Chapter 2
Disclaimer by : Masashi Kishimoto
Pairing : NaruHina
.
Gomen jika kelanjutannya lama... biasa tugas dunia nyata harus segera diselesaikan hehe gomen ne minna san... baiklah selamat membaca :D ^^
.
.
.
Pagi kembali menjelang suasana begitu cerah saat ini. Seorang pria masih menggeliat indah? diatas ranjangnya merasa terusik oleh sinar matahari yang masuk kedalam kamarnya.
"Eeuunngghhh" lenguhan manja terdengar pelan disana. Menarik kembali selimut menutupi seluruh tubungnya.
Tttrriinnggg...
Ttrrriiinnggg...
Ttrriiinngggg...
Suara ponsel diatas nakas tak sedikitpun membuat ia bergeming dari tidurnya. "Nngghhhh Kaa-san sebentar lagi" gumamnya seraya meraba-raba untuk mencari ponselnya yang terus berbunyi.
Klikk! Panggilan dijawab sampai sedetik kemudian...
'BAAKKAAAAA KAU DIMANA HAHHH? KEMBALIKAN MOBILLL GUEEE' teriak seorang wanita disebrang sana, membuat Naruto terlonjak kaget dan bangun dari tidurnya. Segera ia menjauhkan ponsel untuk melihat siapa gerangan yang menelponnya pagi sekali.
Dannn taraaaa... tertera nama Hyuga Hinata dilayar, netra sapphire itu terbelalak sempurna "Go...gomen Hinata a...aku lupa baiklah 10 menit lagi aku akan kesana"
Klikk! Telpon dimatikan secara sepihak olehnya. Tahukah ia bahwa wanita itu sekarang tengah berkacak pinggang? bisa-bisanya bawahannya itu memutuskan panggilannya. "Dasarr kuning baka" rutuknya melipatkan tangan didepan dada menunggu seseorang yang akan menjemputnya menggunakan mobilnya sendiri. Kenapa demikian? Karna ya mobil miliknya dibawa oleh sekertarisnya atas suruhan sang Tou-san.
.
Sedangkan ditempat lain pria yang akan menjadi sasaran amukannya tengah tergesa-gesa untuk bersiap menjemput tuan putrinya. Sampai iapun tidak melihat disana ada air bekas ia mandi sampaii bbrruukkkk! Narutopun jatuh dengan tidak elitnya.
"I...itaaiii kenapa aku bisa sesial ini?" Gumamnya seraya berdiri dari jatuhnya.
Manik blue sapphire itu menatap jam dinding yang selalu menempel diruang tvnya. Matanya terbelalak lebar saat jarum jam itu sudah menunjukan angka 9 dan itu artinya waktu 1 jam sudah terbuang bagi wanita yang kini menunggu kedatangannya.
"GAWAATTTTTT bisa-bisa aku kena amukannya lagi" teriak Naruto histeris dan langsung menyabet tas dan kunci mobilnya.
Bbrrmmmmm! Pedal gas ditekan kuat-kuat mobil itu melaju dengan kencang dijalanan yang untungnya masih dalam keadaan sunyi sepi.
.
Hentakan sepatu high heals terdengar nyaring disana. Sudah beberapa kali ia menggerutu menunggu seseorang yang tak kunjung datang. Sudah kesekian kalinya wanita itu melirik jam yang melingkar manis ditangan kirinya.
"Kuning baka awass saja kau ya. Eeuugghhhh sudahlah daripada lama mending aku naik taxi saja." Gumamnya, namun langkahnya harus terhenti saat ponsel pintarnya berbunyi nyaring. Tanpa melihat siapa yang memanggilnya iapun langsung menjawab panggilan tersebut.
"Ya moshi-moshi"
'Hyuga-sama apa anda lupa bahwa hari inikan ada rapat. Clien sudah menunggu dari tadi'
Mata lavender itu membulat sempurna mendengar pekerjanya memberitahukan hal penting itu "iyaa saya masih dijalan. Tunggu eeuummm 20 menit lagi. Ok, tolong tahan dulu sebentar cliennya"
Klikk! Bbrrmmm! Panggilan terputus bersamaan dengan mobil berhenti didepannya.
Kaca mobil itu terbuka menampilkan sekertrisnya yang membuat ia kesal hari ini "gomen Hinata aku kesiangan" ujarnya. Tanpa menjawab ucapan Naruto, Hinata berjalan dan masuk duduk disampingnya. "Lajukan mobil ini ke kantor dalam waktu 20 menit jika sampai lebih akan aku potong gajimu"
Aura hitam menguar dalam tubuh atasannya itu membuat Naruto merinding melihat wajah suram dari Hinata. "Gleekk" menelan ludahpun terasa sulit untuk dilakukan. Narutopun hanya mengangguk ragu mendengar permintaan dari atasannya itu, bagaimana tidak bisa sampai kekantor hanya dalam waktu 20 menit? Sedangkan jarak dari kediaman Hyuga menuju sana harus menempuh jarak 5 km.
Namun bukan Uzumaki Naruto namanya jika tidak bisa mengabulkan permintaan gila dari atasan sekaligus temannya ini. Dengan percaya dirinya iapun kembali menginjak pedal gas dan berlalu dari sana dengan cepat sampai Hinata terdorong kedepan untung saja ia sudah mengenakan seat beltnya kalau tidak wajah cantik itu bisa terbentur kekaca mobil.
.
Namun harapan hanyalah tinggal harapan waktu 20 menit nyatanya sudau terlewati menjadi 45 menit. Wajah muram serta penuh dengan keemosian menguar kembali disana. Naruto sama sekali tidak bisa berkutik apa-apa. Tanpa mengucapkan satu patah katapun Hinata langsung saja turun dari mobilnya meninggalkan ketakutan sekertarisnya yang masih berada didalam mobil.
Tukk .. tuk... tukk... suara sepatunya terdengar nyaring "haaahhh~" Narutopun menghembuskan nafasnya dalam dan segera keluar dari mobil menyusul Hinata.
Tingg! Lift yang ditunggu oleh Hinatapun terbuka. Iapun masuk kedalam dan tak berapa lama Naruto berlari kearahnya.
Didalam lift menuju lantai 3 keduanya tidak bersuara. Naruto tahu jika Hinata sudah dalam keadaan seperti ini sulit untuk diajak berkomunikasi.
Akhirnya Naruto bisa bernafas lega, lift yang membawa mereka keatas sudah tiba. Hinata dan Narutopun berjalan menuju ruang rapat yang seharusnya beberapa menit yang lalu sudah berjalan.
Brakk! Pintu dibuka oleh Hinata. Namun tatapannya tidak melihat cliennya yang akan rapat untuk melakukan kerjasama antar perusahaan. "Hyuga-sama" ujar pekerja Hinata yang tadi menelponnya.
"Mana cliennya? Apakah dia tengah menunggu diruangan?" Tanya Hinata yang masih menyunggingkan senyum manisnya.
"A...ano Hyuga-sama cliennya sudah pergi 20 menit yang lalu." Ujar Akiko nama pekerja itu yang bertugas menerima tamu.
"APPAAAAA? YA AMPUNNN" Hinata berteriak histeris membuat ketiga pekerjanya yanga berada disana termasuk Naruto terkaget-kaget mendengar teriakannya.
Hinata terlihat frustasi mendengar bahwa cliennya telah pergi, seraya memegang dahi yang tertutup poni rata itupun Hinata nampak kesal dibuatnya "KENAPAA KAU TIDAK MENCEGAHNYA? APAKAH KAU TIDAK TAHU CLIEN ITU SANGAT PENTING BUAT PERUSAHAAN INI. KKAUU NARUTO IKUT KERUANGAN SAYA" gerutunya lagi membuat semuanya terdiam tak berkutik.
Sepeninggalan Hinata dan Naruto terdengar bisik-bisik diruangan itu "haahhh~ memangnya salah siapa clien itu pergi" gerutu Akiko seraya melipat kedua tangannya didepan dada.
"Yahh kau benar itukan bukan salah kita" jawab Shizuka temannya.
"Sudahlah kita kembali bekerja saja" lanjut Akiko lagi dan berlalu dari sana disusul oleh Shizuka.
.
Sedangkan ditempat lain...
Naruto kini tengah menghadapi masa tersulitnya. Ia tahu bahwa kejadian hari adalah karna kesalahannya. Maka dari itu iapun sudah menyiapkan mental untuk mendengarkan semua ocehan dari wanita yang kini tengah menatapnya begitu intens.
"Kau tahu apa kesalahanmu?" Tanya Hinata dengan nada suara yang begitu dingin.
"Gleekk" iapun kembali menelan ludah "aku tahu semua ini karna kesalahanku. Aku minta maaf Hinata a_"
"Jangan panggil saya dengan sebutan itu. Ini adalah kantor"
"A...aahhh ha'i. Gomennasai Hyuga-sama saya tidak sengaja. Baiklah saya akan mempertanggungjawabkannya"
Namun sebelum Hinata menjawab ucapannya suara telpon yang selalu bertengger manis dimejanya berbunyi, dengan cepat wanita itupun mengangkatnya 'Hyuga Hinata gomen sepertinya kerjasama kita tidak bisa berlanjut' ujar sipenelpon yang ternyata adalah cliennya.
"A...ahhh apakah anda bisa mempertimbangkannya lagi? Bukankah kerjasama itu sudah disetujui?" Jawab Hinata harap-harap cemas.
'Saya bisa mempertimbangkannya lagi asalkan kau bersedia menerima tawaran saya'
"Baiklah apa itu?"
'Kau harus membuat sebuah liontin bertaburkan kristal hanya dalam 1 hari. Jika kau tidak bisa menyelesaikannya maka saham yang sudah saya tanam sebesar 5 M itu akan saya tarik kembali'
"Baiklah saya terima tawaran itu"
'Bagus besok saya akan ambil hasilnya'
Klikk! Panggilan terputus.
Yah benar, perusahaan Hyuga ini memang mengelola emas menjadi berbagai macam perhiasan. Dan tentu Hinatalah yang kini menggantikan posisi sang ayah menjadi desainer perhiasan. Memang sejak kecil Hinata sudah dilatih menjadi ahli menggambar untuk menciptakan sebuah karya yang akan dituangkan dalam perhiasan.
Hyuga Corp sudah terkenal sejak dulu dengan keindahan desain perhiasannya. Namun sejak Hiashi semakin tua dan ide-ide desainnya masih itu-itu saja perusahaannya pun mengalami penurunan dan pada akhirnya sejak Hinata lulus 2 tahun dari sekolah menengah atasnya wanita itupun langsung diangkat menjadi pemimpin Hyuga Corp ini. Sampai sekarang usianya sudah mencapai 23 tahun iapun selalu menuangkan ide-ide menariknya.
"Ada apa Hyuga-sama?" Tanya Naruto sekertarisnya yang kini sudah berusia 24 tahun itu terlihat kebingungan melihat perubahan dari raut wajah Hinata.
"Dia menginginkan kerja sama ini berlanjut dengan 1 syarat"
"Apa itu?"
"Liontin dengan butiran kristal asli" Bbrakk! Terdengar meja digebrak oleh Hinata bersamaan dengan melangkahnya kaki itu pergi untuk segera menuju ruangan khusus pembuatan perhiasan.
Narutopun membelalakan matanya tak percaya dengan apa yang ia dengar. Liontin dengan butiran kristal asli? Jangan bercanda meskipun ini adalah perusahaan perhiasan yang setiap harinya selalu menerima bongkahan emas namun masih jarang orang yang menjual kristal ke perusahaan itu.
"Hyuga-sama tunggu" lanjut Naruto berlari menyusul Hinata.
.
.
.
Sesampainya Hinata diruangan khusus itu iapun menyuruh semua pekerjanya berhenti mengerjakan semua pekerjaan mereka. Khusus hari ini ruangan itu akan diisi oleh dirinya sendiri. Tentu saja Hinata ingin fokus dalam pembuatan liontin yang menjadi syarat kerja sama antar perusahaan itu.
Sepeninggalan pekerjanya yang berjumlah 20 orang, ruangan itu terlihat sangat luas dan begitu sepi. Mesin-mesin yang masih terdengar gaduh beberapa menit yang lalu kini berhenti seketika. Hinatapun mulai melangkah menuju satu bangku yang menjadi tempatnya untuk bekerja menciptakan desain-desain cantik disana.
Tangan putih itu terulur membawa selembar kertas dan pensil. Garis demi garis mulai ia tuangkan disana "bagaimanapun juga aku harus menyelesaikan semua ini" gumamnya.
Saking serius ia mengerjakannya Hinata sampai tidak mengetahui bahwa kini sekertarisnya sudah duduk disampingnya melihat ia bekerja. Entah apa yang ia rasakan didalam hatinya, namun yang jelas tatapan itu menyendu melihat Hinata yang tengah bekerja.
"Hinata apakah kamu sudah sarapan?" Kembali iapun bertanya.
Namun hanya gelengan yang ia dapatkan. Ya memang itulah kebiasaan atasannya selalu menyepelekan soal makan.
"Kalau begitu aku bawakan dulu ya"
"Hhmmm"
Narutopun berlalu dari sana menuju kantin yang berada dilantai 2 perusahaan.
.
"Naruto" ujar seseorang menghampirinya.
"Ahhh Sakura-chan. Ada apa?"
Ya nama orang yang memanggilnya tadi adalah Sakura. Sahabat baik dimasa sekolahnya. Tentu Hinata menerima lamaran kerja gadis musim semi itu karna ia tahu bahwa kemampuan Sakura dalam merancang perhiasan lumayan handal. Tak hanya Sakura bahkan gadis yang rambutnya selalu dipony tailpun bekerjasama dalam perusahaan ini. Hal itu dikarenakan Hinata dulu berteman akrab dengan mereka berdua. Posisi Sakura dalam perusahaan ini menduduki sebagai kepala bagian pemasaran. Sedangkan Ino adalah model yang sudah dikontrak untuk mempromosikan segala perhiasan yang sudah dibuat oleh tangan ahli Hinata.
"Aku dengar dia mengamuk lagi ya?" Ujarnya seraya berjalan berdampingan bersama.
"Ya seperti itulah dan semua itu karna ulahku"
"Maksudmu?" Tanyanya bingung.
"Kemarin mobilnya dibawa olehku, itu juga aku disuruh sama Tou-sannya. Dan karna aku bangun kesiangan makanya rapat penting yang seharusnya terjadi hari ini harus batal" jawab Naruto merutuki semua kebodohannya.
"Hhmmm... pantas saja. Apakah kamu tidak merasakan ada sesuatu disini?" Lanjut Sakura seraya memegang dadanya membuat Naruto mengerenyitkan dahi bingung.
"Maksudmu apa?"
"Hahhh~ kau kan sudah lama bekerja bersama-sama dengan Hinata. Apakah kau tidak merasakan sesuatu terhadapnya? Suka misalnya?"
"APAA.? Su...suka? Entahlah aku bingung" jawabnya seraya mengampil nampan untuk diisi dengan berbagai makanan.
Mereka berdua kini memang sudah sampai di kantin "aku yakin kau pasti mempunyai perasaan itu. Oke ganbatte aku kesana dulu ya" pukk! Tepukan dibahu kanannya dilayangkan oleh wanita itu dan berlalu dari sana membuat beberapa pertanyaan sudah memenuhi pikirannya.
Tanpa memperdulikan hal itu lagi Narutopun langsung mengambil beberapa makanan untuk sarapan pagi bersama Hinata.
.
Tangan putih itu kini tengah menari diatas kertas, menggambar desain demi desain yang dari tadi sudah ia ciptakan. Namun dari 10 desain yang sudah Hinata gambar tak ada 1pun yang menurutnya bagus untuk menjadi jaminan.
Brrakk! "Hhaahhhh" iapun menaruh pensil itu seraya memijit pangkal hidungnya untuk mengusir rasa penat yang melanda.
Tak berapa lama Narutopun datang dengan nampannya. Bisa dilihat disana uap dari sup miso menandakan bahwa sup itu masih hangat. Aroma lauk pauk masuk ke indra penciumannya membuat Hinata tidak sabar untuk menyantap sarapannya itu.
"Mana sarapanku" pintanya pada Naruto, membuat pria itu tersenyum mendengarnya.
"Ini" ujarnya seraya meletakan sup miso, nasi dan lauk pauk lainnya.
Tanpa ba bi bu lagi Hinatapun langsung memakannya membuat Naruto mematung dengan sumpit yang mengambang diudara "Hinata... ka...kau sudah tidak makan berapa hari?"
Mendengar itu otomatis Hinata menghentikan sumpitnya. Dengan makanan yang sudah memenuhi mulutnya Hinata menatap sekertarisnya itu "diamm kau... baka. Kau makan sarapanmu dan diamlah" ujarnya serya melanjutkan kembali makannya.
'Hahh selalu saja seperti ini. Apakah dia tidak bosan ya selalu marah-marah? Benar, mungkin dia setip hari mengalami men*truasi. Ckckck' batinnya seraya menggeleng-gelengkan kepala.
Setelah 30 menit berlalu sarapan merekapun berakhir. Hinata kembali melanjutkan pekerjaannya sedangkan Naruto tengah mengatur jadwal Hinata. Suasana begitu hening disana, tentu saja mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Tanpa mereka berdua sadari diluar sana ada 2 orang model cantik tengah mengintip kebersamaan atasan dengan sekertarisnya itu. Siapa lagi jika bukan ratu gosip yang sudah terkenal sejak dibangku sekolahnya. Ya dia adalah Yamanaka Ino seorang model yang bekerjasama dengan Hyuga Corp ini.
"Lihat apakah kau tidak merasa bahwa mereka itu cocok" ujarnya sepelan mungkin pada temannya yang sesama model.
"Ya kau memang benar Ino. Apakah mereka pura-pura cuek ya?"
"Hahaha bagaimanapun juga aku mendukung kebersamaan mereka" lanjut Ino lagi pada Tenten. Wanita asal China itu memang sudah lama menjadi model yang selalu mempromosikan perhiasan dari Hyuga Corp ini.
"Hihihi aku juga mendukung mereka. Sudah ayo kita pergi mungkin Hyuga-sama lupa bahwa sekarang ada pemotretan."
"Baiklah kita tidak boleh mengganggu mereka. Hhhaahhhh indahnya jatuh cinta" ujar Ino seraya merentangkan tangannya dan berlalu darisana.
.
.
.
11 jam berlalu keadaan kantor sekarang sudah menyepi. Banyak dari pekerjanya sudah pulang dan mengistirahatkan dirinya dirumah masing-masing. Beberapa ruangan kantor sudah gelap gulita, namun masih ada 1 ruangan yang masih terang dan itu adalah ruangam khusus pengolahan emas. Pemimpin Hyuga Corp ini masih bekerja menyelesaikan yang menjadi tanggungjawabnya. Bagaimanapun juga perusahaan ini tergantung padanya.
Keringat bercucuran didahinya membuat rambut indah itu menjadi lepek. Kacamata khusus itu tak pernah lepas dari matanya, tentu saja uap panas dari alat peleburan emas itu begitu menusuk.
Tangannya terus bergerak kesana kemari. Mulai dari emas batangan kemudian diproses dengan cara digiling sesuai berat dan ukuran, selanjutnya dilakukan pengerutan dalam lubang dengan bentuk yang diinginkan. Kemudian dililit menyerupai spiral, selanjutnya dipotong-potong dan disambungkan dengan mematri potongan-potongan tersebut menjadi sebuah kalung dengan motif rantai.
"Hhaahhh~" desahnya seraya mengelap keringat yang tak henti bercucuran.
Tanpa Hinata sadari diluar ruangan itu Naruto mengintip bagaimana Hinata bekerja. Entah kenapa rasa sedih menyelimuti hatinya. Sakit. Perasaan itu terus mendominasi perasaan pria kuning itu 'gomen Hinata' batinnya dan masuk kedalam sana.
"Hinata" ujarnya membuat Hinata menoleh kedatangannya.
"Sepertinya aku tidak akan bisa menyelesaikannya" senyum Hinata dengan mata yang berkaca-kaca membuat Naruto merasa bersalah.
"Tidak Hinata kamu pasti bisa menyelesaikannya"
Hinatapun menggeleng dan lagi-lagi tersenyum padanya membuat Naruto semakin bersalah dibuatnya "ide yang sudah ada kini hilang entah kemana. Maka dari itu aku tidak bisa menyelesaikannya" lanjut Hinata lagi, menyenderkan punggungnya untuk mengusir rasa penat.
Narutopun ikut duduk disampingnya, menatap wanita yang berada disampingnya tengah menengadahkan kepala seraya menutup matanya dengan tangan kanannya.
"Hinata apakah kamu tahu pusaran air di danau sebelah barat Konoha?"
"Tidak. Memangnya kenapa?" jawab Hinata tanpa merubah posisinya.
"Kata orang-orang pusaran itu sangat indah loh. Berwarna biru sapphire seperti mataku ini" ucapannya itu membut Hinata bergeming dan menatap matanya.
Iris sapphire bertemu dengan iris lavender. Tatapan itu terjadi, Hinata terus saja menatap mata indah didepannya. Begitupun sebaliknya Narutopun terbuai dengan keindahan mata wanita yang kini tengah menatapnya.
"Indahhh" gumam Hinata tanpa sadar.
"Eehhh" lonjak Naruto terkaget dengan gumaman yang terdengar olehnya.
Sedetik kemudian mata bulan itu terbelalak seolah mendapatkan sesuatu yang sangat berharga "KAAUUUU ku pikir kau ini bodoh. Hahahaha tak ku sangka kau memberikan sebuah ide yang cemerlang" ujar Hinata kembali semangat.
"Haahh? Apa maksudmu? Ide apa?" Tanya Naruto bodoh.
"Hhmmm kau memang baka hahah. Kenapa kau tidak dari tadi kesini"
"Akukan harus mengurus jadwalmu"
"Baiklah baiklah. Kau tahu..." tangan Hinata entah kenapa tiba-tiba terulur menangkup kedua pipi dengan tiga goresan kumis kucing itu. Dengan menggunakan kedua ibu jarinya Hinata mengelus pelan kedua mata Naruto yang sudah tertutup.
Ddeeeggg... sebuah perasaan hangat menyelimuti hatinya. Tangkupan hangat dari tangan Hinata membuat ia menjadi teringat akan sosok ibu yang sudah lama meninggalkannya. Serasa sudah tidak ada pergerakan dimatanya Narutopun kembali membuka mata. Tatapan itu kembali bertemu seolah hanya mata merekalah yang kini berbicara.
Wanita itupun tak menyadari apa yang ia perbuat sudah memberikan rasa nyaman pada pria itu "aahh aku harus kerja kembali" ujar Hinata mulai melepaskan tangkupannya.
Namun ggrreepp! Kedua tangan tan itu mencegah untuk melepaskannya "aku ingin merasakan lebih lama lagi" ujar Naruto tanpa sadar memegang kedua tangan Hinata.
Plass! "Jangan bodoh aku harus bekerja" jawab Hinata dengan kasar melepaskan tangannya. Naruto merasakan kehilangan setelah Hinata melepaskan tangkupan itu.
"Hhaahh~. Jadi apa idemu dari mataku Hinata"
"Hhmmm. Jadi begini aku akan membuat kalung dengan bandulnya membentuk mata dan bola mata itu berbentuk spiral seperti pusaran air danau itu. Ohh ya apakah kamu bisa menggambarkan bagaimana bentuk pusaran itu"
Jtekk! Suara jentikan jari menggema disana "aahh Hinata aku punya ide bagus. Sini aku gambarkan"
*Tunggu apakah dia bisa menggambar? Eeemmmm (pose berpikir) entahlah kita lihat saja...
Tangan tan itu menari diatas kertas putih, memberikan coretan demi coretan yang sudah tertuang indah disana. Tanpa ada yang tahu sebenarnya pria itu pintar dalam hal menggambar. Dan tentu saja ia bisa dengan mudah menggambarkan apa yang ada dalam pikirannya.
"Bagaimana menurutmu?" Ucap Naruto dengan menunjukan hasil gambarannya.
"Bisa kau jelaskan apa maksudmu itu?"
"Lihat ini adalah bentuk mata. Didalamnya tergambar pusaran yang nantinya akan dihiasi oleh kriatal. Dan yang menjadi warna disini adalah lavender kita buat dari bubuk emas yang sudah diwarnai. Bagaimana menurutmu"
"Ohh jadi menurutmu warna yang mendominasinya adalah blue sapphire dan lavender?"
"Ya seperti mata kita berdua. Ohh ya apakah kita mempunyai kristal?"
"Ide yang cemerlang. Kristal aku punya dan tentu ini adalah simpanan dari mendiang Kaa-san" ucap Hinata dengan suara lirih membuat Naruto tidak enak hati melihatnya "apakah tidak apa-apa? Itukan sangat berharga"
Hinata menggeleng serata tersenyum "tak apa ini semua aku lakukan untuk perusahaan ini juga. Kaa-san juga berkata aku harus bisa memanfaatkan ini suatu saat nanti. Baiklah aku akan mulai memperkerjakannya"
Hinatapun mulai merancang hasil desain dari Naruto.
Sedangkan pria itu menatap Hinata dengan tatapan penuh penyesalan. Jujur sekarang ia benar-benar meras bersalah 'gomen ne Hinata. Apakah aku sudah membebani wanita yang kucintai?... eehhh apa cinta? Benarkah? Jika dilihat-lihat Hinata memang cantik. Tidak hanya cantik dia juga wanita yang tangguh penuh dengan tanggungjawab. Eehhh apaan sih. Sadarlah kau bakaaa... kau harus sadar kau siapa dan Hinata siapa' ujarnya membatin seraya menatap Hinata yang masih bekerja.
.
Dalam keheningan malam hanya terdengar suara mesin dari ruangan itu. Jam sudah menunjukan pukul 03:00 dini hari. Pekerjaan itu dilanjutkan oleh Naruto karna dia merasa tidak enak jika Hinata terus-terusan bekerja sedangkan dia hanya memperhatikan akhirnyapun Naruto berinisiatif untuk mengambil alih.
Bbrrugg! Terdengar suara disampingnya. Rupa-rupanya itu adalah Hinata yang kini sudah jatuh terlelap kealam mimpinya. Pandangan blue sapphire itupun menatap kearah Hinata tersenyum melihat wajah damai yang cantik itu tengah tertidur. Tanpa sadar tangan tan itu terulur membelai surai lepek Hinata. Iapun membuka jas yang selalu ia pakai untuk diselimutkan pada Hinata. Kembali wajahnya tersenyum menatap Hinata.
"Yoshh aku akan menyelesaikannya" ujarnya dan kembali melanjutkan liontin yang sebentar lagi akan jadi.
Tbc...
Baiklah sampai disini dulu semoga suka ya. Jaa. jangan lupa reviews ya ^^ :D :)
untuk balasan reviews hyugana jawab di pm ya :) ^^ jaa Arigato yang sudah ngreviews :) ^^ dan arigato juga yang udah nunggu fic ini :) :D ^^v
