rumah, Appa, Eomma. Aku berangkat dulu. Annyeong."

Menghembuskan nafasnya pelan, Jongin memasuki gerbong kereta. Hari ini ia akan mengunjungi tunangannya setelah lima bulan tidak bertemu. Ya, Jongin sudah bertunangan—lebih tepatnya dijodohkan oleh orang tuanya.

Kris Wu—tunangannya—adalah anak dari sahabat Appanya. Ia pemuda yang baik, dewasa, pekerja keras, dan penuh kharisma. Wajah tampan yang selalu menunjukkan ekspresi dingin, tubuh tinggi bak model, dan kulit seputih susu yang dimilikinya selalu mengingatkan Jongin akan seseorang. Seseorang yang mengisi hatinya dulu—hingga kini. Pemuda itu Oh Sehun.

Jongin's POV.

Jika melihat salju di luar dari jendela kereta seperti ini, aku jadi teringat tentangmu. Tentang kisah kita ketika kita masih anak-anak. Sangat sulit bagiku untuk melupakan semua kenangan kita saat semua benda di sekelilingku mengingatkanku tentangmu.

Di hati dan pikiran ini pun hanya ada namamu yang terus terukir. Bahkan di saat aku sudah menjadi tunangan orang lain, cinta ini masih berpihak padamu, Sehun-ah. Jika aku bisa mengembalikan waktu, aku akan kembali ke masa-masa di saat kita bersama-sama melewati hari demi hari.

Bisakah kita kembali seperti dulu?

Jongin's POV End.

.

.

.

Sehun memandang hiruk pikuk kota Seoul di hari Minggu melalui beranda apartemennya. Sebatang rokok yang sudah disulut berada di antara jari telunjuk dan tengahnya. Semenjak kuliah, ia memang mulai mengenal rokok. Saat sedang stres, benda bernikotin itulah yang akan menemaninya.

Bunyi dering ponsel dari dalam apartemennya mengalihkan perhatian Sehun. Dengan sedikit malas, ia meraih benda persegi yang tergeletak di meja, bahkan saking malasnya ia sampai menendang kaleng minuman kosong di lantai.

Sebuah gambar amplop di layar ponselnya menunjukkan bahwa ada pesan singkat yang masuk. Sehun membuka pesan tersebut dan membacanya sekilas.

Pesan itu dari Baekhyun. Menanyakan kabarnya, apakah ia sudah makan, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Sehun menutup ponselnya tanpa berniat untuk membalas pesan tersebut. Ia mengambil jaket dan mantelnya, memakai sepatu, lalu pergi ke luar apartemennya.

Sehun berjalan tanpa arah. Ia hanya mengikuti ke mana langkah kaki membawanya. Hingga kini ia duduk di sebuah taman di pusat kota. Matanya memandang sekeliling. Ramai. Kata itu langsung terlintas di otaknya ketika matanya menangkap banyaknya pengunjung taman ini. Sebagian besar dari pengunjung itu adalah keluarga dan sisanya pasangan kekasih yang sedang berkencan. Mungkin hanya Sehun saja yang mendatangi taman ini seorang diri.

Pemuda tampan itu mengedikkan bahunya tidak peduli. Ia lebih memilih menyandarkan kepalanya di sandaran bangku dan memejamkan kedua mata elangnya. Tidur sejenak tidak apa-apa, kan?

.

.

.

"Nah, kita sudah sampai, Sayang." Ucap pemuda tampan dengan rambut pirangnya kepada pemuda manis di sampingnya.

"Woah! Tamannya ramai sekali, hyung." Sahut pemuda manis dengan mata berbinar menatap taman di depan mereka.

Kris—pemuda tampan—tersenyum mendengar perkataan polos pemuda di sampingnya. Tangannya tergerak untuk mengusak rambut dark brown milik pemuda berkulit tan itu. "Tentu saja ramai, Jongin-ah. Kau lupa jika hari ini hari Minggu, eoh?"

Jongin menoleh menatap Kris sambil meringis. Ia lupa jika hari ini adalah hari Minggu. Jongin tiba kemarin sore di Seoul dan Kris berjanji mengajaknya jalan-jalan hari Minggu ini.

"Hyung, ayo kita beli ice cream." Pinta Jongin saat mereka sudah berada di dalam taman.

Kris membatu melihat tatapan puppy eyes yang ditunjukkan pemuda itu. Ugh... Jongin menggemaskan sekali dengan tatapan itu. Seseorang, tolong ingatkan Kris untuk bernafas. Namun, beberapa detik kemudian, Kris mendengus pelan. Seandainya Jongin juga mempunyai perasaan cinta padanya, pasti ia akan menjadi pria yang paling beruntung di dunia ini. Tapi sayangnya, Jongin mencintai orang lain. Hatinya sudah tertutup untuk orang lain, dan hanya terbuka untuk seseorang—yang tentu saja bukan dirinya.

Ya, Kris sudah tahu tentang kisah percintaan Jongin dengan—siapa nama pemuda itu? Ah ya, Oh Sehun. Selama ini Jongin hanya menganggap Kris sebagai kakaknya, tapi Kris tidak mempermasalahkan hal itu. Ia sudah bertekad akan selalu mensupport Jongin dan membuat Jongin bahagia walaupun bukan dengannya. Kris tidak membutuhkan balasan atas perasaan cintanya karen bisa berada di sisi Jongin saja sudah membuat Kris bahagia. Sangat dewasa, bukan?

"Hyung~" Rengek Jongin sambil menggoyangkan lengan kemeja bagian kiri yang dipakai Kris ketika ia tidak mendapat respon apapun dari tunanganya itu.

Kris mengerjap beberapa kali sebelum berkata, "Uh-oh, geurae. Kau tunggu aku di bangku ini. Aku akan membelikan ice cream cokelat untukmu."

Jongin tersenyum lebar mendengar perkataan Kris. Pemuda itu benar-benar baik hati. "Gomawo, hyung. Kris hyung jjang~!" Kata Jongin sambil mengacungkan kedua ibu jarinya. Kris mengacak rambut Jongin sekali lagi sebelum beranjak untuk membelikan ice cream yang Jongin inginkan.

Setelah Kris menghilang dari pandangannya, raut wajah Jongin berubah menjadi sendu. Ia menatap pohon sakura yang berhiaskan lampu-lampu kecil di seberang sana. Entahlah. Jika melihat pohon sakura ia selalu teringat pada Sehun. Ah, pemuda itu, bagaimana ya kabarnya? Apakah ia baik-baik saja?

Tiba-tiba seseorang berdiri di hadapan Jongin. Menghalangi pandangannya yang tertuju pada pohon sakura. Karena posisinya yang duduk, ia harus mendongak untuk melihat siapa seseorang yang sudah berani menggangu kegiatannya ini.

Mata Jongin terbelalak, seolah hendak keluar dari kelopaknya. Pemuda di hadapannya ini...

"S-sehun? / Jong-in? / Sayang..."

TBC or End?

Huah~ *lap keringet* akhirnya selesai juga chapter 4 nya. Gimana? Nggak sesuai harapan, ya? Di sini emang aku bikin beda ceritanya. Ini real pemikiranku lho ya. Kayaknya chap depan bakal tamat. Tapi aku nggak tau bisa update lagi kapan, soalnya dari hari sabtu besok sampe minggu depan aku KKL. Mungkin minggu depannya lagi baru bisa publish. Mianhae chingu ^^

Thanks to: novisaputri09, adilia taruni 7, Jongin48, Jongkwang, Mizukami Sakura-chan, cute (Guest), maya han, Kamong Jjong, afranabilah19, askasufa, jonginisa, liaoktaviani joaseo, sungie (Guest), Akasuna no Akemi, Guest, aldi loveydovey, hyura kim 5, flamintsqueen, Lakuning Geni Wasesa Segara, onlysekai, leeyeol, myungricho, kaihun70, kkaebsongggooholat, blissfulxo, ling-ling pandabear.

Maaf nggak bisa balas review satu-satu. Untuk para reader yang udah mau baca, review, favorite, dan follow ff-ku, makasih banyak. Ditunggu reviewnya, ya.

With love,

Kaiko94