Love Saves The Earth

Author: Levio Kenta Uzumaki

Genre: Supernatural,Fantasy,Romance/Drama.

Rated:T (for now)

Pairing: [Naruto Uzumaki, Sakura Haruno] and others.

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Warning: OOC,abal,Typo,DLDR.

My First Fanfiction, mohon bantuannya minna-san. Bagi yang tidak suka sama pairnya tolong jangan membaca, daripada menyesal, no flame!.

Chapter 1

.

.

.

Krrriiiinggg… bel istirahat berbunyi… semua siswa siswi KIHS berhamburan dari kelas masing masing.

Tap. . tap. . tap.. brrukkk

"Awww… pelan pelan kalau jalan.."

"Ah.. maaf" seru pemuda berambut perak bergigi hiu dengan senyum tanpa dosa, si gadis yang tertabrak hanya mengerucutkan bibirnya sebal.

"Hah.. dasar tuh anak.."

"Sabar Sakura-chan." Gadis cantik bermata lavender berambut indigo yang indah itu mencoba menenangkan sahabatnya 'Sakura'.

Sakura hanya mengerutkan alisnya

"Huh.. sudahlah , ayo kita ke kantin saja Hinata". Sakura menarik tangan Hinata untuk menuju ke kantin.

Mereka berdua berjalan saling diam, hinata tengah memikirkan sesuatu, hingga akhirnya Sakura penasaran dan mencairkan suasana Aada.. apa denganmu Hinata? Kau sakit?"

Hinata tersentak "Eh.. um… tidak Sakura-chan , aku hanya bingung saja."

"Kenapa? Tidak biasanya kau seperti ini? Ayo cerita?" mereka terus berbicara sampai sampai dikantin. Mengambil bangku dan memesan sesuatu

Sreeekkk…

Sakura menarik kursi diujung kantin dan mendudukinya diikuti hinata mengambil bangku disebelah sakura.

" Ayame-san strawberry jus dan pasta 1 yaa…" teriak Sakura kepada salah sorang pelayan di situ.

"Baikk!"

"Kau memesan apa Hinata?" yang ditanya melamun , pandangannya tertuju pada seseorang yang sedang berdiri memesan makanan dimeja kantin. Pemuda tinggi berambut hitam mencuat.

Sakura yang mengetahui arah pandang Hinata hanya tersenyum jahil, lalu hanya berdehem pelan "Eheeemmm ,, ehmmm pangeran es dan putri malu.."

Hinata yang mendengarnya samar lalu terkaget saat memahami kalimat Sakura.

"Ahh Sa..Sakura-chan , maksud..mu? aku hanya memperhatikan menu di papan itu sa..saja." bohong Hinata , yah memang tak terlalu buruk. Tapi gadis pintar macam Sakura pasti bias menyadarinya dengan mudah bukan?

"Sudahlah jangan berbohong Hinata.. sebenarnya kau ini memperhatikan Sasuke-kun kan ? iya kan?" goda Sakura dengan senyuman evilnya.

Hinata hanya menahan pipinya agar tidak memerah malu. Tapi mana biasa kulit putih porselennya menyembunyikan rona merah itu.

"Sudahlah Sakura-chan.. a..aku mau memesan makanan dulu.."

"Ayame-san blueberry juice 1, roti pastelnya 2"

"Wow.. tumben kau memesan pastel 2 Hinata?"

"Oh.. ini untuk nanti siang Sakura-chan , nantikan kita ada ekstra kelas Bahasa"

Sakura menepuk jidatnya memejamkan matanya

" Ya ampun aku hampir lupa Hinata. Untung saja kau ingatkan… fyuhh"

.

Mereka lalu asyik menikmati makanannya masing-masing. Dan bel pun berbunyi kembali tanda istirahat telah usai. Para siswa pun berhamburan masuk ke kelasnya masing-masing,

-Kelas XI-A-

"Hahaha…."

"Kau ini bisa tidak diam sedikit saja… dasar Kiba"

"Sakura-chan .. ini bunga mawar special untukmu.. ini aku tanam khusus , kata guru Guy bunga mawar ini sangat cocok untukmu, jadi aku memberikannya untukmu Sakura-chan"

"Hahh?! Ehh terima kasih Lee"

Kelas XI-A memang selalu seperti ini tiap kali pelajaran bahasa, guru bermasker itu entah kemana selalu saja telat , datang memohon maaf dan melempar alasan basi tiap kali.

"Ahhh mendokusai.. kalian ini bisa tenang sedikit tidak sih?"

"Dasar si rambut nanas pemalas,…" ujar si rambut pirang kuda ponytail yang sudah greget dengan ulah kekasihnya itu.

"Ck.. mendokusai.. kau juga jangan sering bergosip Ino-chan hime.. lebih baik kau belajar seperti si Hinata itu,,"

"Huh,,, kau ini .. kau suka si Hinata ya? Bilang saja? Iya kan?" Ino mulai besulut-sulut.

"…"

Shikamaru tak bergeming dia hanya memutar bola matanya malas, dia sangat benci situasi seperti ini.. yah dia sangat membenci wanita yang sangat merepotkan dan dengan berkat Tuhan menyertainya dia mendapatkan wanita yang justru ia benci sifatnya, tapi dia kalah akan perasaannya sendiri meskipun merepotkan Shikamaru sangat mencintainya, Alasanya? Ah jangan ditanya karena dia juga tidak tau jawabannya.

"Kau … "

Hampir saja Ino memukul Shikamaru sebelum sang guru perak memasuki kelas, Nampak menaikkan alisnya melihat ruang kelas tempatnya akan mengajar kacau karena tingkah murid-muridnya.

"Ehhmm… "

Semua murid langsung kembali ke tempat duduknya masing-masing, sang guru hanya bisa menghela nafas panjang. Dia berjalan lesu lalu melemparkan alasan seperti biasanya.

"Maaf anak-anak , aku jadi terlambat setengah jam dari biasanya, yahh kalian tahu ada urusan yang mesti aku selesaikan pagi ini yang sangat penting, baik minna mari kita mulai.. sekarang buka buku kalian hal 127 kalian baca setelah itu akan aku jelaskan ."

Para muridnya hanya memutar bola mata malas, lalu mengeluarkan buku masing-masing.

"Dia itu guru yang sangat merepotkan sekali.." gerutu Shikamaru. Pemuda disampingnnya hanya mengangguk pelan.

"Tapi bukannya kau malah senang dengan guru seperti itu Shikamaru? Kau kan bisa santai tidur ketika dia terlambat?" goda teman sebangkunya itu, yang tak lain adalah Lee.

"Ck.. iya memang tapi jika mengajarnya seperti ini mana bisa berpikir dengan benar. Huhh!"

Lee hanya mengendikkan bahunya lalu mereka kembali fokus pada buku yang mereka membaca dengan teliti.

.

.

"Ehmmm mohon perhatiannya sebentar anak-anak… ada pengumumam penting yang ingin aku sampaikan ke kalian…"

Mereka semua tak melanjutkan membaca lantas tengah menunggu sang guru melanjutkan bicaranya.

"Mengenai ujian praktek yang dilaksanakan selama 4 bulan nanti, yaitu Program Praktek Berbahasa. Hal yang akan dinilai adalah kecakapan berbahasa kalian, materi yang telah kalian dapat, dan pengembangannya. Jadi kalian akan menjadi seorang guru sukuan muda pada praktek ini. Tempat praktek terserah kalian, kalian boleh memilih senyaman dan sesuka kalian asal tidak menyesal setelah memilihnya dan kalian tidak boleh berotasi. 1 tempat selama 4 bulan. Jadi tidak ada yang boleh pindah. Untuk lebih jelasnya akan aku bagikan lembaran ini. Sakura tolong bagikan ke teman-temanmu" Sakura lalu mengambil kertas yang dimaksud guru kakashi lalu mulai membagikan keteman-temannya. Mereka lalu membaca dengan seksama,

.

"Apa ada yang belum jelas? Silahkan bertanya"

Sakura mengangkat tangannya,

"Ya Sakura?"

"Ehm, ini.. guru apa tempat prakteknya boleh diluar kota Konoha?"

"Oh ya.. guru lupa menyampaikan itu, kalian boleh memilih tempat praktek diluar kota Konoha, untuk biaya hidupnya itu tentu tidak mudah kan jadi kalian juga harus memikirkannya baik-baik."

"Hai' sensei"

Kriinnngggggg , bel pulang berbunyi

"Oke minna pelajaran selesai , sampai jumpa minggu depan."

Semua berkemas dan mulai berhamburan keluar kelas. Masih tersisa beberapa orang saja didalam kelas, yaitu Sakura, Hinata, Ino, Sasuke dan Shikamaru.

"Hmmm , pelaksanaannya mulai bulan Oktober nanti, berarti bulan depan ini dong hinata?"

Hinata hanya mengangguk pelan.

"Apa kau sudah memikirkan mau praktek dimana Hinata?" Tanya Sakura pada sahabatnya itu.

"Eumm belum sih Sakura-chan, tapi mungkin aku mengambil tempat di kota Konoha saja. Kalau Sakura-chan bagaimana?"

"Hmm, entahlah sepertinya aku keluar kota.. mungkin di Suna, soalnya disana banyak tempat kursusan bahasa dan juga dekat dengan rumah nenekku. Tapi jika orang tuaku menijinkan tentunya."

"Oh.. ya semoga kau diijinkan Sakura-chan."

"Yah.. semoga saja."

.

Mereka berdua asyik berbicara tanpa sadar Sasuke tengah menatap Hinata.

"Hinata Sakura kalian tidak pulang?"

Shikamaru berjalan pelan kearah mereka diikuti Ino yang mengandeng mesra tangan Shikamaru.

"Ahh shikamaru, tidak kami menunggu teman-teman ekstra bahasa,hari ini ada kelas tambahan."

"Ohh, baiklah kalau begitu, kami pulang dulu Sakura Hinata."

"Ya.. jaa"

Ino melambaikan tangan kearah Hinata dan Sakura. Kini tinggal mereka berdua dan Sasuke saja yang masih berada didalam kelas.

Sasuke berdiri dari bangkunya bersiap pulang berjalan santai lalu berhenti tepat disampig Hinata yang tengah duduk di bangkunya. Hinata menoleh kaget, tanpa sadar wajahnya tengah merona merah. Sakura yang menyadarinya hanya terkikik pelan.

"Kalian tidak pulang?"

"Ka.. kami ada kelas tam…"

Belum sempat Hinata menyelesaikan kalimatnya Sarah datang dengan nafas terengah- engah. Sakura Hinata dan Sasuke hanya memandang Sarah dengan tatapan 'ada apa?'.

Sarah lalu mengatur nafasnya

"Hosh… hosh.. nee Hinata Sakura kelas tambahannya hosh.. dibatalkan karena hosh… guru Shizune dan guru Kakashi ada rapat dengan kepala sekolah.. jadi kita bisa pulang sekarang."

Sakura terlihat kecewa.

"Yah... Kenapa harus ada rapat sih..!hmm ya sudahlah kita pulang saja, ehh …Hinata bagaimana denganmu bukankah Neiji tadi sudah duluan dengan Lee dan Ten-Ten? Lalu kau bagaimana?"

"Ah.. iya, entahlah Sakura-chan ayahku juga belum pulang."

Tiba-tiba Sasuke angkat bicara.

"Sudahlah pulang denganku saja, aku antarkan sampai kerumahmu, lagi pula rumahmu searah denganku".

Hinata bingung, tidak dia juga gugup dan tak menyangka bahwa Sasuke akan mengantarnya pulang. Sakura menatapnya malas, greget dengan tingkah kedua sahabatnya ini. Bagaimana tidak mereka ini sama-sama saling suka tapi tidak mau saling mengakui perasaan masing-masing.

"Ta..tapi nanti aku malah merepotkan Sasuke-kun. Lalu Sakura-chan bagaimana?"

"Oh.. aku kan ada Sarah.. lagipula kan rumahmu searah dengan Sasuke-kun."

"Iya Hinata-chan kau bersama Sasuke-kun saja."

Sahut Sarah.

"Bagaimana Hinata? "

Tanya Sasuke menunggu jawaban Hinata.

"Ehmm.. ba.. baiklah. Aku ikut Sasuke-kun saja."

"Baiklah, ayo" tanpa sadar Sasuke lalu menggandeng tangan Hinata , yang digandeng hanya diam mengikutinya saja. Sakura dan Sarah hanya tersenyum lalu mereka juga berjalan pulang.

.

.

Kediaman Haruno

Cklekk.. "Tadaima.." "Okaeri Sakura-chan.. tumben kau pulang cepat nak.. bukankah katamu ada kelas tambahan ya?"

"Oh.. itu.. kelas tambahannya dibatalkan , guru pembimbingnya ada rapat ayah."

Jawab Sakura seraya melepas sepatu dan merapikannya.

"Yah.. sekarang cepat ganti bajumu, dan kau ikut ayah."

Sakura yang tengah menuju ke dapur terhenti ketika mendengar ucapan ayahnya tadi.

"Ikut? Memang kita mau kemana ayah?."

"Ayahmu mau ke rumah nenek di Suna Sakura, cepat kau ganti baju, jangan sampai ayahmu marah karena menunggumu berdandan terlalu lama."

"Ahh, baiklah ibu. Oh ya ibu tidak ikut?"

"Tidak , ibu nanti mau menemani Konohamaru ke teater, hari ini dia akan pentas di sekolah kan?!"

"Ah.. ya sudah." Sakura segera bergegas menuju ke kamar , mandi lalu berdandan, dan kemudian selesai. Dia segera turun ke lantai satu.

"Ayo Ay…."

Kata-kata Sakura terhenti ketika melihat ayahnya sudah tidak di ruang tamu. Lalu terdengar suara ibunya menyahut dari arah dapur.

"Ayahmu sudah digarasi Sakura, cepatlah.."

Sahut ibu Sakura dari arah dapur.

"Aaa, iya bu.. aku berangkat!"

"Hati-hati!"

.

"Hosh…hosh.." Sakura terengah engah ketika sampai digarasi.. terlihat ayahnya sudah didalam mobil. Lalu Sakura segera masuk ke dalam mobil.

"Hahh, Ayah ini.. aku kira Ayah sudah meninggalkanku."

"Untung saja kan.. kau ini suka lama berdandan."

"Ya sudah lah ayah.. ayo kita berangkat."

Brummm

.

-Skip Time-

.

Di kediaman Nenek sakura.

Brumm… cklek… bruk..

Tap..tap..tap

"Jangan lari Sakura.. seperti lama belum kesini saja kau ini nak.."

Tok.. tok…tok..

"Kakek.. nenek.. ini Sakura.."

Cklek.. krriiieett alunan suara pintu terbuka menampakkan seorang wanita tua yang mengembangkan senyuman.

"Wah cucuku.. ayo masuk nak.."

Sakura dan ayahnya mengikutinya yang berjalan masuk kedalam rumah. Mereka duduk bersama di ruang tamu.

"Hahh.. nenek sudah rindu sekali denganmu Sakura.. "

Sakura lalu memeluk neneknya erat saling melepas rindu.

"Ahh.. iya nek. Sakura juga."

Kizazhi menoleh tengah mencari keberadaan seseorang.

"Ibu… Ayah dimana?" Tanya Kizazhi.

"Ohh.. dia ada di balkon belakang.. kesanalah Kizazhi."

"Baik bu.."

Kizazhi melangkah menuju balkon belakang.

"Hmm nenek , apa nenek membuat kue hari ini?"

"Hahah.. tentu Sakura , waktu ayahmu menelfon tadi pagi kalau dia mau kemari nenek langsung membuatkan kue. Nenek berpikir kau pasti akan ikut ayahmu."

"Hmm iya nek.. lalu mana kuenya?"

"Kau ini , ayo ikut nenek kita ke ruang tengah" ujar nenek Sakura mengelus lembut rambut lalu menuju ruang tv.

"Oh ya nenek.. apa bibi Kushina dan paman Minato baik-baik saja?"

Neneknya menoleh kepada Sakura

"Hm, iya.. mereka baik-baik saja.. kalau kau mau kau bisa berkunjung kesana, tapi sebelum jam 7 kau harus sudah kembali nanti kita makan malam bersama."

Sakura mengangguk mengerti lalu dia segera beranjak menuju kerumah paman dan bibinya. Jaraknya tidak jauh dari rumah neneknya hanya sekitar 300 meter.

-Sakura POV On-

Hmmm sudah lama sekali aku tidak kerumah paman dan bibi Kushina, aku mempercepat langkahku agar cepat sampai kesana. Sudah lama aku tidak sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Yah.. dia adalah lelaki yang aku cintai. Dia sepupuku Namikaze Naruto. Dia putra bungsu Keluarga Namikaze. Memang aneh, kenapa bisa aku mencintai kerabat/ saudaraku sendiri. Aku tak mengerti tapi perasaan ini sudah ada sejak aku masih kecil. Namun aku baru menyadarinya waktu natal tahun lalu.

Saat itu

-Flashback on-

25 Desember 2013

Aku berada di rumah nenek dan seperti biasanya kami berkunjung juga kerumah paman dan bibi Namikaze. Naruto-nii dan Deidara-nii tengah berada di kota Kiri mereka berdua tinggal disana, Dei-nii bekerja disebuah perusahaan Kembang Api dan Naruto-nii dia kuliah semester 1 di salah satu Universitas terfavorit Nasional. Sudah lama aku tidak bertemu dengan mereka berdua. Aku sangat merindukan mereka berdua apalagi Naruto-nii, Dia hanya pulang ketika hari raya Natal tapi natal kemarin dia tidak bisa pulang karena ada program yang harus diselesaikan. Aku berharap semoga natal tahun ini dia, ah bukan maksudku mereka berdua bisa hadir. Aku mencoba bertanya, tapi kata paman Mereka berdua tidak akan pulang.

Aku hampir saja putus asa.. sebelum seseorang mengetuk pintu ketika kami semua sedang asyik bercanda. Lalu bibi Kushina membukakan pintu, kami semua memandang kearah pintu hendak melihat siapa yang datang saat moment seperti ini.

Mataku seketika membola ketika aku melihat bahwa Naruto-nii dan Deidara-nii kini tengah berpelukan dengan bibi Kushina.

"Kau tidak mengabari kami kalau kalian akan pulang, sayang?!"

"Ini kejutan.. haha.. " geledak tawa Dei-nii sangat nyaring.

"Ibu tidak mempersilahkan kami masuk?"

Bibi Kushina mengacak rambut Naruto-nii.

"Iya.. Okaeri Naruto Deidara.."

Mereka lalu masuk kedalam, aku masih terpaku memandang Naruto-nii, rasa hangat menjalar diseluruh tubuhku ketika melihatnya tersenyum. Dia lebih dewasa dari terakhir kami bertemu. Dia menjadi lebih baik, karena dulu sempat ia terjerumus dalam lubang hitam yaitu Narkoba ketika dia masih berada di bangku SMA. Ketika aku mendengar kabar tersebut aku sangat terkejut aku hampir menangis 'kenapa? Ada apa denganmu Naruto-nii?'. Itu sudah 2.5 tahun yang lalu, sekarang dia sudah sembuh, dan tentunya dia telah menyelesaikan masa SMAnya hingga lulus.

Aku sangat menyukai Naruto-nii, entah karena apa, tiap kali aku menatapnya ada sesuatu yang membuatku tidak bisa melepas pandanganku darinya. Seaakan ada sebuah ikatan. Awalnya aku mengira ini hanya sebatas rasa kagum tapi ternyata justru perasaan yang lebih.

Tanpa aku sadari Naruto-nii sedari tadi menatapku saat aku mulai melamun. Dan ketika aku tersadar dari lamunanku tanpa sengaja pandangan kami saling bertemu. Namun tiba-tiba jantungku seakan berhenti berdetak, rasanya sakit, aku langsung memejamkan mataku dan tanganku mencengkram kuat kaos yang aku kenakan. 1 detik.. 2 detik.. 3.. 4…..5 detik perlahan rasa sakit itu memudar. Aku membuka mataku kembali, untung saja tidak ada orang yang menyadariku tengah kesakitan. Kemudian aku mengedarkan pandanganku mencari Naruto-nii, nihil sepertinya dia tengah beristirahat di kamarnya.

09.00 pm

Kami semua pamit pulang kepada keluarga uzumaki. Saat itu Naruto-nii juga ada, dia mengucapkan 'Selamat Natal' kepada semua orang yang hadir dirumahnya tadi termasuk kepadaku juga, Dia tersenyum kepadaku-menepuk pelan kepalaku. Ada perasaan hangat bergejolak ditubuhku. Dan aku baru menyadari bahwa aku telah Jatuh Hati kepada Naruto-nii.

"Kau sudah besar Sakura, kelas berapa sekarang?"

"Kelas 9 Naru-nii."

"Sebentar lagi mau lulusan ya?"

"h..h..h.. iya.."

Kami lalu keluar.

"Ya sudah, hari kian malam kami akan kembali Minato." Ayahku tengah berpamit. Kami saling berpelukan satu sama lain. Dan Ketika aku dan Naruto-nii saling berpandangan tiba-tiba jantungku berhenti berdetak (lagi) sangat sakit, tapi aku coba menahannya. Lalu tiba-tiba rasa sakit itu hilang. Kubuka mataku kembali saat itu pula Naruto-nii sudah tidak ada. Hanya tinggal bibi dan paman juga dei-nii. Aku pun mengendikkan bahu, aku hanya berpikir mungin dia kecapekan dan langsung istirahat. Dan akupun bergegas menyusul keluargaku meninggalkan kediaman Namikaze.

'Ada apa denganku? Kenapa tadi tiba-tiba jantungku sakit sekali… Mungkin aku harus ke dokter'.

.

26 Desember 2013

Keesokan harinya aku menuju rumah sakit terdekat, memang ini masih libur hari Natal tapi ada beberapa dokter spesialis yang masih bekerja. Setelah aku mengambil nomor aku menunggu panggilan. Waktu namaku terpanggil aku langsung memasuki ruangan spesialis organ dalam, aku sengaja datang sendirian karena jika nanti aku mengajak orang lain menjadi repot mereka akan khawatir karena aku.

Kriiieeettt…

"Silahkan masuk Nona.."

Aku menganggukkan kepalaku dan memasuki ruangan, dokter langsung menyuruhku berbaring dan mulai memeriksaku, dari yang aku perhatikan dokter ini memang terlihat masih muda mungkin sekitar 30th, putih, berkaca mata rambutnya perak panjang diikat. Kalau tidak salah tadi namanya dokter Kabuto.

Selesai memeriksa dia menyuruhku untuk duduk,

"Hmm, Anda baik-baik saja nona, tidak ada yang perlu anda khawatirkan." Ucapnya dengan tangan yang sibuk membereskan peralatan.

Aku menaikkan sebelah alisku tak percaya.

"Ba.. bagaimana bisa dok? Ke..kemarin saya 2x mengalami sakit di jantung saya. Serasa berhenti berdetak. Pasti ada sesuatu , a.. ada suatu penya..kit." ujarku lirih di akhir kalimatku.

Dokter Kabuto lalu tersenyum

"H..h..h.. coba lihat hasil rongsen anda nona. Aku akan menjelaskannya.."

Dia memberikan lembaran hasil rongsen jantungku. Aku lalu mengamatinya. Aku tidak terlalu mengerti.

"Coba lihat ini adalah hasil rongsen pasien saya yang menderita macam-macam penyait jantung, dan ada erbedaan pada setiap hasil ini, dan ini adalah hasil rongsen jantung yang sehat atau normal. Cocokkan pada hasil rongsen anda."

Dia memperlihatkan kumpulan hasil rongsen kepadaku, aku menelitinya satu persatu dengan punyaku. Memang benar punyaku sama dengan hasil rongsen jantung yang sehat, tapi bagaimana bisa.

" Bagaimana nona? Anda sudah melihatnya bukan?"

Aku hanya menggangguk.

" Tapi.. kenapa aku mengalami hal itu? Bahkan dulu juga sama dok.. saya juga sempat bertanya kepada salah satu teman , katanya saya harus memeriksakannya karena salah satu keluarga teman saya mengalami hal yang sama seperti saya dia menderita jantung lemah."

Dokter itu menepuk kepalaku pelan.

"Nona, tidak semua gejala seperti itu berujung penyakit. Apa saya boleh tau kapan atau ketika anda merasakan hal seperti itu? Jika penyakit datangnya sering dan pada saat-apapun misalnya penderita jantung lemah akan muncul ketika dia terbebani suatu pikiran atau saat melakukan aktifitas yang sangat menguras tenagannya seperti berlari jauh."

Aku berpikir sejenak, pertama kali aku merasakannya dulu saat aku menyerahkan bingkisan kepada Naruto-nii dari nenek. Dan saat aku dirumah Bibi Kushina mengantarkan masakan pesta untuk Naru-nii dan Dei-nii, tepat saat aku tanpa sengaja bertatap muka dengan Naru-nii. Dan saat aku bermain bersama adikku di rumah bibi, tiba-tiba sakit dan saat itu sepertinya Naru-nii menatapku saat aku hendak menoleh kearahnya sakit itu muncul.

Saat itu aku sakit panas, aku dirumah nenek. Lalu dei-nii, paman dan bibi juga Naru-nii menjengukku. Saat aku, dei-nii, dan Naru-nii asyik berbincang, tiba-tiba Jantungku kembali berulah, sakit, dan aku tidak bisa bernafas. Mereka panic, tapi aku menyuruh mereka diam tidak lama aku kembali normal, sakit itu hilang, dan Naru-nii langsung keluar dari kamrku.

Dan yang terakhir waktu Natal kemarin, saat keluargaku hendak pamit. Pada saat Naruto-nii mengucapkan selamat Natal tiba-tiba jantungku sakit.

Jika aku pikir-pikir kenapa jantungku sakit saat aku bersama Naruto-nii? Tapi mungkin bukan itu.

Tiba-tiba dokter Kabuto bertanya

"Bagaimana nona?"

"A..Aku mengalaminya saat aku bersama kakak sepupuku dok.. tapi bukan hanya dia tapi juga ada sepupuku dan keluarga yang lain, memang.. sering semua terjadi ketika saya bersama dia."

Dokter Kabuto diam, melepas kacamatanya lalu duduk dikursinya.

"Huff.. " dia menghela nafas panjang.

"Saat kau bersama sepupumu?! Apa kau merasakannya saat kau menatap matanya?"
deg.. aku lalu berpikir. Memang benar rasa sakit itu muncul ketika aku dan Naruto-nii saling bertatap mata. Tapi apa artinya semua ini?.

"Iya dok.. tapi kenapa?!"

"Kau tidak kenapa kenapa nona, itu hal biasa. Nanti kau akan mengetahui kenapa ini terjadi, mungkin saja sepupumu itu juga merasakannya. Jangan khawatir."

Apa maksudnya

"…"

"h..hh..hh sudahlah anda sehat tidak ada yang perlu kamu cemaskan, jika hal itu muncul kembali jangan takut. Dan biasa saja. Jika saya boleh tahu nona? Apakah anda menyukai sepupu anda itu?"

Deg!

"A..aku .." aku hanya menundukkan kepalaku.

Tanpa sepengetahuanku dokter kabuto tersenyum.

"Baiklah.. ada hal yang tidak kau mengerti nona. Tentunya bukan hal sepele masalah jatuh cinta."

Kenapa dia berkata demikian. Aku memang meyukai Naru-nii… bukan, mungkin aku jatuh cinta. 'Apa setiap orang jatuh cinta mengalami hal seperti itu?'

Aku hanya membatin dalam hatiku.

"Tidak.. bukan karena kau jatuh cinta dengannya, suatu hari kau akan mengerti dan tahu. Baiklah tunggu sebentar.."

Dokter Kabuto meninggalkanku penuh pertanyaan, lalu dia kembali dengan membawa sebuah Kristal memberikannya kepadaku

"Apa ini dok?"

"Ini akan membantumu, gunakan saat-saat penting saja. Kau bisa pulang."

Aku masih tak paham oleh semua yang dimaksud dokter Kabuto. Aku menggangguk lalu berdiri pamit meniggalkan ruangan itu.

-Flashback Off-

.

Aku terus melamun sambil berjalan menuju rumah paman Minato, tak terasa aku telah didepan rumahnya. Mengetuk pintunya pelan.

.tok

"Paman, bibi.. Ini aku Sakura."

Klik..

Suara decitan pintu tercipta menampakkan seorang wanita paruh baya berambut merah yang cantik-tersnyum kearahku.

"Sakura.. Ayo masuk.."

"Emm.."

Kuanggukkan kepalaku berjalan masuk kedalam.

Terlihat Naruto-nii tengah bersantai memainkan lagu dari iPhonenya-tiduran di sofa ruang tengah. Paman yang tengah membaca Koran. Aku dan bibi Kushina melangkah lalu duduk di sofa dimana paman dan Naru-nii berada.

Paman menghentikan aktifitas membacanya

"Wahh Sakura-chan.. Bagaimana kabarmu sayang? Lama sekali kau tidak main kemari."

"Ahh itu.. Di sekolah aku jarang libur.. jadi jarang kemari."

Bibi Kushina berdiri hendak menuju ke dapur.

"Sebentar ya sayang ."

"Iya."

Naruto-nii masih asyik menikmati music dengan mata terpejam, dia belum menyadari kehadiran ku. Paman Minato menepuknya pelan. Dia membuka matanya

"Naruto.. Sakura kemari.. "

Dia tersenyum kepadaku-menepuk pelan kepalaku. Ada perasaan hangat bergejolak ditubuhku.

"Kau sudah tambah besar Saku-chan.. Kelas berapa?"

"Kelas 11 Naru-nii."

Kami bebincang-bincang tertawa bersama. Sampai akhirnya aku berpamitan kembali ke rumah nenek.

-Sakura POV Off-

.

.

.

.

07.00 p.m

Mereka tengah makan malam bersama. Nenek sakura menyiapkan makan malam mereka.

"Hmm, ayah aku mau bicara sesuatu.."

"Ada apa sakura?"

"Begini .. ada ujian praktek dari sekolah dan pelaksanaannya 4 bulan."

"Lalu?"

"Kata guru kakashi boleh praktek di luar konoha. Dan aku berpikir aku mau praktek disuna dan tinggal dirumah nenek. Lagipula disini ada banyak sekali kursusan bahasa. Tapi jika ayah mengijinkan."

"Hmmm… "

Srekk.. setelah selesai menyiapkan makanan nenek mengambil tempat duduk. Lalu mengikuti perbincangan.

"bagaimana Kizazhi? Perkataan Sakura ada baiknya juga, daripada dia kost, akan lebih baik disini saja."

"Hhhmmm .. baiklah. Tapi kau harus berhati-hati nak, apa kau sudah menentukan tempatnya?"

"Belum sih.. besok aku akan melihat-lihat dulu disini.."

"Ya.. terserah asal kau krasan dan cari yang bisa menambah pengetahuanmu."

"Baik, ayah."

"Oh ya cucuku, kapan kau mulai prakteknya?" sahut kakek Sakura-mengelus kepala Sakura.

"Kira-kira.. tgl 4 Oktober nanti kek." Jawab Sakura dengan makanan yang masih penuh dimulutnya.

"Ooh.. 3 minggu lagi ya?!.. kalau begitu nanti nenek akan bersihkan dulu kamarmu."

"Ya!"

Mereka pun melanjutkan acara makan malam dengan tertawa bersama-sama menikmati hangatnya kebersamaan.

10.00 pm . Sakura dan ayahnya pamit untuk meninggalkan rumah neneknya menuju ke konoha.

"Nenek aku pulang dulu" ucap Sakura seraya memeluk nenek dan kakeknya.

Kizazhi yang melihatnya hanya tersenyum, lalu ikut memeluk ayah dan ibunya itu.

"Hati-hati dijalan." Pesan sang nenek sambil melambaikan tangan kepada Sakura dan Ayahnya yang sudah mengendarai mobil.

Brummm… mobil mereka melaju. Lalu kakek dan nenek pun memasuki rumahnya kembali.

.

.

KIHS 08.00 am

"hahhh,, hari ini sangat membosankan" terdengar seseorang menggerutu kesal tepat dibelakang Sakura, tak lain adalah lee. Anak hyperaktif yang selalu tidak bisa diam. Namun kali ini ada yang aneh padanya. Sakura yang heran lalu mencoba bertanya "kau ini kenapa Lee? Tidak biasanya kau seperti ini, biasanya kau kan semangat sekali.."

"Bagaimana aku bisa semangat Sakura-chan, padahal hari ini jadwal kelas kita olahraga, tapi Guy-sensei sedang sakit dia jadi tidak bisa mengajar, guru yang lain tengah melatih sepak bola untuk pertandingan sekolah.. huuhhh aku jadi tidak bersemangat sama sekali"

Sakura hanya bisa menatap lelah lee yang mengoceh panjang lebar dan mengeluh karena pelajaran kesukaannya hari ini libur. Sakura lalu memutar bola matanya malas.

"Huuhh, ya jangan menyerah lee, kau ini kan pemuda yang pantang menyerah, dan kalau kau begini kelas sangat terasa sepi tau.. jadi kau harus tetap semangat. Kan tidak hanya palajaran olahraga sajakan yang membuatmu jadi semangat. Lakukan saja hal lain yang menurutmu bisa membuatmu kembali ceria."

Lee yang mendengarnya, hanya mengerjapkan matanya berkali-kali tak percaya. Perempuan yang selama ini sangat disayanginya berkata sedemikian agar dia bersemangat kembali. Dia lalu bangkit dari kursingan berdiri tegap tangannya terangkat layaknya sepertti orang tengah memberi tanda hormat. Dia menghadap ke sakura

"Yosh! Baiklah Sakura-chan aku akan melakukan hal lain yang akan membuatku semangat kembali seperti yang kau katakan." Crrriiinngg Lee mengedipkan matanya seraya tersenyum hingga menyilaukan pandangan.

Sakura tersenyum mengangkat jempolnya "Yupp.. kau harus semangat Lee!"

Seisi kelas hanya memandang aneh mereka berdua, tidak biasanya mereka seperti ini. Hinata hanya terkikik pelan melihat tingkah kedua sahabatnya. Sakura yang menyadari bahwa seisi kelas tengah menatapnya hanya tersenyum malu lalu duduk kembali di bangkunya.

Hinata yang dari tadi masih terkekeh lalu terhenti

" Tumben Sakura-chan sesemangat Lee.. hihi" Yang dimaksud tersenyum malu malu.

"Ahh Hinata , lagian tadi Lee hanya mengerutu saja, kan tidak biasanya dia lesu seperti tadi. Jadi aku pikir dia perlu penyemangat kan? Haha.."

"Iya Sakura-chan, kau benar… "

"Ehhmm… oh iya apakah Sakura-chan jadi praktek di Suna?"

"Eh.. itu. Jadi Hinata. Untung ayahku mengijinkan. Kemarin aku sudah bicara waktu kami mengunjungi rumah nenek. Kakek dan nenekku juga senang sekali mendengarnya. Katanya mereka mau menyiapkan dulu kamarku yang lama disana."

"Wahh, semoga kamu baik-baik disana Sakura-chan,"

"Ya semoga saja Hinata, oh ya kemarin bagaimana?" Sakura tersenyum penuh arti lalu menyenggol lengan Hinata pelan, yang dimaksud hanya tersenyum malu dan berusaha menyembunyikan pipinya yang memerah.

"Kemarin kenapa Sakura-chan?" Hinata bertanya seolah tak tau apa-apa.

"Ah kau ini, jangan berpura-pura tidak tau.. kemarin kau kan pulang bersama Sasuke-kun. Lalu bagaimana perkembangannya.

"Ah.. i..itu a..aku.." Hinata memainkan jarinya, pertanda bahwa dia sangat gugup.

Sakura menyerigai "Wahh.. apa kau jadian ya dengan Sasuke-kun? Ayo ngaku saja"

Hinata semakin merona merah bak kepiting rebus "Ti.. tidak Sakura-chan a..aku ti..tidak.."

"Sudahlah.. aku tau kok.. kalian ini kan sudah lama saling menyukai, jadi kemungkinan kecil kalau kalian tidak pacaran, apalagi kemarin kan kalian hanya berdua saja. Pasti Sasuke-kun menyatakan cintanya kan?"

"Ehh.. eumm .. i..tuu " Hinata tahu betul sakura memang pintar menebak apa saja yang tengah Hinata lakukan dan dia sedang pikirkan. Hinata hanya pasrah lalu memulai bercerita.

"Yang Sa.. Sakura-chan katakan tadi memang benar.."

Sakura hanya tersenyum penuh tidak kedua sahabatnya ini sudah membuatnya dan Ino naik pitam kala Sasuke dan Hinata tiap kali bertatap mata, menyapa atau saling tolong menolong.. mereka berdua padahal sudah saling tahu kalau saling menyukai, tapi tidak mau mengakuinya. Dan akhirnya kali ini Sasuke dengan berani melawan gengsinya menembak Hinata.

"Lalu?" Sakura mengintrogasi.

Hinata mengumpulkan semua keberaniannya agar tidak gugup dan malu saat bercerita.

"Kemarin sebelum dia mengantarku pulang dia memintaku untuk mengantarnya ke taman. Aku pikir dia akan menemui seseorang atau kenapa. Lalu dia menyuruhku duduk dibangku taman, dia meninggalkanku sendirian, aku pikir sasuke-kun pergi pulang. Saat aku mau berdiri tiba-tiba dia menahan tanganku."

-Flash back-

Sasuke yang tengah menyetir tiba tiba menghentikan mobilnya di pinggir jalan

"A.. ada apa Sasuke-kun?"

"Hn, bisa aku minta bantuanmu Hinata?"

Hinata hanya mengangguk pelan

"Temani aku sebentar ditaman hal penting."

Hinata tampak berpikir sejenak, disusul anggukan darinya

"I.. iya"

Sasuke kembali melajukan mobilnya menuju ke taman kota. Sesampainya disana dia menggandeng Hinata menuju ke bangku taman bercat putih.

"Kau tunggu sebentar disini."

"Ba.. baik Sasuke-sun." Hinata duduk di bangku itu. Dia tidak mengerti kenapa Sasuke mengajaknya kemari dan meninggalkannya sendirin disini. 15 menit berlalu Hinata berpikir bahwa Sasuke pasti sengaja meninggalkannya disini dan pulang. Sebelumnya dia juga berpikir Sasuke pasti tidak ikhlas untuk mengantarnya pulang. Tapi pikiran itu ditampiknya dia tidak mau berburuk sangka kepada orang lain. 20 menit. Hinata mulai bangkit dari kursi sebelum sasuke menahan tangannya.

"Tunggu Hinata."

Hinata membalikkan tubuhnya "Sasu..ke-kun"

"Hn, " Sasuke lalu bejongkok menumpukan salah satu lulutnya. Lalu memandang Hinata dengan semua keberaniannya. Menghela nafas pelan dan memulai bicara.

"Hinata….. sebenarnya aku sudah lama ingin mengatakan ini.. tapi aku belum punya keberanian. Aku selalu memperhatikanmu sejak pertama kau memasuki kelas… Aku sendiri tak mengerti kenapa.., tiap kali kau bertingkah, kau malu-malu, aku selalu memandangmu. Sudah aku coba berkali-kali untuk tidak melakukannya tapi aku tidak bisa.. Ketika akhirnya aku sadar bahwa aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. Waktu itu aku sempat berpikir kalau kau adalah pacar Neiji. Tapi ternyata dia kakakmu. Ingin rasanya aku mengungkapkan hal ini tapi aku terlalu gengsi." Nada suara yang terdengar sangat tulus tanpa ada suatu kebohongan sama sekali.

Sasuke lalu kembali membolakan matanya tak percaya. Kemudian Sasuke kembali mengenggam tangannya.

"Jadi, aku ingin tau apakah kau mempunyai perasaan yang sama kepadaku Hinata? Apa kau mau menjadi kekasihku?" Tanya Sasuke penuh harap.

Hinata terharu dia hampir menjatuhkan air matanya sebelum Sasuke mencium bibirnya lembut. Lalu melepasnya kembali.

"Hinata?" Sasuke kembali bertanya tidak lebih tepatnya memastikan. Hinata lalu mengangguk pelan dengan penuh keyakinan. "Aku mau Sasuke-kun. Aku juga mencintai Sasuke-kun, sangat mencintai Sasuke-kun"

Sasuke yang mendengar jawaban hinata tersenyum bahagia, dia tidak menyangka bahwa Hinata akan menerimanya, Sasuke langsung menarik hinata kepelukannya. Hinata lalu membalas pelukan tersebut.

Mereka saling memandang hingga Sasuke mulai merendahkan kepalanya menarik dagu Hinata menipiskan jarak hingga bibir mereka bertemu, Sasuke menciumnya. Hinata hanya memejamkan matanya membiarkan rasa nyaman dan perasaan cinta ini mengalir. Sasuke semakin memperdalam ciumannya saat Hinata tanpa sadar membalas ciuman itu. Perasaan cinta yang saling mengalir memberikan kenyamanan.

-Flashback off-

"Oh.. romantis sekali Hinata.. aku tak menyangka Sasuke-kun akan mengatakan perasaannya. Sungguh! Jadi kau dan Sasuke resmi menjadi sepasang kekasih?"

"Iya Sakura-chan."

Mereka asyik berbincang-bincang hingga akhirnya sang guru datang..

"Ehmmm perhatian anak-anak." Sang guru berambut kuncir kuda yaitu..

"Iruka-sensei.. "

Yah namanya iruka. Dia adalah seorang guru BK di KIHS. Pelajaran keempat sebelum istirahat memang diisi oleh BK untuk kelas XI-A hari ada pengarahan khusus untuk ujian praktek.

"Begini aku akan menyampaikan hal penting untuk ujian praktek yang akan kalian laksanakan bulan depan tepatnya bulan Oktober tgl 4." Iruka-sensei tengah mengambil beberapa dokumen yang dibawanya.

Dia menunjukkannya kepada semua murid. "ini adalah lembaran ijin dari sekolah untuk melaksanakan UP , dan ini Surat yang akan kalian isi alamat dan nama dari lembaga yang kalian tuju. 2 lembar ini harus kalian isi identitas kalian dan nama lembaga yang kalian tempati nantinya. Pengiriman surat pengantar ini dikirim serentak pada tanggal 20 September nanti. Jadi apa kalian paham?"

"Hai' Sensei."

"Baiklah. Silahkan kalian bagikan kertas ini."

Selesai menyampaikan pengumuman tersebut beliau langsung meninggalkan kelas. Kemudian Sasuke-sangg ketua kelas langsung membagikan lembaran itu ke pada murid-murid XI-A.

.

.

Kediaman Haruno

"Na…na…na…" Sakura berjalan keruang makan sambil bersenandung ria. Mebuki yang melihat tingkah putrinya hanya terkekeh geli sambil menyiapkan makan malam. Disusul Kizazhi yang tadi membaca Koran diruang tamu kini tengah menyusul duduk menunggu sang istri menyiapkan makan malam.

"Ada apa Saku-chan.. kau nampak senang sekali hime?!"

Mebuki mengangguk membenarkan perkataan Kizazhi. "Iya.. kau kenapa Sakura?"

Sakura tersenyum "Ehmm.. Tidak ada apa-apa hanya urusan ujian praktek bu.."

"Oh.. lalu bagaimana sudah dapat tempatnya?" Tanya Mebuki

Sakura yang tengah meminum air menggangguk.

"Sudah bu.. mereka mau menerima sakura praktek ditempat mereka."

Kizazhi lalu tersenyum mendengarnya.

"Baguslah lantas kapan kamu akan mengunjungi tempatnya?"

"Rencananya akhir pekan nanti Ayah."

Mereka melanjutkan makan malam sambil membahas tentang ujian Praktek terus membayangkan bagaimana nanti praktek yang akan dijalaninya, Dia sangat semangat Karena dia tinggah di rumah neneknya, dan itu beratie dia bisa bertemu orang yang dicintainya, siapa lagi kalau bukan Namikaze Naruto. Sakura terus saja tersenyum-senyum sendiri sambil mengunyah makannya. Mebuki tidak ambil pusing dia membereskan piring-piring kotor kedalam tempat pencuci piring. Kizazhi hanya menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah sang putri kesayangan yang sedari tadi tersenyum senyum sampai-sampai makan malamnya belum selesai. Kizazhi beranjak menuju ke ruang tv meninggalkan sakura yang masih asyik makan. Mebuki melangkah pelan kearah sakura

"Kalau sudah selesai cepat dicuci ya sayang."

Disusul anggukan dari Sakura, Kemudian dia menyusul Kizazhi yang tengah asyik menonton tv-dengan posisi tidur di sofa. Mebuki duduk di karpet bersila, menatap sang suami berujar pelan.

"Lihat itu anakmu, tidak biasanya dia seperti itu.."

Meggelenggkan kepalanya.

"Hmm Mungkin dia sedang jatuh cinta, Mebuki."

Respon Kizazhi santai-masih menatap layar televisi. Mebuki menggelengkan kepalanya dia memilih menyandarkan kepalanya di dada kizhazi. Mengikuti kegiatan suaminya.

Sakura yang telah selesai makan, membereskan sisa-sisa yang ada di meja-mencuci dan merapikan tempat makan. Melangkah menuju ke lantai atas.

Cklekk… Kriiiet..

Sakura melangkah masuk perlahan ke kamanya, masih terlihat senyum-senyum dengan pipi memerah, yaa dia memikirkan tentang Namikaze Naruto. Dia tidak sabar untuk segera melaksanakan Ujian Praktek nantinya. Bagaimana tidak? Dia akan bertemu dengan orang yang sangat dicintainya.

"Kami-sama.. Aku sangat mencintainya."

Bukkh..

Sakura menjatuhkan diri di kasurnya memjamkan mata erat meraih selimut. Dia tak sabar untuk hal itu.

TBC.

Wahh capek nulisnya, maaf minna-san ini fic pertama saya yang kelar, yang lain masih macet. Idenya ada sih Cuma pengembangannya yang susah. Mohon rewiewnya kakak-kakak! Kritik dan saran yag membangun sangat saya harapkan. #puppy eyes

Arrigatou